
Jhanvi membuka seluruh pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian biasa bukan pakaian bangsawan lagi dia juga melepaskan semua perhiasannya sama sekali tidak memakai perhiasan, dia juga melepaskan mahkota yang ada di kepalanya dan tidak mengikat rambutnya hari ini Jhanvi akan tinggal di penjara karena tadi Sanjaya sudah memerintahkan prajurit untuk membawa Jhanvi dan Gauri ke penjara bawah tanah wanita itu menolaknya dia memohon agar dia diampuni tapi Sanjaya tidak mau mendengarkannya. Dia tidak mau melihat istrinya berada di Istana lagi yang merupakan seorang penjahat sementara Gauri dia juga sudah berpakaian lusuh rambutnya dia ikat
" Aku tidak akan tinggal diam saja suatu hari nanti aku pasti bisa membunuh Manu dan si licik itu Shivannya " ujar Gauri dengan mata berkilat penuh amarah selesai mengganti pakaiannya mereka berdua dibawa ke hadapan Sanjaya, Sanjaya melihat istri dan adiknya telah datang dibawa oleh prajurit dia berdiri dari singgasananya begitu juga dengan yang lainnya Sanjaya mendekati istrinya dia menatapnya datar lalu berbicara " Kau akan merasakan hukuman yang akan kau dapatkan atas kesalahan yang telah kau perbuat bukan kesalahan tapi dosa besar yang telah kau lakukan, kau ingin melenyapkan orang lain bukan kau ingin merenggut nyawa orang lain agar dirimu bahagia dan terbebas dari dendam mu itu kan? kau ingin merebut kebahagiaan orang lain demi kepuasanmu sendiri, kau ingin membuat hidup orang lain menderita kan? sekarang rasakan hukuman yang akan kau dapatkan Jhanvi " Ujar Sanjaya sinis Jhanvi terdiam menunduk lalu Sanjaya meraih dahi wanita itu terdapat tanda merah disana yang merupakan lambang pernikahannya ( Sindoor)
Sanjaya mencoretnya dia menghilangkan tanda itu. Hal itu membuat Jhanvi terkejut melihatnya " Kenapa? kenapa kau menghilangkan tanda ini? apa maksudnya? ini adalah tanda jika aku sudah menjadi istrimu tapi kenapa kau menghilangkannya? " Tanya Jhanvi, Sanjaya tersenyum miring " Kenapa aku menghilangkan tanda merah di dahimu itu? karena mulai sekarang kau bukan lagi istriku " Jhanvi terkejut mendengarnya " Apa? apa maksudmu? "
" Apa kurang jelas saat aku mengatakannya?
mulai sekarang sampai selamanya kau bukan lagi menjadi istriku, aku telah menalakmu Jhanvi dan kau tidak akan lagi menjadi seorang Ratu ataupun seorang istri apa kau mengerti? aku tidak mau menjadikanmu sebagai istriku lagi aku juga tidak mau rakyatku membicarakan diriku yang mengatakan bahwa Rajanya masih mempertahankan seorang pembunuh menjadi seorang istri dan Ratu " Jhanvi menunduk mendengarnya dia merasa sedih karena suaminya telah menalak dirinya.
Sanjaya mengambil kalung pernikahan yang ada di leher Jhanvi dia memutuskannya dan melemparnya di lantai semua orang terkejut melihat Sanjaya yang mulai marah lagi
" Kau tahu dulu aku sangat mempercayai dirimu aku menikahimu karena aku sangat mencintaimu, aku juga sangat menyayangi dirimu tapi setelah apa yang telah kau lakukan membuatku kecewa atas perbuatanmu itu. Sekarang perasaan itu sudah hilang dan digantikan oleh rasa kecewa bercampur marah kau tahu kan bagaimana sifatku? aku tidak segan-segan akan menghukum orang yang bersalah dan hukuman yang aku berikan bukan hukuman ringan mungkin kau ingin mengendalikan diriku tapi aku tidak bodoh Jhanvi aku bisa saja melakukan apapun yang aku mau, kalian semua tahu kan bahwa aku ini adalah orang yang pemarah jika satu orang saja membuat ulah maka dia harus menanggung resikonya " ucap Sanjaya menatap sinis wajah Jhanvi sedangkan wanita itu terdiam tidak bisa bicara suaranya sudah tidak bisa keluar " Prajurit bawa mereka dua hari lagi aku akan mengumumkan hukuman apa yang pantas untuk diberikan kepada kalian berdua, sekarang pergilah " para prajurit membawa Jhanvi dan Gauri ke penjara bawah tanah untuk menjalani hukuman, Shivannya menatap keduanya dengan penuh marah dia pun pergi meninggalkan aula Istana. Manu yang sudah bisa duduk kini bangun dari tempat tidur dia berjalan menuju meja riasnya untuk menyisir rambutnya lalu seorang pelayan datang ke kamarnya " Kalian sudah datang, tolong bersihkan kamarku ya aku mau keluar sebentar dulu " Manu beranjak dari meja riasnya dia keluar dari kamarnya hendak mencari suaminya namun di tengah jalan dia mendengar para pelayan menbicarakan tentang hukuman Jhanvi " Hukuman? apa maksudnya? "
dia pun mendekati para pelayan itu
"Maaf apa yang kalian bicarakan? hukuman apa yang kalian maksud? " para pelayan lalu memberitahu semuanya Manu menutup mulutnya tidak percaya " Benarkah itu? " pelayan itu pun mengangguk Manu berjalan mencari suaminya untuk meminta penjelasan.
