
Di sebuah kamar yang dipenuhi oleh aroma wangi Mannav sedang bercengkerama dengan para wanita dia menikmati waktunya bermain bersama para wanita sampai Arun masuk ke kamarnya dengan senyuman licik
" Wah maafkan aku Yang Mulia sudah mengganggu waktu anda, ada hal penting yang ingin aku sampaikan " Mannav memandang Arun dengan mata setengah sadar sepertinya dia mabuk melihat ada banyak gelas dan teko berserakan di kamarnya " Katakan ada apa kakak sampai kau masuk ke kamar? apa ada kabar penting?" Tanya Mannav setengah sadar di tangannya dia memegang gelas berisi minuman keras " Ya tapi sebelum itu sisakan satu wanita untukku, aku juga ingin bermain bersama mereka " Seru Arun ikut meminum minuman itu, Mannav terkekeh mendengar pernyataan kakaknya " Baiklah silakan kau ambil salah satu mereka, kau bisa bermain sepuasnya dengan mereka " Arun tersenyum menyeringai mendengar ucapan adiknya.
" Kabar penting yang ingin aku katakan adalah Kerajaan Aradhya akan menghalangi perang ini, mereka akan menghalangi rencana kita dengan cara menundanya sampai wanita sombong itu kembali, ini tidak bisa dibiarkan kita harus bertindak cepat " Mannav geram mendengar kabar yang dibawa oleh kakaknya dia marah lalu membanting gelas yang dipegangnya, amarahnya mulai menguasai dirinya " Berani sekali mereka menghalangi rencana yang aku buat dengan susah payah mereka harus menerima hukumannya, aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja, kakak kau sekarang pergi ke Kerajaan Aradhya beri mereka peringatan jika mereka tidak mau mendengarkan kita harus menyerang Kerajaan mereka " Mannav mengepalkan tangannya menahan emosi yang hampir memuncak, Arun menuruti perintah adiknya tersebut maka dia segera berangkat menuju Kerajaan Aradhya.
Manu sedang duduk menikmati angin di balkon kamarnya dia termenung seperti memikirkan sesuatu karena bosan dia pun mulai menyanyikan sebuah lagu, pelayan pribadinya yang bernama Suganda sampai terkejut mendengar suara merdunya dia bengong menatap Manu bernyanyi sambil menari ' Nona memiliki bakat yang luar biasa dia bisa menyanyi sambil menari, benar-benar luar biasa ' Dia mengagumi Manu yang memiliki bakat yang luar biasa namun ada seseorang yang masuk yang tidak lain adalah Vikram matanya membulat ketika melihat Manu menyanyi dengan suara merdu nan indah dia terdiam di tempat matanya sama sekali tidak berkedip ketika melihat Manu menari dengan sangat anggun
" Apa-apaan ini? kenapa dia tiba-tiba menyanyi dengan suara sangat merdu seperti itu? aku bahkan hampir tidak percaya dengan apa yang baru aku lihat,suaranya begitu indah'
Vikram mengagumi suara indah Manu, dia bahkan hampir lupa dengan tujuan datang ke kamar Manu.
Manu menghentikan nyanyiannya dia berbalik dan terkejut melihat Vikram sudah berdiri dengan tubuh mematung dia berlari ke arah Suganda pelayannya "Kenapa kau tidak bilang ada Pangeran Vikram disini? " Suganda menoleh dia melihat Vikram sudah berdiri dengan wajah tenang, Suganda cepat-cepat meminta maaf karena ceroboh tidak mengetahuinya " Maafkan aku Pangeran, saya benar-benar tidak tahu kalau anda ada disini"
Vikram mengangguk kemudian mendekati Manu yang sibuk merapikan pakaiannya
" Ibu memanggilmu " Manu terlonjak kaget melihat Vikram sudah berdiri di belakangnya
" Ah ya aku akan kesana, maksudku baiklah aku akan kesana " Manu lalu pergi keluar dari kamarnya dia hampir saja berteriak akibat perbuatan Vikram ' Dasar pria itu senang sekali membuatku jantungan ' dia ngedumel dalam hati sampai tidak menyadari bahwa dia telah menabrak seseorang.
