
Malam harinya Tara melihat Manu tengah sibuk melipat tumpukan kain di kamarnya dia menatapnya sembari tersenyum miring dia pun menghampirinya ' Tok tok tok ' dia mengetuk pintu kamar Manu, Manu melihat Tara lalu memintanya masuk " Kenapa kau belum tidur Tara? " tanya Manu sambil melipat kain Tara diam dia melihat kain berwarna emas
" Waw kain ini sungguh indah " dia pun mengambilnya Tara berdiri mencoba memakai kain itu Manu tersenyum melihatnya
" Tuan Putri bukan kah kain ini sangat bagus? kau mau apakan kain ini? apa kau mau membuangnya? " tanya Tara dia menyukai kain itu jika Manu membuangnya maka dia akan mengambilnya dan mengenakannya di hari pernikahannya namun ucapan Manu hampir membuatnya mengucapkan terima kasih
" Tidak, kain ini akan aku pakai di hari Diwali, aku melipat semua kain ini karena aku ingin merapikannya bukan membuangnya "
Tara terdiam dia melirik kain yang ada di bahunya " Jadi kau tidak akan membuangnya? "
tanyanya pelan Manu menggeleng " Tidak "
dia pun mengambil kain itu dari Tara melipatnya kembali dan menaruhnya di laci pakaiannya, Tara merasa kesal mendengarnya dia hampir saja merasa senang karena kain itu akan menjadi miliknya tapi malah di ambil kembali oleh Manu setelah merapikan kain Manu terlihat kelelahan wajahnya pucat keringat terus menetes di pelipisnya Tara yang melihatnya bertanya " Tuan Putri ada apa? kenapa kau berkeringat seperti itu? apa kau baik-baik saja? " Manu mengangguk pelan
" Ya Tara " begitu Manu berbalik dia hampir pingsan untung saja Tara menangkapnya
" Ya ampun Tuan Putri kau kenapa? apa kau baik-baik saja? " Manu mengangguk pelan Tara segera membawanya ke kasurnya
" Tunggu ya Tuan Putri aku akan memanggil tabib dan yang lainnya " Tara langsung berlari keluar meninggalkan Manu sendirian. Tara berlari mencari tabib saat itu juga dia tidak sengaja menabrak Madhuri " Ya Dewa " pekik Madhuri kaget Tara meminta maaf dia pun kembali pergi dengan buru-buru Madhuri yang melihatnya menatapnya heran lalu kembali bekerja, setelah membawa tabib Tara menyuruh pelayan untuk memanggil semua orang untuk datang ke kamar Manu. Tara dan tabib masuk ke kamar dia membiarkan tabib memeriksa Manu sedangkan dirinya berdiri di pojok tidak lama kemudian semua orang datang Nandini melihat menantunya tengah diperiksa oleh tabib dia pun bertanya
" Tabib, kenapa dengan menantuku? " tabib memintanya untuk tidak bertanya Nandini duduk di samping menantunya Tara pun menjelaskan keadaan Manu, Nandini yang mendengarnya mengusap kepala menantunya
akhirnya tabib selesai memeriksa Manu dia tersenyum semua orang penasaran dengan hasilnya " Tabib, apakah menantuku baik-baik saja? " tanya Nandini tabib itu mengangguk dia tersenyum dan memberitahu semuanya
" Selamat untuk anda Ibu Ratu sebentar lagi anda akan menjadi seorang nenek " ujar tabib sontak semua orang gembira mendengarnya ternyata Manu tengah hamil Tara terkejut mendengarnya dia tidak percaya dengan apa yang dia dengar padahal dia berharap Manu mengidap penyakit berbahaya tapi nyatanya tabib itu memberitahunya bahwa Manu tengah mengandung dia pun menyimpan kekesalannya " Selamat ya Tuan Putri sebentar lagi anda akan menjadi seorang ibu " ucap tabib memberi selamat kepada Manu, Manu mengangguk sambil tersenyum " Terima kasih tabib "
semua orang merasa senang mereka mengucapkan terima kasih kepada Dewa karena telah menganugerahi Manu dengan seorang anak.
