
Shivannya masih bertapa dia terus berdoa agar Dewa Siva mendengar doanya sementara itu, di Istana semua menunggu Priya bangun dari tidurnya Vikram selalu setia duduk di sampingnya tangannya tidak pernah lepas dari tangan dingin Priya
" Ku mohon bangun lah, buka matamu Priya aku ingin melihatmu lagi sebentar lagi Shivannya akan membawa obat penawar racun untuk dirimu " Vikram terus menangis entah berapa lama dia menangis sampai-sampai matanya bengkak dan air matanya jadi kering. Sanjaya yang berdiri di sampingnya mengusap pundak adiknya dengan lembut Vikram menatap kakaknya yang dibalas anggukan oleh Sanjaya, Nandini diam memandang tubuh gadis itu yang mulai membiru air matanya terus turun dia tidak tega melihat gadis itu yang kesakitan dia sudah menganggap Priya sebagai anaknya sendiri.
Sebuah cahaya terang berwarna kuning keemasan menyinari wajah Shivannya gadis itu mengernyitkan dahinya karena silau terkena cahaya tersebut perlahan Dewa Siva muncul di hadapan Shivannya beliau tersenyum lembut memandang Shivannya yang masih berdoa, Dewa Siva memanggil gadis itu " Shivannya " merasa namanya dipanggil Shivannya perlahan membuka matanya dia tersenyum melihat Dewa Siva berdiri di depannya cepat-cepat gadis itu berdiri sembari memberi salam
" Salam Dewa Siva " Shivannya memberi salam pada beliau, Dewa Siva tersenyum lembut ke arahnya " Ada apa kau memanggilku? " Tanya Dewa Siva, Shivannya lalu menceritakan kejadian yang menimpa Priya " Begitulah kejadiannya, aku sudah berusaha mencari obatnya tapi tidak berhasil, kami semua sudah berusaha mengobatinya dan menghilangkan semua racun di tubuhnya tapi tetap tidak berhasil juga, aku datang kesini dan berdoa kepadamu agar aku bisa menemukan obat penawar untuk Priya mungkin saja anda tahu obat apa itu yang bisa menghilangkan racun ular berbahaya. Karena itulah aku membutuhkan bantuanmu Dewa Siva tolonglah aku untuk menyembuhkan temanku Priya " Shivannya menangis ketika bicara mengenai Priya dia bersungguh-sungguh ingin menyelamatkan Priya bahkan dia rela mengorbankan nyawanya agar Priya bisa sembuh kembali, dia tidak tega melihat kakaknya yang sangat mencintai gadis itu.
" Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan hidupnya " Ujar Dewa Siva sembari menatap Shivannya gadis itu diam sambil menghapus air matanya " Benarkah itu? " Dewa Siva mengangguk beliau lalu membuka telapak tangannya matanya terpejam seperti sedang fokus pada sesuatu Shivannya menunggunya sambil terus ikut berdoa, Dewa Siva membuka matanya beliau melihat telapak tangannya sudah ada sebuah daun berwarna hitam Shivannya memandang daun itu
" Itu daun apa Dewa Siva? " Tanya Shivannya
Dewa Siva mengambil tangan gadis itu lalu meletakkan daun itu di telapak tangannya
" Gunakan lah daun ini, aku sudah memberi racun ularku kedalam daun ini dan daun ini akan menyembuhkan temanmu itu. Seluruh racun yang sudah menyebar di tubuhnya akan hilang maka dari itu kau harus menggunakan daun ini " Shivannya melirik daun berwarna hitam itu " Tapi bagaimana caranya aku menggunakan daun ini? " Dewa Siva tersenyum " Kau harus memasukkan daun ini ke dalam mulut Priya agar gadis itu memakannya jika Priya memakannya racun ularku akan menghilangkan racun berbahaya yang ada di dalam tubuhnya " Shivannya mengangguk sambil tersenyum akhirnya obat penawar untuk menyelamatkan hidup temannya berhasil dia temukan Shivannya kembali bersimpuh dia menunduk sampai kepalanya menyentuh tanah sambil menangis dia terus mengucapkan terima kasih
" Terima kasih Dewa Siva, anda sudah menolongku terima kasih banyak sudah membantu menyelamatkan hidup temanku, aku benar-benar berterima kasih kepadamu. Terima kasih banyak Dewa Siva " Shivannya memandang Dewa Siva dengan senyuman lembut, Dewa Siva membalas senyuman gadis itu beliau pun memejamkan matanya perlahan cahaya kuning keemasan mulai menyinari tubuhnya kemudian sosok Dewa Siva mulai menghilang dari pandangan Shivannya.
