
Shivannya tengah berdoa di kuil Kerajaannya ibunya datang menghampirinya dia melihat putrinya tengah melakukan ritual berdoa dia ikut bergabung bersama putrinya untuk memuja Dewa Siwa, selesai berdoa Shivannya berbalik dia melihat ibunya ikut berdoa gadis itu pun meletakkan piring pemujaan " Ibu " Ambarawati tersenyum menatap putrinya " Selesai melakukan ritual berdoa kita harus ke Aradhya "
kening Shivannya berkenyit bingung
" Hah? kita baru saja pulang dari sana kemarin kan bu, lalu kenapa kita pergi kesana lagi? apa ada masalah? " Ambarawati mengangguk pelan " Ya ada masalah, itu masalahnya kemarin Manu baru saja mengalami masalah " Shivannya melotot tidak percaya
" Apa? kakak ipar Manu mengalami masalah? "
kemudian Ambarawati menceritakan kejadian yang menimpa Manu, Shivannya terdiam entah kenapa dia merasa sedih mendengar berita yang baru saja ibunya sampaikan
" Ayo bu kita harus kesana, beritahukan Perdana Menteri untuk mengurus Kavila selama aku pergi kita akan disana sampai kakak ipar Manu sembuh total. Kita juga harus menyelidiki siapa penjahat yang berani berbuat kejam kepada kakak ipar ayo kita berangkat bu"
Shivannya dan Ambarawati meninggalkan kuil Istana mereka bergegas menuju Kerajaan Aradhya.
Vikram menemani istrinya yang masih dalam kondisi lemah Manu duduk di kasur sembari membaca sebuah buku padahal daritadi Vikram sudah memberitahunya bahwa dia tidak boleh membaca buku dalam kondisi seperti itu namun Manu bersikeras ingin membacanya alasannya adalah karena dia sedang bosan tiduran terus di kasurnya dia juga mengatakan ingin mengusir rasa bosannya itu dengan membaca buku, Nandini dan Madhuri masuk ke kamar Manu " Selamat pagi sayang " dia mencium kening menantunya itu Manu tersenyum melihat ibu mertuanya datang
" Selamat pagi juga ibu " Nandini lalu duduk di samping Manu dia menyuruh Madhuri mengambilkan makanan yang terletak di meja
" Ayo makan lah dulu ibu suapi ya " Nandini mulai menyuapi menantunya Madhuri tersenyum melihat ibunya merawat Manu yang bertingkah seperti anak kecil matanya lalu melihat buku yang ada di pangkuan Manu
" Wah buku apa itu kak? boleh aku meminjamnya? " Manu mengangguk dia kemudian memberikan buku itu kepada Madhuri " Terima kasih kak aku akan membacanya disini " gadis itu pun duduk di kursi mulai membaca buku.
Vikram mengerucutkan bibirnya manyun Nandini melihat tingkah putranya itu
" Ada apa Vikram? kenapa kau manyun seperti itu? apa kau ingin menyuapi istrimu? " Vikram menggeleng keras " Tidak ibu, daritadi kau hanya memperhatikan menantumu saja padahal kan anakmu juga ada disini ibu tidak adil " Nandini tertawa mendengarnya
" Wah putra ibu juga masih suka cemburu ya? sayang kau sudah besar malu dilihat sama istrimu, ayo ubahlah sikapmu itu jangan seperti anak kecil, lihat istrimu mulai tertawa melihat tingkahmu yang seperti anak kecil. Vikram anakku sudah jangan seperti itu lagi " Vikram terdiam sementara Manu masih tertawa melihat suaminya cemburu seperti anak kecil
" Ya sudah karena Manu sudah selesai makan ibu tinggal dulu, ayo Madhuri kita keluar "
Madhuri mengangguk dia lalu meletakkan buku itu "Eh tidak usah dikembalikan dulu kau boleh meminjamnya, bawa saja bersamamu dulu nanti baru dikembalikan " ujar Manu tersenyum tipis " Benarkah? terima kasih banyak kakak ipar aku janji akan membacanya sampai habis kelihatannya cerita ini seru aku jadi penasaran dengan kelanjutannya, sekali lagi terima kasih banyak kakak ipar kau memang kakak iparku yang terbaik " Manu hanya tertawa lalu Nandini dan Madhuri keluar dari kamar mereka, Manu melihat suaminya hanya diam saja dia jadi merasa bersalah karena sudah menertawakannya " Apa kau marah? " Vikram menoleh Manu memegang kedua ujung telinganya " Maaf " Vikram mendengus kesal
" Aku benar-benar minta maaf karena sudah menertawakanmu jangan marah lagi suamiku, nanti ketampananmu bisa hilang kalau kau terus saja marah, kau mau kan memaafkanku?"
