
Ketiga gadis itu masih asyik bermain di sungai tapi Madhuri tiba-tiba bertanya kepada Jhanvi " Kak, aku baru ingat tadi saat ada seseorang menghadang jalan kita mereka itu siapa kak? tadi aku juga mendengar suara pedang seperti sedang menusuk seseorang, apa itu kakak yang melakukannya? " Jhanvi terdiam pertanyaan yang dilontarkan oleh Madhuri sedikit menghela nafas gadis itu mengangguk " Ya itu benar " Madhuri tercengang mendengarnya " Apa? " Dia berteriak karena kaget mendengar jawaban dari Jhanvi, Manu yang sedang memberi makan burung sampai menoleh Jhanvi yang menyadari Madhuri berteriak segera menutup mulutnya " Hentikan, tidak bisakah kau tidak berteriak? tutup mulutmu itu, memangnya kenapa? dia adalah pengawal kurang ajar akh hanya memberinya pelajaran dan dia pantas mendapatkannya " Madhuri melongo mendengar perkataan Jhanvi yang tenang.
" Tapi mereka itu berasal dari Kerajaan mana? kenapa mereka ingin menculik kita? " Madhuri tidak mengerti apa maksud dari pengawal itu ingin menculik mereka Jhanvi mengendikkan bahunya cuek " Entah lah mungkin ada seseorang yang sedang mereka cari, mereka akan mengincar seseorang dan katanya mereka berasal dari Kerajaan Singaloka Raja mereka memerintahkan pengawal tersebut menculik mereka, mungkin saja Raja menginginkan salah satu dari kita " Jhanvi melirik Manu yang menatap mereka
" Mungkin Raja menginginkan dia " Jhanvi menunjuk Manu, Madhuri menoleh dia terkejut mendengarnya " Bagaimana mungkin? " Madhuri menutup mulutnya tidak percaya " Itu tidak mungkin kan kak, itu pasti bohong Raja Singaloka tidak mungkin menginginkan Priya kenapa dia menginginkannya? apa alasannya? " Jhanvi lagi-lagi hanya bersikap cuek, Manu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan jadi dia, tidak terlalu peduli, Madhuri terus menatap Manu dengan pandangan bingung bagaimana bisa Raja Singaloka yang terkenal itu menginginkan Manu jika memang benar begitu lalu apa alasannya Manu menoleh dia melihat Madhuri tengah menatapnya dia tersenyum lembut Madhuri membalas balik senyumannya. Mereka kemudian memutuskan untuk kembali ke Kerajaan tapi Manu merasa ada seseorang sedang mengawasinya dia berbalik mencari orang yang sedang mengawasinya Jhanvi yang menyadari Manu terus melihat ke belakang menegurnya " Kau kenapa? cepat lah naik Raja sudah menunggu kita " Manu mengangguk kemudian dia naik kereta dia mengabaikan orang asing itu ketika kereta sudah pergi menghilang orang itu keluar dari persembunyiannya " Ternyata kau tinggal dengan mereka Manu, aku sudah melihatmu sekarang kita lihat apa yang akan kau lakukan jika dirimu ketahuan? ini akan menarik aku harus memberitahu Mannav, kita lihat saja nanti sampai kapan kau bisa bersembunyi terus " dan ternyata itu adalah Arun setelah kejadian tadi dimana Jhanvi membunuh pengawalnya dia memutuskan untuk mengikuti mereka sampai di sungai dan dia telah menemukan adik sepupunya itu.
