PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 14


__ADS_3

Semua orang menunggu Shivannya membuka matanya mereka berdoa agar Shivannya segera bangun dari pingsannya Manu tetap menunggu di luar dia juga ikut berdoa, tidak lama kemudian setelah tabib memberikan obat kepada Shivannya gadis itu mulai membuka matanya perlahan Ambarawati yang berada di sampingnya segera menggenggam tangannya


" Shivannya " Semua orang mulai tersenyum begitu melihat Shivannya bangun. Ambarawati mengelus kepala putrinya " Kau sudah bangun?"


Shivannya mengangguk Nandini tersenyum dia memuji keberanian gadis itu


" Kami semua bangga denganmu Shivannya, kaj telah menghabisi penjahat itu kini India sudah merasa aman tidak ada membuat keributan lagi. Para penjahat itu telah mati sekarang India tidak perlu merasa takut lagi tidak akan ada lagi kekuatan jahat yang ada hanya kedamaian dan kebahagiaan " Madhuri pun ikut menimpalinya " Ya kakak ini semua berkat keberanianmu kau tampak gagah begitu menghabisi kedua penjahat itu " Shivannya tersenyum mendengar pujian itu.


" Sekarang Manu telah mendapatkan keadilan orang yang telah berbuat jahat kepadanya sudah mati kini dia bisa hidup tenang tanpa ada gangguan lagi " Kata Vikram semuanya mengangguk " Ya kau benar Vikram " di sisi lain Gauri tampak tidak senang dia merasa kesal Jhanvi yang melihati itu langsung tersenyum menyeringai ketika semua orang keluar dari kamar Shivannya, Gauri berlari menuju kamarnya dia merasa kesal Jhanvi melihat Gauri duduk di kamarnya dia lagi-lagi tersenyum menyeringai ' Menyedihkan ' .


Nandini memanggil semua orang untuk berkumpul " Ada apa Ibu kau memanggil kami?"


Tanya Sanjaya dia sudah duduk di samping ibunya " Ya nak ibu memanggil kalian semua karena ada hal penting yang ingin ibu bicarakan" Semuanya saling pandang tidak mengerti " Apa itu Bibi? " Tanya Shivannya,


Nandini tersenyum " Nanti kau akan mengetahuinya " Shivannya mengangguk.


" Karena semua orang sudah berkumpul disini aku ingin mengatakan bahwa Vikram akan menikah dengan Manu " Semua orang terkejut mendengarnya terutama Gauri dia tidak percaya apa yang dia dengar, Jhanvi meliriknya terlihat ekspresi tidak suka di wajah Gauri


" Benarkah itu kakak? " Tanya Ambarawati gembira Nandini mengangguk semua orang merasa senang dengan pernikahan ini tapi tidak dengan Gauri dia memasang wajah marah " Maaf aku harus pergi " Gauri tiba-tiba pergi dari ruangan itu semua orang menatap dirinya bingung tapi tidak dengan Shivannya dia sudah tahu bahwa adik sepupunya itu tidak menyetujui pernikahan ini. Gauri ke kamarnya dia melempar semua barang yang ada di kamarnya dan berteriak seperti orang gila


" Tidak, ini tidak boleh terjadi kenapa harus gadis sialan itu menikah dengan Vikram? aku tidak akan membiarkan pernikahan ini terjadi begitu saja aku akan merusak pernikahan ini dan tidak akan aku biarkan gadis itu bahagia "


Amarah Gauri meluap dia mengusap kasa air matanya.