Dia pun menemukan suaminya tengah duduk di taman dia pun mendekatinya " Suamiku "
Vikram menoleh dia melihat istrinya datang
" Ah Manu ayo duduk lah " Manu pun duduk di sebelahnya " Aku sudah mencarimu daritadi tapi ternyata kau disini " Vikram tersenyum
" Ada apa? " Manu dengan ragu mengatakan apa yang ingin dia katakan " Itu, aku datang kesini untuk menanyakan sesuatu denganmu. Ini soal hukuman kakak ipar Jhanvi apa yang sudah terjadi dengannya sampai kak Sanjaya memberikannya hukuman? " Vikram menghela nafas dia berbalik menatap istrinya
" Ya kakak telah menjatuhkan hukuman kepada kakak ipar, saat ini kakak tengah mengurung kakak ipar di penjara bawah tanah bersama dengan Gauri " mata Manu membulat mendengarnya " Gauri? kakak ipar juga menghukum Gauri? " , Vikram mengangguk
" Ya kakak menghukum Gauri karena kesalahan yang sudah dia lakukan, mereka berdua pantas untuk dihukum atas dosa yang telah mereka lakukan yaitu berusaha untuk melenyapkanmu. Jadi kakak telah memberikan mereka hukuman sekaligus telah menalak Jhanvi sebagai istrinya" Manu terdiam mendengarnya lalu Vikram kembali melanjutkan bicaranya
" Apa kau ingat kejadian yang beberapa hari ini terjadi padamu? itu semua karena ulah mereka dan Shivannya sudah mengetahuinya untunglah dia datang jadi bisa membantu untuk membongkar semua kejahatan Jhanvi dan Gauri, sudah lah Manu kau jangan khawatir sekarang kau bisa tenang karena mereka sudah mendapatkan hukuman aku juga senang karena istriku sudah terbebas dari gangguan mereka "
Vikram mengelus kepala istrinya sambil tersenyum Manu pun membalas senyuman suaminya, Sanjaya menatap kalung pernikahan milik mantan istrinya dia menggenggamnya erat hatinya cukup hancur melihat perbuatan istrinya yang kejam itu. Manu berjalan sambil melamun dia terus memikirkan tentang Jhanvi dan juga Gauri tanpa sadar kakinya telah membawa dia ke ruangannya Sanjaya wanita itu melihat Sanjaya tengah duduk dengan memegang kalung pernikahan milik Jhanvi
" Itu kan kalung milik kakak ipar Jhanvi " gumam Manu dia terus memperhatikan Sanjaya, Sanjaya merasa ada yang tengah memperhatikannya dia pun menoleh dan melihat Manu berdiri tengah menatapnya
" Ada apa Manu? ayo masuk lah " ujar Sanjaya, Manu berjalan masuk dengan sopan dia memberi salam " Salam untukmu kakak ipar "
dia pun duduk di sebelah Sanjaya wanita itu melirik kalung pernikahan milik Jhanvi
" Kakak ipar " Sanjaya menoleh menatap Manu " Ada apa? " Manu tidak tahu harus bicara darimana dia mulai mulai bicara
" Apa kakak bersungguh-sungguh akan memberikan hukuman berat untuk kakak ipar Jhanvi dan Gauri? " tanya Manu pelan terdapat raut wajah marah di wajah Sanjaya.