Manu mencoba memasang tampang minta dikasihani Vikram akhirnya mengalah karena tidak suka melihat istrinya bersikap seperti itu
" Baiklah aku akan memaafkanmu tapi ada satu syaratnya " Manu menatapnya bingung " Apa? "
" Kau jangan menyuruhku tidur di kamar lain lagi, aku tidak mau berpisah denganmu tidur di kamar lain seolah-olah aku berpisah lama denganmu kau tahu ini rasanya seperti kita belum menikah saja, jangan marah lagi ya jangan berikan aku hukuman seperti itu lagi setelah ini aku berjanji tidak aman mendekati ataupun mencintai wanita lain selain dirimu "
senyum di wajah Manu mengembang dia memeluk suaminya erat Vikram dengan senang hati membalas pelukan istrinya.
Shivannya dan ibunya sampai di Kerajaan Aradhya, mereka turun dari kereta Madhuri dan yang lain menyambut kedatangan mereka
" Kakak " Madhuri memeluk Shivannya Ambarawati mengucapkan salam kepada Nandini " Selamat datang Ambarawati "
kemudian mereka masuk ke dalam Istana.
Madhuri menceritakan kejadian semalam yang menimpa Manu, Shivannya cukup terkejut mendengarnya lalu mereka sampai di kamar Manu dengan sopan Shivannya mengetuk pintu kamar itu " Ah Shivannya silakan masuk "
ucap Vikram tersenyum Shivannya masuk dia melihat Manu sudah membaik wajahnya yang kemarin pucat kini sudah bersinar lagi
" Salam kakak ipar, salam kakak " Shivannya memberi salam kepada kedua kakaknya
" Salam kembali untukmu Shivannya " ujar Vikram, Shivannya duduk di samping Manu
__ADS_1
" Bagaimana kabarmu kakak ipar? apa kau sudah sembuh? " Manu tersenyum mengangguk " Ya aku sudah sembuh aku baik-baik saja " mereka berbincang ringan kadang mereka tertawa ketika mendengar lelucon yang dilontarkan oleh Vikram tiba-tiba Sanjaya datang dengan raut wajah serius Shivannya berdiri " Ada apa kakak? apa semua baik-baik saja? " Sanjaya menggeleng " Tidak " keempat orang itu saling pandang bingung " Maksud kakak? apa telah terjadi sesuatu? " tanya Vikram. Sanjaya menatap keempat adiknya
" Aku telah memutuskan untuk mencari pelaku yang mencoba untuk membunuh Manu " sontak semua orang terkejut mendengarnya Shivannya memandang kakaknya penuh tanya
" Maksud kakak? kakak kan menyelidiki masalah ini? tapi bagaimana kau akan melakukannya? " tampak Sanjaya berpikir sebentar " Mudah saja jika kita menemukan bukti yang berupa racun itu maka kita semakin mudah menangkap pelakunya " Madhuri menyenggol tangan Shivannya dan berbisik
" Tidak usah dicari pun pelakunya adalah dia "
Shivannya mengangguk dia kemudian memutar otaknya mencari cara untuk menangkap pelakunya " Uhm kak aku mempunyai ide "
Sanjaya penasaran dengan ide sang adik
" Pertama kita harus mencari obat itu kita akan membentuk tim, tim pertama adalah Kak Sanjaya, aku dan - " ucapan Shivannya terpotong karena Jhanvi dan Gauri datang
" Ah ya kak Jhanvi lalu tim kedua adalah Kak Vikram, Madhuri dan juga Gauri, bagaimana apa kakak setuju dengan ideku? " Sanjaya berpikir mengenai ide adiknya sedangkan Jhanvi menyikut lengan Gauri
" Ada apa dengan Shivannya? dia tiba-tiba bicara mengenai tim? apakah akan ada pertandingan? " Gauri pun ikut berbisik
" Entah lah kak tapi yang pasti ini sangat mencurigakan kita harus hati-hati karena gadis itu sangat licik dan juga pintar kita harus waspada yang lebih jelas kita ikuti saja dan cari tahu apa arti dari semua ini " Jhanvi mengangguk setuju.
