
Shivannya pulang dengan wajah sedih dia sudah meninggalkan ibunya sendirian di penjara menyeramkan itu namun dia tidak bisa melawannya, Perdana Menteri bertanya kepadanya namun hanya dijawab gelengan oleh Shivannya dia berjalan menuju kamarnya dan mengunci pintu kamarnya, gadis itu duduk di lantai air matanya kembali turun dia menangis merasa gagal menjadi seorang Ratu dia bahkan tidak bisa menyelamatkan ibunya sendiri dia benar-benar marah pada dirinya sendiri.
Di sisi lain Vikram berlari tergesa-gesa menuju ruangan kakaknya, Sanjaya tengah bermain dadu bersama orang kepercayaannya dia melihat adiknya masuk dengan nafas ngos-ngosan pria itu berdecak kesal melihat adiknya masuk dengan tidak sopan " Ada apa Vikram? aku sudah memberitahumu jika ingin masuk kau harus bersikap sopan, tidak baik masuk ke ruangan orang lain dengan cara seperti itu " Ujar Sanjaya memberikan peringatan, Vikram hanya diam tidak menggubris ucapan kakaknya dia lalu menyerahkan sebuah surat kepada Sanjaya, kakaknya itu mengambilnya kemudian membacanya keningnya berkerut dia memandang adiknya bertanya apa maksud dari surat itu " Apa ini? " Sanjaya menatap adiknya meminta penjelasan
Vikram lalu menjelaskannya kejadian yang sedang terjadi di Kerajaan Kavila cepat-cepat Sanjaya memerintahkan pelayan untuk menyiapkan keperluannya dia juga menyuruh Vikram untuk bersiap pergi ke Kerajaan Kavila.
Nandini terdiam begitu mendengar berita dari seorang pelayan yang mengatakan bahwa Kerajaan Kavila tengah ada masalah Madhuri dan Priya saling melirik mereka tidak kalah terkejutnya mendengar berita tersebut maka Nandini memutuskan untuk pergi ke Kerajaan Kavila diikuti oleh Madhuri dan Priya dia harus menemani ponakannya itu karena dia tahu saat ini Shivannya membutuhkan seseorang disaat dirinya sedih, maka berangkat lah Nandini beserta dua gadis tersebut ke Kerajaan Kavila disusul oleh Sanjaya dan Vikram, Pavitra mencoba mengetuk pintu kamar Shivannya dia berusaha membujuk Ratunya tersebut untuk keluar dari kamarnya " Yang Mulia " dia memanggil nama Shivannya tapi tidak ada sahutan dari dalam gadis itu tidak menyerah dia terus mengetuk pintu kamar milik Ratunya tetap tidak ada sahutan sampai sebuah suara menghentikannya dia berbalik melihat Nandini berjalan ke arahnya diikuti oleh Madhuri dan Priya.
Pavitra memberi hormat kepada Nandini dia menceritakan semuanya sejak Shivannya pulang dari Kerajaan Singaloka sikapnya langsung berubah Nandini hanya mengangguk dia menyuruh Pavitra untuk pergi dia sendiri yang akan mencoba bicara dengan Shivannya, Nandini mulai mengetuk pintu kamar gadis itu ' Tok tok tok ' Nandini berusaha bersikap tenang dibelakangnya Madhuri serta Priya menunggu dengan cemas " Shivannya buka pintunya, ini bibi datang, nak keluar lah jangan mengurung dirimu di dalam jika kau terus mengurung dirimu masalah yang kau alami tidak akan selesai, ayo bicara lah pada bibi keluar lah Shivannya bibi ada disini dan bibi akan membantumu " Nandini tetap mengetuk pintu kamar Shivannya tidak lama kemudian pintu terbuka terlihat sosok seorang gadis dengan penampilan berantakan keluar wajahnya terlihat kusut, matanya sembab, rambut serta pakaiannya berantakan Nandini memperhatikan penampilan gadis itu dia langsung memeluknya Shivannya terkejut mendapat sebuah pelukan dia pun terdiam lalu membalas pelukan wanita itu " Bibi " Shivannya berkata pelan dia mulai meneteskan air matanya kembali disaat masalah datang menghampirinya Nandini datang membawa sebuah pelukan hangat
" Menangis lah Shivannya, bibi tahu kau saat ini sedang dilanda masalah tapi jangan pernah seperti ini lagi ya " Shivannya mengangguk dia menatap Nandini sembari tersenyum tipis.
