PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 1.


__ADS_3

 


 


Di kerajaan Kavila terlihat seorang Ratu sedang berdiri memandang taman bunga yang bermekaran di taman raut wajahnya terlihat senang ketika memetik sebuah tangkai bunga melati, para pelayan berdiri di samping sang Ratu tiba\-tiba dari arah belakang terdengar seseorang memanggilnya


  " Ratu Shivanya" sang Ratu menoleh dia melihat ibunya berjalan mendekatinya dia tersenyum ketika ibunya berdiri di hadapannya " Salam ibu " Ratu memberi salam kepada ibundanya sang ibu membalas salam anaknya " Salam " beliau adalah Ibu Ratu di kerajaan Kavila bernama Ambarawati.


" Apa yang kau lakukan disini? bukankah sekarang waktumu untuk mengunjungi sebuah kuil? lalu kenapa kau tidak segera pergi? " Tanya ibunya Ratu Shivanya hanya tersenyum " Nanti sore aku akan pergi kesana ibu tapi untuk sekarang aku akan pergi mengunjungi sungai Gangga, aku ingin menikmati indahnya sungai itu " Ujarnya ibunya paham maksud anaknya itu dia pun berkata lagi " Kau pergi kesana sekaligus untuk berlatih pedang lagi kan? kau ingin mengasah kemampuan pedangmu lagi?,


Shivanya kau ini adalah seorang wanita sekaligus seorang Ratu dan kau tidak pantas memegang pedang tugasmu itu adalah cukup memimpin rakyatmu, kau juga tidak boleh ikut turun tangan jika ada perang biarkan saja panglima kerajaan yang mengurusnya seorang Ratu tidak boleh melakukan itu lagi mereka hanya cukup mengurus dan memimpin kerajaan serta rakyatnya dan itu- "


Ucapan Ibu Ratu terpotong oleh ucapan Shivanya " Apa menurut ibu begitu? apa semua Ratu harus melakukan hal seperti itu? apa seorang Ratu sama sekali tidak boleh memegang pedang dan ikut berperang? apa seorang Ratu harus melaksanakan kewajibannya saja?, lalu jika kerajaan kita diserang apa ibu yakin kita akan memenangkan peperangan itu? apa Panglima kerajaan bisa mengurusnya dan memenangkan perang? apakah dia sudah cukup pintar dan tidak memerlukan pertolongan untuk menghadapi musuh? aku tidak bisa diam begitu saja ibu, apa ibu tidak ingat dulu saat kerajaan kita diserang kakak ikut turun ke medan perang lalu pada akhirnya kita menang tapi kakak terbunuh di medan perang karena kakak belum begitu cukup menguasai strategi perang. Aku tidak sombong bahwa aku ini memang cukup mengetahui soal strategi perang tapi nyawa kakak tidak selamat sehingga dia tidak bisa jadi penerus kerajaan Kavila kemudian ibu ingat saat ayah ikut perang karena musuh terbesar kita menyerang kerajaan kita yaitu Pangeran Mannav membunuh ayah dengan sangat tragis aku tidak bisa diam melihat dia bagaimana membunuh ayah dengan kejamnya karena itu lah aku berusaha melatih kemampuan pedangku agar aku bisa membalaskan dendam ayah dan juga dendam yang aku dapatkan atas penghinaan yang dia lakukan kepadaku, aku akan membunuhnya suatu saat nanti ini adalah janjiku ibu agar kita bisa bebas dari si licik itu"


Ucap Shivanya dia tersenyum sedih mengingat kejadian tragis yang menimpa dirinya serta keluarganya setelah berkata seperti itu dia langsung pergi meninggalkan ibunya yang terdiam.


