
Keesokan harinya semua sudah bersiap untuk upacara pernikahan termasuk juga dengan Manu, sedari tadi dia sudah duduk di depan meja rias para pelayan sibuk mendandaninya.
Gadis itu memakai saree pernikahan berwarna merah maroon, rambutnya digelung ke atas dihiasi bunga melati dan banyak perhiasan, dia memakai anting-anting berbentuk lonceng berwarna emas, tangannya dihiasi gelang emas serta kakinya juga dihiasi gelang emas, kedua jarinya memakai cincin emas tak lupa telapak tangan dan kakinya dihias oleh pacar merah. Pelayan memberikan sentuhan terakhir untuk Manu yaitu mereka memakaikan kerudung berwarna kuning keemasan penampilan Manu terlihat cantik, elegan dan mewah selesai dirias para pelayan undur diri Manu melihat bayangan dirinya di cermin dia tersenyum sembari memegang wajahnya dia bergumam kecil
" Aku sangat cantik, aku tidak percaya bahwa aku akan menikah hari ini " tiba-tiba pintu kamarnya terbuka Manu melihat ada bayangan masuk ke kamarnya.
Di sisi lain Gauri dan Jhanvi sudah bersiap mereka berdandan dengan sangat cantik
" Ayo cepat kita harus menyelesaikan ini secepatnya " Ajak Jhanvi, Gauri mengangguk dia membawa sebuah pisau kecil dan menyembunyikannya di balik selendangnya yups hari ini mereka berdua berencana untuk membunuh Manu. Mereka berdua keluar dari kamar dengan berjalan santai sampai di depan pintu kamar Manu mereka berdua tersenyum menyeringai jahat lalu membuka pintu itu, mereka melihat Manu tengah duduk dengan wajah ditutup menggunakan selendangnya mereka berdua lagi-lagi tersenyum dengan langkah pelan mereka mulai mendekati Manu.
Gauri mengeluarkan pisau yang tadi dia sembunyikan dan bersiap untuk menusuk Manu akan tetapi begitu Gauri ingin menancapkan pisau itu ke arah Manu sebuah tangan memegangnya Gauri sontak terkejut dia melihat tangan Manu memegang tangannya
" Hentikan ini " Gauri terdiam dia melirik Jhanvi dan Jhanvi pun sama terkejutnya Manu memegang tangan Gauri dengan keras bukan memegang melainkan mencengkeramnya sampai Gauri mengaduh kesakitan
" Lepaskan, aku bilang lepaskan aku jangan berani-beraninya kau menyentuhku " Manu berdiri kemudian membuka selendang yang menutupi wajahnya alangkah terkejutnya mereka berdua, saat melihat siapa yang berdiri di depannya itu bukan Manu melainkan Shivannya yang memakai pakaian pengantin yang sama dengan Manu gadis itu tersenyum tipis ketika melihat wajah terkejutnya dua orang itu.
" Kalian terkejut? sungguh kasihan, aku sudah tahu bahwa kalian akan melakukan ini jadi aku sudah merencanakannya dan ternyata reaksi kalian sungguh membuatku ingin tertawa "
Jhanvi yang geram langsung menyuruh Shivannya melepaskan Manu " Lepaskan dia "
namun Shivannya menggeleng keras
" Tidak akan aku lepaskan karena gadis ini sudah melakukan sebuah kesalahan, aku akan menghukum gadis ini dengan memenggal kepalanya " Gauri melotot mendengarnya
" Apa yang kau lakukan? dia itu adikmu dia adalah saudarimu dan kau tega akan menghukumnya dengan kejam? kakak macam apa kau ini seharusnya kau itu " Ucapan Jhanvi terpotong dengan teriakan Shivannya
" Diam kau Yang Mulia Ratu Jhanvi ! jangan pernah menyuruhku untuk mendukung perbuatan gadis ini, aku tahu kau sudah bekerja sama untuk membunuh Manu kan? coba pikirkan apa kesalahan gadis itu sampai membuatmu ikut membencinya? kau itu Ratu seharusnya kau itu malu dengan perbuatanmu bagaimana jika suamimu serta masyarakat tahu tentang perbuatanmu? bayangkan itu kau akan dihukum lalu dipermalukan wah sungguh pemandangan yang bagus, harga dirimu yang diangkat sebagai Ratu telah lenyap dari dirimu akibat perbuatan busukmu itu. Hari ini aku akan memberi tahu semua orang tentang perbuatan kalian kepada semua orang termasuk suamimu Jhanvi " Shivannya menuding wajah Jhanvi matanya terlihat marah dia hendak pergi meninggalkan kamar itu tapi suara Jhanvi mencegahnya " Oh ya? silakan kau beritahu suamiku dan kita lihat bagaimana reaksinya, apakah dia akan membelamu atau membelaku? mari kita lihat Shivannya " Gauri yang berada di sampingnya menyeringai jahat
Shivannya berbalik dia tersenyum miring
" Jika kakakku tidak membelaku dan membela kalian maka aku sendiri yang akan turun tangan menghukum kalian berdua " Shivannya pergi meninggalkan Gauri dan Jhanvi yang terlihat kesal.
