PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 16.


__ADS_3

Manu yang masih kesal kepada suaminya hanya diam saja dia memutuskan untuk tidak keluar kamar sementara Vikram duduk di balkon kamarnya dia merenung memikirkan istrinya yang masih dalam mode ngambek,


Shivannya beserta yang lainnya sudah kembali ke Kerajaan Aradhya Nandini yang melihat tidak ada siapapun di Istananya mulai bertanya kepada pelayan " Dimana Vikram dan Manu? "


pelayan tersebut mengatakan bahwa mereka telah kembali ke Istana dan beristirahat di kamarnya lalu Nandini berjalan menuju kamar anak dan menantunya di depan pintu dia melihat bahwa pintu itu tengah terkunci dia pun mulai mengetuknya ' Tok Tok Tok ' namun Manu tidak mendengar ketukan di pintu kamarnya Nandini mencoba lagi mengetuknya kali ini dengan sedikit keras ' Tok Tok Tok '


Manu yang mendengar suara ketukan di pintu segera bangun dari kasurnya dia membuka pintunya dan terkejut melihat ibu mertuanya ada disana " Ibu? " Ujar Manu, Nandini tersenyum lembut " Ya sayang ini ibu, ada apa?"


Manu menggelengkan kepalanya pelan


" Tidak apa-apa ibu uhm ibu sudah kembali dari kuil? " Nandini mengangguk " Ya kami sudah kembali " Nandini melihat kamar Manu kosong anaknya tidak ada disana dia menatap Manu dan bertanya " Dimana suamimu? " Manu terdiam sebentar lalu menjawabnya


" Dia ada di luar ibu mungkin di aula Istana "


Nandini kemudian mengajak Manu untuk keluar menuju aula Istana.


Vikram yang mendengar bahwa ibunya telah kembali segera pergi ke aula disana dia melihat istrinya berdiri tapi tidak mau menatap wajahnya Manu membuang wajahnya ke arah lain agar tidak melihat sang suami, Vikram paham dengan Manu dia mengerti bahwa istrinya masih marah kepadanya dia lalu menyapa ibunya " Ibu kau sudah kembali? "


Nandini tersenyum " Ya ibu sudah pulang " kemudian dia melirik menantunya dan putranya " Ada apa dengan kalian? sepertinya kalian tengah bertengkar? " Manu dan Vikram saling menatap " Tidak bu, kami tidak bertengkar benar kan Manu? " Vikram menatap istrinya, Manu tersenyum tipis " Ya ibu kami tidak sedang bertengkar ibu salah melihat, kami baik-baik saja " Nandini tersenyum miring


" Benarkah? " mereka berdua serentak mengangguk bersama " Ya ibu " Nandini lantas tertawa melihat mereka " Baik baik ibu percaya kepada kalian ya sudah kalian harus berjanji tidak boleh bertengkar lagi mengerti? " keduanya mengangguk " Baik ibu " Nandini lalu memeluk menantu dan anaknya " Kemarilah "


sang ibu mulai memeluk keduanya dengan penuh kasih sayang, di sisi lain tampak Gauri memandang ketiganya dengan mata kebencian Jhanvi yang melihat ekspresi wajah Gauri hanya diam melihatnya.


Shivannya memutuskan untuk pulang ke Kerajaan Kavila bersama ibunya setelah memasukkan semua barang di kereta dia mulai berpamitan kepada semua orang Ambarawati memeluk kakaknya Nandini kedua kakak beradik itu berpelukan Ambarawati menyentuh kaki kakaknya meminta berkat dengan senang hati Nandini memberikan berkat kepada adiknya, kemudian Manu datang bersama Vikram kali ini Manu tidak mengikat rambutnya dia membiarkan rambutnya tergerai tetapi dia memakai sedikit perhiasan Manu menghampiri Shivannya lalu memeluknya Shivannya membalas pelukan kakak iparnya


" Cepatlah kembali " Ujar Manu berbisik kepadanya Shivannya mengangguk


" Tentu saja " matanya melirik Gauri dan Jhanvi


gadis itu melepaskan pelukannya dan menatap kakak iparnya " Berhati-hatilah dengannya " Ucap Shivannya sembari terus menatap Gauri dan Jhanvi. Manu melihat apa yang dilihat oleh Shivannya dia pun mengangguk


" Jangan khawatir aku pasti akan selalu berhati-hati dengannya " Manu tersenyum kepadanya Shivannya pun berpamitan kepadanya dan juga Vikram.


