PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 13


__ADS_3

Manu terdiam di kamarnya tabib baru saja mengobati lukanya dan dia memutuskan untuk tidak keluar kamar sampai upacara pernikahan Sanjaya berlangsung karena pelayan sudah mengatakannya tadi, Manu duduk di kasurnya rambutnya yang panjang tidak dia ikat rasa marah, kecewa bercampur menjadi satu tiba-tiba Vikram masuk ke kamarnya Manu yang awalnya menangis langsung menghapus air matanya


" Ah Pangeran silakan duduk " Dia mempersilakan Vikram untuk duduk Vikram mengangguk dia duduk di kursi yang tidak jauh dari tempat tidur Manu. Vikram mengamati luka Manu yang sudah diobati oleh tabib " Bagaimana keadaanmu? " Tanya Vikram memulai bicara Manu hanya diam sambil menatap wajah Vikram


" Bagaimana keadaanku? kau sudah melihat apa yang terjadi padaku hari ini ketidakadilan sudah terjadi di Istana ini, perbuatan mereka yang sudah melakukan tindakan keji kepadaku tidak bisa aku maafkan sampai para pendosa itu dihukum. Mereka harus mendapatkan hukuman yang lebih berat akibat perbuatannya dan aku menginginkan para pendosa itu dihukum mati hidupku sekarang dipenuhi oleh rasa malu akibat kejadian tadi sampai kapan aku harus menanggung rasa malu ini? " Manu berkata sambil menangis Vikram menghela nafasnya dia beranjak memeluk Manu


" Tenangkanlah dirimu aku tahu jika ini sangat berat bagimu tapi sebentar lagi kau akan mendapatkan keadilan aku bersumpah akan membalaskan penghinaan yang kau alami dan menghukum para pendosa itu, berikan aku kesempatan untuk membalaskan dendammu itu aku dan Shivannya akan membunuh manusia keji itu yang sudah memperlakukan dirimu tidak adil berhentilah menangis Manu " Manu terdiam dia menutup kedua matanya dia menangis di pelukan Vikram " Bagaimana jika masyarakat mengetahui kejadian tadi? apa tanggapan mereka? mereka akan menghinaku habis-habisan akibat tindakan keji itu mereka akan memandang diriku rendah, mereka akan mulai mengasingkan diriku aku akan menanggung rasa malu ini sampai akhir hidupku kenapa aku harus mengalami hal seperti ini? " Manu menangis keras Vikram terdiam hatinya ikut hancur ketika mendengar tangisan dan jeritan Manu.


" Kenapa para pria yang memiliki kekuasaan tinggi berani melecehkan dan merendahkan wanita? apa para pria tidak mengerti cara menghormati wanita? apa karena wanita lemah sehingga mereka bisa memperlakukannya seperti binatang? apakah di mata mereka wanita itu hanyalah seseorang yang sangat rapuh sehingga mereka berani melukai harga diri seorang wanita? apakah mereka sudah tidak mengerti lagi cara menghargai seorang wanita? " Vikram hanya diam dia tidak bisa menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan oleh Manu " Karena mereka adalah pria bajingan yang sama sekali tidak memiliki hati dan akal yang sehat " Manu dan Vikram menoleh mereka melihat Shivannya sudah berdiri dengan wajah datar, Vikram melepaskan pelukannya Manu menatap Shivannya yang masuk ke kamarnya Shivannya menatap Manu " Para pria yang bersifat seperti mereka memang tidak pantas untuk dimaafkan mereka lebih pantas dibunuh dan dihukum, mereka harus membayar dosa-dosa karena telah memperlakukan wanita dengan tidak adil" Shivannya berjalan mendekati tempat tidur dimana gadis itu duduk dia melihat kakaknya yang hanya diam


" Keluar lah kakak aku harus bicara dengan Manu " Vikram mengangguk dia beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar itu.