" Ya idemu sangat bagus aku setuju ayo kita pergi sekarang Jhanvi ayo kita pergi " Jhanvi mengangguk mengikuti suaminya begitu juga dengan Shivannya tapi sebelum itu dia berpesan kepada ibu dan bibinya yang baru saja datang " Ibu, bibi bisakah kalian menjaga kakak ipar Manu? kami harus pergi sebentar untuk menyelidiki masalah ini kata kak Sanjaya masalah ini harus segera diselesaikan agar tidak ada korban lagi, jadi aku minta tolong kepada kalian jagalah kakak ipar sebentar saja sampai kami berhasil menyelesaikan masalah ini " kedua wanita itu mengangguk " Pergilah sayang, selesaikan masalah ini agar tidak ada orang lain jadi korban kami akan menjaga Manu pergilah " Gauri yang baru saja keluar dari kamar Manu terkejut mendengarnya
' Menyelidiki masalah Manu? astaga dugaanku benar ternyata ini sangat mencurigakan jadi Shivannya membuat tim agar kami semua berhasil menemukan racun itu dan menangkap pelakunya? tidak, tidak ini tidak boleh terjadi jika kakak ipar Jhanvi tertangkap maka semua usaha kami yang selama ini kami kerjakan akan menjadi sia-sia. Ya Dewa apa yang harus aku lakukan? ' Vikram melihat Gauri tidak ada di samping Madhuri dia menoleh melihat Gauri terdiam di depan kamar Manu " Gauri ayo cepat" Gauri tersadar dari lamunannya dia gelagapan mendengar teriakan kakaknya maka dia pun ikut pergi menyusul Vikram dan Madhuri. Tim 1 terus berusaha mencari botol racun itu mereka mencarinya di dapur dan halaman Istana " Ah begini saja kak aku dan kak Jhanvi mencarinya di dapur karena orang itu pasti melakukan kejahatannya di dapur kan? kau mencarinya di halaman Istana saja " Sanjaya mengangguk " Baiklah jika kalian menemukannya temui aku di halaman Istana "
dia pun pergi meninggalkan kedua adiknya
Jhanvi merasa ketakutan dia takut jika perbuatannya itu diketahui oleh suaminya sendiri ' Aduh bagaimana ini? aku dijebak oleh gadis sialan ini bagaimana caranya aku keluar dan pergi menjauhinya? ' Jhanvi berkata dalam hati keringat dingin mulai membasahi wajahnya dia gelisah beberapa kali dia mencoba untuk tenang Shivannya melihat kakak iparnya diam di depan ruang dapur dia pun menariknya
" Kakak jangan diam saja ayo kita harus segera menemukan racun itu, oh ya agar kakak tidak tertinggal lagi aku ikatkan selendangku di tangan kakak ya. Kakak kerjanya melamun saja jadi biar kakak tidak hilang aku ikatkan selendangku disini jadi aku bisa mengajak kakak dan kakak tidak hilang lagi dariku "
Madhuri, Vikram, Gauri juga sibuk mencarinya pikiran Gauri tidak ada disitu pikirannya melayang memikirkan cara agar bisa lolos dari mereka ' Aku harus bagaimana? aku tidak mau ikut tertangkap jika aku ditangkap maka harapanku untuk menikahi Vikram menjadi hancur, aku harus mencari cara agar bisa lolos dari mereka ' pelan-pelan Gauri berniat meninggalkan kedua saudaranya dia berjalan pelan agar tidak menimbulkan suara tidak sengaja dia menginjak sesuatu sehingga gelang kakinya berbunyi, Madhuri menoleh dia melihat gelagat Gauri yang ingin kabur
" Hei kau mau kemana? ayo bantu kami jangan coba-coba untuk lari Gauri, semakin cepat kita menemukannya maka pelaku itu semakin cepat ditangkap kau tidak ingin masalah ini selesai? "
