
Shivannya sudah sampai di Aradhya dia disambut oleh Nandini serta yang lainnya, dia bergegas pergi ke kamar Manu dan melihat wanita itu tengah berbaring lemah dia hanya berdiri air matanya kembali turun
" Kakak ipar " isaknya dia menghapus air matanya lalu Nandini datang dia melihat menantunya masih belum membuka matanya
" Shivannya, apakah Manu akan bangun dari tidurnya? " tanya Nandini matanya mulai berkaca-kaca Shivannya mengangguk dia menghibur bibinya itu " Ya bibi, kau tenang saja kakak ipar pasti akan membuka matanya "
Shivannya lalu mengajak Nandini keluar dari kamarnya dia bicara kepada semua orang yang ada disana " Aku memohon kepada kalian untuk tidak menceritakan apapun kepada kakak ipar, kita tidak mau kan kalau kondisi kakak ipar semakin memburuk setelah dia bangun kalian jangan memasang wajah sedih di depannya biarkan dia sampai sembuh total agar dia bisa kuat menerima semua tragedi yang menimpa dirinya. Sebisa mungkin aku minta kepada kalian kalau di depan kakak ipar kita harus berusaha tersenyum agar dia tenang dan tidak merasa sedih butuh waktu agar dia sembuh jika waktunya sudah tepat baru kita akan memberitahunya kepada kakak ipar, aku mohon kepada kalian untuk menjaga rahasia jangan sampai ada yang memberitahu kakak ipar mengenai hal ini " semua anggota keluarga mengangguk kemudian Shivannya mendekati Vikram dia mengusap bahu kakaknya
" Tenang kan dirimu kak " Vikram tidak kuasa menahan tangisnya dia memeluk tangan adiknya itu " Bagaimana aku bisa tenang? jika orang yang aku cintai mengalami hal seperti ini? aku sama sekali tidak bisa tenang aku merasa takut Shivannya jika nanti istriku itu meninggalkan diriku " Shivannya menggelengkan kepalanya " Tidak kak, percaya lah kakak ipar pasti akan sembuh, kita hanya perlu berdoa kepada Dewa agar kakak ipar segera sembuh dan cepat bangun dari tidurnya. Aku minta kepada kakak untuk tetap tenang jika kakak seperti ini maka kakak ipar pasti akan curiga sesuatu telah terjadi pada dirinya karena itu kakak harus kuat dan tenang, kakak harus membuat keluarga kakak untuk bersikap kuat jangan menyerah dan putus asa, Dewa pasti akan mengabulkan doa kita " Vikram menghapus air matanya dia mengangguk Shivannya tersenyum tipis.
Di sisi lain Tara tengah menyimak pembicaraan semua orang di aula Istana dia tersenyum menyeringai " Lihat saja, aku akan menghancurkan hidup Manu dan memisahkannya dari suaminya itu" , Shivannya memutuskan untuk menginap selama dua hari dia sudah mengirimkan surat kepada ibunya
" Madhuri " Madhuri terkejut ketika melihat Shivannya berdiri di belakangnya dia pun menghapus air matanya " Kakak "
" Sudah lah berhenti lah menangis " Madhuri hanya diam Shivannya lantas memeluk adiknya Tara melihat kakak beradik itu tengah berpelukan dia merasa kesal karena Shivannya memutuskan untuk menginap disini
" Sial, bagaimana caranya aku menjalankan rencanaku? selama ada dia disini aku pasti tidak akan bisa berkutik, apa yang harus aku lakukan? aku harus memberitahu ibu " Tara pun pergi ke kamarnya. Saat di kamar Tara langsung mengambil kalungnya dia memanggil ibunya saat itu juga suara ibunya muncul di kalung tersebut " Ada apa Gauri? "sepertinya ibunya habis menangis " Ada apa ibu? " tanya Tara " Tidak ada, cepat katakan ada apa? " Tara berjalan menuju kursi di kamarnya dia pun duduk dan mulai menceritakan masalah yang sedang dia hadapi
Tara: " Ibu kau harus membantuku "
Pragya : " Hah? membantu apa? sebenarnya ada masalah apa? "