" Argh sial lagi-lagi kita mengalami kekalahan "
Gauri melempar semua bantal yang ada di kamarnya Jhanvi yang berdiri diam mulai menggertakkan giginya kesal dia merasa marah kepada Shivannya karena sudah menggagalkan rencananya, Gauri yang terus mendumel tidak henti-hentinya melempar semua barang di kamarnya Jhanvi hanya meliriknya tiba-tiba seorang pelayan masuk
" Salam Ratu, Yang Mulia Raja memanggil anda ke aula upacara pernikahannya akan segera dimulai " Jhanvi mengangguk dia menyuruh pelayan itu pergi Gauri yang mendengarnya mendekati kakak iparnya " Kau akan pergi? "
Tanyanya Jhanvi mengangguk, Gauri melarang Jhanvi untuk pergi " Kenapa? suamiku sudah memanggilku dan aku harus pergi " , Gauri menghela nafas kasar " Kau tidak boleh pergi sebelum kita berhasil melenyapkan Manu jadi selama itu tidak berhasil kau tidak boleh pergi, kau harus tetap disini " Jhanvi menoleh
" Apa maksudmu? kita akan mengurus itu tapi sekarang aku harus pergi karena suamiku sudah memanggilku, tidak ada yang lebih penting dari pangilan seorang suami jadi aku harus mematuhinya " Jhanvi pergi meninggalkan Gauri yang sedang marah
" Huh lihat saja nanti Manu, kali ini kau berhasil lolos kau berhasil menikahi pria yang aku cintai tapi suatu saat nanti aku pasti bisa menghabisimu. Dendamku ini tidak akan pernah hilang sebelum aku membalaskannya dan melihatmu menghilang dari dunia ini dan aku tidak akan pernah pergi dari Kerajaan ini sebelum tujuanku terwujud " Gauri tersenyum jahat dia pun pergi untuk melihat upacara pernikahan itu.
__ADS_1
Para Pendeta sudah duduk di depan api suci begitu juga dengan Manu dan Vikram keduanya telah duduk disana dengan senyum bahagia wajah mereka terlihat sangat bahagia, Nandini yang melihat itu tampak senang dia menangis haru Ambarawati yang disampingnya memberinya senyuman lembut Nandini menggenggam tangan adiknya tidak lama kemudian Shivannya muncul dia telah mengganti pakaiannya disusul oleh Jhanvi dia berdiri di samping suaminya Sanjaya melihat istrinya sudah datang " Kau darimana saja? daritadi aku mencarimu " Jhanvi tersenyum tipis dia memegang tangan suaminya
" Aku dari kamarku tadi aku mencari gelangku yang hilang dan aku menemukannya, maafkan aku sudah membuatmu menunggu lama "
Sanjaya mengangguk Jhanvi tersenyum dia melihat suaminya yang percaya dengan ucapannya. Upacara pernikahan pun dimulai Pendeta menyuruh mempelai pria dan wanita untuk mengelilingi api suci dan mengucapkan tujuh sumpah pernikahan selesai mengelilingi api suci Pendeta menyuruh mempelai pria untuk memakaikan sindoor di belahan dahi mempelai wanita dan memakaikan kalung pernikahan, kemudian Pendeta menyuruh mempelai pria dan wanita untuk meminta sebuah berkat dan doa restu dari masing-masing keluarga.