" Kau belum kembali ke Kerajaan Kavila Yang Mulia? " Tanya Manu dia mempersilakan Shivannya untuk duduk " Belum " Ujarnya dia menghela nafas pelan Manu memperhatikan Shivannya yang diam kemudian dia bertanya kepadanya " Ada apa Ratu? kau tampak ingin mengatakan sesuatu " Shivannya mengangguk " Ya, tapi sebelum itu aku harus memastikan keadaanmu, apa kau baik-baik saja? " Manu hanya tersenyum tipis


" Aku baik-baik saja tabib sudah mengobati lukaku, katakan ada apa Ratu? " Shivannya menarik nafas dia lalu mengatakan sesuatu


" Aku ingin bertanya kepadamu apa kelemahan yang dimiliki oleh kedua kakakmu? " Manu terdiam dia menunduk Shivannya melihat gadis itu diam " Manu? "


dia memegang bahu gadis itu, Manu tersentak kaget " Maafkan aku Ratu " dia mengalihkan pandangannya menuju jendela kamarnya " Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya, bagaimana bisa aku akan mengalahkan kedua kakakmu itu? aku pikir kau pasti tahu kelemahan yang dimiliki oleh kedua kakakmu itu jika aku mengetahuinya maka akan sangat mudah untuk mengalahkannya dan aku bisa membalaskan penghinaan yang kau alami Manu " Kata Shivannya tersenyum lembut Manu mulai menangis dia menghela nafas pelan lalu kembali menatap Shivannya


" Akan aku katakan apa yang menjadi kelemahan kedua kakakku " Shivannya mengangguk dia pun mendengarkannya


" Kakakku mempunyai sebuah buku mantra yang mana buku mantra itu sangat sakti, orang yang mempelajari buku itu harus memiliki jiwa yang kuat sebelum orang itu menggunakan buku itu mereka harus melakukan ritual persembahan kepada para iblis, ritual itu dilakukan tepat pada malam hari pada saat bulan purnama dan jika orang itu berhasil menguasai buku itu maka dia memiliki kesaktian yang sama dimiliki oleh para iblis " Ucap Manu menangis Shivannya mengernyitkan dahinya " Lalu apa yang akan terjadi jika buku itu hilang? " Tanyanya. Manu kembali melanjutkan ceritanya


" Jika buku itu hilang maka kesaktian yang dimiliki oleh orang itu akan hilang walaupun dia itu pejuang yang hebat dan memiliki kekuatan yang cukup sakti dia tidak akan merasa puas jika tidak menggunakan buku sakti itu " Lagi-lagi Shivannya merasa bingung " Maksudmu? " Manu hanya tersenyum


" Maksudku jika orang itu sudah cukup sakti dengan kekuatan yang dimilikinya sejak lahir dia tidak akan merasa puas dengan kesaktian yang dia miliki, dia akan merasa kekuatannya belum terlalu sempurna maka dia harus menguasai kekuatan mantra lain bisa dibilang mereka akan memuja para iblis untuk mendapatkan kekuatan yang lebih hebat untuk menyempurnakan kekuatannya sendiri."


Ujar Manu, Shivannya hanya terdiam kemudian Manu kembali bicara


" Kedua kakakku sudah memuja para iblis itu untuk mendapatkan kekuatan yang lebih hebat setelah berhasil menguasai buku mantra itu kedua kakakku jauh jadi lebih sakti, bahkan para pejuang yang lebih hebat dari kedua kakakku tidak dapat bisa mengalahkan mereka " Tiba-tiba Shivannya tersenyum lebar " Terima kasih Manu kau sudah memberitahu kelemahan kedua kakakmu, dengan begini aku bisa menggunakan buku itu sebagai kelemahannya dan dengan mudah untuk mengalahkannya "