Jhanvi tersenyum lembut ketika melihat Shivannya menghampiri dirinya dia tampak senang karena sebentar lagi gadis itu akan meminta berkat kepadanya namun Shivannya hanya mengatupkan kedua tangannya sembari tersenyum miring dan melewatinya, Jhanvi mengernyit bingung dia melongo melihat Shivannya tidak menyentuh kedua kakinya gadis itu hanya menyentuh kaki Sanjaya dan Nandini. Jhavi merasa marah dia hanya diam melihat Shivannya berpamitan kepada semua orang kini giliran Gauri menyentuh kaki Shivannya tapi gadis itu menolaknya


" Tidak usah kau menyentuh kakiku, kau tidak akan mendapatkan berkat dariku karena aku tidak akan memberimu berkat sampai kapanpun jadi jangan harap aku akan memberikannya kepadamu karena itu tidak diperlukan " Shivannya pergi meninggalkan Gauri yang terdiam mendengar ucapannya


selesai berpamitan kepada semua orang Shivannya dan ibunya mengatupkan kedua tangannya memohon izin untuk pergi.


Gadis itu pun naik ke kereta bersama ibunya sebelum itu dia melihat Madhuri dan Gauri dia tersenyum lembut lalu berbalik menatap jalanan, kereta mulai berjalan meninggalkan gerbang Kerajaan Aradhya, Gauri langsung masuk ke kamarnya diikuti oleh Jhanvi tapi terlambat gadis itu sudah mengunci pintu kamarnya " Gauri buka pintunya " Ujar Jhanvi menggedor pintu kamarnya Gauri tidak menghiraukannya dia memilih berbaring di kasurnya sambil menahan emosinya Jhanvi mendesah kasar dia pun pergi ke ruang rahasianya entah apa yang dia rencanakan. Manu berjalan menuju kamarnya dia duduk di depan meja riasnya dia melepaskan perhiasan yang melekat di tubuhnya hari ini dia ingin mandi untuk menyegarkan pikiran serta tubuhnya namun sebuah tangan memeluk dirinya dari belakang Manu terdiam tidak meresposnya " Apa kau masih marah padaku? "


Tanya Vikram pelan Manu tidak menjawabnya dia berdiri dan melepaskan tangan suaminya dari bahunya " Tunggu, kau mau kemana? " Manu melirik suaminya " Aku mau pergi mandi"


Vikram mengangguk pelan " Baiklah silakan " Manu masuk ke ruang mandinya melakukan ritual mandinya.


Jhanvi mulai melakukan sesuatu dia memiliki ilmu gelap kali ini dia membuat sebuah ramuan untuk menghancurkan hidup Manu dan menyingkirkan wanita itu dia terus menghafal mantra penghancur sebuah cahaya gelap masuk ke dalam ramuan itu, Manu telah menyelesaikan ritual mandinya dia masuk ke kamarnya hanya mengenakan saree orange polos dia melihat suaminya tidur di atas kursi kayu panjang wanita itu tersenyum tipis melihatnya dia mengambil selimut lalu menyelimuti suaminya setelah itu dia mulai berdandan. Selesai berdandan Manu melihat suaminya bangun tapi dia hanya cuek tidak menyapanya " Tadi siapa yang menyelimuti diriku? kau kah itu Manu? ah tidak bukan kau, kau kan masih marah padaku jadi mustahil kau yang melakukannya " Manu melirik suaminya di cermin wajahnya tersenyum tipis mendengar celotehan suaminya.