" Memangnya kenapa? aku memang akan memberikan hukuman berat kepada mereka berdua yang telah melakukan dosa besar, jangan pernah berpikir untuk mengubah keputusanku Manu aku tidak mau mendengar apapun darimu. Kau datang kesini pasti ingin bicara begitu kan? baiklah sebelum kau mulai bicara aku sudah memberitahumu Manu " kata Sanjaya datar Manu terdiam dia tidak tahu harus berkata apa tapi sebisa mungkin dia akan mencegah Sanjaya memberikan hukuman berat kepada mereka " Tapi kakak, coba lah untuk berpikir kembali jika kakak memberikan hukuman kepada kak Jhanvi maka - " ucapan Manu dipotong oleh Sanjaya " Apa? apa yang kau mau katakan Manu? " Sanjaya menatapnya tajam " Kakak jika kau sampai memberikan hukuman berat kepada kak Jhanvi maka kau tidak akan memiliki istri lagi, aku tahu apa yang dirasakan oleh kak Jhanvi dia pasti merasa sedih karena kakak memberikan dia hukuman, coba lah berpikir dulu kak pikirkan tentang masa depan kerajaan ini aku dengar bahwa kakak telah menalak kak Jhanvi kan? kakak jika kakak menalak kak Jhanvi siapa yang akan memberikan keturunan kepada kerajaan ini? kerajaan ini membutuhkan seorang pewaris dari kak Jhanvi karena kak Jhanvi adalah istri dari seorang Raja Aradhya maka penting baginya untuk melahirkan seorang calon pewaris kak. Aku tidak akan meminta kakak untuk mengubah keputusan kakak tapi aku ingin kakak berpikir dulu sebelum melakukannya karena yang bisa memberikan calon pewaris untuk kerajaan ini hanyalah kak Jhanvi saja tapi itu keputusan kakak aku tidak akan ikut campur lagi aku akan menerima semua keputusanmu kak " Manu berdiri dia mengatupkan kedua tangannya
" Aku permisi, salam untukmu kak " Manu pergi meninggalkan ruangan itu Sanjaya terdiam sendirian sambil mencerna ucapan Manu.
Manu berjalan menuju kamarnya dia berpapasan dengan Shivannya yang berjalan ke arahnya mereka berdua bertemu Manu tersenyum tipis lalu kembali berjalan menuju kamarnya tanpa menyapa Shivannya
" Ada apa dengan Manu? kenapa dia tidak menyapaku? dia darimana? " gumam Shivannya dia menatap Manu yang terus berjalan sampai masuk ke kamarnya " Lupakan saja aku harus menemui kak Sanjaya " gadis itu berjalan menuju ruangan kakaknya, sesampainya disana dia melihat sang kakak tengah berbaring di kursi panjang dia pun mengetuk pintunya
" Masuk " Shivannya masuk dia mendekati kakaknya " Kakak " Sanjaya membuka matanya dia melihat adik sepupunya berdiri disana
" Ada apa Shivannya? " tanyanya dia masih tetap dalam posisi tidur " Kakak, para prajurit telah selesai membuat tempat untuk menghukum kak Jhanvi dan Gauri aku datang kesini karena ingin bertanya apakah kita harus memberitahu bibi Pragya tentang hal ini? "
Sanjaya bangun dari tidurnya dia duduk sambil menghela nafas " Batalkan hukumannya " ucapnya pelan Shivannya bingung karena kakaknya bicara pelan " Apa kak? aku tidak mendengarnya " Sanjaya menatap adiknya
" Aku bilang batalkan hukumannya mereka berdua tidak akan mendapatkan hukuman gantung, hancurkan saja tempat itu aku akan memberikan mereka hukuman hanya di penjara saja " Shivannya tidak mengerti maksud kakaknya " Tapi kak-" mata Sanjaya berubah jadi marah " Apa kau tidak mendengarku? lakukan saja apa yang aku perintahkan apa kau mengerti? " Shivannya mengangguk patuh dia pun pergi meninggalkan ruangannya. Shivannya merenung sambil berjalan dia tidak mengerti dengan kakaknya apa maksud dari ucapannya itu dia terus berjalan sampai di depan kamar Manu dia menoleh dan melihat Manu tengah duduk di kursinya sambil merapikan kain saree miliknya ' Apa mungkin tadi Manu ke ruangan kakak lalu membujuk kakak untuk membatalkan hukuman yang akan diberikan kepada Jhanvi dan Gauri? tapi jika itu benar terjadi kakak tidak akan bisa menerima Jhanvi sebagai istrinya lagi karena kakak sudah menalaknya dan mengambil kalung pernikahan itu, aku harus bagaimana? aku tidak bisa membiarkan orang itu bebas tidak mendapatkan hukuman dia harus mendapatkan hukuman atas perbuatannya. Aku tidak bisa melihat keluargaku menderita lagi akibat ulah jahat mereka ' batin Shivannya dalam hati dia bergegas pergi meninggalkan kamar Manu menuju kamarnya.
