
...'Ada celah dalam hidup yang tak kumengerti...
...Ada harap yang kusadari teramat kabur tak berarti...
...Tak ada tangan untuk menarikku dari jurang ini...
...Air mata ini bersemayam dikala fajar menepi...
...Daku, sungguh inginkan tuk kembali.'...
..._Alindya Sheila puteri_...
Sudah seminggu sejak Alindya keluar dari rumah sakit. Namun Alfa masih tetaplah Alfa. Ia terus saja dengan rutin menghampiri Alindya. Guna menanyakan apakah gadis itu sudah makan atau belum. Atau hanya sekedar melihat keadaan gadis tersebut. Kelima teman Alindya kadang dibuat kagum dengan semua bentuk perhatian dari seorang Alfarezi Kavindra kepada Alindya Sheilla Puteri.
"Itu Kak Alfa ngecek elo tiga kali sehari Lin?" tanya Naomi.
"Udah kaya minum obat aja tiga kali sehari Lin." Celetuk Keyra sembari tertawa geli.
"Enggak papa kalau obat kan anjuran dokter. Tapi kalau kak Alfa anjuran dari hati kayanya." Ungkap Freya.
"Engga, apaan sih Freya." Jawab Alindya sembari menatap tajam ke arah Freya.
"Pisss BUKETU." Jawab Freya sembari mengangkat tangannya dan membentuk huruf V pada jarinya.
"Enggak papa kalo kak Alfa yang gitu, gue ikhlas ko di gituin tiap hari." Celetuk Julie.
"Dasar ... !" sahut Alindya sembari melempar kertas kosong ke arah Julie.
Teman-teman yang lain hanya terkekeh melihat raut wajah Julie.
Ketika asyik melempar canda dan tawa. Tiba-tiba Clara datang sembari membawa map berwarna hijau dan buku dengan cover gambar mikroskop.
"Hey BUKETU, ini daftar anak-anak anggota Kelompok Ilmiah Remaja dari kelas X sampai kelas XII." Ungkap Clara sembari menyodorkan map hijau dan buku yang ia bawa.
"Owh okk, makasih ya Ra." Ujar Alindya.
"Hari ini latihan enggak Lin? Kalau latihan gue umumin ke anak-anak yang lain." Tanya Clara.
"Latihan, Kan ada pertemuan terakhir sama angkatan kelas XII Ra." Jawab Alindya.
"Kita bentar lagi kelas XI enggak berasa ya." Ungkap Clara sembari menatap satu persatu teman Alindya yang berada dekat dengan radarnya itu.
"Iya Julie sedih bentar lagi enggak bisa lihat kak Alfa." Celetuk Julie.
Sontak yang lain langsung melempar kulit kuaci ke arah Julie. Setelah itu tawa kembali mengudara di sekitar mereka.
Setelah bel pulang berdering, Alindya mulai mengganti seragamnya dengan seragam eskul. Setelah selesai, ia berjalan menuju kelas tempat eskul Kelompok Ilmiah Remaja diadakan. Fyi, eskul satu ini kegiatannya memang 60 persen indoor dan 40 persen outdoor.Kegiatan outdoor biasanya dilakukan langsung di area, lebih tepatnya eksperiment secara langsung. Sedangkan hari ini kegiatannya akan cenderung indoor.
Ketika berjalan dan asyik merapikan rambutnya. Alindya tiba-tiba mengalihkan fokusnya pada sumber suara yang memanggil namanya. Reynaldi Pratama berlari kecil menghampiri Alindya. Ia memakai seragam kebanggaan eskulnya, eskul Paskibra lebih tepatnya.
"Owh Hey Rey." Sapa Alindya.
"Mau ke kelas buat latihan ya?" tanya Reynaldi.
"Iya Rey, by the way elo manggil gue kenapa ya?" tanya Alindya.
"Mau ngucapin selamat." Ungkap Rey sembari tersenyum.
"Buat?" tanya Alindya sedikit bingung.
"Terpilihnya elo jadi BUKETU." Jawab Reynaldi.
Alindya hanya tersenyum sembari menunduk.
"Iya makasih atuh Rey." Ungkap Alindya.
