
Matahari mulai masuk ke sebuah jendela kamar seorang gadis, gadis itu menggeliat karena cahaya mulai mengganggu penglihatannya Manu terbangun dari tidur nyenyaknya dia mengucek matanya ketika dilihat matahari sudah menyinari kamarnya dia terlonjak kaget dan buru-buru membersihkan dirinya. Manu berlari dari kamarnya dia ingat hari ini Ibu Ratu Nandini akan membawanya menuju anaknya yang menjadi Raja di Kerajaan Aradhya, ketika Manu berlari dia tidak sengaja menabrak seorang pelayan yang membawa nampan besar " Ah maafkan aku sini biar aku bantu "
Manu membantu pelayan tersebut membersihkan piring yang dibawanya
" Kau melihat Ibu Ratu Nandini? beliau berada dimana? aku harus mencarinya " Manu bertanya kepada pelayan yang baru dia tabrak.
" Ibu Ratu sedang menikmati teh bersama Tuan Putri Madhuri di ruangan khusus "
Pelayan itu mohon diri untuk kembali ke pekerjaannya,Manu segera berlari menuju ruangan itu namun sebuah tangan menariknya menjauh Manu terkejut dia hampir saja jatuh akibat tarikan tangan itu terlalu keras " Lepaskan aku, aku harus bertemu dengan Ibu Ratu " Manu memberontak agar si empu melepaskan tangannya " Wah sepertinya kita bertemu lagi ya Nona " Manu terdiam dia merasa pernah mendengar suara itu tapi dimana? Orang itu melepaskannya sambil sedikit mendorong Manu " Aduh " Pekiknya saat berbalik Manu melihat orang yang kemarin malam dia temui mulutnya menganga tidak percaya tubuh serta kakinya tidak bisa digerakkan, Manu mundur beberapa langkah dia ketakutan melihat orang yang berdiri di depannya
' Astaga kenapa dia bisa ada disini? aku bahkan ingin menghindarinya tapi kenapa dia malah datang? bahkan wajahnya terlihat menyeramkan ' Manu berucap dalam hati dia menelan salivanya ketika orang itu mulai mendekatinya " Kenapa? apa kau takut? aku akan memakanmu soal kemarin kau belum memberitahuku " Manu berpikir untuk mencari alasan kabur tiba-tiba telinganya mendengar suara gelang kaki mendekat.
' Siapapun tolong aku untuk menjauh dari makhluk menyeramkan ini ' Manu berdoa sambil menutup mata, Nandini melihat anaknya sedang bersama seseorang dia pun menegurnya " Sanjaya apa yang kau lakukan disitu? " Sanjaya melirik ibunya yang menegurnya bukannya menyahut tapi dia malah tetap diam disitu, Nandini melihat selendang berwarna orange dia pun mendekatinya Madhuri yang disampingnya mengikutinya saat sudah mendekat Nandini melihat Manu yang mematung ketakutan
" Priya apa yang kau lakukan disini? " Nandini bertanya kepadanya Manu melihat Nandini sudah berdiri di sampingnya Manu mengibaskan tangannya seolah mengatakan sesuatu " I-i-i-i-ini tidak seperti yang Ibu Ratu lihat, aku ingin mencarimu tapi malah ketemu dia jadi aku ingin pergi dan dia malah menahanku " Manu dengan gugup memberitahunya Madhuri yang melihat aksi Manu hanya bisa menahan tawanya dia berpikir gadis itu sangat lucu Nandini memandang keduanya dengan sedikit jahil dia mulai menggoda putranya
" Oh benarkah? putraku yang melakukannya? Sanjaya apa yang kau lakukan kau lihat gadis ini ketakutan melihatmu, cobalah untuk tersenyum sedikit saja setidaknya buat lah agar gadis ini tidak ketakutan ketika menatap wajahmu. Kau itu berhenti lah berekspresi dingin dan datar begitu kau itu adalah seorang Raja dan Raja tidak boleh bersikap dingin kepada semua orang terutama seorang gadis " Nandini memarahi anaknya, Madhuri terus menahan tawanya melihat sang kakak dimarahi maka dia pun menarik tangan Manu " Pergilah kau tidak usah takut Ibu sudah memarahinya " Manu mengangguk pelan kemudian dia berlari meninggalkan tempat itu.
