
"Elo mau pegang janji itu buat gue kan Rey??"
"Gue pasti pegang janji gue. Tapi tunggu ... Maksudnya gimana?? Elo terima gue sekarang???" tanya Rey kebingungan dengan mata yang membulat sempurna.
Alindya terdiam beberapa saat sembari matanya tertuju lurus ke arah depan. Entah apa yang tengah bersarang di benaknya. Sesuatu yang mungkin hanya dia dan seseorang yang tahu maknanya. Bergejolak rasa tidak pernah bisa untuk Alindya jabarkan. Ingin rasanya berbagi sesuatu tapi sayang, tidak ada tempat untuk mencurahkan rasanya.
Kini hanya ada satu sosok di sampingnya. Alindya berharap, sosok ini akan menjadi tempat dimana ia akan menemukan jawaban dari teka-teki dalam hidupnya. Teka-teki yang entah di mana berlabuhnya. Teka-teki yang bahagia menjadi harapan dari jawabnya.
"Maaf kalau suatu hari nanti gue enggak sesuai sama harapan elo Rey." Ucap Alindya sembari menatap kedua netra milik Rey.
Senyum terpampang dengan jelas di wajah Rey saat ini. Bahagia? Sudah pasti, tetapi Rey merasa ada keanehan dari gadis di depannya ini. Rey hanya bisa berharap hubungan yang kini ia jalin kelak bisa mengukir bahagia. Gadis yang selama ini ia idam-idamkan kini benar-benar menjadi miliknya. Gadis yang selalu membuatnya patah dan senang di saat bersamaan. Kini benar-benar membalas rasanya.
"Makasih dan maaf Lin."
"Maaf buat apa Rey?"
"Maaf karena gue terlalu sayang sama elo." Goda Rey.
"Apaan sih Rey." Ucap Alindya sembari menyembunyikan wajahnya yang sudah merah merona.
"Gue beneran sayang banget sama elo Lin." Ucap Rey sembari mengacak-acak rambut Alindya saking gemasnya.
"Makasih atuh."
"Ini buat elo." Ucap Rey sembari menyodorkan cokelat ke tangan Alindya.
"Buat gue?"
"Buat bunda elo."
"Ha????"
"Buat elo lah Lin."
"Makasih."
"Pulang yu nanti calon mertua gue nyariin."
"Rey!!!!!"
"Canda Lin✌️✌️."
Rey akhirnya mengantar Alindya pulang, karena hari memang sudah mulai petang. Ditambah lagi ia juga sudah selesai dengan semua kegiatannya di universitas ini. Tinggal menunggu pengumuman pemenang dalam lomba kali ini. Tetapi, karena suasana hatinya sedang baik dan itu karena gadis di sampingnya. Rey memutuskan untuk pulang dan menunggu pengumuman itu lewat group milik eskulnya. Ia yakin seratus persen group itu akan ramai nanti malam.
****
Kini Alindya tengah berada di kamarnya. Duduk sembari menatap sebuah boneka beruang kecil dihadapannya.
"Gimana kabar elo?" ucap Alindya sayu kemudian ia tersenyum masam.
Senyum yang entah apa maknanya. Bagi Alindya hanya itu yang bisa ia lakukan saat ini. Alindya selalu bersyukur atas jalan takdir yang ia punya. Meskipun ia tidak tahu akan kemana arah semesta membawanya.
Ia meletakan kembali boneka beruang itu di dalam sebuah kotak berwarna biru. Kotak yang ia simpan tepat di atas rak tempat buku-bukunya berderet dengan rapi.
Alindya memutuskan untuk membaca sebuah novel sebelum ia beranjak tidur malam ini. Novel yang ia dapat sebagai hadiah dari seseorang. Kebiasaan yang sedari kecil selalu Alindya lakukan. Baginya buku adalah pengantar tidurnya.
Setelah puas membaca, Alindya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Senyum terlukis kembali di wajah manisnya. Mengingat sosok Rey yang kini selalu mengganggu pikirannya. Alindya masih ingat saat pertama kali melihat Rey. Yah, saat ia tidak sengaja kedapatan memperhatikan cowok itu dari kejauhan. Saat di mana Alindya tengah bersama sahabatnya kala itu, Clara Aretha. Saat di mana pertama kalinya Alindya menginjaki perannya sebagai murid Sekolah Menengah Pertama.
Alindya juga masih ingat, saat di mana Rey basah kuyup akibat guyuran hujan. Kemudian ia yang mengajari Rey mata pelajaran matematika sepulang sekolah, manis dan begitu berkesan.
Di lain sisi, Rey tengah duduk melamun di teras rumahnya. Gitar kesayangannya tidak luput dari genggaman tangannya. Senyum kembali terlukis begitu hangat di paras tampannya. Mengingat kembali saat-saat di mana ia berjuang menyampaikan rasanya. Masa di mana ia bergelut dengan ribuan keraguan atas gadisnya.
