PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
23. Kebohongan Pertama


__ADS_3

Satu tahun sudah berlalu hubungan Alindya dan Reynaldi berjalan. Sejauh ini hanya ada kebahagiaan, perhatian, dan cinta yang masih terlihat murni adanya. Mungkin begitulah sebuah hubungan, fase awal akan selalu menyenangkan. Fase awal akan selalu banyak perjuangan dari masing-masing pihak.


Tetapi bukan sepenuhnya tanpa cela. Hanya salah satu pihak yang terus mencoba menutup mata. Menutup mata untuk setiap goresan kecil dan berharap kebersamaan terus terjalin hingga nanti. Masa depan itu sulit untuk ditebak dan harapan adalah awal buah kekecewaan. Kata orang satu cinta untuk dua insan itu cukup adanya. Kata orang mencintai itu harus juga menerima dua sisi yang ada pada masing-masing pelakunya.


Awalnya menggebu, tapi perlahan mulai ada luka yang semakin pilu terasa. Hari di mana ia menggores sebuah luka. Hari di mana ia mengubah sebuah kepercayaan menjadi kecurigaan yang tidak bertepi. Mengubah sebuah permadani indah menjadi bara yang terus menyala.


Yah, untuk pertama kalinya Alindya terluka karena sosok Reynaldi. Untuk pertama kalinya Alindya menangis menyesali harapan yang ia bangun dengan tingginya. Hubungan itu bisa jadi sebuah penyemangat namun bisa juga menjadi api yang membakar di setiap langkah.


Kecewa sudah pasti, terluka tidak perlu ditanya lagi. Tetapi mengakhiri hubungan, sungguh tidak terlintas sedetik pun dalam diri Alindya.


"Gue minta maaf Lin. Gue benar-benar minta maaf." Ucap Rey.


"Jelasin atuh." Ujar Alindya.


"Sally teman kecil gue. Sebelum ayahnya meninggal dia dititipin sama gue. Gue enggak mau ngingkarin itu."


"Tapi enggak harus elo prioritasin dia donk. Cewek elo itu gue atau dia Rey??" Ujar Alindya mulai menggebu.


Rey diam tanpa kata.


"Gue tahu Sally itu cinta pertama elo. Harusnya elo pikirin donk gimana perasaan gue kalau elo selalu prioritasin dia. Elo juga tahu Sally punya cowok dan cowoknya itu teman elo juga. Elo pikirin donk Rey gimana perasaan dia. Meskipun dia bilang enggak cemburu. Tapi dia sering curhat ke gue gimana cara elo perlakuin Sally, itu berlebihan Rey." Ujar Alindya semakin menggebu.


"Gue cuma jalan terus beliin dia ice cream, udah gitu doank."


"Tapi sering kan???"


"Emmm ... Gue minta maaf."


"Gara-gara sikap elo yang kaya gini kita berantem dan Sally sama cowoknya juga gitu. Kalau elo emang mau jalanin wasiat itu terserah elo. Tapi jangan keterlaluan gini donk."


"Iya gue minta maaf."


"Gue enggak yakin wasiat yang elo ucapin itu bener adanya." Ucap Alindya.


"Gue ..."


"Lupain aja gue enggak mau berantem lagi. Gue harap ini yang terakhir, gue pulang Rey."


"Gue anterin." Ucap Rey sembari menahan tangan Alindya.


"Gue bisa pulang sendiri."


"Tapi..."


"Satu lagi bilangin sama teman-teman elo, bukan gue yang ngambil waktu elo. Elo sendiri yang always datang dan ngabisin waktu bareng gue. Gue bukan orang yang ngerusak pertemanan kalian. Kalian sendiri yang lupa caranya memahami satu sama lain." Ujar Alindya kemudian pergi begitu saja.


Alindya dan Rey saat itu tengah berada di rumah Aldo, pacar Sally. Di sana ada teman kecil Reynaldi yang lainnya juga yaitu Sally, Aldo, Mita dan ziva. Pertemanan kelima orang ini sungguh mengganggu Alindya. Bagaimana tidak, mereka berteman sejak kecil tetapi fakta dari mereka berlima yang sulit diterima oleh Alindya.