" Kak berhenti lah membuat seseorang takut kau itu tampan kak jika tidak sedang marah, ubah lah sikapmu itu jika kau terus bersikap seperti ini maka kau tidak akan bisa menemukan seorang wanita yang bisa kau jadikan Ratu di Kerajaan ini " Tiba-tiba Vikram datang dari arah lain dia tersenyum menyeringai ke arah kakaknya, Nandini mengangguk setuju dengan perkataan putranya itu " Kau dengar ucapan adikmu itu? berhentilah bersikap seperti itu, sebentar lagi kau akan menikah jika seperti ini terus maka ucapan Vikram pasti akan terbukti Ibu minta ubah lah sikapmu itu Sanjaya " Nandini mengelus pipi putranya itu, Madhuri yang tidak tahan menahan tawanya dia berlari ke taman untuk melepaskan tawanya itu jika dia tertawa disana yang ada dia akan mendapatkan hukuman oleh sang kakak.
" Hahahaha astaga ekspresi kakak membuatku tidak bisa menahan tawa,kak Sanjaya entah kenapa sikapmu berbeda dengan yang dulu,dulu sikapmu itu lembut tapi sekarang kau berubah menjadi sosok yang tidak aku kenal " Madhuri terus berkata sambil membayangkan sifat kakaknya yang sekarang berubah, Manu memperhatikan Madhuri yang memetik sebuah tangkai bunga matahari di taman ' Apa memang seperti itu sifat kakaknya? ya siapapun yang melihatnya pasti akan ketakutan mengingat sifatnya yang dingin seperti es batu " Manu terus memperhatikan Madhuri sampai sebuah tepukan menyadarkannya Manu langsung melihat siapa yang datang menepuk bahunya
" Pangeran Vikram? " Vikram tersenyum tipis dia sudah memperhatikan gadis itu beberapa menit yang lalu " Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya,Manu menunjuk ke arah Madhuri yang asyik bermain di taman
__ADS_1
" Itu adikmu? dia sangat cantik aku memperhatikannya karena daritadi dia bicara sendiri, aku ingin menemuinya tapi aku takut jika nanti dia marah maka aku hanya memperhatikannya dari sini saja " Vikram mengangguk mengerti ya adiknya itu memang cantik tapi sikapnya juga kadang bisa berubah itu membuat dia pusing menghadapi sikap adiknya itu.
" Dia memang cantik tapi kau harus hati-hati saat bersamanya sikapnya itu bisa berubah aku kakaknya bahkan tidak bisa menebaknya,
oh ya tadi Ibu memanggilmu beliau menyuruh kau untuk datang ke ruangannya " Manu mengangguk kemudian bergegas berlari menuju ruangan Nandini, Manu menemukan sebuah ruangan berpintu berwarna coklat keemasan dia kemudian masuk ke dalam namun para penjaga yang disamping mencegahnya " Maaf nona anda mau kemana? " Manu menjelaskannya bahwa dia ingin bertemu dengan Ibu Ratu Nandini kemudian para penjaga mempersilakan masuk, Manu mendorong pintu itu dia melihat ruangan itu begitu rapi ada banyak lukisan di dinding dia terkagum-kagum melihat isi ruangan itu " Wah indah sekali ruangan ini" Nandini yang sudah berada disana tersenyum dia memanggil Manu agar gadis itu mendekatinya " Maafkan aku Ibu Ratu aku terlambat datang " Manu mengucapkan permintaan maafnya bukannya datang untuk menemuinya malah sibuk memperhatikan Madhuri yang asik sendiri " Tidak apa-apa "
Nandini mempersilakan Manu untuk duduk. Mereka mulai mengobrol banyak hal sampai Manu mengingatkannya " Bukan kah Ibu Ratu ingin mengenalkanku dengan putramu yang menjadi Raja? " Nandini mengangguk dia lalu menyuruh pelayan untuk memanggil putranya tersebut.
