
Gauri pulang ke kerajaannya dia turun dari kereta kuda dengan wajah lesu Pragya menyambut kedatangan putrinya dia memeluknya " Kau sudah pulang sayang? ayo kita masuk " Gauri hanya mampu mengangguk, mereka masuk ke aula Istana disana sudah ada Bhagvati istri pertama ayahnya dan Paridhi istri ketiga ayahnya mereka berdua mendekati Gauri " Selamat datang kembali Gauri " ujar Bhagvati datar dia menatap putri tirinya dia sudah tahu tabiat alias sikapnya Gauri. Bhagvati memang tidak menyukai tabiatnya Gauri yang suka sering berbuat jahat dan bersikap semena-mena " Apa kau diusir dari Kerajaan Aradhya, Gauri? " tanya Bhagvati, Gauri terdiam dia lebih memilih pergi ke kamarnya Pragya mengejar putrinya Pardhi menatap Bhagvati dengan bingung " Kakak kenapa kau bicara seperti itu? "
Bhagvati tersenyum tipis dia memperlihatkan surat yang dikirim oleh Nandini " Ini " Paridhi mengambilnya dia membacanya dan terkejut
" Kenapa Gauri tega melakukan hal itu? "
Bhagavati mengangkat bahunya dia pergi meninggalkan aula Istana. Pragya mengejar putrinya begitu mereka sampai di kamar Pragya mengunci pintu kamar putrinya dia mendekati Gauri yang berdiri dengan wajah sedih
" Katakan pada ibu apa yang sebenarnya terjadi? kenapa bibimu mengirim surat kepada ibu? apa yang sudah kau lakukan? " Pragya membalikkan tubuh putrinya Gauri menghela nafas " Ibu, semua impian yang aku inginkan hancur " kening Pragya berkerut " Maksudmu? "
Gauri lalu menceritakan semuanya Pragya ternganga mendengarnya dia membiarkan putrinya bercerita, selesai bercerita Gauri duduk di kursi dengan perasaan hancur
" Mereka sudah keterlaluan, sayang kau jangan sedih ada ibu disini. Ibu akan membantumu "
mata Gauri menatap ibunya " Apa? ibu akan membantuku untuk mendapatkan impianku itu?" Pragya mengangguk " Tentu saja sayangku" ekspresi Gauri langsung ceria dia memeluk ibunya erat " Terima kasih ibu " Pragya tersenyum sembari mengelus kepala putrinya " Sama-sama sayang".
Siddharth yang baru saja pulang dari berburunya melihat istri pertamanya tengah mengamati bunga di taman dia pun menghampirinya " Ada apa Bhagvati? kenapa wajahmu seperti itu? apa yang kau pikirkan? "
Bhagvati menoleh dia melihat suaminya berdiri di sampingnya " Kau sudah pulang? tidak, aku tidak apa-apa " dia berkilah buru-buru dia mengubah ekspresi wajahnya namun Siddhart mengetahui bahwa istrinya itu tengah memikirkan sesuatu " Kau jangan berbohong katakan padaku ada apa? " Bhagvati pun memberitahunya bahwa Gauri pulang
" Dia sudah kembali? " Bhagvati mengangguk
" Aku harus menemuinya sudah lama aku tidak bertemu dengan putriku sejak pernikahan Sanjaya dan Jhanvi " tanpa dia ketahui bahwa putrinya itu telah melakukan sebuah dosa besar, Bhagvati mengikuti suaminya saat mereka sampai di depan kamar Gauri mereka mendengar Pragya tengah memarahi putrinya
" Kenapa? apa yang sudah terjadi? " tanyanya kepada Bhagvati lalu istrinya itu mengajaknya pergi dan memberitahu semuanya. Sementara itu Pragya menepuk dahinya dia benar-benar kesal kepada putrinya itu " Kau ini " dia mulai merasa kesal " Apa kau tidak pernah berpikir untuk memakai otakmu itu jika ingin merencanakan sesuatu? seharusnya kau pakai otakmu itu jika keinginanmu ingin terwujud, ibu bingung kenapa kau jadi seperti ini? kau itu anak ibu seharusnya kau mewarisi kepintaran ibu bukannya menjadi anak bodoh begini "
Gauri kesal karena ibunya masih mengomeli dirinya " Jadi sekarang apa ibu akan mengomeliku terus dan tidak berniat membantuku begitu? ibu jika aku bisa pasti rencanaku saat ini berhasil tapi selalu saja ada yang menghalanginya " Pragya memandang putrinya " Siapa yang kau maksud? " Gauri dengan kesal menyebut satu orang " Shivannya"
mata Pragya melotot mendengarnya
" Shivannya? gadis itu telah menghalangi rencanamu? " Gauri tersenyum kecut " Ya ibu "