" Maafkan aku, aku tidak sengaja menabrakmu " Manu menunduk meminta maaf namun dia mendengar sebuah ucapan sindiran ditunjukkan padanya
" Lihat lah orang ini dia jalan malah tidak memakai matanya, kau taruh matamu dimana? " Orang itu berkata sambil berdecih
Manu mendongak menatap orang itu matanya menatap kesal melihat gadis yang baru saja menyindirnya " Aku sudah meminta maaf kan? kenapa kau malah marah lalu menyindirku? apa maksudmu itu? " Manu mencoba menahan emosinya dia berusaha bersikap tenang, Jhanvi tersenyum miring melihat Manu tidak suka dengan ucapannya
" Memangnya kenapa? kau tidak suka aku berbicara seperti itu? memang benar kau itu gadis ceroboh, kenapa Ibu Ratu malah mengajakmu tinggal disini? dia memperlakukanmu dengan penuh kasih sayang dia bahkan menyayangimu lebih dari putrinya, dasar tidak punya malu sudah merebut Ibu orang lain " Manu geram menatap Jhanvi gadis itu perlu diberi pelajaran namun Manu tidak menghiraukannya dia lebih memilih meninggalkan Jhanvi daripada meladeni gadis itu.
__ADS_1
" Memang benar kau itu bukan berasal dari kalangan Bangsawan kau itu hanya lah seorang anak dari pelayan, kau mencoba untuk menjadi gadis Bangsawan kan? impianmu tidak akan terwujud seorang anak pelayan tidak akan pernah menjadi seorang Bangsawan, kau mungkin bisa menikmati hidupmu yang mewah ini tapi itu tidak akan lama lagi setelah ini kau akan dibuang oleh Yang Mulia Raja jadi nikmati lah hidupmu ini selagi masih ada kesempatan " Manu geram mendengar ucapan yang diucapkan oleh Jhanvi gadis itu telah menghinanya tapi Manu tetap diam dia tidak melawan sama sekali baginya percuma saja meladeninya yang lebih penting ada hal yang harus dia kerjakan, Manu hanya tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan Jhanvi yang terbengong menatapnya " Gadis itu tidak membalas perkataanku? kita lihat saja sebentar lagi kau tidak akan bisa menikmati hidupmu itu karena aku akan membuatmu keluar dari Istana ini " Jhanvi tersenyum licik dia berlalu pergi entah kemana, Manu melihat Nandini telah menunggunya di kamarnya dia berdiri sambil memberi salam Nandini melihat Manu sudah datang dia kemudian menyuruhnya untuk mendekat " Ada apa Ibu Ratu? " Nandini tersenyum dia menyuruh Manu untuk duduk setelah gadis itu duduk dia kembali bertanya tapi Nandini memberikan sesuatu
" Priya, ada hal penting yang ingin aku katakan padamu " Manu terdiam sambil terus menatap Nandini " Katakan saja Ibu Ratu "
Nandini lagi-lagi tersenyum dia sudah mengetahui bahwa putranya dan Manu saling menyukai karena Madhuri sudah bercerita padanya.
