
Hari ini hari Minggu, tentu saja kegiatan sekolah tidak berjalan seperti hari-hari biasanya. Alindya tengah duduk di dekat lapangan kompleks tempat ia tinggal. Style hitam yang mendominasi tubuh Alindya dipadukan dengan sepatu berwarna putih. Menambah pesona seorang Alindya Sheila Puteri. Kali ini ia akan berolahraga di lapangan kompleksnya itu. Yah, Alindya memang tidak menyukai olahraga. Hanya saja hari ini Rey memaksanya untuk ikut serta olahraga menemaninya.
Beberapa bulan ini Alindya dan Rey memang lebih dekat dari sebelumnya. Biasanya Alindya akan kemana-mana sendirian atau mungkin bersama dengan Alfa. Tetapi saat ini seakan sosok Alfa diganti dengan kehadiran Reynaldi di samping Alindya.
Sebenarnya tidak ada yang bisa menggantikan sosok Alfa dalam hidup Alindya. Itu sudah pasti dan tidak bisa diganggu gugat. Alfa semakin menjauh sama seperti jauhnya jarak yang membentang di antara Alindya dan Alfa.
Alindya masih belum menemukan alasan pasti kenapa Alfa seakan menghilang dan menghindar darinya. Nomornya masih Aktif bahkan sesekali bunda dan ayah Alindya masih bertukar kabar dengan Alfa di sana. Tetapi setiap kali Alindya memulai percakapan seakan Alfa menghindar darinya dengan berbagai alasan. Pesan yang Alindya kirim semakin hari semakin diacuhkan begitu saja.
Kehilangan terdalam dari diri Alindya bukan karena jarak yang memisahkan. Tetapi karena ada bagian terpenting yang hilang karena disengajakan. Disengajakan oleh sosok yang memang tidak ingin lagi bertatap muka ataupun bertukar kabar dengan dirinya. Kehilangan yang semakin lama membentuk sebuah ruang kosong yang tidak ingin dihuni oleh sosok yang baru.
Alindya seperti memperjuangkan sesuatu yang memang tidak ingin diperjuangkan. Mungkin itulah yang dahulu Alfa rasakan. Alindya kini mengerti rasa itu. Menyakitkan, menyayat relung dan tidak tertahankan.
Bulir air mata kembali jatuh begitu deras.
Alindya berusaha menahannya tetapi setiap kali mengingat sosok Alfa. Hatinya kembali pilu, rasanya seperti layang-layang yang terbang kemudian putus di genggaman.
"Lin elo nangis lagi?" ucap Rey yang berdiri tepat di belakang bangku tempat Alindya duduk.
Seketika Alindya mengusap air matanya.
"Enggak Rey tadi ada debu yang masuk ke mata gue." Ucap Alindya bohong.
"Sini gue lihat mata elo Lin."
"Rey elo baru datang tumben telat."
"Iya maaf soalnya tadi macet di jalan."
"Masih pedih enggak matanya?"
"Udah enggak ko, makasih ya Rey." Ucap Alindya sembari tersenyum.
Mereka akhirnya memulai kegiatan olahraga mereka di pagi hari itu. Dari pemanasan hingga berlari mengelilingi lapangan.
Jangan ditanya berapa kali Rey berlari mengelilingi lapangan. Sudah tidak terhitung jumlahnya tahulah anak paskib fisiknya bagaimana?? Sedangkan Alindya, ia hanya mengelilingi lapangan sebanyak dua kali kemudian waktunya lebih banyak ia gunakan untuk duduk sembari memperhatikan Rey dari jauh.
"Enggak mau lari lagi Lin?"
"Enggak mau capek."
Rey hanya geleng-geleng mendengar jawaban dari mulut seorang Alindya.
"Kalo elo berhasil lari dua kali lagi gue beliin sandwich."
"Enggak mau."
"Nasi goreng?"
"Enggak mau."
"Martabak?"
"Enggak mau Rey."
"Ice cream cokelat??"
"Serius??" Tanya Alindya dengan semangatnya.
"Iya Lin."
"Okk deal."
Alindya kemudian berlari kembali meninggalkan Rey yang masih mematung dan tidak percaya dengan tingkah Alindya.
"Dasar, untung gue sayang." Gumam Rey dalam hati sembari tersenyum kemudian kembali berlari mengikuti Alindya.
...'Meski kini kau dan aku tidak lagi bersama...
...Aku akan selalu menjadi bintangmu...
...Yang selalu menerangi malammu...
...Di malam saat kau tersenyum ...
...Maupun berurai air mata...
__ADS_1
...Selalu, sampai kapanpun ...
...Aku akan selalu ada di sisimu.'...
..._Alindya Sheila Puteri_...
16 Mei 2017,
Alindya tengah berdiri di depan halaman sebuah Universitas ternama di kotanya. Matanya terus berputar seakan mencari sebuah sosok. Yah, Alindya memang tengah mencari seseorang yang berjanji akan menemuinya di sini.