Arun bergegas menemui adiknya yang sedang meminun minuman keras dia menyambar gelas itu saat Mannav ingin meminumnya " Kak apa-apaan kau ini? Mannav menatap tajam ke arah kakaknya
" Berhenti lah minum-minum jika nanti kau mabuk aku sendiri yang akan kewalahan untuk mengendalikan dirimu, karena aku ingin mengatakan sesuatu kepadamu aku baru saja melihat hal yang akan membuat dirimu senang " Arun kembali meminum minumannya Mannav menatap kakaknya dingin " Apa itu? " Arun mengusap ujung bibirnya yang kena tetesan minumannya dia meletakkan gelas itu di meja seketika wajahnya memasang senyuman licik
" Manu " Ujarnya, Mannav memalingkan wajahnya menatap kakaknya satu kata yang membuat dirinya langsung berubah ekspresi wajahnya menjadi dingin aura kelam mulai menyelimuti dirinya " Manu? kau jangan bohong kak, gadis itu sudah pergi jauh kakak mungkin salah lihat aku sudah menyuruhnya untuk pergi menjauh agar tidak kembali kesini, mungkin dia sudah mati atau bersembunyi di lubang tikus " Arun menggeleng keras dia berusaha meyakinkan adiknya " Tidak, aku memang benar melihat Manu sedang bermain bersama dua orang gadis dari Kerajaan Aradhya, dia pasti tinggal disana ini akan sangat mudah bagi kita untuk menghancurkan Kerajaan Aradhya kita bisa menculik Manu dah otomatis mereka pasti akan mencarinya, gadis itu mendapatkan perlindungan dari Kerajaan Aradhya jika mereka tahu bahwa Manu menghilang pasti mereka akan mencarinya, kita bisa bernegoisasi dengan mereka agar tidak ikut campur dengan urusanmu " Mannav terlihat berpikir sebentar seulas senyum sudah terpasang di wajahnya " Kau benar kak, kita bisa memanfaatkan adik kita yang bodoh itu kau sangat jenius kak, ayo sekarang ikut aku kita harus menyusun sebuah rencana " Mannav tersenyum licik kemudian dia pergi ke sebuah ruangan rahasia.
Di Kerajaan Kavila, Ambarawati duduk termenung menahan kesedihannya air matanya sudah habis dia keluarkan, semua usahanya sia-sia untuk menemukan putrinya
" Haaaah apa lagi yang harus aku lakukan? aku sudah mengerahkan seluruh tenaga untuk mencari putriku tapi tetap tidak aku temukan, Shivannya putriku kau dimana nak? ibu menunggumu pulang lah ibu merindukanmu sayang " Ambarawati lagi-lagi menangis mengingat putrinya Pavitra memandang Ibu Ratunya dengan kesedihan Kerajaan Kavila sudah sebulan ini kehilangan Ratunya, bahkan semuanya sudah berusaha untuk mencari Shivannya tapi gadis cantik itu tetap tidak bisa ditemukan, Pavitra sendiri sudah berusaha mengirimkan beberapa bantuan tetap tidak berhasil juga
" Haah apa yang harus aku lakukan Yang Mulia Ratu? aku, ibumu dan semuanya sudah berusaha mencari anda tapi anda tidak berhasil ditemukan, sebenarnya anda pergi kemana?ini sudah sebulan kau pergi dari Istana aku mohon kembali lah kami semua menunggu anda kami juga berdoa agar anda baik-baik saja, kembali lah Yang Mulia Ratu kami sangat sedih kau pergi secara mendadak dimana sebenarnya anda Yang Mulia? " Pavitra menangis sambil memandang bulan dia duduk di pinggir jendela kamarnya berdoa semoga Shivannya cepat kembali ke Istana dia sangat merindukan Ratunya.
Di sebuah hutan yang cukup lebat terdapat sebuah gua di dalamnya ada seorang gadis sedang melakukan tapa, sudah sebulan dia bertapa di gua itu ya gadis itu adalah Shivannya dia bertapa dengan fokus untuk mendapatkan sebuah kekuatan dari sang Dewi tiba-tiba sebuah sinar berwarna putih menyinari dirinya gadis itu membuka matanya perlahan dia melihat sosok seorang Dewi yang sangat cantik mengendarai seekor singa jantan, Dewi itu memiliki banyak tangan masing-masing tangan membawa senjata sorot matanya terlihat teduh namun masih terlihat tatapan tajamnya, Dewi itu mengenakan sari berwarna kuning dan merah dia menggunakan sebuah mahkota di kepalanya, rambutnya terlihat sangat panjang dihiasi dengan perhiasan yang indah, seulas senyuman lembut terpancar di bibirnya dan terdapat sinar berwarna putih menyinari dirinya. Manu mulai memberi hormat kepadanya dia adalah Dewi Parwati sang Dewi yang telah dinantikan kehadirannya oleh Shivannya akhirnya beliau datang juga
" Salam Dewi " Shivannya terus menunduk memberi hormat Dewi Parwati tersenyum lembut beliau memberkati Shivannya kemudian Shivannya memohon kepadanya dia menginginkan sebuah kekuatan untuk melawan musuhnya Dewi Parwati menyangggupi permintaannya maka beliau mengabulkan permintaan Shivannya, beliau memberikan anugerah kekuatan kepada Shivannya dengan tulus gadis itu menerima anugerah yang diberikan oleh Dewi Parwati setelah mendapatkan anugerah Shivannya mengucapkan banyak terima kasih dia mulai memejamkan matanya kembali tidak lama kemudian sinar putih tersebut perlahan menghilang Shivannya membuka matanya dan melihat sosok sang Dewi sudah tidak ada di hadapannya.
