
Sudah 3 hari Tara tinggal di Kerajaan Aradhya dia masih bersikap biasa saja kepada semua anggota keluarga di depan mereka dia pura-pura menjadi wanita yang polos dan lugu tapi di sisi lain dia akan kembali menjadi wanita yang jahat, suatu hari ada sebuah perayaan di Kerajaan semuanya sangat senang menyambut perayaan tersebut Tara sudah sibuk sejak tadi pagi dia mulai mengerjakan pekerjaan di Istana lalu kalung bergetar cahaya mulai keluar di dalamnya Tara yang melihatnya itu langsung berlari ke kamarnya dia mengunci pintu kamarnya gadis itu pun duduk di sofa
" Ada apa ibu? " Tara bicara pelan agar orang lain tidak mengetahuinya Pragya sama sekali tidak mendengar suara putrinya dia pun meminta Tara bicara dengan keras
Tara : " Ibu bisakah kita bicara pelan? "
Pragya : "Memangnya kenapa? ibu sama sekali tidak bisa mendengarmu bicara yang keras "
Tara: " Saat ini aku sedang di kamar aku bicara dengan ibu dengan suara pelan, semua orang sedang berada di luar mereka tengah sibuk mengurus perayaan di Kerajaan ini, dan aku sangat sibuk jadi ibu mau bicara apa? cepat bicara aku sedang tidak ada waktu jika ibu tidak bicara juga aku akan memutuskan ini
Pragya: " Hei hentikan bicaramu itu, berhentilah mengoceh telinga ibu terasa panas mendengar ocehanmu itu baiklah ibu akan bicara langsung, bagaimana? apa rencanamu berhasil? "
Tara: " Ibu saat ini aku belum ada kesempatan untuk menjalankan rencanaku itu, aku akan menjalankannya jika waktunya sudah tiba "
Pragya: " Kau ini payah sekali jika menunggu waktu yang tepat untuk menjalankan rencanamu itu maka semuanya akan menjadi sia-sia "
Tara : " Apa maksud ibu? "
Pragya: " Disaat seperti ini lah jalankan rencanamu manfaatkan situasinya "
Tara : " Apa ibu sudah gila? aku harus memanfaatkan situasi sekarang? tidak ibu, jika sekarang aku melakukannya yang ada aku akan ditendang dari Kerajaan ini, sudah ibu sebaiknya diam saja serahkan semuanya padaku semua pasti akan baik-baik saja "
Pragya : " Hah ya baiklah terserah dirimu tapi jangan salahkan ibu jika rencanamu itu gagal "
Tara : " Ibu diam saja kau cerewet sekali ya sudah aku akan memutuskan panggilan ini sampai nanti "
Tara langsung memutuskan panggilan ibunya dia pun bergegas menuju aula Istana, namun saat membuka pintu dia melihat Manu berdiri di depan kamarnya dengan wajah pucat sontak Tara terkejut melihatnya dia pun menyapa Manu " Tuan Putri? anda sedang ada disini? "
tanya Tara tapi Manu tidak menjawabnya dia langsung melengos pergi hal itu membuat Tara tersadar akan sesuatu " Apakah dia mendengar dengan semua yang aku katakan? tidak, itu tidak mungkin mana mungkin dia bisa mendengar pembicaraanku hahahah konyolnya diriku, eh tapi tunggu dulu sebentar jika dia memang tidak mendengar pembicaraanku dengan ibu lalu kenapa wajahnya terlihat tegang dan pucat begitu? untuk hal ini aku harus memastikannya bahwa dia sama sekali tidak menguping pembicaraanku " Tara langsung berlari menyusul Manu menuju aula Istana, Tara melihat Manu diam mengerjakan sesuatu dia pun mendekatinya namun saat dia hendak ingin bicara Manu menjauhinya dugaan Tara semakin kuat bahwa Manu tengah mendengar pembicaraan dirinya dan ibunya
" Ini tidak bisa dibiarkan, aku harus lakukan sesuatu agar Manu menutup mulutnya bisa gawat jika dia memberitahukannya kepada semua orang " Tara mulai memikirkan rencana untuk membungkam mulut Manu dia pun berlari menuju kamarnya meminta saran dari ibunya, saat menghubungi ibunya Tara tidak bisa dia terus mencobanya tetap tidak perasaan Tara semakin kacau ini salahnya karena dia ibunya jadi marah kepadanya dia pun duduk memikirkan semuanya
" Tenang Gauri, tenang kau harus tetap tenang pikirkan sesuatu dengan kepala dingin jangan bertindak ceroboh, kau harus membungkam mulut wanita itu agar rahasia mu tidak bocor "
Tara berdiri dia mondar-mandir di kamarnya memikirkan rencana untuk membuat Manu diam.