Tara: " Aku sedang mengalami masalah disini, dan masalahku lebih berat dari biasanya "
Pragya : " Jangan bertele-tele cepat katakan saja apa masalahmu "
Tara: " Hah, Shivannya "
Pragya : " Shivannya? memangnya ada apa dengan gadis itu? maksud ibu apa dia membuat keributan denganmu? "
Tara : " Bukan ibu, dia datang kesini untuk menjenguk Manu "
Pragya : " Lalu apa masalahnya? dia ingin menjenguk saudari iparnya kan? ya sudah biarkan saja selama dia tidak membuat masalah denganmu "
Tara : " Ibu, dia menginap disini selama dua hari dan aku tidak bisa menjalankan rencanaku untuk mendekati Vikram. Aku pikir ini adalah situasi yang tepat untuk mendekatinya selama Manu belum membuka matanya "
Pragya : " Jadi itu masalahnya? "
Tara : " Ya ibu, karena itu ibu harus membantuku aku tidak bisa berpikir untuk mencari cara mengusir Shivannya dari sini "
Pragya : " Eh jangan diusir, sebentar ibu akan memikirkan rencana lain "
Tara : " Bagaimana? apa ibu sudah menemukan rencana lain? "
Pragya : " Ya ibu sudah menemukannya, dengarkan ibu baik-baik kau harus melakukan ini.....
Tara tersenyum senang mendengar rencana ibunya
Pragya : " Apa kau mengerti? "
Tara : " Ya ibu aku mengerti, terima kasih banyak ibu "
Pragya : " Ya sudah ibu pergi dulu, jaga dirimu "
Tara : " Baiklah ibu "
Tara menyeringai jahat dia merasa senang karena ibunya sudah membantunya memecahkan masalahnya " Lihat saja nanti"
ujarnya tersenyum, sore harinya Shivannya tengah berdoa di kuil Istana setelah itu dia hendak menuju kamar Manu namun dia melihat Tara tengah berjalan tergesa-gesa dia pun memanggilnya " Tara " Tara pun berhenti berjalan dia menoleh dan melihat Shivannya berjalan mendekatinya " Mau kemana? "
" Aku akan membuat makan malam untuk anggota keluarga Kerajaan tadi aku baru habis membersihkan gudang, maaf aku permisi dulu"
dia pun berlari menuju dapur Shivannya menatap gadis itu dia merasa tidak menyukai gadis itu entah karena apa.
Tara sampai di dapur dia mulai membuat makan malam untuk semua orang namun saat makanan hendak matang dia menyajikan makanan khusus untuk Shivannya dia mengambil piring dan meletakkan makanan disana, Tara dan beberapa pelayan lainnya mulai mengatur meja makan selesai mengatur meja makan dia kemudian mengambil piring dimana makanan Shivannya diletakkan disana kemudian dia menyimpannya agar tidak diambil oleh pelayan lain. Malam pun tiba semua anggota keluarga Kerajaan sudah bersiap duduk di meja makan para pelayan mulai keluar membawakan makanan di dapur Tara masih menyiapkan makanan penutup setelah itu dia pun keluar dari dapur dan membawakan makanan penutup serta makanan khusus untuk Shivannya
" Silakan dinikmati hidangannya " ujar Tara sambil tersenyum dia kemudian ingin meletakkan piring khusus Shivannya di meja tempat Shivannya duduk namun malang nasib makanan itu Shivannya tidak sengaja menyenggolnya hingga pecah ' Praang ' Shivannya lalu berdiri dia mengucapkan permintaan maaf karena tidak sengaja menyenggol piring itu " Tidak apa-apa Shivannya, Tara kau bersihkan pecahan piring itu" ucap Nandini, dengan kesal Tara mulai memungut pecahan piring tersebut dia lantas pergi ke dapur. Semua anggota Kerajaan mulai menyantap makanannya Tara kembali ke dapur dengan perasaan kesal rencananya gagal total
" Huch rencanaku sudah gagal total, gara-gara piring itu pecah rencanaku jadi berantakan "
dia menggerutu sambil membuang pecahan piring itu dia memutuskan untuk kembali ke kamarnya guna meredakan emosinya.