Gauri menggeleng pelan " Tentu saja ya ayo kita cari lagi " Madhuri menatapnya sinis
' Akan aku pastikan kau tidak bisa kabur hari ini seluruh kejahatanmu akan terbongkar, niat busukmu akan segera diketahui terus lah bermimpi untuk menikahi kak Vikram karena itu tidak akan pernah terjadi kau dan Jhanvi akan segera mendekam di penjara secepatnya, aku tahu dari tadi sikapmu itu menunjukkan bahwa kau sedang ketakutan mari kita lihat apa yang akan terjadi '. Jhanvi merasa lelah karena Shivannya terus menyeretnya dia tadi mengeluh capek tapi tidak didengarkan oleh Shivannya wanita itu merasa kesal ingin rasanya dia mencabik-cabik wajah cantik itu
Shivannya mencari botol racun itu di taman belakang Istana karena menurut pengakuan pelayan Istana Manu memakan manisan itu di taman belakang sendirian, Shivannya berharap pelakunya itu menjatuhkan botol racun tersebut tiba-tiba matanya melihat benda kecil tergeletak di atas rumput Shivannya mengambil botol itu dia terkejut ketika melihat isi dari botol tersebut " I-i-ini racun kan? " Jhanvi menoleh dia terkejut ketika melihat botol yang ada di tangan Shivannya dia terdiam cukup lama ' Bagaimana bisa botol itu ada disini? bukankah aku sudah menyimpannya di selendangku? lalu bagaimana bisa jatuh di sini?' Jhanvi mencoba mengingat apa yang terjadi, kemarin kemarin dia memberikan manisan itu kepada Manu ketika ingin berjalan masuk ke Istana dia tidak menyadari bahwa botol racun itu jatuh di rumput taman, Jhanvi menutup mulutnya dengan mata membulat sempurna keringatnya semakin mengalir deras .
" Kakak ipar coba lihat aku berhasil menemukan racunnya " ucap Shivanya senang dia melirik sedikit ekspresi Jhanvi yang mulai ketakutan ' Huh sudah kuduga dia pelakunya bagaimana jika aku tanya sedikit mengenai racun ini dia pasti akan menjawabnya, wah ini akan menjadi adegan seru ' Shivannya mulai mengajukan pertanyaan " Kak ini racun jenis apa ya? bukan kah racun ini yang menyebabkan kakak ipar Manu jatuh pingsan? oh ya kau mengetahui semua jenis racun karena kau pernah belajar di suatu asrama kan? jadi kau pasti tahu ayolah kak beritahu aku mengenai racun ini " Jhanvi berusaha untuk mengabaikan pertanyaan menjengkelkan itu dia menggeleng pelan " Tidak, a-a-a-a-aku tidak mengetahuinya jadi sebaiknya kita kembali lagipula racunnya sudah ketemu kan? ayo kita bawa ke Yang Mulia " Shivannya menyeringai mendengarnya suara Jhanvi tiba-tiba gugup dia juga sangat gelisah " Hmm baiklah jika kakak tidak mau memberitahuku maka aku akan memanggil tabib untuk memeriksa racun ini " Jhanvi tersentak kaget tapi dia berusaha tenang
" Baiklah terserah kau saja, bisa lepaskan ikatan ini? aku capek aku ingin istirahat " Shivannya melihat ikatan selendang di tangan mereka " Ups maafkan aku kak tapi aku tidak bisa membukanya karena sekarang kita harus ke aula Istana disana kak Sanjaya pasti sudah menunggu kita, ayo pergi" Jhanvi mengerucutkan bibirnya kesal dia mendengus menatap marah ke arah Shivannya namun gadis itu tetap tenang tanpa ada rasa bersalah.