__ADS_1


Jhanvi keluar dari ruangan itu dia mengunci ruangan itu dengan kekuatan gelap lalu dia berjalan meninggalkan ruangan itu sambil membawa botol ramuan beracun saat di lorong dia melihat Madhuri berjalan ke arah yang sama dengannya ' Aduh ada Madhuri lagi aku harus bagaimana? ' batin Jhanvi dia menyembunyikan botol itu dibalik kerudungnya Madhuri melihat kakak iparnya berjalan dari arah yang berlawanan dia pun menyapanya


" Darimana kakak ipar? kau tampak buru-buru sekali berjalan? ada masalah kah? " Jhanvi menggeleng " Tidak, aku terburu-buru karena takut Sanjaya memanggilku tadi aku dari perpustakaan untuk melihat buku disana " Madhuri tersenyum tipis " Oh begitu baiklah aku juga akan ke perpustakaan sampai nanti kakak ipar " Jhanvi tersenyum tipis " Ya " dia bernafas lega akhirnya Madhuri tidak mengetahuinya untunglah ruangan itu dekat dengan perpustakaan jadi mudah bagi Jhanvi untuk berbohong jika ada orang yang bertanya.


Semua orang tengah sibuk begitu juga dengan Manu dia sibuk menghias kuil yang ada di Istana wanita itu mulai merangkai bunga serta menyalakan lilin di tempat lilin yang ada di kuil lalu menggantungnya, Gauri memperhatikan Manu bekerja dia hanya diam sementara Jhanvi dia menuju ke dapur disana sudah ada pelayan yang sedang memasak Jhanvi masuk ke dapur lalu menghampiri salah satu pelayan yang sedang membuat manisan " Permisi "


pelayan itu menoleh dia menunduk hormat


" Anda perlu sesuatu Ratu? " Jhanvi menggeleng " Ah tidak, aku hanya ingin melihat kau membuat manisan kalau boleh tahu kenapa kau membuat manisan? " pelayan itu cerita bahwa manisan ini untuk menyambut kedatangan Manu menjadi menantu di Kerajaan ini dan ini perintah dari Nandini


" Oh begitu uhm bisakah aku membantu membuatnya? aku juga kakak iparnya Manu kan jadi aku berhak untuk menyambutnya, biarkan aku yang buat manisannya kau pergilah buat makanan yang lain yang ini biar aku yang mengurusnya " ucap Jhanvi pelayan itu mengangguk lalu pergi ke tempat lain.


Jhanvi yang melihat pelayan itu pergi segera mengambil piring besar lalu mengambil beberapa manisan setelah itu dia mengeluarkan botol kecil di balik kerudungnya


membukanya dan meneteskan percikan racun ke dalam manisan tersebut, Jhanvi buru-buru menyembunyikan racun itu di balik selendangnya pelayan itu pun datang


" Yang Mulia Ratu kenapa kau meletakkan manisan ini ke dalam piring itu? bukan kah anda akan makan bersama yang lainnya? tapi kenapa manisan itu ada di piring yang lain? "


Jhanvi lalu mengatakan bahwa dirinya harus menyambut Manu sendirian karena ini sangat spesial jadi dia sendiri yang harus menyambutnya setelah itu dia pergi sambil membawa piring itu keluar dari dapur.


Jhanvi berjalan sambil membawa piring besar itu lengkap dengan makanan lainnya dia berjalan menuju taman sampai di taman dia melihat Manu tengah merawat bunga-bunga yang ada di taman sebuah seringaian muncul di wajah Jhanvi, dia pun mendekatinya " Manu "


Manu menoleh dia melihat kakak iparnya ada di sampingnya " Ada apa kakak? " dia melirik piring itu " Kau membawa makanan? untuk siapa? " Jhanvi tersenyum " Ini makanan untukmu aku membuatnya sendiri, aku buat khusus untuk dirimu karena kau sekarang sudah menjadi menantu di keluarga ini jadi aku sebagai kakak iparmu sekaligus Ratu di Kerajaan ini ingin menyambutmu. Aku lupa menyambutmu waktu itu jadi aku sekarang membuatkan manisan untukmu ayo kau harus makan " Jhanvi mengajak Manu untuk duduk tapi Manu tetap berdiri dia tidak ikut duduk


" Kenapa kau tidak duduk? ayo duduk lah "


