PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
07. My Bodyguard


__ADS_3

Tepat pukul tujuh malam Alfa sampai di rumah Alindya. Di rumah itu seperti biasa terlihat sepi. Alfa bisa menebak jika bunda dan ayah Alindya pasti sedang tidak berada di rumah. Alfa memang sangat mengenal keluarga Alindya. Setiap malam Minggu, bunda dan ayah Alindya akan keluar berdua. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu mengenang masa mereka pacaran silam. Tentu saja tanpa mengikut sertakan putri mereka.


Kadang Alfa dibuat kagum oleh tingkah kedua orang tua Alindya. Alindya sendiri tidak keberatan akan hal itu. Karena jika dia ingin ikut serta pun, bunda dan ayahnya pasti mengizinkannya. Hanya saja Alindya tidak ingin mengganggu suasana romantis kedua orang tuanya. Jadi, ia lebih memilih untuk berada di rumah bersama Bi Inah pembantunya dan pak Budi satpam di rumahnya.


Alfa memasuki halaman rumah Alindya. Halaman yang banyak dipenuhi pohon-pohon rindang dan bunga yang tersusun rapi. Keluarga Alindya memang sangat menyukai tumbuhan.


Alindya sendiri sangat menyukai bunga mawar putih. Alhasil hampir setengah dari taman di halamannya pasti tertanam bunga satu itu. Alindya tidak menyukai warna merah. Itu alasan mengapa ia tidak suka mawar merah dan apapun yang berwarna merah. Baju Alindya bahkan tidak ada satupun yang berwarna itu.


Bi Inah keluar membukakan pintu untuk Alfa. Kemudian beliau mempersilahkan Alfa untuk masuk. Setelah Alfa masuk Bi Inah kembali ke dapur. Guna mengambil minuman dan camilan untuk Alfa. Bi Inah sempat berbincang-bincang dahulu dengan Alfa. Mulai dari menanyakan kabar dan sekolah pria yang sudah beliau anggap seperti anaknya sendiri itu. Selang beberapa menit setelah Bi Inah pergi Alindya datang menuruni tangga demi tangga. Alindya memakai kaos berwarna putih dengan bawahan rok selutut berwarna denim.


Mereka memutuskan untuk berbincang-bincang di ruang TV lantai dua dekat dengan kamar Alindya. Alfa kemudian mengambil gitarnya dan bernyanyi bersama Alindya. Suara Alindya dan Alfa memang sama-sama merdu. Itu salah satu alasan mengapa Alfa dan Alindya disebut-sebut sebagai manusia yang mendekati sempurna. Itulah anggapan dari semua teman dan guru-guru di sekolah mereka kini.


Karena lelah, mereka akhirnya memutuskan untuk berjalan-jalan di taman belakang rumah Alindya yang luas. Udara malam hari yang sejuk, gemerlap bintang yang begitu elok di langit, purnama yang dengan anggun menampakkan diri dan seseorang yang begitu berarti di sampingnya. Malam yang begitu sempurna bagi Alfarezi Kavindra.


"Al kalau elo nanti jauh jangan lupain gue ya." Ungkap Alindya dengan mata yang terus tertuju lurus ke arah depan.


Alfa menoleh ke arah Alindya dan tersenyum penuh arti.


"Sedetik pun gue enggak bakal Lupain elo Lin." Jawab Alfa dengan senyum yang tertahan cukup lama.


Alindya menoleh ke arah Alfa, netra mereka beradu cukup lama. Alindya tidak tahu mengapa mata Alfa begitu menghipnotisnya, teduh dan hangat. Tetapi Alindya sadar, dalam mata itu juga ada tirai yang seakan sulit untuk Alindya buka. Alindya tidak tahu apa yang ada di dalam sana.


"Kalau suatu hari nanti gue punya istri, gue mau dia kaya elo Lin." Ungkap Alfa tanpa sedikitpun mengalihkan tatapannya.


"Dan kalau bisa gue ingin istri gue kelak itu elo Lin." Ujar Alfa kemudian di dalam hati.


Hanya dia dan Tuhan yang tahu arti sebenarnya kalimat itu.


Alindya tersenyum kemudian mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


"Emang elo mau punya istri yang manja dan cengengnya kelewatan Kaya gue Al?" ujar Alindya sembari terkekeh dengan penuturan Alfa barusan.


"Kalau dipikir-pikir bisa bahaya juga. Yang ada gue harus nyetok sabar terus tiap hari Lin." Jawab Alfa.


Mereka berdua tertawa cukup keras, karena merasa sedikit konyol dengan topik yang baru saja mereka bicarakan. Mereka masih SMA, mana mungkin hal itu pantas dibicarakan sekarang. Harusnya cita-cita dan kelak mereka akan mengambil jalan mana. Itu yang harus mereka fokuskan.


Bersamaan dengan itu, bunda dan ayah Alindya datang menghampiri mereka berdua.


Mereka sangat senang melihat keakraban Alfa dengan putri tercintanya. Alfa berdiri kemudian menyalami dan mencium tangan kedua orang tua Alindya.


"Happy banget kayanya, ngobrolin apa sih nak?" tanya pak Hermawan sembari melempar senyuman.


"Enggak om cuman bercanda aja tadi sama Alindya." Jawab Alfa.


"Nak Alfa makan malam belum? Makan yu sama-sama." Ajak Bu Lilis Hermawan sembari mengelus pundak Alfa.


Ayah dan bunda Alindya hanya memberi respon dengan menggeleng-gelengkan kepala mereka, melihat tingkah dua sejoli dihadapan mereka itu. Alindya yang selalu seenaknya dan Alfa yang selalu menuruti semua ucapan putrinya.