Manu yang duduk di kamarnya tengah asyik menyisir rambutnya melihat pelayan masuk ke kamarnya " Tuan Putri " Manu berdiri dia menunggu pelayan itu bicara " Ada apa? " Pelayan itu mengatakan bahwa Vikram datang ke kamarnya Manu mengizinkannya untuk masuk, Vikram masuk dengan senyum lebar Manu yang tidak mengerti segera bertanya


" Pangeran? ada apa kenapa kau tersenyum seperti itu? apakah ada berita bagus? " Vikram memeluk Manu, Manu yang mendapat pelukan mendadak hanya bisa diam " Pangeran? " Vikram melepas pelukannya dia menatap Manu " Aku datang membawa kabar gembira aku datang ingin melamarmu untuk menjadi istriku Manu, apakah kau mau menjadi istriku? " Manu yang mendapat lamaran dari orang yang dicintainya langsung mengangguk dia menangis haru " Ya Pangeran aku mau menikah denganmu " Vikram yang mendengar jawaban dari Manu memeluknya lagi kali ini lebih erat. Gauri yang lewat di depan kamar Manu melihat pemandangan yang menyakitkan dia melihat Vikram berpelukan dengan Manu hatinya sungguh sakit Gauri terdiam lelehan air mata kembali turun di pipinya amarahnya memuncak ketika melihat senyum di wajah Manu dia langsung pergi meninggalkan sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta.


Kabar pernikahan Vikram dan Manu sudah menyebar di seluruh Istana dan daerah itu juga para pelayan mulai sibuk mempersiapkan perlengkapan pernikahannya Nandini sudah daritadi sibuk mengatur Istana, Madhuri yang melihat Ibunya sibuk mendekatinya


" Ibu " Nandini melihat putrinya datang langsung menyuruhnya menghias kuil


" Tapi ibu dengarkan aku dulu " Nandini tidak mau mendengarnya dia mendorong sedikit Madhuri untuk segera ke kuil mau tidak mau Madhuri menuruti perintah ibunya, Manu melihat semua itu dari balkon kamarnya dua hari yang lalu Nandini melarangnya keluar dari kamar sampai hari pernikahannya tiba


" Hah sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri keinginanku untuk bisa menikah dengan Pangeran Vikram terkabulkan, akhirnya aku bisa menikah dengan orang yang aku cintai " Manu tersenyum riang, Pintu kamarnya terbuka dia melihat Gauri masuk dengan wajah marah Manu tidak mengerti dengan Gauri ada apa dengannya tapi Manu berusaha untuk tersenyum " Gauri " Gauri menyeringai mendengar namanya dipanggil


" Heh sudah berani ya tidak memanggil diriku dengan sebutan Tuan Putri lagi? apa karena sebentar lagi statusmu akan menjadi istri kakakku kau sudah berani memanggil diriku dengan namaku tanpa kata Tuan Putri? Wah hebat sekali padahal dirimu masih dari kalangan biasa yaitu dari kalangan rakyat biasa, waktu itu kau mengatakan bahwa kau adalah keturunan dari kalangan Bangsawan? jangan berbohong seharusnya kau sadar dengan statusmu itu rakyat jelata kau tidak pantas menjadi menantu di Kerajaan ini" Manu terdiam dia menatap Gauri hatinya sakit mendengar kata-kata yang dilontarkan oleh gadis itu


" Vikram menikahimu hanya untuk melindungi harga dirimu dia sama sekali tidak mencintai dirimu, seharusnya kau itu bersyukur karena Vikram memberimu status sebagai istri dia memberimu status itu karena harga dirimu rakyat sudah banyak menghinamu jadi kemungkinan kau tidak akan bisa kembali ke Kerajaanmu itu karena semua orang sudah menghina dirimu. Masih mending kau diterima disini seharusnya kau itu diusir kau tidak pantas tinggal disini, Vikram menikahimu karena kasihan kepada dirimu yang sama sekali tidak memiliki harga diri jadi setelah berita itu tersebar tidak akan ada lagi Pangeran maupun Bangsawan manapun yang akan menikahimu jadi bersyukur lah kakakku mau menjadikanmu sebagai istrinya. Vikram menerimamu sebagai istrinya karena tidak ada yang akan mau menikahimu lagi setelah insiden itu jadi " Ucapan Gauri terpotong akibat sebuah tamparan keras melayang di pipinya Manu terkejut melihat Gauri yang sedikit terhuyung akibat tamparan itu, Gauri melihat Shivannya berdiri di hadapannya dengan tatapan marah " Jaga batasanmu Gauri " Shivannya menunjuk Gauri dengan telunjuknya Gauri yang mendapatkan tamparan hanya diam.