" Aku tidak bisa, aku tidak bisa membiarkan kak Sanjaya membebaskan Jhanvi dan Gauri dari hukumannya tapi aku harus bagaimana? ayo berpikir lah Shivannya jangan sampai keluargamu mendapatkan kejahatan lagi, keluargaku tidak boleh mendapatkan perlakuan tidak adil dan Manu tidak boleh mendapatkan kejahatan lagi, aku tidak mau melihat Manu menderita akibat ulah mereka " Shivannya mondar-mandir di kamarnya berusaha untuk memikirkan cara agar hukuman yang diberikan kepada Jhanvi dan Gauri tidak dibatalkan,
dia mendengar suara keributan dari bawah gadis itu melongok ke berandanya dia melihat para pelayan tengah sibuk dengan pekerjaannya sambil membicarakan Jhanvi dan juga Gauri " Mereka masih membicarakan soal hukuman itu jika mereka mengetahui soal hukuman itu tidak dilakukan atau dibatalkan maka mereka pasti akan terus membicarakannya, sebenarnya apa yang dibicarakan oleh Manu kepada kak Sanjaya sampai kak Sanjaya telah mengubah keputusannya? aku harus mencarinya dulu supaya aku bisa berpikir mencari jalan keluarnya " Shivannya pergi menuju kamar Manu dia berlari hingga sampai di depan kamar Manu " Manu " Manu menoleh dia tersenyum melihat Shivannya datang ke kamarnya
" Salam untukmu Yang Mulia Ratu " ucap Manu
" Salam kembali untukmu Manu " Shivannya menutup pintu kamar Manu dia menarik tangan Manu mengajaknya untuk bicara
" Ada apa? apa ada sesuatu yang penting? "
__ADS_1
tanya Manu gadis itu mengangguk
" Ya, ini soal Jhanvi dan Gauri " kata Shivannya.
Manu terdiam " Katakan ada apa dengan mereka? " Shivannya bertanya mengenai Manu yang datang ke ruangan kakaknya dia juga bertanya apakah Manu telah membuat kakaknya untuk mengubah keputusannya?
wanita itu terdiam dia menatap Shivannya sembari mengangguk " Ya, tapi aku tidak membuat kak Sanjaya untuk mengubah keputusannya aku hanya ingin dia berpikir dua kali tentang hukuman yang akan dia berikan kepada kak Jhanvi dan juga Gauri " mata Shivannya menatapnya datar " Apa maksudmu?" , " Maksudku adalah jika kak Sanjaya memberikan hukuman berat kepada kak Jhanvi lalu kak Sanjaya tidak akan memiliki istri lagi, aku tahu jika kak Sanjaya telah menalak kak Jhanvi untuk tidak menjadikan dia istri lagi tapi apa kau pernah berpikir bahwa kerajaan ini telah membutuhkan seorang calon pewaris kerajaan. Hanya kak Jhanvi lah yang mampu melakukannya kau tahu sendiri kan bahwa kak Sanjaya tidak mempunyai istri lagi dia hanya mempunyai satu istri saja, jika mempunyai dua istri tidak masalah jika dia ingin memberikan hukuman kepada kak Jhanvi tapi masalahnya hanya kak Jhanvi lah satu-satunya istrinya tidak ada pilihan lain lagi. Jika kak Sanjaya menalak kak Jhanvi bagaimana bisa seorang pewaris turun ke kerajaan ini? sekarang adalah waktunya kerajaan Aradhya mempunyai seorang pangeran mahkota aku dan suamiku tidak berhak untuk melahirkan dan memberikan kerajaan ini keturunan calon pewaris karena suamiku bukan lah seorang Raja dia tidak pantas untuk memberikan kerajaan ini calon pewaris, maafkan aku jika kata-kataku membuat kalian semua tersinggung tapi aku tidak ingin kak Sanjaya merasa sedih karena masalah ini " .