Sanjaya sudah berada di aula Istana begitu juga dengan Madhuri, Gauri dan Vikram mereka menunggu kedatangan Jhanvi dan Shivannya daritadi mereka sudah mencari botol racun itu tapi tetap tidak menemukan apapun tak lama kemudian kedua perempuan itu datang Jhanvi berusaha menyamakan langkah Shivannya yang cepat dia merasa benar-benar kesal ingin sekali rasanya dia menghabisi gadis itu sekarang juga, Sanjaya melihat adik dan istrinya datang
" Kalian darimana saja? apa kalian sudah menemukan botol racun itu? kami sudah mencarinya tapi tetap tidak ketemu juga " ucap Sanjaya kecewa Shivannya mengeluarkan botol itu dari balik selendangnya " Tadaaa aku sudah menemukannya " Jhanvi mendelik ke arah Shivannya dengan cepat gadis itu membetulkan ucapannya " Maksudku adalah aku dan kak Jhanvi yang menemukan botol itu "
Sanjaya mengambil botol itu dia tersenyum puas melihatnya " Baiklah ayo kita mulai sidangnya ini adalah bukti yang sangat penting dengan bukti ini kita bisa menangkap pelakunya, Vikram panggil semua pelayan dan penjaga kesini aku harus meminta penjelasan kepada mereka oh ya jangan lupa panggil ibu juga biarkan bibi Ambarawati yang menjaga Manu " Vikram mengangguk lalu pergi memanggil semua orang.
" Dan kalian, kalian tidak boleh pergi duduk disana kalian juga harus ikut menghadiri sidang Istana. Jhanvi duduk lah bersamaku " Jhanvi mengangguk pelan dia berjalan menuju singgasana bersama suaminya mereka berdiri menunggu semua orang berkumpul Vikram lalu muncul bersama ibunya, para pelayan dan juga para penjaga setelah semua orang berkumpul Sanjaya mempersilakan semuanya untuk duduk " Baiklah mari kita mulai sidang Istana ini, aku mengadakan sidang Istana ini untuk menangkap pelaku yang telah berani mencoba untuk membunuh Manu yaitu istrinya adikku sekaligus adik iparku. Jadi aku akan memberikan keadilan kepada Manu jika aku sudah menemukan pelakunya maka aku tidak akan membiarkan dia hidup walaupun cuma sebentar aku pasti akan mengakhiri hidupnya dengan cara menggantungnya " sontak Jhanvi menoleh dia terkejut mendengar hukuman yang diucapkan oleh suaminya sendiri maka dari itu dia hanya diam saja tanpa bicara
" Jadi aku memanggil kalian semua kemari untuk meminta penjelasan siapa tahu diantara kalian ada yang tahu dan mengenali penjahat itu, jadi mari kita mulai sidangnya " semua orang mengangguk sidang berjalan lancar semua pelayan mengaku tidak ada yang berani memasukkan racun ke dalam makanan Manu begitu juga dengan para penjaga mereka tidak melihat ada orang yang mencurigakan masuk ke Istana dan tidak melihat orang luar atau orang asing masuk ke Istana. Sanjaya berpikir dari semua jawaban yang diberikan oleh pelayan dan penjaga semuanya berkata jujur dia tahu jika mereka tidak mungkin mengkhianati dirinya ataupun keluarga Kerajaan, Gauri terdiam dia terus berdoa agar sidang Istana ini segera berakhir daritadi matanya tidak lepas memandang Jhanvi yang hanya duduk diam dengan wajah pucat
' Oh ya Dewa tolong bantulah kami buatlah agar sidang ini segera selesai aku sudah tidak tahan duduk disini lagi, bagaimana jika salah satu diantara kami ketahuan? atau kami berdua yang ketahuan telah melakukan perbuatan kejam kepada Manu? bagaimana ini? aku sama sekali tidak bisa berpikir untuk membuat alasan agar bisa kabur dari sidang ini kak Jhanvi juga daritadi dia hanya diam aku yakin dia pasti tidak bisa berpikir jernih sama seperti diriku. Dia sudah terpojok bagaimana mungkin dia bisa berpikir? aku harus melakukan apa? tolong kami Dewa saat ini kak Jhanvi tidak bisa menyelamatkan nyawa kami berdua jika kami ketahuan maka habislah, ah sudah lah terima saja hukumannya mungkin memang waktunya untuk kami berdua mati di tangan kak Sanjaya '