Shivannya sekali lagi mengucapkan terima kasih kemudian dia berdiri dan berlari meninggalkan goa itu, gadis itu berlari menuju Kerajaan Aradhya dia terus memasang senyuman lebar di tempat lain tepatnya di Kerajaan Singaloka Mannav tersenyum licik begitu mendengar adiknya berhasil dibunuh oleh siluman ular yang dia kirimkan untuk membunuh Manu, dia berdiri sambil menatap sebuah kolam air yang bisa memperlihatkan orang lain Mannav melihat adiknya lewat pantulan air itu Arun yang berada di samping adiknya ikut tersenyum licik
" Kau lihat kak? gadis itu sudah terbaring tidak berdaya di tempat tidur perlahan racun itu akan menyebar ke seluruh tubuhnya lalu tidak lama lagi dia akan meninggal selamanya, satu penghalang sudah aku hancurkan sekarang tidak ada satupun yang bisa menghentikanku untuk membunuh Ratu yang sombong itu " Mannav mengeratkan giginya menahan amarah sedangkan Arun yang di sampingnya tertawa keras
" Hahaha kau benar sekali Yang Mulia, sekarang kau bisa menguasai Kerajaan Kavila dan membunuh wanita itu " Mannav mengangguk keduanya tersenyum menyeringai jahat melihat adik mereka yang terbaring lemah. Shivannya berlari masuk ke dalam Istana dia berteriak memanggil semua orang Nandini, Gauri, Madhuri serta Sanjaya menghampirinya " Ada apa Shivannya? " Tanya Nandini, gadis itu menarik tangan Nandini dan mengajaknya pergi ke kamar Priya.
Vikram tertidur sambil menggenggam tangan dingin Priya dia mendengar pintu kamar terbuka Vikram berdiri melihat adiknya masuk ke kamar, begitu sampai di dekat tempat tidur dimana Priya terbaring Shivannya duduk di sebelahnya dia mengusap kepala temannya dengan lembut " Lihat Priya aku sudah menemukan obat penawar untukmu, kau pasti akan segera sembuh " Shivannya memegang kedua pipi Priya yang mulai dingin perlahan dia membuka mulut gadis itu yang memulai memucat Shivannya mengambil daun yang ada di genggaman tangannya perlahan dia memasukkan daun itu ke mulut Priya ' Cepat bangun Priya kami semua menunggumu, kami sangat sayang padamu '
Shivannya berdoa dalam hati, setelah itu dia mengusap kepala Priya sekali lagi sambil tersenyum Vikram yang duduk di samping Priya bertanya kepada adiknya
" Apa yang kau masukkan ke dalam mulut Priya? " Shivannya menatap kakaknya
" Itu adalah obat penawar, aku sudah menemukannya dan aku juga dibantu oleh Dewa Siva beliau memberikan obat itu kepadaku ini semua berkat bantuan yang beliau berikan kepadaku, aku sangat berterima kasih kepadanya " Semua orang terkejut mendengarnya kemudian mereka mengucapkan terima kasih kepada Dewa Siva karena sudah membantu menyelamatkan Priya. Beberapa hari kemudian tabib mulai memeriksa kondisi Priya semua orang ada di kamar Priya untuk mengetahui kondisi gadis itu " Syukurlah kondisinya sudah membaik, Dewa sudah membantunya dari bahaya yang hampir mengancam nyawanya, ini semua berkat Dewa Siva beliau sudah membantu gadis ini " Semua orang bernafas lega mereka tersenyum bahagia mendengar kondisi Priya yang sudah membaik , tidak henti-hentinya mereka mengucapkan terima kasih kepada Dewa Siva namun ada satu orang yang tidak suka mendengar kabar sembuhnya Priya yaitu Gauri dia pun pergi meninggalkan kamar itu dengan perasaan marah.