__ADS_1
" Shivannya, jalebi yang tadi dibuat oleh Tara itu kan sudah terbuang apa kau ingin memakannya lagi? biar Tara membawakannya kembali"
tanya Nandini, Shivannya menggeleng
" Tidak usah bibi, besok aku bisa makan jalebi kan? lagipula makanan ini masih banyak aku sudah sangat kenyang perutku tidak bisa lagi menambah makanan bibi " ujarnya tertawa
makan malam pun sudah selesai Shivannya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
" Uhm kenapa aku tidak bisa tidur ya? apa di Kavila semua baik-baik saja? lebih baik aku kirim surat saja " Shivannya pun mulai menulis surat untuk ibunya lalu mengirimkannya lewat burung merpati kesayangannya
" Dengan begini hati ku jadi lebih tenang, sebaiknya aku tidur " Shivannya mulai memejamkan matanya, keesokan paginya pintu kamarnya digedor oleh seseorang gadis itu membuka matanya dia mengernyit mendengar suara Madhuri di luar kamarnya dengan cepat Shivannya membuka pintunya terlihat disana sosok Madhuri tengah tersenyum girang
" Kakak ayo cepat ikut ke kamar kak Manu "
" Ada apa Madhuri? " tanya Shivannya kebingungan tanpa banyak bicara Madhuri menarik tangan Shivannya menuju ke kamar Manu, Shivannya masih memutar otaknya ada apa disana? apakah sesuatu telah terjadi kepada Manu? tapi di lihat dari ekspresi wajah Madhuri sepertinya ada hal gembira terjadi disana. Setelah sampai disana Shivannya dikejutkan oleh sebuah pemandangan disana Manu sudah sadar dari pingsannya dia duduk bersender di tempat tidur sambil tersenyum lembut hal itu membuat Shivannya berlari memeluknya " Kakak ipar " ucapnya senang Manu membalas pelukannya semua keluarga merasa senang atas kembalinya Manu
" Kakak ipar, hari ini aku sangat senang akhirnya kau bangun dari tidurmu " Manu tersenyum tipis " Ya kami sangat senang karena kau sudah bangun dari tidur panjangmu Manu " ujar Nandini menambahkan Tara yang melihat Manu sudah sadar hanya menatapnya dengan tatapan sinis ' Sial ' umpatnya dalam hati
" Uhm ibu apakah bayi ku baik-baik saja? " tanya Manu tiba-tiba sontak semua orang terkejut mereka terdiam ketika mendengar pertanyaan Manu mereka bingung mau menjawab apa Vikram yang duduk di samping istrinya menundukkan kepalanya " Kenapa kalian diam?" tanya Manu lagi dia bergantian menatap keluarganya " Suami ku apakah bayi ku baik-baik saja? " tanya Manu kepada Vikram
tenggorokan Vikram tercekat dia tidak bisa menjawab pertanyaan istrinya bahkan menatap matanya pun dia tidak mampu
" Kenapa kalian semua diam? tidak ada kah yang mau menjawab pertanyaanku? " Manu mulai gusar tiba-tiba Shivannya menjawabnya
" Ya bayimu baik-baik saja kakak ipar " jawabnya dia menarik nafas ketika mengatakan kebohongan menyakitkan itu kepada Manu
" Benarkah? " Shivannya mengangguk " Ya "
Manu langsung mengelus perutnya yang belum buncit " Sayang, ibu pikir kau sudah pergi meninggalkan ibu, setelah kejadian itu ibu sangat takut bahwa sesuatu yang buruk terjadi kepadamu nak, ibu tidak mau kehilangan dirimu jika kau pergi meninggalkan ibu entah apa yang akan terjadi kepadaku " ucapan Manu sontak membuat semua orang merasa sedih yang paling sedih adalah Vikram karena dia ikut merasakan sakit ketika mendengar ucapan istrinya dia tidak tahu bagaimana reaksi istrinya ketika mengetahui bahwa anak mereka telah tiada.