Shivannya menatap tajam adik sepupunya itu

__ADS_1


" Sudah berapa kali kubilang kau tidak boleh menghina orang lain Gauri, dan kau sudah menghina Manu dengan kejam memangnya kenapa jika berita tentang penghinaan yang dialami oleh Manu sampai menyebar ke seluruh tanah India? itu bukan lah hakmu yang akan menentukan dengan siapa Manu akan menikah Vikram menikahi Manu bukan untuk melindungi dan menutupi harga dirinya tetapi dia menikahi Manu dilandasi oleh cinta. Vikram mencintai Manu itu lah sebabnya dia mau menikahinya dan kau tidak berhak mengatakan semua itu cukup tutup mulutmu Gauri jangan bicara apapun lagi " Gauri terdiam dia menunduk dengan perasaan marah, Shivannya masih menatapnya Manu berusaha menenangkan amarah Shivannya


" Aku tahu kau mencintai Vikram dan aku sudah mendengar bahwa kau sudah beberapa kali menghina Manu, aku masih tetap diam hari ini aku tidak akan diam lagi sudah cukup kau menghina Manu. Jika kau berani merusak pernikahan mereka maka aku tidak akan segan-segan memberimu hukuman atau aku bisa saja memberimu sebuah kutukan " Gauri dan Manu terkejut mendengarnya mereka tidak percaya jika Shivannya akan mengatakan hal itu.


" Hilangkan perasaan cintamu Gauri itu akan merusak masa depan dirimu biarkan mereka hidup bahagia kau tidak boleh mengganggu kehidupan mereka, jika kau menghilangkan perasaan itu maka akan ada seseorang yang akan mencintaimu sepenuh hati tolong berhentilah membuat ulah, jika kau menghancurkan pernikahan mereka aku akan menghukum dirimu " Shivannya berjalan pergi meninggalkan kamar itu, Manu terdiam dia melirik Gauri yang masih mengusap pipinya dia juga pergi meninggalkan kamar itu, Manu diam sambil berpikir haruskah dia membatalkan pernikahan ini? tapi jika pernikahan ini dibatalkan itu berarti dia akan berpisah dengan Vikram orang yang dia cintai Manu terus diam merenung memikirkan tentang pernikahan dirinya dan Vikram. Di balairung Istana semua orang tampak sibuk mempersiapkan perlengkapan pernikahan Vikram semua orang tampak bahagia ada secercah senyuman di wajah mereka tapi Gauri beda dia berjalan menuju kamarnya mengurung dirinya di kamar.


Jhanvi melihat pintu kamar Gauri tertutup dia memutuskan untuk masuk ke kamar gadis itu


" Gauri buka pintunya ini aku " tak lama kemudian pintu terbuka terlihat wajah sembab Gauri sehabis menangis Jhanvi memperhatikan gadis itu sungguh sangat kasihan melihatnya


" Kau baik-baik saja Gauri? " Tanya Jhanvi, gadis itu menghela nafas kasar Jhanvi menyuruh Gauri untuk masuk ke kamarnya dia pun ikut masuk juga. Jhanvi memberikan segelas air untuk Gauri " Minumlah " Gauri meraih gelas itu dan meminumnya sedikit


" Sekarang ceritakan kepadaku apa yang terjadi? kenapa wajahmu sampai sembab begini? ada apa? " Gauri terdiam sebentar lalu dia mulai menceritakannya Jhanvi mendengarkan setiap detail cerita adik ipar sepupunya itu setelah selesai bercerita Gauri menghela nafas pelan, Jhanvi tersenyum menyeringai dia mengusap kepala gadis itu


" Kau tahu aku bisa saja membantumu untuk mewujudkan keinginanmu itu " Gauri yang mendengar itu langsung sumringah


" Benarkah kak? katakan padaku bagaimana caranya? " Jhanvi tersenyum miring


" Ada caranya dan ini sangat berbahaya mengingat akan menyangkut nyawa seseorang"


Gauri tidak mengerti maksud dari ucapan kakak iparnya itu " Maksudnya kak? " Jhanvi berdiri sembari mengambil sebuah pisau dan buah apel dan menunjukkanya kepada Gauri.


