PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
11. Api Unggun


__ADS_3

...'Kenyataannya tidak perlu ada perjuangan...


...Sebab hatimu, telah ada yang memenangkan.'...


..._Reynaldi Pratama_...


Mentari menyapa dengan semburan sinarnya yang elok. Alindya keluar dari tendanya sembari sesakali masih menguap. Entah jam berapa ia tidur, intinya sehabis Rey mengantarnya ke tenda. Alindya masih sempat berbincang dengan kelima temannya. Kemudian barulah ia tidur ketika kantuk sudah menghampiri.


Hari ini Alindya akan disibukkan dengan tugasnya sebagai ketua. Mulai dari menyiapkan penyambutan pada upacara pembukaan dan hal-hal yang diperlukan ketika acara pelantikan nanti siang. Tapi sialnya, hujan turun tanpa permisi. Semakin siang bukannya reda, hujan malah bertambah lebat.


Di lain tempat, terdengar suara komando dari anak-anak paskibra. Yah, eskul yang didalamnya terdapat cowok bernamakan Reynaldi Pratama. Eskul tersebut tetap melakukan pelantikannya di bawah rintikan hujan. Sementara eskul Palang Merah Remaja, eskul yang diikuti oleh Alfarezi Kavindra itu sudah menempati salah satu ruangan di bagian aula tempat ini.


Alindya jadi bingung sendiri, pembinanya tidak kunjung datang. Setelah hujan sedikit meredah, seseorang yang sedari tadi ditunggu pun akhirnya muncul Pak Sudirman, pembina eskulnya. Pembina yang menurut kacamata Alindya sungguh patut dijadikan panutan. Beliau memiliki pemikiran dan gaya hidup yang luar biasa. Sederhana, teliti, terbuka, dan begitu memukau di setiap historinya.


Setelah mendapat arahan, Alindya akhirnya memberi komando kepada seluruh anggotanya untuk berkumpul. Tepat di bawah rintik hujan dan bersebelahan dengan eskul paskibra tentunya. Alindya mulai mengawali kegiatannya dengan berdo'a bersama-sama, dipimpin oleh pembina mereka.


Tanpa terasa, rangkaian demi rangkaian pelantikan sudah Alindya khatamkan. Acara pun selesai dengan lancar tanpa kendala yang berarti.


Selesai acara, Alindya tidak langsung ke tendanya. Melainkan ia memilih berjalan-jalan sebentar mengelilingi area camping bersama Clara sahabatnya. Ditemani rintik hujan yang masih setia menyapa tubuh mereka. Baju yang mereka kenakan pun sudah basah kuyup. Tetapi mereka berdua enggan untuk kembali ke area tenda. Guna membersihkan tubuh mereka itu.


Di tengah jalan ketika asyik bercanda ria dengan Clara. Alindya berpapasan dengan Rey yang tengah sibuk dengan tugasnya di eskul. Tidak lupa di sana juga terdapat Kayra dan Naomi yang sibuk dengan hal serupa. Tidak hanya itu, Javas dan Arjune juga setia mengawal di belakang Reynaldi Pratama.


"Lin ... !" teriak Kayra dengan suara yang lantang.


"Iya kenapa Kay?" tanya Alindya ketika jarak mereka sudah dekat.


"Elo ngapain hujan-hujanan Lin? Bukannya eskul elo udah selesai dari tadi?" tanya Kayra.


"Pengen aja Kay, gue bosan di tenda. Lagian gue sama Clara ko." Ungkap Alindya.


"Balik ke tenda Lin, nanti elo sakit." Pinta Rey dari kejauhan membuat semua orang reflek melihat ke arahnya.


"Uch ... Uch ... Abang perhatian banget sih sama enengnya." Goda Arjune yang berada di samping Reynaldi.


"Lin disuruh balik ke tenda kata boy." Ujar Javas kemudian sembari terkekeh.