Sally adalah mantan pertama Reynaldi sekaligus cinta pertamanya. Aldo adalah pacar Sally yang sekarang. Ziva sendiri adalah mantan Reynaldi yang ke lima. Dalam pertemanan kelimanya hanya Mita yang sepenuhnya tidak terlibat cinta bersilang itu.

__ADS_1


Reynaldi terlalu baik atau mungkin terlalu munafik. Untuk apa mengumpulan mantan dalam satu hubungan yang mereka sebut persahabatan.


Anehnya Rey selalu menyuruh Alindya Agar tidak berfikiran aneh-aneh tentang mereka, terutama Ziva dan Sally. Bodohnya Alindya mengiyakan permintaan Rey itu, padahal dalam hati kecilnya ada percikan bara yang bisa kapan saja menyala.


Masalah hari ini sungguh membuat Alindya ingin segera pulang dan mengakhiri semuanya. Menghabiskan waktu hanya untuk masalah yang tidak berarti. Sungguh membuat Alindya muak sendiri.


Bermula dari kebiasaan Rey yang selalu memprioritaskan Sally dari Alindya sendiri. Hingga curhatan Aldo kepada Alindya yang cemburu dengan kedekatan Rey dan Sally. Meski Alindya faham mengapa Aldo seperti itu. Tentu saja karena latar belakang hubungan mereka. Mereka tahu tapi tetap ada dalam circle aneh itu.


Hingga Sally yang menyalahkan Alindya karena Rey jarang berkumpul bersama mereka. Menurutnya waktu Rey berkurang karena hadirnya Alindya. Alindya ingin tertawa jika mendengar keluhan Sally. Padahal faktanya, Sally-lah prioritas Rey selama ini. Sally lah yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Rey ketimbang dengan Alindya.


Begitupun Mita dan Ziva yang ikut menyalakan Alindya. Padahal itu tidaklah sepenuhnya benar. Alindya tidak mau ambil pusing. Ia memilih pulang dan melupakan masalah itu meskipun hatinya terluka. Tetapi Alindya masih ingin bertahan dengan hubungannya itu.


Esok harinya,


Seperti biasa setelah bel tanda istirahat berdering Alindya melangkah menuju perpustakaan. Melewati Reynaldi yang tengah berkumpul dengan Javas dan Arjune. Masalah yang menimpah Alindya dan Rey sudah pasti diketahui oleh Javas dan Arjune. Kelima teman Alindya juga tahu semuanya. Alindya terus mengabaikan Rey berulang kali. Ia lebih memilih fokus dengan tugas-tugasnya. Masa bodoh untuk dunia percintaannya saat ini.


Alindya sungguh tidak pernah memahami jalan pikiran Reynaldi. Problem mereka sudah sangat jelas adanya. Bukanya mencari solusi dan sedikit menjauh dari Sally. Reynaldi malah terus-menerus menyuruh Alindya untuk memahami posisinya sekarang. Alindya Sampai dibuat muak mendengar permintaan Rey yang sangat menuntut itu.


Teman-teman Alindya bahkan sampai memberi arahan pada Rey tentang jalan keluar masalahnya itu. Mereka faham apa yang membuat Alindya bersikap demikian. Tapi Rey tetap kekeh pada pendiriannya bahwa tindakannya itu tidak kelewat batas.


Sampai di suatu titik Alindya benar-benar mengabaikan Rey sepenuhnya. Rey akhirnya memilih menjauh dari Sally dan berjanji pada Alindya untuk tidak lagi mengulangi kesalahannya itu. Dengan mudahnya Alindya memaafkan Rey, karena ia sendiri tidak tega mendiami Rey terlalu lama.


Alindya tahu Rey akan terus mengulang kembali kesalahannya itu. Alindya sedikit demi sedikit mulai memahami teka-teki dari sosok di hadapannya itu. Memahami bagaimana watak dan karakter Rey yang sebenarnya. Tetapi untuk kesekian kalinya Alindya memilih menutup mata atas cela yang ada dalam hubungan mereka.


"Apa elo baik-baik aja di sana???" ucap Alindya dalam hati.


Tanpa terasa waktu bergulir begitu cepat. Meninggalkan kenangan demi kenangan yang terpahat dengan begitu membekas.


Entah itu sebuah kebahagiaan ataupun tangis yang menderai. Selalu ada kata perpisahan setelah arti pertemuan itu sendiri usai. Ada yang terus bertahan tanpa peduli adanya jarak pembeda yang datang menerpa. Ada pula yang seakan ikut usai bersama berakhirnya suatu fase kebersamaan.