" Dia selalu menggagalkan rencanaku setiap aku ingin membuat Manu celaka aku tidak tahu kenapa dia bisa mengetahuinya, dia padahal tinggal di Kavila tapi tiba-tiba saja dia datang ke Aradhya ibu. Jarak Kavila dan Aradhya itu jauh kan tapi bagaimana bisa dia datang dengan begitu cepat kadang aku bingung apa orang itu memiliki kekuatan khusus sampai dia mengetahui segalanya dan bisa sampai di tempat tujuan dengan cepat, aku dan kak Jhanvi sampai kewalahan untuk menanganinya ibu,setiap dia berhasil menyelesaikan masalah yang dialami oleh gadis itu dia selalu menyindir dan berdebat denganku ibu aku tidak tahu lagi bagaimana harus menangani dia " Pragya terdiam dia berdiri memegang pundak putrinya
" Ingat lah dia adalah saudari sepupumu kau jangan bersikap macam-macam dengan dia, kau harus bisa menahan emosimu itu sayang kau tahu kan dia itu Ratu jadi dia bisa bersikap seperti itu, tapi kau tenang saja ibu pasti akan mengurus itu kau jangan khawatir untuk sementara ini tetap tinggal disini sampai ibu menemukan rencana untuk membantumu "
Gauri mengangguk, Pragya meninggalkan putrinya sendirian di kamar dia pergi menemui suaminya.
" Aku benar-benar tidak mengerti dengan Gauri, Paridhi setiap hari dia selalu saja membuat ulah aku bahkan tidak percaya jika dia tega melakukan hal yang kejam seperti itu. Gauri adalah putriku juga jadi aku merasa sangat malu dengan perbuatannya aku merasa marah kepadanya sikapnya sudah di luar batas aku harus memberinya hukuman " ucap Bhagvati segera bergegas pergi namun Paridhi menahannya " Jangan kak, dengar aku yakin jika Gauri melakukan itu dengan tidak sengaja dia pasti sudah dihasut oleh seseorang -"
Bhagvati mengangkat tangannya meminta Paridhi untuk berhenti bicara
" Kau jangan membela dia lagi, dia sudah berbuat dosa yang besar jadi aku mohon kepadamu jangan membela dia lagi, kau itu bodoh Paridhi kau mau saja dibodohi oleh sikapnya itu aku tidak percaya lagi kepadanya. Jika ibunya tidak bisa bersikap tegas kepadanya maka aku ibu tirinya akan memberikan hukuman dan bersikap tegas kepadanya, dengar Paridhi kau selalu saja membelanya sejak dia masih kecil kau tidak mengetahui sikap aslinya apa kau tidak bisa membaca dan melihat sikap yang ada pada diri anak-anak kita? ingat lah Paridhi jangan pernah mau dibodohi sama Gauri, biarkan aku menghukumnya jangan halangi aku " Bhagvati pergi dari ruangan itu Paridhi berusaha untuk menghentikannya " Kakak tunggu ", Bhagvati tetap tidak mendengarnya dia terus berjalan sampai di depan kamar Gauri dia berniat membuka tapi Pragya menghalanginya
" Apa yang akan kau lakukan? " Bhagvati menatapnya dingin " Apa urusanmu? "
" Aku adalah ibunya Gauri jadi aku tidak akan membiarkan siapapun masuk kesini selain diriku " ujarnya, " Oh begitu? jadi hanya kau saja yang berhak atas anakmu begitu, sedangkan aku tidak? dengar baik-baik Pragya siapapun disini anaknya yang berbuat salah maka siapapun itu berhak untuk menghukumnya termasuk aku yang berhak menghukum anakmu, ingat satu hal aku juga ibunya jadi aku berhak untuk memberikan pelajaran kepada anakku walaupun aku tidak melahirkan dia tapi aku menikah dengan ayahnya itu berarti dia juga adalah putriku maka aku harus memberikan dia hukuman agar dia tidak mengulangi perbuatannya " Paridhi yang datang mencoba mengajak Bhagvati pergi
" Tidak, aku tidak akan pergi sebaiknya kau diam saja Paridhi biarkan aku melakukannya "
dia pun mendorong Pragya untuk menyingkir dia membuka pintunya dan masuk. Gauri yang melihat Bhagvati masuk segera terdiam dia tidak tahu kenapa ibu tirinya itu datang Bhagvati memegang tangan Gauri tanpa banyak bicara dia menariknya keluar Gauri yang mendapatkan dirinya ditarik keras begitu segera bertanya" Bibi apa yang kau lakukan? lepaskan tanganku " Bhagvati melirik gadis itu sekilas dia tetap menarik Gauri sampai di depan kamarnya kemudian dia mendorongnya sampai Gauri jatuh tersungkur.