Manu yang sedang mengerjakan sesuatu mulai mengingat dimana dirinya secara tidak sengaja menguping pembicaraan Tara dan seorang wanita yang dia panggil Ibu itu, dia pergi ke kamar Tara karena ibunya memintanya memanggilnya dia pun kesana tapi sayangnya dia mendengar semuanya seketika Manu mematung di depan pintu kamar Tara dia benar-benar tidak menyangka bahwa ternyata Tara itu adalah Gauri gadis itu menegang mendengar semua ucapan Tara dia merasa kecewa karena Tara telah menipu dirinya dan keluarganya. Manu terus menguping tanpa sadar air matanya turun membasahi pipinya dia benar-benar marah bercampur kecewa dia tidak menyangka jika Gauri tega melakukan hal seperti ini demi bisa mendapatkan cintanya kembali, Tara melihat Manu di balkon Istana tengah mengerjakan sesuatu dia berniat untuk mendekatinya tapi urung dia hanya memperhatikannya lalu pergi. Malam pun datang Tara masih memikirkan Manu dia terus mencari ide untuk membuat Manu menutup mulut hingga dia menemukan ide yang cukup gila gadis itu pun bangkit dia berjalan menuju balkon kamarnya senyum di wajahnya berubah menjadi seringaian hari ini pun dia akan melakukannya secepatnya maka Tara mulai beraksi dia mengambil selendang miliknya berwarna pink dia mengganti pakaiannya lalu bergegas keluar saat hendak menuju kamar Manu dia celingukan memastikan bahwa keadaan aman tidak akan ada yang datang setelah memastikan semuanya aman Tara perlahan masuk ke kamar Manu. Manu melihat bayangan masuk ke kamarnya saat itu kondisi kamarnya tengah remang-remang hanya ada beberapa lilin yang menyala di kamarnya dia mendengar suara gelang kaki mendekat
" Madhuri? " panggil Manu dia pun bangun dari kasurnya sedangkan Tara terdiam dia melihat Manu menghampiri dirinya dengan cepat sia berlari menuju balkon Manu yang melihat bayangan itu lari ke balkon dia pun mengikutinya " Madhuri kenapa kau lari? dan kenapa kau menutup wajahmu menggunakan selendang? " tanya Manu yang mengira itu adalah bayangan adik iparnya namun Tara hanya diam saat Manu hendak mendekatinya berniat membuka selendang yang menutupi wajah adik iparnya Tara malah menariknya keras sontak tubuh Manu terjatuh dari balkon
" Arghhhhhhhhhh " teriaknya Tara melihat Manu sudah jatuh dari balkon kamarnya dia pun tersenyum lalu berbalik menuju kamarnya. Vikram, Madhuri, Nandini dan Sanjaya tengah berada di ruangan sedang berdiskusi sesuatu tiba-tiba angin kencang membanting jendela dengan keras ' Brak ' keempatnya terkejut mendengarnya cuaca langsung berubah menjadi petir menyambar disertai hujan angin kencang " Astaga kenapa cuaca berubah seperti ini? " tanya Madhuri gorden di ruangan itu bertiup kencang mereka semua terkejut melihat cuaca yang berubah menjadi ganas itu
" Ibu juga tidak tahu nak, cuaca ini seperti menandakan akan ada sesuatu yang buruk terjadi " ujar Nandini petir terus menyambar keras " Vikram, Madhuri ajak ibu ke kamarnya ayo kita akhiri ini dulu cuaca membuat kita tidak bisa konsentrasi " ajak Sanjaya kedua adiknya pun mengangguk kemudian mereka mengajak ibunya pergi ke kamarnya.