Ratu Shivanya duduk di atas bebatuan dia melamun memikirkan kejadian di masa lalu sampai saat ini dia belum bisa melupakan kejadian tragis itu dimana ayahnya meninggal di bunuh oleh musuh terbesarnya sehingga di dalam hatinya Shivanya memiliki dendam yang kuat dia bersumpah akan membalaskan kematian ayahnya, untuk itu dia mati-matian berlatih pedang agar cukup kuat melawan Mannav. Seharusnya di usianya sekarang Shivanya sudah menikah namun mengingat statusnya kini seorang Ratu dia harus mengorbankan masa depannya dia sudah menjadi Ratu sejak usia 19 tahun karena itu lah dia tidak bisa memikirkan masa depannya dia terus disibukkan dengan kegiatannya sebagai Ratu dia juga harus menanggung tanggung jawab yang besar karena dia lah satu-satunya ahli waris kerajaan yang masih hidup, mungkin jika kakaknya masih ada pasti dia yang menjadi Raja dan memimpin kerajaan ini sedangkan dirinya bisa melakukan apa saja sesuai keinginannya. Shivanya mulai menangis memikirkan semuanya dia meluapkan kesedihannya dengan berlatih pedang dia mengamuk, memotong ranting kayu yang berada di dekatnya " Kenapa harus aku yang melakukannya? kenapa harus aku yang menanggungnya? tidak bisakah aku menikmati hidupku sebentar saja, aku sangat ingin menenangkan diri aku ingin istirahat, aku benar-benar lelah menanggung beban yang berat ini sendirian. Oh Dewa aku benar-benar merasa lelah dengan semua ini aku bersumpah akan memenggal kepala si licik itu aku sudah cukup lama tersiksa dengan semua ini, aku ingin istirahat sebentar "


Shivannya terus menangis merasa lelah dia duduk sambil membenamkan kepalanya tiba-tiba datanglah sesosok wanita anggun berparas cantik muncul dari dalam air dia duduk di depan Shivannya tangannya mengusap kepala gadis itu dengan lembut.


Shivannya yang merasa kepalanya diusap segera melihat siapa yang mengusap kepalanya dia terkejut melihat seseorang yang tersenyum lembut ke arahnya, dengan mata yang masih mengeluarkan air mata Shivanya bergumam " Dewi Gangga " sang Dewi mengangguk seraya tersenyum maka Shivannya dengan cepat menghapus air matanya lalu memberi hormat kepada Dewi Gangga.


 


 


" Apa yang membawamu kemari Dewi?"

__ADS_1


  Tanya Shivannya heran Dewi Gangga berdiri dia menatap arus air yang mengalir dengan tenang " Aku datang kemari karena mendengar suara tangisanmu itu aku tidak bisa mendengar seorang wanita yang menangis hatiku akan merasa sakit mendengarnya karena itu lah aku datang untuk menemuimu, aku ingin menenangkanmu dan aku tahu apa saja yang telah kau alami Shivannya aku tahu ini pasti


sangat berat untukmu tapi kau harus melakukan kewajiban dan tugasmu itu. Kau harus melakukannya karena itu lah kau harus melaksanakan apa yang harus kau lakukan jangan hiraukan orang lain kau harus mendengarkan kata hatimu aku tahu kau bisa melakukannya " Shivannya terdiam sesaat dia berjalan mendekati sungai itu dia memejamkan matanya sejenak


" Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya ini terlalu berat untukku, apalagi sekarang Mannav pasti jauh lebih kuat dari bayanganku terakhir aku bertemu dengannya saat dia datang ke kerajaan Kavila saat itu dia memang sudah kuat dan sekarang kekuatannya pasti akan bertambah. Aku takut tidak bisa mengalahkannya tapi aku juga harus melakukannya karena aku ingat sekali bagaimana dia menghina diriku dan juga ibuku dia juga yang telah membunuh ayah dengan sangat kejam aku tidak bisa memaafkannya " Shivannya mulai mengeluarkan air matanya hatinya terasa sakit jika mengingat hal itu, Dewi Gangga merasa kasihan melihat seorang wanita yang tidak berdaya sedang menghadapi masalah yang sangat berat dia lalu memberikan sebuah jalan keluar kepada Shivannya


" Ada satu jalan keluar agar kau bisa melawan Mannav dan mengalahkannya kau harus memohon kepada Dewi Parwati minta lah kekuatan dan perlindungannya dengan begitu kau bisa mengalahkannya tapi perlu kau ketahui yaitu kau harus percaya diri dan yakin lah bahwa kau bisa melakukannya hilangkan lah keraguan di dalam dirimu dan yakin lah bahwa kau bisa " Dewi Gangga memberi semangat kepada Shivannya wanita itu memandangnya lalu mengangguk setelah mengatakan itu Dewi Gangga mohon pamit dia lalu menghilang dan kembali ke dalam air


Shivannya tersenyum setelah mendengar ucapan Dewi Gangga dengan penuh rasa hormat dia mengucapkan terima kasih


" Terima kasih Dewi kau telah membantuku dan meringankan beban dari hatiku, aku benar-benar berterima kasih kepadamu akan aku laksanakan apa yang kau suruh "


