
Setelah mengobrol cukup lama perpustakaan Shivannya mengajak Manu untuk kembali di perjalanan kedua gadis itu tengah berbincang ringan, saat sudah sampai di ruangan Kerajaan, Pavitra berlari menuju Shivannya dengan nafas ngos-ngosan
" Ada apa Pavitra? " Tanya Shivannya bingung
" Ibu Ratu memanggil anda ke ruangannya Yang Mulia Ratu " Ujar Pavitra, Shivannya mengangguk dia pun berjalan menuju ruangan ibunya Manu terdiam di sana dia lalu memutuskan untuk kembali ke kamarnya, gadis itu berjalan ke ruangan ibunya dia mengetuk pintu ruangan tersebut tampak seorang pelayan membukanya dia mempersilakan Shivannya untuk masuk, Ambarawati dan Nandini tersenyum melihat Shivannya telah datang " Kemarilah " Pinta Nandini sembari menyuruh Shivannya untuk duduk " Kami memintamu untuk datang kemari adalah karena aku ingin kau membantu untuk menyiapkan persiapan pernikahan untuk kakakmu " Ujar Nandini tersenyum Shivannya terdiam bibinya baru saja meminta dirinya untuk membantu menyiapkan persiapan pernikahan kakak sepupunya.
" Uhm bibi maaf aku bukannya tidak mau membantu tapi itu.. uhm.. masalahnya.. aku "
Shivannya kesulitan untuk mengatakan apa yang dia pikirkan, Nandini dan Ambarawati menunggu kelanjutan ucapan gadis itu
" Ada apa nak? katakan " Ambarawati menatap putrinya Shivannya menelan ludahnya dia menatap Nandini
" Baiklah aku akan membantu persiapan upacara pernikahan kakak, aku akan datang"
akhirnya Shivannya tidak jadi mengatakan sesuatu kepada Nandini dia lebih memilih untuk menyimpannya saja, Nandini dan Ambarawati tersenyum lembut mereka mengira Shivannya ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting tapi ternyata tidak, Nandini mengelus kepala Shivannya
" Aku kira kau ingin mengatakan sesuatu yang sangat penting, upacara pernikahan Sanjaya akan berlangsung minggu depan tapi aku ingin mempersiapkan pesta pernikahan putraku dengan sangat meriah dan mewah jadi mulai besok kita harus mulai membuat persiapannya " Kata Nandini, Shivannya mengangguk " Aku akan datang besok pagi "
Nandini mengangguk setuju kemudian mereka mulai membahas tentang pernikahan Sanjaya.
Keesokan paginya Shivannya sudah duduk di depan meja riasnya dia mulai siap-siap untuk pergi ke Kerajaan Aradhya, para pelayan sudah sibuk mendandaninya hari ini Shivannya lebih memilih menggeraikan rambutnya dia tidak mengikat rambutnya dia mengenakan pakaian saree berwarna pink dipadukan dengan warna kuning cerah, dia juga memakai gelang dan cincin berbentuk bunga, gelang kaki dan kalung yang berbentuk sama, dan juga dia memakai hiasan rambut berbentuk bunga juga, dia juga mengoleskan make up tipis di wajahnya. Selesai berdandan Shivannya mulai turun dari kamarnya dua mencari ibunya " Ibu " Shivannya memanggil ibunya lalu seorang pelayan datang dan mengatakan bahwa Ambarawati tengah menunggunya di taman, Shivannya berlari menuju taman dia mencari ibunya akhirnya dia menemukan ibunya tengah duduk sambil minum teh kesukaannya " Ibu " Shivannya menghampiri ibunya " Wah putri ibu sangat cantik " Puji ibunya sia meletakkan cangkirnya di atasnya meja " Duduk lah " Pintanya gadis itu pun menurutinya. Ambarawati menatap putrinya dia merasa hari ini putrinya itu berdandan dengan sangat berbeda
" Kenapa kau menggeraikan rambutmu? "
Tanyanya Shivannya menatap ibunya dia menghela nafas " Ibu hari ini aku akan membantu bibi Nandini mempersiapkan pernikahan kak Sanjaya, jadi aku harus berdandan sedikit berbeda karena hari ini dan minggu depan untuk sementara aku tidak menjadi seorang Ratu, aku akan menjadi seorang anak dan seorang adik sampai pernikahan kak Sanjaya selesai aku harus melepas gelarku sebagai seorang Ratu, untuk itu lah orang-orang tidak boleh memanggilku Ratu karena hari ini aku sudah menjadi seorang anak dan seorang adik "
Ujar Shivannya panjang lebar sembari tersenyum lebar Ambarawati tertawa melihat putrinya yang begitu bersemangat gadis itu pun berpamitan kepada ibunya.