" Aku akan menikahkanmu dengan putraku" Manu melotot mendengar ucapan Nandini dia bingung dengan maksud Nandini itu " Apa maksudnya Ibu Ratu? aku bahkan tidak mengerti " Manu mengernyitkan dahinya kebingungan Nandini menyuruh pelayan untuk memanggil putranya " Panggil Vikram kesini "
Manu lagi-lagi bingung mendengar nama Vikram disebutkan, Nandini melirik Manu yang terus memasang ekspresi bingung tidak lama kemudian Vikram sudah datang dia duduk di samping ibunya,Nandini tersenyum melihat keduanya sudah berada di ruangan itu " Bagus kau sudah datang, ada yang ingin aku katakan kepadamu Vikram " Vikram memandang ibunya bingung Manu melirik Vikram sebentar lalu terdiam lagi
" Kalian berdua akan ibu nikah kan " Vikram terkejut mendengar perkataan ibunya apa maksudnya perkataan ibunya tersebut dia masih bingung " Apa maksudnya ibu? " Manu yang di samping Nandini hanya terdiam tanpa bicara " Ibu hanya ingin menikah kan kalian, Priya sudah lama tinggal disini jadi ibu rasa kalian cocok untuk menikah, ibu juga sudah berjanji kepada Priya bahwa ibu akan melindunginya tapi jika ibu sudah meninggal siapa yang akan menjaga Priya? kakakmu sudah sibuk dengan urusan Kerajaan karena dia adalah seorang Raja sebentar lagi dia juga akan menikah lalu siapa yang akan menjaga Priya? " Vikram terdiam dia sama sekali tidak setuju dinikahkan oleh ibunya, masalahnya dia belum tahu siapa Priya darimana asal gadis itu serta sifatnya dan lain-lainnya dia belum mengenal Manu dengan baik .
Vikram langsung menolaknya dengan tegas " Aku tidak mau menikah dengan Priya "
Nandini terkejut mendengarnya begitu juga dengan Manu " Kenapa nak? " Tanya Nandini bingung " Aku belum terlalu mengenal Priya dengan baik ibu, aku hanya akan menikah dengan gadis yang aku cintai sementara aku tidak mencintai Priya, aku tidak tahu tentangnya, sifatnya serta dari mana dia berasal aku tidak mau menikah dengannya "
" Pernikahan hanya terjadi sekali seumur hidup dan aku tidak akan bermain-main dengan pernikahan, prinsipku itu adalah hanya menikah sekali dengan orang yang aku cintai " Nandini terdiam sebentar dia melirik Manu yang tetap masih menunduk diam
" Tapi kau bisa mengenalnya setelah kalian menikah, ibu hanya menyuruhmu menikah dengannya hanya untuk menjaganya bukan ada maksud yang lain, apa kau tidak mendengar perkataan ibu barusan? saat ini Priya membutuhkan perlindungan dan kau harus melindunginya ibu hanya tidak ingin dia merasa sedih dan ibu ingin menghilangkan rasa takutnya, kau harus melindunginya dari orang yang sudah mengejar Priya ibu takut mereka akan berbuat jahat kepadanya karena itu lah ibu mohon padamu Vikram cuma kau yang bisa melindunginya " Nandini memohon kepada putranya namun Vikram menggeleng keras dia tetap tidak mau menuruti permintaan ibunya " Tidak bu, aku tidak mau menerima permintaan ibu, aku juga harus melindungi Madhuri dia adalah adikku dan itu sudah kewajibanku untuk melindunginya jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, soal Priya aku akan melindunginya tapi untuk menikahinya maaf aku tidak bisa selain Priya Madhuri juga butuh perlindungan dariku, jika aku menikah dengannya itu berarti aku harus fokus untuk menjaganya sementara Madhuri siapa yang akan melindungi dan menjaganya? aku tidak bisa ibu selain itu aku juga harus mengurus beberapa hal soal Shivannya dan Kerajaan Singaloka aku harus membantu kakak, sekali lagi maafkan aku ibu " Vikram menunduk meminta maaf Nandini menghela nafas begitu mendengar semua ucapan putranya Manu hanya diam berusaha untuk menenangkan hatinya.
