PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 20


__ADS_3

Pragya tengah memikirkan sebuah rencana untuk membantu putrinya keluar dari ruangan itu " Bagaimana caranya aku membantu Gauri keluar dari ruangan itu? aku tidak mau hidup putriku berakhir disana, bagaimana pun caranya aku harus membantu Gauri untuk mewujudkan keinginannya aku sebagai ibunya harus membantunya. Tapi bagaimana caranya? "


dia tengah sibuk memikirkan sesuatu namun dia mendengar para pelayan yang ada di kamarnya tengah membicarakan sesuatu dia pun mengintip untuk menguping


" Benarkah itu? " tanya Sukma kepada temannya yang bernama Charu


" Ya itu benar kemarin ketika aku tengah berada di kampung halamanku, aku melihat seorang gadis yang merupakan teman dari ibuku dia mengubah wajahnya dan juga penampilannya, aku tidak tahu kenapa dia melakukan hal itu tapi aku mendengarnya dari ibuku bahwa dia ingin membalas dendam kepada sahabatnya yang telah merebut kekasihnya dari dirinya. Dia melakukan itu untuk bisa menggoda kekasihnya yang sudah menjadi suami sahabatnya dia ingin agar kekasihnya itu kembali kepadanya makanya dia melakukan hal itu " Pragya menutup mulutnya dia kaget mendengarnya, Sukma pun terkejut juga


" Tidak aku sangka dia nekat melakukan itu agar kekasihnya kembali kepadanya, dia melakukan segala cara agar bisa merebutnya kembali ya menurutku dia tidak terlalu salah dia melakukan agar miliknya kembali kepadanya. Gadis yang pemberani dia rela melakukan apa saja agar kekasihnya kembali aku sangat salut mendengarnya tapi sedikit kasihan juga kepada sahabatnya dia telah kehilangan suami yang dicintainya, hah ada-ada saja kelakuan mereka " . Pragya berbalik dia duduk di kursi dekat kolam dia merenung memikirkan ucapan para pelayan itu seketika wajahnya berubah gembira dia telah menemukan ide untuk membantu putrinya


" Ya aku akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh gadis itu " dia pun segera mandi.


Gauri duduk di kursi dia merindukan pria yang dicintainya " Bagaimana aku bisa bertemu dengannya? aku masih menjalani hukuman, aku yakin sekali sekarang Vikram sudah bahagia bersama gadis itu, tidak, aku tidak boleh menyerah setelah masa hukumanku selesai aku akan datang kembali dan merebut apa yang menjadi milikku. Tunggu saja Vikram "


Gauri berdiri dia menghapus air matanya wajahnya tersungging senyuman ceria, Pragya sudah selesai menyelesaikan mandinya dia bergegas keluar dari kamarnya setelah memastikan semuanya aman dia pun pergi ke ruangan dimana Gauri dikurung


" Gauri sayang " panggil Pragya, Gauri melihat ibunya datang dia pun membuka jendela itu dan keluar " Ibu, apa yang ibu lakukan disini? bagaimana jika ayah atau bibi Bhagvati melihat ibu ada disini? ayo cepat lah pergi ibu sebelum yang lain melihat ibu disini " Pragya menutup mulut putrinya " Diam jangan berisik, ibu datang kemari untuk membantumu" kening Gauri berkerut " Maksud ibu? " tanpa banyak bicara Pragya mengajak putrinya kabur melalui terowongan istana " Ibu kenapa mengajakku kemari? disini gelap ibu " Pragya hanya diam dan terus berjalan " Ibu? " panggil Gauri lagi namun Pragya hanya diam. Kemudian mereka sampai di luar terowongan Gauri melepaskan tangan ibunya " Ibu apa yang kau lakukan? kenapa mengajakku kabur dari Istana, bagaimana jika anggota keluarga tahu ibu? apa ibu tidak takut dengan ayah, ayo kita harus pulang ke Istana hari sudah mulai pagi kita harus sampai disana sebelum semuanya bangun ibu " namun Pragya mencegahnya