Manu pun mengambil piring itu Jhanvi tersenyum melihatnya tiba-tiba seorang pelayan datang " Maaf Ratu anda dipanggil ke ruangan Ibu Ratu " Jhanvi mengangguk


" Baiklah kau boleh pergi " Jhanvi menatap Manu " Manu kau makan saja itu aku akan segera kembali ibu sudah memanggilku " Jhanvi pun pergi meninggalkan Manu sendirian di taman itu sambil terus menikmati makanan yang lezat. Manu terus memakan yang dibawa oleh Jhanvi setelah semua makanannya habis tinggal manisan saja yang belum dia sentuh untuk dimakan wanita itu tersenyum lebar begitu melihat manisan yang dia sukai ada di piring itu " Wah manisan kesukaanku " Manu mulai mencicipinya " Hmm rasanya enak " Manu terus memakannya sampai manisan terakhir, wanita itu merasa sangat kenyang ketika memakan semua makanannya namun tiba-tiba dia merasa tenggorokannya terasa sakit dia memegangnya dengan wajah menahan sakit " A-a-a-apa yang terjadi dengan tenggorokanku? kenapa rasanya sakit sekali aduh panas " Manu mencoba untuk berdiri rasa sakit itu terus bertambah dia memegang tenggorokannya yang mulai terbelit dengan rasa sakit.


" Aku harus mencari Vikram " Manu berjalan meninggalkan taman itu namun baru dia ingin naik ke tangga menuju kamarnya dia merasakan matanya mulai berkunang-kunang semua yang dia lihat menjadi semakin buram, Manu mencoba untuk membuat matanya tetap terbuka dia mulai menaiki anak tangga itu dengan perlahan tapi dia sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang dia alami tubuh Manu jatuh tersungkur tubuhnya terguling-guling di tangga wanita itu sudah dalam keadaan pingsan Manu pun terjatuh dari tangga kepalanya mengeluarkan darah disertai tenggorokannya yang mulai menghitam mulutnya mengeluarkan darah wanita malang itu terbaring di lantai. Madhuri yang baru saja keluar dari kamarnya berniat mencari kakak iparnya yaitu Manu dia ingin mengajaknya untuk berjalan-jalan gadis itu mulai turun dari tangganya tapi ketika di tangga terakhir Madhuri melihat pemandangan yang membuat dia terkejut Manu kakak iparnya telah terbaring dengan kondisi yang mengenaskan Madhuri berjalan cepat menghampiri Manu yang sudah dalam keadaan pingsan " Kakak " Madhuri mencoba membangunkan Manu dia menepuk-nepuk pipinya saat menyentuh kepalanya dia merasakan dingin begitu melihat telapak tangannya matanya membulat sempurna


" Darah " Madhuri melihat ada darah merembes dari kepala Manu.


" Kakak bangun kak, kakak " gadis itu berteriak dia pun mencari kakaknya Vikram dia berlari kencang dengan linangan air mata


" Kak Vikrammmmmmm " Vikram yang mendengar jeritan adiknya segera menghampirinya " Madhuri ada apa? " Madhuri tidak menjawab dia menarik tangan kakaknya menuju dimana Manu terbaring, sampai disana Vikram shock melihat keadaan istrinya tanpa banyak bicara dia menggendong istrinya menuju kamarnya " Madhuri cepat panggilkan tabib " Madhuri mengangguk dia berlari untuk memanggil tabib, Vikram membawa istrinya ke kamarnya tangannya penuh dengan darah sampai di kamar Vikram membaringkan Manu di kasur dia menyeka darah yang terus keluar


" Manu bangun " pria itu mencoba membangunkan istrinya tapi tidak berhasil kemudian tabib datang diikuti oleh Madhuri


" Tolong selamatkan istriku tabib aku tidak tahu apa yang terjadi tapi aku mohon kepadamu selamatkan lah dia " tabib itu mengangguk


" Baiklah Pangeran kau tenanglah, tenangkan dirimu " lalu Nandini, Sanjaya, Gauri datang mereka terkejut melihat keadaan Manu yang memprihatinkan " Apa yang terjadi pada menantuku? " tanya Nandini kepada tabib


