Pemulung Idaman CEO

Pemulung Idaman CEO
2


__ADS_3

Drrriririiriririririinggg......


Drrriririiriririririinggg......


Drrriririiriririririinggg......


Tak!


Nikita mematikan alarmnya yang berbunyi di samping tempat tidurnya, lalu perempuan itu mengucek matanya dan segera turun dari tempat tidur.


Nikita pun buru-buru keluar dari kamar untuk memulai harinya. Perempuan itu dengan cepat membuka lemari untuk mendapatkan makanan untuk sarapannya, tetapi ketika ia membuka lemari, di lemari itu telah kosong dan tidak ada apa-apa di sana.


"Dimana makanan--" Nikita terdiam di tempatnya mengingat bahwa kemarin malam ketika dia membeli makanan untuk makan malamnya dan untuk sarapannya pada hari ini, dia telah memberikan satu makanan itu untuk pria bernama Ivan yang ia selamatkan.


Oleh sebab itu, Nikita dengan cepat menutup lemari lalu perempuan itu berlari ke arah ruang tamu dan tidak mendapati Ivan di sana, dia hanya mendapati secarik kertas yang diletakkan di atas meja.


Makan Nikita dengan cepat mengambil kertas tersebut lalu membaca isi dari kertas itu.


*Terima kasih banyak untuk tumpanganmu hari ini, pagi-pagi sekali aku telah pergi karena orang yang menjemputku sudah datang. Aku tidak akan melupakan kebaikanmu hari ini, dan akan membalasnya secepatnya. Ivan.*


Setelah membaca isi dari surat itu, maka Nikita pun meletakkan suratnya sebelum dia berlari ke kamar mandi dan mulai bersiap untuk keluar dari rumah.


Nikita menghentikan langkahnya saat ia melihat buku-buku yang kemarin ia bawa kini masih berada di tempatnya.


'haruskah aku membawanya hari ini? Tapi bagaimana kalau hari ini tokonya belum buka juga?' ucap nih kita dalam hati sambil menoleh ke arah kalender di mana hari tersebut adalah hari Minggu yaitu hari libur.


Makan Nikita menggelengkan kepalanya dan menutup pintu rumahnya sebelum dia berlari meninggalkan rumah lalu berlari ke sebuah restoran.


"Tante!!" Teriak Nikita memasuki restoran langsung membuat seorang perempuan yang ada di dapur kini menjawab dengan suara lantang.


"Masuk ke sini!!" Ucap Sang Perempuan berusia paruh baya.


Maka Nikita dengan cepat melepaskan tasnya dan menaruhnya di atas sebuah kursi kosong lalu berlari ke belakang.

__ADS_1


Nikita pun langsung terjun membersihkan ikan-ikan yang telah siap untuk menjadi pekerjaannya pada pagi hari itu.


Sambil menahan rasa laparnya, Nikita melepaskan perut ikan dari sana sebelum melepaskan sisiknya lalu membilasnya dengan air bersih.


Setelah selesai membersihkan ikan, Nikita melepaskan sarung tangannya lalu perempuan itu menghampiri pemilik restoran sambil berkata, "ikannya sudah selesai ku bersihkan. Apakah aku masih punya tugas lain?"


"Tidak ada, ini gajimu untuk hari ini," ucap Sang Perempuan memberikan uang senilai 5000 pada Nikita.


"Terima kasih Tante," kata Nikita sebelum dia mengambil tasnya lalu perempuan itu langsung keluar dari warung makan Lalu dia pergi berlari menuju sebuah toko kelontong.


"Selamat pagi nyonya!" Ucap Nikita sambil tersenyum pada seorang perempuan hingga perempuan tersebut langsung menunjuk ke sebuah kantong plastik hitam besar yang diletakkan di sudut toko.


Maka Nikita tersenyum mengambil kantong besar tersebut sambil berkata, "Terima kasih banyak nyonya!!!"


"Ya!" Jawab nyonya yang dibicarai oleh Nikita hingga Nikita pun membawa kantong besar itu ke sebuah tempat lainnya dan mencari barang-barang bekas.


Sampai pada siang hari, Nikita telah mengumpulkan banyak sekali barang bekas, dan perempuan itu berjalan menuju tempat penimbangan barang bekas sambil menarik semua barang-barang bekas yang telah Ia kumpulkan.


"Hah,,," Nikita menghentikan langkahnya setelah beberapa menit berjalan lalu perempuan itu runtuh di atas trotoar sambil menyekah keringatnya yang membanjiri kening dan lehernya.


Tetapi Nikita hanya memiliki uang 5.000 di kantongnya hingga Nikita pun memilih untuk berdiri lalu dia melanjutkan perjalanannya menuju tempat penimbangan barang bekas.


"Tuan!!" Teriak Nikita ketika dia telah tiba di tempat penimbangan barang bekas.


"Kau tampak sangat lelah, tapi kau membawa begitu banyak barang bekas hari ini," ucap pemilik tempat sambil mengambil seluruh barang-barang bekas yang dibawa oleh Nikita lalu dia pun mulai menimbang barang-barang bekas itu.


Sambil menunggu barang bekasnya selesai ditimbang, nikita berkata, "bolehkah aku meminta sedikit air?"