" Gauri sayang " Pragya menghampiri putrinya
" Kau tidak apa-apa kan sayang? " dia memeriksa keadaan putrinya Bhagvati yang melihatnya semakin marah, Pragya menatap garang wajah Bhagvati " Apa yang sudah kau lakukan hah? kau menarik putriku dan mendorongnya sampai jatuh, kau sungguh keterlaluan dimanakah sikap belas kasihan dirimu sebagai seorang ibu? " Bhagvati membalas tatapannya dia hanya diam dan membiarkan Pragya bicara hingga Siddhart datang melerai istrinya " Ada apa ini? " Pragya yang tahu suaminya datang segera berpura-pura sedih " Yang Mulia lihat lah kak Bhagvati dia mendorong putriku sampai jatuh, dia sudah bersikap kasar kepadanya aku tidak percaya bahwa dia akan bersikap seperti itu kepada putriku jika dia memang tidak menyukai putriku kenapa dia harus bersikap kasar kepadanya? apa salah putriku itu aku tidak mau tahu pokoknya kau harus memberikan keadilan, kau harus memberikan kak Bhagvati hukuman atau setidaknya marahi dia karena dia sudah bersikap seperti- " Bhagvati yang sudah tidak tahan mendengarnya menampar pipi Pragya, Siddhart yang melihatnya hanya diam
"SUDAH CUKUP KAU BICARA PRAGYA, KAU MEMBELA PUTRIMU YANG SUDAH MELAKUKAN TINDAKAN KEJI SEPERTI ITU SEHARUSNYA KAU MENDIDIK DIA DENGAN BENAR BUKAN MENDUKUNGNYA. AKU SUDAH TAHU SIFAT ASLI GAURI MAKANYA AKU INGIN MEMBERIKAN DIA HUKUMAN DAN KAU JANGAN IKUT CAMPUR URUSANKU, GAURI ADALAH PUTRIKU JADI AKU BERHAK UNTUK MEMBERIKAN DIA PELAJARAN ATAS PERBUATANNYA DIA HARUS DIHUKUM ATAS KESALAHAN YANG DIA BUAT PRAGYA "
bentak Bhagvati dia kembali menarik Gauri menuju ruangan sempit, Pragya mencoba untuk menghalanginya tapi Siddhart menyuruhnya diam " Kau sungguh keterlaluan Pragya putri kita telah berbuat salah seharusnya kau menghukumnya jika kau tidak bisa memberikan dia hukuman maka biarkan Bhagvati memberinya hukuman, kau mengerti kan? "
__ADS_1
dia pun pergi meninggalkan Pragya, Paridhi yang melihat itu ikut pergi mengikuti suaminya
wanita itu menangis melihat putri kesayangannya sedang dihukum oleh Bhagvati dia mengusap air matanya " Aku akan membebaskan putriku bagaimana pun caranya"
dia pun pergi menuju ruangan dimana Gauri dikurung. Bhagvati memaksa Gauri untuk masuk ke ruangan sempit itu gadis itu menangis memberontak tidak mau masuk
" Bibi jangan kurung aku disana, tolong jangan masukkan aku kesana bibi aku mohon maafkan aku " Bhagvati menatapnya tajam
" Diam, tutup mulutmu itu Gauri kau telah mempermalukan keluargamu kau berbuat jahat kepada saudari ipar sepupumu kau bahkan ingin melenyapkan nyawanya. Kenapa? kenapa kau melakukan itu Gauri? kenapa? aku tidak pernah menyangka kau tega melakukan itu semua perbuatan mu aku bisa memaafkanmu tapi tidak yang ini, kau sudah melampaui batas aku sama sekali tidak bisa memaafkanmu, mungkin ibumu bisa memaafkanmu tapi aku tidak dan tidak akan pernah aku maafkan dirimu, ibumu sudah memberikan didikan yang salah dia sudah memberikan didikan jahat kepadamu Gauri, sekarang ayo masuk sana. Ayo cepat "Gauri menangis sesenggukan dia pun menurutinya dan masuk ke dalam,
Bhagvati menutup pintu itu dan menguncinya
" Kau tinggal disini sampai kau menyesali perbuatanmu itu dan tidak akan pernah melakukannya lagi " Bhagvati pergi meninggalkannya Pragya menyaksikan semuanya sendirian dia melihat putrinya ada di dalam sana dia pun menghampirinya.