" Ibu Ratu tenang dulu aku akan segera memeriksanya jadi aku harap kalian semua harus tenang " Madhuri menghampiri ibunya


Gauri menyeringai begitu melihat Manu terluka

__ADS_1


' Aku berdoa agar wanita itu tidak bisa diselamatkan dengan begitu aku bisa menikah dengan Vikram, meninggalnya Manu merupakan sebuah kebahagiaan bagiku karena sebentar lagi tidak ada yang akan bisa merebut Vikram ' , tabib terus memeriksa Manu sementara di sisi Manu, Nandini duduk sambil memegang tangan menantunya


" Manu, ibu mohon kepadamu bangun lah sayang suamimu menunggumu " Nandini menangis melihat kondisi menantunya Vikram hanya diam melihat istrinya terbaring lemah, Jhanvi pun datang ke kamar Manu dia melihat adik iparnya itu terbaring dengan bibir pucat dia tersenyum melihat rencananya berhasil dia mendekati suaminya yang duduk di kursi kayu


" Apa yang terjadi dengan Manu? " tanya Jhanvi pura-pura khawatir Sanjaya hanya menggelengkan kepalanya " Aku juga tidak tahu apa yang terjadi dengannya Madhuri mendapatkan Manu telah terbaring dengan kondisi luka di bawah tangga " Jhanvi menyeringai senang namun dia kembali memasang wajah khawatir " Lalu apa kata tabib? " Sanjaya mengatakan bahwa Manu telah mengalami keracunan ada seseorang yang meracuni dirinya.


Madhuri berdiri di samping ibunya dia menenangkan ibunya " Ibu tenang lah sebentar lagi kak Manu pasti akan bangun " Nandini terus menangis dia memegang tangan menantunya itu tabib akhirnya selesai memeriksa Manu dia terdiam cukup lama sampai akhirnya dia bicara " Tuan Putri mengalami keracunan ada seseorang yang meracuninya tapi aku tidak tahu dalam bentuk apa orang itu meracuni dirinya, racun ini sangat berbahaya bisa merenggut nyawanya tadi aku sudah memberikan obat kepadanya kira berdoa saja jika besok pagi Tuan Putri tidak juga bangun itu berarti maafkan aku dia sudah meninggal karena racun ini efeknya sangat besar. Aku sudah memberikan obat penawarnya sekarang hanya Dewa yang bisa membantu kita sebaiknya kita berdoa kepada Dewa agar nyawa Tuan Putri tidak dalam bahaya, jangan khawatir semua pasti akan baik-baik saja " semua orang terdiam mereka menatap wajah pucat Manu yang tertidur lelap.


Gauri dan Jhanvi tersenyum mendengarnya mereka berdoa agar nyawa Manu tidak selamat mereka menginginkan hal yang sama yaitu kematian Manu keduanya saling pandang dan tersenyum menyeringai.


Vikram duduk di sebelah istrinya tabib Istana sudah pergi begitu juga dengan Nandini dia tetap duduk di samping menantunya sembari memegang tangannya Vikram menatap wajah cantik istrinya, Sanjaya menepuk pundak adiknya berusaha menenangkannya namun Vikram hanya diam saja Madhuri tidak tahu harus berbuat apa tiba-tiba Vikram meminta semua orang untuk keluar dari kamarnya begitu juga dengan ibunya dia ingin berdua saja bersama istrinya " Baiklah kalau kau membutuhkan sesuatu panggil saja kami " ujar Sanjaya, Vikram hanya mengangguk kemudian semua orang keluar dari kamar Vikram sebelum pergi meninggalkan kamar itu Nandini mencium kening menantunya lalu dia juga ikut bersama yang lain untuk pergi dari kamar itu. Vikram duduk sambil berdoa agar istrinya mau membuka matanya " Ku mohon bangun lah Manu " tangisnya semakin menjadi dia menatap jendela kamar yang terbuka sambil menangis Vikram berdoa kepada Dewa agar istrinya cepat sembuh dan mau membuka matanya " Semua ini salahku jika saja tadi aku menolak Gauri memelukku semua ini tidak akan terjadi, kau tidak akan menutup matamu aku tahu ini semua salahku aku mohon maafkan aku Manu buka lah matamu lihat lah aku " Vikram tidak hentinya menangis dia terus bicara agar istrinya itu mendengarkan dirinya.


