
...'Tidak peduli jalan mana yang kamu pilih....
...Aku harap, kamu menjalaninya dengan penuh kebahagiaan.'...
..._Alfarezi Kavindra_...
Hari ini Alindya telah menyelesaikan tugasnya. Melakukan semua yang terbaik sampai akhir. Meskipun, hanya juara harapan ke-2 yang ia dapatkan. Hanya itu yang bisa Alindya persembahkan kepada orang-orang yang telah mendukungnya.
Alindya sedikit kecewa pada dirinya sendiri. Tapi ia yakin ini awal permulaan yang termasuk memuaskan.
Rosyid menyabet juara ke-3. Dhiyaul Haq mengantongi juara ke-2. Sementara juara 1 didapatkan oleh SMA lain.
Seperti biasa kepala Alindya kembali terasa pusing. Alindya sendiri tidak mengerti mengapa demikian. Ia sudah sering mengecek kesehatannya ke dokter pribadi keluarganya, Dokter Andi. Tetapi beliau selalu menjawab hal yang sama. Bahwa Alindya terlalu sering kecapean dan kurang istirahat.
Selain itu, maag Alindya juga kadang kambuh akhir-akhir ini. Ini yang mengharuskannya tidak berangkat ke sekolah beberapa kali dan memilih beristirahat di rumah. Kadang jika sudah sangat parah. Bunda dan Ayah Alindya akan segera membawa Alindya ke rumah sakit. Guna menjalani pengobatan dan rawat inap di sana.
Untungnya hari ini Alfa ikut dan ia membawa mobil sendiri. Alasannya sudah pasti karena ia khawatir dan juga pesan dari bunda dan ayah Alindya. Untuk menjaga Putri satu-satunya itu. Alindya menghampiri Alfa yang tengah berdiri di dekat mobilnya.
Kaca mata hitam bertengger di kepala Alfa. Jaket Levis hitam menghiasi tubuh kekarnya, dengan kaos putih dibagikan dalamnya. Jeans hitam dan sepatu Converse senada membalut tubuh bagian bawah Alfa. Semua itu begitu menambah pesona seorang Alfarezi Kavindra.
Alfa melihat Alindya dengan rasa khawatir yang semakin kentara. Wajah Alindya pucat dan tangan Alindya memegang bagian lambungnya. Alfa bisa menebak bahwa maag Alindya pasti kambuh. Alfa segera menopang tubuh Alindya. Kemudian ia membawa Alindya pergi dengan mobil Marcedes A- Class sedan hitam miliknya.
Rumah sakit, itulah satu-satunya tujuan Alfa saat ini. Ia akan menemui Dokter Andi di sana. Alfa sendiri tidak masuk sekolah hari ini. Karena ia sudah meminta ijin pada wali kelasnya, untuk ikut serta mendampingi Alindya.
Alindya terus diam sembari tangannya tidak lepas dari perutnya. Mata Alindya memerah, keringat mulai menghiasi dahi putihnya, dan tubuh Alindya mulai terasa dingin saat Alfa memegangnya. Alfa semakin panik dibuatnya, meskipun Alindya sempat melempar senyum ke arah Alfa. Namun Alfa tahu, gadis itu sedang menahan rasa sakitnya yang teramat.
Sesampainya di rumah sakit, Alindya langsung mendapat pertolongan pertama dari Dokter Andi. Alfa kemudian menelpon orang tua Alindya dan kedua orang tuanya sendiri. Alfa duduk di kursi yang telah disediakan di depan ruangan rawat inap milik Alindya. Ruang bertuliskan 022 itu sangat membuat dada Alfa sesak. Sedari Alfa kecil ia paling tidak suka jika Alindya sakit. Bahkan ia akan menangis lebih kencang saat Alindya jatuh dari sepedanya.
