
Elena sudah tau bagaimana stelan Radit akhirnya dia menyiapkan pakaian Radit. Namun tidak sengaja dia melihat dia botol obat tidur di atas nakas.
"Obat tidur? Siapa yang menggunakan obat seperti ini?" tanya Elena.
Namun Radit sudah keluar dari kamar mandi dia segera meletakkan pakaian di atas meja dan permisi keluar dari sana.
Elena menunggu Radit cukup lama, dia berjalan ke arah dapur mencari sesuatu yang bisa di makan, namun ternyata di dapur Radit sangat lengkap sekali bahan-bahan masakan.
"Semua nya lengkap di sini, namun kelihatan nya dapur ini sangat jarang di gunakan dan siapa juga yang mau masak di sini," ucap Elena.
Tiba-tiba Radit datang ke dapur dan melihat Elena.
"Saya akan membuat kopi Pak."
"Tidak perlu, kita berangkat saja."
"Bapak tidak sarapan terlebih dahulu?"
"Saya tidak terbiasa sarapan pagi."
"Tapi sarapan pagi itu sangat penting agar badan kita sehat."
Radit tidak menjawab nya dia mengambil sepatu memakai nya di Sofa dan setelah itu keluar dari rumah.
Elena mengikuti bos nya masuk ke dalam mobil. Sesampainya di kantor Elena bekerja seperti biasa, walaupun Elena belum memiliki teman di kantor namun dia berusaha untuk tetap akrab dengan semua karyawan di sana.
"Permisi pak.." Elena masuk ke ruangan Radit.
"Ada apa?"
"Saya membeli makanan ini untuk Bapak, setidaknya ini bisa mengisi perut bapak."
Radit tidak menolak dia meminta Elena meletakkan nya di atas meja dan setelah itu langsung meminta Elena keluar mengurus beberapa kertas yang harus di foto copy.
Waktu nya untuk makan siang. Elena memesan makanan untuk nya dan juga Radit.
"Hari ini kamu terlihat bahagia, apa kamu memenangkan Lotre?" tanya Radit karena biasanya Elena terlihat murung, sedih dan juga lebih banyak diam.
Hari ini Elena bekerja dengan sangat aktif dan tidak melakukan kesalahan sama sekali.
Elena tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak bermain Lotre Pak."
"Lalu apa yang membuat kamu bahagia?"
Elena menatap Radit. "Saya tidak tau kenapa bisa sebahagia ini, hanya saja ini adalah pertama kalinya suami ku memperlakukan ku dengan baik."
"Kamu berbaikan dengan suami mu?"
Elena mengangguk sambil tersenyum.
"Oohh begitu."
__ADS_1
"Maaf pak, saya seharusnya tidak mengatakan urusan pribadi saya kepada Bapak."
Radit hanya diam dan melanjutkan makan.
Di malam hari..
"Ada apa Bro?" tanya Rendi kepada Radit yang hanya diam.
"Elena berbaikan dengan suami nya."
Rendi mendengar itu menghela nafas panjang.
"Elena berbaikan dengan suami nya itu adalah hak yang wajar, kenapa kau begitu patah hati?"
Radit menggeleng kan kepala nya.
"Aku tidak tau, aku hanya merasa kenapa Elena begitu mencintai Farel yang sudah melukai nya."
"Begitu lah cinta, kita akan bodoh hanya karena cinta."
Radit langsung minum. "Aku sudah bilang beberapa kali, kau harus secepatnya mengungkapkan perasaan mu agar kau tidak tersiksa seperti ini!"
Elena sampai di rumah namun tidak mendapati siapapun di rumah nya.
"Apa mereka belum pulang?" tanya Elena.
Elena sangat lega dan akhirnya dia memilih untuk langsung ke kamar nya.
"Aku harus dandan cantik agar Farel bersemangat, karena dia pasti sangat lelah."
Dia pun menyambut suami nya dengan senyuman.
Namun saat dia membuka pintu dia baru ingat kalau suami nya pasti pulang dengan Jihan istri baru nya.
"Tumben banget kamu cepat pulang, biasa nya selalu sangat malam," ucap Jihan.