__ADS_1
Shivannya melirik Gauri yang terus menggigit kukunya cemas dia tersenyum miring melihatnya gadis itu pun menyikut lengan Madhuri " Coba perhatikan raut wajah Gauri "
bisik Shivannya gadis itu melihat wajah pucat Gauri " Ya kak kau benar wajah Gauri berubah jadi pucat hihihi ini akan semakin seru, mari kita lihat apa yang bisa dilakukannya dalam situasi seperti ini apakah dia masih bisa menggunakan otak pintarnya itu? " Shivannya tertawa pelan mereka berdua pun kembali diam.
Sanjaya lalu memutuskan untuk mengakhiri sidang Istana ini hal itu membuat Jhanvi dan Gauri tersenyum lebar mereka akhirnya selamat dari maut tapi tiba-tiba Shivannya berdiri
" Tunggu dulu kak " semua orang menoleh padanya termasuk Jhanvi dan Gauri
' Mau apa lagi sih dia? ' mereka menggerutu dalam hati, Shivannya berjalan turun dari tangga " Maafkan aku kak tapi apa kau ingin mengakhiri sidang Istana ini? apa kau sudah melupakan janjimu kepada kakak ipar Manu untuk menangkap pelaku yang mencoba untuk membunuhnya? " Sanjaya mengangguk
" Ya aku akan mengakhiri sidang ini lagipula memang tidak ada orang asing yang masuk ke Istana, jika memang ada orang yang mencurigakan masuk ke Istana ini para penjaga pasti sudah melaporkannya kepadaku untuk janji itu maafkan aku, aku tidak bisa menepatinya anggap saja ini sebuah kecelakaan " Shivannya mengerutkan keningnya " Kecelakaan? kau sebut masalah ini hanya kecelakaan? masalah ini hampir saja merenggut nyawa Manu kak kita hampir saja kehilangan dia, aku tidak terima jika masalah ini disebut kecelakaan dan ini bukan lah masalah sepele ini masalah menyangkut nyawa orang kakak " Sanjaya terdiam dia menatap adik sepupunya itu " Lalu aku harus bagaimana? harus kah aku menyelidiki kembali masalah ini lagi? " Shivannya mengangguk
" Ya kau harus kembali menyelidiki masalah ini bukti kuat sudah ditemukan kan kak? sekarang kita tinggal menemukan orangnya saja, jika memang pelakunya bukan orang luar ataupun orang asing yang masuk ke Istana ini pasti pelakunya itu adalah orang dalam yang berarti orang terdekat atau keluarga " semua orang terkejut mendengarnya Sanjaya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh adiknya itu
" Keluarga? mana mungkin mereka ingin melakukan tindakan keji itu kepada keluarga lainnya, kau jangan asal menuduh Shivannya aku - " tangan Shivannya menghentikan Sanjaya untuk bicara " Sudah kuduga kau tidak akan percaya kakak tapi mari kita buktikan siapa pelakunya " , Jhanvi buru-buru berdiri dia menatap Shivannya dengan marah
" Apa maksudmu? kau ingin menguji kita semua? sudah lah Yang Mulia jangan dengarkan dia anggap saja masalah ini sebuah kecelakaan dan itu-" lagi-lagi ucapan Jhanvi terpotong oleh Shivannya " Ya aku ingin menguji kalian semua untuk itulah aku datang kesini, aku datang kesini ingin membantu kalian untuk menyelesaikan masalah ini karena aku punya cara untuk menangkap penjahat itu sejak awal aku sudah mencurigai seseorang tapi aku tidak tahu bagaimana harus menangkapnya, karena itu aku akan memberikan solusinya untuk menangkap pelakunya " Jhanvi dan Gauri menatap tajam Shivannya tapi gadis itu tidak peduli akan tatapan mematikan itu.