Entah jalan mana yang akan dipilih oleh masing-masing pemilik raga. Entah arah mana yang akan dituju oleh kaki yang lekas membawa harap. Dimana-pun dan apapun pilihannya, bahagia tetap menjadi puncak tertingginya.


Yah, hari kelulusan telah datang masanya. Alindya tahu ada harga yang harus dibayar setelah hadirnya sebuah tawa, perpisahannya misalnya. Alindya bersyukur sejauh ini Tuhan telah menciptakan alur hidup yang begitu memukau untuknya. Semuanya berjalan sesuai rencana. Nilai Alindya sangat memuaskan, bahkan ia menjadi salah satu lulusan terbaik dari angkatannya. Mungkin sebagian orang sudah menebaknya sedari awal.


Seharusnya hari ini Alindya menghadiri acara perpisahannya itu. Tetapi sayangnya ia harus terbaring lemas di nakas ini. Alindya tidak tahu harus bahagia atau bersedih dengan keadaannya. Di satu sisi ia ingin menghadiri acara yang tidak akan pernah terulang lagi. Di sisi lain tubuhnya menolak untuk bisa mengabulkan keinginannya itu.


Kemaren Alindya kembali masuk ke ruang rawat inap. Terakhir kali ia ke sini saat bersama sahabatnya dahulu. Ia masih ingat bagaimana laki-laki itu bereaksi saat dirinya terbaring tidak berdaya seperti sekarang ini. Hanya kenangan, hanya sebuah goresan masa lalu, hanya sebuah fase yang benar-benar membuat Alindya ingin kembali mengulangnya.


Entah sampai kapan tubuhnya lemah seperti ini. Alindya sungguh tidak ingin ini terjadi esok hari. Ia ingin bebas seperti yang lainnya. Alindya kembali sadar akan kenyataannya yang ada. Perlahan air mata itu mengalir dengan derasnya. Menahan sakit pada perut dan sesal karena tidak bisa berada di tengah-tengah moment terakhirnya bersama sahabat-sahabatnya.


Bunda Alindya memeluk Puteri kesayangannya itu dengan erat. Memberinya kekuatan untuk selalu bisa menahan sakitnya. Untuk selalu bisa berteman dengan semua takdir hidupnya. Perlahan Alindya mulai menerima keadaannya. Memahami bahwa sehat itu adalah segalanya. Ia akan berusaha untuk sembuh. Ini yang terakhir dan ia tidak ingin lagi kembali berkawan dengan tempat ini.


Reynaldi tentu saja tahu bagaimana keadaan Alindya. Ia bersikeras ingin menemani Alindya di rumah sakit hari ini. Tetapi Alindya menolaknya dan menyuruh Rey untuk hadir dalam acara itu. Alindya tidak mau Rey absen dari salah satu momen pentingnya.


Reynaldi akhirnya dengan Berat hati mengikuti kemauan Alindya.


Setelah acara selesai Rey datang menjenguk Alindya. Rey datang dengan membawa dua piala dan piagam milik Alindya. Yah, Alindya terpilih menjadi lulusan terbaik kedua dan Lulusan terbaik kedua dalam bidang matematika. Alindya bersyukur atas semua yang tuhan beri padanya. Bunda Alindya pun sangat bersyukur memiliki putri seperti Alindya.


Rey menghibur Alindya dengan mengajaknya berargumen tentang topik-topik tertentu. Alindya memang berbeda dengan gadis kebanyakan, ia lebih menyukai topik berat saat sedang dalam mood yang tidak baik. Lama kelamaan Alindya mulai melupakan keadaanya, meskipun sesaat. Saat Rey berpamitan untuk pulang Alindya kembali tersenyum dengan masamnya.

__ADS_1


Alindya sempat bertanya pada Rey setelah ini apa rencana Rey selanjutnya. Rey mengatakan bahwa ia tidak ingin melanjutkan pendidikannya dan lebih memilih ikut berbisnis dengan pamannya. Hal itu tentu saja mengharuskan Rey untuk ikut pamannya di kota Medan. Hal itu juga yang membuat Alindya sedikit kecewa dengan keputusan Rey.