Manu yang hanya melihat Nandini saja tersenyum tipis dia tidak bisa meminta doa restu kepada ibu dan ayah kandungnya karena mereka telah meninggal sejak Manu remaja akibat ulah kakaknya, keduanya mulai meminta doa restu kepada Nandini mereka menyentuh kaki Nandini dan meminta doa restu
" Semoga kalian bahagia selamanya sampai maut memisahkan, Dewa akan selalu melindungi kalian dimanapun kalian berada "
Ucap Nandini memberikan doa kepada putra dan menantunya, Manu dan Vikram tersenyum lebar kemudian mereka meminta berkat kepada Ambarawati " Semoga kalian bahagia selamanya " Lalu dilanjutkan meminta doa kepada Sanjaya dan istrinya Jhanvi
" Doaku adalah semoga kalian berdua selalu bahagia dan terhindar dari segala macam musibah dan juga selalu dilindungi oleh Dewa "
Sanjaya kemudian memeluk adiknya Manu melihat mereka berdua dengan senyum tipis.
Jhanvi memasang senyum lembut dia memberikan doa kepada kedua pengantin baru itu " Aku harap kalian berdua selalu bahagia "
keduanya mengatupkan kedua tangannya mengucapkan terima kasih Jhanvi melirik mereka dengan tatapan sinis
' Lihat saja sebentar lagi kalian akan mengalami sebuah masalah, pernikahan kalian tidak lama lagi akan hancur kebahagiaan kalian aku akan merenggutnya sampai kalian benar-benar terpisah ' Jhanvi menyeringai jahat memikirkan rencana untuk menghancurkan kehidupan pengantin baru itu.
Shivannya tersenyum lembut dia memeluk kakaknya dan juga kakak iparnya
" Wah semoga kalian berdua bahagia selalu, hari ini aku sangat bahagia sekali karena kalian berdua sudah menikah akhirnya keinginanku terkabulkan untuk melihat kalian berdua bersatu dalam tali ikatan pernikahan " Manu dan Vikram tertawa mendengarnya dia mengangguk lalu memeluk Shivannya, setelah upacara pernikahan selesai kedua pengantin memutuskan untuk pergi ke kamarnya Gauri melihat Vikram hendak pergi ke kamarnya dia pun mencegahnya " Kakak " Vikram menoleh dia melihat Gauri menghampirinya dia terdiam
Vikram hanya menghela nafas dia sama sekali tidak meresposnnya. Gauri tersenyum tipis
" Kakak " Dia melambaikan tangan di depan wajah Vikram pria itu tersadar dari lamunannya
" Sudah selesai bicara kan? aku harus pergi menemui Manu dia sedang menungguku di kamarnya jadi aku harus pergi " Dia pun pergi meninggalkan Gauri yang terdiam di tempatnya
" Sampai nanti kakakku tersayang tidak lama lagi hidup kalian akan segera merasa sengsara aku akan menghancurkan hidup kalian, dan tidak lama lagi pernikahan kalian akan segera hancur kebahagiaan kalian tidak lama lagi akan aku renggut, dan kalian sebentar lagi akan terpisah selamanya. " Gauri tersenyum jahat dia pun pergi ke kamarnya dengan perasaan riang.
Vikram masuk ke kamarnya bukan lebih tepatnya kamar dia dan Manu karena sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi pasangan suami istri dan sekarang mereka akan tidur dalam satu ranjang, Vikram melihat Manu tengah duduk di depan jendela kamar dengan pakaian pengantinnya dia tersenyum tipis melihatnya karena sekarang dia sudah mendapatkan Manu dan menjadikan Manu miliknya selamanya. Manu tidak menyadari suaminya telah datang dia masih asyik melihat bintang yang bersinar terang di langit tiba-tiba dia mendengar suara suaminya memanggil dirinya " Manu " Manu berbalik dia melihat Vikram sudah berdiri di belakangnya dengan membawa sesuatu dia tersenyum lembut Vikram pun membalas senyumannya
" Apa kau sudah menungguku terlalu lama? ah maafkan aku karena telah membuatmu menunggu tadi aku-" Manu tersenyum dia mengerti kenapa suaminya terlambat datang menemuinya " Aku mengerti suamiku tenang saja aku tidak akan marah, oh ya apa yang tengah kau bawa? " Manu melihat sebuah benda di tangan suaminya Vikram tersenyum dia lalu mengeluarkan sebuah mahkota dihiasi permata berwarna merah Manu berbinar melihat mahkota itu, mahkota itu berkilau diterpa cahaya bulan wanita itu terlihat senang melihatnya " Wah cantik sekali " Pujinya Vikram tersenyum dia lalu mengajak Manu untuk duduk di ayunan kamarnya.