" Gauri sayang " Gauri mendengar suara ibunya
" Ibu " ucapnya Pragya mengusap pintu itu
" Ibu disini sayang, kau jangan takut ibu akan menemanimu disini " Gauri mulai menangis lagi
" Ibu tolong buka pintunya aku tidak tahan tinggal disini, ruangan ini sangat bau ibu aku benar-benar tidak tahan dengan bau ruangan ini" Pragya tercengang dia terdiam entah harus berbuat apa " Sayang, ibu tidak bisa mengeluarkanmu dari sana kuncinya bibimu yang memegangnya tapi kau jangan khawatir ibu disini menemanimu, kau tenang saja Gauri"
Gauri mendesah kesal dia duduk sambil menangis, Pragya mengerti apa yang dirasakan oleh putrinya dia pun ikut duduk dan menangis.
Paridhi mencoba untuk bicara dengan Bhagvati " Kakak " Bhagvati meliriknya sebentar
" Ada apa? " dia tetap melanjutkan tugasnya untuk menghias kuil " Begini kakak, itu- "
Bhagvati menatapnya tajam " Ada apa? katakan yang sebenarnya Paridhi " ,Paridhi yang ragu untuk bicara perlahan mulai membuka mulutnya" Kakak, bisakah kau mengeluarkan Gauri dari ruangan itu? " Bhagvati menghentikan pekerjaannya dia menatap wanita yang sudah dia anggap adik itu
" Tidak, sebelum dia menyesali perbuatannya aku tidak akan mengeluarkan dia dari ruangan itu aku minta kepadamu tolong jangan memaksaku Paridhi, lebih baik kau diam saja karena ini urusanku dengan putriku aku tahu kau sebenarnya berniat baik tapi aku tidak bisa kesalahan yang diperbuat oleh Gauri bukan lah kesalahan kecil tapi kesalahan yang menyangkut nyawa orang. Dia berniat ingin melenyapkan seseorang demi keinginannya terwujud aku tidak suka dengan sikapnya, jadi lebih baik jangan mengungkit masalah ini lagi kau fokus lah pada putramu yang sebentar lagi akan kembali dari asrama perguruan " Bhagvati berdiri dia mengambil piring puja dan pergi ke arah lain, Paridhi terdiam dia tidak bisa memaksa Bhagvati lagi lalu wanita itu melanjutkan untuk menghias kuil.
" Apa yang kau lakukan disini? " Pragya berdiri dia menatap suaminya " Suamiku " Siddhart melihat wajah istrinya yang dihiasi air mata, Pragya meminta Siddhart untuk membebaskan putrinya namun Siddhart menolaknya
" Tapi kenapa? kenapa kau menolaknya? tidak kah kau merasa kasihan putrimu sejak tadi belum makan suamiku, dia di dalam sana merasa kelaparan tolong lah suamiku keluarkan Gauri dari dalam sana, ini adalah permohonan seorang ibu kabul kan lah suamiku" ujar Pragya memohon tiba-tiba Bhagvati datang dia berdiri di samping Siddhart " Kenapa kau berlutut di hadapan Yang Mulia,Pragya? ayo berdiri" Pragya menggeleng
" Aku tidak akan berdiri sampai Yang Mulia mau mengeluarkan Gauri dari dalam sana " Bhagvati mendekatinya " Yang Mulia tidak akan mengabulkan permintaanmu kau tahu sendiri kan putrimu telah berbuat tindakan jahat jadi dia harus dihukum, aku tidak akan mengeluarkan dia dari dalam sana sampai dia menyesali kesalahannya " Siddhart membenarkan ucapan istri pertamanya
" Aku setuju dengan Bhagvati, dengar Pragya putri kita sudah keterlaluan aku benar-benar merasa malu kepada keluarga kakak ipar jadi sebaiknya berhenti memohon kepadaku ayo kita pergi Bhagvati " mereka pun pergi meninggalkan Pragya yang terus berteriak meminta tolong. Bhagvati dan Siddhart akan pergi ke Kerajaan Ardhya untuk meminta maaf mereka benar-benar sangat malu dengan sikap Gauri, sementara itu, Manu tengah melakukan ritual puja di kuil dia memasang lilin namun dia melihat sebuah kereta kuda berhenti di halaman Istana dia pun menghampirinya
Bhagvati dan Siddhart turun dari kereta Manu segera menyambut mereka " Salam " Bhagvati dan Siddhart menoleh dia melihat seorang wanita cantik menyambutnya
" Salam nak, bisakah kami bertemu dengan kakak Nandini? " tanya Bhagvati, Manu langsung mengajak mereka masuk ke aula Istana " Pelayan tolong panggilkan ibu dan yang lainnya ya " pinta Manu lembut pelayan itu pun pergi " Silakan duduk aku akan mengambilkan kalian sesuatu " Manu pun pergi menuju dapur tidak lama kemudian Nandini beserta yang lain datang mereka tersenyum menyambut mereka
" Wah kalian datang, ayo silakan duduk " mereka duduk lalu Manu datang membawa nampan berisi minuman " Silakan " dia pun berdiri di samping suaminya sebelum itu Bhagvati bertanya kepada Nandini