" Salam Ibu,kau memanggilku? " Manu hampir saja menyemburkan tehnya saat melihat sosok yang tidak asing dilihatnya
" Ya anakku ibu memanggilmu silakan duduk "
Sanjaya duduk di sebelah ibunya,Manu melirik pria tersebut dengan hati yang mulai takut
" Dia kenapa disini? aku tidak mau melihatnya lagi, Ya Tuhan kenapa aku harus bertemu dia lagi? aku sengaja ingin menghindarinya tapi kenapa dia malah datang sendiri? menyebalkan " Manu menggerutu pelan agar tidak ketahuan namun Sanjaya mendengarnya dengan senyum licik dia pun menegurnya " Kau barusan bicara apa? " dengan gelagapan Manu menggeleng keras
Manu berusaha tersenyum lembut, Nandini hanya tertawa melihatnya dia lalu memperkenalkan putranya tersebut
" Priya perkenalkan dia adalah putraku sekaligus Raja di Aradhya, Sanjaya ini adalah Priya gadis yang Ibu temui dua hari yang lalu dia akan tinggal disini beberapa bulan saja sampai dia menemukan solusi untuk masalah keluarganya " Sanjaya mengernyit bingung gadis ini akan tinggal beberapa bulan di Istananya? dan barusan dia bilang ada masalah keluarga? entah lah dia tidak mau ikut campur namun dia akan merencanakan sesuatu yang jahil untuk gadis ini selama dia tinggal di Istana ini dia akan terus menjahilinya. Sanjaya mengangguk tak lupa memasang senyum manis namun lain di mata Manu itu adalah senyum paling menyebalkan dia harus waspada terhadap pria itu " Baiklah saya harus kembali ke kamar, permisi salam Ibu Ratu dan Yang Mulia Raja " Manu buru-buru meninggalkan ruangan itu sebelum kesabarannya habis melihat sosok paling menyebalkan itu, Sanjaya menatap kepergian gadis itu dia tertawa kecil Nandini yang melihat putranya tertawa ikut tersenyum " Anakku " Nandini memanggilnya Sanjaya menoleh melihat ibunya " Ada apa Ibu? " Nandini memberitahu kabar menghilangnya Shivannya yang sampai sekarang belum ketemu juga Sanjaya mengerti maksud itu dia memang akan membantu mencari saudarinya itu
" Ibu tenang lah Shivannya pasti akan kembali aku akan mencarinya jangan khawatir, Ibu tolong kirim kan surat untuk bibi Ambarawati agar tidak usah merasa cemas serahkan ini padaku " Sanjaya tersenyum sambil menghibur ibunya sang ibu mengangguk dia tersenyum melihat putranya " Baiklah " setelah itu Sanjaya kembali ke ruangannya dia harus membahas hal ini kepada Perdana Menteri.
Manu duduk di kamarnya dia harus mencari Shivannya agar bisa membantunya untuk balas dendam dia terus memikirkan caranya untuk mencarinya ' Bagaimana caranya aku mencarinya? aku harus bagaimana? ' Setelah bergelut cukup lama dengan pikirannya akhirnya dia menemukan suatu cara Manu langsung menulis sebuah surat selesai menulis surat Manu memutuskan untuk pergi diam-diam dari Istana dia harus segera mencari Shivannya, Manu mulai menurunkan sebuah tali dia mengikatnya di ujung balkon Istana dia mulai turun secara perlahan saat sudah di bawah dia mengendap-endap pergi agar tidak ketahuan oleh penjaga namun ketika dia hendak menuju tembok Istana dia mendengar para penjaga sedang berbicara
__ADS_1
" Hei apa kau sudah dengar? pasukan Kerajaan Singaloka sudah bersiap menyerang Kerajaan Kavila mereka bahkan tidak peduli dengan kabar menghilangnya Ratu Shivannya, mereka tetap menyerang Kerajaan itu " Manu terkejut mendengarnya dia memutuskan untuk tetap menguping sampai pembicaraan Itu selesai " Ya benar mereka memang tidak memiliki hati nurani, aku bahkan sampai terkejut mendengarnya Yang Mulia Raja sedang berusaha menghentikan peperangan itu dia sendiri bahkan sampai pusing memikirkannya memang Yang Mulia Raja serta Pangeran Vikram akan ikut dalam peperangan itu. Tapi sepertinya Yang Mulia Raja akan mengulur waktu sampai Ratu Shivannya kembali setelah itu perang baru akan terjadi " Ujar salah seorang penjaga, Manu terdiam cukup lama hatinya sungguh geram kakaknya itu benar-benar sama sekali tidak memiliki hati nurani meskipun hanya sedikit dia tetap merebut Kerajaan itu demi memenuhi ambisinya kakaknya itu benar-benar serakah Manu segera berlari menuju tembok Istana yang memiliki ketinggian rendah dia melompati tembok itu untuk kabur.