Kembali pada dirinya sendiri, Alindya masih bingung harus melanjutkan atau ikut bunda dan ayahnya mengelola bisnis mereka. Terlebih membantu bundanya mengelola butik kesayangannya itu. Alindya mendapatkan tawaran beasiswa dari guru matematikanya. Untuk masuk ke jurusan tadris matematika di salah satu universitas negeri. Di sisi lain Alindya juga mendapat tawaran beasiswa dari kakak kelasnya dahulu, tentu saja jurusan yang ditawarkan adalah matematika.


Jujur Alindya belum yakin kalau passion-nya dalam bidang tersebut. Sejujurnya Alindya ingin fokus pada bidang lain yang membuatnya nyaman. Matematika memang bidang yang ia geluti dari dulu. Tapi semakin lama hati Alindya tidak berada dalam dunia itu.


Alindya selalu mengingat perkataan seseorang bahwa ia harus mencari sesuatu yang benar-benar membuatnya bahagia saat ia mengerjakan sesuatu itu. Bukan sebaliknya yang justru membuat dirinya tersiksa. Bukan sesuatu yang ia ikuti karena ucapan orang lain, tetapi sesuatu yang benar-benar berasal dari kemauan dalam hatinya.


Beberapa hari kemudian Alindya sudah keluar dari rumah sakit. Ia kembali menjalani aktivitas seperti biasanya. Begitupun Rey yang sudah berangkat ke Medan, ke rumah pamannya. Alindya sudah menetapkan pilihan bahwa ia tidak akan melanjutkan studinya. Ia belum menemukan passion yang ia mau. Bunda dan ayah Alindya menyetujui keputusan putri kesayangannya itu. Sekarang Alindya sibuk membantu bundanya mengelola butik mereka.


Satu Minggu kemudian, Alindya mendapat kabar dari temannya bahwa Rey sudah mendaftar di salah satu universitas swasta. Alindya terkejut karena Rey tidak memberitahu apapun pada dirinya. Alindya memilih diam dan menunggu Rey sendiri yang mengatakan hal demikian padanya.


Hingga tiba saat Rey menghubungi Alindya bahwa ia kembali dari Medan. Rey juga memberitahu Alindya Bahwa ia sudah mendaftar di salah satu universitas swasta. Rey bilang dalam satu Minggu kedepan ia akan sibuk dengan urusan Masa Orientasinya di universitas. Alindya memahami sepenuhnya keadaan Rey. Meski ia sendiri sedikit kecewa, ia adalah orang terakhir yang tahu jika Rey sudah mendaftar di universitas itu. Teman-teman satu angkatan sudah tahu terlebih dahulu. Tetapi Alindya tetap berfikir positif tentang Rey.


Jam menunjukan pukul 23.00 malam dan Alindya tidak bisa memejamkan matanya hingga detik itu. Sampai suara notif dari gadgetnya membuyarkan Alindya yang tengah berusaha keras agar bisa terlelap. Yah, notif itu berasal dari aplikasi hijau yang ada di gadget milik Alindya. Seseorang yang mengirimi Alindya pesan bukan lain adalah Reynaldi pratama.


Rey memberitahu Alindya bahwa besok ia akan memasuki hari pertamanya sebagai mahasiswa. Tetapi Rey bingung karena ia diharuskan masuk jam 06.00 pagi. Sementara MABA diwajibkan memakai dasi kupu-kupu hitam. Mustahil untuk mencarinya di tengah malam begini. Karena merasa kasihan Alindya akhirnya membuatkan dasi kupu-kupu hitam untuk Rey. Alindya memang pernah belajar sedikit dari bundanya.


Setelah selesai, Alindya memberitahu Rey untuk mampir ke rumahnya terlebih dahulu. Sebelum berangkat esok hari guna mengambil dasi itu. Sekalian melepas rindu karena setelah kabar Rey pulang dari Medan. Rey sama sekali belum menemui Alindya.


Paginya Rey datang sesuai janji mereka semalam. Setelah mengambil dasi nya Rey langsung pergi. Tidak sesuai ekspetasi Alindya. Rey biasa saja bahkan terkesan tidak sedikitpun merindukan Alindya. Alindya menghelai nafas dengan panjang, mencoba untuk terus berfikir positif.


