PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
16. Penolakan


__ADS_3

Alfa tidak pernah tahu isi pikiran lawannya kali ini. Alfa tidak pernah tahu akan kemana takdir membawa rasanya. Satu hal yang ia tahu kepastiannya, sampai waktu berada pada pengunjungnya. Tempat ia kembali dan pulang hanyalah Alindya Sheila Puteri.


Akhirnya Alfa sampai di tempat yang dituju.


Ia memutar kelopak matanya, mencari sosok yang ia tahu kawan juga lawannya itu.


Setelah menemukan sosok yang dicarinya, Alfa berjalan mendekati laki-laki itu.


Rey tersenyum saat Alfa tepat berdiri di hadapannya. Mereka memesan minuman, kemudian berlanjut membicarakan sesuatu yang sangat penting. Raut wajah Alfa yang semula ceria kini muram dan sendu. Rey terus menghujani Alfa dengan pertanyaan yang bertubih. Seakan ia baru saja meluapkan isi hatinya yang ia pendam. Amarah terpahat begitu kentara di paras tampan keduanya ketika mereka berpisah.


Hanya tuhan dan mereka berdua yang tahu topik inti malam ini.


Alfa kembali melaju dengan motor Suzuki GSX 150 hitam miliknya. Kali ini lajunya lebih cepat dari sebelumnya. Yah, Alfa sedang tidak baik-baik saja malam ini. Ia meluapkan semua kegundahan dan amarahnya di jalanan yang begitu sepi karena waktu memang sudah sangat malam.


Di lain sisi, Rey masih berada di JimBARan Lounge, Ayana MidPlaza. Duduk mematung tanpa ekspresi, entah apa yang tengah bersarang di otaknya. Ia kemudian mengambil jaket denim miliknya dan berlalu dengan tangan kanan yang ia biarkan terus mengepal.


Keesokan harinya, Alindya turun dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapan bersama ayah dan bundanya sembari menunggu Alfa datang menjemputnya.


Selang beberapa menit, suara motor Alfa terdengar di halaman depan rumah Alindya. Alindya langsung berlari keluar dengan riangnya. Hari ini adalah ujian terakhir mereka, Alfa pasti akan sibuk dengan ujian nasional dan lainnya kedepannya.


Belum lagi, persiapan memasuki universitas tujuannya. Begitu juga dengan persiapan kepindahannya ke Bandung bersama keluarga besar. Alindya sedih jika mengingat kenyataan yang satu itu.


Saat keluar dari pintu, Alindya disambut dengan senyuman khas seorang Alfarezi Kavindra. Ia masih setia berada di atas motor hitamnya. Dengan jaket kulit berwarna senada yang membalut tubuh kekarnya.


"Al sarapan dulu yu!" ajak Alindya.


"Gue udah sarapan Lin." Ujar Alfa.


"Bohong, Mama tadi bilang kamu langsung ke sini." Ungkap Alindya.


"Mama gue chat elo?" tanya Alfa.


"Yah begitulah." Jawab Alindya sembari menggandeng tangan Alfa dan menariknya untuk masuk.


Alfa hanya mengernyitkan dahinya, kemudian ia menuruti ucapan Alindya. Entahlah sulit bagi Alfa untuk menolak jika Alindya yang berucap. Bagi Alfa, Alindya itu bagaikan magnet sampai-sampai ia sendiri sulit hanya untuk berkata 'tidak'.


Sesampainya di sekolah, Alindya berpisah dengan Alfa menuju ruang ujian masing-masing. Di depan pintu kelas, Rey berdiri sembari memegang gitar kesayangannya. Alindya berjalan hendak masuk ke dalam kelas, tetapi langkahnya tertahan karena gitar Rey menghalangi jalannya. Yah, Rey sengaja meletakan gitar tersebut di bagian tengah pintu kelasnya guna menghentikan Alindya.

__ADS_1


"Rey, gitar elo ngalangin jalan gue." Ungkap Alindya.


"Sengaja." Ujar Rey.


"HAA????" ungkap Alindya kebingungan.


"Pulang bareng gue ya?" Ucap Rey sembari sedikit menundukkan tubuh dan mendekatkan wajahnya ke arah Alindya, hingga mengikis jarak diantara keduanya.


"Gue udah ada janji sama Alfa, maaf ya Rey." Ungkap Alindya dengan polosnya.


Rey menarik kembali gitar dan posisi tubuhnya, kemudian tersenyum penuh arti.


Tanpa mengeluarkan satu kata pun, Rey berlalu meninggalkan Alindya. Menuju dua sahabat sejatinya yang tengah duduk di bangku masing-masing.