Shivannya menatapnya dia tersenyum tipis
" Begitukah? hanya karena suamimu tidak menjadi seorang Raja kalian tidak bisa memberikan kak Sanjaya seorang pewaris? dengar, seorang pewaris bisa didapatkan dari siapapun entah dari istrinya, istri saudaranya ataupun dari kalangan masyarakat mereka bisa menjadi seorang pewaris kerajaan, aku sependapat denganmu Manu tapi coba ingat kembali kejadian beberapa waktu lalu yang terjadi padamu mereka berdua ingin merenggut nyawamu tapi akhirnya kau berhasil diselamatkan kau mungkin tahu sifat mereka berdua mereka itu sudah membencimu sejak kau menikah dengan kak Vikram. Mereka sudah berniat ingin menyingkirkanmu jauh sebelum kau dan kak Vikram memutuskan untuk menikah tapi kau malah ingin memaafkan mereka aku tahu niatmu itu baik tapi kakakku sifatnya tidak seperti itu dia orangnya pemarah sekali saja orang itu membuatnya kecewa maka dia harus menanggung resikonya telah membuat kakakku itu marah, satu hal lagi saat ini masalah ini tidak ada hubungannya dengan calon pewaris itu bisa dipikirkan nanti sekarang adalah waktunya untuk menghukum seorang penjahat Manu, jadi sekarang kita lebih fokus untuk membahas hukuman apa yang akan diberikan untuk Jhanvi dan Gauri. Kau mengerti kan? "
Manu terdiam dia mengangguk pelan setelah itu Shivannya pergi meninggalkannya
" Aku harap hukuman itu tidak terlalu berat jika tidak maka aku akan sedih melihatnya saat ini aku tidak bisa menolong mereka, aku adalah menantu baru di keluarga ini jadi sebaiknya aku tidak usah ikut campur dulu aku tidak mau membuat suasana menjadi tambah kacau aku juga tidak mau membuat kakak ipar marah dan juga yang lainnya. Sekarang lebih baik aku diam saja " Manu kembali duduk dia mulai merapikan kain-kain yang belum selesai dilipat.
Madhuri tengah berjalan membawa nampan berisi banyak bunga dia baru saja dari taman membantu para pelayan yang sedang memetik bunga, dia melihat ibunya berjalan dari arah lain " Ibu " Nandini menoleh dia melihat putrinya datang " Ada apa sayang? apa yang kau bawa itu? ", " Oh ini? aku baru saja dari taman membantu para pelayan memetik bunga, oh ya ibu apa ibu sudah tahu mengenai hukuman berat yang akan diberikan oleh kak Sanjaya kepada kakak ipar Jhanvi? " Nandini mengangguk " Ya ibu sudah tahu memangnya ada apa? " Madhuri menarik tangan ibunya untuk menjauh " Begini ibu, sebenarnya hukuman yang nanti diberikan untuk kak Jhanvi dan juga Gauri akan dibatalkan oleh kakak "
Nandini terkejut mendengarnya " Apa maksudnya? " Madhuri kemudian menjelaskannya Nandini terdiam sambil mendengarkan cerita putrinya
" Aku bahkan tidak tahu ibu dengan pikiran kakak, kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk tidak jadi menghukum mereka ada apa sebenarnya ibu? jika kakak tidak jadi menghukum mereka maka mereka akan berbuat ulah lagi. Aku tidak mau mereka melakukan tindakan kejam seperti dulu lagi ibu" ujar Madhuri cemas Nandini mengerti dengan kekhawatiran putrinya dia pun menenangkannya " Tenanglah, ibu akan bicara dengan kakakmu kau jangan khawatir ayo pergi sana selesaikan tugasmu itu.Nanti ibu akan menemuimu " Madhuri mengangguk
" Baiklah ibu aku pergi dulu " gadis itu pun pergi meninggalkan ibunya. Nandini bergegas menemui putra sulungnya dia melihat Sanjaya tengah duduk sambil menulis sesuatu