Satu Minggu berlalu tetapi Rey tetap tidak menemui ataupun menghubungi Alindya. Terakhir Rey mengirim pesan bahwa ia kuliah dari hari Senin sampai Jumat. Sabtu dan Minggu Rey libur tetapi tidak bisa menemui Alindya. Karena harus mengantar adiknya ke suatu acara. Alindya memaklumi hal tersebut dan memilih menyibukkan diri di butik milik bundanya.


Semakin lama Alindya mulai merasa aneh dengan tingkah Rey. Rey melarang Alindya untuk berkunjung ke rumahnya. Katanya rumahnya sedang direnovasi dan alasan-alasan lainnya. Tanpa berfikir panjang hari itu alindya memilih berkunjung ke rumah Rey tanpa sepengetahuan dari Reynaldi.


Sesampainya di rumah Rey, Rey terkejut dengan kedatangan Alindya. Alindya hanya tersenyum dengan respon yang diberikan Rey. Ditambah lagi ternyata di rumah Rey sedang tidak ada renovasi apapun seperti yang dikatakan Rey kepadanya.


Alindya memilih duduk bermain bersama adik laki-laki Reynaldi, Aryasatya Raditya. Rey sendiri beranjak pergi karena harus ke kamar mandi. Di saat bersamaan ternyata gadget Rey tertinggal di meja dekat Alindya duduk. Karena penasaran Alindya memilih membuka gadget milik Rey itu. Alindya kembali terkejut karena password gadget Rey sudah diubah.


Biasanya Rey akan menggunakan tanggal lahir Alindya atau tanggal jadian mereka. Alindya juga sudah mencoba dengan tanggal kelahiran adik Rey, dan tanggal-tanggal lain yang Alindya tahu tapi hasilnya nihil. Alindya mengerutkan keningnya saat Arya memasukan password di gadget milik Rey. Tanggal apa ini ?? Kapan Rey mengubah password-nya dan apa maksud semuanya? Begitu kiranya otak Alindya bekerja saat itu juga.


Saat melihat wallpaper dan galery Rey, Alindya dibuat semakin bingung. Selama dua tahun hubungan mereka baru kali ini Alindya melihat wallpaper dan password Rey bukan sesuatu mengenai dirinya. Galery Rey juga bukan lagi didominasi foto mereka. Bahkan foto Alindya hanya ada beberapa saja. Rey datang dari arah pintu secara tiba-tiba dan Alindya dengan cepat menutup gadget milik Rey.


Alindya memberanikan diri untuk bertanya perihal password gadget Rey itu. Dengan santai Rey menjawab bahwa ia mengganti password nya karena Arya selalu diam-diam membuka gadgetnya. Dan soal tanggal itu Rey hanya acak saja. Alindya mengangguk mendengar jawaban dari Reynaldi.


Ia kemudian meminta ijin untuk membuka gadget milik Rey. Rey mengiyakan dengan ragu-ragu dan Alindya diam seketika setelah selesai membuka gadget milik Rey.


Chattingan Rey didominasi dengan nama cewek dan Alindya tidak mengenal satupun. Rey hanya berkata bahwa mereka adalah teman satu kelasnya yang baru. Padahal setiap kali Alindya menghubungi Rey ia akan menjawab bahwa ia sibuk dengan tugas kuliahnya.


Satu lagi yang membuat Alindya ingin menangis. Di dalam gadget milik Rey terdapat video Rey bersama Mita di pantai dan Alindya melihat watermark yang menunjukan tanggal Sabtu kemaren. Saat di mana Rey bilang bahwa ia pergi menemani Arya ke sebuah acara.


Alindya tidak memberitahu Rey perihal video yang ia lihat. Alindya tahu hanya ada omong kosong yang akan Rey beri padanya. Alindya memilih untuk segera pulang.


Alindya berusaha untuk memahami Rey yang baru menyabet gelar mahasiswa itu. Mungkin ia tengah menikmati dunia barunya dengan orang-orang baru.


Perihal video, Alindya mencoba berfikir positif dan memaafkan keadaan Rey. Rey bilang dia hanya bosan makannya ia pergi bersama Mita. Padahal bukankah Alindya juga di rumah?? Alindya hanya tersenyum saat Rey mengatakan semua itu.


"Apa kita pernah benar-benar saling mencintai??" Batin Alindya dengan semirik di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2