"Dengerin kata ayank beb, balik ke tenda nanti sakit Lin." Goda Kayra.


Sementara Clara dan Naomi hanya tertawa melihat raut muka Alindya yang mulai memerah.


Alindya berbalik tidak menghiraukan teman-temannya yang masih setia menggodanya. Diikuti oleh Clara yang mengekor tepat di belakang Alindya.


Ketika jarak mereka sudah jauh, tiba-tiba saja bahu Alindya di tepuk dari belakang. Ketika Alindya mengalihkan pandangnya, sosok Alfa berada tepat di sana. Tanpa komando, Clara berpamitan tanpa menunggu jawaban keduanya.


Alfarezi Kavindra, berdiri mematung sembari tangannya setia memegangi sebuah payung. Senyum tidak berdosa terlukis begitu saja di wajah Alindya. Alindya tahu Alfa akan marah dengan kelakuannya saat ini. Terbukti dengan raut wajah Alfa yang tidak seperti biasanya.


"Ini mau balik ke tenda ko Al." Ungkap Alindya sembari menatap Alfa.


Alfa hanya diam membuat Alindya merinding sendiri. Fyi, Alfa paling menakutkan ketika sedang marah, begitu yang Alindya lihat. Meskipun ia termasuk makhluk yang jarang emosi dengan keadaan apapun. Tetapi, Alindya pernah melihat seorang Alfarezi Kavindra marah. Sungguh, pendiam jikalau marah melebihi apapun menakutkannya. Begitu gumam Alindya dalam benaknya.


"Beneran mau balik ini Al." Ujar Alindya berusaha meyakinkan Alfa yang masih setia mematung itu.


Alfa mendekatkan tubuhnya, membuat payung yang ia bawah juga ikut serta melindungi tubuh Alindya . Ia mengisyaratkan Agar Alindya memegang payung yang ia bawah itu. Ketika Alindya fokus memegangi payung. Alfa membuka jaket abu-abu yang ia kenakan. Memakaikannya ke tubuh Alindya, sontak Alindya menatap Alfa. Jarak mereka begitu dekat saat ini.


"Gue enggak mau elo sakit." Ucap Alfa sembari membalas tatapan Alindya.

__ADS_1


"Maaf Al." Ujar Alindya.


"Elo tanggung jawab gue selama di sini Lin. Maaf kalau gue terlalu ngekang elo. Tubuh elo gampang sakit dan elo tahu gue enggak Suka lihat elo sakit Lin. Jangan di ulangin lagi ya." Pinta Alfa sembari menuntun tubuh Alindya agar berjalan menuju area tendanya.


"Iya Al." Jawab Alindya.


"Udah makan belum?" tanya Alfa kemudian.


"Belum Al." Ucap Alindya jujur.


"Ganti baju elo, gue tunggu di aula ok." Ungkap Alfa sembari menatap Alindya.


Alindya hanya mengangguk bersamaan dengan itu, mereka sampai di depan tenda Alindya. Hujan juga mereda di saat yang bersamaan. Alindya segera menuruti ucapan Alfa. Setelah selesai membersihkan diri, Alindya berjalan menuju aula seperti yang Alfa beritahukan tadi.


Sesampainya di aula, Alindya memutar kelopak matanya mencari keberadaan Alfa. Setelah menemukan sosok yang dicarinya itu, Alindya mulai mendekati Alfa. Pemandangan pertama yang Alindya lihat adalah Alfa bersama seorang gadis. Gadis yang ia ketahui salah satu anak PMR juga. Gadis itu tengah memberikan sebuah kado kepada Alfa. Alfa hanya diam tanpa eskpresi. Alindya baru sadar kalau Alfa yang ia lihat sekarang. Berbeda dengan sosok Alfa jikalau sedang bersama dirinya.


Alfa terus diam meskipun gadis itu tidak hentinya mengoceh bagai seekor burung beo. Alindya hanya memperhatikan dari jauh.