Manu hanya diam Shivannya lalu berjalan keluar dari kamar Manu dia berlari mencari Vikram dengan senyum lebar di wajahnya dia terus berlari ke seluruh Istana untuk mencari sang kakak tiba-tiba ' Bruk ' Shivannya menabrak seseorang saat berdiri dia melihat Gauri tengah mengusap air matanya dia hanya diam lalu kembali berlari, Shivannya hanya diam melihat Gauri seperti itu dia pun kembali mencari keberadaan kakaknya. Vikram tengah berdiri di balkon wajahnya seperti sedang menahan emosi Shivannya melihat kakaknya berdiri disana dia pun menghampirinya " Kakak " Vikram menoleh dia melihat Shivannya tengah berlari mendekatinya. Buru-buru Vikram memasang senyum di wajahnya " Ada apa Shivannya? "


Tanyanya begitu Shivannya sudah berdiri di sampingnya " Kakak, aku sudah menemukan kelemahan musuh kita " Ujarnya riang Vikram tersenyum lebar " Benarkah? " Shivannya mengangguk dia kemudian memberitahu semuanya kepada kakaknya Vikram mendengarkan cerita adiknya


" Itu bagus sekali lalu kapan kita akan mengambil buku itu? " Tanya Vikram, Shivannya berpikir sebentar

__ADS_1


" Kita tunggu Manu sembuh kak, hanya dia yang tahu letak dimana buku itu ditaruh "


Vikram mengernyit bingung


" Manu akan ikut? kau tahu dia baru saja mengalami hal yang memalukan bagaimana bisa kau mengajaknya pergi kesana? bagaimana jika nanti dia diperlakukan seperti itu? bahkan lebih parah aku tidak setuju jika dia ikut, kita bisa pergi kesana berdua "


Ucap Vikram menolaknya Shivannya hanya tersenyum geli " Astaga kakak " dia menepuk kepalanya ketika melihat reaksi kakaknya


" Dengar kakak jika Manu tidak ikut apa kita bisa menemukan buku itu? apa kau sangat yakin kita akan menemukannya? " Vikram berpikir " Ya pasti tidak mungkin tapi kita tidak bisa membiarkan dia dalam bahaya lagi, apalagi dia tidak pandai dalam hal bertarung dia pasti tidak akan bisa melawan para prajurit serta kedua kakaknya, akan lebih baik jika dia tetap disini itu akan membuat dia merasa aman " Shivannya tertawa keras


" Hahahahaha, aduh kakak kau ini sangat lucu apa kau belum tahu jika Manu mempunyai kekuatan yang bisa membuat dirinya menghilang karena itu dia akan masuk ke dalam Istana lalu mengambil buku itu, hanya dia lah yang mengetahui dimana letak buku itu berada, sementara kita menunggunya di luar Istana untuk berjaga-jaga jika sesuatu terjadi padanya " Vikram terdiam dia lalu menyetujui ide itu tidak lama kemudian mereka bertiga mulai bersiap-siap untuk pergi ke Istana Singaloka.


Malam akhirnya tiba Shivannya berjalan menuju kamar Manu dia sudah berganti pakaian menjadi pakaian seorang pelayan dia menutup wajahnya menggunakan kerudung, dia berlari menuju kamar Manu begitu sampai disana Shivannya mengetuk pintunya kemudian Manu muncul dari balik pintu


" Kau sudah siap? " Tanya Shivannya, Manu mengangguk " Aku sudah siap Ratu " Ujarnya dia lalu mengambil tasnya lalu mereka berdua berlari menuju kamar Vikram sesampainya disana Vikram sudah menunggunya dia kemudian mengambil kain yang digulung dan melemparnya ke jendela kamarnya lalu dia mengikat ujung kain itu di balkon kamarnya mereka bertiga mulai turun dari kamar Vikram lewat jendela itu, saat sudah berhasil turun mereka berjalan mengendap-endap menghindari para penjaga mereka sembunyi di bawah pohon yang lebat Vikram memutar otaknya agar bisa membuat para penjaga itu pergi dari sana dia lalu mengambil sebuah batu berukuran sedang dan melemparnya ke arah kamarnya ' Prang ' para penjaga itu melihat kamar Vikram yang terbuka mereka bergegas kesana sementara itu ketiganya berlari menuju kandang kuda, mereka bertiga pergi meninggalkan Istana menunggangi kuda. Di perjalanan mereka pergi dengan cepat Vikram memimpin perjalanan dia memacu kudanya agar cepat sampai, begitu sampai di perbatasan Kota Singaloka Vikram menghentikan kudanya dia turun lalu melihat suasana Istana Singaloka Shivannya dan Manu ikutan turun mereka melihat Istana Singaloka dari kejauhan kemudian Vikram berbalik " Kita akan turun disini dan kita tidak akan masuk ke dalam Istana kita akan menunggunya disini, baiklah Manu kau masuklah sekarang hati-hati jangan sampai kau tertangkap oleh penjaga " Ucap Vikram yang hanya dibalas dengan anggukan oleh Manu " Baiklah " dia pun melangkah lalu memejamkan matanya tiba-tiba cahaya berwarna kuning menyinari dirinya sedetik kemudian Manu sudah menghilang Vikram dan Shivannya terkejut melihatnya