__ADS_1
Saat keluar dari ruangan pribadi milik Sanjaya terdengar suara pelayan menjerit histeris dari luar " Kakak apa yang sedang terjadi? " tanya Madhuri kepada Vikram " Entah lah tapi akan aku periksa kau bawa ibu ke kamar " Madhuri mengangguk Vikram pun berlari ke luar Istana mencari pelayan itu Madhuri kembali membawa ibunya ke kamarnya, di luar Vikram melihat beberapa prajurit serta pelayan berkerumun di luar dia pun menerobosnya
" Hei minggir sebenarnya apa yang terjadi? "
mata Vikram membeku ketika melihat tubuh istrinya terbaring di tanah dengan darah mengucur di kepalanya serta di perutnya ada darah mengalir juga dia terkejut melihatnya
" Manuuuuuuu " jeritnya dia pun menggendong tubuh istrinya yang basah oleh air dan darah
" Minggir, cepat panggil tabib Istana " teriak Vikram dia pun membawa tubuh Istrinya ke kamar semua pelayan menjerit ketika melihat Manu yang tidak sadarkan diri Sanjaya melihat adiknya tengah menggendong istrinya yang dipenuhi oleh darah " Vikram, apa yang terjadi?"
tanya Sanjaya namun Vikram mengabaikannya dia pun membuka pintu kamarnya Sanjaya mengikutinya dia pun membaringkan tubuh istrinya disana " Vikram apa yang sebenarnya terjadi? " tanya Sanjaya, Vikram menatap datar kakaknya " Aku tidak tahu kak " ucapnya lirih matanya terus menatap wajah cantik istrinya
kemudian tabib Istana datang beserta pelayan yang tadi menjerit itu Vikram langsung berdiri
" Cepatkan selamatkan istriku, aku tidak mau jika istriku itu mengalami hal yang buruk bagaimanapun caranya kau harus bisa menyelamatkannya " ucap Vikram setengah berteriak tabib itu pun menenangkannya
" Tenang lah Pangeran aku akan menyembuhkan istri anda jadi aku mohon harap tenang " Sanjaya menenangkan adiknya dia pun bertanya kepada pelayan itu
" Saat saya hendak berjalan menuju taman saya melihat Tuan Putri jatuh dari balkon jadi saya memanggil prajurit untuk menangkapnya, tapi terlambat Tuan Putri sudah jatuh di tanah " ujarnya sambil terisak Vikram mengusap wajahnya dia melihat istrinya tengah ditangani oleh tabib Istana dia pun pergi meninggalkan istrinya " Vikram " Sanjaya mengejar adiknya dia meminta pelayan itu agar tetap di kamar Manu.
Madhuri yang mendengar jeritan kakaknya menangis di kamar bersama ibunya
" Ibu ayo kita ke kamar kak Manu aku ingin melihatnya " Nandini memeluk putrinya
" Tabib tengah mengobatinya sayang, kita harus berdoa kepada Dewa agar Manu cepat kembali sembuh dan bayinya baik-baik saja, kau jangan khawatir ya sayang ibu tahu kau juga merasa sedih tapi kita harus mendoakan mereka berdua agar mereka diselamatkan oleh Dewa "
" Bangun Vikram jangan seperti ini, ayo bangun"
Vikram menggeleng pelan " Tidak kak " dia mulai menangis Sanjaya mengerti perasaan adiknya dia pun kembali memberinya kekuatan
" Jangan seperti ini, jika kau putus asa dan marah seperti ini maka istrimu dan bayimu tidak akan bangun kau harus kuat ayo bangun berdoa lah kepada Dewa agar Manu dan bayinya dilindungi dan cepat kembali pulih jika kau terus begini maka Dewa tidak akan mengabulkannya ayo berdiri Vikram, berdiri lah"
Vikram menghela nafas dia pun berdiri lalu menatap kakaknya air mata masih ada di wajahnya " Kakak, aku benar-benar tidak mengerti kenapa istriku selalu mengalami nasib yang buruk kak, apa salah istriku sehingga dia selalu mengalami kemalangan aku sendiri bahkan tidak tahu kenapa istriku terus mengalami hal buruk, kakak aku sudah tidak tahan lagi setiap istriku terbaring lemah hatiku serasa remuk kak lututku terasa lemas setiap Manu mengalami masalah. Kakak hari ini aku tidak akan diam saja aku akan mencari pelaku yang telah menyebabkan istriku seperti ini aku tidak akan pernah mengampuninya tidak akan " Sanjaya mengangguk dia pun memeluk adiknya saat ini adiknya yang terkenal tangguh dan pemberani kini menjadi sangat lemah dia membiarkan adiknya menangis di pelukannya
" Tenangkan dirimu Vikram " Sanjaya menepuk pundak adiknya mencoba menenangkannya Vikram masih menangis di pelukan kakaknya.
