PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 12


__ADS_3

Suasana menjadi kacau Arun dan Vikram terus saling bertarung Shivannya mencoba menghentikannya " Hentikan kakak " Namun Vikram tidak mau berhenti Shivannya menyuruh semua orang untuk lari menyelamatkan diri dia memerintahkan Madhuri, Ibunya dan Nandini untuk membawa semua orang ke tempat aman dia pun mengambil senjatanya yaitu busur dia memanah kedua orang yang sedang berkelahi itu, keduanya menghentikan aksinya Vikram melihat Shivannya memanahnya untung yang kena hanya ujung selendangnya saja dia berlari menghampiri Shivannya


" Kau tidak apa-apa? " Vikram mengajak Shivannya lari keluar Istana Arun dan Mannav mengejar mereka. Pelayan berlari ke kamar Gauri yang sedang asyik minum-minuman keras " Tuan Putri " Gauri berdiri dia berjalan sempoyongan sambil membawa gelas besar berisi minuman keras " Ada apa? " Dia menjawab panggilan pelayan itu dengan nada setengah mabuk " Gawat Tuan Putri di luar sana sedang terjadi pertempuran, Pangeran Vikram dan Ratu Shivannya bertarung melawan Raja Mannav dan Pangeran Arun sekarang seluruh tamu sudah pergi ke tempat aman " Pelayan itu menjelaskan situasi Istana, Gauri masih meminum minumannya dia duduk di kursi kayu dekat tempat tidurnya " Lalu dimana Bibi Nandini dan Madhuri? apa mereka pergi juga? dan Bibi Ambarawati apa dia juga ikut pergi? lalu dimana kak Sanjaya? "


Pelayan lalu memberitahu semuanya Gauri mengangguk dia pun berjalan keluar kamar namun saat hendak keluar tangannya ditarik oleh pelayan itu " Tunggu anda tidak boleh keluar Ratu Shivannya memerintahkan agar semua orang tidak keluar dari Istana " tapi Gauri tidak mendengarkannya dia menepis tangan pelayan itu lalu berjalan keluar kamar dengan sempoyongan.


Manu terduduk menutup wajahnya dia menangis sesenggukan Gauri yang baru saja turun melihat Manu menangis dengan kondisi yang berantakan ' Ada apa dengan dia? kenapa dia menangis dengan kondisi seperti itu? ' Gauri berjalan mendekatinya dia melihat Manu menangis dengan pakaian yang berantakan, rambut yang sudah acak-acakan, perhiasan yang sebagian sudah hilang penampilan Manu membuat siapa saja merasa kasihan melihat dirinya, Gauri memandang sekeliling Istana keadaannya juga tidak akan kalah kacaunya hiasan yang sudah terpasang di seluruh Istana sudah hancur berantakan Gauri terdiam dia melihat sudah tidak ada satu orang pun yang berada di aula Istana itu yang ada hanya dua pelayan yang berdiri di samping Manu. Manu membuka kedua tangannya dia menatap semua orang sudah tidak ada disana dia berdiri air matanya masih membekas di kedua pipinya " Ke-ke-kemana semua orang? " Dia bertanya kepada dua pelayan itu


" Semua orang sudah pergi Nona, Ratu Shivannya menyuruh Ibu Ratu Nandini dan Ambarawati membawa semua orang ke tempat aman " Manu berjalan mencari Vikram dan Shivannya " Lalu dimana Pangeran Vikram dan Ratu Shivannya? dimana juga Tuan Putri Madhuri? " Sebelum pelayan itu menjawabnya Gauri sudah memotong ucapannya " Mereka berdua pergi untuk bertarung sedangkan Madhuri dia ikut bersama bibi Nandini, lalu apa yang terjadi dengan dirimu? kenapa kau terlihat berantakan seperti ini? apa yang sudah terjadi? " Manu tidak menjawab pertanyaan Gauri dia kemudian bertanya kepada kedua pelayan itu " Mereka berdua bertarung melawan Arun dan juga Mannav? ini tidak boleh terjadi jika mereka bertarung melawan kedua orang itu kemungkinan besar mereka akan kalah aku tidak mau mereka berdua terbunuh " Gauri lalu membalikkan tubuh Manu " Apa kau tuli? aku bertanya kepadamu tapi kau tidak menjawabnya, apa yang sudah terjadi disini? ayo katakan " Manu masih bungkam dia menunduk dengan wajah sedih Gauri mengguncang bahu Manu