__ADS_1
" Ah sial kenapa dia harus bangun lagi? sudah bagus jika dia itu mati kenapa dia hidup lagi? ini benar-benar kacau aku tidak akan bisa menikahi Vikram jika dia masih hidup, dia adalah penghalang yang harus aku musnahkan kalau dia hidup maka dia akan mengacaukan pernikahanku dengan Vikram. Tidak, ini tidak boleh terjadi aku harus melakukan sesuatu ya aku harus membuat dia menyingkir dari Vikram " Gauri melempar semua barang yang ada di kamar itu dia mengacak rambutnya kesal dia benar-benar muak dengan Priya maka dia harus menyingkirkan gadis manis itu, Vikram menatap Priya yang duduk di kasurnya sedang bicara dengan Shivannya
' Akhirnya dia bangun juga dari tidurnya, aku bisa melihat wajahnya lagi ' Vikram tersenyum tipis sambil memperhatikan wajah manis Priya, Shivannya yang melihat kakaknya senyam-senyum melihat wajah Priya ikut tersenyum " Baiklah aku harus membantu Bibi menyiapkan keperluan untuk pernikahan kak Sanjaya, Kakak tolong jaga Priya " Vikram segera tersadar dari lamunannya dia pun mengangguk cepat
" Ah ya aku akan menjaganya, kau pergilah "
Priya melongo mendengar ucapan Vikram yang menyuruh adiknya cepat pergi dari kamar itu Shivannya mengangguk sambil tersenyum dia pun beranjak pergi meninggalkan kamar itu meninggalkan dua insan yang sedang dimabuk cinta.
" Pangeran " Panggil Priya yang masih duduk di kasurnya Vikram menatapnya " Ada apa? "
Tanyanya dia berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Priya, gadis itu menatapnya dengan gugup " Anu itu, kenapa kau mengusir Ratu Shivannya? dia masih ingin bicara denganku" Vikram mengerutkan keningnya
" Maksudmu? " Dia pura-pura tidak mengerti
" Maksudku adalah sepertinya Ratu Shivannya masih ingin bicara denganku tapi kau malah mengusirnya " Priya menunduk dengan wajah malu dia memelintir ujung rok sarinya
" Hahaha apa kau pikir aku mengusirnya? tidak, aku tidak mengusirnya tapi dia sendiri lah yang ingin pergi jadi itu bukan salahku "
" Baik baik aku akan kesana tapi kau harus disini untuk menjaga Priya, apa kau mengerti?" Vikram menyuruh pelayan itu untuk tetap di kamar menemani Priya. Pelayan itu pun mengangguk kemudian Vikram pergi ke bawah tapi sebelum itu dia sempat melempar senyuman ke arah Priya gadis itu pun membalas senyumannya.
Shivannya menggeram kesal bagaimana tidak musuh bebuyutannya ada disini seluruh penghuni Istana mulai ketakutan Mannav beserta kakaknya Arun ada disana mereka datang dengan senyum lembut sangat lembut sehingga membuat Shivannya muak melihatnya, Nandini mempersilakan mereka untuk duduk semuanya diam tidak ada yang berani untuk bicara sedari tadi Shivannya dipegang oleh Ibunya yang sejak tadi datang
" Jangan membuat keributan Shivannya tetaplah diam disini " Shivannya melirik Ibunya dengan malas rasanya dia ingin menghancurkan hidup pria itu, lalu Vikram datang dengan langkah malas dia tetap memasang senyuman bagaimanapun dia berperan untuk menggantikan kakaknya menyambut tamu yang datang menghadiri pesta pernikahannya namun langkahnya berhenti ketika melihat Mannav yang tersenyum ke arahnya