Tara yang mendengar keributan di luar sana merasa takut dia baru saja mendengar pembicaraan Vikram dan kakaknya lewat balkon kamarnya gadis itu duduk dengan wajah gelisah " Sebelum Vikram menemukan diriku, aku harus memastikan bahwa tidak ada satupun barangku yang jatuh di kamar Manu entah itu anting, gelang, cincin, gelang kaki atau yang lainnya yang bisa menjadi barang bukti aku harus memastikannya, tapi bagaimana caraku kesana? saat ini di kamar Manu ada banyak orang disana yang terpenting aku harus menyembunyikan pakaian yang aku gunakan saat mendorong Manu dari balkon " Tara bergegas langsung menyembunyikan pakaiannya di tumpukan pakaiannya dia melipatnya terlalu kecil sehingga orang lain tidak akan bisa menemukannya, dia tersenyum puas selanjutnya tinggal mengecek kamar Manu " Aku harus pura-pura menangis di depan semua orang agar semua orang tidak curiga kepadaku " dia pun berjalan menuju kamar Manu dia melihat anggota keluarga Istana tengah berdiri disana menunggu tabib yang masih mengobati Manu.
Tara menarik nafasnya dia pun mulai berlari sambil menangis " Tuan Putri " dia berteriak histeris memanggil Manu semua orang terkejut melihat Tara yang berlari menuju mereka dengan wajah menangis Nandini menghampirinya " Tara? kau darimana saja? "
" Maafkan aku Ibu Ratu aku tadi tertidur aku merasa sangat mengantuk jadi aku memutuskan untuk tidur lebih awal, tapi saat aku bangun hendak pergi ke dapur mengambil air aku melihat para pelayan tengah menangis, dan saat aku bertanya mereka bilang bahwa Tuan Putri Manu tengah mengalami masalah jadi aku lari kesini untuk melihatnya apakah itu benar atau tidak " Tara pura-pura menangis dia terus menangis terisak Nandini yang melihatnya memeluknya Tara pun menangis di pelukan Nandini namun diam-diam gadis itu menyunggingkan senyumannya. Tabib pun keluar dari kamar Manu mereka semua langsung bertanya kepadanya
" Bagaimana kabar istriku? apakah dia baik-baik saja? bagaimana juga kabar bayiku? " tanya Vikram tidak sabar tabib meminta Vikram untuk tenang " Tuan Putri baik-baik saja dia hanya mengalami benturan di kepalanya aku sudah memberinya obat " semua tersenyum mendengarnya tapi tabib itu dengan ragu mengatakan mengenai kondisi bayi Manu
__ADS_1
" Mengenai janin yang ada di kandungan Tuan Putri.. itu... uhm.. " Vikram langsung bertanya
" Ada apa? ada apa dengan bayiku? apakah dia baik-baik saja? katakan tabib " Vikram sedikit membentaknya dia bahkan mencengkeram erat bahu tabib itu " Maafkan aku Pangeran, Ibu Ratu dan Yang Mulia Raja aku sudah berusaha untuk menyelamatkan nyawa bayi itu tapi tidak bisa, Tuan Putri mengalami keguguran dia jatuh dari balkon kamar dan perutnya menabrak batu dengan keras sehingga bayinya tidak bisa diselamatkan dan juga... " lagi-lagi ucapan tabib terpotong " Juga apa tabib? " Vikram berteriak kepadanya " Tuan Putri tidak akan bisa mengandung atau mempunyai anak lagi Pangeran karena rahimnya sudah rusak akibat benturan keras itu, aku sudah mencoba mengobatinya tapi tidak bisa saat ini Tuan Putri tidak bisa hamil lagi rahimnya benar-benar sudah rusak " seketika lutut Vikram langsung lemas mendengar ucapan tabib itu dia shock mendengarnya dia pun berlutut dengan wajah pucat, bagaimana bisa hal ini terjadi? dia tidak bisa melihat wajah histeris istrinya ketika mengetahui kabar buruk ini dia tidak sanggup melihat Manu rapuh di depannya keluarga Istana yang lain juga tidak kalah terkejutnya mereka menangis mendengar kabar malang yang menimpa Manu namun beda dengan Tara dia malah tersenyum senang mendengar berita itu " TIDAKKKKKKKKK ITU BOHONG ITU TIDAK BENAR-BENAR TERJADI, TIDAKKKKKKKK "
