Pemulung Idaman CEO

Pemulung Idaman CEO
22


__ADS_3

Klotak klotak klotak..


Tatapan semua orang langsung tertuju pada seorang perempuan yang berlari cepat ke ruang pemotretan dengan sepatu hak tingginya. 


"Apa yang dilakukan perempuan gila itu?" Gerutu salah seorang perempuan sambil melirik ke arah fotografer karena dia cemas kelakuan temannya akan membuat fotografer kembali marah dan mereka mungkin akan mendapatkan ocehan dari fotografer. 


Tetapi ketika perempuan yang berlari sudah tiba di hadapan para teman-temannya, perempuan itu langsung berkata, "gawat! Aku mendengar pembicaraan Nikita dengan Kak Novita, dan dia menceritakan tentang bekas potongan yang kita buat di kaki kursi ya--"


Ucapan sang perempuan langsung terhenti ketika temannya membekap mulutnya sambil menatap sekitarnya, "Dasar bodoh, diam dan tutup mulutmu!" Gerutu perempuan berambut hitam yang cemas kalau ada orang yang akan mendengarkan ucapan temannya sehingga mereka semua akan berada dalam masalah besar. 


Perempuan yang di bekap mulutnya akhirnya menganggukkan kepalanya sebelum dia duduk di kursinya dan dengan cepat mengambil cermin untuk melihat riasannya.


Karena dipegang oleh temannya, maka riasannya menjadi sedikit rusak sehingga perempuan itu menggertakkan giginya sambil berdiri, "aku akan ke ruang rias sebentar."


Perempuan berambut pirang yang mendengar ucapan temannya hanya bisa menganggukkan kepalanya sebelum dia berkata, "di ruangan ini tidak ada CCTV, Apakah kalian yakin waktu menggergaji kaki kursi itu tadinya tidak ada orang yang melihat kalian?" 


Teman para perempuan berambut pirang langsung menganggukkan kepala mereka dengan salah satu diantara mereka berkata, "tidak ada, aku yang menggergaji kaki kursi itu, sementara Nila berjaga di luar untuk memastikan tidak ada orang yang melihat kami."


"Baguslah kalau begitu, sekarang kita Hanya tinggal menunggu pemotretannya dimulai," kata perempuan berambut pirang sambil melihat jam tangannya untuk memastikan reaksi gatal-gatal pada wajah Nikita akan terjadi pada saat pemotretannya berlangsung. 


Benar saja, 2 menit sebelum waktu obat yang ia berikan pada Nikita bereaksi, akhirnya Nikita bersama seorang model lain dan juga Novita memasuki ruang pemotretan.


"Ambil posisi!" Kata Sang fotografer pada semua orang sehingga semua orang yang bertugas di ruang tersebut langsung berjalan ke posisi mereka masing-masing. 


Karena Nikita yang baru pertama kali melakukan pemotretan bersama orang lain, maka perempuan itu kebingungan harus berdiri di mana ataupun duduk di mana. 


Dia menatap semua orang dengan bingung sebelum dia langsung duduk saja di sudut paling pinggir hingga membuat asisten fotografer menghela nafas.


"Kau duduk di tengah, dan Dian bergeser ke belakang," ucap sang asisten langsung membuat Dian melototkan matanya menatap sang asisten fotografer. 


"Kenapa dia yang harus duduk di tempatku dan aku di belakangnya?" Protes Dian yang tidak mau memberikan posisi terbaik untuk Nikita. 


Tetapi ketika dia melihat bagaimana tatapan sang fotografer langsung berubah karena ucapannya, maka perempuan itu menggertakkan giginya sambil turun dari kursinya lalu berpindah ke belakang sesuai dengan pengaturan asisten fotografer.


Nikita pun dengan cepat duduk di tempat Dian dan menatap kamera dengan ekspresi bingung sebab saat itu dia belum diberitahu Bagaimana pose mereka hari itu. 

__ADS_1


"Anggap diri kalian sebagai seorang peri kecantikan, dan perlihatkan Bagaimana cantiknya diri kalian. Ingat, beauty adalah kata kunci dari pemotretan hari ini!" Tegas Sang fotografer membuat Nikita menganggukkan kepalanya. 


Maka sang fotografer yang bertugas memotret kini mengangkat kameranya dan dia pun membidik semua orang. 


Cekrek cekrek...


Nikita berusaha bersikap normal, dan beberapa menit, pemotretan berjalan dengan sangat lancar, tetapi tiba-tiba saja Nikita mengulurkan tangannya untuk menggaruk wajahnya yang tiba-tiba terasa gatal.


Tetapi karena sang fotografer kembali mengangkat kamera untuk mengambil gambar, maka Nikita pun menurunkan tangannya dan berusaha mengabaikan rasa gatal pada wajahnya.


Cekrek cekrek...


"Nikita, wajahmu tampak tegang, rilekskan saja seperti tadi," perintah sang fotografer membuat Nikita menganggukan kepalanya sambil meramas kuat gaunnya karena dia merasa begitu risih dengan rasa gatal di wajahnya.


Meski begitu, Nikita ingin menyelesaikan pemotretan tersebut sehingga dia berusaha bertahan meski beberapa saat kemudian wajahnya tiba-tiba saja menjadi begitu merah hingga membuat sang fotografer menurunkan kameranya menatap wajah Nikita.


"Perbaiki make up Nikita," perintah sang fotografer bersamaan dengan seorang penata rias yang langsung menghampiri Nikita dan memperbaiki make up Nikita.


Para model yang ada di sana langsung memperhatikan Nikita sambil tersenyum mengejek dalam hati, tetapi sang penata rias mengerutkan keningnya saat ia melihat wajah Nikita benar-benar sangat merah dan tidak bisa ditutupi dengan make up.


