PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 10


__ADS_3

Shivannya mengajak Priya untuk turun ke aula Istana, disana sudah banyak orang yang sibuk mempersiapkan pernikahan Priya memandangi semua orang dengan wajah datar Shivannya menepuk pundaknya yang memberi isyarat bahwa semuanya baik-baik saja. Priya kembali mengerjakan pekerjaannya kali ini dia harus fokus dia tidak boleh melamun memikirkan Vikram dia bersenandung pelan mengerjakan pekerjaannya, Shivannya berjalan menuju taman bunga dia memerintahkan para pelayan untuk merangkai bunga-bunga untuk upacara pernikahan, seorang wanita cantik berjalan dengan anggun dia mengenakan sari berwarna merah matanya menatap sekeliling begitu melihat Priya wanita itu mulai melancarkan aksinya dia bersembunyi di balik tirai, Priya berjalan sambil membawa nampan berisi bunga-bunga dia pergi ke arah kamar sang pengantin untuk dihias wanita itu mengikutinya dari belakang dia mengejar Priya bahkan gadis itu tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengejarnya.


Priya membuka pintu kamar sang pengantin dia mulai menghias ruangan wanita yang tadi mengejarnya bersimpuh kemudian berubah menjadi seekor ular berbisa dia pergi mendekati Priya, gadis itu tidak menyadari ada ular berbisa mendekati dirinya dia sibuk menghias ular itu lalu bersembunyi di balik tumpukan kain Priya yang bermaksud mengambil kain-kain itu untuk dijadikan hiasan kamar tiba-tiba menjerit kesakitan,ular itu berhasil menggigitnya Priya melihat tangannya mengeluarkan darah dia memegang tangannya dan melihat seekor ular pergi dari kamar itu " Aduh " Priya terus mengaduh bahkan dia merobek sebagian pakaiannya untuk menutupi lukanya, gadis itu berlari keluar kamar dia berusaha mencari Shivannya. Ular berbisa itu kembali menjadi manusia dia melihat Priya tengah berlari ke arah taman darah masih merembes keluar dari tangannya dia tersenyum menyeringai menatap Priya " Rencanaku telah berhasil " Dia terus menatap Priya sampai gadis itu berhenti.


Priya merasa tidak kuat lagi untuk berjalan luka di tangannya membuat dia merasa lelah


" Ada apa ini? kenapa lukaku berubah menjadi warna biru lebam, aku harus mencari Yang Mulia Ratu tapi lukaku ini menghambatku aku jadi tidak bisa berjalan lagi " Priya mencoba untuk berjalan lagi namun seketika kepalanya terasa berputar-putar gadis itu berusaha untuk menyadarkan dirinya dia memegangi lukanya seraya berjalan pelan baru satu langkah dia berjalan tubuhnya sudah tidak bisa lagi dipaksakan dia terjatuh di atas tanah air matanya turun membasahi pipinya, gadis itu mencoba memanggil seseorang dia bicara dengan sangat lemah " Tolong aku " Priya benar-benar tidak bisa berbuat apapun akhirnya gadis itu menutup matanya luka di tangannya sudah berubah menjadi biru lebam gadis itu jatuh pingsan di atas rumput taman.


Seorang pelayan berjalan dengan membawa pot kecil dia berhenti begitu melihat seseorang terbaring pingsan dia pun lalu menghampirinya matanya membulat ketika melihat tubuh Priya yang mulai membiru


" Ahhhhhhhh " Pelayan itu berteriak kencang dia pun berlari mencari Shivannya yang tidak jauh dari tempat Priya pingsan, Shivannya yang masih sibuk memetik beberapa bunga menoleh ketika melihat pelayan berlari memanggil namanya " Chantrika " Shivannya menenangkan pelayan itu. Chantrika terlihat ketakutan wajahnya pucat dia mulai bicara dengan suara gemetar " Yang Mulia Ratu "


sorot matanya terlihat ketakutan Shivannya berusaha menenangkannya " Ada apa? "


Chantrika kemudian memberitahu tentang Priya yang pingsan dengan kondisi tubuh sudah membiru Shivannya terkejut mendengarnya dia pun berlari untuk melihatnya.