Di perjalanan Shivannya tampak sangat bersemangat dia akan menghabiskan waktu bersama adik sepupunya, dia akan menghias Istana Aradhya menjadi sangat meriah dia alan menari bersama adik-adiknya, hingga sampai dia di Kerajaan Aradhya begitu dia turun dari kereta tangannya sudah ditarik oleh sepupunya Gauri, Shivannya berusaha menyeimbangkan langkahnya karena Gauri berjalan begitu cepat semua orang sudah hadir disana banyak pelayan sudah sibuk mempersiapkan perlengkapan pernikahan,
Madhuri melihat kakak sepupunya sudah datang segera menghampirinya
" Kakak " Shivannya langsung memeluk adiknya itu " Madhuri kau tampak cantik sekali dengan pakaian itu " Puji Shivannya adiknya itu hanya tersipu malu mendengar pujian dari sang kakak, Gauri yang merasa diabaikan segera menegur mereka
" Hei mau sampai kapan kalian mau mengabaikanku? aku juga ada disini " Gauri memasang wajah cemberut dia mengerucutkan bibirnya Shivannya segera memeluknya " Ya ya kau sekarang sudah tumbuh remaja ya Gauri, aku sampai tidak bisa mengenalimu karena kau bertambah cantik " Shivannya mencubit kedua pipi adiknya itu " Berhentilah memperlakukanku seperti anak kecil kakak, aku sekarang sudah dewasa jadi kakak tidak boleh mencubit pipiku lagi " Gauri menggerutu sambil melepaskan tangan Shivannya, Madhuri yang melihat itu segera meledeknya
__ADS_1
" Oh ya? bukankah waktu ini kau datang kemari sambil menangis hanya gara-gara kau diabaikan oleh kakakmu itu? kau bilang sudah dewasa tapi sikapmu masih seperti anak kecil hahahaha " Gauri sangat kesal mendengar Madhuri meledeknya dia pun menjulurkan lidahnya sambil tersenyum mengejek Madhuri yang melihat itu ingin membalasnya tapi tiba-tiba Nandini datang menghampiri ketiga gadis itu
" Shivannya kau sudah datang? ayo ikut bibi ada yang harus kau bantu " Nandini menarik tangan Shivannya membawanya pergi Gauri yang melihat sang kakak telah pergi dia pun ikutan pergi sebelum Madhuri mengejarnya
Shivannya melihat ada begitu banyak sekali kain yang berserakan di lantai Nandini membawanya ke tempat ruang pengantin
" Shivannya coba lihat kain-kain ini " Nandini menyodorkan kain berwarna merah Shivannya mengambilnya dia memperhatikan kain itu " Bibi kain ini sangat bagus,warna merah cocok untuk pengantin wanita bagaimana jika kain ini kita gunakan sebagai pakaian pengantin wanita? ini sangat cocok jika dipakai oleh mempelai wanita " Nandini terdiam berpikir sejenak dia menyetujui saran dari Shivannya " Baik lah kita gunakan kain ini untuk pakaian dari mempelai wanita, bibi tadi bingung harus memilih kain yang sesuai untuk mempelai wanita, makanya banyak kain yang berserakan di lantai tapi akhirnya kamu datang jadi bibi mengajakmu untuk memilih kain-kain ini dan kamu sudah memilih kain yang cocok untuk dipakai mempelai wanita "
Nandini menyerocos sambil memegangi kepalanya Shivannya tertawa keras melihat Nandini yang bingung
" Kenapa tertawa Shivannya? " Tanya Nandini heran Shivannya menggelengkan kepalanya
"Tidak, bibi aku hanya ingin tertawa saja ya sudah ayo kita mulai mempersiapkan upacara pernikahannya " Shivannya mengajak Nandini keluar menuju taman tempat Madhuri merias hiasan bunga.