"Apa kau merasa aneh dengan wajahmu?" Tanya sang penata rias.


"Apa?" Penata rias langsung berbalik menatap fotografer lalu berjalan menghampiri pria itu dan berbisik pada sang fotografer. 


Sementara model berambut pirang yang duduk di tempatnya, perempuan itu menggertakan giginya ketika dia melihat Nikita yang tampak menahan diri tidak menggaruk wajahnya.


'padahal wajahnya tidak akan kemerahan seperti itu seandainya dia menggaruknya, tapi kenapa dia menahan tangannya?' gerutu Sang Perempuan dalam hati sebelum dia berkata, "kalau wajahmu gatal, garuk saja."


Ucapan perempuan berambut pirang itu langsung membuat Nikita menatap Sang Perempuan dengan mata menyipit, "Terima kasih atas sarannya, aku sangat menghargainya," ucap Nikita yang saat ini tiba-tiba merasa aneh dengan tingkah perempuan di hadapannya. 


Tiba-tiba saja bersikap perhatian padanya, padahal Nikita jelas tahu bahwa perempuan itu akan menjadi orang yang paling senang melihat Dia menderita. .


Sementara Nikita memikirkan tentang perubahan sikap perempuan berambut pirang, sang penata rias kembali lagi menatap Nikita sambil berkata, "ikut denganku."


"Baik," kata Nikita langsung mengikuti sang penata rias dengan menahan rasa gatal pada wajahnya yang kini menyebar sampai ke lehernya.

__ADS_1


Bahkan telinganya juga ikut memerah hingga membuat Novita merasa cemas pada perempuan itu.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Novita yang takut terjadi apa-apa pada Nikita Karena dia sudah mendapat perintah tegas dari Doni dan juga Regina untuk memperlakukan Nikita dengan sangat baik.


Jadi kalau sampai terjadi apa-apa pada perempuan itu dan Regina maupun Doni mengetahuinya, maka dia akan berada dalam masalah besar. 


Nikita pun menganggukkan kepalanya, "ya, aku baik-baik saja," ucap Nikita. 


"Wajahmu sangat merah, kita harus ke rumah sakit sekarang!" Tegas Novita. 


"Hah? Ke rumah sakit?" Tanya Nikita terkejut. 


"Iya," jawab Novita sambil mempercepat langkah kakinya diikuti oleh Nikita yang merasa aneh mengapa mereka harus pergi ke rumah sakit hanya karena rasa gatal di wajahnya, padahal biasanya dia tidak pernah ke rumah sakit hanya karena gatal-gatal.


Sementara di tempat pemotretan, sang fotografer kini berdiri dia menatap semua model yang tampak diam di hadapannya, "kita akan tetap melanjutkan pemotretannya, jadi atur posisi kembali," ucap sang fotografer sebelum dia mengarahkan satu persatu model untuk duduk pada posisinya masing-masing.


Perempuan berambut pirang kini duduk di barisan paling tengah sambil berpikir dalam hati, 'Hah,, ini jauh lebih baik daripada ketika tadi ada pemulung yang mengotori pemotretan ini. Tapi sayang sekali perempuan itu benar-benar tahan terhadap rasa gatal dan tidak menggaruknya, Padahal kalau dia menggaruknya maka wajahnya akan segera rusak dan hari ini akan menjadi akhir pemotretannya. Sepertinya lain kali aku harus menambahkan lebih banyak bubuk gatal!' ucap perempuan berambut pirang dalam hati yang berpikir bahwa ini kita tidak akan pergi ke rumah sakit sebab perempuan itu adalah mantan pemulung sehingga rasa gatal tidak akan membuatnya kepikiran untuk pergi ke rumah sakit. 


Jadi perempuan berambut pirang itu merasa aman dan tidak cemas sedikitpun bahwa dia akan ketahuan menaruh bubuk gatal di kosmetik Nikita.


Maka pemotretan pun kembali berlangsung, namun saat ini salah satu dari teman perempuan berambut pirang yang tadi menambah riasannya karena wajahnya dipegang oleh temannya, dia sesekali menggaruk wajahnya yang terasa gatal.


Hal itu membuat sang fotografer merasa kesal karena setiap kali dia hendak mengambil gambar, perempuan tersebut kembali lagi mengangkat tangannya sehingga merusak gambar yang ia ambil.


"Bisakah kau menurunkan tanganmu dan jangan terus-menerus memegang wajahmu?!" Bentak sang fotografer pada Sang Perempuan langsung membuat perempuan bernama Aqila jadi tegang di tempatnya dan dengan cepat menurunkan tangannya.


"Maaf," ucap Aqila dalam rasa tegangnya. 


Sang fotografer hanya diam saja sambil mengangkat lagi kameranya lalu mengangkat juga sebelah tangannya sehingga membuat para model kembali berpose.


Tetapi ketika kamera hendak dijabret, Aqila benar-benar tidak tahan pada rasa gatalnya sehingga dia kembali mengangkat tangannya menggaruk wajahnya.


Cekrek!


Hasil foto yang diambil pun menjadi jelek karena Aqila tampak memejamkan matanya sambil menggaruk wajahnya hingga membuat fotografer menjadi sangat marah dan kesal.

__ADS_1


"Hah! Kau keluar saja dari ruangan ini, jangan membuang-buang waktuku!" Bentuk sang fotografer pada Aqila hingga membuat para model yang ada di sana dengan cepat melihat ke arah Aqila Karena penasaran Mengapa perempuan itu dimarahi. 


Tetapi saat ini, Aqila tidak memperdulikan tatapan semua orang, dia saat ini terus menggaruk wajahnya yang terasa begitu gatal. 


__ADS_2