
Keesokan harinya Shivannya terbangun dia tertidur di lantai kamarnya ketika kemarin dia mengobati luka di kakinya wanita itu segera bangun saat membuka pintu kamarnya dia melihat Pavitra pelayan pribadinya yang selalu setia kepadanya
" Salam Ratu " Ucap Pavitra, Shivannya mengangguk " Ada apa Pavitra?" Tanyanya
Pavitra memberitahu bahwa pagi ini Perdana Menteri mendapatkan sebuah surat dari kerajaan Singaloka dia menyuruh Pavitra menyerahkan surat itu kepada Shivannya
" Jadi dimana surat itu? " Pavitra mengulurkan tangannya Shivannya mengambil surat itu dia membacanya raut wajahnya seketika menegang dia menatap Pavitra " Ini tidak mungkin bagaimana bisa orang itu melakukan hal seperti ini? aku harus menyelidikinya " Shivannya menyuruh Pavitra untuk menyiapkan keperluan mandinya, tidak lama kemudian dia sudah berjalan bersama beberapa pelayan istana saat berada di depan taman istana Ibu Ratu Ambarawati memanggilnya " Ratu Shivannya " Shivannya menoleh dia menghampiri ibunya
" Salam ibu ada apa memanggilku?" Tanya Shivannya ibunya hanya tersenyum melihat penampilan anaknya yang mengenakan pakaian berwarna merah anaknya itu pasti akan pergi ke suatu tempat
" Kau mau pergi kemana? " tanyanya Shivannya menjelaskan bahwa dia akan pergi ke kerajaan Singaloka untuk bertemu dengan Mannav dia juga memberitahunya bahwa tadi pagi dia mendapatkan surat dari Mannav.
" Lebih baik kau jangan pergi ke sana bagaimana jika Mannav berbuat jahat lagi kepadamu? dan dia pasti memiliki rencana jahat,bisa saja dia akan datang kemari untuk mengajak perang akibat dirimu telah berkata kasar kepadanya " Shivannya memandang ibunya kesal " Kenapa ibu menyalahkanku?
dia yang memulai duluan menghina diriku dan mengatakan wanita itu tidak berdaya itu sungguh membuat diriku marah ibu, sudah lah aku tidak mau berdebat dengan ibu dulu aku harus pergi " Shivannya pergi meninggalkan ibunya yang menatap dirinya dengan wajah khawatir tentu saja dia khawatir anaknya saat ini dalam bahaya dia berdoa semoga saja anaknya itu baik-baik saja. Shivannya mulai mengumpat dalam hati dia merasa marah kepada Mannav karena telah mengirimkan dirinya sebuah surat.
" Aku tidak akan memaafkannya berani sekali dia melakukan hal itu " Shivannya mengumpat selama perjalanan dirinya tidak berhenti untuk menyumpahi Mannav hingga akhirnya dia sampai di kerajaan Singaloka, pintu gerbang dibuka kereta kuda yang dinaiki oleh Shivannya memasuki halaman istana saat dia turun dia di sambut oleh seorang gadis muda bernama Manu dia adalah adik Mannav. Manu menyambut kedatangan Shivannya dia tersenyum cerah sebenarnya hanya dirinya lah yang tidak memiliki sifat jahat tidak seperti kedua kakaknya yang memiliki sifat jahat dan kejam Shivannya dipersilakan masuk diikuti oleh beberapa pelayan Shivannya mulai menginjakkan kakinya memasuki balairung istana saat itu dia melihat Arun tersenyum menyeringai ke arahnya namun Shivannya tidak mempedulikannya dia tetap berjalan menuju taman belakang istana karena disitu lah Mannav menunggunya. Mannav sudah menunggu wanita itu dia menyambutnya dengan wajah tenang Shivannya berdiri dia tidak mau duduk di kursi yang telah disediakan " Apa maksudmu mengirim surat seperti itu? Kau mengancamku? " tanya Shivannya the to point Mannav berdiri dia memandang wanita di depannya dengan senyuman liciknya " Kalau iya memangya kenapa? " Shivannya benar-benar tidak tahan melihatnya ingin sekali dia merobek wajah licik itu dengan pedangnya namun dia menahannya " Begitu " hanya itu yang keluar dari mulutnya, Mannav memberitahunya bahwa dia ingin menyerang kerajaan Kavila