Mereka berdua tengah duduk lalu Vikram menyuruh Manu untuk menunduk wanita itu menurutinya Vikram mulai memakaikan mahkota itu di kepala istrinya dia mengganti mahkota yang tadi dia pakaikan di pernikahannya dengan mahkota permata merah " Sudah selesai " Ucap Vikram, Manu meraba mahkota yang telah terpasang di kepalanya " Indah sekali tapi kenapa kau mengganti mahkota itu dengan mahkota ini? kau tahu tadi kau sudah memakaikan mahkota ini dikepalaku sebagai tanda bahwa aku sudah resmi menjadi istrimu, apalagi kau memakaikannya di depan semua orang termasuk keluargamu tapi kenapa kau menggantinya lagi? aku telah menerima mahkota yang tadi kau pakaikan itu dengan sangat tulus itu melambangkan bukti cintamu kepadaku dan aku telah menghargainya sekaligus menerimanya " Ujar Manu dengan senyuman lebar, Vikram tertawa mendengarnya " Hari ini kau cerewet sekali ya? tidak seperti biasanya, biasanya kau itu pendiam tapi hari ini kau sangat cerewet. Memang aku telah memakaikan mahkota itu kepadamu sebagai lambang bahwa kau telah resmi menjadi istriku sekaligus kau adalah milikku selamanya tapi kali ini mahkota ini sangat berbeda kau tahu kenapa? karena permata di mahkota ini melambangkan cintaku yang sangat tulus kepadamu sekaligus kau adalah milikku selamanya dan mahkota ini akan kau terus pakai sampai maut memisahkan kita sedangkan mahkota yang tadi aku pakaikan di upacara pernikahan tadi itu memang melambangkan kau resmi jadi istriku tapi itu tidak melambangkan cintaku yang tulus kepadamu. Karena permata ini aku simpan khusus buat yang akan jadi istriku nanti karena ini adalah permata cinta " Manu tertawa mendengarnya dia pun memegang tangan suaminya " Aku berjanji bahwa aku akan memakai mahkota ini selamanya sampai maut memisahkan kita dan aku tidak akan melepaskan mahkota ini apapun yang terjadi, karena mahkota ini dan permata ini melambangkan cinta sejatimu dan juga ketulusan hatimu dan aku sangat menghargai cintamu itu suamiku. Aku bersumpah bahwa aku akan mencintaimu selamanya apapun yang terjadi aku akan tetap mencintaimu selamanya tidak peduli jika ada masalah aku tidak akan meninggalkanmu " Vikram merasa terharu mendengar ucapan istrinya dia pun memeluk Manu dengan erat, Manu pun membalas pelukan suaminya.