' Apa yang dia lakukan disini? kenapa dia datang? apa-apaan wajahnya yang sok akrab begitu? itu membuat aku semakin muak melihatnya ' Vikram menatap Mannav dengan tatapan tajam dia berjalan menyambut tamu yang merupakan Mannav orang yang dia benci seumur hidupnya begitu sampai di depan Mannav, Vikram hanya menyambutnya dengan senyuman tipis lalu dia berlalu menuju Ibunya belum sampai Vikram melangkah sebuah gebrakan terdengar di telinganya ' Brak ' Vikram menoleh dia melihat Mannav yang tersenyum sambil menggebrak pegangan kursi sampai retak. Semua orang terkejut melihatnya begitu juga dengan Shivannya dia semakin marah melihat Mannav yang mulai ingin menghancurkan pesta pernikahan Sanjaya, Mannav berdiri dia tersenyum sambil menatap semua orang yang ketakutan " Apa-apaan tadi? Kenapa kau tidak menyambutku dengan benar?begitu kah caramu menyambut seorang Raja yang perkasa ini? dasar tidak sopan, tingkat kesopananmu itu sudah berkurang Pangeran Vikram kau itu sudah tidak pantas disebut seorang Pangeran " Mannav mulai bicara pedas sambil tersenyum lembut semua orang saling pandang satu sama lain sedangkan Vikram hanya diam Shivannya yang melihat kakaknya mulai akan dihina maju membelanya " Yang Mulia Raja Mannav " Shivannya berteriak memanggil Mannav, Mannav melihat seorang gadis berdiri di samping Vikram dengan tatapan menyelidiki dia pun mendekati Shivannya
" Wah wah rupanya ada gadis yang cantik disini, siapa namamu gadis manis? " Shivannya terdiam dia berpikir bagaimana mungkin Mannav tidak mengenali dirinya? apa mungkin karena dia berdandan sedikit berbeda sehingga Mannav tidak mengingat dirinya? atau mungkin dia hanya pura-pura saja agar dirinya itu lengah? Shivannya tidak peduli dia maju dan berdiri di depan Vikram
" Jika kau ada masalah dengan cara penyambutan dari kakakku sebaiknya kau pergi dari sini " Shivannya menatap sinis Mannav yang berdiri tersenyum licik.
" Memangnya kau siapa? Raja Sanjaya saja tidak keberatan jika aku datang menghadiri upacara pernikahannya, lalu kenapa kau yang harus repot? sebaiknya kau diam saja gadis manis karena aku ada urusan dengan gadis lain yang tinggal di Istana ini " Ujar Mannav, Shivannya tidak mengerti maksud dari ucapan Mannav " Maksudmu dengan gadis lain? gadis siapa yang kau maksudkan? disini hanya ada tiga orang gadis yaitu aku dan kedua adikku, tidak ada gadis lain lagi di Istana ini" Mannav tertawa terbahak-bahak dia mendekati Shivannya " Kau cantik juga "
__ADS_1
Dia menyentuh dagu Shivannya tapi gadis itu menamparnya dengan keras ' Plak ' Semua orang terkejut melihatnya termasuk Nandini, Ambarawati, Madhuri dan Vikram, Shivannya menampar wajah Mannav dengan keras
" Jangan sentuh aku, aku tidak sudi disentuh oleh pria brengsek seperti dirimu " Mannav hanya tersenyum menyeringai sedangkan Arun mengenali suara Shivannya dia pun mendekati Mannav " Kau adalah Ratu Shivannya kan? " Tanya Arun sambil menunjuk Shivannya yang tersenyum menyeringai " Ya itu aku, ada apa Raja Mannav kau sudah tidak mengenaliku lagi? sampai-sampai kau menyuruhku diam? " Mannav terkejut melihat Shivannya yang menatapnya dengan mata tajam. Mannav menatap Shivannya dari atas sampai bawah
" Benarkah kau Ratu Shivannya? tapi kenapa penampilanmu berbeda? hari ini kau terlihat seperti gadis remaja lihat pakaianmu kau tidak cocok mengenakannya, astaga aku sampai tidak mengenalimu karena kau sangat cantik aku sampai terpesona oleh dirimu "
Shivannya terdiam dia membiarkan Mannav mengoceh tidak jelas sampai dia mengangkat tangannya " Diam " Mannav terdiam ketika mendengar Shivannya menyuruhnya diam.
