
Setelah menghadapi masalah yang dialami di hotel xx, maka Nikita berniat untuk kembali ke kantor dan mengatakan hal tersebut pada Regina.
Tetapi dia ditahan oleh Ivan dan dibawa menuju sebuah restoran yang tak jauh dari hotel xx.
Begitu tiba di restoran, keduanya langsung disambut dengan ramah oleh sang pelayan dan langsung ditunjukkan ruangan tempat mereka berdua akan makan.
"Pelayanan restoran ini sangat ramah, Bagaimana bisa mereka langsung memberikan ruangan sebagus ini pada kita?" Ucap Nikita yang merasa begitu terkejut karena mereka mendapat ruangan yang menurutnya sangat bagus dan terlebih pemandangan dari ruangan tersebut sangatlah menyejukkan mata.
Mendengar ucapan perempuan di depannya, maka Ivan hanya tersenyum kecil, "Ini pertama kalinya aku membawa perempuan sepertimu ke tempat ini," ucap Ivan dengan perasaan senang melihat perempuan polos di depannya.
Padahal biasanya, perempuan-perempuan yang ia bawa ke suatu tempat akan terlihat bosan dengan dekorasi tempat mereka berada karena perempuan-perempuan itu sudah biasa menikmatinya.
__ADS_1
Apalagi saat ini mereka hanya berada di ruangan yang lebih kecil dari yang biasa ditempati oleh Ivan sebab tidak ingin membuat perempuan di depannya menjadi curiga padanya.
"Hm, kau berkata seperti itu, tapi aku memang perempuan yang berbeda dari perempuan-perempuan lain. Kau tahu sendiri kan aku hanya yatim piatu dan bekerja sebagai seorang pemulung, aku tidak ada apa-apanya kalau dibandingkan dengan perempuan-perempuan lain," ucap Nikita dengan wajah tersipu malu karena merasa agak malu atas takdir yang ia dapatkan.
Nikita jelas menyadari bahwa mereka berdua adalah dua orang yang berasal dari dunia yang sangat berbeda, Ivan sebagai orang kaya dan dia sebagai orang yang tidak punya apa-apa.
"Maksudku bukan begitu, meski perempuan-perempuan lain memiliki kekayaan dan berasal dari keluarga terhormat, tapi kau perempuan yang memiliki kekayaan dan kehormatan yang berbeda dari mereka. Semua itu ditunjukkan lewat hatimu yang begitu tulus," ucap Ivan langsung membuat Nikita tertegun di tempatnya menatap pria di depannya dan saat ini jantungnya benar-benar berdetak karuan karena pujian dari pria itu.
"Ayo makan sekarang," ucap Ivan ketika dia menyadari apa yang ada di pikiran perempuan di depannya.
"Ah, ya, Selamat makan!" ucap Nikita menganggukkan kepalanya dan perempuan itu pun mulai makan tanpa mengingat lagi apa percakapan terakhir mereka.
__ADS_1
Sambil makan, Ivan berkata, "apa sekarang kau sudah punya ponsel?"
Pertanyaan itu langsung membuat Nikita menggelengkan kepalanya dengan pelan, "aku belum satu bulan bekerja, jadi belum menerima gajiku, tapi aku rasa gajiku bulan ini tidak akan cukup untuk memberi ponsel. Untungnya Di kantor ada telepon gratis yang bisa digunakan kapanpun kalau mau. Meski begitu, Aku tidak pernah menggunakan telepon itu karena aku tidak tahu harus menghubungi siapa," ucap Nikita.
"Kalau begitu, gunakan untuk menghubungiku," ucap Ivan mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya lalu menyerahkannya pada perempuan yang ada di hadapannya.
Nikita yang mengambil kartu itu langsung memperhatikan kartu tersebut dan dia terkejut ketika ia mendapati jabatan Ivan yang tertera pada kartu.
"Jadi kau seorang manajer?! Kalau begitu, kau sama dengan atasanku di kantor, namanya Doni!" Seru Nikita yang tak menyangka bahwa ternyata pria di depannya adalah pria yang memiliki posisi yang begitu bagus.
Meski posisi itu tidak sama dengan posisi Regina, tetapi tetap saja membuat Nikita menjadi kagum karena pria mudah di depannya sudah memiliki posisi yang begitu bagus.
__ADS_1
"Hm," jawab Ivan sambil mengganggukan kepalanya karena dia tidak mau mengatakan yang sebenarnya pada perempuan di hadapannya.