Manu berlari ke arah selatan dia memegang sebuah surat yang akan dia berikan kepada burung peliharaannya
" Mori " Dia berteriak memanggil nama burungnya, dari belakang muncul seekor burung elang yang lumayan besar Manu tersenyum melihat burungnya sudah datang dia mengulurkan tangannya burung itu hinggap di tangannya " Mori ini ada surat kau harus mengirimnya dan mencari dimana keberadaan Yang Mulia Ratu Shivannya, jika kau menemukannya beritahu aku sekarang pergilah " Manu menerbangkan burung itu dia tersenyum semoga burung itu membawa kabar baik dan dia bisa membantu Shivannya mengalahkan kakaknya, Manu segera kembali ke Istana dia mengintip para penjaga yang masih berjaga di pintu gerbang ini akan sulit baginya untuk masuk ke dalam Istana gadis itu berpikir apa yang harus dia lakukan setelah menemukan sebuah ide dia mengambil batu berukuran sedang di sebelahnya ada sebuah pohon besar yang ada buah mangganya Manu melempari dahan pohon itu untuk mengalihkan perhatian penjaga ' Duak ' para penjaga yang melihat itu langsung menghampirinya sedangkan Manu bersembunyi di balik pohon yang lainnya saat penjaga membuka pintu dan menghampiri pohon mangga tersebut Manu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk masuk dia langsung masuk ke dalam Istana dan langsung menuju kamarnya dia kembali memanjat tali itu sampai dia berhasil masuk tali itu dia menggulungnya lalu meletakkannya di bawah tempat tidur. Keesokan paginya Manu mendengar para pelayan sudah sibuk di kamarnya dia melihat para pelayan mulai menyiapkan pakaian serta perhiasan yang akan dia pakai salah seorang pelayan menyapanya dengan lembut
" Selamat pagi Nona " Manu balas menyapanya dengan senyuman tipis dia segera membersihkan diri karena pelayan tadi mengatakan bahwa hari ini ada sebuah perayaan.
Manu dirias oleh beberapa pelayan dia mengenakan pakaian berwarna kuning keemasan, perhiasan yang tidak terlalu banyak serta rambutnya ditata dengan rapi setelah itu dia keluar dari kamar dan melihat ada beberapa orang yang terlalu asing untuknya sudah datang, Manu berjalan ke arah taman di dalam sana cukup membuat dia merasa canggung karena seluruh mata melihat dia dengan tatapan sulit diartikan
Manu duduk di pinggir kolam air mancur dia melamun sambil melihat para pelayan yang sibuk bekerja " Hei " ada seseorang menyapanya dengan menepuk pundaknya Manu segera menoleh dia melihat Madhuri mengenakan sari berwarna merah dia terlihat sangat cantik dan anggun " Tuan Putri " Sapanya Madhuri tersenyum dia ikut duduk di sebelah Manu " Apa yang kau lakukan disini? semua orang sudah berada di balairung Istana dan kau malah datang kesini, sebentar lagi perayaannya akan segera dimulai Ibu menyuruhku untuk mencarimu ayo kita harus kesana sekarang " Madhuri beranjak dari duduknya dia menarik tangan Manu namun Manu menghentikan langkahnya " Ada apa? "
Madhuri bertanya kepadanya Manu hanya menggeleng " Ini perayaan tentang apa? "
Madhuri memberitahunya bahwa ini adalah perayaan soal kakaknya Sanjaya yang akan bertunangan dengan seorang wanita yang merupakan sahabatnya hal itu membuat Manu terkejut tidak percaya dengan apa yang dia dengar masalahnya pria itu terlihat menyeramkan bagaimana bisa ada seorang wanita yang mau bertunangan dengannya, jika Manu yang berada di posisi itu dia akan menolaknya mentah-mentah dia tidak berniat ingin menikah dengan pria menyeramkan itu.