Kelima teman Alindya terus memperhatikan Alindya. Saat Alindya duduk Kayra memukul lengan Alindya. Tidak keras tetapi cukup membuat Alindya tersentak.


"Ihhh elo kenapa sih Ra." Ungkap Alindya sembari cemberut dan merapikan rambutnya yang berantakan.


"Gemes gue sama elo Lin." Ujar Kayra kemudian diangguki oleh keempat temannya yang lain.


"Gue salah apa Ra?" tanya Alindya.


"Ha??" ujar Alindya semakin bingung.


"Udah ... Udah belajar Lin bentar lagi mau bel masuk. Gue butuh otak elo itu Lin, nanti abis ujian gue jelasin." Ungkap Freya kemudian terkekeh.


Naomi, Kayra, Neysha, dan Julie hanya mengangkat jempol tangan mereka ke arah Freya.


Alindya hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah kelima temannya itu.


"Miris gue kalau lihat kalian." Ungkap Alindya kemudian beralih membuka buku yang berada di tangannya.


Sementara Rey kembali muram di tempat duduknya. Ia benar-benar dibuat frustasi dengan penolakan yang terus-menerus Alindya lontarkan padanya. Jika deretan mantannya sangat mudah untuk ditaklukan. Kenapa gadis satu ini sungguh sangat sulit ia jinakkan. Jika deretan mantannya tidak ada satupun yang berani menolak ajakan Rey. Kenapa gadis satu ini dengan entengnya terus menolaknya.


Rey akui Alindya memang lebih sempurna dari gadis lain dari segi manapun. Otaknya jauh di atas rata-rata dan itu point paling menarik. Wajahnya imut dan cantik di waktu bersamaan. Apalagi jika Alindya tengah fokus dengan buku-bukunya. Sungguh Rey Tidak mampu mengalihkan fokusnya.


"Ahhhhhhh." Keluh Rey sembari mengacak-acak rambutnya.

__ADS_1


Sontak saja hal tersebut menjadi pusat perhatian semua netra yang berada di sana.


"Elo kenapa boy?" tanya Javas yang berada tepat di samping Rey.


"Frustasi karena itu..." Celetuk Arjune sembari mengedipkan matanya ke arah Alindya.


"Owhhhh." Ujar Javas.


"Sialan elo berdua, sana elo pergi." Ungkap Rey sembari mengusir kedua sahabatnya itu.


"Boy gue udah bilang Eneng itu lain dari pada yang lain." Ungkap Javas.


"Gue juga tahu kali." Ujar Rey.


"Jadi nyerah ceritanya." Goda Arjune.


Rey mengalihkan pandangannya ke arah Alindya yang masih sibuk dengan buku ditangannya.


"Gue pasti bisa dapetin elo." Ungkap Rey penuh arti.


Di saat bersamaan, tanpa sengaja netra Alindya beradu pandang dengan Rey yang tengah menatapnya. Cukup lama, kemudian Alindya tersenyum kecil dan kembali fokus pada bukunya.


...’Tidak perlu tergesa-gesa meraih masa depan...


...Teguhkan hatimu dan  ikuti alurnya...


...Kelak kamu akan benar-benar menapaki jalan terbaik...


...Yang Tuhan beri untukmu.'...


..._Alindya Sheila Puteri_...


Ujian semester telah selesai dilaksanakan. Ini adalah hari pembagian rapot bagi kelas X dan XI. Seperti biasa Alindya didampingi bunda dan ayahnya. Bukan hal yang mengejutkan jika Alindya berada di peringkat teratas di kelasnya. Berbeda dengan kelima temannya yang lain.


Entahlah, ini anugerah atau ujian bagi Alindya. Karena kelebihannya itu, ia jadi bingung menentukan satu bidang yang paling ia sukai. Lebih tepatnya karena semua berjalan sesuai kehendak Alindya. seakan-akan tidak ada tantangan dalam alur yang ia tempuh.


Sampai saat ini ia tidak tahu apa yang hatinya inginkan. Berbeda 180 derajat dengan Alfa yang sedari kecil sudah menentukan alur hidupnya sendiri. Sudah mengerti langkah demi langkah yang harus dikejar untuk sampai pada tujuan tertinggi.

__ADS_1


Alindya menarik nafas dalam-dalam dan menghempaskannya dengan asal. Entahlah ia bingung harus berbuat apa saat ini. Akhirnya ia memutuskan untuk menemui Alfa yang tengah berada di kelasnya.


__ADS_2