Shivannya yang selesai latihan pedang diberitahu oleh pelayan bahwa Manu tengah hamil hal itu membuat Shivannya merasa gembira dia pun menari-nari untuk merayakan kesenangannya karena sebentar lagi dia akan mendapatkan ponakan dan dirinya akan menjadi seorang bibi, dia pun segera berlari mencari Ambarawati " ibu, ibu kau dimana? "
dia mencari ibunya sampai tidak sengaja menabraknya Ambarawati menangkap wajah ceria anaknya " Ada apa Shivannya? kenapa kau terlihat senang begitu? " Shivannya mengajak ibunya menari bersama
" Ibu, hari ini aku sangat senang karena sebentar lagi ibu akan menjadi seorang nenek dan aku akan menjadi seorang bibi " Ambarawati tidak mengerti maksud putrinya
" Maksudmu? " Shivannya memberitahu tentang kehamilan Manu sontak hal itu membuat Ambarawati ikut gembira
" Benarkah? terima kasih Dewa kau sudah memberkati Manu seorang anak " Shivannya bermaksud mengajak ibunya untuk pergi ke Istana Aradhya melihat keadaan Manu tentu saja Ambarawati menyetujuinya maka mereka pun mulai bersiap-siap untuk berangkat. Selesai mengemasi barang-barang Shivannya dan ibunya pergi ke Aradhya untuk melihat Manu sementara di Istana Aradhya, Tara tampak kesal beberapa kali dia menghempaskan benang untuk merajut sebuah kain itu tugas yang diberikan oleh Nandini " Huh " gerutunya kesal " Coba lihat apa yang sedang terjadi di Istana ini? mereka semua tampak bahagia menyambut calon anak dari Manu sementara aku, aku disuruh untuk menyelesaikan kain-kain ini untuk bayinya yang akan lahir nanti. Sungguh hal ini membuatku kesal seandainya ibu ada disini dia pasti akan membantuku menyelesaikan masalah ini, aku bahkan belum bertindak untuk mendekati mencari perhatian Vikram tapi sudah ada kabar bahwa Manu tengah hamil sungguh sial nasibku ini " gadis itu tampak kesal beberapa kali dia membuat benang terlilit akibat ulahnya " Aghhhh " dia berteriak kesal " Apa yang harus aku lakukan? apa aku harus mengirim pesan kepada ibu? tapi mengenai surat kenapa ibu belum memberitahu aku mengenai keadaan di Istana? apakah ayah atau yang lainnya panik karena aku tidak ada? terserah lah, itu bukan urusanku lagipula aku sudah capek membahas itu " Tara berdiri dia berjalan menuju jendela berniat untuk menghirup udara menghilangkan emosinya saat mendongak ke bawah dia melihat bendera lambang Kerajaan Kavila tengah menuju ke Aradhya " Astaga itu bendera dari Kavila kan? kenapa Shivannya kemari? apa mungkin karena berita kehamilan Manu sudah sampai disana? mungkin saja karena berita itu cepat tersebar seperti angin, sebaiknya aku perhatikan saja dari sini agar aku tidak dicurigai oleh yang lain"
Tara terus memperhatikan kereta itu masuk ke Istana, lalu Shivannya keluar bersama ibunya
" Sudah kuduga mereka datang kemari, uuh entah apalagi yang akan terjadi. berapa lama aku harus menahan emosiku ketika mereka memuji dan memberikan Manu selamat atas kehamilannya di depan diriku? belum lagi mereka menggodanya lalu memujinya setinggi langit aku benar-benar tidak tahan mendengarnya " Tara memukul besi pembatas balkon kamarnya dia pun pergi dari sana
" Sebaiknya aku tidur saja, ya itu lebih baik jadinya aku tidak disuruh untuk datang ke bawah menyambut kedatangan Ratu iblis itu sebaiknya aku mulai tidur tapi tunggu dulu kain-kain ini masih berserakan harus aku rapikan, tapi ini kain banyak sekali sebaiknya aku taruh dulu di kursi " Tara memindahkan kain-kain itu ke kursi dia pun pergi ke kasurnya kemudian dia pun tertidur.
