Pembalasan Istri Yang Di Khianati

Pembalasan Istri Yang Di Khianati
Episode 16


__ADS_3

"Ternyata manusia menyebalkan seperti pak Radit memiliki kelemahan yaitu Kakek nya sendiri," ucap Elena sambil tersenyum.


Sudah Sore Elena kembali ke rumah nya setelah satu malam tidak pulang, namun ternyata suami nya tidak mencari nya sama sekali.


"Huff untuk apa sih aku berharap pria seperti Farel mencari ku? Dia sudah mendapatkan apa yang dia mau jadi tidak perlu terpaksa untuk memperdulikan ku lagi," ucap Elena.


"Elena, kamu sudah pulang?" tanya Bu Rosa yang ternyata sedang di rumah nya bersama Jihan.


Elena mengangguk dia menyalim tangan mertua nya namun orang nya tidak mau tangan nya di sentuh.


"Dari mana saja kamu tadi malam? Apa kamu sudah menjadi perempuan liar?" tanya Bu Rosa.


"Tadi malam aku nginap di rumah teman ku Mah."


"Jangan berbohong!"


Elena terdiam. "Saya tidak ingin yah nama baik keluarga saya termasuk anak saya jadi sangat buruk karena kelakuan kamu yang semakin liar setelah bekerja di perusahaan Radit!"


Elena terdiam. "Kalau begitu aku mandi dulu mah."


Ia segera meninggalkan mertua nya yang selalu membenci nya.


Sementara Farel baru saja pulang jam sepuluh malam, dia melihat Elena yang duduk di ruang tamu sambil bekerja.


"Kamu sudah pulang?"


Farel tersenyum dia duduk di sofa.


"Sebenarnya aku tidak enak menanyakan ini beberapa kali, hanya saja semakin cepat semakin baik," ucap Farel.


"Tanyakan saja."


"Bagaimana dengan surat perjanjian itu?" tanya Farel.


Elena menghela nafas panjang dia menutup laptopnya menatap Farel.


"Aku minta maaf karena tidak bisa melanjutkan nya," ucap Elena.


"Kenapa?" tanya Farel.


"Aku rasa menaikkan begitu banyak tidak lah bagus, kalau orang lain mendengar nya bisa jadi salah paham."


"Maksud kamu apa? kamu jangan membuat alasan yang tidak masuk akal!" ucap Farel menarik tangan Elena dan menggenggam pergelangan tangan nya cukup kasar.


"Aku minta maaf, ini sudah keputusan dari pak Radit," ucap Elena.


"Aku minta maaf pak sudah membawa nama bapak," batin Elena.


"Aku meminta tolong kepada mu agar bisa meyakinkan pak Radit, kamu sangat tidak bisa di andalkan!"


"Kenapa kamu menyalahkan aku? Kalau begitu kamu sendiri yang berbicara dengan pak Radit. Bukan kah kamu sendiri yang mendapatkan keuntungan?"


"Aku tau kamu hanya memanfaatkan aku untuk mendapatkan Saham yang begitu besar dan aku juga tau kalau perusahaan kamu tidak di percaya oleh pak Radit sehingga kamu memperalat aku!"

__ADS_1


"Jaga mulut mu Elena!" Farel mencengkram erat rahang Elena menatap nya begitu tajam.


"Aku sudah tau rencana mu! Setelah mendapatkan apa yang kau inginkan, kau akan membuang ku begitu saja!"


"Iyah benar! Karena wanita miskin dan bodoh seperti mu tidak berharga dan tidak berguna."


"Aku memang miskin dan bodoh, namun aku adalah wanita yang setia bukan pria bejat, Pria jahat seperti mu!"


Elena mendorong Farel namun ternyata Farel tidak mau melepaskan Elena.


"Kamu sudah sangat berani melawan suami mu sendiri! Apa kamu tidak takut menjadi janda di usia muda dan juga jadi gelandangan di luar sana?" tanya Farel.


"Aku tidak takut! Aku menyesal sudah mencintai pria yang tidak memiliki hati seperti kamu!"


"Plak!!" tamparan keras di pipi Elena.