Shivannya tengah melepaskan perhiasannya dia ingin merebahkan dirinya di kasur hari ini dia merasa sangat lelah karena upacara pernikahan sang kakak dia jadi sibuk mengurusnya ditambah lagi tadi ada sedikit masalah, rencananya setelah upacara pernikahan selesai Shivannya akan pulang ke Kavila tapi mengingat hari sudah malam mustahil untuk sampai disana secepatnya jadi dia memutuskan untuk pulang besok pagi saja. Baru saja dia melepaskan ikatan rambutnya Madhuri datang ke kamarnya " Kakak " Shivannya menoleh dia melihat Madhuri datang dengan wajah sedikit murung " Ada apa? " Tanya Shivannya, Madhuri duduk di tepi kasur sambil memainkan ujung selendangnya dia bicara " Apakah besok kakak akan pulang ke Kerajaan Kavila? lalu bagaimana dengan disini? maksudku setelah besok kau pulang Gauri dan kak Jhanvi pasti akan berulah lagi, mereka pasti akan mengganggu kak Vikram dan kakak ipar Manu aku yakin mereka pasti akan merencanakan sesuatu yang buruk. Aku takut jika terjadi sesuatu aku tidak akan bisa membantu maupun mencegahnya " Shivannya
menghentikan menyisir rambutnya dia berbalik menatap Madhuri " Kenapa kau harus merasa cemas? tenang saja jika mereka berbuat ulah kau tinggal bilang saja kepada kak Sanjaya, apa susahnya kau bisa mengadu kepadanya kan? "
__ADS_1
Madhuri menggeleng keras
" Kak Sanjaya akan membela istrinya dia tahu jika istrinya itu tidak bersalah kakak dan kak Jhanvi aku yakin dia pasti akan berbohong mana mau dia mengakui kesalahannya, dia akan terus membela dirinya sendiri dan bicara manis untuk mendapatkan kepercayaan suami serta seluruh keluarga kak aku yakin dia pasti akan menghasut semuanya kak mereka semua pasti akan memarahiku kak " Shivannya terdiam dia pun berdiri dan duduk di samping Madhuri " Dengar jika itu yang terjadi maka kirimkan sebuah surat kepadaku dan aku janji akan membantumu walaupun aku tidak bisa datang kemari, aku pasti akan membantumu dari jauh jadi kau tidak usah khawatir soal itu tugasmu sekarang adalah mengawasi gerak-gerik Gauri dan kak Jhanvi jika kau melihat tingkah mereka mencurigakan segera beritahu aku. Aku pasti akan memberikan solusinya dan bisa mencegah perbuatan buruk mereka tapi kau harus ingat awasi mereka dari jauh agar mereka tidak mencurigaimu " Ujar Shivannya tersenyum Madhuri mengangguk dia pun ikut tersenyum " Tapi bagaimana caranya aku mengirimkan surat tanpa diketahui oleh mereka ataupun orang lain? " Shivannya lagi-lagi tersenyum " Kau tenang saja aku akan mengurus hal itu " Madhuri hanya mengangguk kemudian dia pergi meninggalkan Shivannya.
" Jika hal itu benar-benar terjadi maka aku sendiri lah yang akan membantu kakak ipar bahkan aku dengan senang hati menghabisi orang-orang yang telah bersikap jahat kepada orang lain, aku senang jika harus memberikan hukuman kepada kak Jhanvi dan Gauri tapi sebelum aku memutuskan untuk menghukum mereka biarlah kak Sanjaya yang bertindak dulu jika kak Sanjaya tidak bisa memberikan mereka hukuman maka aku sendiri yang akan turun tangan " Shivannya terdiam sebentar lalu memutuskan untuk tidur hari dia benar-benar sangat lelah.
Keesokan paginya semua orang sudah terbangun termasuk juga Shivannya hari ini mereka akan mengadakan sebuah puja untuk menyambut sekaligus memberikan doa kepada pengantin baru, Manu beserta suaminya turun menuju aula Istana Nandini melihat menantunya itu dengan senyuman lembut
" Wah coba lihat pengantin ini mereka terlihat sangat bahagia eh Manu kau tampak sangat cantik hari ini " Manu tersenyum tipis mendengar pujian dari sang ibu mertua. Gauri yang berdiri tidak jauh memperhatikan pengantin baru itu dia merasa jengkel melihatnya Jhanvi memperhatikannya gelas yang dibawa oleh Gauri diremas erat wanita itu hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah adik sepupunya itu, Jhanvi melihat mahkota yang dikenakan oleh Manu berubah
" Wah coba lihat mahkotamu kau telah menggantinya Manu? " semua orang melihat mahkota dengan batu permata merah itu terpasang manis di kepala Manu, Shivannya mendekatinya " Permatanya sama dengan milikku kakak ipar " Manu hanya tersenyum
" Kau benar Shivannya batu permata yang menghiasi mahkotaku ini sama dengan milikmu " Vikram menjelaskan bahwa batu permata itu milik mendiang kakek mereka
" Ya batu permata itu memang mirip seperti punya Shivannya itu adalah warisan dari kakek, kakek dulu memberikannya kepada ibu Nandini dan bibi Ambarawati mereka memberikannya kepada anak-anaknya. Ibu memberikan batu itu kepada kak Sanjaya tapi kak Sanjaya menolaknya benarkan? " Sanjaya mengangguk