__ADS_1
Manu berjalan menuju ke kamarnya tapi sebuah suara memanggilnya dia berhenti kemudian menoleh melihat Vikram berjalan mendekatinya Manu kembali merasakan getaran aneh di hatinya namun dia berusaha terlihat normal di hadapan Vikram
" Ada apa Pangeran? " Manu bertanya dengan kepala tertunduk Vikram memperhatikan gadis itu dengan bingung " Hei perhatikan lawan bicaramu, bagaimana caranya aku mengajakmu bicara dengan kepalamu yang tertunduk seperti itu? " Manu segera mengangkat kepalanya dia tersenyum kikuk ,Vikram lalu mengatakan bahwa dia ingin minta maaf karena perbuatannya tadi pagi Manu terdiam menatap Vikram yang memohon kepadanya dia menjadi tidak tega melihat ekspresi wajah Vikram
" Pangeran, aku sudah memaafkanmu jadi kau tidak usah merasa bersalah lupakan saja semua itu anggap saja kejadian itu tidak pernah terjadi, aku sudah melupakan kejadian tersebut jadi anda tidak usah merasa khawatir " Manu tersenyum lembut menatap Vikram tapi tiba-tiba Vikram merasakan hal yang aneh ketika melihat wajah cantik Manu yang sedang tersenyum lembut matanya sama sekali tidak bisa berkedip, gadis di depannya terlihat sangat cantik dia buru-buru menepis pikirannya " Terima kasih kau sudah mau memaafkanku, kalau begitu aku harus pergi menemui kakak" Manu mengangguk pelan dia melihat Vikram berjalan meninggalkannya, gadis itu tersenyum dia langsung kembali ke kamarnya.
Keesokan paginya Kerajaan Aradhya mendapatkan kabar bahwa Ratu Shivannya akan segera kembali lagi ke Kerajaannya, semua orang yang mendengar berita itu menjadi senang begitu juga dengan Nandini dia mendapatkan kabar itu dari Kerajaan Kavila " Wah aku sangat senang mendengarnya, ini merupakan kabar bahagia akhirnya setelah sebulan menghilang Shivannya kembali ke Kerajaan Kavila, pelayan cepat siapkan keperluanku untuk pergi ke Kerajaan Kavila " Pelayan itu mulai menyiapkan perlengkapan untuk Nandini, Manu yang mendengarnya menjadi sangat gembira dia tidak sabar ingin cepat pergi kesana ' Yang Mulia Ratu sudah kembali? itu berarti aku harus cepat-cepat untuk pergi kesana ' Manu berlari ke ruangan Nandini dia ingin mengatakan bahwa dirinya akan ikut ke Kerajaan Kavila " Salam " Nandini menoleh dia melihat Manu sudah berdiri disana
" Priya,kemari lah " Manu mengangguk dia duduk bersimpuh di hadapan Nandini
" Eh, apa yang kau lakukan ayo berdiri kau duduk di kursi itu jangan duduk bersimpuh di bawah kakiku aku tidak suka " Manu berdiri dia kemudian duduk di kursi sebelah Nandini, matanya melihat banyak sekali hadiah serta perhiasan mewah Nandini sibuk memilih perhiasan indah itu " Semua perhiasan ini akan dibawa kemana Ibu Ratu? " Tanya Manu tangannya memegang sebuah kalung mewah
Nandini tersenyum lembut dengan gembira dia mengatakannya " Perhiasan ini serta semua hadiah akan aku kirim ke Kerajaan Kavila untuk diberikan kepada Shivannya, aku tidak sabar melihat keponakan ku kembali "
dia tiba-tiba sadar ada sesuatu yang akan dia katakan " Maaf Ibu Ratu ada yang harus saya katakan " Nandini mengangguk tanpa menjawabnya " Begini, apa boleh saya ikut ke Kerajaan Kavila? " Manu bertanya dengan hati-hati Nandini terdiam sebentar dia menatap Manu yang terlihat gelisah
" Kau ingin ikut? tentu saja boleh dengan senang hati aku akan mengajakmu, kita semua akan pergi kesana " Manu tersenyum cerah dia mengucapkan terima kasih dia mohon diri untuk keluar .