" Kau bisa diam tidak Gauri? ibu sudah merencanakan sesuatu untukmu, dengar ibu akan membuat impian mu terwujud sayang, jadi dengarkan rencana yang akan ibu lakukan"


Gauri hanya mengangguk dia pun mendengarkan rencana yang disusun oleh ibunya " Apa menurut ibu rencana ini akan berhasil? ibu tahu kan aku tidak akan ada di Istana untuk selamanya lalu bagaimana jika ayah mengetahui bahwa aku telah menghilang? aku harap rencana ini tidak jadi berantakan aku harap semuanya baik-baik saja " Pragya terus meyakinkan putrinya sampai Gauri menyetujuinya. Mereka lalu pergi ke sebuah tabib terkenal saat mereka masuk seorang wanita paruh baya menyambut mereka


" Wah coba lihat Ratu Pragya dan Tuan Putri Gauri tiba-tiba datang berkunjung menemuiku, ada yang bisa aku bantu Yang Mulia Ratu? "


tanya wanita tua itu, Pragya meminta agar wanita itu menutup mulutnya wanita tua itu hanya terkekeh mendengarnya " Mari silakan "


, ketiganya kemudian duduk berhadapan Pragya langsung memberitahu kedatangannya menemui wanita itu " Oh begitu ya? tidak masalah aku bisa menanganinya, dalam sekejap masalah yang kau alami akan segera selesai " Pragya tersenyum menyeringai mendengarnya. Kemudian wanita itu mulai melakukan ritual yang akan membuat wajah Gauri berubah dia menyuruh Gauri untuk mengganti pakaiannya dengan pakaian biasa setelah itu mereka berdua duduk saling berhadapan di depan sebuah api Pragya memperhatikan dari jauh wanita tua itu mulai melakukan tugasnya, beberapa hari kemudian akhirnya wanita tua itu selesai melakukan tugasnya dia membangunkan Pragya yang telah menunggunya selama beberapa hari. Pragya terbangun dia berdiri dan bergegas menemui putrinya dia melihat wajah Gauri terbalut oleh sebuah kain " Wajah putriku? " tanya Pragya kepada tabib itu " Aku akan membuka kain yang membalut wajah putrimu itu, sekarang kau lihat wajah putrimu yang sekarang.Apa kau sudah siap? " Pragya mengangguk wanita itu mengambil pisau dia memotong ujung kain itu dan membukanya Pragya tidak sabar untuk melihat hasilnya saat kain itu lepas dari wajah Gauri, Pragya terkejut melihatnya dia terdiam beberapa saat sampai tabib itu menepuk pundaknya " Ada apa? kau sudah lihat kan wajahnya? bagaimana menurutmu? " Pragya terdiam dia melihat sosok putrinya yang sudah berbeda tiba-tiba Gauri bicara " Ibu " Pragya menjawab panggilan putrinya " Ya sayang ibu disini " , " Apakah aku sudah boleh membuka mataku? " Pragya mengangguk " Ya boleh " jawabnya singkat.


Perlahan Gauri mulai membuka matanya dia merasakan sensasi aneh ketika membuka matanya " Ibu apa yang terjadi? apakah wajahku sudah berubah berbeda? apakah wajahku masih tetap cantik? atau berubah buruk? " tabib itu mengeluarkan sihir dari tangannya dia membuat sebuah cermin dan menunjukkannya kepada Gauri, gadis itu menoleh ke arah cermin buatan dia terkejut melihat wajahnya " Ini? ini? apakah dia yang ada di dalam cermin itu adalah diriku? "


