
...'Ia pernah tersesat begitu jauh...
...Kala itu rasa bahagia juga sedih...
...memenuhi relungnya...
...Bahagia, karena ternyata ada banyak hal yang menakjubkan...
...Sedih, karena ingatan itu mungkin akan selamanya berakar...
...Ia berhasil kembali, tapi dengan sesuatu yang masih terjebak di sana...
...Entah harus ia sebut apa itu...
...Dan pernahkah kalian merasa ingin menangis ?...
...Tapi tak punya alasan untuk melakukannya...
...Ingin tertawa, tapi seakan tak pernah merasa puas...
...Sebenarnya apa yang ia cari?...
...Apa yang ingin ia genggam?...
...Dia terus berjalan tanpa pernah tahu tujuan...
...Tapi yang ia dapati selalu ruang hampa tanpa kepastian.'...
..._Alindya Sheila Putri_...
Alindya tersenyum menatap langit malam yang gemerlap. Senyuman yang mungkin memiliki ribuan makna di dalamnya. Surai hitamnya tersapu oleh desiran angin yang menyapa. Bersamaan dengan bulir bening yang berhasil ia tahan di kedua kelopak matanya.
"I REALLY MISS YOU." Ucapnya sendu.
Hanya untuk malam ini Alindya ingin meluapkan semuanya. Bersikap kuat di hadapan banyak pasang mata adakalanya melelahkan. Berusaha tidak terjadi apa-apa sungguh menguras energinya.
Alindya hanya tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang-orang terkasihnya. Ia hanya ingin terlihat baik-baik saja kini, esok, dan entah sampai kapan?
Alindya kira ia bisa bahagia, nyatanya semuanya hanya topeng belaka. Karena satu nama yang masih bertahta di hatinya terus menghantuinya. Satu nama yang mendatangkan kesakitan saat Alindya menyebutnya.
Bolehkah ia berharap kembali? Bolekah ia bersikap egois kali ini? Beribu tanya terus ia lontarkan pada dirinya sendiri. Meskipun pada akhirnya yang ia dapati hanyalah sebuah kesukaran.
Malam ini adalah moment special bagi Alindya. Tepat ia menginjak usia 22 tahun. Mungkin sama seperti tahun-tahun belakangan. Ia hanya menghabiskan waktu berharganya itu bersama kedua orang tuanya.
Ribuan kata terimakasih tidak akan cukup membalas semua yang dilakukan kedua orang terkasihnya itu. Bahkan jutaan sajak tidak akan bisa menggambarkan seberapa berharga dan indahnya arti kehadiran mereka.
Hingga suara petikan gitar membuat Alindya membeku. Suara petikan yang sangat Alindya hafal di luar kepalanya. Diiringi aroma yang sangat familiar di indera penciuman Alindya. Buliran bening yang sedari tadi ia tahan akhirnya jatuh. Pertahanannya runtuh saat itu juga.
__________
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday
Happy birthday to you ...
__________
"Happy birthday Alindya Sheila putri." Ucapnya dengan senyum yang menghiasi wajah tampannya.
__ADS_1
Cukup lama netra mereka saling beradu pandang. Dalam diam mereka saling melontarkan ribuan kerinduan.
"Gue pulang Lin." Ucapnya lagi.
Alindya reflek berlari dan memeluk lelaki di hadapannya.
Tangisnya berderai saat itu juga. Hingga tangan kekar lelaki itu mulai membelai ujung rambut Alindya dengan lembut.
"Cup cup cup." Ujarnya membuat Alindya reflek memukul lengan Alfa.
"Gue bukan anak kecil Al." Ucap Alindya sembari cemberut.
Alfa hanya membalas dengan gelak tawa yang begitu keras.
"Btw cewek elo mana?" Tanya Alindya tiba-tiba.
"Cewek??"
"Cewek yang sering elo up di akun sosmed elo Al "
"Dasar tukang stalking."
Mendengar ucapan alfa itu Alindya reflek memukul lengan Alfa untuk kedua kalinya.
"Aduhh." Pekik Alfa.
"Elo hobi banget mukul lengan gue sakit tahu Lin." Rengeknya lagi.