" Katakan kepadaku bagaimana caranya? "
tanya Sanjaya, Shivannya tersenyum tipis
" Ada satu solusi yaitu pelayan harus menghidangkan manisan ladoo lagi, bukankah waktu itu kakak ipar tengah memakan manisan ladoo kan? jadi aku ingin kalian semua mencicipinya agar kita tahu siapa pelakunya "
Jhanvi langsung menolaknya " Apa kau sudah gila? kau ingin kami semua mati akibat memakan racun? ide gilamu sungguh keterlaluan " Shivannya tersenyum lembut
" Jangan khawatir kakak ipar, aku tidak akan menyuruh semua orang untuk mencicipinya "
kening Jhanvi mengernyit bingung
" Lalu? " Shivannya lagi-lagi tersenyum tipis
" Lihat saja nanti, bagaimana apa kakak setuju dengan ideku? " Sanjaya berpikir sejenak dia kemudian mengangguk setuju " Ya aku setuju "
kemarahan Jhanvi tidak terbendung lagi dia ingin meninggalkan sidang itu tapi tidak bisa dia hanya diam berusaha menahan amarahnya ,Shivannya pergi ke dapur untuk memerintahkan pelayan memasak manisan ladoo kemudian para pelayan datang membawa tiga piring besar berisi manisan ladoo " Nah perhatikan sekarang ada tiga piring berisi manisan ladoo salah satu diantara piring itu sudah ditaburi racun itu, dan sekarang pilih lah piring mana yang tidak berisi racun kalian lalu cicipi manisan itu selamat mencoba "
Shivannya berdiri di samping meja yang berisi tiga piring itu. Sanjaya memerintahkan semua orang untuk mencicipi manisan tersebut setelah semua orang mencicipi manisan itu kini giliran Jhanvi dan Gauri yang mencicipinya
" Haruskah kita memakannya? " tanya Jhanvi pelan Shivannya mengangguk " Ya kalian harus memakannya " dengan ragu Jhanvi mengambil laddoo dia ragu-ragu untuk memasukkannya ke dalam mulutnya begitu juga dengan Gauri mereka saling pandang dengan mata terpejam dan pasrah Gauri dan Jhanvi memasukkan manisan itu ke mulut mereka akan tetapi Jhanvi langsung membuangnya ke lantai
" Aku tidak bisa memakannya " semua orang terkejut mendengar Jhanvi berteriak Gauri yang berada di sampingnya ikut membuang manisan itu " Aku juga tidak ikut memakannya " semua jadi bingung melihat tingkah Jhanvi dan Gauri.