" Kau lihat kedua benda ini? benda yang satu lagi merupakan sebuah pisau dan sebuah apel jadi jika kita menusukkan pisau ini ke buah apel itu maka apel ini akan hancur jika kita menusuknya dengan keras, begitu juga dengan Manu jika kita menusuknya dengan keras maka dia akan mati dan hancur seperti buah apel ini"


" Serahkan semuanya padaku besok adalah ritual pithi jadi besok aku akan mencampurkan sebuah racun ke dalam kunyit itu, pada saat mempelai wanita diolesi kunyit itu maka seluruh tubuhnya akan merasakan panas yang sangat menyengat akan sulit untuk menyembuhkannya butuh waktu lama untuk menyembuhkannya kembali dan pada saat itulah kau harus berpura-pura untuk bersikap baik dan membujuk Manu agar pernikahannya dibatalkan, lalu Manu dan Vikram tidak akan pernah bersatu sampai kapanpun saat itulah kau akan mendapatkan peluang besar untuk menikahi orang yang kau cintai " Gauri berpikir mengenai rencana itu dia pun setuju dengan rencana itu " Wah luar biasa kak kau memang hebat aku sangat setuju dengan rencanamu itu, dan wanita arogan itu akan mendapatkan balasannya dia tidak akan pernah bisa untuk menikahi Vikram selamanya mereka akan berpisah lalu aku akan segera menjadi istri dari orang yang aku cintai " Kedua wanita itu tersenyum jahat mereka akan berencana untuk menyingkirkan Manu dan memisahkan keduanya agar tidak bisa bersatu lagi.


" Aku sangat membenci gadis yang bernama Manu itu dia adalah gadis yang sombong dan arogan berani sekali dia berkata sinis kepadaku dan sekarang lihat lah balasannya, aku akan membalas perbuatannya dan akan membuat hidupnya menderita lihatlah apa yang akan aku lakukan kepadamu Manu " Gauri sangat senang mendengar kakak iparnya ikut membenci Manu dia jadi merasa punya sekutu untuk menghancurkan gadis itu, malam harinya saat semua orang tengah tertidur Jhanvi pergi ke sebuah ruangan dimana ruangan itu adalah ruangan rahasianya disana dia mulai melakukan sihir gelap wanita itu tengah fokus menghafalkan sebuah mantra. Sebuah cahaya berwarna hitam muncul di tangan Jhanvi wanita itu mengambil sebuah botol kaca kecil dan memasukkan cahaya itu kesana kemudian dia menutupnya dan membawa botol itu pergi.


Keesokan paginya semua sudah bersiap untuk melakukan ritual pithi Shivannya masuk ke kamar Manu terlihat gadis itu tengah duduk di depan meja riasnya hari ini Shivannya sendiri yang akan mendandani Manu " Manu " Manu menoleh dia melihat Shivannya berjalan ke arahnya " Kau sudah siap? " Tanya Shivannya gadis itu mengangguk " Aku siap " Shivannya tersenyum mendengarnya dia pun mulai mendandani Manu.