" Uhm kakak dia siapa? dia terlihat sangat cantik " Nandini kemudian memperkenalkan menantunya " Dia adalah istrinya Vikram menantuku Manu, Manu ayo sentuh kaki bibi dan pamanmu kau harus meminta berkat dari mereka " Manu pun melakukan apa yang diperintah oleh ibu mertuanya dia menyentuh kaki Bhagvati dan Siddhart " Semoga kau bahagia " ujar mereka Manu hanya tersenyum dia pun kembali berdiri di samping suaminya
" Tunggu sebentar, aku baru ingat kalau dia itu Manu kan? " Manu hanya mengangguk
" Ya paman aku Manu " Siddhart menepuk keningnya " Astaga aku benar-benar lupa kalau kau itu Manu, waktu ini aku dan Pragya menghadiri pernikahan kalian kan? aku lupa Bhagvati mengenalkan dia kepadamu karena waktu itu kau tidak bisa datang karena ibumu sakit " Bhagvati tersenyum " Lupakan saja itu maafkan bibi sayang karena tidak bisa menghadiri pernikahan kalian, doa bibi untuk kalian adalah semoga kalian berdua bahagia dan tetap bersama sampai hari tua " , Manu dan Vikram tersenyum bersama " Terima kasih"
kemudian mereka mulai bicara mengenai kedatangan mereka ke Aradhya
" Uhm ibu aku permisi sebentar " ucap Manu melenggang pergi ke dapur.
Manu kembali ke dapur dia membantu para pelayan menyiapkan makanan Madhuri datang sambil membawa keranjang berisi buah-buahan segar " Mari aku bantu " Manu mengambil alih pelayan yang sedang memotong sayuran
"Tidak, Tuan Putri anda tidak usah membantu kami, kami akan menyiapkan makanan dengan cepat lebih baik anda beristirahat saja " Manu menggeleng " Tidak apa-apa sini biar aku bantu, dengar aku sudah terbiasa mengerjakan pekerjaan seperti ini. Bagiku mengambil pekerjaan seperti ini sudah menjadi hal yang wajib bagi seorang perempuan walaupun aku ini seorang keturunan bangsawan tapi aku tidak peduli, menurutku pekerjaan ini bisa dikerjakan bagi semua kasta entah itu keturunan bangsawan atau orang biasa itu tidak masalah bagiku " pelayan itu tersenyum mendengarnya,
__ADS_1
mereka mulai mengerjakan pekerjaan dapur sedangkan Madhuri duduk di taman sembari mengupas buah untuk dimakan nanti beberapa jam kemudian masakan sudah matang Manu memutuskan untuk mengajak semua orang untuk makan Manu mengetuk pintu tempat dimana semua orang berkumpul
" Maaf semua, makanannya sudah siap ayo kita makan siang " ajak Manu sopan Nandini yang melihat menantunya datang pun mengajak besannya untuk makan siang. Di meja makan Manu menyiapkan semua makanan di piring untuk semua orang " Makanan ini lezat sekali, pelayanmu pintar sekali memasaknya " puji Siddhart, Nandini hanya tersenyum
" Makanan ini menantuku yang memasaknya "
Bhagvati menoleh " Benarkah itu? " Manu mengangguk " Ya bibi aku yang memasaknya tadi aku membantu para pelayan yang sedang memasak jadi sekalian saja aku ikut memasak"
Bhagvati tertawa " Ini bagus sayang mengurus keluarga adalah hal yang utama, dengar bibi sangat menyukai masakanmu bukan begitu suamiku? " Siddhart setuju dengan perkataan istrinya " Aku setuju dengan Bhagvati masakanmu sangat lezat sayang " Manu tersenyum mendengar pujian itu, tidak lama kemudian Madhuri datang membawa buah-buahan yang sudah dipotong Nandini melihat putrinya datang " Tadaa ini dia " ujar Madhuri sembari menaruh piring berisi buah yang sudah dipotong " Madhuri sayang kau darimana saja? paman tidak melihatmu daritadi " Madhuri masih sibuk menyajikan buah-buahan untuk semuanya " Ah maaf paman tadi aku sedang berburu buah-buahan, aku tahu paman datang karena aku melihat kalian berdua datang jadi aku memutuskan untuk membawa buah-buahan untuk kalian " Nandini bertanya kepadanya " Darimana kau mendapatkan buah-buahan ini sayang? dan bagaimana kau bisa tahu jika paman dan bibimu datang? " Madhuri tersenyum nakal " Tentu saja aku tahu karena aku melihat kereta kuda paman dari atas pohon, ibu tahu kan aku ini jago memanjat pohon jadi aku melihatnya dari atas pohon. Setelah paman datang aku memutuskan untuk memetik buah-buahan yang ada di halaman Istana ibu ". Manu bingung dengan adik iparnya itu " Maksudnya kau memanjat pohon begitu?tapi pohon di Istana tinggi sekali Madhuri kau tahu kan jika salah memanjat maka bisa berakibat buruk " Madhuri tertawa mendengarnya " Hahahaha kakak ipar tenang saja aku itu ahli dalam memanjat kakak, kau tidak usah khawatir " Nandini menghela nafas mendengar putrinya yang keras kepala begitu