Vikram tengah melamun di balkon Istana saat itu juga Tara lewat dia melihat Vikram tengah termenung dengan wajah sedih kesempatan ini lah dimanfaatkan oleh Tara untuk bisa berduaan dengan Vikram, dia pun mulai mendekatinya " Pangeran " panggilnya Vikram menoleh dia melihat Tara di sampingnya
" Tara, apa yang kau lakukan disini? " tanya Vikram " Aku sedang lewat ingin ke taman menyiram bunga tapi aku melihat mu sedang melamun disini " Vikram mengangguk keheningan mulai menyelimuti mereka
" Ada apa Pangeran? kenapa kau terlihat sedih? apa ada sesuatu yang terjadi? " tanya Tara
" Ya " jawabnya singkat Tara pun mulai melancarkan aksinya dia berpura-pura memasang wajah sedih " Aku ikut turut berduka atas kejadian yang menimpa Tuan Putri, beliau mengalami kejadian tragis yang menyebabkan dia kehilangan bayinya, aku sangat mengerti perasaan dia karena aku juga pernah mengalaminya, kehilangan seorang anak memang menyakitkan bagi seorang ibu. Bagi seorang wanita memiliki seorang anak dan menjadi seorang ibu adalah hal yang sangat istimewa " dia menoleh ke arah Vikram pria itu hanya terdiam " Pangeran, tidak usah bersedih aku tahu ini memang sangat sulit untuk dihadapi tapi Pangeran harus kuat demi Tuan Putri jika Pangeran lemah maka siapa yang akan mendukung Tuan Putri, kau suaminya jadi harus kuat " Tara mencoba untuk memberi semangat kepada orang yang dia cintai dia tidak kuat jika harus melihat Vikram terus bersedih " Ya " lagi-lagi dia hanya menjawab singkat setelah itu Tara pergi meninggalkannya.
" Oh ya Dewa bagaimana ini bisa terjadi? "
dia duduk dengan tangan memijat pelipisnya
" Kenapa aku tidak tahu masalah ini? sebaiknya aku pulang sekarang ke Kavila " dia pun berdiri dan mulai mengemasi barang-barangnya saat itu juga Madhuri datang " Kakak kau mau kemana? " tanyanya Shivannya menjawabnya tanpa menoleh " Aku harus kembali ke Kavila ada masalah disana " , " Masalah apa kak? "
" Sebagian rakyat disana sedang mengalami sakit parah entah kenapa aku tidak tahu, makanya aku harus kembali kesana untuk memeriksa apa yang sudah terjadi disana "
Madhuri mengangguk mengerti
" Baiklah kalau begitu aku akan membantumu mengemasi barang-barangmu " Shivannya mengizinkannya. Selesai mengemasi barang-barangnya Shivannya kini berpamitan kepada semua anggota keluarga " Aku pergi dulu " katanya Nandini, Vikram, Sanjaya mengangguk
" Hati-hati di jalan Shivannya " ucap Nandini dia pun membekali keponakannya itu banyak makanan, obat-obatan serta barang lainnya
" Ambillah ini bibi harap itu bisa membantu rakyatmu yang sedang tengah sakit, semoga rakyat serta Kerajaanmu selalu dilindungi oleh Dewa dan terhindar dari marabahaya " Shivannya tersenyum " Terima kasih doanya bibi " dia pun menyentuh kaki Nandini untuk meminta sebuah berkah dan doa selanjutnya dia pun menyentuh kaki Vikram dan Sanjaya
" Baiklah kalau begitu aku pergi sekarang, kak Vikram ingat apa yang aku katakan oh ya titipkan salamku untuk kakak ipar, sampai bertemu lagi " Vikram mengangguk Shivannya berjalan menuju kereta kuda yang sudah menunggunya dia pun naik kesana lalu melambaikan tangannya.