Vikram berteriak histeris dia memukul lantai Istana dengan kasar dia menangis wajah ceria serta senyuman lembut istrinya terlintas di hadapannya dia benar-benar tidak akan berdaya berhadapan dengan istrinya Nandini menghampiri putranya " Nak " dia memeluknya
" Ibu, Manu ibu" ucap Vikram histeris dia menangis di pelukan ibunya Nandini mengangguk dia ikut menangis " Tenanglah "
dia mengusap-usap bahu putranya memberikan ketenangan Madhuri langsung memeluk Sanjaya erat dia tidak tega melihat kakaknya yang menderita seperti itu hatinya ikut merasa nyeri Vikram masih menangis hatinya serasa disambar petir dia juga merasakan hatinya dihantam oleh benda kasar Nandini berusaha tegar di hadapan putranya yang sedang terpuruk Tara hanya tersenyum menyeringai rencananya yang selama ini disusun akhirnya berhasil juga setidaknya dia merasa senang jika bayi yang di dalam kandungan Manu telah mati memang itu yang dia inginkan dia masih tersenyum sembari menatap Vikram yang masih menangis.
Vikram masuk ke kamar istrinya dia sudah tidak menangis lagi kali ini dia berjanji dia akan bersikap tegar dia harus berusaha tenang menghadapi istrinya pria itu berjalan dia duduk di samping Manu tangannya menggenggam lembut tangan halus itu, tangan Manu sangat dingin namun Vikram memberikan kehangatan padanya dia mencium tangan istrinya
" Aku tidak tahu harus bersikap bagaimana di depanmu jika kau sudah bangun, aku juga tidak tahu bagaimana caranya untuk memberitahu mu hal yang begitu menyakitkan ini aku juga tidak tahu bagaimana harus menenangkanmu sementara hatiku masih terasa sakit. Kenapa kau harus mengalami semua ini Manu? kenapa kau yang harus menderita setiap hari? aku benar-benar tidak mengerti kenapa setiap masalah selalu kau yang kena, aku sendiri juga bingung kenapa takdir begitu kejam sehingga dia tega menyakiti dirimu, tapi tidak masalah aku akan selalu berada di samping dirimu aku akan terus melindungi dan menyayangimu Manu, aku berjanji akan cepat menemukan orang yang telah membuatmu seperti ini aku janji akan terus mencintai dirimu sampai maut memisahkan kita " Vikran bicara kepada istrinya yang masih terbaring menutup matanya yang indah itu wajahnya yang cantik terlihat sangat damai ketika sedang tidur, Vikram mengusap wajah istrinya dia lalu mencium kening istrinya lembut. Vikram terus menjaga istrinya sampai besok pagi. Tara yang berniat masuk ke kamar Manu terkejut melihat Vikram tengah duduk menatap wajah istrinya
' Aduh gawat kenapa ada Vikram disana? bagaimana aku harus memeriksa di kamar itu bahwa tidak ada satupun benda milikku yang jatuh disana ' Tara terus memperhatikan Vikram dia tengah berpikir bagaimana caranya masuk kesana tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya dia tersenyum lalu masuk kesana
" Salam Pangeran " ucap Tara, Vikram melihat Tara masuk ke kamarnya " Ada apa? " tanyanya