Nandini mendengarkan cerita Shivannya dia menggenggam tangan gadis itu, Nandini mendengarkannya dengan seksama Shivannya menangis selesai bercerita Nandini kemudian berdiri menghadap ke balkon
" Mendengar cerita darimu itu bukan lah keputusan yang tepat, kau ingin melepaskan gelarmu sebagai Ratu? hanya karena masalah seperti ini kau ingin menyerah? kau ingin lari dari tanggung jawabmu? apa kau tidak pernah berpikir bagaimana nasib Kerajaan ini, nasib para rakyat serta nasib Kota ini? jika tidak ada pemimpin maka kehidupan di Kavila ini tidak lah makmur dan sejahtera lagi, pikirkan Ibumu lagi dia sudah berjuang demi dirimu agar kau bisa menjadi seorang Ratu yang bijaksana dan kau ingin melepasnya begitu saja? " Nandini menatap tajam ke arah Shivannya gadis itu menunduk sedih dia juga ikut berdiri dan berdiri di samping Nandini
" Kau tidak pernah merasakannya bibi, selama 9 tahun aku menjadi seorang Ratu hidupku ini tidak lah bahagia sebab apa? sebab gara-gara pria itu kehidupanku jadi tidak bahagia dia sudah merenggut semuanya dariku dan itu membuatku sakit, dia terus menyerangku bahkan aku berusaha menyelesaikannya dengan tenang tapi sikapnya sekarang sudah keterlaluan aku sudah tidak tahan lagi, pria itu terus menyerangku dengan berbagai serangan aku berusaha diam dan menyelesaikannya dengan kepala dingin tapi kini aku sudah tidak kuat lagi karena aku sudah gagal menyelamatkan Ibuku, aku sudah tidak pantas menjadi seorang Ratu bagaimana bisa aku jadi seorang Ratu jika menyelamatkan satu orang saja gagal? lalu bagaimana dengan ribuan orang? aku pasti akan gagal menyelamatkannya, untuk itulah aku tidak mau lagi menjadi seorang Ratu bibi aku ingin hidup seperti orang biasa aku sudah tidak tahan lagi " Shivannya menangis dengan menunduk Nandini memandangnya lalu kembali bicara " Apa menurutmu dengan melepas tahta Kerajaan hidupmu akan bahagia? lalu bagaimana dengan rakyat dan Kerajaanmu? apa kau sanggup melihat mereka menderita akibat kelaparan serta Kota yang dipimpin oleh Ayahmu ini hancur? pikirkan lah mereka, kau tidak boleh egois Shivannya pikirkan lah mereka jangan sampai hanya karena keputusanmu itu rakyatmu menjadi korbannya, nak cobalah ikuti kata hatimu bibi tahu ini sangat sulit untuk dirimu tapi percayalah Dewa pasti akan membantumu terus lah berdoa kau pasti bisa melakukannya " Nandini memegang pundak gadis itu " Bibi sudah mendengarmu, kau menyelesaikan semua masalah dengan tenang dan bijaksana jadi untuk masalah ini kau pasti bisa menyelesaikannya " Ujar Nandini lagi.
