Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 20


__ADS_3

Di dalam Elena melihat Farel, tatapan kebencian yang ia berikan kepada Farel.


Pengadilan pun mengesahkan perceraian mereka.


Elena menghela nafas berat menutup mata nya berdoa agar pilihan nya ini adalah yang terbaik.


Elena mengambil surat perceraian nya menandatangi.


"Elena!" panggil Farel ketika mereka sudah keluar dari dalam.


Elena berhenti dia menatap Farel sambil tersenyum.


"Cihh bisa-bisa nya sekarang kamu tersenyum. Kamu pasti sangat bahagia kan karena kamu akan bebas dengan pria di luar sana?" ucap Farel.


"Aku sangat bahagia karena terlepas dari pria seperti mu, kalau aku tau perpisahan adalah kebahagiaan ku mungkin aku sudah melakukan nya dari dulu."


"Kamu jangan bahagia dulu, ini adalah awal kehancuran mu, karena sekarang kamu sudah menjadi janda, tidak akan ada pria yang mau kepada janda mandul seperti mu!"


Elena tersenyum dia melihat ke arah Jihan yang tidak jauh dari mereka.


"Lihat lah istri mu sedang hamil, jangan berbicara sembarangan."


"Kalau begitu mulai dari sekarang kita sudah tidak ada urusan apapun lagi. Berhenti ikut campur dalam urusan ku."


"Oke baiklah, kita lihat sampai kapan kamu bisa hidup sendiri. Aku pastikan kamu akan datang mengemis kepada ku."


Elena berbalik dia mendekati Farel. "Dan aku juga bisa pastikan kalau hidup ku akan jauh lebih baik, dan aku harap kamu masih sehat menyaksikan kebahagiaan ku," ucap Elena.


Elena langsung pergi dari sana namun ternyata mantan mertua dan juga adik-adik Ipar nya ada di sana.


Cika tidak mengatakan apapun karena ada orang tua nya di sana.


Elena berlari ketika melihat Radit menunggu nya di bawah terik nya matahari. Tidak permisi atau ijin dia langsung memeluk Radit menenggelamkan wajahnya di dada bidang Milik Radit.


"Kamu melakukan yang terbaik," ucap Radit menepuk-nepuk sambil mengelus kepala Elena.


Mereka pergi dari kantor pengadilan itu. "Kalau kamu belum bisa bekerja, sebaiknya kamu kembali dan istirahat saja di rumah," ucap Radit.


Elena menatap Radit. "Kenapa Bapak menunggu saya di sana sampai selesai? bagaimana dengan rapat?"


"Saya sudah membatalkan nya dan memindahkan jadwal Minggu depan, kamu tidak perlu mengkhawatirkan itu."


Elena menghela nafas. Dia tidak mungkin berdiam diri di rumah saja, dia pasti akan kefikiran akhirnya dia memutuskan untuk lanjut bekerja.


Di sore hari nya..


"Vivian apa kamu melihat pak Radit?" tanya Elena.


"Oohh pak Radit sedang ke rumah sakit, apa pak Radit tidak membawa kamu?"


"Aku baru saja menyelesaikan pekerjaan ku," ucap Elena.

__ADS_1


"Tunggu saja, paling sebentar lag pulang."


"Kalau boleh tau pak Radit ngapain ke rumah sakit?"


"Aku kurang tau, mungkin memeriksa kesehatan nya."


Hari semakin gelap namun Radit tak kunjung kembali ke kantor, akhirnya Elena memutuskan untuk kembali terlebih dahulu.


Namun sesampainya di rumah dia sangat kaget ternyata ada kakek Radit.


"Kakek di sini?" tanya Elena.


"Elena, kamu kenapa bisa di sini?" tanya Pak Ericsson sama-sama kaget.


"Humm saya hanya mengantar kan beberapa barang-barang kek."


"Oohh, kakek pikir kamu tinggal di sini, ngomong-ngomong kemana Radit?" tanya pak Ericsson.


"Aa seperti nya masih ada pekerjaan di luar kek."


Elena tidak bisa lama-lama di sana, dia harus keluar sebelum kakek tau dia tinggal di sana.