Seminggu kemudian Kerajaan Kavila semua orang sibuk mempersiapkan upacara penyambutan kembalinya Shivannya, sejak pagi Ambarawati sudah disibukkan begitu juga dengan Pavitra dia sibuk membersihkan kamar Ratu dan lain-lain hatinya sangat gembira sebentar lagi Shivannya akan tiba di Istana, semua persiapan sudah selesai kini semuanya sudah berada di luar Istana menunggu Shivannya datang Ambarawati sudah siap untuk menyambut kedatangan putrinya tidak lama kemudian pintu gerbang Istana terbuka kereta kuda memasuki halaman Istana semua orang langsung bersorak girang menyebut nama seorang gadis, Ambarawati melihat seorang gadis turun dari kereta dia mengenakan pakaian seperti pertapa gadis itu menaiki tangga menuju ibunya Ambarawati melihat seorang gadis yang tidak lain putrinya sendiri meneteskan air matanya dia menangis melihat putrinya sudah kembali ke Istana sambil menangis Ambarawati menyambut Shivannya dia memberikan upacara penyambutannya kepada putrinya setelah itu Ambarawati mengajak Shivannya masuk ke Istana dia menyuruh pelayan untuk mendandani anaknya dengan cantik maka Shivannya diajak ke sebuah pemandian para pelayan mulai sibuk membersihkan Shivannya lalu dia masuk ke dalam kolam tersebut.
Para pelayan mulai mendandani Shivannya dia mengenakan pakaian sari berwarna kuning keemasan, rambutnya disanggul ke atas dengan rapi, wajahnya dipolesi make up natural, para pelayan memasangkan perhiasan di kepalanya, mereka juga memasangkan kalung mewah besar emas, mereka juga memasangkan gelang di tangan dan kakinya lalu memasangkan cincin di jarinya, penampilan Shivannya kembali mewah tapi terlihat anggun dia tampak sangat cantik didandani oleh para pelayan dia kemudian mengambil sebuah kotak kecil di atas meja riasnya dia membukanya lalu jari telunjuknya menyentuh kotak tersebut dia mulai menghiasi jidatnya dengan bindi berwarna merah, selesai didandani Shivannya berdiri dia berbalik dia melihat ibunya sudah berdiri sambil memegang sebuah kotak dia menghampiri ibunya dengan senyuman lembut
__ADS_1
" Salam, ibu " Shivannya menyentuh kaki ibunya untuk mendapatkan berkat Ambarawati memberkati putrinya lalu sia menyuruh Shivannya untuk berdiri dia mulai membuka kotak tersebut di dalamnya ada sebuah mahkota mewah itu adalah merupakan mahkota milik Shivannya,gadis itu memandang mahkota tersebut ibunya menunggu putrinya untuk mengambil mahkota itu untuk dipakai di kepalanya namun Shivannya menggeleng pelan
"Tidak, ibu aku tidak akan memakai mahkota ini aku berjanji selama Mannav belum mati di tanganku aku tidak akan memakai mahkota itu, sebab jika aku berhasil membunuhnya baru lah aku akan memakainya karena jika aku gagal membunuhnya dalam medan perang itu maka harga diriku sebagai seorang Ratu akan hancur, semua rakyatku mempercayaiku bahwa aku akan membunuh Mannav jika aku gagal maka rakyatku akan kecewa melihat Ratu mereka yang telah gagal membunuh pria licik itu mereka pasti akan sedih dan kecewa dengan kegagalanku maka dari itu aku tidak akan memakainya sampai janjiku ditepati " Ambarawati memandang putrinya dengan tatapan sedih niat putrinya untuk membunuh pria itu telah membuat hatinya sakit bagaimana tidak, dia itu seorang wanita dia takut putrinya mengalami kegagalan dan dia adalah anak satu-satunya yang dia miliki.