" Sudah sudah ayo kita makan buah ini pasti rasanya lezat, apalagi buah ini baru dipetik pasti rasanya segar " .Mereka menikmati buah yang rasanya manis dan segar itu beberapa menit kemudian Bhagvati dan Siddhart memutuskan untuk pulang namun Sanjaya mencegahnya " Paman hari sudah mulai gelap sebaiknya paman dan bibi menginap saja disini, kalian bisa pulang besok lagipula jarak Padmarana dan Aradhya jauh paman akan membutuhkan waktu untuk sampai disana kalian akan sampai disana malam hari itu pasti akan melelahkan dalam perjalanan kalian "
Siddhart menimbang ucapan keponakannya itu
setelah diskusi dengan Bhagvati akhirnya dia setuju " Baiklah paman akan menginap disini "
Sanjaya tersenyum dia lalu meminta pelayan untuk mengantarkan Siddhart dan Bhagvati ke kamar tamu.
Di sisi lain Pragya terus mencoba untuk mengeluarkan putrinya dari ruangan itu dia melakukan segala cara agar pintu itu terbuka namun usahanya hanya sia-sia saja, Gauri menunggu ibunya untuk membawanya keluar
" Ibu, cepat lah keluarkan aku dari sini, aku sudah tidak tahan tinggal disini lagi ada begitu banyak nyamuk dan debu itu membuatku gatal-gatal alergiku terhadap debu kumat lagi ibu. cepat lah buka pintu ini " gerutunya keras Pragya berusaha mencongkel lubang pintu menggunakan jepit rambutnya tapi tidak bisa
" Sial pintu ini sulit sekali dibuka, apa tidak ada cara lain untuk membukanya? " dia pun mendapatkan ide lalu Pragya memanggil putrinya " Gauri sayang, apa disana ada jendela tidak? " Gauri melihat ruangan itu ada jendela besar seperti pintu " Ya ada bu " dia pun menghampirinya ternyata jendela itu tidak dikunci dia pun membukanya, ternyata itu adalah jalan keluar menuju taman Istana gadis itu pun memberitahu ibunya " Ibu ternyata jendela itu adalah sebuah pintu tidak dikunci, aku bisa keluar lewat sana dan itu menuju taman " Apa? baiklah kau lewat saja sana sayang ibu akan menunggumu di depan pintu utama " Gauri bergegas pergi menuju pintu itu dia membukanya perlahan dan menengok kanan kiri berharap tidak ada penjaga yang memergoki dirinya, dia pun keluar lewat sana dan pelan-pelan menutup pintu setelah itu dia berlari menuju ibunya Pragya menunggu kedatangan putrinya. Pragya melihat Gauri datang dia pun segera memeluknya
" Astaga putriku, lihat lah betapa kusutnya dirimu kau terlihat berantakan sayang " Gauri hanya diam " Mau bagaimana lagi ibu aku harus disana untuk menebus kesalahanku, lihat ada banyak nyamuk yang menggigit diriku ibu semua badanku terasa gatal aku ingin mandi dan ya ini semua akibat istri pertama ayah "
Pragya mengajak putrinya untuk masuk dan mengajaknya ke kamarnya, keduanya pelan-pelan masuk ke Istana karena mereka tidak ingin bertemu dengan Paridhi jika bertemu dengan dia akan banyak pertanyaan yang akan dia lontarkan dan itu akan membuat Pragya sulit menjawabnya. Akhirnya mereka sampai di kamar Gauri, Pragya menutup pintu dan menguncinya " Ayo sana mandi " dia mendorong Gauri yang masih terbaring di kasurnya " Sebentar lagi ibu aku ingin menikmati kasur ini, ah sudah lama aku tidak menikmati kasurku yang empuk ini sebentar saja ibu 15 menit lagi " Pragya duduk di sampingnya " Kau tahu, kau harus menikmati momen ini " Gauri tidak mengerti maksud ibunya " Maksud ibu " Pragya lalu memberitahu bahwa Bhagvati dan Siddhart tidak ada di Istana " Ayah dan bibimu sedang tidak ada disini entah mereka pergi kemana sampai sekarang belum kembali, tapi tidak masalah kau bisa menikmati kamarmu ini sebelum mereka kembali dan ya ibu akan membawakan makanan kesini untukmu jadi sekarang cepat mandi ibu akan menemanimu disini " ,
" Tapi ibu kapan ayah dan bibi kembali? bagaimana jika mereka datang dan masuk ke kamar ini? aku pasti akan diseret dan dimasukkan kesana lagi, habis lah aku jika ayah dan bibi menemuiku sedang berbaring seru disini. Ibu aku tidak mau masuk kesana lagi bujuk lah ayah dan bibi agar aku tidak dibawa kesana lagi " Pragya menutup mulut anaknya