"Air? Kau bisa menggunakan air dari keran itu, Tapi kalau kau mau minum, aku tidak punya air minum, hanya punya alkohol saja," jawab sang pria langsung membuat Nikita melihat ke arah keran dan dia tahu jelas kalau air dari keran tak boleh ia minum.


Tetapi karena dia sangat haus dan juga lapar, maka mau tidak mau nikita menghampiri keram tersebut dan mulai meminum air dari keran itu.


Meski rasanya tidak enak, karena ada bau besi, tapi nikita tetap meminum banyak air untuk menghilangkan dahaga dan juga rasa laparnya hingga perempuan itu menjatuhkan tubuhnya di atas lantai tanpa perduli Apakah lantai itu kotor atau tidak.

__ADS_1


"Hah,, entah kapan aku bisa menjadi orang kaya dan tidak perlu menahan lapar seperti ini!" Gerutu Nikita sambil menatap langit yang terlihat begitu cerah, Tapi sayangnya cuaca hari itu tidak secerah hatinya.


Sementara pria yang sedang menimbang barang bekas yang dibawa oleh Nikita, pria itu memperhatikan Nikita sebelum dia menggelengkan kepalanya, "Jangan mengeluh seperti itu, setiap orang punya kesusahan mereka masing-masing. Bukankah sadar Dari dulu aku menawarimu untuk dijodohkan saja dengan Putraku? Kalau kau menerimanya, Kau tidak perlu susah-susah seperti ini!!" Tegas sang pria langsung membuat Nikita menghela nafas.


"Aku belum mau menikah dan tidak akan pernah menikah sampai aku menemukan pria kaya raya dan tampan yang mau menikahiku!!!" Tegas Nikita sambil melirik ke arah seorang pria yang baru saja datang yang merupakan anak dari pemilik tempat itu.


Anak itu memiliki wajah yang menurut Nikita sangat jelek dan terlebih perilakunya benar-benar kasar dan hobinya adalah bermain judi dan mabuk-mabukan.


Selain itu, usianya berpaut 25 tahun dengan usia Nikita sehingga begitu mustahil untuk dibayangkan oleh Nikita kalau menikah dengan pria itu.


"Halo cantik!! Kebetulan sekali kita bertemu, Bagaimana kalau aku mengajakmu untuk makan siang bersama?" Tanya pria bernama Ginting sambil mendekati Nikita.


Hal itu membuat Nikita dengan cepat berdiri lalu menghampiri pria pemilik tempat itu sambil berkata, "tolong cepat berikan uangnya."


Sang pria yang mendengarkan itu merasa sangat kesal karena dia tahu Nikita melakukan hal itu untuk menghindarinya sehingga dia pun duduk sambil menatap Nikita dengan tatapan merendahkan.


"Jangan terlalu jual mahal, atau kalau tidak kau tidak akan menikah sampai Kau menjadi seorang nenek-nenek!! Memangnya masih ada lagi pria tampan dan kaya seperti aku yang mau menawari perempuan pemulung sepertimu untuk menjadi istri?! Dasar tidak tahu bersyukur!!!"


Nikita menggertakkan giginya mendengarkan ucapan pria itu sambil mengambil uang dari pria paruh baya di hadapannya sebelum dia menyimpan uang 20.000 itu ke dalam sakunya lalu dia berbalik pergi tanpa mengatakan apapun.


'Dasar pria sialan,' gerutu Nikita dalam hati.


Makan Nikita pun berjalan dengan kesal sampai ia tiba di sebuah warung kecil lalu dia memesan nasi putih dan sambal.


Setelah itu, nikita makan dengan begitu lahap sebelum dia membayar nasi 6000 tersebut lalu pergi meninggalkan warung kecil itu.


Nikita berjalan kaki selama 40 menit sampai akhirnya ia tiba di sebuah TPA yang sampah-sampahnya sudah menumpuk sampai membentuk gunung.


"Akhirnya kau datang juga, kau terlambat sekali hari ini, tadi sudah ada banyak barang-barang bagus yang kami dapatkan. Coba lihat ini, aku mendapatkan sebuah panci yang masih bisa digunakan di rumah!!" Ucap seorang perempuan paruh baya memperlihatkan barang temuannya hari itu yang terlihat masih bagus.


"Hah,,, Hari ini aku tidak sarapan jadi begitu lelah berjalan ke tempat penimbangan barang-barang bekas. Tapi sekarang semua orang sedang makan siang ya?" Ucap Kirana memperhatikan sekitarnya di mana mobil-mobil penampung sampah masih terparkir di jalanan dan belum bergerak untuk membuang sampah.


"Ya,, kita perlu menunggu sebentar"," jawab perempuan paruh baya sambil duduk menikmati sepotong roti miliknya di tengah-tengah bau sedap sampah yang menggunung di tempat itu.

__ADS_1


Nikita pun memperbaiki posisi duduknya sambil bersandar memejamkan matanya, namun saat ini dia malah teringat akan pria yang ia tolong kemarin.


'pria itu benar-benar pergi? Padahal aku baru senang ada seseorang yang menemaniku di rumah,' gerutu Nikita dalam hati sambil menghela nafas.


__ADS_2