"Gue juga ikut milih elo neng. Enggak makasih juga ke gue. Traktirannya mana neng geulis." Celetuk Arjune dari kejauhan.
Sontak Reynaldi menatap Arjune dengan tatapan yang sulit didefinisikan. Arjune hanya terkekeh sembari menyatukan telapak tangannya membentuk sebuah permohonan, lebih tepatnya untuk ucapan yang ia lontarkan tadi. Javas yang berada di samping Arjune hanya tertawa kemudian menepuk-nepuk bahu Arjune.
Alindya hanya terkekeh melihat tingkah ketiga manusia dihadapannya itu.
Reynaldi kembali menghadap Alindya.
"Ya udah gue ke sana dulu. Jangan capek-capek latihannya, semangat ya Lin." Ungkap Reynaldi.
Alindya hanya membalas dengan anggukan dan senyuman. Kemudian ia melangkahkan kakinya kembali menuju kelas yang hendak ia tuju sedari tadi.
Ketika melewati kelas tempat anak-anak Eskul Palang Merah Remaja. Alindya menghentikan langkahnya sembari melihat dari balik jendela sesuatu yang menjadi fokus teman-temannya saat ini. Alindya berada dalam kerumunan siswa dan siswi yang tengah melihat Alfarezi Kavindra bernyanyi menggunakan gitar kesayangannya.
Alindya tersenyum sembari menikmati setiap syair dan melodi yang dibawakan sahabatnya itu.
...__________________________...
...'Saat kutenggelam dalam sendu...
...Waktu pun enggan untuk berlalu...
...Kuberjanji 'tuk menutup pintu hatiku...
...Entah untuk siapa pun itu...
...Semakin kulihat masa lalu...
...Semakin hatiku tak menentu...
...Tetapi satu sinar terangi jiwaku...
...Saat 'ku melihat senyummu...
...Dan kau hadir...
...Merubah segalanya...
...Menjadi lebih indah...
...Kau bawa cintaku...
...Setinggi angkasa...
__ADS_1
...Membuatku merasa sempurna...
...Dan membuatku utuh...
...'Tuk menjalani hidup...
...Berdua denganmu selama-lamanya...
...Kaulah yang terbaik untukku...
...Hu-u-u-u-u ......
...Kini kuingin hentikan waktu...
...Bila kau berada di dekatku...
...Bunga cinta bermekaran dalam jiwaku...
...'Kan kupetik satu untukmu...
...Dan kau hadir...
...Merubah segalanya...
...Menjadi lebih indah...
...Kau bawa cintaku...
...Setinggi angkasa...
...Membuatku merasa sempurna...
...Dan membuatku utuh...
...'Tuk menjalani hidup...
...Berdua denganmu selama-lamanya...
...Kaulah yang terbaik untukku...
...Kupercayakan...
...Seluruh hatiku padamu...
...Kasihku, satu janjiku...
...Kaulah yang terakhir bagiku...
...Ho-o-ho-ho ... '...
...__________________________...
Alfa menyadari kehadiran Alindya. Ia menoleh sembari melempar sebuah senyuman penuh makna. Anak-anak lain hanya melempar godaan kepada Alfa dan Alindya. Karena malu, Alindya akhirnya memutuskan untuk melangkahkan kembali kakinya menjauh dari radar teman-teman Alfa.
Langkah Alindya terhenti ketika Reynaldi menghadang jalannya.
"Buat gue?" tanya Alindya sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.
"Iya Lin buat elo." Tegas Reynaldi meletakan ice cream rasa cokelat tersebut di tangan Alindya.
"Makasih Rey, maaf ngerepotin." Ungkap Alindya.
"Enggak ko Lin, by the way elo suka cowok yang bisa main gitar dan bisa nyanyi?" tanya Reynaldi.
"Gue suka musik dari kecil. Jadi elo pasti tahu jawabannya Rey." Ucap Alindya.
"Owh okk gue faham." Ungkap Reynaldi.
"Emangnya kenapa Rey? Tumben nanyain kaya gituan." Tanya Alindya.