" Boleh ibu masuk? " Sanjaya melihat ibunya datang " Masuk lah bu " Nandini masuk dia duduk di samping putranya " Apa yang kau tulis? " tanya Nandini sambil melihat tulisan putranya " Aku tengah mencoba untuk menghilangkan rasa marahku ibu, aku tidak mau melampiaskan amarahku di depan orang lain aku sudah berjanji untuk tidak menyakiti mereka lagi. Makanya aku mencoret-coret kertas ini ibu " Nandini tersenyum lembut dia mengusap kepala putranya " Boleh ibu bicara? "
Sanjaya menatap ibunya sambil mengangguk
" Katakan saja bu" dia masih sibuk mencoret-coret kertas. " Begini nak, kenapa kau membatalkan hukuman yang akan kau berikan kepada Jhanvi dan Gauri? nak, seharusnya kau memberikan mereka hukuman jangan batalkan apapun keputusan yang telah kau buat itu. Ibu tidak mau melihat wajah mereka lagi walaupun Gauri adalah keponakan ibu tapi ibu sudah tidak mau menganggap dia keponakan lagi, hukum lah mereka berikan mereka hukuman Sanjaya ibu tidak mau jika mereka diampuni maka mereka akan berbuat ulah lagi, ibu juga tidak mau jika nanti mereka akan membuat keluarga kita hancur ibu merasa kasihan melihat Manu yang selalu saja menjadi korban kejahatan mereka ibu tidak mau menantu ibu menjadi menderita gara-gara mereka jadi tolong kabulkan permintaan ibu Sanjaya"
Sanjaya terdiam dia menunduk memikirkan ucapan ibunya, tiba-tiba Shivannya datang dia memberi salam kepada bibinya dan kakaknya
" Bibi hanya ada satu cara untuk menghukum mereka " kata Shivannya. Sanjaya menatap adiknya " Maksudmu? bagaimana caranya? "
Shivannya tersenyum tipis " Akan aku katakan "
" Ya cuma itu satu-satunya cara bibi lagipula kakak sudah membatalkan hukuman beratnya kan jadi aku memikirkan solusinya, hanya itu lah cara yang terlintas di pikiranku " ibu dan anak itu saling pandang mendengarkan ide yang diusulkan oleh Shivannya.
" Bagaimana menurutmu Sanjaya? " tanya Nandini kepada putranya Sanjaya terdiam sebentar dia akhirnya mengangguk setuju
" Ya ibu aku sangat setuju dengan ide Shivannya, aku juga tidak mau melihat mereka lagi aku ingin agar mereka segera pergi meninggalkan Istana ini. Terima kasih Shivannya kau sudah membantuku memberi solusi yang tepat " Shivannya tersenyum lembut " Ya sama-sama kakak " , Sanjaya memberitahu ibunya soal Pragya ibu dari Gauri untuk menyambut kepulangan putrinya
" Baiklah ibu akan segera mengirimkan surat untuk bibi Pragya, kalau begitu ibu pergi dulu "
Nandini meninggalkan keduanya Shivannya menatap kakaknya " Kakak " Sanjaya melihat adiknya dengan wajah cemasnya
" Kakak tidak usah lagi khawatir soal kak Jhanvi, kakak jangan sedih lagi kakak harus semangat aku ikut sedih karena pernikahan kakak jadi hancur akibat ulahku. Ini semua salahku tolong maafkan aku kak " Sanjaya menghapus air mata adiknya
" Tidak, kau tidak salah dia lah yang telah bersalah siapapun yang berani berbuat masalah denganku maka dia harus menerima konsekuensinya, kau jangan lagi menyalahkan dirimu mungkin sudah takdirnya aku harus berpisah dengan Jhanvi jangan khawatirkan masalah itu, aku malah berterima kasih kepadamu karena sudah membongkar sifat buruknya dia jika kau tidak memberitahunya maka seumur hidup aku akan terus mempercayainya dan tidak tahu sifat aslinya, sudah jangan menangis ayo tersenyum "
Shivannya memasang wajah tersenyumnya mereka berdua lalu tertawa bersama.