" Ayo jawab Priya " Manu masih diam kemudian pelayan itu menceritakan kejadian yang menimpa Manu, Gauri tidak percaya dia pun menampar Manu ' Plak ' Manu jatuh tersungkur akibat tamparan Gauri


" Apa yang sudah kau lakukan? kau menghancurkan semuanya kau menghancurkan pernikahan kakakku, kau menghancurkan keluargaku apa kau masih belum puas? gara-gara kedatanganmu semua menjadi kacau gara-gara kau kakakku Vikram harus menanggung masalahmu itu, kau adalah gadis pembawa sial kau dan kakakmu itu sama saja. Sekarang kau pasti sudah puas melihat kekacauan ini kan? jika kedua kakakku meninggal terutama kak Vikram aku tidak akan diam saja aku pasti akan membunuhmu " Gauri menyerang Priya gadis itu hanya diam saja para pelayan berusaha menghentikan aksi Gauri yang mulai memukul Priya " Hentikan Tuan Putri kau bisa membunuhnya " Gauri memberontak dia berusaha untuk memukul Priya yang dilindungi oleh para pelayan


" Lepaskan aku, biarkan aku membunuh wanita sialan ini dia sudah merusak keluargaku " Para pelayan tetap berusaha menghentikannya akhirnya para pelayan berhasil menjauhkan Gauri dari Priya.


" Aku akan pergi Tuan Putri maafkan aku karena sudah menghancurkan keluargamu, aku tahu jika ini semua terjadi karena kesalahanku dan aku tidak pantas mendapatkan pengampunan atas kesalahanku tetapi tolong biarkan aku disini sebentar lagi aku mohon aku ingin bertemu dengan Ratu Shivannya untuk yang terakhir kalinya " Priya bersimpuh di hadapan Gauri air matanya sudah tidak dapat dibendung lagi,


Gauri sama sekali tidak menoleh ke arahnya dia tetap diam wajahnya masih menyiratkan amarah bahkan Priya memegang kakinya dia tetap tidak bergeming, disisi lain Shivannya dan Vikram tengah bertarung melawan Mannav dan Arun kedua pria itu sudah terluka akibat terkena sabitan pedang dan anak panah dari Shivannya dan Vikram


" Kau " Mannav memegang tangannya yang sudah mengeluarkan darah sedangkan Arun masih tetap bertarung pedang dengan Shivannya " Ada apa Mannav? kau sudah tidak bisa melawanku lagi? dimana kekuatanmu itu? apa sekarang kekuatanmu sudah melemah hah? ayo bangun Mannav angkat busurmu itu dan lawanlah aku jika kau memang sakti ayo lawan aku jangan hanya berbaring di tanah saja " Vikram menantang Mannav yang mulai kehilangan keseimbangannya akibat luka di dadanya


Shivannya terus membidik Arun yang mulai kewalahan membalas serangannya hingga pada akhirnya Shivannya membidik busurnya.


