PEMBALASAN SEORANG RATU

PEMBALASAN SEORANG RATU
Bab 3


__ADS_3

Manu berjalan tak tentu arah pakaian yang dikenakannya terlihat berantakan bahkan perhiasan di rambutnya juga sudah berantakan, dia berjalan sambil menangis lalu dia tiba di sebuah sungai gadis itu berjalan mendekati sungai itu dia memutuskan untuk istirahat sebentar perjalanan selama dua hari membuat dia lelah. Manu bersimpuh dia mengambil air menggunakan telapak tangannya dia membasuh wajahnya sampai dia mendengar suara kereta kuda mendekat.


Vikram beserta ibunya turun dari kereta kuda mereka memutuskan untuk mencuci wajah karena lelah dalam perjalanan, Manu melihat segerombolan prajurit mengawal dua orang dia menatap mereka sampai seorang wanita memergokinya cepat-cepat Manu memalingkan wajahnya dia langsung berdiri hendak meninggalkan tempat itu sampai wanita itu menegurnya " Hei nak apa yang kau lakukan disini? " Manu ingin sekali rasanya pergi meninggalkan tempat itu namun dia mendengar langkah kaki mendekat, wanita itu menyentuh pundaknya Manu berbalik menatap wanita itu. Astaga wanita itu sangat cantik dan anggun Manu sampai terpana melihatnya.


Nandini tersenyum menatap Manu yang masih memandangi dirinya dengan takjub


" Hei nak kau sendirian disini? " Dimana keluargamu? " Nandini celingukan mencari keluarga gadis itu tapi Manu langsung menyangkalnya " Oh itu maafkan aku, Aku tidak memiliki keluarga aku sendirian kesini "


Manu dengan gugup memberitahunya. Nandini bingung mendengar ucapan gadis itu dia memandang pakaian yang dikenakannya jelas sekali jika dia itu adalah anak bangsawan melihat pakaiannya serta perhiasannya tapi kenapa gadis itu mengatakan bahwa dia tidak memiliki keluarga?, namun Nandini tidak mau ambil pusing maka dia dengan lembut mengajak gadis itu bicara " Namamu siapa? " Manu dengan ragu menjawab pertanyaan wanita cantik itu dia memikirkan sebuah nama agar dirinya tidak ketahuan kalau dia adalah Putri dari Kerajaan Singaloka dia harus menyembunyikan identitasnya sampai dia menemukan Shivannya.


" Namaku Priya Yang Mulia Ratu "


jawab Manu dengan sopan Nandini tersenyum lembut dia mengelus pucuk kepala Manu " Aku adalah Nandini Ibu Ratu dari Kerajaan Aradhya, lalu apa yang kau lakukan disini? Kau tidak kembali ke Kerajaanmu? "


Manu hanya menggeleng pelan, Nandini mengajak gadis itu bicara mengenai dirinya karena terus didesak mau tidak mau akhirnya Manu menceritakannya " Aku " Manu masih terlihat ragu untuk menceritakannya. Dia tahu bahwa nama baik Kerajaannya sudah terkenal di seluruh Negeri bukan nama baik lebih tepatnya citra buruk Kerajaannya yang dikenal sangat menakutkan akibat perbuatan kakaknya.


Banyak Kerajaan tidak mau berurusan dengan Kerajaan Singaloka sebab mereka sangat lah menyeramkan tanpa memandang belas kasihan mereka tidak segan-segan memberi orang lain hukuman bukan hanya itu saja bahkan Kerajaannya pun sama sekali tidak mengizinkan orang lain memberi kesempatan jika mereka berbuat sedikit kesalahan, pokoknya Kerajaan Singaloka sudah berbeda dibandingkan yang dulu karena itu lah sekarang Manu berpikir untuk memberitahu Nandini apa yang sebenarnya terjadi Manu sedikit menghela nafas dia menyunggingkan senyumannya " Aku berasal dari Kerajaan tetangga sebenarnya aku kemari karena aku kabur meninggalkan Kerajaanku sebab ada orang jahat selalu mengejarku, karena itu lah Ibu menyuruhku untuk pergi meninggalkan Kerajaan agar aku tidak dikejar oleh orang jahat itu " Nandini memandang gadis itu dengan kasihan dia memang tidak bisa melihat orang lain bersedih apalagi seorang gadis karena itu lah dia berusaha menenangkan Manu yang mulai menangis


" Tenang lah jangan menangis bagaimana jika kau ikut denganku ke Kerajaan Aradhya? dengan begitu kau akan aman tinggal disana "


Usul Nandini tersenyum lembut. Manu menatap ragu ke arah Nandini di dalam hati dia ingin ikut tapi disisi lain dia ingin mencari keberadaan Shivannya sampai ketemu.