Kemudian Shivannya kembali ke istananya


Ambarawati tersenyum ketika melihat kereta kuda masuk ke istana putrinya sekaligus Ratu di kerajaan itu sudah pulang dia bergegas pergi menyambutnya namun ketika melihat siapa yang turun dari kereta kuda senyum di wajahnya langsung berubah itu adalah Pangeran Mannav dari kerajaan Singaloka,


Ucap Pangeran Mannav dengan tenang diriingi senyum liciknya Ambarawati memerintahkan pengawalnya untuk menurunkan senjata mereka


" Apa yang ingin kau katakan?" Tanya Ambarawati dia menahan emosinya raut wajahnya memandang tidak suka kepada pemuda itu, tangannya mengepal erat berusaha menahan emosinya yang ingin meledak " Uhm bisakah kau mempersilakan aku masuk ke istanamu? beginikah caramu memperlakukan seorang tamu yang datang ke rumahmu? tidak kusangka kau hanya lah seorang Ibu Ratu yang cukup lemah, tidak aku hanya bercanda jangan hiraukan ucapanku tadi baiklah karena kau ingin segera mengetahuinya akan aku katakan kepadamu apa yang sebenarnya aku inginkan " dengan senyuman di wajahnya dengan tenang Mannav memberitahu apa yang dia inginkan


" Aku ingin menikahi putrimu " Ujarnya Ambarawati terdiam dia melotot merasa geram dengan ucapan yang baru saja didengarnya masih dengan senyuman liciknya Mannav menunggu jawaban dari sang Ibu Ratu " Jadi bagaimana? apa kau mau menerima lamaranku? aku sudah berbaik hati kepada putrimu dan aku juga sudah mau menikahi putrimu yang selama ini belum juga menikah, takutnya nanti putrimu tidak akan menikah seumur hidupnya karena gelarnya sebagai Ratu aku sudah berbaik hati menawarkan diriku yang ingin menikahi putrimu dengan begitu jika sudah menikah aku bisa membantu putrimu dalam menjalankan pemerintahan di Kavila ini. Jadi aku menunggu jawabanmu " baru saja Ambarawati ingin bicara dari arah belakang terdengar sebuah teriakan " Tidak akan "


semua orang menoleh mereka melihat Shivannya sudah berdiri dengan wajah marah,


dia mendekati Mannav dengan mata tajam dia menatapnya " Kau ingin menikahiku?


jangan bermimpi untuk bisa menikahiku walaupun kau terus mencoba membujukku agar mau menikahimu jawabannya tetap tidak akan pernah mau menikahimu, aku sangat muak dan jijk melihat wajahmu itu aku bersumpah akan membunuh dan memenggal kepalamu itu akan kubuat kau menyerah di hadapanku " Mannav tertawa ketika mendengar ucapan dari Shivannya dia mulai meledek Ratu itu " Kau ingin membunuhku?

__ADS_1


kau yakin dengan itu? wah sungguh hebat kau seorang Ratu ingin menghabisiku yang sangat kuat ini? seharusnya seorang Ratu harus tunduk kepada seorang Raja kini aku sudah bukan Pangeran lagi tetapi seorang Raja, aku sudah mulai memerintah kerajaan sejak lama


karena itu lah kau harus menikah denganku tugasmu sebagai seorang Ratu harus melayani Rajanya tapi kau juga harus melayani sang Raja dengan tubuhmu juga.Kau wanita kau sangat lemah seorang wanita tidak pantas untuk mengangkat senjata seorang wanita tempatnya itu adalah di dapur dan juga melayani suaminya karena itu lah kau tidak pantas menjadi seorang Ratu. Kau wanita lemah, tidak berdaya dan mudah rapuh jadi bagaimana apa kau masih mau menikah denganku? " Shivannya sudah tidak tahan lagi dengan semua hinaan yang dilontarkan oleh Mannav emosinya sudah tidak terkendali dengan rasa marah dia mulai menampar wajah pemuda itu dengan keras


' Plak' Mannav hanya tersenyum mendapatkan tamparan keras itu.