" Yang dikatakan oleh Pangeran Vikram benar Ibu Ratu, dia juga memiliki tanggung jawab untuk Kerajaan ini jadi aku memakluminya aku setuju dengan ucapannya dia disini bertugas untuk membantu kakaknya serta melindungi adiknya, aku sudah cukup senang tinggal disini jadi aku juga menolak pernikahan ini seorang kakak wajib untuk melindungi adiknya itu merupakan sebuah tugas untuk sang kakak, karena itu lah maafkan aku telah menolak pernikahan ini mendapatkan perlindungan di Kerajaan ini sudah membuatku cukup aman sekali lagi maafkan saya Ibu Ratu, saya akan menikah dengan orang yang saya cintai memang benar Pangeran belum mengenal saya dengan baik saya takut jika kami menikah suatu saat kami tidak cocok satu sama lain kami akhirnya berpisah pernikahan bukan lah permainan Ibu Ratu ,saya menganggap pernikahan itu adalah dimana seorang wanita dan pria saling mencintai dan melengkapi kekurangannya. Kalau begitu saya akan permisi untuk keluar "
Manu tidak sanggup melanjutkan ucapannya lagi dia berjalan meninggalkan ruangan itu dengan tersenyum tipis, Nandini serta Vikram menatap kepergian Manu dengan tatapan yang berbeda " Aku juga harus pergi untuk bertemu dengan kakak " Vikram juga ikut pergi meninggalkan ruangan itu Nandini masih berdiri memandang putranya dia tidak akan menyerah untuk mempersatukan mereka berdua itu adalah janji yang dia buat untuk kedua anaknya " Ibu sudah berjanji akan mempersatukan kalian walaupun sekarang gagal tapi ibu yakin bahwa suatu saat kalian berdua akan bersatu, ini adalah janji ibu " Manu berlari menuju kamarnya air matanya sudah tidak bisa ditahan lagi dia mengunci pintu kamarnya dan berlari ke tempat tidur dia menutup wajahnya menggunakan bantal menyembunyikan kesedihannya.
" Kenapa hatiku terasa sakit begitu mendengar semua ucapan Vikram, ada apa dengan diriku? apakah aku sudah mencintai Vikram? tapi kenapa aku menyukainya? aku bahkan tidak memiliki perasaan apapun padanya tapi mendengar semua yang dia ucapkan itu cukup membuatku sedih, sadar lah Manu kau tidak boleh mencintainya ingat lah tujuanmu kemari hanya untuk membantu Raja Sanjaya mencari Ratu Shivannya jangan terjebak dengan perasaan bodohmu itu, jika Vikram mengetahui identitas aslimu maka kau bisa dibunuh olehnya sadar lah hilangkan perasaan yang menyangkut dengan Vikram "
Manu menepuk pipinya berusaha menyadarkan dirinya agar tidak terjebak dengan perasaannya sendiri, dia menangis sampai merasa lelah dia memutuskan untuk tidur, Madhuri menghampiri ibunya dengan senyuman ceria dia merasa yakin bahwa ibunya pasti berhasil membuat Manu dan kakaknya menikah namun saat mendengar perkataan ibunya senyumannya langsung hilang " Jadi? ibu gagal menikah kan mereka?bagaimana ini bisa terjadi? kakak kau harus bertanggung jawab atas perbuatanmu itu "
__ADS_1
Madhuri merasa marah dengan sikap kakaknya Nandini berusaha menenangkan putrinya " Tenang kan nak, ibu tidak akan menyerah begitu saja ibu sudah berjanji akan menikah kan Priya dan kakakmu jadi tunggu saja ibu akan segera membuat rencana " Madhuri memandang ibunya " Maksud ibu? "
bukannya menjawab Nandini malah tersenyum lembut " Tunggu saja " Madhuri akhirnya pasrah dengan rencana ibunya, sore hari Manu terbangun dengan mata sembab dia menghabiskan waktu seharian di kamar hanya untuk menangis " Ini sudah sore aku harus bersiap sebelum Ibu Ratu mencariku lagi " Manu langsung pergi untuk membersihkan dirinya.