Madhuri tengah asyik membuat hiasan bunga dia bernyanyi sementara Gauri tengah membuat pola untuk hiasan lantai, Shivannya dan Nandini menghampiri gadis-gadis itu
" Ayo aku bantu kalian " Shivannya duduk bersimpuh di samping Madhuri sedangkan Nandini memperhatikan Gauri tengah fokus membuat hiasan lantai tidak lama kemudian Priya datang sambil membawa nampan besar berisi penuh bunga melati Nandini yang melihat itu segera menghampirinya
" Sini biar aku bantu " Nandini mengambil nampan itu dia menyuruh Priya untuk membantu Gauri sementara dia pergi ke tempat lain, Gauri yang menyadari ada seseorang duduk di sampingnya langsung menoleh " Kau siapa? " Tanya Gauri sinis dia menatap tidak suka ke arah Priya dengan gugup Priya memperkenalkan dirinya
Gauri berkata dingin kepada Priya tanpa menatapnya Priya terdiam dia merasa Gauri tidak menyukainya dia terdiam sambil memandang Gauri.
Shivannya yang melihat Priya diam tidak membantu Gauri segera menegurya
" Priya, apa yang kau lakukan? ayo bantu Gauri agar pekerjaannya cepat selesai " Priya mengangguk dia pun membantu Gauri, gadis itu menatapnya sinis dia diam dengan perasaan geram ' Apa-apaan gadis ini? ' Gauri menahan kesalnya dia pun berdiri dengan wajah datar lalu meninggalkan tempat itu, Priya memperhatikan Gauri yang pergi dengan berjalan tergesa-gesa dia sama sekali tidak
peduli dia tetap fokus pada pekerjaannya
" Priya " Shivannya memanggil gadis itu
Priya menoleh dia melihat Shivannya tengah menatapnya " Ya Yang Mulia Ratu? " Shivannya melihat hanya Priya saja yang ada disana sedangkan Gauri tidak ada
" Dimana Gauri? " Tanya Shivannya, Priya menunjuk ke arah yang tadi dilewati oleh Gauri " Dia pergi ke arah sana Ratu" Shivannya segera mencarinya, Gauri sedang berdiri di balkon Kerajaan dia merasa kesal ketika melihat Manu alias Priya sebab tadi pagi sebelum Shivannya datang dia melihat kakak sepupunya Vikram tengah tertawa bersama Priya entah apa yang mereka tertawakan tapi kelihatannya itu adalah hal yang lucu sehingga membuat Vikram tertawa keras. Gauri tampak geram melihat keakraban mereka dia memang sudah tahu tentang Priya tapi jika mengingat wajah gadis itu rasanya dia ingin mencakarnya Shivannya berlari mencari Gauri dia melihat seorang gadis tengah berdiri di balkon dia pun menghampirinya " Gauri " Gauri menoleh ketika melihat Shivannya datang dia menatapnya sebentar lalu kembali menatap ke depan " Aku disini saja kak " Ucap Gauri pelan.