" Kenapa kalian tidak memakannya? ini manisannya enak sekali " Shivannya mengambil manisan itu dan memberikannya kepada Gauri dan juga Jhanvi tapi tangan Jhanvi menepisnya dengan kasar " Tidak, aku bilang aku tidak mau memakannya " Shivannya tersenyum tipis
" Tapi kenapa kalian tidak mau memakannya? apa kalian takut mati? coba lihat aku telah memakannya hmm rasanya lezat, aku ambil lagi ya " baru saja Shivannya ingin mengambil manisan lagi suara Jhanvi membuat semua orang terdiam " Ya karena aku menaruh racun itu ke dalam manisan itu untuk membuat Manu meninggal " karena sudah tidak tahan lagi Jhanvi bicara jujur kepada semua orang dia juga merasa dirinya sudah terpojok tidak ada lagi tempat untuk menghindar, Sanjaya tercengang mendengarnya " Apa yang kau katakan? " Jhanvi mulai menangis dia memberitahu semuanya kepada semua orang dia juta mengaku bahwa dirinya dan Gauri yang telah merencanakan semua ini bahkan Gauri pun terdiam dia merasa kecewa karena kakak iparnya itu malah membuatnya ikut terseret ke penjara " Ke-ke-kenapa kalian berdua tega melakukan tindakan keji seperti itu? kenapa kau tega melakukan itu Jhanvi? ayo jawab aku "
Sanjaya mulai meluapkan amarahnya memaksa istrinya untuk berdiri " Tatap aku Jhanvi, tatap mataku ini " dengan takut Jhanvi menatap mata suaminya yang sudah dikuasai oleh amarah " Aku mohon maafkan aku suamiku, aku sudah melakukan tindakan kejam " Sanjaya menatap wajah istrinya yang sudah dipenuhi oleh air mata dengan marah Sanjaya mendorong istrinya Gauri memeluk kakak iparnya " Kakak aku mohon tolong maafkan kami berdua jangan hukum kami kak, ampuni kami kakak kami telah bersalah dan kami juga telah mengakui kesalahan kami, tolong jangan hukum kami kak aku mohon kepadamu " Sanjaya menatap kedua perempuan itu dengan dingin " Aku tetap akan menghukum kalian berdua karena sudah melakukan tindakan kejam seperti itu, aku berjanji tidak akan membiarkan kalian hidup selamanya " Sanjaya memanggil penjaga Gauri dan Jhanvi terus memohon agar dirinya tidak dihukum mati
" Bawa mereka pergi dari sini aku tidak mau melihat wajah mereka, masukkan mereka ke penjara bawah tanah sekarang juga " para penjaga mengangguk mereka mulai mengajak Jhanvi dan Gauri masuk ke penjara bawah tanah " Tidak, jangan bawa kami kesana suamiku aku mohon kepadamu berikan aku satu kesempatan untuk menebus kesalahanku aku tidak mau berada disana " Sanjaya menarik rambut istrinya " Lebih baik kau diam saja daripada harus mengoceh terus, mulutmu itu tidak akan berpengaruh kepadaku kau sudah membuat suamimu kecewa dan kau juga sudah membuat keluargaku berada di ambang kehancuran jadi lebih baik tutup mulutmu itu dan pergilah " Sanjaya berbalik dia tidak mau melihat istrinya bahkan teriakan istrinya tidak dihiraukan.
" Sidang hari ini sudah selesai kalian boleh pergi " Sanjaya keluar dari aula Istana terlebih dahulu dia ingin menenangkan dirinya sendiri, Vikram menghampiri Shivannya
" Luar biasa kau sudah membuktikan kalau mereka itu bersalah tapi aku masih penasaran apakah kau serius memasukkan racun ke semua manisan itu? " Shivannya tertawa keras " Hahahahahaha tentu saja tidak kakak jika aku memasukkan semua racun itu ke dalam manisan pasti semua orang sudah meninggal disini setelah memakannya, racun itu tidak butuh waktu lama untuk merenggut nyawa orang setelah orang itu memakannya sebentar saja mereka akan langsung meninggal, aku berbohong agar Jhanvi dan Gauri mau mengakui kesalahan mereka jadi aku harus menggunakan cara itu, bagaimana apa aku itu pintar? " Vikram tersenyum tipis " Ya kau memang pintar sekali lagi terima kasih kau sudah membantu kami memecahkan masalah ini " Shivannya mengangguk " Ya kak sama-sama itu lah gunanya punya saudari pintar " dengan kesal Vikram mencubit pipi adiknya itu sontak Shivannya jengkel melihat sikap kakaknya, dia pun mengejar Vikram dibantu oleh Madhuri " Ayo kak kejar dia " ujar Madhuri tertawa lebar kedua gadis itu masih mengejar Vikram yang sudah berbuat usil kepada adiknya...
Jangan lupa like dan komen ya terima kasih.....
__ADS_1