" Dia benar-benar menghilang " Gumam Vikram, Manu sudah sampai di depan ruangan rahasia dia membuka pintunya dengan perlahan lalu masuk ke dalam dia menutup pintunya dan mulai mencari dimana buku itu berada sementara itu Shivannya dan Vikram menunggu di perbatasan Kota Singaloka dalam hati Vikram merasa sangat cemas mengingat Manu pergi sendirian.


Manu akhirnya menemukan buku itu dia tersenyum bangga saat berbalik dia tidak sengaja menabrak sebuah pot kaca sehingga pot itu pecah Manu menutup mulutnya dia ketakutan dan panik tiba-tiba suara langkah kaki mendekat dan membuka pintu itu, ruangan itu sedikit terang karena beberapa cahaya lilin menyinarinya karena panik Manu memutuskan untuk menghilang dia menggunakan mantra untuk menghilangkan diri dan pergi dari ruangan itu, Shivannya dan Vikram masih menunggu mereka berdoa semoga Manu bisa lolos pergi dari Istana itu


" Ya Dewa semoga Manu bisa keluar dari Istana itu " Ujar Vikram cemas Shivannya mengangguk " Kalau Manu tidak datang kita harus pergi memeriksa Istana itu untuk membantu Manu keluar " tiba-tiba cahaya berwarna kuning menyinari keduanya Manu muncul di hadapan mereka dengan membawa sebuah buku Vikram dan Shivannya tersenyum lebar mereka menghampirinya " Kau berhasil menemukannya" Shivannya mengambil buku itu " Ini adalah kesempatan kita untuk mengalahkannya " Kemudian ketiganya memutuskan untuk pergi dari sana sebelum ketahuan. Mereka sampai di Istana Aradhya tepat matahari belum terbit lalu mereka cepat-cepat masuk ke dalam Istana sebelum para penjaga memergoki mereka, Shivannya membawa buku itu ke dalam kamarnya dia membuka buku itu dan mulai membaca mantra yang ada di dalamnya


Keesokan paginya Shivannya terbangun dia melihat banyak pelayan sibuk di kamarnya mereka mulai menyiapkan pakaian serta perhiasan untuk dipakai oleh Shivannya


" Sudah berapa lama kalian di kamarku? " Tanya Shivannya tersenyum para pelayan memberitahunya bahwa mereka sudah ada disana sejak matahari mulai terbit Shivannya lalu mulai mandi para pelayan sibuk mengurus dirinya, selesai mandi Shivannya mulai didandani oleh pelayan dia mengenakan pakaian saree berwarna merah, perhiasan layaknya seorang Ratu, rambutnya diikat, rambutnya diberi hiasan,kedua tangannya diberi warna pacar berwarna merah serta kedua kakinya diberi pacar juga,