dia meraba wajahnya tersenyum gembira


" Ibu, coba lihat sekarang aku semakin bertambah cantik wajahku akhirnya berhasil dirubah, aku senang sekali ibu " teriak Gauri memeluk ibunya. Pragya ikut senang mendengar ucapan putrinya dia pun membalas pelukan putrinya " Ibu juga senang melihatnya sayang " dia pun berterima kasih kepada tabib itu " Aku sangat berterima kasih kepadamu kau telah berhasil mengubah wajah putriku, aku senang sekali ini imbalan untukmu, jangan lupa kau tidak boleh membocorkan rahasia ini jika kau membocorkannya maka aku akan membuat hidupmu hancur ingat itu " Pragya keluar dari gubuk wanita tua itu, wanita itu hanya mengangguk " Kau tenang saja Yang Mulia Ratu, aku tidak akan membocorkan rahasiamu kau sudah memberikan imbalan yang sangat banyak ini sudah cukup untuk membuatku tutup mulut. Kau jangan khawatir "


Pragya hanya mengangguk dia pun pergi diikuti oleh Gauri. Di perjalanan Gauri bertanya kepada ibunya " Lalu sekarang apa rencana ibu? "


Pragya tersenyum " Sekarang kau harus mengubah nama dan identitasmu " kening Gauri berkerut" Maksud ibu? " Pragya menepuk kepalanya " Sudah kau diam saja terus ikuti ibu"


Gauri bicara kepada ibunya soal ayahnya namun Pragya dengan tenang menjawabnya

__ADS_1


" Ayahmu tidak peduli kepada ibu jika dia mencari ibu, dia tidak akan menemukannya dengar ya Gauri ayahmu hanya mempedulikan Bhagvati istri pertamanya karena dia adalah Ratu disana, sedangkan ibu? ibu hanya lah istri keduanya dan tidak akan pernah dianggap. Jika saja ibu bisa merebut posisi Bhagvati pasti sekarang ibu adalah Ratu utama dan ayahmu akan peduli pada ibu " lalu Gauri bertanya


" Lalu kenapa ibu tidak merebut posisi bibi Bhagvati? ibu kan sangat pintar bisa menyusun sebuah rencana hebat tapi sekarang menghadapi bibi Bhagvati saja ibu tidak bisa"


Pragya menatap putrinya kesal


" Bukan itu masalahnya, masalahnya adalah karena mendiang nenekmu sangat menyukai Bhagvati dan ibu tidak disukai itu sebabnya ibu harus mundur jika tidak, ibu bisa diusir dari sana ayahmu pasti akan menalak ibu. Bhagvati adalah menantu idaman dia sangat disukai oleh banyak orang dan nenekmu bicara kepada ibu seperti ini ' Jika kau masih ingin menjadi istrinya Siddhart maka kau tidak boleh mencoba merebut posisi menantuku Bhagvati, jika tidak aku bisa saja mengusirmu dari sini menyuruh Siddhart untuk menalakmu kau sedang hamil kan? aku bisa saja membunuh bayi yang ada di dalam kandunganmu itu, jangan coba-coba untuk mencari masalah denganku ' , ya begitu lah nenekmu bicara dengan ibu jadi mau tidak mau ibu harus menurutinya jika ibu tidak menurutinya maka hari itu kau bisa saja dibunuh oleh wanita kejam itu. Ibu sangat senang karena tidak diusir dari sana jadi untuk mencari keamanan ibu lebih memilih untuk tidak mencari masalah dengan nenekmu itu " Gauri mengangguk setelah mendengar cerita ibunya. Mereka sampai di depan Istana Aradhya, Pragya menarik putrinya untuk sembunyi


" Dengarkan Ibu kau harus melakukan apa yang ibu katakan tadi, kau mengerti kan? lakukan perintah ibu dengan begitu kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan " Gauri mengangguk dengan senyum di wajahnya dia pun mulai berjalan untuk melakukan rencananya sementara Pragya memperhatikannya di balik pohon.