" Aku sudah berbaik hati kepadamu tapi kau malah ngelunjak aku sudah baik hati ingin menikahimu tapi kau malah tidak mau, aku cukup kasihan melihatmu yang juga tidak menikah di usiamu yang sekarang karena itu lah aku ingin menikahimu namun kau tidak mau menikah denganku dan kau menentangnya " Shivannya terdiam dia membiarkan Mannav berbicara dulu kemudian pemuda itu melanjutkan ucapannya " Aku memberikanmu dua pilihan yaitu pertama kau harus menikah denganku dan menjadi Ratu di istanaku dan kedua jika kau tidak mau menikah denganku maka aku akan menyerang kerajaan Kavila, bagaimana kau mau pilih yang mana? " Shivannya benar-benar bingung dia harus memilih yang mana di satu sisi dia tidak mau menikah yang notabenenya adalah musuhnya jika dirinya menikah maka Mannav akan mengambil alih kerajaannya lalu dia akan memanfaatkan kesempatan ini untuk menyiksa dirinya dan keluarganya di sisi lain jika dirinya memilih pilihan kedua yaitu berperang maka kemungkinan akan berdampak buruk resiko dari perang itu adalah akan banyak korban berjatuhan, Mannav pasti akan memenangkan peperangan ini lalu mengambil kerajaannya juga tidak Shivannya tidak bisa membiarkan Mannav mengambil alih kerajaannya setelah berpikir cukup lama akhirnya dia membuat keputusan " Aku sudah membuat keputusan aku memilih pilihan kedua yaitu berperang "
Mannav tersenyum licik dia menatap Shivannya yang terlihat tenang.
__ADS_1
" Kau yakin dengan pilihanmu itu? " Tanyanya Shivannya mengangguk tanpa menjawab dengan tawa lebarnya Mannav mulai mengeluarkan akal liciknya lagi
" Baiklah aku menghargai keputusanmu itu kau sudah menentukan pilihanmu tapi harus ada satu hal yang perlu kau ingat jika kau kalah dari peperangan ini maka kau harus menyerahkan kerajaan Kavila kepadaku, namun jika aku kalah kau akan terus aku cari lalu aku siksa sampai kau memohon kepadaku " Shivannya terdiam ketika mendengar ucapan Mannav, tanpa mereka sadari seorang gadis tengah menguping pembicaraan mereka Manu gadis itu berusaha menahan air matanya dia tidak tahu kenapa kakaknya tega berbuat seperti itu bahkan Manu sudah menasihati kakaknya agar berhenti menganggu Shivannya tapi kakaknya tidak mau mendengarkannya sebuah tepukan mendarat di bahunya Manu melihat siapa yang menepuk bahunya wajahnya berubah datar ketika melihat Arun berdiri di hadapannya Manu tidak menghiraukannya Arun mulai dengan lancang menyentuh rambut Manu yang jatuh tepat di samping telinganya dengan kasar Manu menepis tangan kakak sepupunya itu
" Berhenti menyentuhku aku tidak sudi jika diriku disentuh oleh seorang pria yang sama sekali tidak memiliki perasaan,aku benar-benar muak melihat dirimu kenapa kau tidak kembali ke istanamu dan tetap tinggal disini? apa tujuanmu sebenarnya? aku sama sekali tidak mengerti keinginanmu itu " Arun tertawa licik dia menatap Mannav yang masih berbicara dengan Shivannya,
" Aku hanya ingin membantu Mannav untuk menaklukan semua kerajaan yang ada di india dan menjadikannya menjadi Raja maka dari itu aku akan membuat Mannav untuk menyerang kerajaan lain dan menguasai kerajaannya,tetapi semua kerajaan di daerah india sudah dia kuasai tinggal kerajaan Kavila saja yang belum dia kuasai sangat sulit untuk mengambil alih kerajaan itu karena ada wanita sombong itu yang sangat angkuh untuk menerima lamaran dari Mannav.Dia seharusnya berterima kasih kepada Mannav sebab dia sudah berbaik hati untuk menerimanya tapi ya dia tetap saja sombong, aku tidak mengerti apa yang diinginkan wanita sombong itu " Manu diam saja memandang kakak sepupunya itu dengan pandangan kebencian Arun melirik adik sepupunya itu dengan senyum miring sudah tidak tahan melihat kelicikan kakaknya Manu pergi meninggalkannya.