Selang beberapa waktu, kedua orang tua Alindya dan orang tua Alfa datang bersamaan. Mereka terlihat lebih panik dari Alfa sendiri. Untungnya, keadaan Alindya tidak separah dahulu. Dulu Alindya pernah masuk rumah sakit karena maag akutnya. Ia sampai tidak bisa berdiri dari tempat tidurnya. Bahkan hanya untuk duduk saja Alindya harus dibantu oleh orang lain.
Ketika mereka memasuki ruangan, Alindya masih terlelap dalam tidurnya. Orang tua Alindya duduk di sofa yang telah disediakan. Sementara kedua orang tua Alfa, setelah mereka melihat keadaan Alindya. Mereka pamit untuk mengganti pakaian terlebih dahulu.
Kedua orang tua Alfa baru pulang dari kantor. Karena mendapat kabar tidak mengenakan itu mereka langsung datang tanpa menghiraukan pekerjaannya. Dua keluarga ini memang sangat dekat dari dulu. Ayah Alindya dan Papa Alfa adalah sahabat karib sejak mereka berada di Sekolah Menengah Pertama.
Alfa sendiri memilih keluar sebentar untuk membeli buah dan camilan ringan. Alfa belum makan sedari tadi pagi. Oleh karena itu, ia menyempatkan diri untuk makan dahulu sebelum kembali ke ruangan tempat Alindya dirawat.
Ketika memasuki pintu rumah sakit, Alfa berpapasan dengan bunda dan ayah Alindya. Mereka berpesan agar Alfa menjaga Alindya terlebih dahulu. Bunda Alindya harus mengambil keperluan Alindya di rumah dan ayah Alindya harus menemui dokter Andi. Guna mengetahui kondisi putrinya saat ini. Alfa kemudian menyanggupi ucapan mereka. Setelah itu ia melangkahkan kakinya kembali menuju kamar rawat inap milik Alindya.
Sesampainya di ruangan Alindya, Alfa melihat Alindya sudah bangun dan ia hendak beranjak duduk. Dengan segera Alfa berlari guna membantu Alindya.
__ADS_1
"Makasih Al." Ucap Alindya sembari tersenyum.
"Udah enakan Lin?" tanya Alfa.
Alindya hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Alfa itu.
"Gue udah ijinin elo buat besok, jadi jangan keras kepala buat berangkat ke sekolah." Tegas Alfa.
"Tanggung tahu Al ... Besok Sabtu terus lusanya Minggu, libur juga Al." Gerutu Alindya.
"Yang nurut kenapa sih Lin. Gue enggak mau lihat elo sakit kaya tadi, titik pokoknya." Ungkap Alfa dengan nada tegas.
"Iya iya nurut ini." Jawab Alindya sembari memanyunkan bibirnya seperti anak kecil.
Alfa tersenyum sembari mengelus kepala Alindya.
"Cepet sembuh ya Lin." Ungkap Alfa.
"Pasti, makasih Al." Jawab Alindya sembari tersenyum.
Bersamaan dengan itu ayah Alindya dan Dokter Andi datang. Dokter Andi kemudian memeriksa keadaan Alindya. Sebelum pergi, Dokter Andi berpesan bahwa dua Atau tiga hari lagi Alindya sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Alfa bilang sama ayah kamu enggak nurut ya kalau disuruh makan tepat waktu." Tanya Pak Hermawan.
"Dasar Alfa tukang ngadu." Gerutu Alindya.
"Demi kebaikan elo Lin. Makannya yang nurut kalo dibilangin sama yang lebih tua tu." Ungkap Alfa.
Ayah Alindya hanya bisa geleng-geleng melihat tingkah dua sejoli ini. Kalau ketemu berantem, kalau enggak ketemu dua-duanya kaya cacing kepanasan.
"Ya udah jangan berantem. Kamu harus nurut sama Alfa sayang. Jangan ngebantah terus. Kasihnya Alfanya atuh nak." Ujar pak Hermawan kembali.
"Iya ayah." Jawab Alindya sembari memeluk Ayahnya seperti seorang anak kecil.
