PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
15. Tebak Soal


__ADS_3

"Lin ... !!!" Panggil seseorang dari arah pintu kantin.


Sontak Alindya dan Alfa menoleh ke arah sumber suara.


"Hay Ra ... " Sapa Alindya dan Alfa serempak.


"Aciee ... " Goda Clara.


"Apaan sih Ra !!" balas Alindya cepat.


"Iya canda doank Lin." Ujar Clara.


"Elo dari kantin Ra? Ngapain? " tanya Alfa.


"Biasa Kak, abis refreshing mata." Ungkap Clara sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Maksudnya?" tanya Alindya kebingungan sembari menatap Alfa dan Clara bergantian.


"Kalo menurut kamus seorang Clara Aretha, refreshing mata artinya ngeliat cogan Lin." Ujar Alfa memberi penjelasan.


"Belum insyaf juga Ra? Kak Marchel dikemanain? goda Alindya.


"Gue kantongin dulu." Celetuk Clara sembari berjalan meninggalkan Alfa dan Alindya yang masih mematung di tempatnya.


"Itu temen elo Lin?" Ujar Alfa memecah keheningan.


"Bukan temen gue Al, gue enggak kenal malahan." Ungkap Alindya.


"Owhhh." Ujar Alfa sembari manggut-manggut.


Mereka akhirnya memutuskan untuk membatalkan acara makan ke kantin. Karena Bunda Alindya menyuruh keduanya untuk segera pulang. Tidak, lebih tepatnya menyuruh Alfa agar datang ke rumah.


Alindya dan Alfa berjalan berdampingan meninggalkan halaman sekolah menuju parkiran, tempat motor Alfa diparkir. Mereka bercerita panjang lebar tentang ujian masing-masing hari ini. Sebenarnya alasan lain Alfa menyanggupi ajakan Bunda Alindya, yaitu karena Alfa ingin menepati janjinya. Membantu Alindya menyelesaikan tugas dari Pak Karyono yang terbengkalai tadi.


Sesampainya di parkiran, Alfa mengenakan helm di kepala Alindya seperti biasanya. Tanpa mereka sadari, Rey dan kedua sahabatnya sedang memperhatikan mereka dari kejauhan.


"Al mampir beli ice coklat dulu ya? Gue haus soalnya." Ungkap Alindya.


"Siapp." Jawab Alfa.


Mereka pun meninggalkan halaman parkir sekolahnya itu. Menuju area komplek tempat Alindya tinggal. Meninggalkan dua netra yang terus tertuju semakin fokus ke arah mereka, tanpa sedikitpun ingin berpaling.


"Boy ke Basecamp yuu !" Ujar Javas berusaha mengalihkan fokus Rey saat itu.


Rey langsung menyalakan motornya tanpa menjawab ajakan Javas itu. Javas dan Arjune hanya mengikuti Rey dari belakang. Memecah kemancetan jalan raya di sore hari.


"Gue bakal terus bertahan Lin." Ujar Rey dalam hati.


Sesampainya di basecamp Rey langsung turun kemudian duduk di tempat biasa dan mengambil gitarnya. Berbeda dengan cowok kebanyakan, Rey tidak pernah menyentuh yang namanya 'Rokok'. Yah, Reynaldi tidak menyukai aroma rokok. Jadi jikalau marah Atau kesal ia akan dengan cepat meredakan amarahnya dengan bermain gitar.


Fyi, Geng yang berada di bawah naungan Reynaldi bernama 'DEDRICK'. Sesuai dengan namanya geng ini berkuasa di daerah ini. Hampir seluruh anggota inti Dedrick adalah anak-anak dari kalangan atas. Tapi dari semuanya yang paling berpengaruh pastinya ketua mereka, Reynaldi Pratama.


Anggota lain menyadari komandannya itu dalam mood yang tidak baik. Jadi tidak ada satu pun anggota yang berani mengganggu Rey saat ini.


"Boy nanti malam jadi duel bareng geng sebelah?" ujar Arjune memecah keheningan.

__ADS_1


Anak-anak lain hanya diam menunggu jawaban komandannya itu.


"Jadi." Jawab Rey dengan singkat.


Mendengar respon Rey anak-anak lain tidak berani mengeluarkan suaranya lagi. Termasuk Arjune dan Javas yang berada di samping Rey.


Di lain sisi Alindya dan Alfa sudah sampai di rumah orang tua Alindya. Alindya langsung masuk ke dalam kamarnya untuk mengganti seragam sekolahnya dengan baju yang lebih santai. Sementara Alfa langsung berbincang-bincang dengan bunda dan ayah Alindya di ruang keluarga.