Nandini menyambut kedatangan adiknya dan keponakannya " Salam untuk kalian " ucap Nandini memberi salam, Shivannya dan ibunya membalasnya bersama " Salam untukmu juga bibi " , " Salam untukmu juga kakak " Nandini terlihat senang sekali adik dan keponakannya datang di saat dirinya tengah dilanda rasa bahagia " Selamat untukmu kak kau akan menjadi seorang nenek " Ambarawati memberikan ucapan selamat kepada kakaknya, Madhuri yang datang segera memeluk Shivannya " Selamat untukmu juga Madhuri, kita berdua akan memiliki keponakan yang lucu" keduanya tertawa bersama kemudian Nandini mengajak adik serta keponakannya ke kamar Manu. Shivannya berlari begitu masuk ke kamar Manu dia memeluk kakak iparnya erat
" Waw kakak selamat untukmu ya kau akan mendapatkan seorang anak dan menjadi seorang ibu, aku senang sekali mendengarnya begitu mendengar beritak kehamilan kakak aku dan ibu langsung datang kemari untuk memberikan ucapan selamat kepadamu " Manu tertawa mendengarnya " Terima kasih adik ipar " saat mereka sedang asyik tertawa dan mengobrol di luar kamar tampak Tara tengah berdiri dengan wajah marahnya
__ADS_1
" Kalian asyik mengobrol membicarakan bayi yang belum lahir itu, lihat saja aku akan membuat bayi itu tidak akan lahir ke dunia ini "
dia pun pergi dengan wajah marah,
" Oh ya kakak, dimana kak Vikram dan kak Sanjaya? apa mereka sudah tahu kabar kehamilanmu? " Manu menggeleng
" Belum, mereka berdua tengah sibuk dengan urusan Kerajaan jadi mereka akan pulang besok " Shivannya tersenyum mendengarnya
" Manu, dengar ya selama kau hamil kau tidak boleh melakukan banyak pekerjaan, kau juga tidak boleh terlalu lelah dan stres. Wanita yang sedang hamil itu harus mempunyai pikiran tenang jika kau memikirkan macam-macam maka itu tidak baik untuk kesehatan bayi dan juga dirimu " nasihat Ambarawati,Manu mengangguk " Terima kasih nasihatnya bibi, kau tidak usah khawatir aku pasti akan menuruti nasihat bibi " Nandini menambahkannya " Kau tenang saja selama Manu hamil aku tidak akan mengizinkan dia bekerja terlalu keras, aku akan selalu menyuruh dia istirahat lagipula ini adalah anak pertamanya aku tidak mau jika calon bayinya menjadi sakit karena ibunya bekerja terlalu keras, aku juga akan memberikan dia minuman serta jamu yang sehat untuk kehamilannya "
semuanya tersenyum mendengarnya. Shivannya dan ibunya memutuskan untuk menginap karena mereka pergi di malam hari jadi tidak mungkin bagi mereka untuk kembali ke Istana Kavila lagi, saat Shivannya tengah pergi ke kuil Istana dia melihat seorang gadis tengah duduk di taman sendirian Shivannya menghampirinya " Kau siapa? kenapa duduk disini sendirian? " Tara terkejut mendengar suara Shivannya berdiri di belakangnya Shivannya menepuk bahunya keras
gadis itu menoleh Shivannya terkejut melihatnya " Kau siapa? kenapa ada disini? apa kau temannya Madhuri? " Tara menggeleng keras " Ah bukan.. uhm.. itu... sebenarnya "
Tara bingung bagaimana cara menjelaskannya Shivannya menunggunya sampai dia mendengar suara ibunya memanggil dirinya dia pun pergi meninggalkannya Tara menghela nafas lega " Untung lah dia sudah pergi, duh kenapa dia bisa datang kesini sih? untung saja bibi Ambarawati memanggilnya dia sudah menyelamatkan diriku, jika tidak maka habis lah aku " Tara juga ikut pergi meninggalkan taman itu menuju kamarnya.
