
Setelah mengetuk pintu kelas, Alindya masuk seusai satu orang penghuni kelas mempersilahkannya. Siapa lagi jikalau bukan Alfarezi Kavindra. Acara hari ini telah usai, ayah dan bunda Alindya memilih pulang terlebih dahulu. Sementara Alindya memilih menunggu Alfa yang sedang sibuk dengan buku Soal-soal latihan masuk universitas di hadapannya.
"Al Congratulation." Ucap Alindya penuh semangat.
"Thanks Lin, congratulation for you too." Ujar Alfa sembari tersenyum.
Fyi, Alindya dan Alfa sama-sama berada di peringkat teratas di kelasnya. Dan untuk peringkat umum, mereka juga menyabet di bagian teratas. Jadi, julukan manusia mendekati sempurna yang mereka berdua dapat memang benar adanya bukan?
Besok tinggal acara perpisahan yang diadakan untuk kelas XII. Alindya yakin Alfa akan mendapat banyak piagam dan penghargaan pada hari itu. Ia merasa sangat bahagia atas apa yang dicapai oleh sahabatnya itu.
Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu. Hatinya mulai pilu seakan-akan ada lubang yang terbentuk di sana. Perlahan-lahan dunianya redup seakan-akan mataharinya akan hilang. Raut wajah yang semula ceria berubah muram seketika. Bagai cakrawala yang akan dihampiri kabut tebal.
Lamunan Alindya buyar tatkala Alfa mulai membuka suaranya.
"Satu bulan lagi gue ke Bandung Lin." Ucap Alfa.
"Gue tahu Al." Ujar Alindya sembari mengalihkan pandangnya ke arah jendela.
"Mau gue nyanyiin enggak?" Ucap Alfa.
Alindya hanya mengangguk, kemudian Alfa mengambil gitarnya dan mulai bernyanyi.
_____________________________
'Hari ini aku melihat ke langit tanpa tujuan
Ku coba menggambar wajahmu perlahan
Bibirmu sampai matamu yang indah
Semuanya terlihat indah hari ini
Ku katakan pada diriku aku harus melupakanmu sekarang
Aku tak bisa melihatmu lagi sekarang
Kamu satu satunya yang ku punya
Tak ada orang lain
Seperti ini hatiku, tahukah kau sekarang?
Haruskah ku katakan, aku mencintaimu?
Apakah kau tahu yang hatiku rasakan setiap hari melihatmu?
Jika kau hanya ada untukku
Sekarang aku tak menginginkan apapun
__ADS_1
Maukah kau berada di sisiku?
Haruskah aku pergi ke arahmu?
Sekarang aku ingin tahu hatimu
Itulah satu-satunya yang aku butuhkan
Aku tak bisa bayangkan jika sehari tanpamu
Maukah kau menerima hatiku yang seperti ini?'
_____________________________
Alindya menoleh ke arah Alfa, netra mereka saling beradu. Di ujung lirik lagu terakhir adalah ucapan yang akan selalu Alindya ingat nantinya. Lirik terakhir adalah harapan dan untaian kata yang mungkin sudah berulang kali Alfa lontarkan.
Namun sampai detik ini gadis dihadapannya itu seolah bisu. Entah harus dengan kata dan cara apa lagi agar isi hatinya sampai pada bidadari di depannya itu. Mungkin di suatu saat yang entah, gadis ini akan mau membalas rasanya. Mungkin di suatu saat yang entah, ia akan fahami dan mengerti tulusnya kasih yang terangkai suci untuknya.
”Ayo pulang Lin." Ajak Alfa.
Alindya mengangguk kemudian tersenyum sembari berjalan mendahului langkah kaki Alfa. Sebelum Alindya keluar dari pintu kelas Alfa memanggil namanya. Sontak Alindya menoleh kembali ke arah Alfa.
"Kenapa Al?" tanya Alindya.
"Buat elo." Ucap Alfa sembari menyodorkan sebuah boneka beruang kecil berwarna cokelat kesukaan Alindya.
"Al ..."
"Maaf gue enggak bisa nepatin janji gue. Janji buat selalu ada disisi elo Lin." Ungkap Alfa.
Alindya hanya menunduk sembari memeluk boneka pemberian Alfa. Jujur Alindya ingin menangis, tetapi ia tidak ingin membuat Alfa semakin enggan untuk pergi.
Ia tidak ingin menjadi batu penghalang bagi Alfarezi Kavindra untuk mencapai mimpinya itu.