"Sudah, aku masuk ke dalam."
Jihan dengan kesal masuk ke dalam melewati Elena.
"Kamu sudah lama Pulang nya?" tanya Farel.
"Baru saja kok, aku juga baru selesai mandi, apa kamu mau teh, atau mau mandi dulu?" Tanya Elena.
"Aku mandi dulu."
Elena mengangguk.
Namun setelah suami nya masuk tiba-tiba ada Kurir yang datang, dia menerima barang-barang Jihan yang seperti nya baru saja di beli.
Barang-barang mahal yang sama sekali tidak pernah dia pakai dan tidak pernah dibelikan oleh suami nya.
"Kenapa kamu memeriksa barang-barang ku?" tanya Jihan langsung merampas semua paper bad dari tangan Elena.
__ADS_1
"Aku tidak bermaksud untuk membuka nya."
"Kamu iri yah? Kamu pasti tidak pernah memakai barang-barang seperti ini kan?" ucap Jihan.
Elena hanya diam dan melihat Jihan membawa semua nya ke atas.
Elena menyiapkan makan malam dan setelah itu berbincang-bincang dengan Farel sebentar di ruang tamu.
"Elena bagaimana kamu bekerja dengan pak Radit?" tanya Farel.
"Semua nya baik-baik saja, pak Radit juga baik."
Farel tersenyum, dia memegang tangan Elena.
Jihan yang melihat itu sangat cemburu, namun dia harus menahan nya dan langsung naik ke atas.
"Aku sangat butuh bantuan kamu Elena."
"Bantuan? Bantuan apa, aku akan melakukan apapun untuk bisa membantu kamu," ucap Elena.
Farel tersenyum dia mengelus kepala Elena sambil tersenyum.
"Kamu tau sendiri kan kalau hanya beberapa persen saja perusahaan aku bekerja sama dengan perusahaan Radit, jadi aku mau kamu membantu menaikkan persen nya untuk bekerja sama dengan perusahaan Radit."
"Bagaimana caranya?"
"Kamu bujuk pak Radit," ucap Farel.
"Tapi aku rasa ini akan sedikit sulit," ucap Elena.
"Aku yakin kamu pasti bisa, karena Pak Radit dengan almarhum Ayah sangat lah dekat, dan sekarang kamu menjadi asisten pribadi nya," ucap Farel.
"Baiklah kalau begitu aku akan memikirkan nya."
Farel tersenyum dia langsung memeluk Elena.
Beberapa hari Farel benar-benar menghabiskan waktu dengan Elena, dia juga memanjakan Elena sampai Jihan sangat kesal.
Radit juga melihat Elena jalan-jalan bersama Farel.
Tiba-tiba di malam Senin.
Elena mau mengantar kan kopi ke ruangan kerja suami nya namun tidak sengaja dia mendengar percakapan Farel dengan Jihan.
"Sayang kamu jangan ngambek gitu dong."
"Kamu tidak memikirkan aku sama sekali, sudah satu Minggu lebih kamu mengabaikan aku dan menghabiskan waktu bersama Elena bahkan kamu juga tidur dengan Elena."
"Sayang aku melakukan ini demi masa depan kita, kalau Elena berhasil membujuk pak Radit menaikkan saham persenan kita akan mendapatkan untung yang banyak."
"Aku rasa kamu dengan Elena bersikap lain, kamu tidak seperti berpura-pura mencintai nya, namun sungguhan."
"Jihan sayang.. Aku harus melakukan nya dengan baik, aku tidak mencintai Elena, aku hanya mencintai kamu sayang. Setelah kita berhasil aku akan membeli kan apapun yang kamu mau dan aku juga akan mengusir wanita itu dari sini," ucap Farel.
__ADS_1
Elena di pintu sudah menangis. Namun dia langsung menghapus air mata nya dia mengetuk pintu.
Farel dan Jihan seketika langsung tegang ketika melihat Elena masuk namun melihat Elena tersenyum Farel jadi sedikit tenang karena takut pembicaraan mereka di dengar oleh Elena.