Keesokan harinya, sepulang sekolah Alfa datang berkunjung lagi. Keadaan Alindya sudah sangat membaik. Lusa Alindya sudah diperbolehkan untuk pulang. Alfa datang membawa buah kesukaan Alindya, pepaya dan melon. Tidak lupa juga Alfa membawa catatan pelajaran hari ini untuk Alindya.
Alfa meminjam catatan itu dari teman sekelas Alindya, Freya. Alfa tahu Alindya tidak akan tenang meskipun hanya tertinggal satu hari di kelasnya. Tetapi bukan Alindya yang akan menyalin catatan tersebut. Melainkan Alfa-lah yang akan dengan senang hati melakukannya.
Alindya duduk di ranjang sembari menikmati potongan buah di hadapannya. Sementara Alfa masih fokus menyalin catatan Alindya ke buku milik Alindya. Bunda Alindya dengan setia mengupas buah untuk putri kesayangannya itu dan juga Alfa.
__ADS_1
"Nak Alfa makan siang belum?" tanya Bunda Lilis Hermawan.
"Udah ko Bun, tadi sebelum ke sini Alfa sempet pulang ke rumah dulu buat makan. Dapat salam dari mama papa juga Bun, kata mereka maaf enggak bisa Dateng hari ini." Jawab Alfa.
"Iya enggak papa Al, salam balik ya buat mama papa kamu. Makasih juga kamu udah jagain anak bunda yang satu ini." Ungkap Bunda Lilis Hermawan.
"Enggak usah makasih bun, Alfa ikhlas ko. Kan itu juga tanggung jawab Alfa dari dulu." Jawab Alfa.
Mereka kemudian saling melempar senyuman satu-sama lain. Bunda Lilis Hermawan sangat bersyukur, putrinya mendapat sahabat seperti Alfarezi Kavindra. Jika tidak ada Alfa mungkin Alindya akan sangat kesepian.
Matahari sudah meninggalkan tahtanya. Kembali ke peraduan dan berganti dengan guratan sinar yang tidak kalah elok di langit. Semilir angin mulai menyapa, bersamaan dengan segerombolan burung-burung yang ikut menghiasi langit nan indah itu. Alfa tersenyum memandangi ciptaan semesta dari balik jendela kamar rawat inap milik Alindya.
Alindya terus memperhatikan Alfa dari ranjang yang sedang ia tempati.
"Al ngeliat apa sih, seneng banget kayanya." Ungkap Alindya.
"Senja, cantik dan mempesona." Jawab Alfa tanpa sedikitpun mengalihkan pandangnya.
Alindya hanya mengangguki ucapan Alfa. Alindya tahu Alfa sangat menyukai alam. Entah itu hujan, senja, pegunungan, dan semua yang berbau alam.
"Besok jemput gue kan Al." Tanya Alindya.
"Iya Lin gue jemput ko." Jawab Alfa sembari menatap Alindya.
"Mau dibawain apa besok?" tanya Alfa kemudian.
"Roti bakar cokelat sama minuman chocolate hangat." Ungkap Alindya penuh semangat.
"Emang udah dibolehin makan yang Kaya gituan Lin?" tanya Alfa penasaran.
"Enggak tahu Al." Jawab Alindya sembari terkekeh.
"Lain kali aja itunya. Kalau elo udah sembuh, kita makan itu di tempatnya." Ujar Alfa.
"Serius ya Al, janji ya?" balas Alindya dengan semangat yang lebih membara.
"Iya janji, gue pulang dulu ya Lin udah sore soalnya. Bunda elo udah di depan rumah sakit ko, nanti kesini." Ungkap Alfa.
"Oke, hati-hati Al." Ungkap Alindya.
__ADS_1
Alfa mengambil jaketnya yang ia letakkan di sofa. Kemudian meletakan jaket tersebut di pundaknya. Alindya terus memandangi punggung Alfa yang mulai menjauh dan hilang ditelan pintu kamar rawat inapnya.
Alindya kembali menarik selimutnya dan memutuskan untuk beristirahat. Tidak lama setelah itu, ia sudah hanyut dalam mimpi-mimpi indah yang datang menghampirinya.