
Manu bersenandung pelan di taman dia lebih memilih untuk meninggalkan perayaan itu karena tidak tahan melihat Vikram yang membuat hatinya tidak waras
' Huh sial terpaksa aku meninggalkan perayaan itu setiap aku memandang mata Pangeran Vikram hatiku pasti berdebar dan aku langsung jadi tidak waras, ini semua salah dia ' Manu terus mengumpat dalam hati dari kejauhan Madhuri memandangnya dengan senyuman geli dia mengikuti Manu namun tidak mendekatinya,dia terus memperhatikan gerak-gerik gadis itu dia merasa sedang menonton sebuah pertunjukan " Ada apa dengannya? dia berbicara sendirian? apa dia sudah tidak waras? " Madhuri terus memandang Manu yang mulai sedikit tidak waras namun tiba-tiba seorang pelayan menghampirinya
" Tuan Putri anda disuruh kembali ke ruangan Ibu Ratu mencari anda " Madhuri mengangguk dia lalu meninggalkan taman.
" Ibu mencariku? " Nandini menoleh melihat putrinya sudah datang " Ya nak " mata Nandini melirik ke samping Madhuri merasa ada yang aneh Madhuri bertanya kepada ibunya " Ada Ada Ibu? Ibu seperti mencari sesuatu apa ada masalah? " Nandini bertanya dimana Priya alias Manu, Madhuri mengatakan bahwa Manu berada di taman Nandini ingin mencarinya namun dilarang oleh Madhuri " Biar aku saja yang mencarinya" setelah itu dia melenggang pergi,
Madhuri melihat Manu sedang menari di taman dia bengong melihat Manu yang menari dengan baik " Dia menari dengan sangat baik" Gumam Madhuri dia bergegas mendekati Manu yang belum mengetahui keberadaannya " Priya " Panggil Madhuri merasa ada yang memanggilnya Manu langsung menghentikan menarinya
" Ngapain kau kesini? sana pergi lah aku harus menenangkan diriku gara-gara dirimu " Manu mengomel tanpa melihat siapa yang datang, Madhuri berusaha menahan tawanya
' Astaga gadis ini tidak melihat siapa yang datang, dan dia malah mengomel tanpa jelas '
Madhuri tetap berdiri disana tanpa bergeming.
" Kau itu keras kepala ya? sudah aku suruh kau pergi dari si-" Ucapan Manu terpotong ketika melihat Madhuri sudah berdiri dengan menahan tawa ' Astaga itu Putri Madhuri aduh kenapa aku malah berbicara tidak sopan, dia pasti akan marah besar bagaimana ini? apa dia mendengar semua yang aku katakan? ' Manu melirik Madhuri yang berdiri santai melihat ekspresi Manu,Madhuri langsung mengubah ekspresi wajahnya menjadi datar " Ehem kau dipanggil oleh Ibu cepat lah datang, aku disuruh mencarimu tenang saja aku tidak mendengar apapun "
Madhuri berbalik meninggalkan Manu yang masih berdiri mematung,Madhuri tidak bisa lagi menahan tawanya " Hahaha dasar gadis bodoh dia sampai takut begitu ketahuan apa yang telah dia katakan, ekspresi wajahnya itu lucu juga saat sedang ketakutan hmm ini semakin menarik aku harus memberitahu Kak Sanjaya agar dia terus dijahili dengan begitu aku bisa melihat wajah takutnya itu "Madhuri terus tertawa sampai Vikram menatapnya aneh " Kau kenapa? tertawa tidak jelas apa ada yang lucu? " Madhuri menggeleng keras
" Tidak, aku hanya tertawa saja memangnya tidak boleh ya? apa tertawa itu harus ada alasannya? " Madhuri bertanya balik kepada kakaknya, Vikram merasa adiknya ini agak tidak waras " Tidak,kau boleh tertawa sepuasmu tidak ada yang melarang, sikapmu mulai lagi berubah " Setelah mengatakan itu Vikram berlalu meninggalkan adiknya, Madhuri hanya mengendikkan bahunya lalu melanjutkan berjalan mencari ibunya.