Keesokan harinya, Alindya sudah siap di dalam mobil milik ayahnya. Yah, ayah dan bunda Alindya turut serta pada acara perpisahan Alfarezi Kavindra. Ini semacam kebiasaan keluarga Alfa dan Alindya. Karena sangat dekat, sampai-sampai acara seperti ini pun mereka semua hadir dan turut bahagia. Dua kelurga yang sangat hangat dan harmonis. Meski sebentar lagi akan ada jarak di antara mereka. Mereka memastikan hubungan baik nya ini akan terus berlanjut meski terhalang jarak dan waktu.
Sesampainya di Aston Pluit Hotel & Residence. Mereka berkumpul dengan mama, papa dan Keisha Aurora Kavindra. Adik Alfa yang sekarng menginjak kelas tiga sekolah menengah pertama.
Penampilan Alindya sangat mamukau dengan dress berwarna mint yang ia kenakan dan gaya rambut yang berbeda dari biasanya.
Alfa sendiri memakai setelan jas berwarna hitam yang mendukung tubuh kekarnya. Jika berdiri berdampingan, orang lain pasti akan menganggap mereka pasangan kekasih yang sangat serasi, tampan dan cantik.
Rangkaian acara demi acara telah usai. Kini waktu sesi pengambilan gambar bersama keluarga. Yah, sebelum kaum hawa yang sudah berderet di belakang Alfa meminta potret bersamanya sebagai kenang-kenangan.
"Icon sekolah emang beda ya." Bisik Alindya di telinga Alfa. Membuat Alfa tersenyum geli mendengar penuturan Alindya itu.
"Jadi, mau enggak foto perdana bareng icon sekolah?" Ujar Alfa sembari mengedipkan satu matanya guna menggoda Alindya.
Alindya menatap Alfa sembari menyembunyikan senyumnya yang sudah ingin mengembang itu.
__ADS_1
"Mau." Ucap Alindya malu-malu.
Alfa tersenyum kemudian menggandeng tangan Alindya untuk berfoto dengan background berwarna putih. Dihiasi dengan bunga mawar putih dan aksen lain yang juga berwarna senada. Yah, itu adalah semua hal yang menjadi favorite Alindya.
Orang tua Alindya dan Alfa hanya tersenyum bahagia melihat putra dan putri kesayangan mereka itu.
...'Kamu itu ibarat majas...
...Terlihat rumit dan membingungkan...
...Tetapi penuh dengan keindahan...
...Kamu itu seperti sebuah labirin...
...Penuh teka-teki dan misteri...
...Tetapi begitu menakjubkan.'...
..._Alfarezi Kavindra_...
Alindya berdiri mematung, tanpa suara. Hanya diam dan memandang dengan lekat ke arah lelaki di hadapannya. Ada rasa enggan yang begitu bergejolak. Ada ikatan yang sulit untuk dilepas. Rasanya hampa dan tidak tahu harus melakukan apa.
Jika boleh, Alindya ingin meminta seseorang di hadapannya saat ini untuk tinggal lebih lama. Jika boleh ia ingin memeluknya lebih erat. Tapi ia tahu dan sepenuhnya memahami. Keegoisan tidak boleh ia biarkan terealisasi.
Untuk berucap selamat tinggal Alindya sungguh tidak mampu.
Alfa tahu Alindya tidak sedang baik-baik saja.
"Lin gue boleh minta satu permintaan ke elo?" ujar Alfa.
Alindya mengernyitkan dahinya ketika Alfa mengucapkan permintaannya.
"Gue enggak yakin bisa lakuin semua itu Al." Jawab Alindya.
Alfa hanya tersenyum kemudian memegang tangan Alindya.
"Supaya elo tahu siapa pemilik hati elo." Ungkap Alfa.
"Maksudnya?" tanya Alindya.
Alfa kembali tersenyum dan membelai rambut Alindya dengan lembut. Detik berikutnya ia mengalihkan pembicaraan ke arah lain.
"Jangan sering nangis kalau gue jauh, ok?" ujar Alfa.
Alindya hanya mengangguk patuh.
"Hati-hati di jalannya Al." Ujar Alindya.
Kemudian Bunda dan Ayah Alindya berdiri di belakang Alindya sembari melambaikan tangan ke arah keluarga Alfa. Yah, saat ini mereka tengah melepas kepergian keluarga itu untuk kepindahannya ke Kota Kembang.
__ADS_1