Shivannya pergi meninggalkan istana Singaloka wajahnya murung memikirkan masalah yang dia hadapi sekarang tampak dari kejauhan Manu menatap Shivannya dengan pandangan sedih dia sudah memutuskan untuk membantunya maka dia berlari mengejar Shivannya
" Yang Mulia Ratu tunggu " Shivannya menoleh mendengar namanya dipanggil dia mengernyit ketika melihat Manu mengejarnya " Ada apa Manu? " Tanyanya Manu menggenggam tangan Shivannya,gadis itu tidak mengerti maksudnya
" Yang Mulia Ratu tolong jangan pergi dulu ada hal lain yang ingin aku katakan padamu " Shivannya memandangnya heran lalu Manu mengajak Shivannya ke sebuah taman istana mereka berdiri diantara bunga-bunga yang tumbuh disana Manu kebingungan dia harus memulai darimana mengingat wajah Shivannya terus menatapnya dengan tatapan datar " Apa yang mau katakan Putri Manu? "
Shivannya mengernyitkan dahinya bingung apa maksud ucapan gadis itu? ingin membantunya saat perang? dia tidak salah dengar kan? Shivannya menghela nafasnya
" Kau ingin membantuku? seharusnya kau tidak boleh melakukan itu dia adalah kakakmu kau harus membantunya, sedangkan aku hanyalah musuh kalian maka dari itu kau tidak usah membantuku itu tidak perlu aku bisa mengatasi dan mengalahkan kakakmu. Karena aku sudah bersumpah akan membunuh kakakmu dia lah penyebab ayahku mati terbunuh di medan perang aku sama sekali tidak bisa memaafkannya " Shivannya mulai menangis air matanya tidak bisa dibendung lagi dia membenci pemuda itu Manu yang berada disampingnya ikut menangis kedua gadis itu menangis bersama, Manu mengambil tangan Shivannya sambil menangis dia meletakkan tangannya di atas kepala Shivannya,
" Aku bersumpah bahwa aku akan membantumu untuk mengalahkan kakak, aku bersedia mengorbankan nyawaku saat kakakku menyerangku di medan perang aku rela mati di tangan kakak karena aku sudah menjadi seorang pengkhianat membantu musuhku. Aku juga rela kepalaku dipenggal aku tidak takut yang penting aku ingin kakakku dihukum " Manu bersumpah sambil menangis Shivannya tertegun mendengarnya gadis cantik ini berniat membantunya bahkan dia sudah bersumpah dirinya rela mati di tangan sang kakak.
" Kau serius akan melakukan itu? tapi resikonya terlalu bahaya aku tidak bisa membiarkan seorang gadis berkorban hanya untuk membantu musuhnya dalam berperang,kau tidak boleh melakukannya kau adalah adiknya Mannav dan Arun jadi kau tidak boleh membantuku " Shivannya melepaskan tangan Manu dari atas kepalanya
dia lalu pergi meninggalkan Manu yang terdiam di tempatnya sambil menangis, baru beberapa langkah Shivannya berjalan suara Manu lagi-lagi mencegahnya
" Akan aku pastikan bahwa aku akan tetap membantumu Yang Mulia tidak peduli jika diriku akan mati " Manu berteriak histeris dirinya sudah bersumpah akan membantu Shivannya dalam medan perang.
