
Jantung Alindya berdetak tidak karuan hari ini. Sekarang ia tengah berada dalam barisan pasukan upacara, barisan kelas X Mia 3 lebih tepatnya. Beberapa jam lagi, ia dan kedua perwakilan lainnya akan langsung berangkat. Menuju lokasi diadakannya olimpiade tingkat kabupaten. Hari ini adalah hari H, hari dimana Alindya harus benar-benar menunjukkan skill yang ia pelajari beberapa Minggu ini.
Alindya terus berdoa agar dirinya tidak mengecewakan gurunya dan kedua orang tuanya. Lebih tepatnya ia berharap semoga bisa menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin.
Upacara akhirnya selesai, Alindya dan kedua perwakilan lainnya berkumpul tepat di depan lapangan. Guna menunggu mobil jemputan mereka yang masih belum datang. Pak Karyono menghampiri mereka bertiga. Kemudian beliau memberikan arahan-arahan seputar peraturan dalam olimpiade kali ini.
Mereka mencermati setiap detail dari peraturan yang ada. Setelah selesai mereka pun berdo'a, bersamaan dengan itu mobil jemputan mereka akhirnya tiba.
Dalam perjalanan, Alindya tidak hentinya berdoa. Jujur ia agak sedikit tidak percaya diri. Kedua perwakilan lainnya sungguh memiliki skill di atas dirinya. Belum lagi ketika ia memikirkan lawan-lawan lainnya di sana. Tetapi ia berusaha meyakinkan dirinya dan berprinsip teguh bahwa ia juga bisa. Semua orang memiliki kesempatan yang sama. Alindya sangat yakin akan hal itu. Yang terpenting adalah kerja keras, optimis dan selalu berdoa.
Sesampainya di tempat olimpiade diadakan. Alindya dibuat terpana oleh sosok yang berada di hadapannya. Ia sedang berjabat tangan dengan gurunya, Pak Karyono. Selang beberapa waktu Alindya akhirnya mengetahui siapa nama cowok misterius itu, Dhiyaul Haq. Nama yang begitu penuh makna. Kalau Alindya tidak salah tebak artinya pasti 'Sinaran kebenaran'. Di samping cowok itu ada satu cowok lagi, yang Alindya tahu namanya Rosyid. Yah, kalau tidak salah juga artinya ' Memberi petunjuk'.
Dua orang yang begitu membuat Alindya merasa down secara tiba-tiba. Alasannya sudah pasti karena mereka memiliki histori yang begitu memukau.
Alindya kembali meyakinkan dirinya.
"Don't worry Alindya. Everything Will be okey. You just need to be sure and optimistic." Ujar Alindya dalam hati berkali-kali.
Panitia membagi mereka ke dalam beberapa kelompok. Tujuannya agar tidak ada kecurangan di tiap regunya. Alindya terpisah dengan kedua perwakilan sekolahnya yang lain.
Ketika memasuki kelas tempat diadakannya tes penyisihan. Alindya kembali gugup, ia terus memandangi bolpoint, penghapus, dan kertas kosong dihadapannya. Lima menit kemudian tes dilaksanakan, ini ditandai dengan bel yang berdering.
Alindya terus fokus pada soal-soal yang berada di hadapannya. Ia terus menggerakkan jemarinya dengan lincah. Menghitung tiap rumus dan memasukkan tiap jawaban yang ia peroleh kedalam kertas jawaban yang telah disediakan.
Waktu tinggal 15 menit lagi, tetapi Alindya masih menyisahkan 8 soal terakhirnya. Ia tidak kunjung menemukan jawaban soal-soal tersebut. Alindya mulai sedikit panik dan bingung. Akhirnya waktu pun selesai, Alindya menebak asal 4 soal terakhirnya.
Keluar dari ruangan, Alindya kembali berkumpul dengan dua perwakilan lainnya. Mereka seakan-akan biasa saja dan terlihat tenang. Tidak seperti Alindya yang terus-menerus berdo'a dalam hatinya karena gunda.
__ADS_1
Mungkin karena yang lainnya sudah memiliki histori dengan adegan yang sama. Sementara Alindya, ini kali pertama ia mengikuti olimpiade. Saat masih duduk di Sekolah Dasar Alindya memang pernah mengikuti Olimpiade. Namun bukan mata pelajaran matematika, melainkan Ilmu pengetahuan sosial. Saat itu Alindya memperoleh juara harapan pertama.
Sembari menunggu pengumuman 10 besar yang lolos babak esok hari. Alindya dan kawan-kawan memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu. Di salah satu tempat makan yang dekat dengan Universitas tempat lomba diadakan. Sesampainya di sana ternyata Dhiyaul Haq, Rosyid dan guru pembimbing mereka juga ada di sana. Mereka bertujuh akhirnya makan siang bersama-sama.
Waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Alindya dan yang lainnya memasuki aula utama Universitas. Alindya duduk di barisan paling depan dan disusul Fatikhatul Azizah di belakangnya. Sementara yang lainnya berada agak jauh dari mereka berdua.