Manu bergegas berjalan menuju ruang Istana saat di pintu masuk dia berpapasan dengan Vikram yang tersenyum lembut ke arahnya " Oh kau mau masuk? Ibu dan kakak sudah menunggumu " Manu terdiam lagi-laginya hatinya tidak waras saat melihat Vikram ' Aduh kenapa hati ini terus berdebar setiap kali melihat Pangeran Vikram ' Manu terdiam sambil berusaha menenangkan hatinya, Vikram yang merasa diabaikan kembali menegurnya " Apa kau mendengarkanku? " Dia menatap gadis di depannya yang terlihat melamun padahal gadis itu sedang berusaha menenangkan dirinya " Oh eh apa? ah ya aku harus masuk karena tadi Tuan Putri Madhuri sudah memberitahuku, aku permisi dulu " Manu buru-buru pergi dari tempat itu sebelum terjadi hal yang lebih parah lagi, dia melihat Nandini sedang berbicara dengan seorang wanita yang tidak lain adalah Ibu dari Shivannya, Ambarawati dia kemudian mendekati mereka " Salam Ibu Ratu apakah anda memanggilku? " Nandini menoleh dia tersenyum lembut sambil mengangguk
__ADS_1
" Ya nak kemari lah dia adalah Ibu dari Shivannya dia bernama Ibu Ratu Ambarawati, beri salam kepadanya " Manu menatap Ambarawati dia terkejut bagaimana bisa beliau ada disini bagaimana jika beliau mengenal dirinya, Manu terus diam sampai Nandini menegur dirinya " Priya " Manu kembali tersadar dia lalu memperkenalkan dirinya " Salam, aku Priya " Manu memberi hormat kepada Ambarawati.
Ambarawati memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah sia merasa pernah mengenali gadis ini tapi dia tidak ingat dimana dia melihat gadis itu
" Namamu Priya? kau cantik sekali apa kau berasal dari keluarga Bangsawan? " Manu melirik ke arah Nandini sebentar Nandini menyadari bahwa Manu tidak ingin ada yang bertanya soal kehidupan pribadinya
" Itu, bukan dia tidak berasal dari keluarga Bangsawan aku bertemu dengannya di sebuah sungai dia hanya anak dari kalangan biasa " Ambarawati sedikit tidak percaya dengan ucapan yang dikatakan oleh kakak iparnya tersebut " Begitu ya? aku kira dia dari kalangan Bangsawan melihat dirinya yang begitu cantik dan anggun " Nandini hanya tersenyum tipis menanggapinya, mereka lalu mulai berbincang banyak hal lalu membahas Shivannya, Manu yang berada disana diam-diam mendengarkannya ' Sepertinya aku harus turun tangan untuk ikut mencarinya, menunggu kabar dari burung itu sedikit tidak meyakinkan tapi itu akan perlu banyak alasan buatku agar bisa keluar dari Istana ini, mengingat Ibu Ratu Nandini akan melindungiku bersama dengan putranya aku harus bagaimana? aku akan memikirkannya yang terpenting aku harus mendengarkan pembicaraan mereka sampai selesai ' Manu terus memasang telinganya agar dia bisa mendapatkan informasi mengenai Shivannya.
Manu terus mendengarkan mereka sampai selesai, namun dia tetap tidak mendapatkan informasi apapun ' Kalau sudah begini aku harus mencarinya sendiri, baiklah aku harus mulai menyusun sebuah rencana ' Manu hendak meninggalkan tempat itu namun suara Nandini mencegahnya " Kau mau kemana? " Tanya Nandini, Manu berpikir untuk mencari alasan " Aku ingin kembali ke kamar,aku merasa tidak enak badan " Ujarnya Nandini mendekati Manu ingin memeriksa suhu tubuh Manu tapi gadis itu berhasil menghindar " Aku tidak apa-apa Ibu Ratu hanya sedikit merasa pusing, nanti istirahat juga akan sembuh " Manu berusaha meyakinkan Nandini agar tidak memanggil seorang tabib " Baiklah kalau begitu istirahat lah jika kau membutuhkan sesuatu panggil saja pelayan, aku akan menyusulmu nanti "
Nandini mengelus pucuk kepala Manu dengan lembut dia tersenyum dan menyuruh Manu untuk istirahat,gadis itu segera pergi ke kamarnya untuk menyusun sebuah rencana.