"Kamu mau kemana?" tanya Radit yang baru saja saja pulang.


"Pak Ericsson sekarang ada di dalam, kalau pak Ericsson tau aku menginap di sini, semua nya pasti berantakan."


"Huff kenapa kakek tidak bilang kalau dia akan ke sini."


"Baiklah kalau begitu, saya akan mengantar kan kamu."


"Bapak dari mana? Kenapa dari siang tadi bapak tidak kembali ke kantor?" tanya Elena.


"Saya dari rumah sakit."


"Rumah sakit?"


"Humm saya melihat keponakan saya yang sedang di rawat di sana."


"Keponakan? Dia sakit apa?"


"Gagal ginjal, sudah beberapa bulan dia di rawat di sana, sehingga akhir-akhir dia berontak ingin pulang," ucap Radit.


"Kenapa tidak membujuk nya saja, biasanya anak kecil akan sangat mudah jika di iming-imingi."


"Saya sudah melakukan nya, dia hanya ingin wanita nya tidak sengaja dia temui datang merawat nya di sana."


Elena menghela nafas panjang. "Huff dia sangat kasian, masih kecil namun sudah menanggung sakit seperti itu."


Sesampainya di hotel Radit mengantarkan masuk ke dalam.


"Kenapa di sini pak? Saya tidak bisa membayar permalam nya."

__ADS_1


"Tidak perlu khawatir ini adalah hotel saya, saya menggratiskan nya untuk mu."


"Wahh.. Kapan lagi aku bisa tidur hotel bintang lima sepatu ini."


Elena dan Radit masuk ke dalam kamar.


Radit melihat Elena yang memerhatikan pemandangan dari jendela ke bawah.


"Pemandangan di sini sangat bagus sekali," ucap nya dan melihat Radit yang sedang memeriksa Akte cerai nya.


"Kembali kan pak, saya tidak ingin bapak melihat nya," ucap Elena sambil menarik nya namun Radit menahan nya.


Elena duduk di pinggir kasur, dia memasang wajah lesu.


"Huff percuma saja aku berusaha untuk berhenti memikirkan nya namun tetap saja dia terus di pikiran ku," batin Elena.


Sementara di rumah Pak Ericsson sudah sangat bosan menunggu kepulangan Radit.


"Di mana anak itu? Apa dia jam segini masih di luar bersama teman-teman nya?"


Pak Ericsson menghubungi nomor Radit namun tidak aktif.


"Seperti nya kalian harus mencari di mana Radit, saya mau istirahat dulu," ucap pak Ericsson kepada anak buah nya.


"Baik Tuan," mereka segera mencari Radit.


Di kantor Farel, dia tidak berhenti melihat ke arah surat cerai milik nya itu.


Jihan tiba-tiba mengambil nya dan menyimpan nya.


"Tidak perlu memikirkan tentang perempuan itu lagi, kita harus fokus pada kehidupan kita ke depan nya," ucap Jihan.


"Kenapa kamu belum pulang?" tanya Farel.


"Aku masih mau di sini menemani kamu," ucap Jihan.


Farel tersenyum dia meminta Jihan duduk di pangkuan nya.


"Terimakasih yah sudah mau menemani aku," ucap Farel sambil mencium bibir Jihan.


Kembali lagi di kamar hotel Elena..


"Pak kembalikan," ucap Elena mau mengambil surat itu dari tangan Radit.


"Kenapa kamu harus malu? Bukan kah ini sesuatu kebanggaan kamu berhasil membuktikan kalau kamu bisa bahagia Tampa Pria itu?" tanya Radit.


"Sekarang aku Janda, aku juga mandul semua orang tau tentang itu, tidak akan ada pria yang ingin bersama ku seperti apa yang di katakan oleh Farel," ucap Elena.


"Aku sudah kehilangan masa depan ku, aku juga kehilangan kedua orang tua ku. Ini mungkin adalah hukuman bagi ku karena sudah menjadi anak yang durhaka."


Tiba-tiba Radit menarik Elena dan duduk di pangkuan Radit.

__ADS_1


Elena kaget karena Radit memeluk pinggang nya dan juga menatap nya.


__ADS_2