Gauri menarik nafas dia melihat Manu tengah berjalan keluar dari kuil Istana dia pun mulai menjalankan rencananya Gauri berbaring di atas tanah tidak lama kemudian pengawal Istana datang mereka hendak membuka gerbang Istana karena sebentar lagi Sanjaya hendak pergi untuk menghadiri acara, kedua pengawal itu terkejut ketika melihat seorang gadis terbaring dia depan pintu gerbang mereka mencoba untuk membangunkannya tapi tidak berhasil, salah seorang mereka masuk untuk memanggil Manu. Pragya tersenyum melihat putrinya berhasil menjalankan rencananya tidak lama kemudian Manu datang dengan berlari dia terkejut ketika melihat gadis itu terbaring lemah


" Astaga dia pingsan, apa dia sudah lama terbaring disini? " tanya Manu kepada pengawal namun mereka menggeleng " Kami tidak tahu Tuan Putri ketika kami membuka gerbang gadis itu sudah terbaring disana " Manu memerintahkan mereka untuk membawanya masuk ke Istana mereka pun membopong Gauri ke dalam Istana, Pragya tersenyum menyeringai rencana putrinya benar-benar berhasil dia pun pergi dari situ. Manu menyuruh mereka untuk membawa Gauri ke kamar tamu


" Baringkan saja dia disana " Manu pun menyelimutinya lalu keluar mengambil air dan obat, Madhuri dan Nandini melintas di depan kamar tamu mereka melihat ada seorang gadis terbaring disana mereka pun masuk dan melihatnya " Ibu, siapa gadis ini? kenapa dia tidur disini? " kemudian Manu masuk membawa nampan berisi air dan obat Nandini bertanya kepada menantunya " Siapa dia Manu?" Manu lalu menjelaskannya Madhuri dan Nandini saling pandang sementara Manu masih mengobatinya " Baiklah biarkan dia beristirahat selama beberapa hari, jika dia sudah siuman kita akan bertanya soal dia, jangan biarkan dia keluar kamar " ujar Nandini kepada menantunya Manu mengangguk mengerti " Ya ibu " Nandini dan Madhuri keluar membiarkan Manu merawat Gauri. Sanjaya sudah bersiap untuk berangkat Vikram ikut serta karena dia harus menemani kakaknya mereka berdua menyentuh kaki Nandini meminta berkat dan restu " Semoga berhasil "


Nandini tersenyum kepada kedua putranya lalu mereka berdua pergi meninggalkan Istana. Manu duduk di samping Gauri menatap gadis itu " Siapakah dia? kenapa dia terbaring di depan gerbang? " dia masih terus bertanya soal gadis itu, Gauri yang berpura-pura pingsan ngedumel dalam hati ' Aduh kenapa dia malah duduk disini? seharusnya dia itu keluar kalau kayak gini bagaimana caranya aku membuka mataku? bagaimana aku harus menjalankan rencanaku? ' Manu memutuskan untuk keluar sebentar, setelah Manu keluar Gauri bangun dia mengendap-endap mengintip dia tersenyum melihat Manu sudah menjauh dia pun menutup pintunya dan berteriak kegirangan


" Akhirnya aku berhasil masuk ke Istana ini, lihat saja sebentar lagi Vikram akan menjadi milikku tapi aku harus tetap berpura-pura menjadi orang bodoh sesuai perintah ibu dan ya aku harus menjalankan rencanaku agar hasilnya sempurna " Gauri mendengar suara gelang kaki mendekat dia pun kembali tidur Manu datang dia melihat Gauri belum juga bangun dia pun duduk disana tidak lama kemudian Gauri mulai membuka matanya perlahan Manu dengan sigap membantunya duduk dan memberikan segelas air.