"Siapa kau yang berani menghina wanita seperti itu? memangnya kau tahu apa soal wanita? apa karena wanita itu dilambangkan lemah, tidak berdaya dan mudah rapuh sehingga harus menuruti semua perintah suaminya?, apa seorang wanita tidak boleh memiliki harga diri sehingga harga dirinya diinjak-injak oleh seorang pria? apa kah seorang wanita tidak boleh mengangkat senjata dan menjadi kuat demi bisa melindungi dirinya sendiri dan harus selalu meminta pertolongan kepada seorang pria?kau salah besar jika memiliki pemikiran seperti itu wanita tidak selemah yang kau kira mereka yang sudah menikah dan diperlakukan tidak pantas oleh suaminya bukan hanya mereka lemah tapi mereka menghormati orang tua mereka yang sudah membesarkan mereka. Oleh sebab itu lah wanita menjadi seperti itu karena ingin agar orang tua mereka tidak merasa sedih dan sakit hati. Sebenarnya mereka sangat kuat jauh lebih kuat dari seorang pria maka jangan pernah meremehkan seorang wanita jika mereka sudah marah tamat lah riwayatmu "


Shivannya mengusir Mannav dengan kasar


" Cepat pergi dari sini, pengawal usir orang yang tidak tahu diri ini dari sini aku tidak mau melihat wajahnya " Shivannya pergi meninggalkan Mannav dia masuk ke dalam istana diikuti oleh ibunya dan beberapa pelayan istana. Ambarawati berjalan menyusul putrinya yang berjalan lebih cepat dengan wajah marah saat sampai di depan pintu kamarnya Shivannya menghentikan langkahnya " Maaf ibu bisakah meninggalkan aku sendiri dulu? untuk saat ini aku ingin sendiri dulu untuk menenangkan pikiran, silakan tinggalkan aku dulu " Shivannya mulai masuk ke kamarnya dia mengunci pintu kamarnya Ambarawati mencoba berbicara kepada putrinya " Ratu dengarkan ibu dulu jika ada masalah cerita sama ibu, jangan mengurung dirimu sendiri seperti ini nak ibu mohon keluar lah " Pavitra yang merupakan pelayan pribadi Shivannya mencoba membawa Ambarawati menjauh dari kamar putrinya " Ibu Ratu mari ikut saya untuk saat ini Ratu sedang tidak ingin diganggu jadi mari kita pergi dari sini " Ambarawati mengangguk dia kemudian meninggalkan kamar putrinya.


 


Shivannya duduk di depan meja riasnya dia memikirkan apa yang harus dia lakukan untuk menolak Mannav jika pemuda itu datang lagi melamar dirinya dia juga harus memikirkan resikonya jika dia mengambil keputusan yang salah seketika ucapan Dewi Gangga tadi teringat di kepalanya, ya dia harus menemui Dewi Parwati untuk membantunya mencari solusi dari masalahnya walaupun dirinya itu pintar tapi di saat seperti ini dia tidak tahu harus mengambil pilihan apa karena itu lah dia besok akan pergi ke kuil untuk berdoa kepada Dewi Parwati wanita itu memutuskan untuk menyiapkan keperluannya pergi ke kuil.


 Untuk menghilangkan rasa sedihnya Shivannya mulai menari dia menari dengan lemah lembut dia mengosongkan pikirannya dan melupakan kejadian tadi tidak sengaja kakinya tersandung oleh sebuah kursi Shivannya terjatuh dia melihat kakinya yang agak memar sedikit maka dia mulai mengambil obat untuk mengoleskan memar di kakinya, sementara itu Mannav berjalan dengan wajah garang memasuki istananya tiba-tiba dia dihadang oleh kakak sepupunya


" Wow coba lihat wajahmu itu kenapa wajahmu terlihat seperti itu? apa ada masalah? apa lamaranmu telah ditolak mentah-mentah oleh Ratu sombong itu?"


Tanya kakak sepupunya Arun adiknya itu tidak menggubrisnya dia diam menahan emosi giginya gemeretak tangannya mengepal dia bersumpah akan membunuh Shivannya dan merebut kerajaannya " Aku bersumpah akan membunuh wanita itu dan merebut kerajaannya, beraninya dia menolakku lihat saja apa yang akan aku lakukan kepadanya sampai dia bertekuk lutut dan memohon kepadaku " Arun menyeringai mendengar sang adik yang benar-benar marah


" Bagus bunuh saja wanita itu beserta keluarganya dengan begitu kita bisa menguasai kerajaannya, aku akan mendukungmu kau tenang saja jangan khawatir" kedua pemuda itu tersenyum licik mereka mulai menjalankan rencana mereka untuk membunuh Shivannya.


 


Dukung terus ya cerita baruku teman\-teman terima kasih banyak 🙏🙏

__ADS_1


 


__ADS_2