Mata Shivannya berubah menjadi sendu dia terduduk lemas melihat Priya yang masih terbaring pingsan " Bawa dia ke kamar " Shivannya memerintahkan pelayan untuk membawa Priya ke kamar, dia menyuruh seorang pelayan untuk memberitahu Nandini tentang kejadian yang menimpa Priya pelayan itu pun pergi wanita itu kemudian memanggil seorang tabib Istana dia berlari ke kamar dimana Priya sudah terbaring disana tabib mulai mengobati lukanya dan berusaha menyembuhkannya tidak lama kemudian Nandini serta yang lainnya berdatangan dengan raut wajah cemas. Vikram yang melihat Priya terbaring dengan wajah membiru dan bibir pucat langsung mendekatinya dia duduk di samping Priya tangannya menggenggam tangan gadis itu


' Bangunlah Priya, aku mohon padamu bangunlah aku ada disini bangunlah. Aku ingin melihat wajah ceriamu lagi aku ingin melihat senyumanmu itu Priya bangunlah '


Vikram berkata dalam hati dia merasa sangat sedih gadis yang selama ini dia cintai terbaring lemah tidak berdaya Madhuri yang melihat kakaknya mulai menangis memegang bahunya Vikram menatap adiknya yang dibalas anggukan oleh Madhuri.


Gauri yang melihat Vikram menangis hatinya mulai panas dia mencengkeram erat ujung selendangnya matanya menatap sinis ke arah Priya ' Aku harap gadis ini segera mati agar aku tidak melihatnya lagi ' Karena kesal Gauri pergi meninggalkan kamar itu Madhuri yang melihat Gauri pergi dengan kesal hanya diam, Shivannya yang berada di samping tabib itu bertanya " Bagaimana tabib? bagaimana bisa Priya terluka? racun apakah itu yang masuk ke dalam tubuhnya? " Tabib itu memeriksa tangan Priya yang terkena gigitan ular berbisa tersebut " Yang Mulia, racun yang menyebar masuk ke dalam tubuhnya adalah racun ular yang sangat berbisa jika kita tidak segera menolongnya maka nyawanya bisa terancam"


Semua orang yang ada di kamar itu terkejut mendengarnya. Shivannya kembali bertanya


" Apakah tidak ada obat untuk menolongnya? maksudku apa tidak ada penawarnya agar racun itu hilang dari tubuhnya? " Tabib itu menggeleng " Tidak ada obat ataupun penawar yang bisa menyembuhkannya Yang Mulia, karena racun ini sangat berbahaya tapi aku akan menghilangkan racun ini sebisaku, kita juga harus berdoa agar Dewa membantu kita " Semuanya tampak sedih mendengar ucapan tabib itu, Shivannya pergi meninggalkan kamar itu dia berjalan untuk mencari ular berbisa itu dia menyuruh semua orang agar tetap di aula Istana dia juga memerintahkan agar prajurit tetap mengawasi keadaan wanita itu berjalan memeriksa seluruh Istana untuk mencari ular itu dia bersumpah akan membunuhnya jika dia menemukannya sampai matanya melihat Gauri tengah berdiri di taman dia tidak menyadari ada seekor ular melewati dirinya Shivannya melihat ular itu dia pun mengikutinya.