Shivannya menatap Nandini ragu dia menghela nafas pelan lalu mengangguk ya dia harus mencari solusi untuk masalah ini, Nandini tersenyum lembut dia memeluk Shivannya lagi " Ayo kau harus membersihkan dirimu, lihat penampilanmu sangat berantakan apalagi kedua kakakmu ada disini apa kau mau menemui kakakmu dengan penampilan seperti itu? " Tanya Nandini bercanda Shivannya melihat penampilannya di cermin dia terkejut melihatnya lalu menoleh ke arah bibinya " Baiklah Bibi " Ucapnya sedikit malu, tidak lama kemudian Shivannya sudah kembali dengan penampilannya seperti sedia kala hanya saja dia tidak memakai mahkota di kepalanya
" Bibi " Nandini menoleh dia melihat Shivannya dengan pakaian Ratunya dia tersenyum " Ayo kita turun kakakmu sudah menunggu " Ajaknya Shivannya mengangguk kemudian mereka berjalan menuju ruang sidang Istana.
Sanjaya, Vikram, Madhuri serta Priya sudah menunggunya mereka diam sambil menunggu Shivannya datang, kemudian pintu terbuka Shivannya serta Nandini masuk mereka tersenyum lembut semua berdiri menyambut Shivannya, Perdana Menteri mempersilakan semuanya untuk duduk mereka duduk setelah Shivannya duduk di singgasananya " Salam " Ucap Shivannya memberi hormat kepada semua orang dan mereka pun membalasnya setelah itu mereka mulai rapat untuk menyerang Kerajaan Singaloka, Shivannya mendengarkan mereka yang memberikan sebuah ide setelah mereka berdebat cukup lama akhirnya Shivannya memberikan jawaban
__ADS_1
" Aku sendiri yang akan menghukum mereka "
Ujarnya sontak membuat semua orang terkejut mendengarnya, Sanjaya berdiri dia merasa tidak baik jika Shivannya melawan pria jahat itu " Apa maksudmu Shivannya? "
Shivannya tersenyum dia menyuruh agar mereka tidak usah membantunya dan dia juga mengatakan tidak akan ada perang hanya dia sendiri yang harus turun tangan untuk menghukum mereka, Shivannya kemudian menyuruh mereka untuk keluar dari ruang sidang Istana mereka pun pergi dengan hormat sekarang yang tersisa di ruangan itu adalah Sanjaya, Vikram, Madhuri, Nandini dan Manu alias Priya.
Shivannya turun dari singgasananya dia berjalan ke sebuah meja besar lalu menyuruh semuanya untuk mendekatinya, dia memperlihatkansebuah senjata berupa pedang berwarna kuning keemasan di hiasi oleh permata berwarna merah menyala semua orang takjub melihatnya Shivannya mengambil pedang tersebut dia mengulas sebuah senyuman tipis, Madhuri yang berada di sampingnya bertanya
" Kak pedang ini sangat indah, dimana kau menemukannya? " Shivannya tersenyum tipis
dia meraba pedang tersebut lalu terdiam sebentar Priya yang di depannya merasakan sesuatu bahwa pedang itu ada kaitannya dengan kakaknya " Pedang ini akan menjadi penyebab kematian Mannav " Ucap Shivannya yang membuat semua orang ternganga mendengarnya Priya sudah menduganya bahwa pedang itu kan menjadi penyebab kematian kakaknya, Sanjaya masih belum mengerti maksud dari ucapan adiknya
" Maksudnya? " Shivannya lagi-lagi tersenyum membalas pertanyaan kakaknya.
Priya merasa ini lah kesempatan untuk membantu Shivannya namun dia harus mencari waktu disaat Shivannya sendirian dia akan mendekatinya berniat membantunya dengan begitu tidak akan ada orang lain yang mengetahuinya, hari sudah hampir malam dan hari ini Nandini beserta Madhuri dan Priya memutuskan untuk tinggal di Istana Kavila beberapa hari sedangkan Sanjaya dan Vikram memutuskan untuk kembali ke Kerajaan Aradhya, malam harinya Shivannya memutuskan untuk pergi ke perpustakaan Istana dia berjalan dengan santai tanpa dia sadari seseorang tengah mengikutinya saat sampai di pintu perpustakaan Shivannya berhenti dia menengok ke belakang dia merasa ada seseorang tengah mengikutinya.