Madhuri masuk ke kamar ibunya dia melihat ibunya tengah menulis sebuah surat
" Ibu? ibu tengah menulis apa? itu surat untuk siapa? " Nandini merapikan kertas yang ada di atas meja dan penanya " Surat untuk bibi Pragya " kening Madhuri berkerut bingung
" Surat untuk bibi Pragya? tapi ibu memangnya ada apa? apa kak Sanjaya sudah mengubah keputusannya untuk memberikan mereka hukuman lalu kakak menyuruh ibu untuk memberitahu bibi Pragya soal hukumannya Gauri? " Nandini tertawa mendengarnya dia menggelengkan kepalanya " Tidak sayang, surat ini untuk memberitahu bibi Pragya agar menyambut Gauri kembali ke Istana Padmarana " Madhuri mencerna ucapan ibunya " Maksud ibu, Gauri akan pulang ke Istananya? "
Nandini mengangguk " Ya sayang " wajah cerah Madhuri terukir di wajahnya " Itu bagus ibu akhirnya aku bisa melihat penjahat itu pergi dari sini, aku sudah muak mengawasi dan melihat tingkah jahatnya itu. Tapi tunggu dulu kenapa kakak mengirimkan Gauri pulang? " ,
" Ya karena itu adalah ide dari Shivannya karena kakakmu telah membatalkan hukuman beratnya jadi Shivannya datang dan memberikan ide itu, akhirnya kakakmu setuju untuk mengusir mereka dari sini" .
" Tapi ibu jika kakak mengirim Gauri pulang dia bisa saja datang kesini kapanpun dia mau aku yakin sekali bahwa dia akan datang kembali untuk membalas dendam, ibu aku tidak bisa membayangkan jika dia datang kesini masalahnya pasti akan bertambah rumit "
ujar Madhuri cemas Nandini tersenyum mendengarnya " Sayang, soal itu pasti akan terjadi tapi jika kita bersama dan bersatu maka kita pasti bisa mengatasinya kau jangan khawatir soal itu, semuanya akan baik-baik saja ya " Madhuri tersenyum tipis menanggapinya
" Baiklah kalau begitu ibu akan pergi mengantar surat ini ke penjaga biar mereka yang mengirimkannya ke kerajaan Padmarana"
Nandini beranjak pergi dari kamarnya,
__ADS_1
" Bibi tunggu " Nandini menoleh begitu mendengar suara keponakannya
" Ada apa Shivannya? " tanya Nandini
" Berikan surat itu padaku biar aku yang mengirimkannya dengan burung merpati kesayanganku " Nandini mengangguk dia pun menyerahkan amplop putih itu " Ini ambillah"
Shivannya tersenyum tipis " Terima kasih bibi "
gadis itu berlari mencari burung kesayangannya, Manu melihat suaminya datang datang ke kamarnya " Kau sudah kembali? " Vikram tersenyum menatap istrinya dia pergi untuk mandi sementara Manu tengah menyiapkan pakaian untuk suaminya, dia duduk sambil melepaskan semua perhiasan yang ada di rambutnya sebentar lagi malam jadi dia tidak akan memakai perhiasan di rambutnya wanita itu membuka ikatan kain yang digunakan untuk mengikat rambutnya dia menyisirnya perlahan tidak lupa dia juga melepaskan mahkota yang menghiasi rambutnya tidak lama kemudian suaminya datang Vikram melihat istrinya tengah duduk menyisir rambutnya yang panjang " Rambutmu bagus " puji Vikram sang istri menoleh dia tersenyum tipis " Terima kasih "
dia pun berdiri setelah selesai menyisir rambutnya " Aku akan pergi untuk menyiapkan makan malam jadi cepat lah ganti pakaianmu"
Vikram mencegah istrinya pergi
" Kau akan menyiapkan makan malam? tapi ada pelayan yang menyiapkannya jadi kau tidak usah ikutan untuk membantunya " Manu menggeleng " Tidak, walaupun ada pelayan aku itu istrimu jadi sudah kewajibanku untuk menyiapkan makanan untuk suamiku dan keluargaku " dia pun pergi dari kamarnya
" Dasar walaupun dia tidak memakai perhiasan tapi dia tetap cantik juga " kata Vikram tertawa melihat sang istri pergi meninggalkan kamarnya.