Setelah puas berbincang, mereka memutuskan untuk makan bersama begitupun Alindya yang sudah bergabung bersama mereka.


Suasana meja makan saat itu sangat riuh karena Alindya dan Alfa yang terus berargumen tanpa henti. Sementara ayah dan Bunda Alindya setia menjadi penonton dan pendengar yang baik.


Selesai makan, Alindya dan Alfa menepati ruang keluarga dan mulai mengerjakan apa yang mereka tunda sedari sore. Memasukan nilai ke buku nilai yang disediakan.


Berlanjut dengan belajar bersama. Karena esok adalah ujian terakhir mereka.


Alindya akan bertemu dengan hari-hari liburnya. Sementara Alfa, akan mulai memasuki ujian-ujian terakhirnya di Sekolah Menengah Pertama.


"Lin lempar soal ke gue nanti gantian-gantian gitu." Ujar Alfa.


"Yuuu, elo duluan Al." Ungkap Alindya.


"Ok, bebas kan ya?" ujar Alfa.


"Sesuai mapel ujian besok aja Al." Ungkap Alindya.


"Ok, dengerin baik-baik. Garam yang kita konsumsi pada umumnya berasal dari air laut. Petani garam di Madura memanfaatkan panas matahari untuk membuat garam. Proses pembuatan garam yang dilakukan petani tersebut dilakukan dengan teknik ....


A. evaporasi


B. filtrasi


D. kromatografi


Yang mana jawabannya Lin?" Tanya Alfa.


"A.Evaporasi Al. Pemisahan campuran dengan sistem evaporasi (penguapan) didasarkan pada mudah atau tidaknya suatu komponen menguap. Campuran yang terdiri atas zat terlarut mudah menguap dan zat terlarut yang tidak menguap dapat dipisahkan dengan cara penguapan.


Cara pemisahannya dengan memanaskan campuran tersebut pada suhu titik didih zat terlarut yang mudah menguap, sehingga zat terlarut terlebih dahulu menguap dan meninggalkan zat pelarutnya.


Benar enggak Al?" tanya Alindya.


"Siip." Ujar Alfa.


Alindya bersorak dengan riangnya.


"Okk giliran gue Lin." Ungkap Alfa.


"Ok, dengerin baik-baik Al. Besar sudut 3/4π rad sama dengan ⋯⋅⋯⋅


A. 75°


B. 105°


C. 135°

__ADS_1


D. 210°


Jawabannya apa Al?" tanya Alindya.


"Bentar gue cari dulu.


π rad\=180°


Dengan demikian,


3/4π rad \= 3/4 × 180°


\= 3/1 x 45°


\= 3 x 45°


\= 135°


Jadi, besar sudut 3/4π rad sama dengan 135°


Jawabannya C Lin, benar enggak?" Ungkap Alfa.


"Siip." Ungkap Alindya sembari menunjukan dua jempol tangannya ke arah Alfa.


Mereka akhirnya berlanjut, tanpa disadari jam sudah menunjukan pukul 20.30 malam.


"Ya ampun Lin, udah malem gue pulang dulu ya." Ungkap Alfa sembari membereskan buku-bukunya.


"Ok, hati-hati di jalannya ya Al." Ungkap Alindya.


Alfa hanya membalas dengan senyuman.


"Elo juga istirahat besok masih ada ujian Lin." Ujar Alfa.


"Siapp." Jawab Alindya.


Alfa akhirnya meninggalkan rumah Alindya setelah berpamitan dengan bunda dan ayah Alindya. Di tengah jalan Alfa menghentikan motornya karena gadgetnya yang tidak henti berdering.


'Reynaldi Pratama'


Setelah mengetahui dari siapa panggilan itu berasal, Alfa memutuskan untuk mengangkatnya.


_____________________________


"Halo Rey." Ungkap Alfa.


"Bisa ketemu???" Ujar Rey dari seberang sana.


"Elo di mana Rey?" tanya Alfa.


"JimBARan Lounge, Ayana MidPlaza. Elo tahu kan?" ujar Rey.


"Ok gue ke situ." Ungkap Alfa.


_____________________________

__ADS_1


Setelah membalas pesan singkat dari Reynaldi. Alfa memutuskan untuk memutar kemudi motor Suzuki GSX 150 hitam miliknya. Menuju tempat yang telah ia sepakati.


Malam ini bintang berjajar begitu gemerlap di atas sana. Rembulan juga tidak absen bertengger dengan angkuhnya. Semilir angin yang dingin menerpa tubuh kekar pemiliknya. Laju motor yang begitu cepat, seakan menandakan gejolak yang bersarang di tubuh pengendaranya.


__ADS_2