" Ya itu memang benar aku menolaknya karena batu permata itu aku sama sekali tidak menginginkannya, kata ibu batu permata itu akan diberikan kepada istriku aku harus memasangkan batu itu ke mahkota istriku tapi aku menolaknya. Aku bilang bahwa aku tidak akan memasangkan batu permata itu ke mahkotanya karena aku sudah memiliki seleraku sendiri " Vikram lalu melanjutkan ceritanya " Kemudian batu itu ingin diserahkan kepada Madhuri namun Madhuri lagi-lagi menolaknya dia bilang bahwa dia akan memakai mahkota pilihan dari suaminya kelak, dia tidak ingin bawa batu permata itu jika dia nanti akan menikah " Madhuri hanya tersenyum lebar " Tepat sekali kakak " Vikram kembali bercerita " Pada akhirnya karena dua saudaraku tidak mau menerimanya jadi ibu memberikan batu itu kepada diriku, aku pun menerimanya karena ibu bilang itu warisan dari kakek " Vikram pun mengakhiri ceritanya Nandini membenarkan ucapan putranya
" Yang dikatakan oleh putraku itu benar sekali kedua anakku sama sekali tidak menginginkan batu permata itu jadi ya aku memberikannya kepada Vikram dia lalu mau menerimanya dan mengatakan bahwa dia akan memberikan itu kepada istrinya " Nandini melirik Vikram yang hanya diam sembari tersenyum tipis
" Dan akhirnya batu permata itu aku pasangkan di mahkota Manu aku kemarin mengganti mahkotanya karena pas pernikahan mahkota yang berisi batu permata itu belum selesai maksudnya belum selesai dibuat aku memakaikan istriku mahkota biasa, waktu kami berdua aku memutuskan menggantinya karena mahkota yang aku buat itu sudah selesai dibuat jadi aku pun menggantinya aku ingin agar Manu mengenakan mahkota itu selamanya karena aku membuatnya atas dasar cintaku yang tulus kepadanya aku sangat mencintai istriku. Karena itu lah mahkota ini melambangkan cintaku kepadanya batu permata itu juga melambangkan cinta kan? jadi ya lengkap sudah cintaku kepada istriku yang cantik ini"
Semua tertawa mendengarnya kecuali Gauri dan Jhanvi mereka sangat marah melihat pasangan yang sangat mesra itu.
Puja dilakukan di kuil Siva dan Parvati puja dipimpin oleh seorang Pendeta suci, Vikram dan Manu berdiri paling depan karena ini adalah puja untuk mereka berdua keduanya meminta doa restu dan berkat dari Dewa Siva dan Dewi Parvati. Selesai melakukan puja Pendeta mengambil sebuah benang berwarna merah lalu Pendeta itu menyuruh keduanya untuk mengikat benang itu ke tangan masing-masing benang itu diikat bertujuan agar segala masalah dan rintangan untuk mereka berdua dihilangkan sekaligus memperkuat cinta mereka. Kemudian mereka berpamitan untuk pulang kembali ke Kerajaan Aradhya saat hendak ingin naik ke kereta kuda tiba-tiba Gauri menjerit histeris dan spontan memeluk Vikram yang berdiri di sebelahnya Gauri memeluk Vikram dengan erat bahkan tidak mau melepaskannya " Ada apa Gauri? bisa tolong lepaskan pelukanmu ini aku tidak bisa bernafas kau memelukku terlalu erat " Gauri menggeleng keras " Tidak mau, coba lihat disana ada ular besar melintas disana ihhh aku takut kak " Ujar Gauri diam-diam gadis itu tersenyum lebar dia merasa sangat senang bisa memeluk pujaan hatinya padahal tadi sama sekali tidak ada ular lewat dia hanya ingin membuat Manu cemburu dan memanfaatkan untuk memeluk Vikram,
Sanjaya melihat sekeliling sama sekali tidak terlihat seekor ular besar lewat di depan mereka " Mana? tidak ada ular besar lewat "
Shivannya dan Madhuri saling pandang mereka mengetahui bahwa Gauri berbohong dan memanfaatkan kesempatan itu untuk memeluk Vikram " Dia berbohong kak " Bisik Madhuri pelan Shivannya pun mengangguk
" Ya kau benar Madhuri " Shivannya melihat wajah Manu yang mulai tidak suka melihat suaminya dipeluk oleh gadis lain. Vikram berusaha melepaskan pelukan Gauri karena dia tahu istrinya pasti tidak suka jika melihat dirinya dalam keadaan seperti ini
" Lepaskan aku Gauri biarkan aku melihat ular itu sekarang kau tenang lah " tapi Gauri sama sekali tidak meresponsnya dia hanya diam
" Usir dulu ular itu kak baru aku akan melepaskan pelukanku jika ular itu belum pergi aku tidak mau melepaskannya, kau tahu kan kalau aku itu takut ular kak " Vikram melihat sang istri yang terlihat menatapnya tidak suka wajah Manu langsung berubah datar dia hanya diam sama sekali tidak menegur Gauri.