Manu bersembunyi di balik tembok dia hampir saja ketahuan saat mengikuti Shivannya pelan-pelan dia mengintip apakah Shivannya masih berdiri disana atau sudah masuk, dia bernafas lega karena Shivannya sudah masuk ke perpustakaan dia pun kembali mengikutinya gadis itu tengah mencari sebuah buku tentang ilmu perang dan lain-lainnya dia membawa banyak buku di tangannya gadis itu berjalan ke arah meja yang berada di pojok setelah meletakkan bukunya dia pun duduk ketika tengah membuka buku lagi-lagi Shivannya melihat ada sesosok bayangan berada di balik rak buku dia pun menutup bukunya kembali lalu menghampiri bayangan tersebut, Manu ragu-ragu untuk menemui Shivannya dia tidak tahu harus berbicara apa saat bertemu dengannya tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang Manu terkejut dia berusaha untuk melepaskannya namun matanya terpaku ketika melihat Shivannya berdiri di depannya,
Manu terdiam dia merasa takut ketika menatap mata Shivannya yang berubah menjadi tatapan tajam dia menelan salivanya berusaha untuk bersikap tenang Shivannya tersenyum sinis dia sangat benci kepada orang yang telah berani mengikutinya diam-diam dan masuk ke ruangan favoritenya.
" Yang Mulia Ratu? " Manu berusaha untuk bicara tapi sebuah tamparan mengenai pipinya " Apa yang kau lakukan disini? " Tanya Shivannya dingin, Manu berusaha untuk bicara dia sangat takut ketika Shivannya masih menatapnya dengan tajam
" Ayo jawab " Bentaknya, Manu pun memberitahunya alasan dia mengikutinya
__ADS_1
" Begini Yang Mulia, aku mengikutimu karena ada hal penting yang ingin aku katakan kepadamu dan aku benar-benar minta maaf telah lancang masuk kesini dan mengikutimu" Manu menunduk meminta maaf Shivannya menghela nafasnya " Baiklah kali ini aku memaafkanmu tapi lain kali jika kau masih mengulangi kesalahanmu maka aku bisa saja menghukummu, tidak peduli kau itu adalah anak angkat dari Bibi Nandini jika ada seseorang yang berbuat kesalahan maka aku akan menghukumnya, tapi kali ini aku melepaskanmu aku beri peringatan untuk yang terakhir kalinya berhentilah mengikuti orang lain itu tidak baik, apa kau mengerti? "
Manu mengangguk pelan kemudian Shivannya mengajaknya untuk duduk di meja favoritenya, Shivannya masih terus menatap Manu yang tetap menunduk karena rasa takut masih menghinggapinya " Bicaralah " Manu mendengar Shivannya menyuruhnya bicara dia pun mengangguk cepat.