Manu mengenakan saree warna kuning, di tangannya terdapat dua gelang berbentuk bunga, di kedua jarinya dia memakai cincin berbentuk bunga, telinganya memakai anting berbentuk bunga juga, di lehernya memakai kalung berbentuk bunga, sedangkan di kakinya dia mengenakan gelang kaki bunga seluruh perhiasannya berbentuk bunga. Shivannya menata rambutnya dengan menyisirnya dan meletakkan hiasan rambut berbentuk bunga dia membiarkan rambut panjang Manu tergerai, akhirnya Shivannya sudah selesai mendandaninya penampilan Manu sangat cantik dan anggun Shivannya menggandeng tangannya untuk menuju ke aula Istana. Semua sudah hadir para tamu pun sudah berdatangan semua orang terkejut melihat kecantikan Manu mereka terpana melihatnya bahkan Manu sangat malu dilihat oleh semua orang Shivannya mendudukkan Manu di sebuah kursi kayu berukiran emas tidak lama kemudian Vikram pun datang dia duduk berseberangan dengan Manu karena pada saat upacara pithi dilakukan mempelai wanita dan pria tidak boleh duduk bersebelahan jadi mereka membatasinya dengan sebuah tirai agar mereka tidak saling bicara ataupun saling bertatap-tatapan.


Di satu sisi Gauri sibuk mengawasi orang yang lewat sementara Jhanvi sudah berada di ruangan dimana kunyit itu disimpan dia mengambil botol kaca itu membukanya dan menumpahkan racun itu ke dalam kunyit yang sudah disediakan, dia mengaduk kunyit itu agar racunnya tercampur rata dia tersenyum sinis ketika melihat racun itu sudah tercampur bersama dengan kunyit hatinya sungguh merasa sangat puas " Hari ini kau akan segera menderita Manu ini baru awal permulaan penderitaanmu setelah itu aku akan membuat hidupmu lebih menderita lagi sampai kau mati dengan cara yang sadis " Jhanvi sekali lagi melihat kunyit itu lalu keluar dari ruangan itu.


Gauri masih disana berharap cemas kakak iparnya tidak kunjung datang " Gauri " Gauri tersentak kaget dia melihat kakak iparnya sudah datang " Kau lama sekali kakak, apa racunnya sudah kau masukkan? berhasil kah? "


Jhanvi mengangguk " Tentu saja berhasil "


Gauri tersenyum puas " Nikmatilah kehidupanmu Manu yang sebentar lagi akan berubah menjadi sangat menyedihkan " kemudian mereka berdua turun menuju aula untuk menyaksikan upacara pithi.


Para wanita berkumpul dimana Manu duduk mereka akan bergiliran untuk mengolesi kunyit di wajah atau di tangan sang mempelai wanita yang pertama mendapatkan giliran adalah Nandini ya tentu saja dia yang pertama mendapatkannya karena selain sebagai Ibu dari sang mempelai pria dia juga sekarang menjadi Ibu dari sang mempelai wanita, wanita itu tersenyum begitu melihat Manu dia mengambil mangkok dimana kunyit itu disimpan dia mulai mengolesi wajah Manu dengan kunyit setelah itu dia mencium kening gadis itu Gauri yang melihat perlakuan manis Nandini kepada Manu mulai meluap amarahnya Jhanvi yang berada di sampingnya menyenggol lengan Gauri

__ADS_1


" Berhentilah bersikap seperti itu, saat ini kita harus berpura-pura untuk bersikap baik kepada mempelai wanita jadi jangan tunjukkan amarahmu, sebentar lagi kau akan mendapatkan kemenangan untuk merebut Vikram jadi tunggu lah sebentar. Bersikap dengan tenang " Namun Gauri sudah tidak tahan lagi dia berbisik kepada kakak iparnya


" Lalu aku harus bagaimana? aku sudah tidak tahan melihat bibi Nandini memperlakukan gadis itu dengan lembut, aku ingin sekali melihat gadis itu menderita aku sungguh tidak sabar lagi menurutmu berapa lama racun itu mulai menyebar? aku ingin melihat jeritan dari gadis sialan itu " Jhanvi tersenyum tipis