Reynaldi tidak menjawab Pertanyaan Alindya. Ia malah melempar senyuman penuh arti. Kemudian berlalu dari hadapan Alindya. Alindya hanya diam sembari bertanya-tanya dengan sikap Reynaldi saat ini. Sesaat kemudian Alindya mengalihkan pandangannya ke arah Ice cream rasa cokelat yang kini berada ditangannya.
"Tahu aja gue suka cokelat." Ucap Alindya seorang diri sembari tersenyum manis.
...'Kamu adalah pesona yang terpahat sempurna di mataku....
...Kamu adalah hadiah semesta, yang dengan sungguh akan aku jaga.'...
..._Alfarezi Kavindra_...
Alindya duduk diantara kerumunan murid-murid yang tengah sibuk dengan dunianya masing-masing. Hari ini akan diadakan camping di salah satu pegunungan di Jawa Barat. Sebenarnya Alindya dilarang untuk mengikuti kegiatan semacam ini. Hanya saja, Alfa membantu Alindya dalam hal meminta ijin kepada kedua orang tua Alindya. Sehingga ia bisa ikut serta dalam acara kali ini.
Alfa benar-benar tahu apa yang Alindya inginkan. Meskipun Alindya tidak mengutarakannya. Tas dan keperluan Alindya sudah dibawa Alfa ke bagasi bus. Alhasil ketika teman-teman lain sedang sibuk dengan barang-barang bawaannya. Alindya hanya duduk dan melihat mereka sembari tidak henti senyum menghiasi wajahnya.
Alfa menghampiri Alindya sembari membawa dua bungkus roti dan dua cup minuman di tangannya.
"Sarapan dulu Lin, perjalanannya jauh soalnya." Ungkap Alfa sembari menyodorkan satu bungkus roti dan satu cup minuman ke Alindya.
"Makasih Al." Jawab Alindya.
Mereka menikmati sarapannya sembari memperhatikan teman-teman yang lain. Diselingi dengan candaan dan kejahilan di antara keduanya.
Selang beberapa waktu, bus akhirnya melaju. Alindya duduk bersama Freya, Naomi dengan Keysha, dan Julie dengan Kayra. Sementara Alfa, ia berbeda bus dengan bus yang dinaiki Alindya.
Sesampainya di tempat camping, Alindya keluar dengan riangnya. Sudah lama ia tidak menghirup udara sesegar ini. Ditambah lagi pemandangan yang disuguhkan oleh alam. Warna hijau menghiasi setiap sudut. Ketika netra mengelilingi setiap detail pesona semesta. Suara deburan air terjun begitu membangunkan semangat siapapun yang mendengarnya. Alindya sungguh berterima kasih pada Alfa, karena berkat ia Alindya bisa berada di sini.
Selang beberapa waktu, ketika Alindya sedang berada di sekitar area tendanya. Reynaldi menghampiri Alindya yang tengah sibuk merapikan tendanya itu. Tidak jauh dari radar Alindya terdapat kelima temannya yang lain, yang juga tengah sibuk dengan hal serupa.
"Lin mau gue bantuin?" tanya Rey tiba-tiba.
"Enggak usah Rey, gue dibantuin Alfa. Dia lagi ngambil barang-barang dulu di bus, bentar lagi juga ke sini." Ungkap Alindya dengan jujur.
"Ok deh kalau gitu, panggil gue aja kalau elo butuh sesuatu ya Lin." Ungkap Rey.
"Ok, makasih ya Rey." Ucap Alindya.
Rey berlalu dari hadapan Alindya dengan raut wajah yang kentara mengisyaratkan kekecewaan. Sudah pasti Rey sedikit sedih dengan penolakan Alindya. Tapi Rey yakin suatu saat nanti, Alindya akan mengerti perihal hatinya. Rey tidak pernah menyalakan Alfa sedikitpun.
Bagi Rey semua orang berhak untuk memiliki rasa. Semua orang berhak untuk berjuang dengan caranya masing-masing. Semua orang berhak memilih apa yang hatinya inginkan. Dan semua orang berhak bahagia meskipun akan ada yang nantinya terluka.
__ADS_1
Javas dan Arjune tahu bagaimana suasana hati sahabatnya itu. Mereka berdua dengan segera menghibur Reynaldi yang tengah murung.