" Sudah diam saja kau jangan banyak bicara, sekarang lakukan apa yang ibu katakan soal kau untuk kembali ke ruangan itu ibu akan membujuk Paridhi, mustahil jika ibu membujuk ayah dan bibimu itu kau tahu sendiri kan kalau mereka marah itu sangat menyeramkan akan sangat sulit mengambil hati mereka, entah apa yang mereka makan sehingga mereka itu mempunyai sifat seperti monster sudah kau mandi saja sekarang ibu akan mengambilkan makanan untukmu " Pragya berdiri keluar dari kamar putrinya sedangkan Gauri sudah pergi untuk mandi. Pragya pun datang kembali membawa makanan untuk putrinya dia meletakkan piring besar itu di atas meja kamarnya sembari menunggu Gauri mandi Pragya lebih memilih untuk merapikan kamar anaknya lalu Gauri muncul dengan wajah dan tubuh yang segar sehabis mandi rambutnya basah sehabis keramas, Pragya mengajak putrinya untuk duduk di depan meja rias dia mengeringkan rambut putrinya Gauri merasa senang karena ibunya masih memperlakukan dirinya seperti anak kecil setelah itu Pragya menyisir rambut panjang putrinya dan menghiasinya dengan hiasan rambut hari ini dia akan mendandani cantik putrinya.
Selesai dirias dengan cantik Pragya mengajak putrinya untuk makan mereka duduk di kursi kamar Gauri, Pragya menyuapi anaknya dengan penuh kasih sayang Gauri senang dan nyaman dengan sikap ibunya dia merasa kasih sayang ibunya tidak melebihi siapapun dan Gauri tidak membutuhkan yang lain yang dia butuhkan adalah ibunya, cinta dan kasih sayang ibunya sudah membuat dirinya bahagia Pragya memangku kepala putrinya di pangkuannya dia menyanyikan lagu yang indah untuk putri kesayangannya. Hari sudah semakin larut tapi keduanya masih terjaga Gauri mengajak ibunya untuk menari mereka benar-benar menikmati suasana ini dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya sebelum Siddhart kembali ke Padmarana mereka terus menikmati pesta kecil sampai mereka tertidur keesokan harinya Paridhi mengetuk pintu kamar Gauri,Pragya yang mendengar suara Paridhi segera bangun dia membuka pintunya dan melihat Paridhi berdiri " Ada apa? kenapa kau kemari? " tanya Pragya setengah mengantuk Paridhi melihat Pragya dengan penampilan acak-acakan
" Uhm kakak, ini sudah pagi jadi aku datang untuk mencarimu " Pragya menatapnya dengan tatapan datar " Lalu? aku masih mengantuk kepalaku pusing, aku mau tidur "Pragya hendak menutup pintu tapi Paridhi mencegahnya
" Kakak, ayo bangun sebentar lagi Yang Mulia dan kak Bhagvati kembali ke Istana kita harus menyambut kedatangan mereka, anu kenapa kakak tidur di kamar Gauri? apa semua baik-baik saja? " Pragya tersentak mendengarnya dia pun menyuruh Paridhi untuk cepat-cepat pergi dari hadapannya " Dengar, aku kemarin merapikan kamar anakku jadi karena kelelahan aku ketiduran disini sudah kau pergi saja "
" Baik lah kalau begitu aku akan memeriksa Gauri, dari semalam dia belum makan dan membersihkan dirinya " Pragya menghentikannya " Tidak usah kau periksa Gauri, aku akan memeriksanya lebih baik kau siapkan saja makanan dan penyambutan untuk Yang Mulia dan kak Bhagvati saja, kau mengerti kan? ayo sana pergi " Paridhi hanya mengangguk dia pun menuruti ucapan Pragya dan pergi ke dapur. Pragya menutup pintu dia segera membangunkan Gauri " Hei ayo bangun"
dia menggoyangkan tubuh Gauri gadis itu menggeliat pelan " Hmm ada apa ibu? aku masih mengantuk jangan ganggu aku " Pragya semakin panik " Kau jangan tidur lagi, ayo cepat bangun ayah dan bibimu akan kembali " Gauri langsung membuka matanya " Benarkah? " dia duduk di kasurnya " Ya ayo bangun kau harus segera kembali ke ruangan itu, ayo cepat sebelum itu kau harus mandi dulu ayo sana mandi " Gauri menarik tangan Ibunya
" Aku tidak mau kembali ke ruangan itu ibu kemarin ibu sudah berjanji kepadaku akan mengeluarkan aku dari ruangan itu dan sekarang aku ingin ibu penuhi janji itu " Pragya mencubit putrinya " Ibu akan menepati janji ibu, tapi bukan sekarang cepat lah kau mandi tidak ada waktu lagi untuk berdebat ayah dan bibimu bisa sampai kapan saja, jadi sekarang ibu harus memastikan para pengawal ataupun pelayan tidak melihatmu, ayo sana " dia mendorong putrinya untuk segera membersihkan diri.