Shivannya melihat siluman ular itu berubah menjadi wanita cantik dia menyamar sebagai salah satu pelayan di Istana Shivannya terus mengawasinya dia menunggu waktu yang tepat untuk menyerang siluman ular itu, mata dari wanita itu melirik kesana kemari mengawasi keadaan sekitar dia berjalan sambil tersenyum menyeringai dia berjalan ke arah kamar pengantin Shivannya mengikutinya dia akan menghabisi wanita itu saat ini juga. Wanita cantik itu masuk ke kamar pengantin dia berjalan ke arah tempat tidur yang sudah dihiasi bunga mawar merah segar dia merebahkan dirinya disana sembari tertawa " Hahahaha tugasku sudah selesai, aku ingin mengistirahatkan tubuhku sebelum kembali ke Kerajaan Singaloka tapi tempat tidur ini terasa sangat nyaman aku disini dulu lebih lama lagi, lagipula orang-orang tengah sibuk mempersiapkan upacara pernikahan "

__ADS_1


Setelah berkata seperti itu Shivannya masuk dia mengacungkan pedang tepat di leher wanita itu, wanita itu merasakan ada benda dingin yang menyentuh lehernya dia langsung bangun dia terkejut ketika melihat Shivannya yang menatapnya tajam " Kau " wanita itu menatapnya datar Shivannya mendorong wanita itu dia terjatuh menabrak pot bunga yang di samping tempat tidur.


Shivannya menjambak rambut wanita itu


" Kau sudah berani merusak persiapan upacara pernikahan kakak sepupuku dan kau sudah membuat masalah yang sangat besar, apa kau tidak tahu siapa aku? kau tidak takut jika aku harus membunuhmu? " Shivannya menampar pipi wanita itu, wanita itu tertawa kencang " Hahaha apa kau pikir aku tidak tahu siapa dirimu? ya aku tahu siapa dirimu kau adalah Ratu terkuat di seluruh Kerajaan di India aku sudah tahu itu, aku sama sekali tidak takut jika harus mati di tanganmu asal kau tahu saja sebelum kau membunuhku aku akan memberitahumu sesuatu yang sangat penting yang akan membuatmu membencinya seumur hidupmu " Shivannya lagi menampar wanita itu sampai dia terjungkal " Gadis yang aku gigit itu adalah adik dari musuh bebuyutanmu Manu " Shivannya terdiam dia terkejut mendengar nama yang diucapkan oleh wanita itu


" Apa? apa yang kau katakan? dia adalah Manu? tidak, itu tidak benar dia bukan Manu"


Wanita itu berdiri dia berjalan sambil memelintir ujung rambutnya dia tersenyum menyeringai " Terserah kau saja mau percaya atau tidak yang jelas aku mengatakan yang sebenarnya, gadis itu bukan Priya melainkan Manu kau sudah ditipu olehnya, mungkin dia sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkanmu " Shivannya berbalik dia mengayunkan pedang itu melukai tangan wanita itu " Diam, aku tahu dia berbeda dengan kakaknya Manu tidak seperti kakaknya yang licik dan jahat itu maka dari itulah aku percaya dia tidak memiliki niat jahat untuk menghancurkanku " Dia berjalan mendekati wanita itu " Aku tidak akan terkena hasutanmu itu " wanita itu menatapnya sinis dia mulai berubah menjadi setengah ular Shivannya menatapnya dia bersiap untuk membunuhnya maka mereka berdua mulai bertarung.


Vikram masih setia menemani Priya yang terbaring tidak berdaya air matanya masih menetes dia menatap semua keluarganya


" Aku mohon tolong tinggalkan aku sendiri, aku ingin menemani Priya " Semua menatapnya bingung Nandini mendekati putranya " Baiklah nak jika itu keinginanmu "


Nandini mengajak yang lainnya keluar kamar sesaat dia menoleh ke arah Vikram


" Nak jika ada sesuatu yang terjadi maka cepatlah panggil kami ya " Vikram mengangguk lalu Nandini pergi meninggalkannya, Shivannya masih bertarung dia dengan lincah menghindari serangan sari ular itu sedangkan tubuh ular itu sebagian sudah terluka tangannya sudah terkena banyak luka Shivannya masih terus menyerang dia bahkan berusaha untuk mencari kelemahan dari ular itu, meskipun dia sudah berusaha tapi tetap saja ular itu sama sekali tidak memiliki kelemahan dia masih kuat untuk bertarung sesaat Shivannya terdiam dia mengingat ucapan Gurunya waktu itu saat dia sedang berlatih senjata