"Kak terima kado dari gue donk." Ungkap gadis tersebut.


"Gue enggak lagi ultah." Ujar Alfa dingin.


"Sebagai hadiah dari gue aja kak, terima ya." Ucap gadis itu sembari memohon.


Alfa terus diam, kemudian pergi begitu saja. Meninggalkan gadis yang masih setia memegang bungkus kado di tangannya. Alfa melangkahkan kakinya, Selang dua langkah ia kemudian berhenti.


"Elo masih mau di situ Lin?" ucapnya tanpa menoleh sedikitpun membuat Alindya terkejut.


Apakah Alfa sadar Alindya memperhatikannya sedari tadi. Sungguh, Alfa ini seperti seorang cenayang. Padahal ia tidak menoleh sedikitpun. Gumam Alindya dalam benaknya. Gadis tadi pun sontak menoleh ke arah Alindya. Alindya hanya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah gadis itu, guna menyapanya. Kemudian, ia menyusul Alfa sembari berlari kecil.


"Makan," Ungkap Alfa sembari menyodorkan makanan ke arah Alindya.


Mereka tengah duduk di bangku dekat aula camping. Disamping mereka terdapat taman yang begitu indah dengan bunga yang berwarna-warni. Dengan latar belakang hijau dari pegunungan sebagai hiasannya.


"Makasih Al, elo udah makan?" tanya Alindya.


"Belum, lagi enggak mood." Ujar Alfa.


"Gara-gara tadi apa gara-gara gue?" tanya Alindya.


"Bukan, gue enggak mood makan aja Lin." Ujar Alfa sembari mengelus kepala Alindya.


"Makan bareng ya Al, ini banyak banget soalnya gue enggak mungkin abis." Ungkap Alindya.


"Emm" Jawab Alfa.


Mereka akhirnya memutuskan untuk makan bersama. Alindya tahu hal seperti tadi sudah biasa. Alfarezi Kavindra, mana mungkin tidak memiliki penggemar. Khususnya kaum hawa, tapi Alindya benar-benar baru menyadari kebenaran ucapan teman-temannya. Alfa memang sangat hangat jika bersama dirinya. Berbeda jika Alfa bersama gadis lain. Alfa akan sangat dingin bahkan cenderung berkesan tidak ramah.


"Al bentar lagi ujian semester. Gue masih boleh main enggak ke rumah elo atau sekedar telepon gitu?" tanya Alindya.


Alfa tersenyum kemudian mengalihkan posisi tubuhnya menghadap Alindya.


"Gue itu mau ujian bukan mau dipingit buat nikah Lin." Jawab Alfa.


"Gue serius Al." Ujar Alindya sembari memanyunkan bibirnya.

__ADS_1


Alfa hanya terkekeh karena merasa puas dengan keadaan Alindya saat ini.


"Iya maaf, boleh atuh Lin. Tiap hari main atau telepon kaya biasa juga enggak papa." Ujarnya dengan tenang.


"Serius enggak ganggu Al?" ucap Alindya.


"Enggak, udah abisin makanannya. Terus istirahat, nanti malam ada acara api unggun. Gue mau ngajak elo ke suatu tempat, okk " Ungkap Alfa.


"Kemana?" tanya Alindya.


"Liat aja nanti malam Lin." Jawab Alfa.


"Ok," Ucap Alindya.


Mereka akhirnya berpisah setelah menghabiskan makannya. Kembali ke tenda masing- masing. Guna beristirahat mengisi energi untuk acara api unggun nanti malam, seperti yang diutarakan oleh Alfa tadi.


Malam Minggu, tepat diadakannya api unggun. Ini malam terakhir diadakannya camping. Alindya duduk bersama kawan-kawannya setelah selesai bermain games bersama. Alindya terus memutar bola matanya. Mencari sosok Alfarezi Kavindra, sahabat terbaiknya.