" Terima kasih " ucap Gauri lirih dia pun meminum air itu sambil melirik Manu selesai minum air Manu mulai bertanya kepadanya


" Maksudmu? " Manu menjelaskan bahwa dia pingsan di depan gerbang Istana Aradhya, Gauri mengangguk dia pun memegangi kepalanya


" Sebenarnya aku tengah kabur bersama suamiku " kening Manu berkerut " Suami? "


Gauri mengangguk " Ya, kami dikejar oleh para penjahat yang mencoba mengambil rumah kami karena kami tidak sanggup membayar utang, lalu dengan terpaksa kami memutuskan untuk kabur kami dikejar oleh para penjahat itu sampai.... " Gauri terdiam dengan air mata mengalir deras Manu masih penasaran


" Lalu apa yang terjadi? " Gauri kembali bercerita dengan menangis " Sampai kami jatuh di jurang dan suamiku dia... dia... dia telah meninggal akibat benturan di batu lalu aku panik karena penjahat itu masih mengejar kami lalu aku berlari meninggalkan mayat suamiku dan terus berlari tanpa sadar aku sampai di Kota ini, mungkin karena kelelahan berlari aku tidak sengaja tidur di depan gerbang Istanamu"


Gauri masih menangis Manu pun menenangkannya " Lalu kenapa kau tidak pergi ke rumah orang tuamu? atau ke rumah mertuamu? disana mungkin kau bisa tinggal dengan aman kan? " Gauri menggeleng


" Aku anak yatim piatu orang tuaku meninggal ketika aku masih bayi lalu aku diurus oleh seorang nenek dan nenek ku juga meninggal bulan lalu sedangkan suamiku juga nasibnya sama denganku orang tuanya membuang dia dan dia di asuh di rumah panti tapi sayangnya rumah itu sudah di jual dan dia tidak tahu dimana keluarga panti itu tinggal " Manu ikut bersedih mendengar cerita Gauri sedangkan gadis itu hanya menyeringai jahat melihat ekspresi Manu ' Dasar bodoh mau saja ditipu dengan cara seperti itu, sepertinya aku akan mudah mengendalikan dia dan lebih mudah untuk mengusir dia dari Istana ini dan juga dari Vikram lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadapmu Manu ' . Manu pun meminta Gauri istirahat dia akan kembali untuk mengambil pakaian dan pelayan " Namamu siapa? apa kau mengingat namamu? " Gauri mengangguk


" Namaku Tara " Manu hanya tersenyum tipis dia pun pergi meninggalkan Tara alias Gauri sendirian di kamarnya. Gauri merasa senang dia pun tiduran dengan berbagai gaya kemudian datang pelayan dia pun kembali menjadi gadis lugu pelayan itu mulai mengajak dia mandi dan mendandaninya sementara Manu membantu para pelayan mengerjakan pekerjaan Istana. Para pelayan yang sudah selesai mendandani Tara segera meninggalkan kamarnya Tara beranjak dari meja riasnya dia memandangi dirinya sendiri sambil tersenyum menyeringai dia berkata dengan bayangannya


" Waw kau hebat Gauri ups salah maksudku Tara, kau berhasil mengelabui gadis bodoh itu dengan penyamaranmu tidak kusangka Aku berhasil dengan rencanaku ini selanjutnya tinggal menjalankan sisanya aku benar-benar tidak percaya ternyata ide ibu untuk mengubah diriku menjadi sempurna, aku harus pelan-pelan menarik perhatian Vikram, jika aku berhasil melakukannya maka rencana ibu yang sudah direncanakan jauh ini tidak akan hancur, baiklah mari kita lakukan rencana selanjutnya "


Tara berjalan keluar dari kamarnya dia melihat sekeliling tidak ada orang dengan perlahan dia menutup pintu kamarnya tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara gadis di belakangnya Tara terperanjat kaget ternyata itu Madhuri

__ADS_1


" Ah Tuan Putri salam untuk anda " ujar Tara, Madhuri terdiam dia memperhatikan penampilan Tara dari atas dan bawah


" Kau mau kemana? " tanya Madhuri dengan sopan Tara menjawabnya " Aku ingin mencari Tuan Putri Manu, dimanakah dia? " Madhuri menyuruh Tara mengikutinya " Ikut aku " dengan cepat Tara mengangguk mengikutinya.