Pragya membuka pintu kamar dia melihat beberapa pengawal dan pelayan wara-wiri di depannya dia pun mulai bicara " Hei kalian " semuanya diam di tempat dan menatap Ratu mereka " Kalian sebaiknya jangan disini, sebentar lagi Yang Mulia dan Ratu Bhagvati kembali, jadi kalian para pengawal pergi ke gerbang Istana kalian harus menyambut mereka dan untuk pelayan kalian bersihkan kamar Yang Mulia dan siapkan air untuk mereka mandi. Ayo sana kembali kerja " semuanya mengangguk dan pergi, Pragya melihat putrinya sudah rapi dan bersih dia pun menariknya dan mengajaknya ke taman menuju ruangan itu mereka terus menghindari pelayan ataupun pengawal hingga sampai akhirnya mereka sampai di jendela ruangan itu
" Ayo sana masuk, ibu akan berjaga disini "
ujar Pragya mendorong putrinya untuk masuk Gauri pun membuka jendela itu dan mulai masuk secara perlahan, tiba-tiba suara lonceng berbunyi Pragya mendengarnya dia pun bergegas menghampiri suaminya.Kereta kuda sudah sampai di depan halaman Istana Siddhart dan Bhagvati keluar dari kereta Paridhi menyambut kedatangan mereka sementara itu Pragya mengintip mereka dari arah taman dia menghela nafas lega karena dia berhasil membawa Gauri kembali ke ruangan itu, Pragya berlari menuju kamarnya dia berpura-pura membuat dirinya berantakan agar dia bisa mendapatkan simpati dari suaminya
Paridhi mengajak Siddhart beserta Bhagvati ke meja makan " Silakan, aku akan mengambilkan makanan untuk kalian " dia pun pergi ke dapur saat Paridhi hendak menyajikan makanan dia melihat Pragya berjalan lunglai menuju dapur
" Kakak " Paridhi memanggil Pragya. Siddhart dan Bhagvati menoleh mereka terkejut melihat penampilan Pragya, Paridhi menaruh mangkok yang berisi makanan dan mendekati Pragya
" Kakak, apa yang terjadi kenapa pakaianmu berantakan? " namun Pragya hanya diam Bhagvati memutar matanya kesal drama apa lagi yang akan dimainkan oleh Pragya dia tahu betul bagaimana sikap madu nya itu Siddhart yang tidak tega melihat penampilan istrinya segera bangun bertanya kenapa wajah istrinya terlihat kusut " Tidak apa-apa Yang Mulia, aku baik-baik saja aku sedikit kelelahan, aku mau ambil air dulu " Siddhart segera memanggil pelayan " Tolong ambilkan air minum untuk Pragya dan siapkan air mandi untuknya, aku tidak ingin melihatnya kusut seperti ini " Pragya menggeleng pelan " Tidak Yang Mulia, aku tidak ingin mandi " Siddhart tetap bersikeras lagi-lagi Pragya menolaknya, karena tidak tahan dengan sikap Pragya akhirnya Bhagvati berdiri
" Tidak bisakah kau diam saja? Yang Mulia menyuruhmu untuk membersihkan dirimu, kau itu seorang Ratu, seorang Ratu harus terlihat rapi dan juga bersih jadi cepat bersihkan dirimu itu " Pragya terdiam " Paridhi, bawa Pragya ke kamarnya untuk membersihkan dirinya " perintah Bhagvati kepada Paridhi wanita itu pun menurutinya dan mengajak Pragya pergi. Di kamar Paridhi mulai menyiapkan perlengkapan mandi untuk Pragya sementara Pragya harus menjalankan rencananya kembali, kira-kira apa rencana yang akan dilakukan oleh Pragya? kita tunggu di bab selanjutnya ya.....
Jangan lupa like dan komen ya terima kasih
__ADS_1