sentuhan terakhir para pelayan memasang kerudung yang senada dengan pakaiannya penampilan Shivannya terlihat anggun dia terlihat sangat cantik gadis itu mulai berdiri dia berjalan keluar dari kamarnya. Saat turun para tamu sudah banyak yang hadir Madhuri dan Gauri yang melihat sang kakak turun lalu menyambutnya " Kakak " Shivannya tersenyum melihat kedua adik sepupunya menyapanya dia lalu bergabung dengan saudaranya " Apakah mempelai wanitanya sudah datang? " Tanya Shivannya kedua adiknya menggeleng " Belum kakak kami masih menunggunya " Shivannya mengajak kedua adiknya untuk bersiap menyambut mempelai wanita. Suara iringan pengantin sudah berbunyi di depan Istana banyak orang mulai menyambut mempelai wanita dan keluarganya Shivannya, Madhuri dan Gauri datang untuk melihat mempelai wanita.


Nandini menyambut Jhanvi dia mulai melakukan ritual penyambutan mempelai wanita, wanita itu menatap menantunya dengan senyuman lembut Jhanvi merasa sangat senang disambut oleh ibu mertuanya


" Baiklah kalian boleh masuk ayo Jhanvi kita harus masuk ritual pernikahannya sudah dimulai " Nandini menggandeng tangan menantunya itu menuju pelaminan begitu sampai di pelaminan Jhanvi sudah duduk disebelahnya sudah ada Sanjaya yang duduk menunggunya " Baiklah Pendeta silakan dimulai ritual pernikahannya " Ujar Nandini, ritual pernikahan pun dimulai semua orang merasa senang dengan pernikahan keduanya setelah mengucapkan sumpah tujuh kali Sanjaya mulai memasangkan kalung pernikahan kepada Jhanvi kemudian dia memasangkan mahkota di kepala istrinya


" Dengan ini upacara pernikahan pun telah selesai dilangsungkan " Kata Pendeta itu keduanya menatap satu sama lain dengan senyuman ceria mereka benar-benar merasa bahagia dengan pernikahan ini. Setelah melakukan beberapa ritual lagi Jhanvi diantar oleh Madhuri ke kamar pengantin pintu kamar pun dibuka Jhanvi merasa takjub melihat dekorasi kamar pengantin dia berjalan menuju tempat tidur dan duduk disana


" Kamar ini benar-benar sangat bagus " Puji Jhanvi, Madhuri tersenyum lebar mendengarnya " Aku dan kak Shivannya yang mendekorasinya " Jhanvi mengangguk dia lalu meminta adik iparnya itu untuk keluar dari kamarnya Madhuri pun keluar dari kamarnya. Madhuri yang baru saja keluar dari kamar pengantin mendengar suara keributan dia bergegas menghampirinya di luar Istana dia melihat Mannav dan Arun datang menyerang banyak tamu yang berhamburan lari pergi dari Istana Madhuri melihat Shivannya tengah berusaha menghentikan aksi Mannav yang mencoba membunuh para tamu " Hentikan, sikapmu sudah keterlaluan "


Shivannya mendorong Mannav menjauh

__ADS_1


" Heh kau yang minggir aku tahu pasti kau yang mencuri buku mantra itu kan? ingat lah Shivannya aku datang untuk menghancurkan dirimu dan juga keluargamu " Shivannya terdiam dia melihat Mannav tengah tersenyum licik " Baik aku terima tantanganmu " Ucap Shivannya memandang pria itu dengan sinis semua orang terkejut mendengarnya Ambarawati langsung menghampiri putrinya " Apa yang kau lakukan? " Shivannya menatap ibunya


" Aku menerima tantangannya silakan jika dia memang bisa untuk menghabisiku dan juga keluargaku, Ibu kau jangan khawatir aku pasti akan bisa memenangkan pertarungan ini "


Shivannya meyakinkan ibunya " Tapi nak " Shivannya menutup mulut ibunya


" Serahkan padaku ibu cukup menjauh dari sini aku akan melawannya " Ambarawati menuruti perkataan putrinya dia segera menjauh.