Di kuil Istana tampak Manu tengah sibuk menghias kuil Madhuri mengajak Tara kesana


sebelum masuk Madhuri melepas alas kakinya lalu masuk begitu juga dengan Tara, Madhuri membunyikan lonceng kuil Manu menoleh dia melihat adik iparnya datang bersama Tara


" Kalian? ada apa? " tanya Manu. Madhuri mengatakan bahwa Tara tengah mencarinya jadinya dia mengantar Tara kemari Manu tersenyum tipis " Oh begitu, baiklah ada apa Tara? " Tara dengan sopan bicara dengan Manu " Anu itu uhm.. sebenarnya aku ingin datang untuk mengucapkan terima kasih kepadamu karena kau telah menolongku dan merawatku, aku benar-benar merasa tidak enak telah merepotkan dirimu " Manu menggelengkan kepalanya " Tidak masalah, aku senang membantumu bagaimana keadaanmu? apakah sudah merasa lebih baik? " Tara mengangguk


" Sudah " Madhuri memperhatikan Tara


" Baiklah kalau begitu kakak ipar aku harus melanjutkan untuk memetik bunga sebentar lagi akan ada Diwali bukan? jadi kita akan lebih sibuk aku pergi dulu, salam untukmu" Madhuri pergi meninggalkan keduanya Manu mengajak Tara untuk membantunya menghias kuil dengan senang hati Tara membantunya walaupun dalam hati dia sama sekali tidak berniat melakukannya. Manu meletakkan lilin di samping patung Dewa Krishna dan Dewi Radha sedangkan Tara sedang membuat rangkaian bunga dia melirik Manu dengan tajam


' Lihat saja apa yang akan aku lakukan, kau sama sekali tidak menyadarinya bahwa aku telah kembali ke Istana ini untuk merebut milikku. Akan ada bencana yang terjadi padamu Manu ' Manu tersenyum lembut ke arah Tara yang dibalas dengan senyuman tipis oleh Tara, selesai menghias kuil Manu dan Tara berjalan meninggalkan kuil saat masuk ke Istana Tara bertanya " Selanjutnya kita akan melakukan apa? " Manu menatapnya bingung


" Bukan kah setiap hari raya Diwali kita akan menyiapkan semuanya? apa kau tidak pernah melakukannya?" Tara pura-pura menepuk kepalanya " Astaga aku benar-benar lupa maafkan aku ya, aku kira adat di Istana ini berbeda maksudnya kau tahu sendiri kan "


Manu mengangguk sambil tertawa


" Ya aku mengerti, ayo sekarang kita akan membuat manisan ikut aku ke dapur " Tara terdiam ' Dapur? yang benar saja aku ini seorang Tuan Putri harus kah pergi ke dapur untuk membuat manisan? tanganku bisa rusak jika membantu para pelayan itu, tapi tidak masalah akan aku lakukan apapun untuk bisa mendapatkan apa yang aku inginkan ' dia pun mengikuti Manu ke dapur.


Di dapur Tara melihat banyak masakan yang tengah disiapkan oleh para pelayan Manu langsung pergi menuju pelayan yang hendak membuat manisan " Sini akan aku bantu " dia pun mengambil piring yang berisi adonan untuk membuat manisan sedangkan Tara masih diam di tempatnya sama sekali tidak berniat menyentuh bahan masakan dia menatap jijik ke arah pelayan yang sibuk menyiapkan makanan, lalu dia mendapatkan sebuah ide untuk bisa kabur dari dapur ini dia melihat ada minyak di atas meja dengan pelan-pelan dia mengambilnya dan menumpahkannya sedikit tepat di bawah kakinya begitu selesai dengan rencananya dia pun berjalan menginjak minyak itu alhasil dia pun terpeleset " Aghhhhhhhh " para pelayan dan Manu berbalik melihat Tara sudah jatuh dengan posisi duduk Manu pun bergegas menghampirinya lalu membantu Tara berdiri " Aduh " ringis Tara, Manu melihat pergelangan kakinya Tara merah dia cedera saat jatuh tadi " Astaga Tara kakimu kau cedera ayo pelayan bantu aku membawa Tara ke kamarnya " Para pelayan dan Manu membantu Tara berjalan menuju kamarnya untuk diobati sedangkan di dalam hati Tara tersenyum puas ' Hihihi dasar kalian bodoh tertipu lagi kan? kasihan sekali ' Tara memasang wajah kesakitan, akhirnya mereka sampai di kamar Tara para pelayan membaringkannya di kasur sedangkan Manu berlari mengambil obat Nandini melihat menantunya berlari denga wajah panik