Saat memasuki balairung Istana Manu melihat calon tunangan wanita yang berparas cantik dan juga anggun sedang duduk di sebuah kursi berhias permata disampingnya juga ada kursi yang masih kosong mungkin itu adalah kursi untuk Sanjaya, ketika itu juga sebuah bedug dipukul dengan keras dari arah barat masuk dua orang pria dengan paras yang sangat tampan,mereka berjalan dengan sangat wibawa Manu sampai terpesona melihatnya dia melirik Vikram yang berjalan di sebelah Sanjaya ' Astaga Pangeran Vikram sangat tampan ' Pujinya dalam hati dia merasakan wajahnya terasa panas pasti wajahnya berubah menjadi warna merah Madhuri yang disampingnya heran melihat tingkah Manu yang terus menggelengkan kepalanya sembari menepuk pipinya acara pun dimulai Manu duduk di sebelah Madhuri tiba-tiba Vikram datang sambil membawa makanan ringan dia duduk tepat di sebelah Manu " Acaranya sangat meriah ya? " Manu menoleh matanya membulat sempurna ketika melihat Vikram sudah duduk di sampingnya
" Iya kau benar acaranya sangat meriah " Manu berusaha agar tidak gugup ketika bicara dia berusaha menormalkan nada bicaranya sekaligus bersikap tenang,selama acara Manu tidak hentinya berusaha menenangkan perasaannya yang mulai tidak karuan dia memegang dadanya jantungnya berdetak kencang ' Astaga ada apa dengan diriku? kenapa dadaku terus-menerus berdetak keras? ada apa ini? ' Manu melirik
Vikram yang terlihat tenang menyaksikan acara tersebut.
Setelah acara tarian kini giliran acara pertukaran cincin Sanjaya serta gadis cantik itu yang bernama Jhanvi sudah bersiap memasangkan cincin di jari masing-masing, Manu menyaksikan acara itu dengan senyuman tipis dia merasa pasangan itu sangat serasi diam-diam dia melirik ke arah Vikram ' Kenapa setiap melirik dia hatiku menjadi sangat tidak karuan? ada apa ini? ' Manu terus melamun sampai Nandini menegurnya " Priya ada apa? " Manu menggeleng pelan " Tidak apa-apa Ibu Ratu aku hanya kagum menyaksikan perayaan tersebut acaranya sungguh meriah " Manu tersenyum lembut Nandini membalas senyuman itu perayaan itu diadakan sampai malam hari, Manu terus memperhatikan Vikram setiap kemana arah pria itu pergi Madhuri yang melihatnya hanya tersenyum-senyum menggoda ' Dia memperhatikan kakak terus,hmm dia pasti menyukai kakak baiklah aku akan menggodanya dan kita lihat ekspresi wajahnya pasti lucu ' Madhuri mendekati Manu yang terus tersenyum
__ADS_1
" Kenapa kau terus tersenyum? ada masalah?" Manu hanya menggeleng dia memutuskan untuk pergi dari situ agar Madhuri tidak menyerangnya dengan pertanyaan tapi dia salah besar Madhuri terus mengikutinya sampai di sebuah taman.
Hai semuanya aku sudah mengupload bab baru silakan di like dan komen ya...