"Kak Farel!" Cika keluar dan melihat kekerasan yang di lakukan kakak nya kebetulan dia menginap di rumah kakak nya karena besok libur.


"Kamu jangan ikut campur Cika!"


Cika langsung berdiri di depan Elena yang sudah kesakitan.


"Kakak keterlaluan! Kakak tidak memiliki hati! Kakak benar-benar sama seperti Ibu!"


"Aku sangat membenci Kakak, berhenti berlaku kasar kepada kak Elena!"


"Kamu tidak tau apa-apa Cika, jangan ikut campur dan membela wanita itu!"


Cika membawa Elena pergi dari sana.


Keesokan harinya Elena dan Cika baru saja memeriksa wajah Elena ke rumah sakit.


"Apa masih sakit kak?"


"Enggak kok, sudah membaik."


"Kakak tunggu sebentar yah, aku akan ke toilet."


Elena duduk di kursi rumah sakit namun tiba-tiba dia mendengar suara anak menangis dari arah taman belakang.


"Kamu kenapa?" tanya nya melihat anak perempuan yang sedang duduk di tanah.


"Kaki ku sangat sakit," ucap anak perempuan itu.


"Ya ampun, kaki kamu luka dek, ayo kakak bantu masuk ke dalam."


"Gak mau, aku gak mau ke dalam."


"Kenapa? Luka kamu harus di obati?"


"Non Erika! kenapa non bisa di sini?" tanya wanita seperti nya baby sister.


"Saya menemukan dia sudah jatuh dan kaki nya terluka."

__ADS_1


"Ya ampun non,"


"Gak mau, aku gak mau masuk ke dalam. Aku gak mau di suntik."


"Tidak non, hanya di periksa saja."


Elena melihat Bekas infus di punggung tangan anak Perempuan kecil itu.


"Seperti nya dia tidak mau masuk ke dalam, saya akan membantu membersihkan luka nya, ini tidak terlalu parah."


Elena mengeluarkan obat dari tas nya.


"Sudah selesai, gak sakit kan?"


"Terimakasih banyak Mbak, non Erika selalu saja kabur-kaburan seperti ini."


"Kalau boleh tau dia kenapa di rumah sakit?"


"Non Erika mengalami gagal ginjal mbak, sudah hampir dua bulan non Erika di rawat di rumah sakit karena harus di jaga dengan baik dan di awasi oleh dokter."


"Gagal ginjal?" Elena mendengar itu sangat kaget sekali.


"Bagaimana bisa anak kecil gagal ginjal?" ucap Elena. Namun tiba-tiba Cika memanggil nya.


"Kak Elena," panggil Cika.


"Hum sebaik nya Tante pulang dulu yah," ucap Elena kepada Erika.


"Tante siapa namanya?" tanya Erika.


"Elena, kamu bisa panggil dengan Tante Ena!"


"Nama yang sangat cantik sama seperti wajah Tante."


Elena tersenyum, Erika melihat wajah Elena yang biru di dekat bagian mata. Dia mengelus nya membuat Elena terkejut dengan sentuhan anak perempuan itu.


"Pasti sangat sakit," ucap Erika. Elena tersenyum.


"Tidak lebih sakit dari apa yang kamu rasakan, kamu anak yang kuat kamu pasti sembuh."


Erika menggeleng kan kepala nya. Elena membuka tas nya dia memberikan boneka gantungan kunci kepada Erika.


"Ini untuk kamu, kamu pasti sembuh."


"Kak Elena ayo pulang." ajak Cika yang tidak berhenti memanggil nya.


Elena berpamitan kepada anak kecil itu dan segera pergi.


"kakak lagi apa sih di sana? Kenapa kakak tidak menunggu ku?" tanya Cika.


Sementara tidak sengaja mereka berpapasan dengan Radit, namun Elena dan juga Cika tidak menyadari Radit.


Radit sekilas melihat wajah biru Elena, namun dia tidak memiliki waktu untuk mengejar Elena dia Tampak Khawatir dan terburu-buru masuk ke dalam rumah sakit.

__ADS_1


Dia masuk ke salah satu ruangan yang di dalam sana tidak ada siapa-siapa hanya ada dokter.


__ADS_2