" Ada apa Manu? " Manu menjelaskan bahwa Tara terjatuh di dapur akibat minyak yang tumpah Nandini segera bergegas ke kamar Tara, disana para pelayan sudah mengurusnya


" Astaga sayang ada apa? " tanya Nandini cemas dia sudah tahu mengenai perihal Tara tadi pagi Manu yang menceritakannya sehingga dia mengizinkan Tara tinggal di Istananya


" Aduh " ringis Tara sakit Nandini menenangkannya " Tenang ya sayang sebentar lagi Manu datang, tahan ya " tidak lama kemudian Manu datang bersama Madhuri membawa obat dia pun duduk dan mulai mengolesi obat itu ke pergelangan kaki Tara


" Tahan ya aku akan memijatnya " Madhuri memandang Tara dengan kasihan. Tara menjerit kesakitan Manu terus memijatnya sampai Tara berhenti berteriak " Bagaimana? apakah masih sakit? " tanya Madhuri, Tara menggeleng " Tidak, aku sudah tidak merasakan sakit lagi " ujarnya pelan Madhuri, Manu dan Nandini tersenyum mendengarnya


" Baiklah kalau begitu kau istirahat saja dulu sampai kakimu pulih kembali " Tara menggelengkan kepalanya " Tidak, aku tidak mau merepotkan kalian lagi sebagai tanda terima kasihku akan aku bantu pekerjaan yang ada di Istana aku merasa tidak enak sudah bersantai dan sama sekali tidak membantu kalian " Nandini tersenyum lalu mengelus kepalanya " Tidak apa-apa sayang, kau istirahat saja sampai sembuh jangan khawatirkan pekerjaan di Istana, sudah ada banyak pelayan yang membantu, jika kau sudah sembuh baru kau boleh membantunya, aku sudah menganggapmu putriku sendiri jadi jangan merasa sungkan ya " Tara tersenyum manis


" Sekali lagi terima kasih banyak Ibu Ratu sudah mau menolong dan membantuku, aku berjanji tidak akan membuat kekacauan ataupun mengecewakan kalian " Nandini tertawa mendengarnya " Ya ya baiklah kau istirahat saja, ayo Madhuri, Manu kita keluar biarkan Tara istirahat kalian selesaikan pekerjaan kalian ya " keduanya mengangguk lalu mereka pergi dari kamar Tara.


Tara yang sudah merasa baikan mulai berjalan mengendap-endap dia mengunci pintunya dan menari kegirangan " Akhirnya " dia merebahkan tubuhnya ke atas kasur dengan senyum bahagia dia menyanyi sambil terus tersenyum


" Aku akan terus berada disini, lihat saja bibi Nandini sebentar lagi aku akan menjadi menantumu dan menantumu yang bernama Manu itu akan aku buat lengser dari posisinya, aku benar-benar tidak sabar menunggu bencana itu datang " karena terus merasa senang tanpa sadar Tara tertidur dengan wajah tersenyum.

__ADS_1


Hai semua aku kembali duh maaf ya aku tidak upload bab baru lagi, mungkin sudah lebih sebulan aku tidak upload bab baru pasti kalian menunggu kan? ikuti terus ya cerita ku jangan lupa like dan komen. terima kasih 😁😁🙏🙏


__ADS_2