Manu berlari ke kamarnya dia lalu mengunci pintu kamarnya dan bergegas mengambil sebuah buku dia mulai menulis rencananya namun sedetik kemudian pintu kamarnya diketuk oleh seseorang, Manu menghentikan menulisnya dia menatap ke arah pintu siapa yang datang ke kamarnya cepat-cepat dia menyembunyikan bukunya kemudian dia membuka pintunya saat dilihat siapa yang berdiri di depan pintu jantungnya kembali berdebar ' Kenapa dia kesini? ' Manu menatap seorang pria yang berdiri di depannya " Ibu bilang kau sedang tidak enak badan, apa kau baik-baik saja? " Manu hanya diam tanpa menjawab, Vikram hendak memeriksa dahi Manu namun tangannya segera ditepis oleh Manu " Hentikan " Vikram terkejut mendapat respons seperti itu Manu yang menyadari tindakannya buru-buru meminta maaf " Maafkan aku tadi refleks menepis tanganmu, maksudku aku tidak apa-apa hanya pusing mungkin karena lelah selama berada di perayaan hahaha " Manu tertawa kikuk dia berdoa semoga Vikram tidak menghukum dirinya dan sifatnya berbeda tidak seperti kakaknya yang kejam Vikram hanya mengangguk pelan dia lalu menyuruh pelayan untuk melayani keperluan Manu tapi gadis itu berusaha menolaknya dengan alasan ingin sendiri tapi Vikram tetap keras kepala dia tidak mau mendengar alasan Manu mau tidak mau akhirnya Manu menyerah juga daripada berdebat dengannya yang nanti berujung pertengkaran dia tidak mau terlibat bertengkar dengan Vikram.
Manu akhirnya diam di tempat tidur sambil menulis pelayannya dia biarkan berdiri di pojok kamarnya karena tadi dia menyuruh pelayan itu untuk tidak ikut campur dengan urusannya " Kau diam disitu jika kau lelah kau bisa duduk di kursi itu, jangan bertanya apapun karena aku akan menyusun sebuah rencana untuk Ratu Shivannya " Pelayan itu hanya mengangguk, Manu tetap menulis dia lalu melirik pelayan itu yang mulai lelah berdiri " Apa kau lelah? jika lelah kau boleh duduk disitu,sebentar lagi aku akan selesai "
" Tidak, nona saya tidak lelah Pangeran Vikram menyuruh saya untuk menjaga anda jadi saya akan tetap berdiri jika nanti nona membutuhkan bantuan maka saya bisa siaga mengambilnya " Manu tertawa keras mendengarnya " Hahaha kau itu memang pelayan setia tapi aku tidak membutuhkan apapun jadi duduk saja jika kau nanti pingsan akibat menjagaku bisa-bisa Pangeran Vikram akan menghukumku karena telah membiarkan pelayannya pingsan akibat tidak diizinkan duduk karena lelah berdiri. Duduk saja turuti perintahku jika aku meminta bantuan aku pasti akan memanggilmu duduk saja dia tidak akan marah " Manu memaksa pelayan itu untuk duduk dia menunjuk kursi kayu yang berada di samping jendela, pelayan itu pun menurutinya dia kemudian duduk di kursi itu dengan kikuk Manu yang memperhatikan tingkah pelayan itu hanya menggelengkan kepalanya
" Tidak usah merasa kikuk ini kamarku jadi kau bisa duduk dengan nyaman, aku tidak suka melihat orang lain bersikap seperti itu jadi santai saja " Pelayan itu lagi-lagi hanya mengangguk Manu kembali melanjutkan menulisnya.