" Baiklah aku akan ikut denganmu Ibu Ratu "


sahut Manu akhirnya Vikram yang melihat Ibunya sedang berbicara dengan seorang gadis lalu menghampirinya


" Ibu ini siapa? " tanyanya Nandini menatap putranya yang bertanya dia lalu memperkenalkan Manu kepada Vikram,


" Salam Pangeran " Vikram mengangguk sambil tersenyum tipis Nandini kemudian menceritakannya bahwa Manu alias Priya akan ikut ke Istana bersama mereka Vikram terkejut mendengarnya masalahnya dia mempunyai sang kakak sekaligus Raja di Kerajaan Aradhya yang memiliki sifat pendiam tapi tidak suka jika ada orang asing yang ikut tinggal di Istananya Vikram memperhatikan gadis itu dari atas sampai bawah " Kau seorang bangsawan? " Manu mengangguk pelan Vikram terlihat berpikir bagaimana caranya agar kakaknya itu mengizinkan gadis itu tinggal sementara di Istana sampai dia menemukan jalan keluar dari masalahnya. Vikram mendekati ibunya dia berbisik kepadanya mengenai sifat kakaknya itu setelah mendengar bisikan putranya Nandini hanya tersenyum dia menyuruhnya agar urusan kakaknya biar dia yang menanganinya.


" Baiklah bu kalau begitu kau boleh tinggal di Istana kami,tapi ibu dan kau saja yang duluan kembali ke Istana aku harus menemui bibi Ambarawati dulu nanti aku akan segera menyusul " Nandini mengangguk setuju dia kemudian mengajak Manu berjalan ke kereta kudanya namun baru beberapa detik Manu meringis kesakitan, Nandini yang mendengarnya khawatir padanya


" Ada apa? Kau barusan meringis apa ada yang sakit? " Manu mengangguk Nandini lalu memeriksa dibagian mana ada luka saat menyingkap sedikit selendang yang tersampir di bahunya Manu betapa terkejutnya Nandini dia melihat ada luka lebam kebiruan dan sedikit ada bekas seperti cakaran. Nandini melirik ke arah gadis itu yang sedang menahan sakit " Luka apa ini Priya? "Manu melirik ke arah bahunya matanya langsung membulat begitu melihat luka yang ada di bahunya.


" Ini uhm luka itu.. A-a-a aku tidak sengaja terjatuh disebuah tanjakan disebelah sana "

__ADS_1


sahutnya dengan gugup keringat dingin mulai keluar begitu melihat luka yang sudah diberikan oleh kakaknya, Nandini tidak mempercayainya namun karena melihat wajah gadis itu yang sudah tidak tahan menahan sakit akhirnya dia memutuskan untuk mengurungkan niatnya berdebat maka mereka mulai naik ke kereta kuda Vikram menatap ibunya yang melambaikan tangannya dia juga mulai menunggangi kudanya dan pergi menuju Kota Kavila. Di perjalanan Manu hanya menunduk dia sangat takut jika Nandini mulai bertanya lagi


" Itu bukan luka karena jatuh tapi itu luka akibat perbuatan seseorang " ucap Nandini tiba-tiba Manu mendongak bagaimana bisa wanita ini bisa menebaknya dengan tepat dia tidak berani untuk menjawabnya suasana menjadi hening,angin berhembus dengan sejuk Manu jadi mengantuk maka dia mulai menyenderkan kepalanya di sisi kereta Nandini melihatnya dia tersenyum lembut tangannya mengusap kepala Manu


" Aku tidak tahu ada masalah apa dirimu dengan keluargamu tapi aku berjanji akan menjagamu, kedua putraku akan menjagamu kau boleh tinggal di Istanaku selamanya sampai masalahmu selesai jadi jangan takut aku akan menjagamu seperti putriku sendiri. "


Manu mendengar ucapan yang diucapkan oleh Nandini dia menjadi terharu seketika air matanya turun membasahi pipinya,Nandini yang melihat hal itu menghapus air matanya kemudian mencium pucuk kepalanya.


Ambarawati mulai cemas dia terus saja menangis memikirkan putrinya yang sudah menghilang selama dua hari sejak kepergiannya dari Kerajaan Singaloka,bagaimana tidak dia mendapatkan informasi itu dari para pengawal yang mengawal putrinya hatinya seketika hancur mendengarnya dia mulai menyuruh para prajurit mencari keberadaan putrinya Pavitra yang merupakan pelayan pribadi putrinya juga merasa cemas dia mulai berpikir yang tidak-tidak mengenai Ratunya sekaligus sahabatnya ' Bagaimana ini sudah dua hari tidak ada kabar dari prajurit mengenai keberadaan Yang Mulia Ratu apa yang harus aku lakukan? ' Pavitra terus berpikir tiba-tiba pintu kamarnya diketuk oleh seorang pelayan


" Pavitra kau dipanggil oleh Ibu Ratu ke ruang istana " Pavitra segera bergegas pergi menemuinya.