Di universitas inilah tempat diadakannya lomba paskibra. Kalian pasti tahu bukan siapa sosok yang sedari tadi Alindya tunggu? Tentu saja cowok bernamakan Reynaldi Pratama. Ia ikut serta dalam lomba kali ini. Alindya datang karena janjinya semalam untuk hadir mendampingi Rey.
Hubungan Alindya dan Rey tidak bisa dibilang sekedar 'teman' tetapi tidak bisa juga dibilang 'kekasih'. Kenapa? Tentu saja karena Alindya masih belum memberikan jawabannya. Meskipun begitu, Rey seakan sudah menganggap Alindya sebagai seseorang yang istimewa dalam hidupnya.
Alindya tidak lagi menolak semua ajakan Rey. Tidak lagi secuek beberapa bulan yang lalu. Hingga teman-teman di sekolahnya sudah menganggap mereka memiliki hubungan. Bagaimana tidak? Setiap berangkat dan pulang dari sekolah Rey selalu bersama Alindya. Hampir di setiap menit luang di sekolah mereka pasti bersama. Dan hampir di setiap event sekolah mereka juga pasti berdampingan.
Bahkan pernah saat latihan ekskul Kelompok Ilmiah Remaja yang Alindya naungi. Rey menunggunya selesai latihan, padahal saat itu seharusnya Rey sudah pulang ke rumah. Tetapi entah kenapa Rey malah kembali lagi ke sekolah dan menunggu Alindya selesai latihan sampai menjelang sore hari.
Hujan turun saat itu membuat baju Rey basah karena ia datang membawa motor. Bukannya pulang, Rey malah tetap teguh pada pendiriannya menunggu Alindya. Alhasil Alindya tidak fokus dengan kegiatannya karena terlalu khawatir dengan Rey yang sudah menggigil.
Pulang dari kegiatan ekskulnya, Alindya langsung menyuruh Rey berganti pakaian di rumahnya. Yah, Alindya khawatir Rey jatuh sakit. Akhirnya Alindya memutuskan mampir ke rumah Rey guna menemani Rey mengganti pakaiannya itu. Setelah itu barulah Rey mengantar Alindya pulang ke rumahnya.
Sosok yang ditunggu-tunggu akhirnya muncul. Rey datang dengan seragam lomba paskibrakanya. Berlari kecil ke arah Alindya yang tengah berdiri dekat dengan sebuah kolam kecil.
"Hey Lin kenapa enggak masuk aja?"
"Gue enggak berani Rey."
"Ha??"
"Gue enggak tahu tempat elo lomba sebelah mana. Ini luas banget universitasnya atuh." Gerutu Alindya.
"Iya deh maaf ... Maaf, ayuuu masuk." Ucap Rey sembari menggandeng tangan Alindya.
"Ihh lepas Rey malu tahu diliatin." Celetuk Alindya sembari melepas genggaman tangan Rey.
"Iya deh iya Alindya Sheila Puteri." Ucap Rey sembari tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Alindya saking gemasnya.
Alindya hanya cemberut karena rambutnya rusak akibat ulah Reynaldi tadi.
Kini Alindya tengah berdiri di samping lapangan. Melihat Rey yang tengah memulai aksinya sebagai Danton. Jujur melihat Rey dengan seragam kebanggaannya itu membuat pesona Rey bertambah berkali kali lipat dari biasanya. Alindya berkali-kali terus fokus pada sosok tersebut. Untungnya Rey tidak menyadari hal tersebut atau mungkin, Rey pura-pura tidak menyadari hal tersebut.
Ketika menemukan anak-anak paskibraka yang lain. Alindya akhirnya bergabung dan berbincang-bincang sembari melihat perlombaan yang sudah dimulai itu. Jangan tanya berapa banyak pertanyaan dan godaan yang keluar dari mulut anak-anak paskibraka sekolahnya itu.
Seorang Alindya, primadona SMA Pelita Jaya hadir dalam lomba ekskul lain. Bukankah itu suatu hal yang sangat langka bagi anak-anak di sekolahnya. Alindya berusaha tetap tenang menjawab semua prasangka dari teman-temannya itu. Ditambah lagi Naomi Divya dan Kayra Almira yang juga hadir di sini. Yah, hadir karena mereka memang anggota dari eskul ini.
"Ngapain elo di sini Lin?" tanya Kayra.
"Yah pasti nyemangatin Danton kita-lah Kay." Celetuk Naomi sembari terkekeh.
"Ihhh gue datang nyemangatin kalian tau." Jawab Alindya.
"Keliatan banget bohongnya." Ujar Kayra.
"Ya udah kalau enggak percaya." Ucap Alindya sembari cemberut.
"Ihhh ngambek." Ujar Kayra.
"Senyum Lin biar akang Dantonnya semangat." Ucap Naomi.
Alindya hanya memberi tatapan sinis pada dua temannya itu. Entah mengapa mereka terus mengganggu Alindya dengan celetukan-celetukan yang sangat absurd.