" Ayo kita mulai pertarungannya " Shivannya mulai melepaskan kerudungnya dia berjalan mendekati Mannav tangannya membawa senjata Mannav tersenyum licik " Baiklah "


Pertarungan pun dimulai Shivannya mulai melawan serangan Mannav dia menahan serangan itu sementara Mannav terus menyerangnya dengan kekuatannya,Ambarawati cemas melihat putrinya yang belum juga menyerangnya balik


" Ya Dewa semoga putriku bisa mengalahkan Mannav, tolong lindungilah putriku agar dia bisa cepat mengalahkannya " Ambarawati berdoa untuk putrinya Sanjaya dan Vikram yang melihat itu menyuruh ibu, bibinya, kedua adiknya serta istrinya untuk pergi dari Istana dan menuju kuil Dewa Siwa. Jhanvi yang baru saja keluar melihat pertarungan dashyat itu dia bertanya kepada ibu mertuanya


" Ibu apa yang sedang terjadi? kenapa adik ipar bertarung melawan Mannav? " Nandini mengatakan akan terjadi ledakan besar jadi dia mengajak Jhanvi pergi dari Istana dan meninggalkan Shivannya yang masih bertarung, Manu yang melihat kakaknya tengah bertarung melawan Shivannya hanya diam doa menyaksikan pertarungan itu dari jendela kamarnya dia bahkan tidak mau pergi dari Istana itu " Aku ingin melihat kematian kakakku " Kata-kata itu yang dia lontarkan kepada para pelayan ketika para pelayan memberitahu bahwa Nandini menyuruhnya pergi dari Istana, Shivannya masih terus bertahan Mannav kebingungan karena Shivannya tidak membalas serangannya


dia tetap mencoba menyerangnya begitu dia merasa lelah karena terus menyerang Shivannya kesempatan itu digunakan oleh gadis cantik itu untuk menyerangnya balik


' Buagh ' Shivannya menghantamnya dari belakang dan depan Mannav jatuh tersungkur belum sempat dia berdiri Shivannya menyerangnya lagi bertubi-tubi sampai wajah dan Mannav babak belur puas menyerang wajah dan tubuhnya Shivannya mengeluarkan kekuatannya dia menyerang Mannav dari sisi kanan " Arghhhhh " Mannav berteriak keras dia merasakan sakit dan nyeri di bagian dadanya " Kau berani menyerangku " Mannav kesulitan berdiri Arun yang berdiri mencoba menghampirinya tapi Shivannya membuat dirinya terpental " Kau jangan ikut campur "


mata Shivannya sudah berubah menjadi merah Arun menatapnya dengan sinis


" Kau tidak boleh menyerangnya dari sisi kanan, dalam pertarungan ini kau sudah bertindak curang " Shivannya tersenyum sinis


" Benarkah? lebih baik kau diam saja jangan ikut campur apa kau mengerti? jika kau tidak diam aku akan menghabisimu dengan kekuatanku " Shivannya mengeluarkan cahaya hitam dari tangannya yang bersiap ingin membunuh Arun.


Arun tampak ketakutan melihat kekuatan serta itu " Jadi lebih baik kau diam saja " Shivannya tersenyum tipis dia melihat Mannav yang mulai kesulitan berdiri