Gadis itu tersenyum bangga melihat Arun yang mulai panik menghadapi dirinya


" Ada apa kak Arun? mulai merasa takut hm? tenang saja aku tidak akan membunuhmu disini, kau masih hidup aku akan memberikanmu kehidupan setidaknya selama seminggu sampai kau mau mengakui kesalahanmu itu dan meminta maaf kepada adikmu Manu. Kalau kau meminta maaf padanya aku dengan senang hati melepaskanmu tapi jika kau masih bersikeras tidak mau meminta maaf dan menebus dosamu itu maka anak panahku ini akan menancap tepat di kepalamu itu, jadi silakan kau pilih keputusan ada di tanganmu sebaiknya kau berpikir berkali-kali untuk mengambil keputusan ini menyangkut tentang hidupmu " Arun menatap Shivannya dengan penuh amarah sedangkan gadis itu berdiri santai walaupun kain sareenya beberapa ada yang robek.


" Kakak ayo kita pergi darahku terus mengalir lukanya semakin parah, cepat kak " Tiba-tiba Mannav datang dengan darah di tangannya


Arun melihat luka adiknya Mannav hampir tumbang jika saja Arun tidak menahannya


" Kau lihat Rajamu yang perkasa sudah hampir tewas kakakku berhasil mengalahkannya, kali ini aku membiarkan kalian pergi cepatlah pergi dan obati lukanya sebelum dia tewas disini jika dia tewas disini itu tidak akan membuat diriku puas "


Shivannya pergi meninggalkan kedua pria itu yang menatapnya sinis " Ayo kita pergi " Arun memapah Mannav pergi, Shivannya berlari menghampiri kakaknya Vikram yang melihat adiknya melepaskan musuhnya pergi pun menjadi marah " Apa-apaan kau ini Shivannya? kau membiarkan dia pergi begitu saja? apa kau sudah tidak waras? dia sudah memperlakukan Priya maksudku Manu tidak adil dia menyeret adiknya seperti binatang dan kita harus menghukumnya bila perlu membunuhnya, dia harus mendapatkan hukuman atas dosa yang sudah dia lakukan memperlakukan wanita seperti binatang "

__ADS_1


Shivannya menutup telinganya tidak kuat mendengar omelan sang kakak


" Kenapa kau menutup telingamu? aku masih belum selesai bicara denganmu " Vikram menatap adiknya kesal Shivannya hanya tersenyum kecut " Sudah selesai mengomel Kak? aku membiarkan mereka pergi karena aku tidak mau dia tewas disini, aku akan melawannya lagi jika dia sudah sembuh aku juga harus melaksanakan sumpahku untuk membunuhnya dengan senjata yang aku miliki jika kita mau dia bisa mati disini dengan satu tusukan senjata mengingat luka yang dia alami cukup parah, tapi itu tidak mungkin dia bisa sembuh kembali hanya dengan sentuhan jari saja mengingat dia itu sudah setengah iblis maka dia juga harus dibunuh dengan senjata khusus yang bisa membunuhnya kak " Vikram mengerutkan dahinya " Benarkah itu? " Shivannya mengangguk " Ya dia bukan manusia lagi tapi iblis setengah manusia kak maka dari itu kita harus segera membuat rencana untuk mengalahkannya, ini adalah kesempatan kita untuk mengalahkannya selama dia masih menyembuhkan lukanya kita harus membuat sebuah rencana untuk menyerangnya "


Vikram terdiam sebentar dia berusaha mencari kelemahan Mannav dan Arun lalu tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya


" Aku ada sebuah ide " Shivannya melirik kakaknya " Apa itu kak? " Vikram menarik tangan Shivannya untuk kembali ke Istananya.


Nandini, Madhuri dan Ambarawati sudah kembali ke Istana namun para tamu diperintahkan untuk tidak datang dulu ke Istana mengingat situasi sedang tidak baik terjadi saat masuk ke aula Nandini melihat Priya duduk sambil termenung dia melihat ada bekas air mata di pipinya, Nandini juga melihat di kedua bahu gadis itu terdapat sebuah luka dan di keningnya terdapat luka lebam bercampur darah yang sudah mengering dia juga melihat sudut bibir gadis itu yang robek sedikit Nandini menatap Manu dengan pandangan sedih dia berlari memeluknya Madhuri dan Ambarawati diam menyaksikan keadaan gadis itu yang penampilannya sudah kacau air mata keduanya tidak dapat ditahan lagi mengingat gadis itu dapat perlakuan buruk dari saudaranya sendiri, Manu masih diam ketika Nandini memeluknya erat