Manu tengah membantu para pelayan mengatur meja makan Madhuri datang bersama Shivannya " Eh kakak ipar apa yang kau lakukan? " tanya Madhuri " Aku tengah membantu para pelayan tengah menyiapkan makan malam " Shivannya tersenyum melihatnya dia menyenggol lengan Madhuri
" Coba lihat sekarang Manu menjadi istri sekaligus menantu idaman yang baik hati "
mereka berdua tertawa melihatnya sedangkan Manu hanya tersenyum menanggapinya, tidak lama kemudian mereka semua telah datang
" Ayo semua kita makan malam " semuanya duduk di meja makan tinggal Manu yang masih berdiri belum duduk " Ibu aku tidak ikut makan bersama kalian " Nandini yang baru saja mengambil roti di piring menatap menantunya
" Ada apa sayang? ayo duduk lah kita akan makan bersama " Manu menggeleng
" Tidak bu, aku akan menyajikan makanan untuk kalian setelah itu baru aku akan makan, sekarang aku sudah menjadi menantu di keluarga ini jadi sudah seharusnya aku melayani kalian " Nandini tersenyum lembut mendengar menantunya " Baiklah sayang " Manu pun menyajikan makanan di piring semua orang. Semua orang tampak menikmati makanannya Manu tampak senang melihat keluarganya makan dengan lahap Vikram yang sudah paling dulu habis makanannya memanggil istrinya " Ada apa? " tanya Manu,
" Aku ingin menambah makanan lagi boleh kan? aku masih lapar makanan hari ini tampak lezat"
ujarnya Manu mengangguk dia menambahkan makanan di piring suaminya Shivannya yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya
" Kau benar kakak makanan hari ini tampak lezat, siapakah yang memasaknya? " tanya Shivannya pelayan yant tengah membawakan minuman segera menjawabnya " Tuan Putri Manu yang telah memasaknya Yang Mulia Ratu" semua orang terkejut mendengarnya
" Benarkah? " Nandini memastikannya Manu hanya tersenyum " Itu benar bu aku yang memasaknya ". " Wah kakak ipar aku tidak tahu ternyata kau pintar masak juga " ucap Madhuri bangga " Hmm ya masakanmu tampak lezat Manu, kau benar-benar pandai memasak "
puji Sanjaya, Manu hanya tersenyum menanggapinya semua orang sangat menyukai masakannya hari ini dia ingin memasak untuk keluarganya Manu tampak sangat senang mendengar pujian dari mereka.
" Hari ini aku sangat kenyang, terima kasih atas masakannya Manu " kata Sanjaya " Terima kasih kakak ipar " Manu mengambil piring dan peralatan lainnya yang kotor untuk dibawa ke dapur namun Sanjaya menyuruhnya untuk duduk " Aku ingin membicarakan sesuatu kepada kalian " Manu kembali duduk di samping suaminya " Besok aku akan mengirimkan Gauri pulang ke kerajaannya "
Vikram yang mendengarnya tidak mengerti
" Tapi kenapa kak? " , " Aku ingin dia mendapatkan didikan yang bagus dari bibi Pragya, aku harap setelah dia kembali ke Istananya dia bisa mengubah sikapnya menjadi pribadi yang lebih baik lagi " semua orang mengangguk setuju tapi kemudian Manu bertanya " Lalu kak Jhanvi? kakak akan menerimanya lagi? " Sanjaya menggeleng sembari tertawa " Tidak, aku akan mengirimnya ke sebuah hutan " sontak Manu dan semua orang terkejut " Aku kan mengirimkan dia kesana semoga saja setelah dia tinggal di hutan sifatnya itu bisa berubah, aku ingin dia mengubah sikapnya soal dia kembali menjadi istriku itu tidak mungkin aku tidak akan menerimanya lagi. Kalian mungkin terkejut mendengarnya tapi ini lah keputusanku aku harap kalian tidak akan mempertanyakan soal keputusanku itu apa kalian mengerti? " semua orang mengangguk menyetujuinya lalu Sanjaya menatap adik iparnya " Aku tahu apa yang kau pikirkan tapi jangan pernah untuk mencoba untuk mengubah keputusanku itu, aku sudah membencinya perasaanku padanya sudah mati rasa tidak ada ruang di hatiku lagi jadi aku harap kau mau mengerti adik ipar " Manu mengangguk pelan " Ya kakak " Sanjaya berdiri dia mengatupkan tangannya memberi salam
" Baiklah kalau begitu makan malam sudah selesai, ayo kita tidur hari sudah malam lanjutkan lagi besok selamat malam, salam untuk kalian " dia pun pergi meninggalkan ruang makan, Manu terdiam dia pun ikut pergi ke kamarnya bersama yang lain.
o
Yang di atas tuh fotonya Shivannya, Manu, Madhuri dan Nandini ya guys aku isi keterangan di bawahnya ya
Foto 1: Shivannya
Foto 2 : Madhuri
Foto 3: Manu
Foto 4: Nandini
Jangan lupa like dan berikan komentar kalian ya terima kasih... 😁🙏🙏
__ADS_1