Shivannya tidak mendengar ucapan Gauri dia memegang bahu Gauri, gadis itu menoleh dia menatap kakak sepupunya matanya tampak berkaca-kaca Shivannya menyadari Gauri hampir menangis " Ada apa Gauri? " Gauri tersadar dia mengalihkan pandangannya
__ADS_1
" Kakak duluan saja kesana aku akan segera menyusul, aku ingin disini dulu kakak pergilah" Gauri melepaskan tangan Shivannya dia berbalik lagi, Shivannya mengangguk dia pun pergi meninggalkannya, Gauri menangis entah kenapa tiba-tiba dadanya terasa sakit melihat Vikram dan Priya dekat dia tidak menyukainya bisa dibilang Gauri menyukai kakak sepupunya itu, entah sejak kapan dia memiliki perasaan cinta terhadap kakak sepupunya itu dia merasa sangat bodoh sebab mencintai saudaranya sendiri seharusnya itu tidak boleh terjadi tapi dia sudah jatuh cinta terhadap kakaknya
" Aku benar-benar mencintai kak Vikram, aku tahu bahwa itu salah tapi aku telah jatuh cinta kepadanya, aku akan membuat gadis itu menjauh dari kakak agar dia tidak bisa mendekati kakak, kak Vikram hanya milikku tidak boleh siapapun mengambilnya dariku " Gauri tersenyum menyeringai tanpa dia sadari seseorang telah mendengar ucapannya ya dia adalah Madhuri, Priya sibuk membantu para pelayan yang mendekorasi ruangan begitu juga dengan Shivannya dia tampak fokus membuat sesuatu tiba-tiba dia ditabrak oleh seseorang ' Bruk ' Shivannya mengaduh kesakitan sebab kakinya diinjak dia ingin mengomel kepada pelaku yang telah menabraknya dia pun terkejut ketika melihat Madhuri dengan wajah pucatnya tampaknya gadis itu baru saja melihat sesuatu yang mengerikan.
" Ada apa Madhuri? kenapa wajahmu pucat? "
Shivannya bertanya kepada adik sepupunya Madhuri melihat sekeliling dia menarik tangan Shivannya untuk menjauh dari keramaian, di kamar Madhuri mengunci pintu kamarnya Shivannya yang tidak mengerti kamu bertanya " Kenapa kau membawaku kemari? " Ada apa? " Madhuri mengajaknya untuk duduk, sia menarik nafas berusaha untuk bersikap tenang kemudian dia mulai bicara " Kakak barusan aku mendengar sesuatu yang akan membuatmu terkejut " Shivannya mengerutkan keningnya
" Maksudnya? " Madhuri bingung apakah dia harus memberitahunya atau tidak tapi jika dia tidak memberitahunya maka suatu saat nanti semuanya akan terlambat dia meremas tangannya keringat dingin mengucur di dahinya " Anu i-i-i-itu kak sebenarnya " Madhuri takut untuk memberitahu Shivannya apa yang telah terjadi " Katakan Madhuri " Shivannya memaksanya, akhirnya Madhuri mengatakan semuanya Shivannya terkejut mendengarnya dia tidak percaya apa yang dia dengar " Itu tidak mungkin kan? kau pasti berbohong " Madhuri menggeleng keras
" Tidak kakak, aku berkata jujur, aku memang melihat Gauri di balkon dia mengatakan itu dengan sedikit keras, tadi aku bermaksud mencarinya karena aku ingin mengajaknya untuk memilih perhiasan tapi saat aku sampai disana aku terkejut mendengar perkataannya kak, aku terdiam cukup lama berusaha mencerna ucapannya, aku tidak salah mendengarnya kak tolong bujuk dia agar niatnya itu batal untuk menikah dengan kak Vikram apa dia gila kalau dia ingin menikahi saudaranya sendiri, aku tidak mau dia menikah dengan saudaranya sendiri kak" Madhuri memohon agar Shivannya menghentikan perbuatan konyol Gauri, gadis itu terdiam dia tidak menyangka adik sepupunya itu mencintai saudaranya sendiri dia menatap ke luar jendela Madhuri terdiam dengan wajah sedih dia tidak tahu jika hal ini akan terjadi " Aku akan menghentikannya "
Madhuri menoleh dia mendengar Shivannya bergumam doa berjalan mendekati kakaknya itu " Kakak yakin? " Tanya Madhuri pelan Shivannya mengangguk " Ya " wajah Madhuri kembali cerah dia merasa sangat senang mendengarnya " Terima kasih kak " Lagi-lagi Shivannya mengangguk.