__ADS_1
Shivannya berjalan menuju kereta kudanya baru saja dia akan naik tiba\-tiba dia teringat sesuatu dia pun terdiam sampai kusir keretanya menegurnya
" Maaf Yang Mulia bisakah kita kembali ke istana? Ibu Ratu terus saja mengirim pesan kepada para pengawal " Shivannya menggelengkan kepalanya dia mendekati kusir keretanya " Aku tidak akan pulang ke istana aku akan pergi ke suatu tempat karena itu lah katakan kepada Ibu Ratu bahwa aku akan pergi selama dua bulan, beritahu juga kepada Perdana Menteri untuk mengirim surat kepada Kerajaan Singaloka perang akan ditunda sampai aku kembali ke Kerajaan Kavila dan katakan juga bahwa Kerajaan Singaloka akan segera menyerang kita " Ujarnya, sang kusir pun menganggukkan kepalanya begitu juga dengan para pengawal setelah itu Shivannya berjalan pergi meninggalkan Kerajaan Singaloka dan pergi ke arah utara.
Manu berjalan dengan wajah sembab dia pergi ke ruangan sang kakak yang sedang asyik bermain catur bersama Arun
" Salam Yang Mulia Raja, Tuan Putri Mannu ingin menemui anda " Ucap salah satu pelayan Mannav mengangguk pelayan itu pun pergi Mannu masuk dengan wajah marah Mannav dan Arun heran melihat adik mereka masuk dengan wajah sembab, Mannav mendekati adiknya namun Mannu berjalan mundur " Jangan dekati aku " dia berteriak keras Mannav terkejut mendengar adiknya berteriak " Mannu ada apa? kenapa kau berteriak seperti ini? apa ada yang mengganggumu? " Tanya Mannav bingung Mannu menggelengkan kepalanya dia menatap tajam kakaknya
" Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa untuk menghentikan keinginan kakak, kau sudah membuat orang lain menderita apa kau sadar dengan perbuatanmu ini? kau sudah menyebabkan sebuah perang yang akan mengancam nyawamu sendiri kak, dulu kau adalah sosok kakak yang baik hati yang selalu menjadi panutanku tapi sekarang kau malah berubah sejak kau memuja iblis kau berubah kak, sifat dan kelakuanmu semakin memburuk dari hari ke hari dan kau juga sudah menyebabkan semua nyawa melayang gara-gara perbuatanmu itu kau merampas milik mereka dengan perbuatan kejimu itu.Sudah banyak korban berjatuhan akibat dirimu kau membunuh mereka dan menguasai kerajaan mereka dengan kejamnya kau selalu berbuat sesuka hatimu kau membunuh,memperkosa dan menyiksa orang dengan kejamnya, dimana hati nurani mu kak? dimana kelembutan hatimu yang dulu itu? dimanakah sosok kakak yang sangat aku kagumi sejak dulu itu? aku sangat sedih melihat kakak bersikap kejam kepada semua orang hati dan batinku menjerit melihat sosok kakak yang dulu menghilang sekarang tergantikan oleh sesosok iblis kau bukan manusia lagi hatimu sudah bukan manusia lagi " Manu berkata sambil menangis keras Mannav memandang adiknya datar sedangkan Arun dia menyeringai melihat pemandangan di depan matanya yang membuat dia merasa senang dirinya yang ingin membuat hubungan kakak beradik itu hancur akhirnya tercapai juga.