Tara menyaksikan kepergian Shivannya dari balkon kamarnya " Bagus lah dia sudah pergi kini aku akan kembali menjalankan rencanaku selanjutnya " ujarnya diiringi seringai jahat, Manu yang merasa bosan di kamarnya mencoba untuk keluar dari kamarnya rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai begitu saja dia tidak mengikat rambutnya wanita itu berjalan pelan keluar dari kamarnya Tara yang melihat Manu keluar dari kamarnya pura-pura untuk membantunya " Tuan Putri "
Manu melihat Tara berjalan menghampirinya
" Kau mau kemana? kondisimu masih lemah, apa kau ingin jalan-jalan menghirup udara segar? mari aku bantu " Tara hendak membantunya namun Manu menepisnya
" Tidak usah aku bisa jalan sendiri "
" Tapi Tuan Putri kondisi mu masih lemah kau tidak akan sanggup jalan sendiri, biarkan aku membantumu " lagi-lagi Manu menolaknya
" Aku bilang tidak usah, apa kau tidak mendengar kan ku? aku bisa jalan sendiri lagipula aku tidak membutuhkan bantuanmu jadi tidak usah bersikap baik denganku "
kemudian Manu pergi dari hadapan Tara.
Tara Yang mendengarnya terkejut dia menatap Manu dengan wajah marah
__ADS_1
" Apa-apaan itu? beraninya dia bicara seperti itu? ada apa dengan dia? mmenyebalkan,rasanya aku ingin sekali membunuh nya " Tara lalu pergi dari aula, Manu berjalan menuju taman para pelayan yang sedang bekerja langsung menghampiri nya dan membantunya Manu pun duduk di kursi taman
" Tuan Putri apa anda ingin minum? " tanya pelayan " Tidak, aku hanya ingin duduk disini menghirup udara segar aku bosan di kamar"
pelayan itu pun berlalu dan melanjutkan untuk bekerja. Nandini melihat menantunya sedang duduk di taman " Manu " Manu menoleh
" Ibu " Nandini ikut duduk di samping menantunya " Kenapa kau keluar sayang? kondisimu kan -" Manu memotong ucapan Nandini " Ibu, aku tidak apa-apa aku baik-baik saja kondisiku sudah normal, ibu jangan cemaskan aku ya " Nandini mengangguk tersenyum " Oh ya ibu jika anak ku ini lahir aku sudah mempersiapkan nama untuk nya "
senyum di wajah Nandini seketika hilang
" Jika perempuan aku beri nama Radha tapi jika laki-laki aku beri nama Devsena, nama yang bagus kan bu? " ujar Manu tersenyum lebar dia mengelus perutnya sendiri Nandini melihat itu
dia benar-benar merasa sedih ketika melihat senyum di wajah menantunya dia tidak bisa membayangkan ketika menantunya mengetahui fakta yang sebenarnya
" Sayang, cepat lah kau lahir ya ibu ingin sekali melihat mu, menggendong mu dan mengajarimu banyak hal kalau kau sudah lahir ibu akan menemani mu setiap hari, rasanya ibu tidak sabar untuk melihat dirimu lahir ke dunia ini. Oh ya sayang ibu sudah menyiapkan nama untukmu ibu berdoa agar kau cepat lahir dan bertemu dengan ibumu ini sayang " Manu masih mengelus perutnya yang belum membesar dia mengira bayinya masih ada di rahimnya dia masih asyik bicara dengan perutnya yang sudah tidak ada kehidupan disana, Nandini mengusap air matanya dia sedih melihat menantunya seperti ini
" Lihat, bahkan nenekmu juga sudah tidak sabar untuk melihat mu lahir, dia bahkan sampai menangis saking bahagianya menantikan kelahiran dirimu " Manu mengira bahwa air mata yang keluar dari mata Nandini adalah air mata kebahagiaan padahal itu adalah air mata kesedihan.