" Tunggu sebentar lagi begitu Ibumu selesai mengolesi kunyit itu kepada Manu gadis itu akan menjerit kesakitan tunggulah beberapa saat lagi " Kedua wanita itu tersenyum jahat ke arah Manu mereka tidak sabar ingin melihat gadis itu menjerit kesakitan, benar saja setelah Saradha selesai mengolesi kunyit di tangannya tiba-tiba Manu menjerit kesakitan dia memegang kepalanya yang mulai berdenyut sakit " Aghhhhhhhhh " Semua orang tampak terkejut melihatnya Shivannya merasa ada yang aneh Nandini dan Ambarawati mulai menghampiri Manu yang mulai pingsan


" Manu " Jerit mereka berdua di sisi lain Gauri dan Jhanvi teesenyum puas melihatnya mereka tertawa pelan melihat Manu menjerit menahan sakit " Lihat, racunnya mulai beraksi kita lihat sampai berapa lama dia akan bertahan racun itu tidak akan mudah dihilangkan tabib mana pun tidak akan bisa menyembuhkannya, efek racun itu sangat lah kuat kita akan melihat berapa lama Manu akan menahan sakit itu racun itu perlahan akan merenggut nyawanya. Selamat Gauri sebentar lagi kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan " Gauri tersenyum dia mengangguk hatinya merasa senang melihat musuh yang tidak disukainya mulai merasa kesakitan sebentar lagi keinginannya untuk memiliki Vikram terwujud.


Vikram yang mendengar jeritan Ibunya segera berlari menghampirinya dia terkejut melihat Manu yang sudah mulai membiru lututnya seketika lemas melihat gadis yang dicintainya sudah dalam keadaan membiru " Manu " Ucapnya pelan tangannya menyentuh wajah Manu yang sudah dingin hatinya remuk melihatnya " Tidak, ini tidak boleh terjadi siapa yang melakukan hal kejam ini " Teriak Vikram matanya menatap tajam ke semua orang Sanjaya datang dia berusaha menenangkan adiknya " Tenanglah, Manu pasti akan sembuh tenangkan dirimu Vikram prajurit bawa Manu ke kamarnya, Ibu tolong panggil tabib Istana untuk menyembuhkan Manu , tenang Vikram semuanya pasti akan baik-baik saja " Vikram diam air matanya sudah turun membasahi pipinya dia sungguh sedih melihat Manu dalam keadaan seperti itu sementara prajurit membawa Manu ke kamarnya Nandini mulai mencari tabib Istana berharap dia bisa menyembuhkan Manu, Gauri dan Jhanvi masih diam di tempatnya " Sekarang apa yang harus kita lakukan? " Tanya Gauri. Jhanvi tersenyum tipis " Yang harus kita lakukan adalah berpura-pura bersikap simpati kepada Manu, kita harus berpura-pura sedih dan ikut memikirkan bagaimana caranya menyembuhkan Manu, jika mereka mengetahui cara untuk menyembuhkan Manu maka kita harus cepat-cepat untuk mencari penawar itu dan mencurinya agar Manu tidak dapat disembuhkan, yang terpenting sekarang adalah kita harus ikut berpura-pura merasa sedih, ayo ikut aku " Gauri mengangguk dia mengikuti kakak iparnya menuju kamar Manu. Vikram sudah asa di samping Manu yang terbaring lemah Vikram terus menggenggam tangan dingin Manu dia sama sekali tidak mau melepaskannya hatinya sungguh sakit dia merasa hancur gadis itu menutup matanya lagi dia terus berdoa kepada Dewa agar Manu bisa disembuhkan.