"Gue heran kenapa bisa punya temen kaya kalian." Ucap Alindya meratapi nasibnya.
"Gue juga heran kenapa Buketu bisa sama Danton kita sekarang." Celetuk Kayra dramatis.
"Kay !!!!!!!" Ucap Alindya.
"Pisssssss✌️✌️✌️." Ujar Kayra sembari tertawa puas melihat raut wajah Alindya.
Sedangkan Naomi sudah berlari menjauh karena dipanggil oleh pembina mereka.
Selesai lomba Rey menghampiri Alindya. Bukan untuk berfoto ya guys. Alindya itu paling tidak suka dengan hal-hal yang menurut pemikirannya agak berlebihan. Alindya ini tipikal gadis yang lebih suka private, dalam artian paling tidak suka yang namanya publish atau menjadi pusat perhatian.
Baginya hanya dia dan si empunya moment yang tahu dan goresan pena dirinya yang menjadi saksi. Yah, Alindya masih suka menulis di buku diary miliknya. Karena buku diary milik Alfa dulu sudah diambil kembali oleh pemiliknya. Pemilik yang kini masih setia menetap di kota kembang nan jauh di sana itu.
__ADS_1
"Haus enggak Lin?" ujar Rey.
"Sedikit."
"Beli minuman yuuuu!"
Alindya hanya mengangguk kemudian mereka berjalan menuju kantin yang letaknya tidak jauh dari lapangan tempat lomba diadakan.
Setelah selesai memesan, Rey dan Alindya duduk berhadapan. Rey meneguk air minum yang berada di tangannya, begitu juga Alindya. Di tengah-tengah kegiatannya Rey mengelurkan suaranya yang sontak membuat Alindya berhenti juga dari aktivitasnya.
"Digodain apa aja tadi sama anak-anak?"
"Ko elo tahu gue digodain sama temen-temen?"
"Yah tahulah Lin." Jawab Rey sembari tersenyum.
"Tahu darimana?"
"Kan gue ganteng bawa cewek cantik ke tempat lomba, primadonanya SMA Pelita Jaya lagi."
"Otak elo agak enggak stabil ya Rey abis lomba." Ujar Alindya sembari geleng-geleng.
"Kalau tentang mencintai elo otak sama hati gue stabil ko Lin. Serius deh enggak pake bohong."
"REY !!!!!"
"Iya kenapa atuh Buketu."
"Rey!!" Ucap Alindya mulai kesal.
"Canda, Pissss ✌️✌️✌️." Balas Rey.
"Ayuu pulang gue anterin." Ujar Rey kembali sembari mengusap lembut rambut Alindya.
"Okk."
Sesampainya di parkiran Universitas, tepatnya di sebelah taman. Rey menggandeng tangan Alindya secara tiba-tiba. Sontak Alindya langsung menoleh ke arah Rey. Mata mereka beradu cukup lama. Ditambah kondisi parkiran saat itu sepi tanpa lalu lalang anak-anak lain.
"Ikut gue duduk di bangku taman itu mau enggak?" Ucap Rey berharap.
"Tapi ..."
"Bentar doank."
"Bentar Doank ya? Awas aja kalau bohong."
"Iya."
Mereka duduk di taman itu sembari menikmati udara sore hari. Yah, saat ini matahari mulai perlahan kembali ke peraduannya. Alindya hanya diam dan Rey juga sibuk dengan dunianya.
"Rey ayuuu pulang udah sore nanti bunda nyariin."
"Lin ..." Ucap Rey sembari menatap tajam ke arah Alindya.
"Emmm ..." Gumam Rey mulai ragu.
"Emm apa Rey??"
"Yakin ya jawab jujur Lin."
"Iya."
"Gue boleh denger jawaban elo enggak?? Gue pengen tahu hati elo ke gue gimana sekarang." Ujar Rey dengan hati-hati.
Alindya sontak menatap Rey karena terkejut dengan ucapan Rey tadi. Tapi dengan segera Alindya kembali fokus pada inti pertanyaan Rey tadi.
"Emmm ..." Ucap Alindya seakan menimang-nimang sesuatu.
"Jujur aja Lin gue enggak papa."
Alindya diam beberapa saat kemudian ia membuka suaranya.
"Kalau seandainya suatu hari nanti, hati elo enggak di gue lagi. Gue harap, elo mau jujur dan enggak nyiksa diri elo ataupun orang baru yang elo suka itu. Gue harap elo bisa janji akan hal itu ke gue Rey." Ucap Alindya sungguh-sungguh sembari menatap dua netra milik Rey yang hangat dan penuh kasih itu.
"Ha??"
__ADS_1
"Elo mau pegang janji itu buat gue kan Rey??"
"Gue pasti pegang janji gue. Tapi tunggu ... Maksudnya gimana?? Elo terima gue sekarang???" tanya Rey kebingungan dengan mata yang membulat sempurna.