Rey tidak menyangka gadis itu kini benar-benar menjadi miliknya. Tangannya kembali memainkan senar pada gitar kesayangannya itu. Selang beberapa petikan ia sontak membuka sebuah foto pada gadget yang berada tepat di sampingnya. Terlihat jelas sebuah foto yang seketika membuat Rey seakan terbang ke awan. Yah, foto dirinya bersama Alindya. Foto yang ia bidik tepat sore tadi ketika ia bersama Alindya.
"Gue sayang elo Lin." Ucapnya penuh kebahagiaan.
Ponsel Rey tiba-tiba berdering dan menampilkan sebuah notifikasi. Tepatnya notifikasi dari salah satu group di aplikasi hijau miliknya. Group yang dinaungi oleh dirinya dan dua sahabatnya, Sauqi Arjune dan Javas Athaya.
_____________________________
[GROUP]
Dedrick's Core
Anda, Javas Athaya, Sauqi Arjune
Sauqi Arjune
Acieee yang baru jadian!!!
^^^Javas Athaya^^^
^^^Udah enggak digantung lagi ceritanya boy🙈^^^
Sauqi Arjune
Jemuran kali ya digantung😂
^^^Javas Athaya^^^
^^^@Reynaldi Pratama diem-diem Bae^^^
Sauqi Arjune
Ngopi-ngopi
^^^Javas Athaya^^^
^^^Ngopi sambil lihat Si Eneng yang manis wkwkwk🤣^^^
Reynaldi Pratama
Udah pada minum obat??
^^^Sauqi Arjune^^^
^^^La moda ok lah Boy😜^^^
__ADS_1
Javas Athaya
La moda menanti kedatanganmu Boy!!
^^^Reynaldi Pratama^^^
^^^Atur aja!!^^^
Javas Athaya
Asiappp
^^^Sauqi Arjune^^^
^^^Boy emang The best 😘😘^^^
Reynaldi Pratama
Jijik gue bacanya @Sauqi Arjune🤮
^^^Javas Athaya^^^
^^^Wkwkwk^^^
Sauqi Arjune
✌️✌️
_____________________________
Rey memutuskan untuk mengabaikan pesan dari teman-temannya. Ia yakin kedua pengawalnya itu pasti akan lebih tidak terkendali lagi arah topik pembicaraannya. Apalagi menyangkut sesuatu yang berhubungan dengan 'Traktiran'. Rey beralih mengetikan sebuah pesan pada kontak bernamakan 'Amour'.
____________________________
Reynaldi Pratama
Good night 💓💓
Amour
Good Night too
____________________________
Setelah itu Rey kembali ke kamarnya. Bersiap untuk menyambut mimpi indahnya malam ini. Berharap esok segera menyapanya. Baginya, kini mentari tidaklah seredup dahulu. Dunianya kini berubah menjadi indah dan ia kembali bergairah menjalani hari-harinya lagi.
(Di lain tempat)
"Gue harap elo bahagia Lin." Ucap Arjune penuh arti sembari meletakan gadget miliknya di samping tempat tidur.
...Terimakasih telah bersediah bersama...
...Meniti tangga demi tangga tanpa pernah merasa lelah.'...
..._Alindya Sheila Puteri_...
Berbeda dengan Alindya yang duduk dengan santainya. Kabar tadi seakan sudah biasa ia dengar. Guru matematikanya ini memang suka sekali memberi kejutan.
Untungnya Alindya menguasai materi pada ujian harian kali ini. Jadi ia bisa tenang dan tidak perlu repot-repot menyiapkan contekan seperti yang tengah dilakukan oleh teman-temannya. Tidak terkecuali Julie, Kayra, Neysha, Freya dan Naomi.
"Lin gue duduk di belakang elo ya Please". Ujar Freya.
"Nanti bagi jawabannya ya Lin." Ucap Naomi memelas.
"Aduh abis gue belum belajar lagi." Ungkap Kayra dramatis.
"Elo kan baik ya Lin, berbagi ilmu ke kita-kita enggak papalah. Dapat banyak pahala lohh Lin". Ujar Neysha.
Alindya hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.
Tiba-tiba seseorang masuk dan dengan serempak seluruh siswa kembali ke tempat duduknya masing-masing. Orang itu sudah pasti guru matematika mereka, Pak Karyono.
"Sudah siap buat ujiannya anak-anak?" tanya Pak Karyono dengan senyum khasnya.
"Sudah pak." Celetuk salah seorang siswa.
Sontak saja semua yang berada di kelas memberi tatapan sinis pada siswa tersebut.
"Tadi kan bapak udah ngasih waktu 30 menit buat ngulang materinya, masa iya belum siap juga." Ujar Pak Karyono.
"Siap ko pak siapp." Ungkap Julie dengan polosnya.
"Intinya siap enggak siap harus siapp pak." Ujar siswi lain.
"Siipp, kalau gitu Alindya kamu pindah duduk di depan ya." Ujar Pak Karyono.
"Baik pak." Ungkap Alindya.
"Nasib gue gimana Lin?" bisik Freya.
Alindya hanya mengangkat kedua pundaknya. Ia kemudian merapikan alat tulisnya dan pindah ke kursi paling depan.
Selang 15 menit Alindya sudah selesai dengan soal-soal di tangannya. Ia kemudian beranjak dan menyerahkan kertas ujian miliknya kepada Pak Karyono.