" Katakan saja siapa gadis itu? " Shivannya langsung menyuruh Mannav untuk mengatakan siapa gadis yang dia maksud dengan senang hati Mannav mengatakan siapa gadis yang dia maksudkan itu
" Priya " Semua terkejut begitu mendengar nama Priya disebut termasuk Shivannya dia tidak mengerti dengan maksud Mannav yang mengatakan bahwa gadis itu yang diinginkan oleh Mannav " Priya? apa maksudmu itu? " Tanya Vikram bingung, lalu Mannav mulai memberitahu siapa itu Priya sontak mata semua orang membulat ketika mendengar bahwa Priya adalah Manu adik dari Raja Mannav " Tidak, itu tidak mungkin Priya bukanlah Manu, dia adalah Priya gadis lugu dan penuh dengan sopan santun tidak mungkin dia adalah adikmu " Nandini tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Mannav, Mannav tersenyum licik dia kembali duduk di kursinya " Tidak percaya? baik aku akan membuktikannya, kakak bawa gadis itu ke sini sekarang juga " Mannav memerintahkan Arun untuk membawa Priya ke hadapannya, Arun pun mengangguk kemudian dia berjalan menuju lantai atas untuk membawa Priya namun Vikram menghentikannya " Hentikan " Dia mendorong Arun menjauh " Jangan coba-coba untuk membuat keributan disini, jangan kau pikir kakakku tidak ada kau bisa membuat onar disini, pergilah dari sini pengawal bawa dia pergi dari sini " Sedetik kemudian Vikram terpental ke belakang semua orang menganga tidak percaya apa yang mereka lihat.
Madhuri berteriak kencang menghampiri kakaknya " Kakak " Dia memeluk Vikram yang berusaha berdiri terdapat beberapa luka memar di bagian tubuhnya Mannav tertawa keras dia menatap tajam semua orang yang mulai ketakutan " Kalian semua lebih baik diam jika tidak ingin terluka seperti dia, cukup diam dan lihat apa yang akan aku lakukan terhadap gadis bodoh itu " Shivannya mengeratkan tangannya dia ingin menghentikan Mannav tapi lagi-lagi Ibunya menghentikannya " Diam disini Shivannya "
Shivannya menatap Ibunya
" Apa yang Ibu maksud? Ibu menyuruhku diam? aku tidak bisa diam melihat dia membawa Priya dengan kasar Ibu, aku harus menghentikannya " Ambarawati menarik putrinya " Diam nak, Ibu tidak ingin kau terluka dia pasti tidak akan bersikap kasar kepada Priya jadi tenanglah " Mau tidak mau Shivannya akhirnya menuruti permintaan Ibunya, Mannav mendekati kakaknya dia memegang bahu kakaknya sembari berbisik
' Bawa dia kesini, jika dia tidak mau seret dia sampai mau kau boleh memukulnya jika dia melawan kak, aku ingin menghancurkannya cepat bawa dia kesini " Arun mengangguk dia pun pergi menuju kamar Priya, Mannav tertawa keras sambil melihat semua orang termasuk Shivannya dia tersenyum menyeringai menatap wajah gadis itu.
Priya yang duduk di kasurnya sembari membaca buku mendengar suara keributan dari luar kamarnya dia pun meminta pelayan itu untuk melihat apa yang sedang terjadi, dia menunggu pelayan itu datang sampai dia melihat pelayan itu di dorong dengan kasar oleh seorang pria mata gadis itu membulat ketika melihat sosok yang dia benci ada di hadapannya, Priya cepat-cepat berusaha berdiri dia menjauh begitu Arun mulai mendekatinya " Ada apa Manu? kenapa kau menjauh? ayo sini peluk lah kakakmu hahaha aku akan membawamu pulang ke Singaloka, Mannav ada disini kami ingin menjemput adik kesayangan kami mendekatlah Manu " Priya menggeleng keras dia terus berusaha menjauh sementara Arun terus mendekatinya
" Pergi dari sini jangan dekati aku, cepat pergi dari sini aku tidak mau kembali ke tempat mengerikan itu, jangan paksa aku untuk kembali ke sana pergi " Priya berteriak keras dia hendak berlari keluar namun tangannya dicegah oleh Arun. Priya berusaha berontak melepaskan diri tapi tenaga Arun lebih kuat dia mencengkeram erat tangan gadis itu sampai menyebabkan memar dia menarik gadis itu untuk keluar dari kamar, Arun terus menarik Priya sedangkan gadis itu terus memberontak sambil berteriak meminta tolong " Lepaskan aku lepas, hentikan jangan menarikku terus brengsek aku tidak mau pulang ke Istana itu lagi, lepaskan aku arghh sakit aku mohon tolong lepaskan aku " Arun tidak mempedulikan teriakan Priya dia terus menarik gadis itu sampai ujung roknya tersangkut di sebuah pot sehingga membuat Priya jatuh " Ahhhhh " Dia merintih kesakitan, Arun yang melihat itu tidak peduli dia menyeret selendang yang ada di bahu gadis itu dia membawa gadis itu menuju aula Istana.