" Salam Ibu Ratu anda memanggil saya?"


Ambarawati mengangguk dia menyuruh pelayan itu duduk matanya sembab penampilannya mulai sedikit berantakan


" Aku memanggilmu karena mungkin kau tahu keberadaan anakku jadi kirimkan surat ini kepada burung peliharaanmu itu siapa tahu dia menemukan putriku " Pavitra terdiam sebentar dia melirik surat yang diserahkan oleh Ambarawati " Baik Ibu Ratu aku mencobanya " setelah itu Pavitra pergi meninggalkannya, dia berlari ke taman memanggil burung kesayangannya si Chutki


" Chutki kemarilah burung manis " tiba-tiba dari arah timur datang lah seekor burung berwarna putih hinggap di tangan Pavitra


' Aku harap Yang Mulia Ratu segera kembali '


ucapnya dalam hati. Vikram sudah sampai di Istana Kavila dia pun turun dari kudanya para pengawal menyambutnya memberikan hormat kepadanya Vikram berlari memasuki Istana megah itu Ambarawati duduk di balkon Istana saat pelayan datang ke kamarnya


" Ibu Ratu,Pangeran Vikram sudah datang dia ingin bertemu dengan anda " Ambarawati mengangguk dia pergi untuk menemui keponakannya.


Pangeran Vikram duduk di pinggir kolam bunga lotus dia menunggu bibinya untuk datang tidak lama kemudian Ambarawati datang " Sudah menunggu lama Vikram? "


Pangeran Vikram berdiri dia menunduk memberi hormat " Tidak bibi aku baru saja sampai " sahutnya, mereka lalu duduk di sebuah kursi kayu berhias permata


" Aku sudah mendengar bahwa Shivannya pergi meninggalkan Istana selama dua hari dan belum kembali " Vikram mulai pembicaraannya Ambarawati menghela nafas " Ya kau benar dia pergi entah kemana aku sudah banyak mengirim prajurit untuk mencari keberadaannya tapi tetap hasilnya sama, aku bingung harus bagaimana untuk mencarinya segala usaha sudah kucoba tapi tetap tidak ketemu. Hatiku hancur mendengar putriku sekaligus Ratu dari Kerajaan ini tiba-tiba menghilang bibi harus bagaimana Vikram? " Pangeran Vikram menatap bibinya hatinya ikut sedih saudarinya tiba-tiba menghilang tanpa kabar dia juga sempat dengar bahwa saudarinya pergi tepat setelah pergi ke Kerajaan Singaloka, Vikram akan membantunya untuk mencarinya mereka terus berbincang sampai sore hari


" Baiklah bibi aku harus kembali Ke Kerajaan Aradhya aku akan berusaha untuk mencari Shivannya,bibi jangan khawatir ya tetap berdoa dan hapus lah air mata bibi aku ikut sedih jika bibi menangis terus percaya lah semuanya baik-baik saja " Ambarawati tersenyum mendengar keponakannya menghiburnya " Ya terima kasih banyak ya Vikram sampaikan salam bibi untuk ibu dan juga kakakmu ya, oh ya untuk Madhuri juga ya" Vikram mengangguk tersenyum tipis setelah memberi salam dia lalu pergi meninggalkan Kerajaan Kavila.


Manu duduk sebuah kursi di kamarnya penampilannya sudah berubah tidak berantakan seperti tadi para pelayan sudah selesai mendandaninya dia melamun memikirkan bagaimana caranya untuk mencari Shivannya ' Aku harus bagaimana? '

__ADS_1


pikirnya dalam hati tiba-tiba dia mendengar suara gelang kaki berlari melewati kamarnya, Manu berdiri dia mencari siapa yang berlari di Istana mengingat tadi dia tidak melihat siapapun di Istana ini dan Nandini bilang bahwa dia memiliki dua anak tidak mungkin dia memiliki anak perempuan kan? dia memutuskan untuk mengikutinya Manu terus berlari mencari suara gelang kaki itu


' Cring cring cring ' suaranya semakin terdengar jelas dia terus berlari sampai di sebuah ruangan dia melihat seorang gadis mengenakan pakaian sari berwarna merah dan pink itu masuk ke ruangan itu Manu memutuskan untuk ikut masuk dia sungguh penasaran siapa gadis itu.