Tabib Istana sudah datang kini semuanya berkumpul di kamar Manu tabib mulai memeriksa keadaan Manu semua orang berharap Manu bisa disembuhkan, tabib mulai membuat obat setelah obat selesai diracik tabib mulai mengobati Manu sementara di sudut ruangan Gauri dan Jhanvi memperhatikannya mereka diam sambil terus tersenyum menyeringai jahat.Shivannya memandang Manu yang semakin membiru hatinya merasa panik dia keluar dari kamar untuk mencari tahu siapa yang telah membuat Manu menjadi seperti itu Madhuri yang melihat Shivannya keluar juga ikut pergi " Kakak " Shivannya berbalik dia melihat Madhuri menghampirinya " Kau mau kemana? " Tanya Madhuri , Shivannya diam dia menghapus air matanya " Aku akan menyelidiki siapa yang telah membuat Manu seperti itu? sebelum aku menemukannya aku tidak akan pernah memaafkannya " Tanpa sepengetahuan mereka Gauri dan Jhanvi mengikuti mereka dan bersembunyi agar mereka bisa menguping pembicaraan Shivannya dan Madhuri


" Kemana Shivannya mau pergi kemana? " Tanya Gauri penasaran Jhanvi melihat Shivannya berjalan ke arah lain " Ayo ikuti dia "


mereka terus mengikutinya sampai di sebuah hutan Gauri melihat Shivannya dan Madhuri masuk ke dalam sebuah Goa besar


" Mereka masuk kesana ayo ikuti mereka " mereka berdua masuk ke dalam Goa itu dan melihat Shivannya berdiri tidak jauh dari mereka.


Shivannya duduk bersila begitu juga dengan Madhuri mereka memejamkan matanya mulai berdoa mereka berdoa kepada Mahadewa karena Shivannya adalah pemuja setia Mahadewa, Gauri dan Jhanvi memperhatikan mereka" Mahadewa aku mohon kepadamu tolong selamatkan nyawa Manu aku tidak mau kehilangan dia, dia adalah gadis yang sangat baik aku bahkan tidak tega melihat kakakku menangis tolong sembuhkan lah dia aku mohon kepadamu Mahadewa sembuhkan lah Manu " mereka berdua sangat fokus berdoa demi kesembuhan Manu, Gauri tampak geram melihat Shivannya berdoa meminta kesembuhan untuk gadis itu


" Dia meminta pertolongan kepada Mahadewa, bagaimana mungkin bahkan Mahadewa sendiri tidak akan bisa menyembuhkannya karena racun itu sangat kuat " Jhanvi pun menambahkannya " Ya kau benar tidak ada siapa pun yang bisa menyelamatkan nyawa Manu dan mungkin racun itu kini sudah akan merenggut nyawanya " mereka terus berada disana sampai mereka melihat sebuah cahaya menyinari Shivannya dan Madhuri, Shivannya merasakan ada yang meletakkan sesuatu di telapak tangannya begitu cahaya itu menghilang dia membuka matanya dan melihat tangannya gadis itu tersenyum ketika melihat sebuah daun berwarna kuning keemasan di telapak tangannya " Ini adalah penawar racunnya " Ucapnya Madhuri ikut membuka matanya " Ini apa kak? " Tanya Madhuri. Shivannya pun memberitahunya bahwa itu adalah penawar racunnya " Ayo kita kembali ke Istana " Shivannya mengangguk kemudian mereka berdua keluar dari Goa itu menuju Aradhya, Gauri dan Jhanvi pun mengikutinya.


Sesampainya di Istana tiba-tiba kilat menyambar, angin kencang mulai datang diiringi dengan hujan deras, petir dan kilat mulai bersahutan seolah-olah hal buruk akan terjadi Shivannya yang sudah sampai disana segera berlari menuju kamar Manu, Madhuri mengikutinya dari belakang saat mereka berada di kamar Manu pemandangan mengejutkan membuat mereka diam tubuh Manu sudah diselimuti oleh kain berwarna putih seluruh tubuhnya sudah sepenuhnya membiru Shivannya yang melihat itu langsung jatuh terduduk dia menutup mulutnya Madhuri pun tidak kalah kagetnya dia juga merasa syok dia melihat semua keluarganya menangis begitu juga dengan Vikram yang tetap menggenggam tangan dingin Manu terlihat dari wajahnya dia tidak menangis tapi menyimpan sejuta rasa sedih. Madhuri menghampiri ibunya " Ibu apa yang terjadi? kenapa tubuh Manu diselimuti oleh kain? ada apa ibu? katakan padaku apa yang terjadi " Madhuri mengguncang bahu ibunya Nandini hanya diam sambil menangis dia tidak menjawab pertanyaan putrinya Madhuri pun menghampiri Ambarawati dan jawabannya pun sama wanita itu tidak menjawabnya merasa tidak ada yang menjawab Madhuri pun berteriak