"Udah selesai Lin?" tanya Pak Karyono.
"Udah pak." Jawab Alindya sembari tersenyum.
"Ok kamu bisa keluar sekarang." Ungkap Pak Karyono sembari tersenyum.
"Lin elo ngerjain soal apa cuman nulis nama? Cepet amat." Celetuk Julie yang mulai frustasi dengan soal-soal ditangannya.
Semua murid dibuat tertawa detik itu juga oleh tingkah Julie yang mulai putus asa. Sementara Alindya melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kelasnya itu. Sebelum keluar Alindya sempat menoleh ke arah Rey. Rey menyadari hal tesebut dan melempar seulas senyuman balik ke arah Alindya.
"That's my girlfriend." Ucap Rey bangga dengan suara yang sangat kecil.
__ADS_1
"Iya gue tahu boy." Ujar Javas yang saat itu berada tepat di samping Rey.
"Nyamber aja elo kaya petir." Ucap Rey.
Javas hanya terkekeh sembari menulis jawaban yang bisa dibilang tidak berarah di kertas ujiannya.
Sementara itu Alindya memutuskan untuk duduk tepat di depan kelasnya. Guna menunggu anak-anak lain menyelesaikan ujiannya. Alindya memilih membuka sebuah kertas yang berisi materi dari club matematika yang ia ikuti. Memahami soal demi soal latihan yang juga tertera di sana.
A. Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV)
Jika x dan y adalah solusi dari sistem persamaan 4x + y \= 9 dan x + 4y \= 6, maka nilai 2x + 3y.
A. 6
B. 7
C. 8
D. 9
E. 10
Penyelesaian
Diketahui : 4x + y \= 9 ....... Pers.1
x + 4y \= 6 ....... Pers. 2
Ditanyakan : Nilai 2x + 3y \= ?
Jawab
Untuk mendapatka nilai x, eliminasi persamaan (1) dan (2)
4x + y \= 9 | X4 |\= 16x + 4y\= 36
x + 4y \= 6 | X1 |\= x + 4y \= 6
Maka (16x - x) + (4y - 4y) \= (36 - 6)
15x \= 30
X \= 30 ÷15
X \= 2
Untuk mendapatkan nilai y substitusikan nilai x \= 2 ke pers (1)
~ 4x + y \= 9
4(2) + y \= 9
8 + y \= 9
Y \= 9 - 8
Y \= 1
Jadi Nilai 2x + 3y \= 2(2) + 3(1)
\= 4 + 3
\= 7
"Jawabannya B." Ungkap Alindya kegirangan setelah menyelesaikan satu soal latihan di kertas tersebut.
Hingga suara dari dalam kelas menghentikan kegiatannya. Yah, suara siapa lagi kalau bukan guru matematikanya. Beliau menyuruh Alindya masuk karena semua murid sudah selesai dengan ujiannya. Alindya kembali tersenyum riang ketika melihat hasil ujian yang langsung diumumkan saat itu juga. Nilai sempurna?? Sudah pasti, bukan Alindya namanya jika tidak bisa menyelesaikan soal dengan baik dan perfect.
Sedangkan Rey?? Mungkin kali ini ia sedikit beruntung. Karena nilainya berhasil lolos pada ujian harian kali ini.
Setelah bel tanda istirahat berdering, seluruh murid akhirnya bergegas menuju tempat favorit mereka, kantin sekolah. Alindya kembali ditemani kelima temannya menuju kantin sekedar untuk membeli minuman. Tanpa Alindya sadari Rey dan kedua sahabatnya setia mengekor di belakang mereka.
Di tengah jalan, sosok Clara muncul dari balik pintu kelasnya secara tiba-tiba. Sontak saja Alindya dan kelima temannya terkejut. Dengan spontan Julie memukul bahu Clara dengan buku yang ia pegang. Clara hanya terkekeh tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Lin bantuin soal ini donk." Ucap Clara memelas.
"Parah elo Ra hampir aja gue jantungan." Ujar Freya.
"Dasar lebay." Jawab Clara dengan entengnya.
Alindya mengambil soal yang dibawah oleh Clara. Ia menjelaskan langkah demi langkah jawaban dari soal tersebut kepada Clara. Kelima teman Alindya hanya mengangguk. Entah itu tanda mengerti atau mungkin hanya sebuah respon spontan dari mereka. Setelah selesai, Clara akhirnya memutuskan ikut serta menuju kantin bersama Alindya dan teman-temannya itu.
"Gila si Eneng otaknya." Celetuk Arjune kagum.
"Makan apa ya dia??" ucap Javas.
"Nasi-lah." Jawab Rey.
"Ya kita kita pada juga tahu boy." Ucap Arjun.
"Enggak salahkan jawaban gue?" tanya Rey.
"Tahu ahhh gelap." Ujar Arjun.
"Gue salah ya?" tanya Rey sengaja membuat dua temannya naik pitam.
Arjun dan Javas memilih mengabaikan pertanyaan tersebut. Kemudian mereka berjalan meninggalkan Rey sendirian. Rey tertawa dengan girangnya melihat respon kedua temannya itu.
__ADS_1