Manu sangat kagum ketika melihat arsitektur ruangan itu sangat indah dan elegan matanya menangkap sosok gadis itu yang berdiri sambil membawa dua selendang berwarna kuning keemasan dia mengintip di balik guci besar, dia terus mengamati gadis itu yang mulai menari dengan lemah lembut tapi tidak berapa lama gadis itu mulai menari dengan mengayunkan dua selendangnya Manu takjub melihat tarian gadis itu ' Astaga dia menari dengan sangat lincah dan gesit, bagaimana bisa dia menari dengan gerakan seperti itu? ini pertama kalinya aku melihat seorang gadis menari dengan lihai seperti itu ' ucapnya dalam hati, dia terus mengamatinya tanpa sadar sebuah tepukan di pundaknya membuat dia berteriak " Aaaaaa " gadis itu berhenti menari dia melihat seorang wanita berteriak di balik guci besar itu di ruangan itu hanya diterangi beberapa lilin sehingga membuatnya tampak remang-remang. Seseorang menutup mulutnya Manu berontak sekuat tenaga dia menampar pipi orang itu


" Beraninya kau " tangannya menuding ke arah wajah orang itu dia tidak bisa melihatnya dengan jelas sehingga asal bicara saja. Gadis itu berteriak memanggil kakaknya " Kakak "


Manu terdiam saat mendengar suara gadis itu apa katanya tadi dia memanggil orang yang berdiri di depannya dengan sebutan


' kakak '? Manu menatapnya kembali sepertinya Pangeran yang dia temui tadi pagi di sungai itu sudah kembali ke Istana.


" Kakak aku kangen sekali denganmu "


gadis itu memeluknya Manu lagi-lagi terdiam melihat adegan di depannya dia masih bingung belum bisa mencerna apa yang sedang terjadi " Hai Madhuri adik manisku kau sudah kembali dari pendidikanmu dan kau tidak datang untuk menemui kakakmu ini? " gadis yang bernama Madhuri hanya tertawa " Aku ingin memberikan kalian kejutan aku datang ke sini untuk menari dan juga agar semua orang disini bisa mendengar lonceng gelang kakiku ini, makanya aku datang kesini agar kalian datang begitu mendengar suara gelang kakiku tapi wanita ini malah mengacaukannya " Madhuri menunjuk ke arah Manu yang masih terdiam,


pria itu memandang Manu yang juga ikut memandangnya " Siapa kau? " tanyanya Manu dengan gelagapan menjawabnya


" Sa sa salam namaku Priya aku tinggal sementara di Istana kalian maafkan aku sudah menganggu kalian aku akan pergi "


Manu hendak pergi tapi tangannya dicegah oleh pria itu " Aku belum selesai bicara, beraninya kau masuk ke Istanaku dan tinggal disini memangnya Istanaku ini rumahmu atau penginapan seenaknya saja kau main tinggal disini " Pria itu berkata dingin dengan wajah datar,Manu dengan gagap menjawabnya


" I-i-i-itu aku tinggal disini karena ibumu yang membawamu kesini aku sudah menolaknya tapi Ibumu tetap memaksanya jadinya aku tidak berani menolaknya " Pria itu mendekati Manu yang sudah berkeringat dingin.


" Begitukah? apa Ibuku tidak menberitahumu bahwa aku adalah penguasa Kerajaan ini bisa dibilang bahwa aku ini adalah Raja dari Kerajaan Aradhya apa kau tidak tahu hal itu? "


Manu menggeleng dia berdoa cepatlah pergi pria ini dia sudah tidak tahan mendengar suaranya yang sangat dingin Madhuri melirik Manu yang terdiam tidak berani menjawabnya " Dia adalah kakakku namanya Sanjaya Raja dari Kerajaan Aradhya sudah paham kan? " Manu mengangguk, Madhuri mendekati kakaknya memberinya kode agar segera pergi mengingat wajah wanita itu mulai pucat " Ayo kita pergi Kak masalah ini kita selesaikan besok kasihan dia wajahnya mulai pucat melihat kakak " Sanjaya mengikuti adiknya yang keluar terlebih dulu.


Manu bernafas lega dia terduduk lemas wajahnya pucat ketika mendengar dan berhadapan oleh sang pemilik rumah ah tidak lebih tepatnya sang pemilik Istana


' Astaga aku hampir pingsan tadi auranya begitu seram mulai sekarang sebisa mungkin aku tidak mendekatinya agar dia tidak marah '


Manu memutuskan untuk kembali ke kamarnya.


Halo semuanya kepada para pembaca yang setia terima kasih sudah menunggu kelanjutan ceritaku ya... Maaf telat mengupload karena tugas sekolahku banyak jadi belum bisa meluangkan waktu untuk membuatnya tapi terima kasih sudah menunggunya...

__ADS_1


__ADS_2