" Uhm Pangeran, kalau diperbolehkan boleh kah saya menjaga Tuan Putri? saya baru saja lewat ingin ke dapur dan melihat Pangeran yang tampak kelelahan menjaga Tuan Putri, jadi kalau tidak keberatan biar saya saja yang menjaga Tuan Putri anda boleh istirahat Pangeran " Vikram terdiam mendengar ucapan Tara dia tidak meninggalkan istrinya dia ingin menjaga istrinya namun dia tampak lelah hari ini ucapan Tara benar dia benar-benar merasa lelah kemudian dia pun mengangguk
" Baiklah, aku akan istirahat kau jaga istriku jika ada sesuatu panggil saja aku di kamar lain " Tara mengangguk lalu Vikram pergi ke kamar lain untuk istirahat.Begitu Vikram pergi Tara langsung melancarkan aksinya dia mulai memeriksa lantai dan tiap sudut kamar Manu mencari perhiasan yang bisa menjadi barang bukti atas kejahatannya " Duh masa sih gak ada yang jatuh? coba aku periksa sekali lagi " Tara masih sibuk memeriksa kamar Manu setelah beberapa jam mencarinya Tara menghela nafas " Huh memang tidak ada satupun perhiasanku yang jatuh disini, berarti aku aman " Tara tersenyum girang dia kembali melihat Manu yang masih tertidur tangannya mengusap wajah Manu " Sungguh miris melihat dirimu Manu sekarang kau tidak lagi di anggap sebagai wanita sempurna, sekarang kau akan dianggap wanita buruk karena kau tidak akan bisa mengandung anak selamanya. Aku sangat senang mendengarnya rencanaku yang sudah kususun rapi akhirnya berhasil tinggal menjalankan sisanya saja mari kita lihat bagaimana ekspresi wajahmu ketika mengetahui bahwa kau kehilangan bayimu dan juga kehilangan semuanya aku akan senang melihatnya menyaksikan dirimu berteriak histeris dan semua orang akan menganggap dirimu gila disitulah aku akan merasa sangat gembira " Tara mencengkeram dagu Manu dengan kuat dia menghempaskannya dengan kasar.
Shivannya yang baru saja pulang dari kerajaan tetangga untuk urusan kerajaan memutuskan untuk istirahat di kamarnya perjalanan menuju Istana Kavila membuat dia letih apalagi cuaca di jalan membuat dia sedikit pusing kereta kudanya hampir saja membuat dia terjatuh karena tidak tahan menahan cuaca buruk tersebut, di kamar Shivannya memutuskan untuk mandi dia melepaskan ikatan serta perhiasan di rambut dan tubuhnya lalu dia berjalan menuju kolam yang ada di kamarnya, Shivannya mulai mengolesi tubuhnya dengan lulur kunyit sebelum masuk ke dalam kolam setelah itu dia mencuci rambutnya dengan minyak aroma melati setelah selesai membersihkan tubuhnya dia pun masuk ke dalam kolam. Air hangat serta aroma mawar membuat Shivannya rileks dia berendam cukup lama sampai kepalanya masuk ke dalam air, selesai melakukan ritual mandi Shivannya keluar dari kolam dia pun mengambil jubah mandinya lalu berganti pakaian gadis itu memakai pakaian saree berwarna kuning keemasan rambutnya yang panjang masih basah dia berjalan menuju meja riasnya tangannya sibuk mengeringkan rambutnya kemudian dia menyisirnya rapi gadis itu memakai pelembap di wajahnya dia pun bersiap ingin tidur namun dia melupakan sesuatu dia pun keluar kamar saat di tengah anak tangga dia mendengar para pelayan bicara mengenai Manu dia pun menyimak pembicaraan para pelayan itu saat para pelayan menyebut bahwa Manu mengalami keguguran hal itu membuat Shivannya berdiri tegang dia tidak percaya yang baru saja dia dengar