" Hiks hiks hiks hiks Manu " Nandini masih memeluknya dia memegang wajah gadis itu yang tampak mulai sayu


" Tataplah ibu nak, lihat ibu kau jangan seperti ini terus nak kau menganggapku sebagai ibumu kan? lihat aku Manu, aku tidak bisa melihatmu seperti ini kau adalah putriku aku menyayangimu Manu tolong jangan seperti ini " Nandini mengguncang bahu Manu tapi gadis itu tidak meresposnya dia tetap diam


Nandini memegang kedua tangan dingin Manu dengan erat Manu menatap Nandini yang tertunduk terisak " Ibu " Nandini langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Manu memanggilnya


" Anakku Manu " Manu menutup bibir ibunya dengan telunjuknya " Jika kau memang menganggapku sebagai anakmu lalu kenapa kau tadi tidak menolongku? lalu kenapa kau membiarkan ketidakadilan ini terjadi padaku? kenapa kau hanya diam saja saat orang itu menyeretku dan memperlakukan aku seperti binatang? kenapa ibu? apa kau takut dengannya? kau selalu bilang bahwa aku ini adalah putrimu tapi kenapa kau tidak menolongku? kau bahkan tidak mendengar jeritanku disaat aku meminta pertolongan kepadamu ibu? semua omonganmu itu adalah sebuah kepalsuan, aku tahu jika semua ini adalah salahku aku yang telah membuat keributan ini terjadi di keluarga kalian aku lah penyebab semua ini, niatku tidak pernah buruk terhadap kalian semua aku hanya berniat ingin menolong Ratu Shivannya agar dia bebas dari cengkeraman kakakku aku ingin berniat membantunya tapi pada akhirnya semua jadi berantakan. Ini semua adalah salahku aku minta maaf kepada kalian semua tolong maafkan semua kesalahanku dan terima kasih kalian sudah mau menerimaku di sini, ibu jika kau memang adalah ibuku seharusnya tadi menolongku bukan hanya diam saja melihatku dipermalukan seperti tadi itu artinya kau bukan lah ibuku " Manu menatap Nandini dengan wajah marah dia membuang wajahnya ketika Nandini berusaha meraih wajahnya " Anakku Manu ini bukan salahmu nak kedua saudaramu lah yang telah bersalah, kau hanya ingin membantu Shivannya niatmu itu patut dipuji nak kau rela pergi dari Istanamu meninggalkan saudaramu hanya demi membantu Shivannya aku minta maaf telah membiarkanmu diperlakukan tidak adil tapi aku benar-benar sangat menyayangimu tolong maafkan aku, aku benar-benar tidak berdaya untuk menolongmu " Manu menangis keras dia diam saja ketika Nandini memeluk dirinya tiba-tiba Shivannya dan Vikram datang Ambarawati melihat keduanya masuk ke Istana segera menyambutnya.


" Kalian sudah datang, kalian baik-baik saja? "


Ambarawati memperhatikan keadaan keduanya namun dia melihat pakaian Shivannya yang beberapa telah robek


" Sebelum itu aku harus bertemu dengan Manu " Shivannya menghampiri Manu yang masih berpelukan dengan Nandini


" Manu " Nandini melepaskan pelukannya dia melihat Shivannya sudah kembali


" Kau sudah datang dimana Vikram? " Nandini melihat putranya telah datang dia pun menyambutnya, Shivannya melihat Manu yang diam dia pun menghampirinya


" Priya " Shivannya memanggilnya dengan lembut dia bersimpuh di depan Manu yang diam menangis " Pergilah Ratu " Manu mengusir Shivannya namun gadis itu tidak bergeming " Panggil tabib obati lukanya dia harus sembuh " Manu menatap Shivannya


" Apa maksudmu Ratu? jangan lakukan itu aku baik-baik saja " Manu menolaknya tapi Shivannya bersikeras " Bawa dia ke kamar "


para pelayan mengangguk mematuhinya mereka mulai mengajak Manu ke kamar untuk diobati.


