
Ciit....!
Sebuah bus yang membawa penumpang kini mengerem di sebuah halte lalu seorang perempuan pun turun dari bus tersebut sambil membawa sebuah tas besar.
Perempuan bernama Nikita itu tergopoh-gopo membawa tasnya sambil melewati seorang pria yang duduk di bawah pinggir pohon sambil melamun.
"Sial!! Ini sangat berat!!" Gerutu Nikita meletakkan tasnya sambil melirik ke arah pria yang tampak melamun di bawah pohon.
Nikita memperhatikan penampilan pria itu, tampak begitu kumuh dan kusam, pakaiannya juga robek di sana-sini sehingga Nikita merasa prihatin pada pria itu lalu dia memutuskan mendekati pria tersebut.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Nikita.
Sang pria yang ditanyai akhirnya mengangkat wajahnya menatap Nikita lalu dia menggelengkan kepalanya dengan pelan.
Melihat itu, maka Nikita yang membawa makanan lebih akhirnya mengambil sekotak bekal tersebut lalu menyerahkannya pada sang pria.
"Makanlah ini, tapi ngomong-ngomong apakah kau tinggal di sini?" Tanya Nikita.
Sang pria mengambil kotak bekal dari tangan Nikita, "ya, Apakah kau memberiku tumpangan? Hanya untuk malam ini saja," kata Sang pria langsung membuat Nikita terdiam menatap pria tersebut.
Nikita meniti pria tersebut untuk melihat apakah pria itu layak ditolong atau tidak, karena jangan-jangan pria itu malah melukainya.
Tetapi ketika ia melihat mata pria tersebut sangat tulus, maka Nikita akhirnya menganggukkan kepalanya, "ikutlah denganku!" Ucap Nikita langsung membuat sang pria tersenyum lalu pria itu pun mengikuti Nikita.
"Biar ku bawakan ini untuk mu," kata Sang pria sambil mengambil tas dari tangan Nikita lalu berjalan membawa tas itu dengan langkah yang santai.
"Hah,,," Nikita bernafas lega karena tidak harus membawa barang berat itu sehingga dia mengikuti pria tersebut dan menunjukkan jalan ke rumahnya.
__ADS_1
Mereka menaiki beberapa tanjakan sampai akhirnya mereka tiba di rumah milik Nikita yang tampak kecil namun sangat terawat.
"Ini rumahku, meski sangat kecil tapi ini cukup untuk kita tinggal berdua. Tapi ngomong-ngomong, siapa namamu?" Tanya Nikita sambil membuka pintu rumahnya.
"Ivan," jawab Ivan dengan singkat.
"Masuklah," ucap Nikita membiarkan Ivan masuk ke rumahnya lalu perempuan itu segera masuk ke kamarnya dan mendapatkan satu set pakaian pria lalu membawanya keluar dari kamar.
Ketika keluar dari kamar, Nikita mendapati Ivan masih berdiri sambil memegang tas yang dibawa oleh pria itu sehingga Nikita pun berkata, "letakkan tas itu di lantai lalu pergilah mandi dan gunakan pakaian ini sebelum kita makan bersama."
"Baik," ucap sang pria segera berjalan ke arah kamar mandi yang ditunjuk oleh Nikita.
Maka setelah pria itu memasuki kamar mandi, Nikita langsung mengambil tas yang tadi ia bawa lalu perempuan itu menyeret tasnya ke sudut ruangan sebelum dia membukanya dan melihat buku-buku bekas yang ada di dalam tas tersebut.
"Hah,,, Kenapa orang-orang membuang buku-buku bagus seperti ini?" Ucap Nikita mengambil satu persatu buku tersebut dan dia merasa senang karena buku itu masih sangat bagus sehingga akan mendapatkan harga yang bagus juga kalau dia menjualnya ke toko buku bekas.
Nikita melongo di tempatnya melihat pria itu, sangat tampan Setelah semua noda-noda di wajahnya menghilang.
"Kau,," Nikita hendak mengatakan bahwa pria itu sangat tampan, Tetapi dia menahan ucapannya hingga membuat Ivan mengangkat sebelah alisnya.
"Ada apa?" Tanya Ivan langsung membuat Nikita menggelengkan kepalanya.
"Rambutmu terlalu panjang, aku pikir kau akan lebih tampan dengan rambut yang lebih pendek. Tapi daripada memikirkan itu, lebih baik kita makan, aku sudah sangat lapar," ucap Nikita langsung berdiri lalu pergi ke meja dan membuka kotak bekal yang berisi makanan yang dibelinya dari luar.
Ivan pun duduk di depan Nikita sambil membuka kotak bekal yang tadi diberikan Nikita padanya hingga keduanya makan bersama.
Sambil makan, Nikita berkata, "Aku tidak suka melihat pria yang rambutnya panjang, Bagaimana kalau malam ini setelah makan malam aku membantumu memotong rambutmu? tapi kalau Kau keberatan juga tidak apa-apa sih, tapi aku hanya risih saja melihat pria yang rambutnya panjang dan berantakan."
__ADS_1
Ivan memperhatikan perempuan di depannya, Dan Dia merasa bahwa perempuan di depannya benar-benar perempuan yang jujur dan tak menyembunyikan perasaannya.
"Ok," jawab Ivan dengan singkat.
Maka setelah itu kau maka keduanya pun melanjutkan makan mereka sebelum Nikita pergi ke kamar mandi membersihkan tubuhnya sebelum keduanya berakhir di samping rumah.
Ivan duduk di depan Nikita, sementara Nikita berdiri sambil memegang sebuah gunting dan sisir.
Cup cut cut...
Gunting di tangan Nikita bergerak menggunting rambut Ivan dengan Ivan yang hanya diam saja memandangi wajahnya di cermin.
"Kalau aku boleh bertanya kau makan apa kau bisa berakhir di jalanan?" Tanya Nikita yang merasa aneh pria setampan Ivan malah berakhir di jalanan, Padahal di jalanan tempat dia berada jarang sekali dia menemukan tunawisma ataupun pengemis.
Bisa dikatakan kota mereka adalah kota yang lumayan makmur dan Ini pertama kalinya Nikita mendapati seorang pria yang berada di jalanan sambil meminta-minta.
"Aku tersesat dan seluruh kartu identitasku menghilang, jadi aku tidak tahu harus pergi ke mana," ucap Ivan.
"Ah, Memangnya kau berasal dari mana?" Tanya Nikita.
"Dari ibu kota," jawab Ivan.
"Ibu kota?!" Nikita sangat terkejut karena untuk pindah kota dari kotanya ke ibukota harus menggunakan jalur laut atau jalur udara, jadi dia tidak mengerti Bagaimana bisa pria itu tersesat sampai di kotanya.
"Besok seseorang sudah akan menjemputku, jadi aku akan pergi besok," jawab Ivan.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Nikita merasa lega.
__ADS_1
Maka kedua orang itu berbincang-bincang bersama dengan Nikita yang terus merapikan rambut Ivan.