Malam pun tiba sejak siang tadi Vikram belum makan apapun dia memutuskan untuk tidak makan dan lebih memilih menemani istrinya


pintu kamar terbuka Nandini masuk ke kamar mereka sembari membawa makanan dia melihat putranya menatap istrinya yang belum juga mau membuka matanya, Nandini mengusap kepala putranya Vikram yang merasa ibunya datang langsung memeluknya


" Sudah Vikram berhenti menangis terus lah berdoa agar Dewa mengabulkan doamu, ibu mengerti apa yang kau rasakan nak jadi mari kita berdoa agar Manu cepat sembuh " Vikram menangis di pelukan ibunya Nandini memeluk putranya dia duduk di samping putranya


" Hapus lah air matamu itu kau harus kuat dan tegar jangan putus asa Dewa pasti akan mengabulkan doa kita, ibu yakin besok istrimu pasti akan bangun dan membuka matanya jangan pernah menyerah untuk berdoa nak usahamu untuk menyelamatkan istrimu pasti akan terkabulkan " Vikram mengangguk dia menghapus air matanya.Nandini mengambil nampan yang berisi banyak makanan


" Lihat, ibu membawakan makanan untukmu ayo makan lah sejak tadi siang kau belum makan juga jadi ibu bawakan makanan untukmu. Ibu tahu jika kau tidak berselera untuk makan tapi setidaknya kau harus makan nanti kau bisa sakit nak ayo buka mulutmu ibu akan menyuapimu " Vikram terdiam dia mulai membuka mulutnya Nandini menyuapi putranya makan dia paham tentang perasaan putranya maka dari itu dia menyuruh putranya agar tegar dan kuat dia juga merasa sedih melihat menantunya seperti itu tapi demi putranya dia berusaha untuk tenang dan bersikap tegar.


Nandini tersenyum lembut ketika menyuapi makanan ke mulut putranya dia menghapus air matanya selesai makan Nandini menemani putra dan menantunya, malam semakin larut Nandini mulai merasa mengantuk tapi dia menahannya dia duduk di kursi panjang samping jendela kamar. Karena tidak kuat menahan kantuk Nandini tertidur di kursi itu sedangkan Vikram terus menemani istrinya dia tidak berniat untuk tidur baginya istrinya lebih penting daripada tidur Vikram melihat bulan bersinar terang dia berjalan ke arah jendela,


matanya menatap bulan itu dalam hati Vikram mulai memanjatkan doa untuk kesembuhan istrinya keesokan harinya tubuh Manu mulai perlahan kembali membaik bibirnya yang pucat perlahan berubah menjadi seperti semula, tenggorokannya yang awalnya menghitam kini sudah hilang hanya luka di bibir dan kepalanya yang masih tapi perlahan Manu sudah membaik.


Nandini yang baru saja bangun melihat tubuh Manu sudah berangsur membaik dia mendekatinya " Vikram " Vikram menghampiri ibunya " Ada apa Ibu? " Nandini menunjuk ke arah Manu yang mulai membaik Vikram menatap istrinya yang kini kembali membaik dia langsung duduk " Manu " tapi mata Manu belum terbuka " Ibu cepat panggil tabib " Nandini mengangguk dia keluar dari kamar itu dan memanggil tabib, tidak lama kemudian tabib datang dia mulai memeriksa keadaan Manu wajahnya memancarkan kebahagiaan


" Syukur lah Tuan Putri berhasil selamat dari keadaan yang berbahaya dia berhasil melewati ujian yang mengancam nyawanya, obat yang aku berikan berhasil membuat Tuan Putri sembuh sebentar lagi dia akan membuka matanya jadi aku harap kalian harus sabar. Dewa telah mengabulkan doa kita " semua orang merasa senang mendengarnya maka mereka mengucapkan rasa terima kasih kepada Dewa yang sudah mengabulkan doa mereka. Vikram tersenyum lebar melihat istrinya yang sudah kembali sembuh begitu juga dengan Nandini,Madhuri dan Sanjaya mereka tampak sangat bahagia kesedihan telah sirna dari hidup mereka kebahagiaan kembali muncul.