Vikram terdiam di taman Istana dia baru saja selesai berlatih pedang lalu dia memutuskan untuk istirahat perasaannya tidak tenang setelah kejadian tadi dia baru saja menolak permintaan ibunya, biasanya dia sama sekali tidak pernah menolaknya baru kali ini dia menolaknya dia merasa yakin bahwa ibunya pasti kecewa sekaligus sedih karena permintaannya ditolak, tapi mau bagaimana lagi dia mempunyai adik perempuan yang harus dia jaga dan lindungi dia tidak bisa mengabaikan Madhuri memang benar kakaknya juga ikut menjaga Madhuri tapi dia adalah seorang Raja dan Raja memiliki kesibukan sehingga dia tidak memiliki waktu luang itu sebabnya Vikram bertekad akan melindungi adiknya sampai Madhuri telah menikah, bahkan sampai sekarang dia belum berniat untuk mencari seorang kekasih karena dia harus memenuhi tugasnya sampai selesai baru dia akan memikirkannya, Manu memandang Vikram yang berdiri membelakanginya ' Apa yang dia lakukan disini? sepertinya dia sedang melamun? apa aku harus menghampirinya? tidak, sadar lah Manu kau tidak boleh mendekatinya kau harus menjauhinya agar perasaan bodohmu itu tidak muncul lagi ' Manu menggeleng keras dia pergi meninggalkan Vikram menuju tempat lain Vikram menyadari bahwa Manu tadi sempat mendatanginya dia melihat punggung gadis itu yang berlari ke arah lain
' Kenapa dia tidak menyapaku? ah sudah lah tidak usah dipikirkan kau hanya bertugas untuk melindunginya, jangan bertindak berlebihan Vikram ingat dengan tugasmu itu ' Dia kemudian pergi meninggalkan taman menuju ruang latihan, Manu berlari menuju taman Istana yang satunya lagi yang ada kolam bunga lotus dia duduk sambil memandang bayangan dirinya di pantulan air tersebut " Haaah sepertinya aku harus cepat-cepat mencari Ratu Shivannya lalu setelah itu aku akan pergi meninggalkan Kerajaan ini, aku tidak mau terlibat dengan Vikram dan tidak mau terlibat dengan perasaan bodoh ini" Manu terdiam sambil memejamkan matanya dia mulai merasakan semilir angin menerpa wajahnya lalu tiba-tiba dia merasakan ada yang berdiri di depannya Manu membuka matanya dan terkejut melihat Madhuri sudah berdiri dengan senyuman lebarnya " Priya " Sapanya, Manu tersenyum tipis dia menggeser sedikit agar Madhuri bisa duduk disampingnya
" Ada apa Tuan Putri? kau bisa memanggilku jika kau butuh sesuatu " Madhuri menggeleng keras " Kau itu bukan pelayan, kau adalah seorang gadis Bangsawan jangan bersikap formal kepadaku kita ini sama bukan? " Manu tertawa mendengarnya sekarang dia bukan lah seorang gadis Bangsawan melainkan sebagai gadis biasa nama Bangsawan sudah dia buang sejak kejadian di Kerajaannya
" Tidak, kita tidak sama aku dan kau berbeda kau dari kalangan Bangsawan sedangkan aku dari kalangan biasa tentu saja kita berbeda "
Ujar Manu tersenyum tipis Madhuri menggeleng dia menepis ucapan Manu
" Tidak mungkin kau itu tidak cocok dari kalangan biasa, aku sudah sering lihat orang kalangan biasa mereka selalu bersikap kasar dan jutek, aku yakin kau itu dari kalangan Bangsawan sikapmu yang tenang, ramah, lembut, sopan serta anggun itu menandakan kau itu dari kalangan Bangsawan " Sahut Madhuri tersenyum lebar.
