PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
27. Everything About Time


__ADS_3

...'Kemaren saat kau pergi ...


...Aku membenci diriku karena tak bisa melupakannya...


...Saat kau hanya berucap maaf...


...Aku menyesal karena tak bisa melepasmu seutuhnya...


...Saat kau menyuruhku memilih yang lain...


...Aku merasa bodoh karena masih berharap kau berbalik padaku...


...Aku memang pernah sebegitunya mencintaimu ...


...Seiring berjalannya waktu,...


...Kenangan tentang kita tak lagi utuh...


...Perlahan wajahmu memudar dari ingatan...


...Ada harap......


...Agar selamanya tak lagi bersua...


...Aku mulai menyadari satu hal...


...Kau bukan lagi penghuni hati...


...Bukan lagi tujuan yang ingin ku raih...


...Kau hanya orang asing...


...Yang pernah datang di satu masa kehidupan...


...Kini aku mengerti arti mengikhlaskan...


...Mengerti bahwa ada hal yang tak bisa termiliki...


...Dan bahagia karena pernah menjadi alasan orang yang kucintai bahagia.'...


..._Alindya Sheila Puteri_...


16 Mei 2021,


"Gue bakal nemuin elo lagi saat usia kita udah sama-sama dewasa."


"Buat?"


"Gue bakal jadiin elo ratu gue."


"Gue enggak percaya ada cowok yang bisa nepatin janjinya dalam waktu selama itu."


"Elo mau taruhan??"


"Kenapa enggak."


"Ingat ini 27 lebih 3 bulan."


"Apa itu???"


"Usia gue 27 tahun lebih 3 bulan gue bakal nemuin elo lagi."


"Lama banget keburu tua donk."


"Enggak lah."


"Terserah elo deh Rey."


Candaan manis yang masih Alindya ingat dengan jelas. Entah itu hanya sebuah lelucon  belaka atau mungkin sebuah kata penuh makna. Intinya Alindya mempercayainya sampai 60%, mungkin. Tapi seiring berjalannya waktu Alindya tidak lagi menganggap itu sebuah janji, melainkan hanya rangkaian kata yang tidak berarti. Pertemuannya dengan seseorang yang pernah memberi warna dihidupnya itu hanyalah sebuah masa lalu. Ingatan demi ingatan mulai ia simpan di ruangan pengelupaan. Tidak ada yang tersisa selain lara yang terus membabi buta.


Perjalannya kini hanya berfokus pada diri sendiri dan orang-orang terkasihnya. Gadis yang dulu hidup dengan ribuan tawa. Kini tawa yang seakan-akan membuatnya tetap hidup. Gadis yang dulu penuh dengan perhatian. Kini hidup sendirian dalam ruang penantian yang kabur.  


Gadis itu bahkan berlari ke tempat dimana ia tidak bisa melihat seseorang  yang tak ingin ia temui lagi.

__ADS_1


Alindya tersenyum masam ketika ingatan itu kembali berputar. Hingga langkah kaki mengalihkan fokusnya yang tengah sibuk dengan tumpukkan buku di hadapannya.


"Nak ada Zidan di depan." Ucap bunda Lilis Hermawan.


"Iya bunda."


Sesampainya di teras Alindya mulai melihat punggung lebar yang kini tengah fokus menatap langit malam. Entah sudah berapa lama Alindya berada di kota ini lagi. Kota yang mungkin ia jadikan sebagai pelarian. Selama itu pula hanya Zidan satu-satunya teman yang ia punya. Bukan tidak mudah bergaul, hanya saja Alindya mulai membatasi diri sejak kejadian silamnya itu berlalu.


"Ngeliatin apa sih?"


"Langitnya cerah kaya senyum elo."


"Jijik gue dengernya Zi."


"Canda doank."


"Btw tumben ke sini malam-malam kenapa??"


"Jadi gue enggak boleh kesini kalau malam??"


"Enggak gitu juga Zi."


"Gue besok ke kota X elo mau ikut?"


"Enggak."


"Yakin??"


"Iya, lagian ngapain sih ke sana lagi?"


"Gue ada urusan penting Lin."


"Ya udah hati-hati."


"Reaksinya gitu doank?"


"Trus gue harus gimana Zi?"


"Enggak gimana-gimana sih. Gue janji bakal pulang cepat dan orang pertama yang gue temuin itu elo."


"Kenapa elo enggak pernah percaya kalau gue bilang janji??"


"Karena ..."


"Karena apa?"


"Karena gue pernah dihianati oleh orang yang paling gue percaya. Itu ngehancurin gue dan sakitnya masih sampai sekarang."


"Dia??? Maaf gue enggak bermaksud."


"Lupain aja zi."


"Gue pamit ya, jaga diri baik-baik."


"Pasti."


22 Agustus 2021,


Hari ini adalah hari spesial seseorang. Karena dihari ini seharusnya ia datang. Seperti janji yang pernah ia ucapkan. Tapi nyatanya jangankan kehadiran. Ucapan selamat saja nihil ia dapatkan. Alindya tersenyum masam melihat isi pesan teks terakhirnya bersama Alfa. Hanya berisi semua tanda tanya dirinya pada Alfa. Tidak ada balasan yang berarti.


E-MAIL


Jumat, 06 Maret 2020


From : Alindya Sheila Puteri


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Hay apa kabar?


Sabtu, 22 Agustus 2020


From : Alindya Sheila Puteri

__ADS_1


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Happy Birthday Alfarezi Kavindra


Sabtu, 22 Agustus 2020


From : Alfarezi Kavindra


To : Alindya Sheila Puteri


Subject : Thanks and happy Birthday for you too


Selasa, 10 November 2020


From : Alindya Sheila Puteri


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Kapan elo main ke sini Al?


Rabu, 16 Desember 2020


From : Alindya Sheila Puteri


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Gimana kuliah elo di situ?


Jumat, 01 Januari 2021


From : Alindya Sheila Puteri


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Happy New Year Al!!


Jumat, 01 Januari 2021


From : Alfarezi Kavindra


To : Alindya Sheila Puteri


Subject : Happy New Year juga Lin.


Minggu, 16 Mei 2021


From : Alindya Sheila Puteri


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Good night Al.


Minggu, 22 Agustus 2021


From : Alindya Sheila Puteri


To : Alfarezi Kavindra


Subject : Happy Birthday Alfarezi Kavindra


Perhatiannya memudar seiring dengan berjalannya waktu. Mungkin benar adanya waktu akan mengubah seseorang dan segala dunianya. Tidak ada yang bisa Alindya lakukan lagi sekarang. Hanya berdoa untuk kebahagian orang yang sangat berarti baginya itu. Hanya kata maaf yang bisa Alindya ucapkan. Untuk segala keterlambatannya menyadari Sepenting itu kehadiran seorang Alfa bagi dirinya.


Pada akhirnya Alindya mengerti alasan Alfa di malam itu. Alasan ia meminta agar alindya mau membuka hatinya untuk Reynaldi. Bukan untuk menyakiti apalagi sampai memberi trauma pada Alindya perihal dunia percintaan. Tetapi agar ia sendiri mengerti betapa berharganya seseorang. Seseorang yang sesungguhnya menjadi pemilik tahta tertinggi di hatinya, Alfarezi Kavindra.


Alindya memang menyukai Reynaldi. Tapi ia lupa bahwa menyukai dan mencintai adalah sesuatu yang berbeda. Kadang ada masa di mana seseorang bertahan meski tanpa rasa nyaman. Itu yang Alindya rasakan saat bersama Reynaldi. Bertahan dalam hubungan hanya karena janji. Bertahan hanya karena paksaan yang tidak seharusnya terjadi.


Alindya percaya bahwa hatinya telah termiliki jauh sebelum ia menyadari itu. Tapi semuanya telah berlalu dan tidak mungkin bagi ia untuk memutar waktu. Mungkin jauh di sana Alfa telah menemukan seseorang yang lebih mampu memberinya arti tawa sesungguhnya. Mungkin jauh di sana ia telah meniti jalan terbaiknya.


Melupakan dan dilupakan adalah hal yang akan Alindya alami. Tidak ada daya untuk membuat semuanya menjadi seperti sedia kala. Alindya yakin takdir tuhan yang kini terlukis untuknya adalah yang terbaik bagi hidupnya. Banyak pelajaran yang ia ambil dari semua jalan lika-liku yang ia lalui. Jikalau pun diberi kesempatan untuk mengulang. Alindya tidak ingin mengubah satupun alur dalam tiap langkahnya.


Meskipun awalnya ia menyalakan diri sendiri perihal segala yang terjadi. Fase di mana ia terus menerus berputar pada tanda tanya besar tentang pahitnya takdir yang ia terima. Dihampiri rindu berkepanjangan yang tidak kenal waktu. Membenci seseorang Sampai tidak ingin melihatnya kembali. Menangisi sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak mengerti.


Semuanya terjadi begitu cepat dan terus tanpa henti. Hingga akhirnya ia perlahan mulai bisa untuk melepaskan. Perlahan ia berada dalam fase mengikhlaskan pedihnya kenyataan. Sampai pada akhirnya ia mampu tersenyum kembali. Tersenyum karena ia telah berhasil melewati semua lara yang bersarang di benaknya.

__ADS_1


Bahagianya kini sederhana, melihat orang yang ia Cintai dicintai oleh orang jauh lebih mencintainya.


..._END_...


__ADS_2