Gauri kembali ke aula Istana dia celingukan mencari saudarinya tapi dia tidak menemukan sosok saudarinya itu, lalu dari arah belakang seseorang berjalan dengan tergesa-gesa sambil membawa banyak barang dia tidak sengaja menabrak Gauri yang berdiri ' Bruk ' gadis itu terjatuh barang bawaannya jatuh berserakan banyak orang langsung menatapnya, Gauri yang merasa ditabrak segera berbalik dia menatap gadis yang jatuh di depannya ' Dia lagi ' tatapan Gauri seketika langsung berubah sinis dia benar-benar membenci gadis di depannya itu
" Astaga, aku harus segera membawa ini ke kamar pengantin " Priya terus bergumam sembari mengumpulkan barang-barang yang jatuh berserakan, Gauri diam saja dia bahkan tidak berniat menolongnya lalu dia mendengar banyak orang mulai membicarakan dirinya yang tidak mau membantu Priya karena kesal dibicarakan dia langsung mengambil mengambil barang-barang yang masih di lantai Priya yang terkejut melihat Gauri membantunya berniat menolaknya " Tidak usah Tuan Putri biar aku saja " namun dia malah mendapatkan tatapan tajam Priya diam tidak berani lagi membantahnya, selesai memberesi barang-barang yang jatuh Gauri meninggalkan Priya dia berjalan menuju kamar pengantin Priya pun mengikutinya.
Shivannya dan Madhuri baru saja keluar dari kamar mereka sudah menyusun rencana untuk mengubah niat Gauri, mereka benar-benar berniat untuk mengubah niat Gauri ketika sudah sampai di aula Istana Madhuri langsung membantu para pelayan sedangkan Shivannya masih diam di tempat sebentar lagi dirinya akan pulang ke Istana karena itu lah dia harus segera menyelesaikan tugasnya, Gauri berjalan cepat begitu sampai di kamar pengantin dia melempar barang yang tadi dibawanya Priya terkejut melihat barang-barang itu berantakan lagi dia langsung menghampirinya " Tuan Putri " dia memekik begitu melihat Gauri melempar semua barang ke lantai " Tuan Putri hentikan " Priya mencoba menghentikannya tapi Gauri mendorongnya menjauh, dia masih marah dia mulai membuat kamar itu menjadi berantakan " Pergi kau dari sini " Gauri mengusir Priya dengan kasar gadis itu tetap diam dia tidak berkutik Gauri yang masih melihat Priya berdiri disana segera menamparnya ' Plak ' Priya yang mendapatkan perlakuan itu hanya diam
" Kau " Gauri mulai menuding Priya matanya menyalang merah Priya tertunduk menahan tangis " Kau sudah merebutnya dariku " Gauri mulai marah Priya yang tidak tahu maksudnya bertanya " Apa maksudmu Tuan Putri? " Gauri mengernyitkan dahinya dia tersenyum menyeringai " Pura-pura tidak tahu ya? " Priya menggeleng pelan, Gauri berjalan mengitari kamar pengantin Priya masih menunggu apa maksud dari ucapannya Gauri kemudian gadis cantik itu duduk di salah satu kursi yang ada di kamar itu " Tuan Putri " Priya memanggilnya sedetik kemudian Gauri mulai berteriak " Kau sudah merebut Vikram " Mata Priya membulat ketika mendengarnya dia masih tidak mengerti dengan maksud merebutnya " Apa maksudmu Tuan Putri? " Gauri geram mendengar Priya yang pura-pura tidak mengerti dia mengambil sebuah pot lalu melemparnya sampai pot itu pecah