Malam harinya, Manu menyisir rambutnya dia bernyanyi pelan Vikram datang ke kamarnya dia melihat sang istri sudah pulih dia merasa bahagia namun dia kembali teringat akan anaknya yang sudah tiada air matanya pun kembali tumpah namun buru-buru Vikram menyeka air matanya agar Manu tidak mengetahuinya " Manu" panggilnya Manu menoleh dia melihat suaminya ada disana
" Suamiku, kenapa berdiri disana? ayo sini "
Vikram pun duduk di kasur dia memperhatikan istrinya yang sedang menyisir rambutnya
" Suamiku aku ingin memberitahumu sesuatu"
ucap Manu sembari duduk di samping suaminya " Apa itu? " tanya Vikram, Manu berdiri dia membuka laci lemarinya dan mengeluarkan sebuah kotak " Ini buka lah "
Vikram membuka kotak tersebut " Ini apa? "
Manu tersenyum " Ini adalah pakaian untuk anak kita kalau sudah lahir " Vikram terdiam dia menatap dalam mata istrinya " Anak kita? "
ulang Vikram " Ya, aku telah merajut dan membuat pakaian ini untuk anak kita, kau tahu aku membuat ini ketika aku dinyatakan hamil dan aku langsung membuat pakaian ini untuk anak ku " Vikram menunduk " Kau suka kan? "
tanya Manu dengan berat hati Vikram mengangguk kan kepalanya pelan
" Kalau begitu, ini akan aku simpan dulu aku tidak sabar untuk bertemu dan melihat wajah lucu dia, aku juga tidak sabar mengajak dia bicara walaupun di dalam perut aku akan mengajak dia bicara agar dia mengerti apa yang di katakan oleh ibunya " Vikram menanggapinya dengan senyuman tipis dia tidak membalas apa yang dikatakan oleh istrinya karena dia bingung harus balas apa
" Kalau begitu aku harus bertemu kak Sanjaya dulu ada hal yang ingin dibicarakan soal hal lain" Manu mengangguk Vikram pun langsung pergi dari hadapan istrinya. Vikram berjalan lunglai dia masih memikirkan ucapan-ucapan istrinya yang masih terbayang di pikirannya pria itu berjalan menuju kolam Istana disana dia duduk menatap bayangan dirinya di dalam air
Vikram duduk disana sangat lama hingga Tara lewat di depannya " Kenapa Vikram ada disini?ini kan sudah larut malam, apa yang dia lakukan disini? " Tara tersenyum senang dia pun mulai mendekatinya " Pangeran " Vikram menoleh dia melihat Tara menyentuh pundaknya " Kenapa Pangeran ada disini? ini kan sudah larut malam, apa Pangeran tidak istirahat? " Vikram menggeleng Tara pun ikut duduk disitu " Aku boleh ikut duduk disini? "
Vikram hanya mengangguk Tara memandang wajah orang yang dia cintai ada sekelumit rasa sakit saat melihat Vikram yang terlihat tidak bersemangat begitu dia pun mulai mengajaknya bicara " Apa saat ini Pangeran tengah memikirkan Tuan Putri Manu? " pertanyaan itu membuat Vikram menoleh
" Bagaimana kau tahu? " Tara tertawa