Nandini berjalan menuju kamar Manu dia menemukan pintu kamar Manu tertutup dia pun bertanya kepada penjaga yang menjaga di luar kamar " Kenapa pintunya tertutup? "
penjaga itu memberitahu bahwa Manu sendiri lah yang telah mengunci pintu kamarnya dari dalam Nandini mulai mengetuk pintu kamar Manu " Priya ini aku buka pintunya " Manu yang berada di dalam dengan tergesa-gesa menyembunyikan bukunya dia meminta pelayan itu membuka pintu kamarnya dia kembali berbaring di tempat tidur, pelayan itu membuka pintunya lalu mempersilakan Nandini untuk masuk dia melihat Manu yang terbaring di kasur Manu yang melihat Nandini telah masuk menyapanya dengan senyuman
__ADS_1
" Salam, Ibu Ratu apakah perayaannya sudah selesai? " Nandini mengangguk dia menghampiri Manu lalu duduk dia kasurnya
" Bagaimana keadaanmu? apa sudah merasa lebih baik? " Nandini mengelus kepala Manu dia sudah menganggap Manu sebagai anak kandungnya, Manu yang mendapatkan perlakuan seperti itu hanya tersenyum lembut
" Sudah, aku merasa jauh lebih baik pelayan ini merawatku dengan baik " Manu mengedipkan sebelah matanya kepada pelayan itu yang dibalas dengan anggukan oleh pelayan tersebut " Iya benar keadaan nona sudah membaik Ibu Ratu " Nandini tersenyum lembut dia mulai menyelimuti Manu kemudian mencium keningnya
" Istirahat lah supaya kau cepat sembuh "
Nandini meninggalkan kamar itu dia lalu memberi pelayan itu pesan pelayan tersebut hanya mengangguk kemudian pintu kembali tertutup.
Manu menyentuh kening yang baru saja dicium oleh Nandini dia merasa seperti memiliki Ibu kembali dia tersenyum tipis lalu menyuruh pelayan itu untuk tidur di kursi panjang itu mereka mulai pergi ke alam mimpi, Nandini berjalan menuju kamarnya tiba-tiba Jhanvi memanggilnya Nandini menoleh melihat calon menantunya datang menghampirinya " Ada apa Jhanvi? " Jhanvi tersenyum " Aku ingin menginap disini boleh Ibu Ratu? " Nandini terdiam sebentar Jhanvi lalu menjelaskannya bahwa besok dia akan pergi bersama Madhuri " Ya kau boleh menginap disini, pelayan antarkan Putri Jhanvi ke kamarnya istirahat lah aku akan tidur " Nandini tersenyum tipis lalu pergi ke kamarnya Jhanvi tersenyum lembut kemudian mengucapkan salam para pelayan mulai mengantarnya ke kamar, Vikram berdiri di balkon kamarnya Madhuri yang melihat kakaknya melamun mendekatinya berniat menjahilinya " Ehem seseorang sedang melamun di sini sendirian, apakah dia sedang melamunkan seseorang? yaitu pujaan hatinya atau orang lain yang berada jauh disana " Madhuri mulai menggoda kakaknya yang meliriknya sebentar Vikram mendengus kesal mendengar adiknya mulai menggodanya
" Berhenti lah menggodaku, kau goda saja Kak Sanjaya jika kau berani jangan menggodaku terus memangnya kenapa jika aku melamunkan seseorang? apa itu salah? "
Vikram bertanya dengan dingin kepada adiknya Madhuri hanya tersenyum geli melihat kakaknya sedang jatuh cinta kepada seseorang " Biar kutebak orangnya pasti Priya kan? " Vikram mendelik ke arah adiknya
" Apa maksudmu? aku sama sekali tidak sedang memikirkan dia, aku memikirkan saudari kita yang sudah menghilang dari seminggu ini tidak ada hubungannya dengan Priya lagipula dia itu orang asing aku bahkan tidak tahu darimana dia berasal, dia bilang bahwa dirinya hilang ingatan dan ada yang menyerang dirinya itu sedikit tidak masuk akal kan? " Vikram terus menyerocos tanpa henti, Madhuri yang bosan mendengar kakaknya yang masih menyerocos menyumpalnya menggunakan selendang miliknya " Berhenti menyerocos aku hanya tanya sedikit tapi kau malah mengoceh terus telingaku sakit mendengarnya, bisa diam kan? aku hanya menebaknya saja lalu kenapa kau marah? " Vikram menghela nafas kasar dia menyenderkan tubuhnya di balkon.