Keesokan paginya semua sedang menikmati sarapannya kemudian Nandini meminta pelayan untuk memanggil Tara saat itu juga Shivannya teringat akan sesuatu dia pun bertanya " Uhm bibi boleh kah aku bertanya? "
Nandini yang tengah memakan sarapannya menjawab " Ya sayang kau mau tanya apa? "
" Begini bibi kemarin aku tengah ada di kuil lalu tiba-tiba aku melihat seorang gadis saat aku kesana dia sedang melamun seperti memikirkan sesuatu, dia duduk di taman sendirian, apa bibi kenal dengan gadis itu? "
tanya Shivannya, Nandini mengangguk
" Ya bibi kenal dia, dia adalah Tara " kening Shivannya berkerut " Tara? siapa dia? " Nandini kemudian menjelaskan siapa Tara setelah mendengar ceritanya Shivannya dan ibunya menggelengkan kepalanya " Kasihan sekali dia"
" Dia pasti merasa tertekan dan sedih karena suami dan anaknya meninggal, aku rasa sekarang ini dia pasti sering merasa ketakutan"
" Karena itu lah aku mengajaknya untuk tinggal disini selain itu disini dia juga merasa aman tidak merasa ketakutan,aku tidak bisa membayangkan dirinya hidup di jalanan dalam kondisi seperti itu entah bagaimana nasibnya jika dia terus-menerus dikejar oleh penjahat itu. Jadi untuk melindungi dia aku meminta agar Sanjaya memberikan izin dia untuk tinggal disini jika tidak maka aku tidak akan tenang melihat dia terus hidup dalam ketakutan "
semuanya mengangguk setuju lalu pelayan itu datang tanpa membawa Tara, Manu yang melihatnya kemudian bertanya " Dimana Tara?"
" Maaf Tuan Putri tadi saya sudah mengajak Nona Tara untuk turun ke bawah sarapan bersama kalian tapi katanya dia tidak mau ikut bergabung, alasannya dia merasa tidak enak jika harus makan bersama kalian dia bilang dia tidak mau membuat suasana canggung karena ulah dirinya yang bukan seorang Bangsawan "
ujar pelayan itu Manu melirik ibunya lalu Nandini meminta agar sarapan itu dibawa ke kamar Tara, pelayan itu pun pergi. Selesai sarapan seperti biasa Manu mulai mengerjakan pekerjaannya dia memetik bunga serta buah apel Tara memperhatikan Manu dari balik jendela kamarnya matanya menatap tajam ke arah gadis itu, gadis itu berbalik menuju pelayan yang datang membawakan makanan untuknya " Tolong letakkan saja disana aku akan memakannya nanti " pelayan itu menaruh nampan berisi sarapan lalu keluar Tara masih mondar-mandir memikirkan rencana selanjutnya " Bagaimana pun juga aku harus membuat bayi itu mati, jika tidak maka semua rencana ku akan hancur aku harus memikirkan cara untuk membuat bayi itu mati aku rasa aku harus membuat Manu keguguran tapi bagaimana caranya? " saat sedang berpikir dia tidak sengaja melihat sebuah gelas berisi air Tara menghampirinya " Ini dia, aku harus mencampurkan air ini dengan sesuatu dengan begitu Manu akan meminumnya tentu saja bayinya akan meninggal sebelum waktunya lahir " gadis itu menyeringai.
Shivannya menghampiri Manu yang tengah duduk di taman " Kakak ipar " Manu menoleh
" Ratu Shivannya " Shivannya menggeleng ketika Manu memanggil dirinya Ratu
" Jangan panggil aku Ratu, kau sudah menikah dengan saudara sepupu ku jadi kau sekarang sudah menjadi saudariku juga jadi panggil saja nama ku ya " Manu tersenyum tipis dan mengangguk " Kenapa kau ada disini? disini panas ayo kita masuk, ibu ingin bertemu denganmu sebelum kami pulang "
" Kau akan pulang? " Shivannya mengangguk
" Ya aku akan pulang aku harus mengerjakan tugas di Istana, jadi sebelum pulang ibu ingin bertemu denganmu " Manu kemudian pergi menuju aula tempat dimana semua orang berkumpul, Ambarawati melihat Manu datang dia memeluk gadis itu " Bibi pulang dulu ya sayang, nanti jika kau sudah melahirkan bayi mu bibi dan Shivannya akan datang lagi " Manu tersenyum menanggapinya setelah berpamitan kepada semua orang, kereta kuda mulai meninggalkan halaman Istana Aradhya. Tara menatap kereta kuda itu dia kembali masuk ke kamarnya " Sekarang saatnya aku menjalankan rencanaku " Tara bergegas pergi ke dapur dia membawa gelas itu saat masuk dapur gadis itu celingukan mencari sesuatu saat mendapatkan apa yang dia dapat dia pun tersenyum
" Ini dia " dia mengambil sebuah botol kecil lalu kembali ke kamarnya, ketika di kamar Tara bersiap mencampurkan bahan itu ke minumannya tiba-tiba jendelanya diketuk oleh seekor burung gagak Tara menghentikannya dan menemui burung itu di leher burung itu terdapat sebuah kotak kecil Tara mengambilnya saat dibuka dia melihat sebuah kalung berwarna merah mata Tara melihat ada secarik surat dia pun membacanya
__ADS_1
' Gauri, ibu mengirimkan kalung itu untukmu itu bukan kalung biasa jika kau membutuhkan bantuan ibu kau bisa meminta bantuan ibu melalui kalung itu, maka ibu pasti akan membantumu ' begitulah isi dari surat tersebut Tara mengambil kalung itu dah memasangnya di lehernya " Indah sekali, baiklah burung kau boleh pergi " burung gagak itu pun pergi.