" Ya, kau telah merebut pria yang kucintai aku sudah mencintainya sejak umurku 14 dan sampai sekarang aku masih mencintainya, aku berencana ingin mengutarakan perasaanku dan aku ingin menikah dengannya tapi kau datang dan merusak semuanya, kau merebutnya dariku Priya kakakku mencintaimu aku sudah mengetahuinya dari gelagatnya yang terus memperhatikanmu hatiku hancur saat melihat kalian berdua selalu bersama, aku sedih seharusnya aku yang ada disampingnya bukan orang lain, kau juga mencintai kakakku dan kalian berdua sudah membuat hatiku sakit padahal aku ingin mengatakan apa yang aku rasakan namun semuanya telah berantakan gara-gara gadis miskin seperti dirimu " Gauri mulai meluapkan amarahnya Priya yang berdiri tertegun mendengarnya ya dia memang mencintai Vikram tapi dia tidak tahu jika Gauri mencintainya juga matanya tampak berkaca-kaca menahan sedih
" Apa yang dilihat kakak dari dirimu? kau adalah gadis miskin yang dipungut oleh bibi di tepi sungai lalu kau dijadikan seorang gadis bangsawan oleh bibi dan kak Sanjaya juga menerimamu, hebat sekali dirimu padahal kau tidak cocok untuk menjadi seorang gadis bangsawan kau tidak cocok untuk menjadi istri kak Vikram, kau itu lebih cocok jadi seorang wanita penghibur daripada menjadi seorang gadis bangsawan, aku sangat membencimu dan aku berjanji bahwa aku akan merusak pernikahan kalian jika itu memang terjadi aku akan menghentikannya, hanya aku yang berhak untuk menikah dengan kak Vikram. Akan aku pastikan suatu saat pernikahan kalian akan hancur dan aku yang akan merusaknya kalian bisa saja menjalin hubungan dengan bahagia dan aku akan membiarkannya tetapi suatu saat dimana waktunya kalian menikah aku akan datang dan menghancurkan pernikahan kalian ingat itu baik-baik " Gauri menatap tajam wajah Priya yang terdiam dengan air mata yang sudah turun dia pergi meninggalkan Priya yang terdiam sambil menatapnya dengan tatapan sedih
" Apa benar aku telah merebut orang yang dicintainya? " Priya bergumam pelan seraya menangis dia terduduk lemas sambil terus menangis.
Shivannya terus mencari Gauri dan Priya dia sudah mencarinya ke seluruh aula Istana namun tidak ditemukan kemudian salah satu pelayan melewatinya Shivannya segera menghentikannya " Hei apa kamu melihat kedua gadis itu? jika kau melihat mereka beritahu aku " Pelayan itu mengatakan bahwa dia melihat kedua gadis itu berjalan menuju kamar pengantin " Aku melihat mereka berjalan menuju kamar pengantin, Yang Mulia Ratu, katanya mereka ingin menghias kamar itu " Shivannya mengangguk dia pun berjalan menuju kamar pengantin baru itu, saat sudah sampai di depan kamar Shivannya mendengar suara tangisan dia mendekatkan telinganya untuk mendengar suara tangisan itu agar lebih jelas, dia terkejut mendengarnya lalu mendobrak pintunya matanya membulat ketika melihat Priya terduduk dengan keadaan menangis dia langsung berlari memeluk Priya gadis itu terkejut melihat seseorang tengah memeluknya dia terdiam
" Yang Mulia Ratu? " Priya bergumam dia melirik Shivannya memeluknya dengan erat
" Jangan menangis Priya, semua akan baik-baik saja percaya padaku " Shivannya ikut menangis dia tahu apa yang sedang terjadi,
Priya ikut terharu mendengarnya dia pun mengangguk " Yang Mulia " Priya lagi-lagi menangis kedua gadis itu saling berpelukan erat melepas kesedihan yang sedang terjadi...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya....