PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
21. For You


__ADS_3

...'Aku mencintaimu dengan sederhana...


...Membuatmu nyaman tanpa rasa kekang adanya...


...Melukis senyum kala kita berdua...


...Tanpa pernah ingin melihatmu terluka...


...Aku mencintaimu dengan sederhana...


...Tanpa ingin untuk dibalas yang sama...


...Membuatmu mengerti arti ketulusan yang sesungguhnya...


...Aku mencintaimu dengan sederhana...


...Memintamu dalam tiap do'a...


...Agar selalu tetap bersama sampai kita menua.'...


..._Alindya Sheila Puteri_...


"Weekend besok bisa keluar bareng gue kan Lin?" ucap Rey.


"Emang mau kemana Rey?"


"Ada deh."


"Okk deh, tapi ijin ke bunda dulu. Nanti gue kabarin lagi bisa enggaknya."


"Okkk, pasti diijinin kan gue calon menantu idaman bunda elo."


"Apaan sih Rey." Ucap Alindya sembari menyembunyikan seulas senyumannya.


Mereka tengah duduk di sebuah cafe selepas pulang dari sekolah. Yah, kebiasaan baru sejak Alindya menjalin hubungan dengan Rey. Tidak, lebih tepatnya sejak awal Rey mendekati Alindya. Ia sering mengajak Alindya entah sekedar ke cafe ataupun berkeliling selepas kegiatan sekolah usai.


Sejujurnya Alindya sedikit keberatan dengan kebiasaan Rey itu. Tetapi, karena merasa tidak ingin mengecewakan Rey. Ia pun memilih mengikuti saja kemauan Rey itu. Alasannya sudah pasti karena Alindya sedari kecil selalu tepat waktu untuk pulang ke rumah. Kegiatan di sekolah tentu membuat tubuh Alindya sedikit kelelahan. Ditambah lagi jika ada eskul di hari itu dan Alindya harus tetap mengikuti kemauan Rey yang bisa dikatakan tidak bisa diubah.


Alindya pernah mengungkapkan semua keluh kesahnya itu kepada Rey. Rey memaklumi dan mulai meninggalkan kebiasaannya. Tetapi anehnya, itu hanya berlangsung tiga atau yang paling lama satu minggu. Setelah itu Rey kembali melakukan kebiasaannya. Sulit memang mengubah kebiasaan seorang Reynaldi Pratama.


Alasan Rey sendiri sebenarnya ingin selalu dekat dengan Alindya. Keluarga Rey memang jarang sekali berkumpul. Bisa dibilang sepulang sekolah pasti hanya ada pembantu saja di rumah. Ayah dan ibu Rey masing-masing sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan adik lelaki Rey, terbiasa dengan babysitter yang dipekerjakan oleh orang tua mereka. Bisa dibilang Rey itu kesepian, jadi karena itu Alindya mau begitu saja mengikuti kemauan Rey.


"Hey ko ngelamun?" tanya Rey membuyarkan lamunan Alindya.


"Ahh iya, gue harus pulang cepat soalnya tugas dari club belum gue kerjain." Ucap Alindya jujur.


"Karena itu elo ngelamun dari tadi Lin?"


"Capek juga tadi abis latihan eskul KIR."


"Maaf ya Lin, kita pulang sekarang okk??"


"Maaf buat apa Rey?"


"Pokoknya kita pulang sekarang." Ucap Rey lembut sembari beranjak dari tempat duduknya.


Alindya hanya mengikuti dari belakang. Menuju parkiran tempat motor Honda CB150 Verza hitam milik Rey terparkir.


Sesampainya di depan rumah Alindya. Rey melepas helm yang berada di kepala Alindya. Kemudian ia membelai rambut Alindya dengan lembut.

__ADS_1


"Jangan lupa makan, kerjain tugasnya terus istirahat." Ucap Rey.


"Siapp atuhh." Ucap Alindya sembari tersenyum manis.


"Besok gue jemput jam 10 pagi. Sarapan dulu, jangan kebiasaan ngelewatin jam makan. Nanti maag elo kambuh lagi Lin." Ucap Rey panjang lebar.


"Iya ... Iya atuh Aa." Ucap Alindya reflek.


"Ciee manggilnya." Ucap Rey sembari mengedipkan sebelah matanya.


"Maaf reflek." Ujar Alindya sembari terkekeh.


"Enggak papa panggil gitu juga malahan gue seneng." Ucap Rey.


"Nanti gue pikir-pikir dulu deh." Ujar Alindya sembari beranjak pergi meninggalkan Rey begitu saja.


"Gue ikhlas ko Lin." Ucap Rey dengan suara keras karena Alindya sudah berlari kecil masuk ke dalam rumahnya.


"Manis." Ucap Rey lagi sembari tersenyum.


Ia kemudian menghidupkan kembali mesin kendaraannya itu dan segera bergegas pergi. Hilang di balik gelapnya malam, diiringi sayup angin yang berdesir dengan lembutnya.


Di lain sisi tepatnya diibalik jendela rumahnya, Alindya tersenyum. Masih setia melihat kepergian seseorang yang kini ia sayangi itu.


"Hati-hati di jalannya a." Ucap Alindya tulus.


Keesokan harinya,


Alindya tengah bersiap-siap untuk pergi menepati janjinya dengan Rey. Dress abu-abu selutut menghiasi tubuh mungilnya. Ditambah sepatu flatshoes berwarna hitam dan tas yang senada. Rambutnya ia biarkan terurai seperti biasanya.


"Anak bunda cantik banget, mau kemana sih?" tanya bunda Lilis yang baru saja memasuki kamar Alindya.


"Kapan? bunda enggak ingat tu." Goda Bunda Lilis.


"Bun...!!" rajuk Alindya.


"Iya deh iya bunda ingat ko nak. Pulangnya jangan malam-malam okkk?" ucap Bunda Lilis lembut.


"Siapp Bunda."


Bersamaan dengan itu terdengar suara mesin kendaraan di halaman depan rumah. Yah, suara mesin itu berasal dari mobil milik Rey yang sudah tiba di depan rumah Alindya. Dengan segera Alindya beranjak turun dan tidak lupa menggandeng tangan bundanya. Bunda Alindya sendiri hanya tersenyum melihat tingkah putri semata wayangnya itu.


Sesampainya di halaman depan, Alindya dan bunda Lilis menyambut kedatangan Rey dengan penuh kehangatan. Setelah puas berbincang-bincang dan berpamitan. Rey dan Alindya memutuskan untuk segera beranjak pergi.


"Kita mau kemana a?" tanya Alindya ketika mereka sudah berada di dalam mobil.


"Gitu donk manggilnya kan enak didengarnya." Goda Rey.


"Ihh serius mau kemana?" tanya Alindya lagi.


"Rahasia."


Alindya hanya memanyunkan bibirnya sembari meletakan kedua tangannya di depan dada. Rey mulai gemas dengan tingkah Alindya. Ia mengacak-acak rambut Alindya dengan lembut kemudian membelai pipi Alindya dengan penuh kasih sayang.


"Jangan ngambek donk." Ujar Rey.


"Emmm" Jawab Alindya.


Bersamaan dengan itu mobil Rey sudah sampai di tempat tujuan mereka.

__ADS_1


"Udah sampai yu turun." Ucap Rey.


Alindya keheranan melihat tempat yang saat ini ia kunjungi. Yah, tempat yang sama yang dulu Alindya kunjungi bersama sahabat baiknya. Saat di mana sahabat baiknya itu memberikannya buku diary. Buku yang kini sudah kembali bersama pemiliknya lagi. Pemilik yang kini entah bagaimana kabar dan kehidupannya di sana.


"Rey ngapain kita ke sini?"


"Kenapa ada yang aneh sama tempatnya?"


"Enggak ko." Ujar Alindya berbohong.


"Pernah ke sini bareng dia?" Ucap Rey tepat sasaran dan sukses membuat Alindya bungkam seketika.


"Emmm" Ujar Alindya singkat.


"Mau pindah tempat?"


"Enggak usah Rey."


"Okk Kalau gitu."


Raut wajah Rey berubah seketika. Alindya menyadari hal tersebut dan mulai mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Aa ngajak ke sini mau ngapain atuh?" tanya Alindya.


"Ahh iya, tunggu di sini bentar ya." Ujar Rey teringat akan sesuatu.


Alindya memutuskan untuk duduk sembari menunggu Rey. Melihat keindahan pantai dan desiran ombak dari balik sebuah resto. Selang beberapa menit, tiba-tiba seseorang datang dan menyodorkan sebuah kotak besar ke arah Alindya.


"Ini apa?" tanya Alindya.


"Buka aja." Ucap Rey.


Alindya mulai membuka kotak tersebut. Yah, kotak itu berisi sebuah boneka beruang berwarna cokelat dengan ukuran sedang.


"Dalam rangka?" tanya Alindya bingung.


"Happy birthday to you my dear." Ucap Rey.


"Ultah gue kan besok atuh Aa." Ujar Alindya.


"Gue tahu." Ucap Rey.


"Terus??" tanya Alindya kebingungan.


"Gue mau jadi orang pertama yang ngucapin." Ucap Rey.


"Kan bisa nanti malam." Ujar Alindya mulai gemas.


"Enggak, nanti keduluan bunda sama ayah elo." Ujar Rey.


"Ha?? Enggak mau saingan sama bunda dan ayah gue gitu??" ujar Alindya takjub dengan alasan cowok di depannya itu.


"Yapsss." Ucap Rey dengan bangga.


Alindya hanya geleng-geleng dan tidak bisa menebak isi pikiran cowok bernamakan Reynaldi pratama.


"Masyaallah anak orang." Ucap Alindya lirih sembari menatap boneka yang berada di tangannya.


Sedangkan Rey hanya tertawa puas melihat Alindya berbicara absurd dengan boneka pemberiannya itu.

__ADS_1


__ADS_2