" Baiklah nak jika itu keinginanmu maka ibu setuju, tapi ingat lah jika pria itu bukan lah manusia lagi kau harus berhati-berhati ibu takut jika nanti sesuatu yang buruk akan terjadi padamu, hati ibu tidak akan tenang jika sesuatu yang buruk menimpamu " Shivannya melihat ibunya menangis dia mendekati ibunya sembari menghapus air matanya
" Ibu jangan sedih, aku sudah mendapatkan apa yang aku inginkan kepergianku selama sebulan ini karena aku mencari jawaban untuk mengalahkan Mannav dan aku sudah menemukannya, aku pikir aku tidak akan bisa mendapatkan jawabannya aku bertapa di goa selama sebulan doaku akhirnya terwujud ibu "
Shivannya menatap ibunya dengan lembut dia memeluk ibunya berusaha menenangkannya
" Tenang lah semua pasti akan baik-baik saja "
Ambarawati mengangguk dia menghapus air matanya lalu tersenyum lembut sembari mengusap pipi anaknya, seorang pelayan masuk ke kamar Shivannya dan mengatakan bahwa ada Nandini serta keluarganya datang ke Istana Ambarawati mengangguk dia langsung mengajak anaknya untuk bertemu dengan bibi dan kakak sepupunya, Nandini dan keluarganya berdiri begitu melihat Shivannya serta ibunya masuk ke balairung Istana Shivannya memeluk bibinya dia menyentuh kaki Nandini meminta sebuah doa wanita itu memberkati keponakannya sebuah doa dia tersenyum lembut menatap Shivannya yang terlihat makin cantik kemudian dia menghampiri kedua kakaknya Sanjaya dan Vikram tersenyum melihat adik sepupunya sudah kembali dia memeluk adik sepupunya secara bergiliran lalu Madhuri memeluk Shivannya erat " Kakak " Shivannya tersenyum melihat adik sepupunya menatapnya dengan gembira saat itulah matanya memandang kedua gadis yang menurutnya asing.
" Kalian siapa? " Tanya Shivannya bingung kemudian Manu dan Jhanvi memperkenalkan diri " Dia adalah tunangan kakak Sanjaya? aku tidak percaya " Shivannya tertawa sembari melirik sang kakak yang mulai kesal dengan tingkah adik sepupunya itu " Memangnya kenapa? dia memang tunanganku, aku dan dia sudah bertunangan sebulan yang lalu sebentar lagi kami akan menikah " Kata Sanjaya kesal Vikram tertawa melihat kakaknya mulai kesal Nandini mulai melerai putra dan keponakannya agar tidak bertengkar lagi " Sudah sudah hentikan kalian baru saja bertemu jangan bertengkar lagi, ayo Shivannya ikut dengan bibi lihat bibi membawakanmu banyak hadiah kau pasti suka " Shivannya melihat banyak perhiasan san hadiah lainnya gadis itu tersenyum lebar dia sangat senang melihat hadiah itu dia mengangguk mengikuti bibinya yang telah duluan jalan ke ruangan lain, Madhuri mengikuti ibunya dia mengajak Manu dan Jhanvi namun Jhanvi menolaknya dia lebih tetap di balairung Istana ketimbang ikut dengan Madhuri.
" Ayo dibuka hadiahnya " Kata Nandini, Shivannya langsung membuka hadiah itu dia tersenyum ketika mencoba beberapa hadiah-hadiah tersebut " Bibi hadiah ini sangat indah terima kasih " Nandini mengangguk dia mengusap kepala Shivannya sedangkan Ambarawati hanya tersenyum melihat kakak iparnya begitu menyayangi anaknya, detik kemudian Shivannya menatap Manu yang hanya berdiri saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun " Kau siapa? " Tanya Shivannya lembut Manu menunduk memberi hormat dia sedikit menutup wajahnya menggunakan selendang yang dia pakai
" Salam, Yang Mulia perkenalkan namaku Priya " Manu langsung terdiam tidak melanjutkan ucapannya lagi Shivannya menunggu kelanjutan ucapan gadis itu Nandini buru-buru memberitahu Shivannya mengenai Manu " Dia adalah gadis biasa, aku bertemu dengannya di sebuah sungai dia terlihat ketakutan jadi aku mengajaknya tinggal di Istana katanya dia sedang dikejar oleh seseorang yang membuat dia ketakutan"
Shivannya menatap Manu dari atas sampai bawah dia sama sekali tidak sepenuhnya percaya kepadanya " Benarkah? siapa orang yang telah membuat dia ketakutan seperti itu ? " Nandini melirik Manu yang terdiam lalu gadis itu memberitahunya bahwa dia sudah baik-baik saja agar Shivannya tidak merasa curiga lagi akhirnya Shivannya percaya padanya mereka kembali mencoba hadiah-hadiah itu dengan tertawa sambil bercanda ria.
__ADS_1
Like dan komen ya ceritaku terima kasih...