Shivannya mulai menyerang siluman ular itu juga ikut menyerangnya Shivannya membiarkan siluman ular itu menyerang dirinya dia menunggu siluman ular itu melemah jika dia sudah lemah maka Shivannya akan menyerangnya balik, dan benar saja siluman ular itu semakin lama serangannya melemah padahal Shivannya sama sekali tidak melawan serangannya dia hanya menghindar saat siluman ular itu menyerang dirinya siluman ular itu terlihat ngos-ngosan doa menatap tajam Shivannya yang masih tersenyum lembut


" Kau " Dia sudah tidak sanggup untuk bicara lagi sebab tenaganya sudah terkuras saat itulah Shivannya mengambil kesempatan dia mulai menyerang kepala siluman ular itu gadis itu mulai mengayunkan pedangnya dan akan menebas kepala siluman ular itu, siluman ular itu terkejut ketika melihat Shivannya berteriak sembari mengayunkan pedangnya " Aghhhhhhhhhhh matilah kau "


' Cring ' pedang itu berhasil memenggal kepala siluman ular itu dia berteriak kencang


" Arghhhhhh " Shivannya menatapnya dia melihat kepala itu menggelinding tepat di bawah kakinya dia mengatur nafasnya sembari menatap mayat siluman ular tersebut " Aku tetap tidak percaya dengan semua ucapanmu itu " Shivannya memanggil prajurit untuk membakar mayat siluman ular itu


" Bakar saja dia sampai menjadi abu dan abunya itu kalian buang saja ke laut " Para prajurit mengangguk patuh " Baik Yang Mulia "


Shivannya pergi dari kamar itu dia berjalan menuju kamar dimana Priya terbaring tidak berdaya.

__ADS_1


Shivannya melihat kakaknya Vikram saja yang ada di kamarnya bersama tabib itu dia pun mendekatinya " Kakak " Vikram menoleh dia melihat Shivannya yang dipenuhi bercak darah " Ada apa denganmu Shivannya? kenapa kau penuh dengan darah? " Shivannya melihat pakaiannya yang terkena cipratan darah dari siluman ular itu dia pun tersenyum


" Kakak aku sudah berhasil membunuh siluman ular yang menggigit Priya, ini adalah darahnya aku tidak sengaja kena cipratan darahnya " Vikram mengangguk dia lalu kembali memandang Priya yang tertidur nyenyak " Apa Priya bisa diobati? maksudku apa lukanya bisa diobati? " Tanya Shivannya, tabib itu menatapnya dia menggeleng pelan


" Tidak Yang Mulia, Nona Priya tidak bisa diobati lukanya terlalu dalam dan aku sudah merasakan bahwa bisa ular itu sudah masuk ke dalam seluruh tubuhnya, sekarang tubuhnya sudah dipenuhi racun maka akan sulit untuk diobati dan- " Ucapan tabib itu terpotong oleh Shivannya " Tidak " dia menatap tabib itu dan kakaknya


" Tidak, pasti ada cara untuk mengobati Priya aku akan mencarinya sementara ini kau obati. dulu luka yang ada di tangannya Priya " Shivannya bergegas pergi namun Vikram menghentikannya " Kau mau pergi mencarinya kemana? " Shivannya tersenyum lembut " Aku pasti akan segera menemukannya kakak jangan khawatir " Dia pun pergi meninggalkan kamar itu.