" Anu itu Yang Mulia mengenai kau ingin membunuh Raja Mannav aku mengetahui kelemahannya, mungkin kau bisa menyerangnya saat mengetahui kelemahannya itu, tapi mungkin kau tidak akan percaya dengan apa yang aku katakan aku berkata jujur Yang Mulia aku benar-benar mengetahui kelemahannya percayalah padaku Yang Mulia " Manu memberanikan diri untuk bicara kepada Shivannya, tapi Shivannya hanya diam tanpa bicara Manu mengetahui dirinya tadi sempat sedikit berteriak kepada Shivannya agar gadis itu mempercayainya dia pun buru-buru minta maaf, " Tolong maafkan aku Yang Mulia aku tidak bermaksud bersikap seperti itu, aku hanya ingin kau percaya kepadaku " Manu kembali menunduk dia merasa takut sekali dia yakin hari ini hidupnya akan berakhir disini mengingat sejak tadi Shivannya tidak mengubah sikapnya dan dia sudah bersikap kurang ajar dua kali dia benar-benar merasa takut, namun di luar dugaan Shivannya malah tertawa keras Manu mendongak menatap Shivannya yang masih tertawa
" Hahahaha kau itu sangat lucu Priya, kau pasti berpikir yang tidak masuk akal kan? kau pasti berpikir aku akan menghukummu karena kau sudah bersikap tidak sopan kepadaku kan? hahahaha jangan khawatir aku tidak akan menghukummu aku tadi sebenarnya hanya bercanda ingin melihat reaksimu, ternyata reaksimu sungguh di luar dugaan kau terlihat sangat konyol hahaha " Manu masih bengong melihat Shivannya yang masih tertawa keras dia mengerjapkan matanya berulang kali " Yang Mulia Ratu tidak marah? "
Tanya Manu hati-hati Shivannya mengangguk sambil tersenyum.
Manu bernafas lega dia pun ikutan tertawa
Shivannya kembali bertanya kepadanya
" Apa yang ingin kau katakan? jika kau mengetahui soal kelemahan Mannav beritahu aku, mungkin aku bisa mengalahkannya katakan apa kelemahannya? " Manu terdiam sebentar dia lalu memberitahunya
" Kelemahannya itu adalah kakaknya Yang Mulia, jika kau bisa menghabisi kakaknya dia pasti akan merasa sedih dan marah kesempatan itu lah kau harus memanfaatkannya untuk membunuhnya setelah kau menghabisi kakaknya tentu saja Raja Mannav akan menjadi lemah dia pasti tidak memiliki keberanian untuk melawan anda Yang Mulia, kekuatannya itu adalah kakaknya jika kakaknya tiada maka kekuatannya akan berkurang sebab tanpa kakaknya Raja Mannav tidak akan bisa melakukan apapun, dia hanya mengandalkan kecerdasan kakaknya itu karena selama ini kakaknya lah yang membantunya untuk melakukan segalanya karena Raja Mannav tidak memiliki otak yang cerdas dia hanya bisa melakukan kekerasan tanpa belas kasihan itu sebabnya Yang Mulia harus membunuh Arun terlebih dahulu dengan begitu Yang Mulia akan dengan mudah membunuh Raja Mannav " Ucap Manu tegas dia mengingat perlakuan kakaknya yang sudah kelewat batas saat dia masih tinggal di Kerajaan Singaloka dia sudah tidak tahan akan perilaku kedua kakaknya tersebut itu lah sebabnya dia ingin memberikan hukuman kepada kedua kakaknya itu.
Shivannya terdiam mungkin ini lah kesempatannya untuk menghabisi Mannav dia sudah mengetahui kelemahan pria itu kini dia sudah siap untuk membunuh Raja keji itu, Manu sangat lega sudah mengatakan semuanya kepada Shivannya kini dia senang karena sebentar lagi kakaknya akan mendapatkan hukuman yang lebih pantas atas perilakunya dia pun berjanji akan selalu membantu Shivannya dalam keadaan apapun itu, kini Shivannya tersenyum atas bantuan dari Manu dia bisa mengetahui kelemahan Mannav dia pun mengucapkan terima kasih kepada gadis yang duduk di depannya
" Terima kasih Priya kau sudah membantuku, berkat bantuanmu aku bisa mengalahkan musuhku dan aku harus memanfaatkannya sekali lagi terima kasih, aku pasti akan membalas bantuanmu jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja aku dan aku pasti akan menolongmu " Ujar Shivannya seraya tersenyum lembut Manu hanya mengangguk dia membalas senyuman Shivannya kini kedua gadis itu kembali melanjutkan pembicaraannya di perpustakaan ditemani oleh beberapa cahaya lilin...
Like dan komen ya ceritaku terima kasih
__ADS_1