Panitia mengumumkan satu persatu yang masuk babak 10 besar esok hari. Yang menegangkan adalah MC pada hari ini hanya penyebut nomor peserta dan asal sekolahnya saja. Ini membuat semua yang berada di dalam ruangan begitu hening. Karena masing-masing fokus pada nomor peserta yang mereka kenakan.
Ketika sampai di nomor kesembilan tidak ada satupun dari Alindya, Ade Selamet Firdaus, dan Fatikhatul Azizah yang di sebut oleh MC. Hingga akhirnya nomor peserta kesepuluh diumumkan. Alangkah terkejutnya Alindya mengetahui dirinyalah yang masuk ke dalam babak 10 besar esok hari. Alindya menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya.
Kegugupan ia akhirnya usai, tinggal bagaimana Alindya menghadapi esok hari nanti. Ternyata yang lolos esok hari bukan hanya 10 orang, melainkan 12 orang. Ada dua nomor peserta lain yang disebut MC. Ini dikarenakan skor mereka sama satu dengan yang lainnya.
Alindya mendapat ucapan selamat dari kedua rekannya dan juga pak Karyono. Rosyid dan Dhiyaul Haq juga lolos esok hari. Alindya tidak terkejut, karena sudah mengetahui histori dua makhluk itu dari dua guru yang berada di dekatnya saat ini.
Sesampainya di sekolah Alindya melihat Alfa yang tengah membaca buku. Alfa masih mengenakan seragam olahraga. Alindya menduga Alfa baru saja menyelesaikan mata pelajaran olahraga. Alfa dan teman-temannya pasti tidak mengganti seragam itu Sampai jam pulang berakhir. Ini terbukti dengan adanya teman satu kelas Alfa yang lain, yang juga mengenakan seragam yang sama.
Alfa menyadari kehadiran Alindya. Ia kemudian tersenyum dan menghampiri Alindya. Sembari membawa minuman chocolate hangat yang ia bawa.
"Udah selesai olimpiadenya?" tanya Alfa masih dengan senyumnya yang khas.
"Udah ko, elo belum pulang Al?" tanya Alindya.
"Belum, nunggu elo dulu. Gue yakin elo pasti pusing kan abis dari sana?" ungkap Alfa.
"Ko elo tahu Al?" tanya Alindya dengan heran.
"Kita udah kenal dari kapan tahun sih Lin. Masa iya gue engga tahu hal sepele kaya gitu, mau Chocolate hangat enggak?" tanya Alfa sembari menyodorkan cup minuman yang Ia bawa.
__ADS_1
Alindya mengambil minuman tersebut dan mengucapkan kata terima kasih kepada Alfa dan tuhan. Karena Tuhan sudah menghadiahi dirinya sosok yang begitu berarti dalam hidupnya, Alfarezi Kavindra.
Alfa menggandeng tangan Alindya dengan lembut dan menuntunnya ke arah parkiran. Guna mengambil motor dan bergegas untuk pulang.
Ketika Alfa akan mengenakan helm di kepala Alindya. Alfa mengeluarkan suaranya.
"Lin elo yakin bakal terus fokus di jalan ini, elo bahagia?" ungkap Alfa.
"Jalan apa yang elo maksud Al?" tanya Alindya.
"Kepala elo sering pusing selesai ngerjain semua yang berbau sains. Elo juga punya maag gara-gara telat makan dan fokus ngerjain semua itu. Gue dan kedua orang tua elo enggak pernah larang elo buat ngelakuin hobi-hobi elo. Kami cuman mau, elo bahagia sama pilihan dan jalan elo. Yang paling penting jaga kesehatan, gue enggak bisa lihat elo sakit Lin." Ungkap Alfa panjang lebar.
Ungkapan Alfa membuat Alindya terdiam dan berfikir sejenak. Alindya teringat ayah dan bundanya yang selalu mengucapkan hal yang sama seperti yang Alfa katakan. Alindya jadi bertanya-tanya apakah ia bahagia di jalan yang ia lalui saat ini.
"Jangan karena orang lain tahu elo hebat dalam sains. Elo jadi ngelupain sesuatu yang benar-benar elo sukai. Jangan jadi sosok orang yang terbawa sama gambaran orang lain tentang elo. Elo harus jadi diri elo sendiri Lin." Ungkap Alfa sembari menatap kedua netra Alindya.
Alindya tersenyum dan mengangguk. Tanda ia akan memikirkan dan meresapi setiap ucapan yang Alfa ucap barusan.
"Al, makasih elo selalu ada buat gue." Ungkap Alindya.
"Akan selamanya gue kaya gitu Lin." Ungkap Alfa penuh arti.
Mereka akhirnya pulang, meninggalkan halaman sekolah yang mulai sepi. Ditemani semburan senja di sore hari.
Alindya sangat bersyukur atas kehadiran Alfa dalam hidupnya. Ia berdoa semoga Alfa menepati semua janji-janjinya. Alindya sungguh tidak ingin kehilangan Alfa sedetik pun.
Alindya memeluk Alfa dari belakang. Kemudian membenamkan kepalanya di punggung kekar Alfa. Alfa hanya tersenyum dibalik helm yang ia kenakan.
__ADS_1
"Gue benar-benar enggak mau kehilangan elo Al." Ungkap Alindya Dalam hati.