PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
12. Bukit


__ADS_3

...' Bukan mencintai yang sempurna....


...Tapi menjadikan yang tidak sempurna....


...Menjadi sempurna kala ia bersamamu.'...


..._Alindya Sheila Puteri_...


"Al .... Gue ..." Ungkap Alindya.


Belum sempat Alindya meneruskan ucapannya. Gadget milik Alfa berdering. 'Bunda' itulah seseorang yang menelponnya saat ini.


Alfa segera menjawab panggilan tersebut. Alfa lalu menekan tombol 'speaker' agar Alindya juga bisa mendengar percakapannya itu.


"Assalamu'alaikum." Ungkap Bunda Lilis Dari seberang sana.


"Wa'alikumussalam bunda". Jawab Alfa.


"Nak Alfa besok pulang bareng Alindya kan?" tanya Bunda Lilis.


Alfa mengalihkan pandangannya ke arah Alindya yang tengah sibuk memperhatikannya. Alindya sendiri hanya menjadi pendengar yang baik saat ini. Alindya menebak bahwa bundanya pasti akan menyuruh Alfa untuk selalu disisinya. Bukan hal yang aneh, karena sejak kecil memang begitulah sifat bundanya. Alindya kemudian tersenyum ke arah Alfa dan mengangguk. Tanda ia setuju pulang bersama Alfa nanti.


"Iya bunda, Alindya pulang bareng Alfa." Jawab Alfa.


"Syukur kalo gitu nak, tapi bunda sama ayah Alindya mau ke Yogya tiga hari kedepan. Tante Ratih sakit keras soalnya. Bunda udah bilang sama mama papa Alfa. Alindya tiga hari kedepan tinggal di rumah nak Alfa dulu. Bilangin Alindyanya ya nak." Tutur Bunda Lilis panjang lebar.


" Tante Ratih kenapa Bun?" tanya Alindya.


"Kamu lagi sama Alfa sayang? Tante kamu sakit, jadi bunda sama ayah mau ke sana. Kamu enggak papa tinggal di rumah Alfa dulu ya sayang." Tutur Bunda Lilis.


"Alindya bisa tinggal di rumah Bun, kan ada Bi Inah sama Pak Budi." Ungkap Alindya.


"Bi Inah ijin pulang kampung kemaren sayang. Bunda enggak tenang kalau kamu sendirian di rumah." Ungkap Bunda Lilis.


Alfa hanya diam memperhatikan Alindya yang terus berdebat dengan bundanya.


Sampai akhirnya, percakapan ditutup dengan Alindya yang harus mengalah. Bundanya memang tidak bisa untuk didebat keputusannya. Sekali A tetap A tidak bisa B. Keras kepala sudah pasti. Tapi demi kebaikan tidak ada salahnya bukan? Alindya tahu hal itu, jadi ia lebih memilih mengikuti kemauan bundanya. Alfa terkekeh melihat raut wajah Alindya.


"Jangan ketawa Al, nyebelin ihhh." Ungkap Alindya.


"Elo engga bakal menang debat sama bunda Lin." Ungkap Alfa.


"Ya kan iseng-iseng doank Al, siapa tahu aja menang gitu." Jawab Alindya.

__ADS_1


"Elo enggak nyaman sama gue Lin?" tanya Alfa mulai serius.


"Maksudnya gimana Al?" tanya Alindya kebingungan.


"Gara-gara tadi elo enggak nyaman sama gue Lin?" tanya Alfa memperjelas.


"Enggak Al, gue cuman ..." Jawab Alindya.


Belum juga Alindya melanjutkan kalimatnya. Freya, Naomi, Kayra, Julie dan Neysha datang menghampiri.


"Kalian tahu darimana tempat ini?" tanya Alindya.


"Nanya-nanya sama anak-anak lain. Kata mereka kalian ke arah sini." Ungkap Freya jujur.


"Bagus juga pemandangan dari bukit ini." Ujar Neysha.


"Kalau ada cowok nembak gue di tempat kaya gini, pasti gue terima serius." Celetuk Julie.


"NGAYAL terus elo jul, enggak capek apa?" Tanya Naomi.


Alindya dan Alfa hanya diam secara bersamaan. Alfa sibuk menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Sementara Alindya sibuk mengalihkan pandangnya ke langit-langit malam.


"BTW kalian berdua ngapain di sini?" tanya Kayra.


"Liat pemandangan aja, bagus banget soalnya kalau dari sini." Ungkap Alfa sembari melempar tatapan ke arah Alindya.