" Kekuatanmu mulai melemah Mannav kau tidak akan bisa menyerangku lagi, kekuatanmu akan sempurna tepat ketika bulan purnama tapi sekarang untuk menyempurnakan kekuatanmu itu kau telah kehilangan buku mantra itu dan aku yakin kau hanya menghafalkan beberapa mantra dari buku tersebut tapi sekarang kesempatanmu untuk menyerangku tidak akan bisa " Shivannya tersenyum licik Mannav yang mendengar itu mulai berdiri dia mengusap darah yang keluar dari mulutnya Mannav mengeluarkan cahaya berwarna merah dia bersiap untuk menyerang Shivannya karena kekuatan itu sangat besar dia yakin dia bisa mengalahkan Shivannya menggunakan kekuatan itu, namun dia salah sasaran Shivannya sudah mengetahui gerakan itu dia menyerang balik titik kelemahan Mannav pria itu jatuh tersungkur di tanah " Ohok ohok " dari dalam mulutnya Mannav mengeluarkan banyak darah Shivannya menendang perut Mannav sampai dia jatuh terlentang. Shivannya menarik rambut Mannav lalu menyeretnya sampai Mannav berteriak kesakitan " Lepaskan aku sakit sekali " tapi Shivannya tidak menggubrisnya dia tetap menyeretnya sampai wajah Mannav hancur lebur setelah dirasa pria itu telah kehilangan tenaganya Shivannya membalikkan tubuhnya sampai terlentang dia kemudian menginjak perut Mannav dan mengeluarkan senjata sakti Dewi Parwati, langit mulai berubah angin, petir dan hujan mulai berdatangan badai telah datang Arun yang melihat itu tercengang " Hentikan Shivannya kau jangan membunuh Mannav jika kau membunuhnya kau akan menyesalinya " Shivannya menatap Arun dengan tajam " Dengarkan aku baik-baik Arun orang yang telah berbuat kejahatan maka dia harus mendapatkan hukuman, dan Mannav telah melakukan banyak kejahatan dia harus dihukum atas semua dosa yang telah dia lakukan, setelah kematian Mannav kau yang akan aku bunuh " Petir menggelegar Manu yang menyaksikan itu terdiam dia merasa cukup kasihan melihat kakaknya yang kehidupannya sudah di ujung tanduk tapi mau bagaimana lagi kakaknya itu pantas mendapatkan hukuman apalagi perlakuan kasar kepada dirinya dia memang layak dihukum.


Shivannya menghunuskan senjata itu tepat di dada Mannav ' Crakkkk ' darah menyembur mengenai wajah Shivannya, Mannav berteriak kesakitan " Arghhhhhhhhhhhh " dia tersengal-sengal detik kemudian dia sudah mulai menutup matanya " Mannavvvvvvvvv " Arun berteriak histeris ketika melihat kematian adiknya itu Shivannya mencabut senjata itu dia menatap Mannav yang sudah tidak bernyawa, Arun berlari menghampiri jenazah adiknya " Bangun lah Mannav bangun jangan tinggalkan kakakmu ini, Mannav " dia mengusap wajah adiknya yang sudah tertidur damai Arun menggertakkan giginya marah dia menatap nyalang Shivannya " Kau " dia menunjuk Shivannya yang terlihat tenang


" Kau harus bertanggung jawab atas kematian adikku, aku akan menghabisimu sekarang juga " tiba-tiba cahaya kilat menyambar tubuh Arun yang seketika langsung meledak dia mati atas kutukan yang didapatkan dari adiknya Manu. Shivannya terkejut melihatnya kematian yang sangat tragis badai seketika langsung hilang Shivannya berhasil mengalahkan kejahatan dia terduduk sambil diam menyaksikan tubuh Arun yang sudah hangus terbakar dari arah jauh Ambarawati memanggil putrinya " Shivannya " gadis itu menoleh dia melihat banyak orang menghampirinya tapi tiba-tiba kepalanya terasa pusing Shivannya pun ambruk di tanah


" Oh ya tuhan cepat bawa Shivannya ke kamarnya " Perintah Ambarawati, Vikram menggendong adiknya sementara Sanjaya mulai mengurus jenazah Mannav dan Arun.


Shivannya dibaringkan di tempat tidur Madhuri pergi memanggil tabib sedangkan Ambarawati mulai membersihkan darah yang ada di wajahnya Manu datang ke kamar itu tapi dia hanya mengintip sebentar wajahnya langsung tersenyum lembut

__ADS_1


" Terima kasih Yang Mulia Ratu kau sudah berhasil mengalahkan kedua kakakku, kau berhasil mengalahkan kejahatan yang selama ini dilakukan oleh kedua kakakku aku sangat berterima kasih kepadamu kini kebenaran berdiri lagi mengalahkan kejahatan " Manu tersenyum menatap wajah Shivannya yang masih dalam keadaan pingsan dia kemudian berlalu kembali ke kamarnya.


Jangan lupa like dan komen ya terima kasih....


__ADS_2