Shivannya diam sambil menunggu kedatangan Arun dan Priya sampai telinganya mendengar teriakan dari gadis itu dia melihat Arun menyeretnya dengan kasar mata semua orang membulat tidak percaya terlebih lagi Vikram hatinya terasa panas melihat gadis yang dicintainya diperlakukan seperti seekor binatang dia menangis sambil menahan luka di tubuhnya, Madhuri, Nandini dan Ambarawati mulai meneteskan air mata mereka hati mereka sakit melihat Priya diperlakukan seperti itu mereka tidak tega mendengar jeritan minta tolong yang keluar dari mulut gadis itu Mannav tertawa keras melihat adiknya diseret seperti itu dia merasa sangat puas setelah sampai di depan aula Istana, Arun mendorong Priya sampai wajah gadis itu membentur lantai " Arghhhh " dia menjerit kesakitan Arun dan Mannav tertawa kencang melihat gadis itu yang babak belur Mannav mendekati Priya yang masih diam sambil menangis dia menyuruh Arun untuk memukul wajahnya Arun pun menurutinya
pria itu menjambak rambut gadis itu agar wajahnya terlihat dia melihat wajah gadis itu yang sudah sedikit lebam dengan tawa yang keras dia pun mulai memukul wajah Priya sampai gadis itu terus menangis dia menjerit meminta tolong, Shivannya yang melihat itu tidak tahan lagi dia pun melepaskan tangan Ibunya.
Shivannya mengambil pedang yang ada di dinding tembok Istana dia pun berjalan ke arah Arun dengan wajah penuh amarah dia mengayunkan pedang itu ' Crash ' pedang itu mengenai tangan Arun hingga membuat pria itu membalikkan tubuhnya dia menatap sinis ke arah Shivannya " Lepaskan Priya, jika tidak aku akan membunuhmu dengan memotong kedua tanganmu itu " Shivannya berdiri dengan masih memegang sebuah pedang, Mannav yang melihat itu mengambil pedang yang dibawa oleh Shivannya
" Lebih baik kau diam saja dan lihat apa yang akan terjadi " Shivannya membuang wajahnya ketika Mannav menatapnya dengan penuh gairah ' Menjijikkan ' Gumam Shivannya dalam hati dia melihat Priya terus dipukul oleh Arun " Hentikan, aku mohon hentikan arhhhh sakit Yang Mulia Ratu tolong aku, hentikan brengsek lepaskan aku " Priya memberontak berusaha melawan lalu Mannav menyuruh Arun untuk menghentikan aksi memukulnya " Hentikan kakak, jika kau ingin aku lepaskan beritahu siapa dirimu kepada semua orang yang ada disini dengan begitu aku akan melepaskanmu, beritahu siapa dirimu gadis manis maka jika kau memberitahu semua orang maka dengan senang hati aku akan melepaskanmu" Priya menatap tajam kakaknya dia berusaha berdiri Mannav dan Arun tersenyum licik Priya menatap semua orang yang hadir di aula Istana dengan menghela nafas dia pun mulai membuka mulutnya " Aku Adalah Tuan Putri Manu " Semua orang terkejut mendengarnya begitu juga Nandini, Ambarawati,Madhuri,Vikram dan Shivannya mereka tidak percaya apa yang mereka dengar. Priya menatap kakaknya Mannav hanya tersenyum licik " Adikku Manu, kakak bawa dia pergi " Arun mengangguk dia mulai menyeret Manu lagi Vikram yang melihat itu mulai memukul Arun dengan kasar sehingga terjadi pertarungan antara dua pria hebat itu. Akankah Vikram berhasil mengalahkan Arun? atau Arun yang berhasil membunuh Vikram? tunggu kelanjutan ceritanya ya....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya terima kasih...