Risih melihat ekspresi sang istri Vikram pun mendorong keras Gauri " Lepaskan aku " sontak semua orang terkejut melihat perlakuan kasar Vikram " Apa-apaan kau Vikram? kenapa kau mendorong Gauri? lihat dia memeluk dirimu karena dia takut ular tapi kau malah mendorongnya " Ucap Jhanvi sedikit keras
Gauri hampir jatuh untunglah Jhanvi memegang dirinya, Vikram merasa cuek dia pun mendekati Manu istrinya dan menarik tangannya menuju kereta kuda " Ayo pergi "
Manu mengikuti suaminya naik ke kereta kuda meninggalkan semua orang mereka pergi ke Aradhya tanpa menunggu semua orang,
Gauri tersenyum puas bisa membuat Manu menjadi marah dia pun benar-benar merasa senang. Di perjalanan pulang keduanya diam membisu Manu lebih banyak diam ketimbang bicara sedangkan Vikram bingung berusaha untuk mengajak istrinya bicara " Manu " Vikram mulai bicara berharap istrinya meresponsnya walaupun gak meresponsnya minimal menoleh menatap dirinya aja Vikram merasa senang tapi sama sekali Manu tidak meresponsnya menjawab pun tidak apalagi menoleh, Vikram terus membujuk istrinya mengajak bicara dia bosan melihat istrinya itu diam saja saat sudah sampai di Aradhya Manu buru-buru turun dari kereta menuju kamarnya Vikram mengekor di belakangnya masih berusaha mengajaknya bicara sampai di depan pintu kamarnya Manu pun berbalik " Jangan berusaha membujukku ataupun bicara kepadaku karena aku masih marah kepada dirimu, jika kau masih berusaha mengajakku bicara maka aku tidak akan pernah memaafkanmu ingat itu " Manu hendak menutup pintu kamarnya namun Vikram mencegahnya " Ada apa lagi? " Tanya Manu datar Vikram pun mendekati istrinya
__ADS_1
" Kau akan menutup pintu kamar ini selamanya kan? itu berarti aku tidak akan bisa masuk ke kamar ini selamanya lalu aku harus tidur dimana? kau kan masih marah kepadaku itu berarti aku tidak bisa masuk ke kamar ini selama kau masih marah kepadaku aku tidak akan bisa masuk ke kamar ini " Manu tampak berpikir sebentar " Kau tidur saja di kamar lain Istana ini memiliki banyak kamar kan? kau tidur disana kalau kau tidak mau aku bisa pindah ke kamar lain dan kau tidur disini " Vikram menggeleng pelan " Tidak tidak kau saja yang tidur disini, aku akan tidur di kamar lain " Manu pun mengangguk setuju dia kemudian menutup pintu kamar itu dengan keras ' Brak ' Vikram hanya menggelengkan kepalanya sembari tersenyum lembut " Dasar Manu " Dia pun pergi ke kamar lain.
Halo aku kembali lagi hehehe maaf ya jika aku terlambat mengupload ban baru soalnya aku lagi sibuk banyak kerjaan, baru sekarang sempat upload bab baru. Bagi yang suka baca cerita ini jangan lupa like dan komen ya terima kasih.... 😁🙏