"Biarin." Ujar Alindya sembari berlalu pergi meninggalkan Alfa begitu saja.
"Untung gue sayang." Ujar batin Alfa.
Ketika mereka sampai di ruang tamu sudah terdapat kedua orang tua Alindya dan Alfa di sana.
"Baik sayang." Ucap Ibu Tika Kavindra.
Fokus Alindya teralih ke arah gadis manis yang duduk tepat di samping Ayah Alfa, Bapak Fajar Kavindra.
Alfa menyadari hal demikian ia pun hanya bisa menahan tawanya.
Alindya beralih menatap Alfa yang mengambil posisi duduk tepat di samping gadis tadi.
"Kenalin sayang dia Nayla, anak adik Tante Tika yang menetap di Bandung." Ucap Bunda Lilis.
"Hay Nayla gue Alindya." Ujar Alindya.
Alindya pun hanya bisa tersenyum malu sembari menunduk.
Selang beberapa waktu Alfa beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Alindya
"Ikut gue bentar yuu." Ajak Alfa sembari menggandeng tangan Alindya.
Alindya hanya mengangguk sembari mengikuti arah Alfa berjalan.
Sesampainya di taman belakang, Alfa kemudian menatap kedua netra Alindya.
"Ingat enggak gue dulu pernah janji bakal pulang ke elo lagi Lin??" Ujar Alfa sembari merapikan surai Alindya yang menghalangi wajahnya. Dua pasang netra elang miliknya pun tertuju tepat ke arah Alindya.
"Ingat." Jawab Alindya singkat.
Perlahan kepala Alfa mendekat ke arah Alindya. Jarak mereka kini semakin tipis hingga Alindya bisa dengan jelas mendengar suara helaian nafas lawan bicaranya itu.
__ADS_1
"Gue sayang elo Lin." Ucap Alfa kemudian tepat di telinga Alindya.
Alindya pun tersipu malu dibuatnya.
...***...
Dear Diary,
Bandung, 06 Maret 2020
Hay, bagaimana kabarmu di sana?
Dia menanyakan kabarku tapi sayangnya aku tidak bisa menjawabnya.
Andaikan bisa, aku akan menjawab. keadaanku tidak baik-baik saja di sini. Aku merindukanmu sungguh, sehari tanpa kamu membuat aku kehilangan diri ini.
Dear Diary,
Bandung, 22 Agustus 2020
Happy birthday for you,
Moment special ini terasa hampa tanpa hadirmu. Aku masih enggan untuk menyapa. Masih ragu untuk sekedar menatap cantik elokmu.
Doaku selalu terbaik dan harapku masih sama seperti harap yang dahulu aku lontarkan.
Dear Diary,
Bandung, 10 November 2020
Kapan main ke sini ?
Tanyanya padaku, manis sekali. Jika aku membayangkan wajah mungilnya saat itu. Kenangan kita terpahat sempurna di ingatanku. Jangan lupa bahagia di sana ya..
Dear Diary,
Bandung, 16 November 2020
Bagaimana kuliah kamu di sana?
Jujur di sini hampa tanpa kehadiranmu. Kadang aku berfikir untuk berlari saja ke arahmu. Tapi sayangnya janjiku padamu jauh lebih kuat dari apapun.
Dear Diary,
Badung, 01 Januari 2021
Happy new year !!
Ucapnya padaku di tahun-tahun silam. Tahun dimana belum ada jarak diantara kami. Aku sungguh merindukanmu gadis manja yang selalu mewarnai hari-hariku.
Dear Diary,
Bandung, 16 Mei 2021
Good night
Terimakasih atas dua kata yang mampu membuatku kembali bersemangat. Sebentar lagi kumohon tunggu aku di sana.
Dear Diary,
Bandung, 22 Agustus 2021
__ADS_1
Happy Birthday
Ucap ia padaku sama seperti saat kami masih kanak-kanak. Bagaimana keadaan ia saat ini di sana? Aku terus bertanya-tanya apakah ia semakin manis setiap harinya? Apakah ia masih mengingatku setiap detiknya? Dan apakah aku masih ada di sana? Di relung hati terdalamnya.