"Tenang boy jangan galau donk." Ungkap Javas sembari menepuk bahu Reynaldi.
"Gue bingung sebenernya gimana cara naklukin hatinya." Ungkap Rey.
"Sebenernya kenapa gue enggak bisa milikin dia. Sebenarnya apa yang dia punya dan gue enggak." Ungkap Rey kemudian.
Penuh arti seakan ungkapan itu tertuju pada sosok Alfarezi Kavindra.
"Cinta itu butuh perjuangan boy." Ujar Arjune.
"Gue tahu sob." Ungkap Alfa sembari tersenyum.
Mereka akhirnya memutuskan untuk kembali menyibukkan diri dengan tendanya yang sedari tadi tidak tersentuh.
Sementara Alindya tengah dibantu Alfa untuk menyiapkan segala keperluannya. Mulai dari tenda, peralatan, sampai hal yang kecil sekalipun. Setelah selesai, mereka berkumpul di lapangan guna melakukan pembukaan camping kali ini.
Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan sore hari. Matahari mulai mengisyaratkan untuk berpamitan pada seluruh penghuni semesta. Diganti dengan cakrawala yang terlukis begitu elok . Tidak lupa gemerlap bintang berjajar menghiasi dan Purnama kembali menjadi tahta tertinggi di sana.
Alindya keluar dari tendanya Guna menuju toilet umum. Kelima teman Alindya sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Alhasil Alindya sendirian berjalan di tengah gelapnya malam. Masih banyak lalu lalang murid-murid yang lain. Jadi Alindya tidak terlalu takut akan hal lain di sini.
Alfa berjalan di belakang Alindya tanpa Alindya sadari. Alfa terus memperhatikan pundak Alindya dan rambut hitam yang bergoyang terkena desiran angin malam. Alfa tahu Alindya kedinginan, ia kemudian melepas jaket cokelat miliknya. Memakaikan jaket tersebut di kedua bahu Alindya. Tentu saja Alindya terkejut bukan main. Untungnya di sekitar mereka tidak ada anak-anak yang melintas.
"Ya ampun Al, bikin kaget aja." Gerutu Alindya sembari memukul lengan Alfa.
"Abis elo jalan khusyu amat, sampai enggak nyadar gue di belakang elo Lin." Ungkap Alfa.
"Ya maaf abis enak banget suasananya Al." Ungkap Alindya sembari tersenyum.
"Mau kemana malam-malam sendirian?" tanya Alfa.
"Ke toilet." Ucap Alindya.
"Gue temenin ya, nanti gue tunggu di bangku dekat toilet umum." Ungkap Alfa.
"Okk." Jawab Alindya.
Mereka berjalan beriringan menikmati indahnya malam. Saling melempar canda dan tawa. Dihiasi dengan suara binatang melata yang khas dan Sepoi angin yang menyapu kulit keduanya dengan lembut.
Malam yang begitu bermakna sekaligus camping terakhir Alindya bersama Alfa.
Semester berikutnya Alfa mungkin akan sibuk dengan ujian-ujiannya. Alindya sadar akan hal itu, jadi Alindya tidak ingin melewatkan sedikit pun moment bersama Alfa di sini.
Setelah puas berjalan-jalan mengelilingi area camping. Alfa mengantarkan Alindya untuk berisitirahat di tendanya. Setelah sampai di tempat yang dituju. Alfa berpamitan pada Alindya untuk kembali ke area tendanya.
Tidak lupa ia mengucapkan selamat malam dan menyuruh Alindya untuk segera beristirahat. Besok Alindya mungkin akan sibuk dengan Ekstrakurikulernya. Alindya menjabat sebagai ketua dalam eskul tersebut. Tentu saja besok adalah pengabdiannya pada eskul tercintanya itu.
Setelah Alfa pergi Alindya kembali berhambur dengan kelima temannya. Ada dua ayunan di dekat tenda mereka. Akhirnya mereka berenam memutuskan untuk berbincang-bincang terlebih dahulu di sana.
Rey datang sembari dikawal dua sahabatnya, Javas Athaya dan Sauqi Arjune tentunya.