" Kenapa kalian semua tidak mau ada yang menjawab pertanyaanku? katakan apa yang telah terjadi disini? tidak bisakah kalian menjelaskannya? jawab! " Sanjaya yang berdiri di sebelah Vikram pun menjawabnya


" Ma.. Ma.. Manu telah meninggal dunia Madhuri racun telah menyebar ke seluruh tubuhnya tidak ada yang bisa mengobatinya, bahkan tabib pun sudah menyerah racun itu sangat kuat tidak ada yang bisa menyembuhkannya " Madhuri tercengang mendengarnya " A.. a.. apa? " dia pun mundur perlahan dengan linangan air mata. Shivannya yang tadi terduduk kembali berdiri dia menghapus air matanya " Tidak semuanya belum berakhir " Ucapnya sambil berjalan menuju tempat tidur Manu dia duduk di sebelahnya gadis itu mengusap kepala Manu


" Tabib memang tidak dapat menyembuhkannya tetapi ada penawarnya " Semua orang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Shivannya " Maksudmu? " Tanya Sanjaya, Shivannya mengeluarkan selembar daun lalu menunjukannya kepada mereka semua " Lihat ini, aku sudah menemukan penawarnya walaupun aku datang terlambat untuk bisa menyembuhkan Manu tetapi setidaknya aku sudah mendapatkan penawarnya aku tahu jika aku tidak akan bisa mengembalikan nyawa Manu, ini adalah penawar yang diberikan oleh Dewa Siwa aku berdoa kepadanya agar dia membantuku dan lihat beliau membantuku dengan memberikan daun ini. Ini bukan lah sembarangan daun aku akan memasukkan daun ini ke mulut Manu "


Shivannya mencoba membuka mulut Manu dan memasukkan daun itu ke dalamnya dia pun mengelus pucuk kepala Manu


" Aku harap kau segera bangun Manu " semua orang menunggu daun itu bereaksi Shivannya tersenyum sembari mengangguk dia berusaha meyakinkan bahwa Manu akan segera bangun.


Gauri dan Jhanvi yang melihat itu langsung marah mereka meninggalkan kamar itu dengan perasaan marah " Sial aku sudah berusaha untuk membunuhnya dan dia sudah menyelamatkan nyawanya, aku sangat senang melihat gadis itu mati tapi kenapa Shivannya malah kembali membuat dia terbangun. Aghhhhhh " Gauri membanting semua perabot kamarnya Jhanvi pun merasa demikian


" Ya aku juga merasa marah melihat Shivannya lebih memihak dan membela gadis itu daripada keluarganya sendiri apa istimewanya gadis itu sampai semua orang membela dirinya " Gauri terdiam dia duduk di tempat tidurnya


" Tidak, ini tidak boleh terjadi semua ini belum berakhir masih ada waktu sampai besok " Jhanvi yang mendengarnya bertanya


" Apa maksudnya? aku tidak mengerti ", Gauri tersenyum jahat " Besok adalah upacara pernikahannya jika Manu kali ini berhasil bangun dan mereka pasti akan melanjutkan ritual pithi nya maka besok adalah hari terburuknya Manu, aku membiarkan dia lolos kali ini tetapi besok bersiaplah untuk menemui ajalmu karena aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri " Ujar Gauri sembari menyeringai licik begitu juga dengan Jhanvi dia ikut tersenyum mendengarnya kedua wanita itu tertawa keras memikirkan apa yang akan direncanakannya besok...

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya terima kasih


__ADS_2