" Pangeran, tanpa kau sadari aku sudah tahu bahwa kau tengah memikirkan Tuan Putri aku mengerti tentang perasaanmu mengenai bayi yang telah meninggal itu, aku mengerti jika saat ini kau tengah bingung,sedih dan takut untuk mengatakan hal yang sebenarnya kepada Tuan Putri, aku mengerti perasaannya karena aku pernah mengalami nya, kehilangan seorang anak memang sangat menyakitkan bagi seorang ibu, seorang ibu sangat mengharapkan kehadiran seorang anak, seorang ibu akan sangat senang ketika anaknya sudah lahir ke dunia ini dan seorang ibu akan merasa istimewa karena sudah berhasil melahirkan seorang anak.. Pangeran, jika kau terus seperti ini maka Tuan Putri akan curiga kepadamu sebaiknya kau jujur saja kepada Tuan Putri agar nanti dia tidak terkejut ketika mengetahui bahwa anaknya telah tiada " sontak hal itu membuat Vikram marah dia menatap tajam Tara " Apa maksudmu? kau ingin aku bicara jujur kepada Tara soal hal ini? apa kau sudah gila, tidak aku tidak akan memberitahu Manu jika waktunya belum tepat, sebaiknya kau pergi dari hadapanku " Tara terdiam dia menatap pria di depannya dengan perasaan sedih
" Bukan seperti itu maksudku Pangeran -"
" Cukup! aku tidak mau mendengar apapun lagi darimu Tara, kau sebaiknya fokus pada tugasmu itu aku tidak membutuhkan bantuanmu, sekarang kau pergi dari hadapanku jika kau memang tidak mau membantuku sebaiknya jangan lagi muncul di hadapanku "
Vikram menatap gadis cantik di depannya dengan penuh amarah Tara hanya diam dia pun berdiri dan pergi meninggalkannya Vikram menatap Tara sampai gadis itu hilang dari pandangannya.
" Keterlaluan " umpat Tara sambil menangis dia membanting pintu kamarnya gadis itu menutup wajahnya dengan bantal perasaannya kini bercampur aduk,Tara terus menangis memikirkan ucapan-ucapan Vikram yang masih terngiang-ngiang di kepalanya setelah puas menangis Tara melamun lalu dia teringat akan ucapan Vikram yang memintanya untuk tidak membantunya sebuah ide licik terlintas di kepalanya dia pun tersenyum menyeringai
" Kau akan aku taklukkan Pangeran Vikram, kau mungkin bisa mengusirku dan membentakku, kau mungkin bisa menyuruhku untuk tidak muncul dan mendekati dirimu tapi aku tidak akan menyerah aku akan melakukan sesuatu yang akan membuatmu jatuh cinta kepadaku. sebentar lagi permainan baru akan dimulai dan kau akan menjadi milikku " Tara menyeringai jahat, keesokan paginya Nandini mencari Tara
" Apa kau melihat Tara? " tanyanya kepada pelayan yang sedang membersihkan aula Istana " Saya belum melihatnya Ibu Ratu "
" Astaga kemana Tara? pagi-pagi sudah pergi, kemana gadis itu pergi? " Nandini terus mencarinya Manu melihat ibu mertuanya terlihat gusar dia pun mendekatinya
" Ibu, kau kenapa? " Nandini menjawabnya bahwa dia sedang mencari Tara
" Tara pergi pagi-pagi sekali, ibu tidak tahu dia kemana, ibu baru saja mau meminta tolong untuk menjahitkan pakaian ibu yang robek hanya Tara yang bisa melakukannya tapi ibu tidak tahu dia pergi kemana, ibu sudah mencarinya di seluruh Istana tetap tidak ada "
Manu menenangkan ibu mertuanya
" Ibu tenang lah, mungkin Tara keluar Istana karena membeli sesuatu ibu, dia lupa untuk minta izin karena terburu-buru sebaiknya kita tunggu saja ya bu " Nandini mengangguk
" Ya sudah ayo kita tunggu " keduanya kini kembali ke tempat lain.
__ADS_1
Hmm sebenarnya pergi ke mana ya Tara? apakah ada yang tahu kemana Tara pergi? tunggu bab selanjutnya ya....