Alindya hanya mengangguk, ia tidak tahu harus bereaksi apa. Tentang ungkapan Alfa tadi, ia sendiri masih bingung harus menjawab apa. Alindya masih bingung dengan hatinya. Maklum, ia tidak pernah yang namanya jatuh cinta. Jadi ia tidak faham bagaimana tanda-tanda orang jatuh cinta.


Bagi Alindya bersama Alfa ada kenyamanan tersendiri. Alfa memang cowok sempurna dalam segala hal. Tapi bukan itu yang Alindya cari. Bagi Alindya jatuh cinta itu harus berkali kali, tapi harus pada orang yang sama. Bagi Alindya mencintai itu bukan hanya perihal fisik ataupun kenyamanan semata. Melainkan ketika kita sendiri tidak tau alasan kita menyukai seseorang.


Bunda Alindya pernah bilang padanya. Jangan berkelana hanya untuk mencari yang sempurna. Tapi berusahalah menetap pada satu orang. Buat dia merasa sempurna berada di sampingmu. Katanya, cinta yang sederhana seperti itu pun tidak masalah. Yang terpenting kalian sama-sama bahagia.


Itulah alasan mengapa Alindya tidak ingin menjatuhkan hatinya pada sembarang orang. Yang mahir mematahkan di luar sana tidak terhitung jumlahnya. Tapi yang mampu membuat patahan menjadi berharga kembali, hanya beberapa orang saja.


Alindya akhirnya mengikuti kelima temannya. Menuju lokasi acara api unggun dilaksankan. Alfa hanya mengekor di belakang mereka.


Alfa merasa ada ketenangan tersendiri, karena ia sudah mengeluarkan sesuatu yang ia pendam bertahun-tahun lamanya.


Jujur Alfa takut Alindya akan menjauhinya. Hubungan mereka jadi asing satu sama lain. Tapi mengingat Alfa akan jauh selama beberapa tahun. Rasanya tidak mengapa mengutarakan semuanya. Masalah Alindya takdirnya atau bukan. Alindya membalas rasanya atau tidak. Alfa menyerahkan semuanya pada takdir mereka. Alfa menyerahkan semesta untuk melanjutkan kehendaknya.


Setelah sampai di tempat yang dituju. Mereka duduk melingkar, menikmati acara api unggun malam ini. Membiarkan masalah hilang untuk saat ini. Alindya ingin menghibur dirinya sendiri. Alhasil saat Reynaldi mengajaknya bergabung. Alindya menolaknya dan lebih memilih bersama anak-anak Kelompok Ilmiah Remaja. Kelompok eskul tercintanya yang mana terdapat Clara juga di sana.


"Kenapa Lin ada masalah?" tanya Clara.

__ADS_1


"Gue bingung Ra." Ungkap Alindya sembari memeluk sahabatnya itu.


"Bingung kenapa? Cerita Lin jangan dipendam sendiri." Ungkap Clara.


Alindya kemudian menceritakan semuanya. Mulai dari masalah IG Reynaldi, ungkapan di perpustakaan , sampai ungkapan Alfa barusan. Tanpa sedikitpun terlewat dari kenyataannya.


"Akhirnya si Alfa jujur juga ke elo Lin." Ungkap Clara sembari tersenyum.


"Maksud elo gimana Ra?" tanya Alindya kebingungan.


"Masa elo enggak nyadar dari dulu Lin." Ungkap Clara mulai geram.


"Enggak tahu ahhh pusing." Ungkap Alindya sembari memejamkan matanya dan menyenderkan kepalanya di bahu Clara.


"Berat Lin, senderan di bahu Alfa aja sana atau enggak di bahu Reynaldi gitu." Goda Clara.


"Ra ... !!!" Teriak Alindya sembari mengangkat kepalanya dari bahu Clara.


Clara hanya tertawa puas melihat Alindya saat ini. Jarang-jarang kan melihat seorang Alindya galau. Apalagi gara-gara masalah percintaan. Sungguh momen yang paling langka di dunia. Begitu kiranya ungkapan hati seorang Clara Aretha.


"Udah Ahh gue mau ke tenda." Ungkap Alindya sembari beranjak.


"Acaranya belum selesai, rugi loh engga ikutan acara puncaknya Lin." Ujar Clara.


"Jangan ngebully gue terus Ra." Ungkap Alindya.


"Iya, iya BUKETU." Ujar Clara.


"Dasar." Ungkap Alindya sembari duduk kembali.


...'Kita tak pernah tahu...


...Hukum semesta yang kelak tercipta...


...Kita juga tak pernah tahu...


...Labirin seperti apa yang menunggu...


...Tapi satu yang pasti ......


...Kau harapan tertinggi...


...Dari semua harapan yang kumiliki'...

__ADS_1


..._Alfarezi Kavindra_...


__ADS_2