Setelah makan malam, Alfa memutuskan untuk berpamitan dengan Alindya dan keluarganya. Hari sudah sangat malam, ditambah lagi Alfa datang menggunakan motor bukan mobil. Jadi ia harus pulang lebih awal. Takut terjadi sesuatu di jalan. Begitu ucapan mamanya, sesaat yang lalu saat berbincang melalui gadget milik bunda Alindya.


Sesampainya di rumah, Alfa langsung masuk ke dalam kamarnya, setelah menyapa kedua orang tuanya.


Alfa kemudian membuka laptop miliknya dan mulai mengamati sebuah file berisi foto-foto dirinya bersama Alindya. Foto yang dibidik sejak mereka masih berada di bangku Sekolah Dasar. Sampai foto-foto mereka sekarang. Foto terakhir diambil saat Alfa dan Alindya berada di pantai pekan lalu. Yah, saat Alindya menangis di pelukan Alfa.


Senyum terlukis begitu kentara di wajah rupawan Alfa. Kemudian ia mengirim foto-foto tersebut melalui aplikasi hijau kepada Alindya. Alindya memang meminta Alfa untuk mengirim ulang foto-foto mereka. Karena Alindya akan membuat hiasan polaroid dengan foto-foto mereka di kamarnya. Bukan tidak menyimpan, hanya saja Alindya ingin Alfa dan dirinya sama-sama melihat kenangan mereka itu malam ini. Dalam artian Alindya ingin supaya Alfa selalu mengingatnya.


Setelah selesai, Alfa memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di ranjang. Ia pun terlelap setelah itu. Hanyut bersama mimpi yang datang menghampirinya.


Keesokan harinya,

__ADS_1


Alindya keluar dari kamarnya dengan rapi. Hari ini Alindya memiliki janji bersama kelima temannya. Kayra, Freya, Naomi, Julie, dan Neysha. Mereka akan berjalan-jalan ke mall dan menonton bioskop.


Setelah sarapan, Alindya berpamitan dengan kedua orang tuanya. Hari ini ia mengajak Alfa untuk ikut serta. Jika tidak begitu, kedua orang tua Alindya tidak akan mengijinkan Alindya keluar. Padahal Alindya keluar bersama kelima temannya yang notabenya teman dekat Alindya. Alfa bagaikan bodyguard bagi Alindya di mata kedua orang tuanya. Sedangkan Di mata Alindya, Alfa itu partner sejatinya dalam segala hal.


Alfa dan Alindya hanya berencana untuk pergi bersama. Tetapi entah mengapa warna baju mereka sekan-akan mengisyaratkan bahwa mereka merencanakan itu semua. Ini kebetulan, begitu kiranya isi benak kedua sejoli ini.


Alfa memakai kemeja berwarna denim dan jeans hitam. Sementara Alindya memakai dress berwarna denim dengan tas selempang kulit berwarna hitam senada dengan flat shoes yang ia kenakan. Terakhir bagian rambut ia biarkan terurai seperti biasanya. Untungnya Alfa memakai mobil jika tidak Alindya ragu jikalau harus memakai motor dengan dress yang ia kenakan.


Setelah sampai di mall, Alindya menghampiri kelima temannya yang sedang nongkrong di salah satu cafe. Kelima teman Alindya menoleh serempak sembari melihat penuh kagum ke arah Alindya dan Alfa.


"Gila kalian mirip pasangan-pasangan di drama Korea." Celetuk Kayra dengan lantang.


"Kalian enggak ada niatan buat pacaran aja gitu." Ungkap Naomi dengan polosnya.


Alindya dan Alfa hanya diam sembari salah tingkah dengan penuturan teman-temannya itu.


"Kak Alfa kalau Alindya enggak mau. Kak Alfa sama Julie aja . Pasti Julie terima dengan lapang dada ko." Ungkap Julie membuat gelak tawa keenam orang di dekat radarnya tidak bisa dihindari.


"Bangun Jul, mana mau Kak Alfa sama elo." Ucap Naomi seenaknya sembari melempar tisu ke arah Julie.


Kemudian Alindya duduk, sedangkan Alfa sendiri pergi sebentar untuk memesan minuman chocolate kesukaan Alindya.


"Boy itu si Eneng kayanya." Ungkap Javas di sisi lain kafe kepada Reynaldi.


Sontak Rey mengalihkan pandangnya ke arah yang ditunjuk sahabatnya itu. Dan benar Alindya berada di sana bersama kelima temannya. Tengah berbincang sembari sesekali melempar canda dan tawa. Rey reflek berdiri kemudian hendak menghampiri Alindya. Tetapi langkah Rey tertahan saat sosok pria yang tidak asing datang menghampiri Alindya. Siapa lagi Jika bukan Alfarezi Kavindra. Alfa duduk disamping Alindya. Ia memberikan minuman kemudian tangannya mengacak-acak ujung rambut Alindya. Sesaat berikutnya mereka berdua tertawa dan tersenyum penuh arti.


Setelah berdiri cukup lama dan melihat pemandangan tidak mengenakan di hadapannya itu. Reynaldi memilih mundur dan berbalik kembali ke arah kedua sahabatnya. Sembari tangannya mengepal, tanda ada bara membara dalam dirinya.


Namun Rey berusaha bersikap biasa saja dan ia benar-benar berhasil mengontrol semua emosinya itu. Dia tidak berhak untuk saat ini. Gumam Rey pada diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2