" Baiklah aku akan bicara kepada ibu " Tara mulai bicara dengan kalung itu kemudian sebuah suara muncul di dalam kalung tersebut itu suara Pragya, Tara bersorak girang dia pun mulai bicara kepada ibunya.
Tara: " Salam untuk ibu "
Pragya: " Salam juga untukmu sayang "
Tara: " Ibu, kau tau hari aku sangat bahagia karena ibu sudah muncul disini "
Pragya: " Tentu saja sayangku ibu akan selalu muncul setiap kau membutuhkan bantuan, jadi katakan pada ibu apa yang sedang terjadi disana? "
Tara: " Ibu apa kau tahu, sekarang ini disini sedang merayakan hari bahagia "
Pragya: " Apa maksudmu? bicara yang jelas Gauri"
Tara: " Ibu saat ini Manu tengah hamil "
Pragya: " Benarkah itu? lalu sekarang kita harus apa? "
Tara: " Itu dia masalahnya ibu saat ini aku sedang memikirkan sebuah rencana untuk membuat Manu kehilangan bayinya "
Pragya: " Kau ingin membunuh bayi yang belum lahir itu? lalu bagaimana caranya? "
Tara: " Sebenarnya hari ini aku sudah mendapatkan rencana untuk membunuh bayi itu tapi sekarang aku minta saran dari ibu "
Tara menjelaskan rencana untuk membunuh bayi itu sontak Pragya terkejut dia pun menepuk keningnya
Pragya: " Kau ini bodoh atau bagaimana? kau ingin membunuh bayi itu dengan rencana konyolmu itu, bisa gawat jika orang lain mencurigaimu apa kau tidak memikirkan konsekuensinya saat bayi itu mati dan semua orang mencurigaimu hah? kau ingin ditendang lagi dari sana? pikirkan dengan baik sebelum melakukan sesuatu Gauri, ini lah yang ibu khawatirkan kau tidak bisa berpikir sebelum melakukan sesuatu itu sebabnya ibu mengirimkan kalung itu agar bisa membantumu"
Tara: " Sudah selesai mengomeli ku ibu? aku tahu jika aku ini memang bodoh, lalu apakah sekarang ibu mempunyai rencana? jika ada beritahu aku "
Pragya: " Tentu saja ada, ibu selalu mempunyai rencana. Baiklah dengarkan ibu kau harus tetap membiarkan bayi itu hidup "
Tara: " Apa? apa maksud ibu? jika aku membiarkan bayi itu hidup maka semua rencanaku akan berantakan ibu, tidak kah kau mempunyai rencana lain? "
Pragya: " Ibu tahu jika rencana ibu ini memang konyol, tapi dengarkan dulu ada untungnya kau membiarkan bayi itu hidup dengarkan ibu.... "
Pragya mulai memberitahu putrinya mengenai rencana yang dia buat seketika wajah Tara tersenyum riang dia sangat setuju dengan rencana ibunya
Pragya: " Apa sekarang kau sudah mengerti? "
Tara: " Ya ibu sekarang aku sudah mengerti, baiklah ibu aku harus turun membantu bibi Nandini jika aku terus berada di kamar dia bisa curiga, sampai ketemu nanti lagi ibu terima kasih atas rencananya salam untuk ibu "
Pragya: " Baiklah salam juga untukmu sayang"
Tara tersenyum lebar dia akhirnya menemukan rencana untuk menyingkirkan Manu
__ADS_1
" Lihat saja apa yang akan aku lakukan terhadapmu Manu" gadis itu menyeringai jahat dia sudah tidak sabar menunggu dimana Manu pergi dari Istana Aradhya.
Jangan lupa like dan komen terima kasih 😁😁🙏🙏