" Apa orang dari kalangan Bangsawan saja yang bersikap seperti itu? Aku rasa tidak, sebab orang dari kalangan Bangsawan ada juga yang bersikap seperti yang kau bilang tadi dan orang dari kalangan biasa juga bisa bersikap seperti diriku, tidak semua orang dari kalangan biasa bersikap kasar atau mungkin karena ada faktor lain yang menyebabkan mereka bersikap seperti itu jangan menilai orang seperti itu kau akan menemukan orang dari kalangan biasa yang bisa bersikap seperti diriku, kenapa kau mengatakan bahwa orang dari kalangan biasa bersikap kasar? apa kau pernah melihatnya? "
Manu bertanya kepada Madhuri gadis itu mengangguk " Ya aku pernah melihatnya saat aku hendak pergi ke danau, aku melihat ada beberapa orang dari kalangan biasa melewati rombongan keretaku tapi salah satu dari mereka menabrak pengawalku entah itu sengaja atau tidak, aku tidak tahu karena aku tidak melihatnya. Aku mendengar pengawalku menegur mereka dengan sopan tapi mereka malah marah dan berkata dengan kasar hal itu membuat pengawalku marah mereka hampir bertengkar lalu aku turun dari kereta dan menegur mereka, tampaknya mereka tidak terima aku memberi nasihat mereka terus marah dan akhirnya aku mengabaikannya aku menasihati mereka dengan sopan yah mereka tidak terima lalu aku melanjutkan perjalananku lagi. " Manu mendengarkan cerita Madhuri tampaknya tidak banyak orang bersikap seperti itu hanya orang dari Singaloka saja yang sikapnya kasar dia bertanya lagi kepada Madhuri
" Apa kau melihat tanda? maksudku apa kau lihat mereka mengenakan ikat kepala di dahi mereka dan warnanya merah? " Madhuri terdiam sambil mengingat kembali kejadian itu " Uhm ya mereka mengenakan ikat kepala berwarna merah, kau tahu darimana? apa kau mengenal mereka? " Manu tersenyum tipis lalu mengangguk " Ya aku tidak sepenuhnya kenal mereka, aku hanya mengetahui mereka dari cerita orang tuaku, mereka adalah rakyat dari Kerajaan Singaloka memang rakyat disana sudah berubah sejak dipimpin oleh Raja baru yang katanya terdengar mengerikan tapi aku tidak tahu juga, aku mendengarnya dari orang tuaku " Madhuri mengangguk kemudian dia bilang harus pergi karena sudah berjanji kepada Jhanvi akan pergi ke sebuah sungai namun dia berbalik lagi lalu menawarkan ajakannya kepada Manu
" Eh, apa aku boleh ikut? " Tanya Manu, Madhuri mengangguk kemudian mereka mulai pergi ke sebuah sungai.
Di perjalanan kereta kuda yang dinaiki oleh ketiga gadis itu tiba-tiba mendadak berhenti Jhanvi yang duduk di dekat kusir kereta kemudian bertanya " Ada apa kusir? " Kusir itu mengatakan bahwa ada orang lain yang menghadang kereta mereka Jhanvi lalu turun untuk melihat sedangkan Madhuri dan Manu tidak ikut mereka lebih memilih diam di kereta, Jhanvi melihat ada seorang pengawal Kerajaan lain menghadang mereka dengan angkuh Jhanvi berjalan mendekati pengawal itu " Wah berani sekali kau menghalangi jalan kami? apa kau ingin mendapatkan hukuman? kau tidak lihat calon istri sekaligus calon Ratu Kerajaan Aradhya Jhanvi Singh akan pergi ke sebuah sungai dan kau menghalanginya? apa maksudmu itu? " Jhanvi berdiri dengan senyuman liciknya, pengawal itu memberitahu bahwa dia utusan dari Kerajaan Singaloka mendapatkan perintah untuk menculik mereka dengan kejamnya Jhanvi mengambil pedang yang dibawa oleh pengawal itu dia menusuk pengawal tersebut tidak sampai disitu dia juga menorehkan luka di wajahnya " Beraninya kau melakukan itu, berpikir lah jika ingin menculikku kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, ini aku berikan hadiah untuk keberanianmu itu lain kali jika Rajamu mengirimmu lagi bersiap lah untul menghadapi hukuman yang akan diterima " Jhanvi meninggalkan pengawal yang mulai sekarat itu dia memerintahkan kusir untuk terus melanjutkan perjalanannya dia tersenyum licik ke arah pengawal itu yang mulai menutup matanya, Manu dan Madhuri hanya diam melihat perbuatan kejam Jhanvi mereka lebih memilih diam daripada mengajak Jhanvi bicara hingga mereka sampai di sebuah sungai yang terlihat sangat indah, ketiga gadis itu mulai menikmati pemandangan di sungai itu sampai matahari tenggelam.
Like dan komen ya terima kasih...
__ADS_1