Arun berjalan mendekati Manu yang masih menangis dia memegang pundak adik sepupunya itu tapi tangannya ditepis keras
" Jangan pernah mencoba untuk menyentuhku aku tidak sudi disentuh oleh orang menjijikkan seperti dirimu, asal kau tahu kau sudah menghancurkan keluarga ini dan kau sudah membuat hubungan aku dan kakak hancur gara-gara perbuatanmu itu. Aku tahu kalau kau lah penyebab kakak jadi seperti ini kau menghasut kakak kau juga yang menyuruh kakak untuk memuja iblis agar bisa menguasai semua kerajaan yang ada di India seandainya aku tahu sejak awal aku pasti sudah menghentikan kakak untuk tidak mengikuti perbuatanmu itu, aku salah dan bodoh tidak menyadarinya karena dulu umurku masih 14 jadi belum mengetahui apapun,sebenarnya apa keinginanmu itu hah ? kau ingin menghancurkan keluarga ini atau ingin membalas dendam? " masih memperlihatkan senyum liciknya Arun dengan tenang menjawabnya
" Bukan seperti itu tujuanku Manu aku hanya ingin membantu adikku untuk mencapai keinginannya menjadi seorang Raja yang hebat maka dari situ lah aku membantunya untuk memuja iblis agar dia bisa menjadi orang yang kuat bisa mengalahkan musuhnya jika berperang dan ditakuti serta dihormati oleh semua orang, adikku juga ingin menguasai seluruh kerajaan di India maka dari itu kau jangan menyalahkanku aku hanya membantu kakakmu saja untuk mencapai tujuannya " Arun tersenyum menyeringai menatap Manu gadis itu tidak tahan untuk melihatnya dia mendekati sang kakak sambil menangis dia berucap
" Aku akan pergi dari istana ini aku sudah tidak tahan melihat sifat dan kelakuan kejam kalian,tapi kalian harus ingat kalian yang memulai perang ini maka rasakan nanti akibatnya aku sudah tidak bisa menghentikan kalian, bersiaplah menghadapi kematian kalian aku akan pergi dari istana ini permisi "
Manu hendak berbalik namun tiba-tiba sang kakak memanggilnya " Tunggu Manu "
Mannav mencoba menghentikan adiknya tapi Manu tetap dengan keputusannya sebelum pergi dia menatap Arun dengan tajam
" Arun " ucapnya, Manu mulai mengarahkan jarinya tepat di hadapan Arun dengan penuh amarah Manu mengutuk Arun dengan suara dingin " Aku mengutukmu Arun kau akan mati seluruh tubuh serta kepalamu akan meledak bila mengenai sebuah pedang berlumuran darah saat itu lah kau akan mati tepat saat matahari tenggelam " dengan suara keras Manu memberikannya sebuah kutukan tiba-tiba sebuah angin kencang menerjang istana dan ada petir disertai kilat yang menyambar Mannav terkejut mendengar kutukan adiknya dengan kasar dia menyeret adiknya keluar sementara Arun hanya terdiam di tempatnya.
" Lepaskan aku " Manu mencoba melepaskan cengkraman dari sang kakak namun Mannav terus menyeretnya sampai di depan gerbang istana dia memerintahkan prajurit untuk membukakan pintunya,Manu lantas didorong dengan kasar penampilan gadis itu terlihat berantakan akibat sang kakak menyeretnya dengan kasar Mannav memandang adiknya yang tersungkur ke tanah dengan pandangan benci
" Aku benar-benar tidak menyangka kau berani mengatakan hal itu mulai sekarang jangan pernah menginjakkan kakimu untuk kembali ke istana ini lagi aku tidak sudi menerima orang sepertimu dan mulai sekarang kau bukanlah adikku lagi, aku hanya mempunyai satu saudara yaitu Arun dirimu hanyalah orang asing aku sudah menganggap dirimu sudah meninggal jangan pernah datang ke sini lagi. Pergi " Mannu menangis mendengar ucapan kakaknya dia benar-benar kecewa sekaligus marah melihat kakaknya yang sudah berubah gadis itu mencoba berdiri dia menatap kakaknya dengan wajah sedih dia juga memberikan kutukan kepada kakaknya " Baiklah aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki kesini lagi tapi kau harus mengingatnya aku mengutukmu Mannav kau akan mati dengan senjata trisula akan menusuk dan mengenai dadamu itu " setelah berkata demikian Manu pergi meninggalkan Kerajaan Singaloka dia berlari tidak tentu arah hatinya telah cukup sedih gadis itu berlari sesekali sambil mengusap air matanya dia berniat untuk mencari Shivannya yang menghilang selama dua hari setelah kedatangannya ke Kerajaan Singaloka dia bertekad untuk mencarinya sampai ketemu.
Maaf semuanya aku baru bisa upload bab terbarunya karena aku sedang sibuk ada sedikit urusan tapi terima kasih sudah menunggu kelanjutan cerita dariku ditunggu ya bab barunya...
__ADS_1