" Tidak, Ratu aku tidak butuh diobati aku-" Ucapan Manu terpotong oleh perkataan Shivannya " Aku tahu kau tidak mau diobati tapi kau ingin hatimu yang sakit itu diobati kan? obati dulu lukamu aku akan menemuimu setelah tabib mengobati lukamu, bawa dia ke kamar " Shivannya berdiri dia memerintahkan pelayan untuk membawa Manu kembali ke kamar " Jangan lupa bersihkan dulu tubuhnya setelah itu ganti pakaiannya baru tabib boleh mengobatinya " Para pelayan mengangguk patuh lalu mereka pergi menuju kamar Manu,

__ADS_1


Vikram mendekati Shivannya


" Apa dia akan baik-baik saja? aku sama sekali tidak menduga bahwa ini akan terjadi, kedua pria itu telah berani berbuat lancang kepada Manu padahal dia adalah adik mereka tapi mereka malah memperlakukannya seperti itu aku sama sekali tidak tahu pikiran mereka, mereka telah bersikap kasar kepadanya aku tidak akan memaafkan mereka " Vikram mengepalkan kedua tangannya menahan amarah Shivannya hanya tersenyum " Kakak kau jangan marah semuanya akan baik-baik saja, lagipula kita memang akan menghabisi kedua penjahat itu tapi aku tidak tahu bagaimana cara mengalahkan mereka, aku harus cari kelemahan mereka tapi bagaimana caranya? "


keduanya terdiam tiba-tiba sebuah ide muncul di kepala Vikram " Ayo ikut denganku"


Dia menarik tangan Shivannya membawanya ke ruangan lain Nandini,Madhuri, Ambarawati hanya diam saja mereka saling berpandangan


" Kemana mereka akan pergi? " Tanya Madhuri kepada kedua wanita itu


" Ibu tidak tahu tapi yang jelas kakakmu sedang merencanakan sesuatu mengenai masalah ini, ya sudah ayo kira bersihkan tempat ini sebelum kakakmu pulang dari kuil kita harus tetap menjalankan pernikahan ini walaupun kita baru saja mengalami sebuah masalah serius " Ambarawati mengangguk


" Ya kak ayo para pelayan kalian cepat bersihkan tempat ini dan rias kembali aula ini, aku akan pergi menemui para tamu yang tsdi hadir kakak agar mereka tidak membocorkan masalah ini aku akan segera kembali " Ambarawati pergi untuk menyelesaikan masalahnya Nandini dan Madhuri membantu para pelayan untuk menghias ulang aula Istana.


Vikram mengajak Shivannya ke kamarnya


" Ada apa kak? kenapa membawaku kesini? "


Tanyanya Vikram duduk di kursi kayu kamarnya " Aku mempunyai sebuah ide untuk mengalahkan mereka " Shivannya jadi bersemangat mendengarnya " Apa itu Kak? "


Vikram kemudian memberitahu idenya Shivannya mendengarkannya dengan baik


" Manu? " Tanya Shivannya bingung kakaknya mengangguk " Ya Manu, kita bisa mencari kelemahan mereka melalui Manu dia pasti tahu kelemahan kedua kakaknya dan aku yakin sekali kalau dia juga tahu kelemahan kakaknya, bukankah dia bilang bahwa dia ingin membantumu? jadi inilaha kesempatan kita untuk bertanya kepadanya dia pasti mau membantu kita " Shivannya berpikir sebentar