Madhuri yang melihat Shivannya berjalan dari kamar dimana Priya dirawat langsung menghampirinya " Kakak " Shivannya melihat Madhuri berdiri memanggilnya dia pun memberinya senyuman " Ada apa Madhuri? "


Tanya Shivannya, Madhuri bertanya mau kemanakah kakaknya itu pergi dengan terburu-buru kemudian Shivannya memberitahunya bahwa dia akan mencari obat penawar untuk lukanya Priya lagi-lagi Madhuri bertanya tapi malah dijawab dengan senyuman lembut oleh Shivannya dia pun pergi meninggalkan Madhuri yang terdiam kebingungan, Shivannya berlari keluar dari Istana dia berjalan menuju hutan. Sesampainya di hutan Shivannya duduk di bawah pohon dia termenung memikirkan sesuatu dia harus menemukan obat penawar untuk Priya dia sudah berjanji akan memastikan pesta pernikahan kakaknya itu berjalan dengan lancar jadi dia harus segera mencari obat penawar itu saat dia melamun seorang laki-laki paruh baya menghampirinya


" Sedang memikirkan sesuatu gadis cantik?"


Tanyanya Shivannya melihat ada seorang laki-laki berdiri di depannya dia mengangguk


" Ya kakek, aku sedang mencari obat penawar untuk menghilangkan racun yang berbahaya temanku terkena gigitan ular berbisa yang mematikan tidak ada obat untuk menyembuhkannya, nyawanya dalam bahaya aku harus menyelamatkannya tapi aku bingung dimana harus mencari obat itu sedangkan aku hanya mempunyai waktu sedikit, jika tidak segera aku menyelamatkannya maka dia akan segera meninggal" Shivannya menangis dia bingung harus pergi kemana lalu kakek tua itu memberitahunya " Ada satu cara untuk menyelamatkan nyawa temanmu itu " Ujarnya Shivannya yang mendengar itu langsung berdiri " Benarkah kakek? " Gadis itu menghapus air matanya wajahnya menampakkan senyuman ceria, kakek itu mengangguk " Benar nak " Kemudian dia memberitahunya bahwa satu-satunya untuk bisa menyelamatkannya adalah bisa dari ular Dewa Siwa hanya ular dari Dewa Siwa yang bisa menghilangkan racun yang sangat berbahaya Shivannya terdiam sejenak


" Bagaimana caranya aku bisa mendapatkan bisa ular tersebut? " Kakek itu pun memberikan cara agar bisa mendapatkan bisa ular tersebut " Kau harus bertapa untuk mendapatkannya lalu setelah itu kau harus membawa wadah untuk mengambil bisa ular itu dan temanmu itu harus meminumnya " Ujar kakek tua itu, Shivannya tersenyum lembut dia pun mengucapkan terima kasih kepadanya seraya pergi meninggalkannya


namun kakek tua itu mencegahnya


" Jika kau bertapa, kau harus melepaskan semua perhiasan dan mengganti pakaianmu itu dengan pakaian seorang Brahmana "


Shivannya mengangguk " Terima kasih kakek"


Dia pun mulai berjalan untuk melakukan pertapaan.


Shivannya menemukan sebuah gua besar dia ingin masuk ke dalam gua itu, gadis itu sudah mengganti pakaiannya menjadi pakaian seorang Brahmana tangannya membawa nampan berisi persembahan untuk ritual pertapaannya dia pun berjalan masuk ke dalam gua itu setelah menemukan tempat yang bersih Shivannya mulai duduk bersila dia meletakkan nampan itu di depannya sebelum mulai bertapa Shivannya berdoa selesai berdoa dia mulai melepaskan kerudungnya membiarkan rambut panjangnya tergerai menyentuh tanah gua, gadis itu mulai memejamkan matanya dia menarik nafas, dia berusaha menghilangkan semua pikiran yang ada di kepalanya gadis itu bersikap tenang lalu mulai menghafal sebuah mantra Shivannya sudah mulai melakukan bertapanya di dalam gua entah berapa lama dia akan melakukan pertapaan yang pasti di dalam hatinya dia ingin Priya sembuh dan membuat kakaknya Vikram kembali tersenyum bahagia...

__ADS_1


Jangan lupa vote, like dan komen ya..


__ADS_2