Gauri yang masih tertidur tersentak kaget melihat ada yang menarik selimutnya Jhanvi datang dengan wajah kesal Gauri yang melihat wajah kakak iparnya bertanya dengan suara serak khas bangun tidur " Ada apa kakak ipar? kenapa kau datang pagi-pagi sekali? " Jhanvi menarik Gauri turun dari kasurnya


" Ada masalah gawat, Manu wanita itu telah sembuh dia tidak jadi meninggal racun di tubuhnya telah hilang dia sekarang sebentar lagi akan bangun kondisinya mulai membaik "


Gauri yang masih setengah ngantuk langsung tersadar dia terkejut mendengarnya " Apa? " Jhanvi mengangguk " Rencana ku untuk menyingkirkannya menjadi kacau " Gauri terdiam Jhanvi yang merasa rencananya gagal mulai marah dia meracau tidak jelas sampai Gauri menyuruhnya untuk diam " Diam lah ! "


Jhanvi terdiam mereka berdua benar-benar terkejut mendengar berita di pagi hari,


" Untuk membuktikannya kita harus ke kamar Vikram " ujar Gauri dia sudah melangkah pergi keluar dari kamarnya Jhanvi ditinggalkannya begitu saja " Eh tunggu aku " dia pun ikut pergi menyusul Gauri ke kamar Vikram.


Disana mereka berdua benar-benar terkejut melihat Manu yang sudah duduk di kasur


" Ini, ini tidak mungkin terjadi kenapa dia bisa selamat dari maut? ini tidak benar, ini tidak boleh terjadi seharusnya dia itu mati racun itu sangat berbahaya seharusnya dia tidak bisa selamat " Gauri menggelengkan kepalanya sambil menangis dia berlari ke kamarnya Jhanvi diam melihat rencananya telah gagal dia pun pergi juga entah kemana, Nandini memeluk menantunya dia mencium keningnya


" Syukur lah kau sudah bangun Manu akhirnya kau selamat dari maut yang mengancam nyawamu berkat doa kita semua, Dewa mengabulkan doa kita dia menyelamatkanmu dari bahaya nak sekarang kau sudah aman ibu senang melihatmu tersenyum lagi " Manu hanya tersenyum tipis Sanjaya, Madhuri dan Vikram tersenyum melihat Manu sudah kembali lagi, Nandini melihat putranya mengusap air matanya " Vikram kemarilah " Vikram menurut dia duduk di sebelah ibunya Nandini mengambil tangan putranya dan menaruhnya di atas tangan Manu " Kalian berdua berhentilah bertengkar ibu tahu jika kalian sedang bertengkar tapi entah lah ibu tidak tahu apa masalah kalian, ibu ingin apapun masalah yang kalian hadapi kalian harus bisa menyelesaikannya ibu tidak berhak mencampuri urusan kalian berdua tapi jika ada masalah yang serius yang tidak bisa kalian selesaikan ibu pasti akan membantu, namun jika ada masalah yang kalian selesaikan ibu tidak akan ikut campur " keduanya mengangguk mengerti " Baiklah ibu kami berjanji tidak akan bertengkar lagi dan jika ada masalah kami akan menyelesaikannya tidak akan ada yang saling diam, benar kan Manu? "


Manu tersenyum tipis dia mengangguk menanggapi ucapan suaminya " Ya " suasana di kamar itu tampak ceria kembali karena Manu sudah hadir lagi dia keluarga mereka, berkat doa semuanya Manu berhasil melewati ujian yang mengancam nyawanya. Semua keluarga mulai tersenyum tapi tidak dengan Gauri dan Jhanvi hati mereka akan terus ada rasa iri hati, dengki dan juga dendam sampai kapanpun mereka tidak akan bisa mengubah sifat buruk mereka, mereka akan terus mengusik Manu sampai rasa di hati mereka itu tercapai.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komen ya terima kasih..


__ADS_2