" Apa yang kalian katakan? " tanya Shivannya kepada pelayan itu, ketiga pelayan itu berbalik melihat Ratu mereka tengah berdiri disana dengan wajah tegang " Yang Mulai Ratu? " ucap mereka terkejut " Apa yang baru saja kalian katakan? "ketiga pelayan itu saling pandang mereka menunduk tidak mau bicara dengan keras Shivannya bicara " Katakan! " ketiga pelayan itu tersentak kaget mereka dengan gugup memberitahunya " Anu..uhm.. itu Yang Mulia Ratu, Tuan Putri Manu mengalami keguguran dan dia tidak bisa hamil lagi " ucapan pelayan itu menghantam dada Shivannya dia langsung terduduk di anak tangga dengan wajah shock wajahnya mulai memerah menahan tangis " A-a-a-pa? ini semua pasti bohong kan " dia menatap ketiga pelayan itu " Ini semua pasti bohong itu tidak mungkin benar " Shivannya memegang kepalanya dia benar-benar terkejut mendengar berita mengenai Manu " Itu tidak bohong Yang Mulia Ratu " ucap mereka menunduk, Shivannya menatap mereka dengan wajah penuh air mata " Kenapa ini harus terjadi kepadanya? " dia menangis para pelayan itu berusaha mengajak Shivannya untuk berdiri namun dia menolaknya " Apa ibuku sudah mengetahuinya? " ketiga pelayan itu lagi-lagi mengangguk dengan cepat Shivannya berlari menuju kamar ibunya.
" Ibu, ibu buka pintunya " dia menggedor pintu kamar ibunya Ambarawati keluar dari kamarnya dia sepertinya habis menangis juga
" Shivannya " dia terkejut melihat putrinya berdiri dengan wajah penuh linangan air mata
" Masuk lah " dia mengajak Shivannya masuk ke kamarnya, Ambarawati mengajak putrinya untuk duduk " Ada apa sayang? kenapa kau menangis? " Shivannya menghapus air matanya " Ibu katakan dengan jujur apakah Manu tengah mengalami keguguran dan dia tidak bisa hamil lagi? " Ambarawati terdiam dia menunduk niatnya dia untuk memberitahu putrinya soal ini besok pagi namun di luar dugannya putrinya sudah mengetahuinya " Ayo jawab ibu! " Shivannya meninggikan suaranya perlahan Ambarawati mengangguk " Ya sayang itu benar"
Shivannya menghela nafas kasar dia berusaha untuk tidak menangis " Ceritakan apa yang terjadi kepadanya dan kenapa ibu tidak memberitahuku tadi? seharusnya ibu memberitahuku soal ini " Ambarawati memegang tangan putrinya " Maafkan ibu, ibu tidak bermaksud untuk merahasiakannya darimu karena kau lelah dari perjalanan jauh ibu memutuskan untuk tidak memberitahumu dan berencana untuk memberitahumu besok pagi, pasti para pelayan telah memberitahu mu kan? Manu mengalami tragedi tragis dia jatuh dari balkon kamarnya, ibu tidak tahu pasti penyebab dia jatuh dari balkon tadi sore Sanjaya telah mengirimkan ibu surat dia berencana bersama Vikram untuk menyelidiki penyebab Manu jatuh dari balkon kamarnya. Dia mengalami masalah saat jatuh untuk lebih lengkapnya kau bacalah surat yang ada di atas meja itu ibu tidak sanggup untuk menceritakannya lagi" Shivannya berjalan mengambil surat yang tergeletak di atas meja dia membacanya air matanya kembali tumpah
" Kenapa dia selalu mengalami nasib buruk seperti itu? apa kesalahan yang telah diperbuat olehnya sampai dia terus mendapatkan masalah? takdir macam apa ini kenapa Dewa tega melakukan hal itu kepadanya? " Shivannya meremas surat itu dia kembali menangis Ambarawati memeluk putrinya dia berusaha menenangkannya Shivannya menangis dia merasa sangat sedih mengingat Manu yang terus mengalami kemalangan. Shivannya sudah berhenti menangis dia menghapus air matanya begitu juga ibunya kini mereka berdua terduduk diam hingga akhirnya Shivannya bicara