"Hey, boleh pinjem Alindya nya Bentar enggak?" ungkap Reynaldi.
"Maaf Rey teman gue ini bukan barang, jadi enggak bisa elo pinjem." Celetuk Kayra.
"Nyambung aja elo euceu." Celetuk Arjune kepada Kayra.
"Euceu? Berasa tua amat gue Bambang." Sahut Kayra.
"Makannya diem Bambangg." Jawab Arjune.
"Ya udah, temennya boleh gue bahagiain enggak malam ini. Bentar doank ko, teman elo pasti gue jagain." Pungkas Rey panjang lebar.
"Sok SoSweet elo Rey." Ungkap Freya.
"Ya uda Sono gih bawa. Tapi jaga baik-baik dan jangan malam-malam balik kesini nya." Ujar Naomi.
Alindya hanya diam melihat kelima temannya dan teman Rey beradu mulut. Karena tidak ingin melihat perdebatan yang lebih panjang lagi. Alindya memutuskan untuk ikut dengan Rey. Meninggalkan kelima temannya dan dua teman Reynaldi yang entah beradu mulut seperti apa lagi.
"Kita mau kemana Rey." Tanya Alindya.
"Ke taman." Jawab Rey.
"Emang ada taman?" tanya Alindya kebingungan.
"Ada ... Taman cinta kita berdua." Ungkap Reynaldi.
Alindya hanya tertawa sembari menunduk. Rey benar-benar membuat Alindya kehabisan kata-kata.
"Gue serius kita mau kemana atuh Rey?" tanya Alindya untuk kedua kalinya.
Rey menghadap Alindya dan sontak saja Alindya menoleh ke arah Reynaldi. Mereka berdiri berhadapan saat ini.
"Gue mau ngasih ini ke elo." Ungkap Rey sembari menyodorkan kalung dengan cincin sebagai bandulnya.
"Buat gue?" tanya Alindya.
"Elo enggak perlu jawab pengutaraan gue malam ini. Yang perlu elo tahu, jangan pernah larang gue buat berhenti ngejar elo Lin. Gue enggak tahu kapan elo bakal ngebalas hati gue. Gue harap saat itu datang. Hati elo benar-benar cuman ada dan buat gue doank Lin." Ungkap Rey panjang lebar sembari menatap Alindya dengan lekat.
Alindya hanya diam, ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa. Alindya hanya tersenyum kemudian menunduk.
"Gue pakaiin ya, please jangan nolak kali ini aja." Ungkap Rey seakan memohon.
Alindya mengangguk kemudian membiarkan Rey memakaikan kalung tersebut di lehernya.
Saat akan kembali ke tenda, tangan Rey hendak menggandeng tangan Alindya. Tapi sialnya di saat bersamaan Alindya memasukan tangannya ke saku jaket yang ia kenakan. Sontak Rey mengurungkan niatnya itu. Alindya menoleh ke arah Rey saat Rey menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
"Kenapa Rey?" tanya Alindya dengan polosnya.
"Enggak papa ko, ayo jalan lagi." Jawab Rey dengan senyuman di wajahnya.
Dari sudut lain jalan, Alfa Tengah berdiri mematung di sana. Alfa ingin sekali menarik Alindya dari radar lelaki bernama Reynaldi Pratama itu. Tapi Alfa mengurungkan niatnya. Ia tidak memiliki keberanian untuk hal semacam itu. Alfa yakin jika Alindya ditakdirkan untuknya. Takdir akan membawa Alindya kembali ke pelukannya.
Takdir juga yang akan memisahkan seseorang yang memang tidak pantas untuk berada di samping Alindya, tidak terkecuali dirinya. Alfa percaya, suatu saat nanti Alindya akan selamanya menjadi miliknya seorang. Saat ini ia tengah berjuang untuk itu.
Alfa berbalik dan kembali ke tendanya. Hatinya sedang tidak baik-baik saja malam ini. Hanya saja Alfa Memang mahir menyembunyikannya.
"Elo tahta tertinggi yang ingin gue raih Lin. Suatu hari nanti, gue janji." Ungkap Alfa dalam gelapnya malam.
__ADS_1