" Kak,tidak peduli dengan Priya yang berasal darimana intinya dia telah membuat dirimu jatuh cinta tapi kau tidak mau mengakuinya atau kau merasa malu karena ketahuan oleh adikmu?, yah pokoknya aku sudah tahu tentang hal ini tapi terserah kakak saja terus saja mengelak maka perasaan itu akan terus tumbuh dan mengakar kuat di hatimu, baiklah aku harus tidur selamat malam " Madhuri berbalik meninggalkan kakaknya yang terdiam kalau urusan seperti ini Madhuri lebih peka dia bahkan bisa menebaknya hanya sekali saja dan hal itu membuat kakaknya terdiam tidak bisa berkata apapun, dia melirik sekilas kakaknya yang kembali menatap bintang dia memasang senyum tipis sambil bergumam " Kau akan segera menyadarinya kak " lalu pergi ke kamarnya, keesokan paginya Manu bangun dia merasa ada yang menghalangi penglihatannya maka dia segera membuka matanya alangkah terkejutnya dia begitu melihat Vikram sudah berdiri di sampingnya tempat tidurnya
' Apa yang dia lakukan disini? apa ini mimpi kalau begitu aku harus segera bangun tunggu dulu biar aku cibit lenganku jika ini mimpi ' Manu mulai mencubit lengannya terasa sakit itu berarti tidak mimpi ' Ini tidak mimpi ' Manu melirik Vikram yang sedang menatapnya
" Cepat lah bersiap Ibu sudah menunggu " Setelah berkata seperti itu dia pergi meninggalkan Manu yang terdiam dengan seribu pertanyaan,tanpa membuang waktu lagi Manu segera bersiap dia terkejut melihat pakaian sari berwarna merah dia mengambilnya lalu seorang pelayan mengatakan bahwa itu sari pemberian Nandini langsung saja Manu memakainya, dia kemudian pergi ke taman tempat dimana Nandini menunggunya.
__ADS_1
Manu berlari menuju taman Nandini yang sudah menunggunya tersenyum lembut melihat kedatangannya dia sangat senang sari pemberian darinya dikenakan oleh Manu, gadis itu jadi terlihat lebih cantik bahkan Madhuri dan Jhanvi sama sekali tidak bergeming menatapnya Nandini mempersilakan dia duduk mereka menikmati teh di pagi hari " Bagaimana keadaanmu? sudah lebih baik? " Tanya Nandini memulai pembicaraan Manu mengangguk pelan dia kemudian ingin mengajak Manu untuk pergi ke sebuah kuil Dewa Siwa, Manu yang tidak bisa menolak permintaan orang lain akhirnya menyanggupinya selesai acara minum teh Manu dan Nandini bersiap untuk pergi ke kuil saat akan naik ke kereta kuda Vikram menghentikannya " Tunggu Ibu " Nandini dan Manu menoleh " Ada apa? " Nandini bertanya kepada putranya kemudian Vikram mengulurkan sebuah benda yang bahkan Nandini tidak mengetahuinya " Apa ini? " Vikram menngatakan saat sampai di kuil benda itu harus diletakkan terlebih dahulu, Nandini mengangguk pasrah atas tingkah putranya maka dia pun naik ke kereta kuda diikuti oleh Manu. Gadis itu menatap Vikram yang balik menatapnya Madhuri yang melihat itu tersenyum lebar ' Sudah kuduga mereka saling menyukai ' dia hanya menggelengkan kepalanya melihat dua insan itu sedang jatuh cinta kemudian kereta berangkat menuju kuil sekali lagi Manu menoleh ke arah Vikram yang masih menatap kepergiannya entah matanya salah lihat tapi Manu melihat bahwa Vikram sedang tersenyum ke arahnya dia buru-buru memalingkan wajahnya menghadap ke depan.
Jangan lupa like dan komen ya terima kasih...