" Ibu sebaiknya kita tidak usah pergi ke Aradhya untuk melihat Manu, bagiku ini bukan waktu yang tepat kita pergi kesana masih banyak hari lain dan biarkan Manu untuk tenang dulu, aku tidak mau dia merasa semakin sedih akibat kita mengunjunginya sebaiknya biarkan dia sendiri dulu " Ambarawati setuju dengan putrinya " Ya ibu baru saja ingin bicara begitu denganmu, memang sebaiknya kita jangan dulu kesana saat ini kondisi Manu belum pulih dia masih dalam keadaan pingsan entah kapan dia bangun ibu tidak tahu. Ibu tidak sanggup melihat Manu terpuruk karena kehilangan bayinya jika waktunya sudah tepat kita akan pergi mengunjunginya. " Shivannya mengangguk " Ya ibu ".
Keesokan paginya Vikram masuk ke kamarnya untuk melihat istrinya dia terkejut karena tidak mendapati Tara disana " Dia pergi kemana? "
tanya Vikram namun dia tidak mempedulikannya dia mendekati istrinya yang masih tertidur lelap tangannya terulur mengelus kepala istrinya " Bangun lah Manu "
ucapnya pelan, pria itu lalu duduk di samping istrinya " Kapan kau akan membuka matamu? aku merindukan senyum mu, tawamu, wajahmu yang cantik saat tersenyum aku merindukan semuanya, aku mohon cepat lah bangun "
__ADS_1
Vikram mulai menangis kemudian dia melihat perut istrinya dia teringat bahwa disana sudah tidak ada darah dagingnya lagi dan selamanya tidak akan pernah ada, Vikram hanya bisa tersenyum miris dia menunduk memikirkan kembali reaksi istrinya yang mengetahui bahwa anak mereka sudah pergi meninggalkan mereka selamanya dan belum sempat lahir ke bumi, Nandini melihat putranya tengah menemani istrinya dia hanya menatapnya tanpa masuk ke kamarnya Madhuri memegang bahu ibunya dia ikut merasakan kesedihan ibu dan kakaknya Nandini memberikan senyuman kepada putrinya mereka pun pergi meninggalkan Vikram sendirian bersama istrinya. Shivannya masih terdiam di ruangannya bahkan makanan yang ada di atas meja dibawakan oleh pelayan tadi belum dia sentuh sama sekali dia masih memikirkan Manu yang masih belum sadarkan diri Padma pelayan setianya berdiri di sampingnya dengan wajah tidak bisa ditebak dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Ratunya " Bawa makanan ini keluar Padma aku tidak berselera untuk makan " perintah Shivannya datar Padma hanya mengangguk menurutinya dia pun membawa nampan makanan itu keluar ruangan " Entah apa yang terjadi disana aku tidak bisa menebaknya, tapi aku harus kesana untuk bicara dengan kak Sanjaya mengenai pelaku yang telah mencelakai kakak ipar Manu,"
ujarnya dia pun berteriak memanggil panglima Kerajaannya " Nigam " kemudian masuk lah seorang pria dengan wajah tampan memberi hormat kepadanya " Ya Yang Mulia Ratu? " Shivannya menatapnya " Aku minta tolong kepadamu urus semua yang ada di Istana selama aku pergi, aku tidak tahu kapan aku akan kembali tapi aku minta padamu jaga semua yang ada disini termasuk ibuku jika ada masalah kirimkan aku sebuah surat, kau mengerti kan? " Panglima Nigam mengangguk mengerti " Baik Ratu " dia pun keluar dari ruangannya Shivannya terdiam dia pun memanggil pelayan untuk membantunya mengemasi barang-barangnya.