" Hmm benar juga kita bisa bertanya kepadanya aku yakin bahwa Manu sudah tidak tahan dengan sikap kejam kedua kakaknya itu sebabnya dia mau membantuku, jika kita sudah mendapatkan kelemahannya kita bisa menggunakan itu untuk menyerangnya, kau benar kak ini kesempatan kita setelah Manu sembuh aku akan bertanya kepadanya untuk mencari tahu kelemahan kedua kakaknya " Vikram mengangguk " Ya "


lalu mereka kembali ke aula Istana, saat hendak turun mereka terkejut karena melihat para pelayan mulai mendekorasi ulang aula Istana " Kenapa mereka mengulang menghias aula ini? " Tanya Shivannya kepada Vikram


" Entahlah ayo kita tanyakan kepada mereka"


Keduanya lalu bertanya kepada salah satu pelayan " Maaf kenapa kalian mengulang menghias aula ini? kita baru saja mengalami sebuah masalah tapi kalian malah mengulang menghias aula ini siapa yang menyuruh kalian melakukan ini? " Tanya Vikram pelayan itu pun menjawabnya " Maafkan kami Pangeran ini semua perintah dari Ibu Ratu Nandini beliau menyuruhku untuk mengulang menghias aula Istana ini sebelum Yang Mulia Raja kembali dari kuil " Vikram mengernyitkan dahinya kebingungan " Maksudmu? " Tiba-tiba dari arah belakang terdengar suara ibunya


" Ibu yang menyuruh mereka melakukan ini karena pernikahan kakakmu akan tetap dilaksanakan " Mereka terkejut mendengarnya " Apa? tapi ibu kita baru saja mengalami masalah yang cukup memalukan dan ibu barusan bilang pernikahan kakak akan tetap dilaksanakan? aku tidak mengerti dengan semua ini kita belum menyelesaikan masalah Manu dan sekarang upacara pernikahan kakak? " Vikram kesal kepada ibunya Nandini mengangguk pasrah


" Memang benar kita baru saja mengalami masalah yang cukup memalukan tapi pernikahan ini tetap akan terjadi mengingat dua hari yang lalu kita membatalkannya karena masalah Manu yang digigit oleh ular itu, tapi sekarang apa kita harus juga membatalkannya? kakakmu akan merasa terpukul apalagi setelah pernikahannya dibatalkan dia akan mendapatkan penghinaan terhadap masyarakat seluruh keluarga kita akan dihina habis-habisan oleh semua orang, dia akan menanggung semua itu dan kita semua juga terkena dampaknya ibu tahu kau sangat khawatir tentang masalah Manu tapi kita harus menutupinya ibu tidak mau kita mendapatkan hinaan dua kali akibat insiden ini. Masalah ini terjadi bukan karena keinginan kita tapi sudah diatur oleh Dewa percayalah kepada ibu, ibu akan mengurus semuanya bibimu Ambarawati juga sudah menyuruh para tamu agar mereka menutup rapat-rapat masalah ini dan ibu yakin kau dan Shivannya sudah mendapatkan rencana untuk membalaskan dendam kalian dan juga membalas penghinaan yang dialami oleh Manu jadi ibu mohon tenanglah Vikram semua akan baik-baik saja ibu yakin kepada kalian bahwa kalian bisa membunuh para pendosa itu tenanglah Vikram serahkan semuanya pada ibu dan juga bibimu kami akan mengurusnya " Vikram sedikit tenang setelah mendengar ucapan ibunya Shivannya yang berdiri di samping kakaknya hanya mengangguk " Baiklah bibi " Gadis itu menepuk pundak kakaknya mengisyaratkannya " Turuti saja perintah bibi "

__ADS_1


Vikram mengangguk lalu dia pergi menemui Manu di kamarnya sedangkan Shivannya pergi membantu adik-adik sepupunya menghias ulang aula Istana.


Jangan lupa like dan komen ya....


__ADS_2