Tetapi anehnya ia tidak kunjung menemukan sosok yang dicarinya itu. Karena mulai penasaran Alindya berpamitan kepada teman-temannya. Guna mencari Alfa, teman-teman Alindya hanya mengangguk. Kemudian mereka fokus kembali dengan acara api unggun yang baru saja dimulai.


Tepat di samping tenda Alfa. Alindya melihat Alfa bersama gadis yang sama. Gadis yang tadi siang ia temui di aula bersama Alfa. Mereka sedang berbicara sangat serius. Alindya berdiri terlalu jauh, jadi ia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Alindya merutuki dirinya sendiri, ketika akan memulai aksinya. Alfa menoleh ke arah Alindya, tentu saja Alindya hanya melempar senyum tidak berdosanya.


"Kenapa ketahuan duluan sih Lin." Gumam Alindya pada dirinya sendiri.


Gadis di samping Alfa juga menoleh ke arah Alindya. Gadis itu melempar tatapan yang sungguh tidak bersahabat pada Alindya. Alindya hanya menunduk dan mencoba berbalik arah. Sebelum berbalik, Alfa terlebih dahulu menarik tangannya.


"Ikut gue Lin." Ujar Alfa sembari menarik lembut tangan Alindya dan menjauh dari radar gadis itu.


Setelah cukup jauh Alfa melepaskan genggamnya. Ia kemudian duduk sembari matanya tertuju ke arah depan. Alindya mengikuti apa yang Alfa lakukan. Jujur entah kenapa Alindya sedikit kesal melihat Alfa bersama gadis lain. Apalagi saat gadis itu memegang tangan Alfa. Meskipun Alfa menepis tangan gadis itu. Tetapi, tetap saja Alindya tidak suka melihatnya. Alindya berusaha bersikap seperti biasa di depan Alfa.


"Bagus enggak?" ucap Alfa sembari tangannya menunjuk ke arah bintang-bintang yang bertabur di atas cakrawala dengan eloknya.


"Bagus, elo tahu bukit ini darimana Al?" tanya Alindya sembari menatap Alfa.


"Gue enggak sengaja lihat pas acara tadi siang." Ungkapnya dengan jujur.


"Lin ..." Panggil Alfa.


"Iya Al." Jawab Alindya.


"Lin, kalau gue bilang ... Gue suka sama elo. Elo bakal jawab apa?" Ungkapnya sembari menatap netra Alindya.


Dibawah indahnya malam bertabur bintang nan indah. Dipeluk oleh dinginnya angin yang menyapa. Alfa mengatakan sesuatu yang sungguh lama ia pendam di dalam hatinya. Alfa terus menatap Alindya yang tidak kunjung menjawab pengutaraannya itu.


"Gue yakin elo tahu itu dari dulu." Ungkap Alfa lagi sembari tersenyum.


Alindya terus saja diam mematung.


"Gue bakal jauh selama beberapa tahun kedepan. Gue enggak bisa janji bisa selalu ada di sisi elo. Tapi gue bisa janji, sejauh apapun gue pergi. Tempat pulang gue akan selalu tertuju ke arah elo Lin." Ungkap Alfa dengan tatapan yang begitu dalam.


"Kalau elo milih Rey, gue enggak akan keberatan sedikitpun. Gue enggak bisa janjiin elo apa-apa sekarang. Janji gue yang pasti, gue bakal selamanya buat jadiin elo rumah gue. Bukan tempat singgah ataupun status yang enggak pasti, gue sayang elo Lin." Ungkapnya lagi sembari memegang tangan Alindya dan menatapnya lebih dalam dari sebelumnya.


"Al .... Gue ..." Ungkap Alindya.


Belum sempat Alindya meneruskan ucapannya. Gadget milik Alfa berdering. 'Bunda' itulah seseorang yang menelponnya saat ini.

__ADS_1


__ADS_2