
...'Maaf ......
...Jika saat ini yang kubutuhkan masihlah kamu....
...Disaat kamu...
...Tak pernah menyadari itu....
...Maaf ......
...Tak seperti kamu...
...Aku hanyalah seseorang...
...Yang tak bisa mencintaimu dengan jujur.'...
..._Alindya Sheila Puteri_...
Alindya menghelai nafasnya dalam-dalam dan menghempaskannya dengan cepat. Di sinilah Alindya berada, kamar dengan nuansa biru dan putih. Yah, Alindya berada di salah satu kamar di rumah Alfarezi Kavindra tepatnya. Setelah pulang dari camping kemaren, Alindya langsung menuju rumah Alfa. Ketika Alindya datang, sambutan hangat dari mama dan papa Alfa menjadi pemandangan pertama yang ia lihat dan rasakan.
Hari ini hari Minggu, sekolah sudah pasti tidak melakukan aktivitasnya seperti biasa. Alindya jadi bingung sendiri harus melakukan apa. Mama dan papa Alfa sedang berada di ruang baca. Aurora adik Alfa sedang pergi ke rumah temannya. Alindya bosan di kamar, tapi sedikit canggung untuk mendekati manusia bernamakan Alfarezi Kavindra.
Biasanya jika Alindya menginap di rumah ini, ia akan bersikap sekan-akan rumahnya sendiri. Masuk ke kamar Alfa tanpa permisi, menjahili Aurora yang sedang belajar, bahkan sesekali Alindya membantu mama Alfa memasak di dapur. Tapi setelah peristiwa di bukit kemaren. Alindya jadi merasa aneh dengan dirinya sendiri.
Alhasil ia hanya bisa memeluk guling dan boneka Teddy bear berwarna cream di kamarnya. Ingin rasanya bersenda gurau seperti biasa dengan Alfa. Tetapi Alindya sungguh canggung untuk saat ini. Sampai suara ketukan pintu menyadarkan kegundahannya.
"Lin, ini gue boleh masuk enggak?" tanya Alfa dari balik pintu.
"Boleh ko Al, masuk aja." Jawab Alindya sembari beranjak dari tempat tidur.
Pintu dibuka dengan pelan dan Alfa mulai memasukkan kepalanya terlebih dahulu. Kemudian ia mendekati Alindya dan duduk di sampingnya.
"Bosen enggak ? Keluar yuuu ... !" ajak Alfa.
"Bosen sih, tapi mau kemana?" tanya Alindya.
"Taman mau enggak?" tanya Alfa.
Alindya berfikir sejenak kemudian menyetujui ajakan Alfa. Alfa keluar dan kembali ke kamarnya guna bersiap-siap. Begitupun dengan Alindya yang langsung memilih pakaian yang akan ia kenakan.
"Gue mau jalan ke taman biasa kan ya? Ngapain dandan gini sih Lin. Kaya mau kencan aja." Gerutu Alindya pada dirinya sendiri.
Di lain tempat Alfa sudah siap dengan penampilannya. Kemeja Hitam dengan kaos putih didalamnya. Jeans senada dan sepatu Converse andalannya. Tidak lupa jam tangan bertengger di pergelangan tangan kirinya. Ia kemudian mengambil kunci motor yang berada di samping kulkas dekat dapur.
__ADS_1
"Al kamu mau kemana?" tanya mama Alfa.
"Mau jalan-jalan ma." Ungkap Alfa.
"Ajak Alindya ya sayang kayanya dia bosen di kamar terus." Ungkap mama Alfa.
"Ini juga bareng Alindya keluarnya ma." Ujar Alfa.
"Ya udah hati-hati, pulangnya jangan malam-malam Al." Ungkap mama Alfa.
"Iya ma." Jawab Alfa.
Setelah berpamitan mereka pun beranjak menaiki motor Suzuki GSX 150 hitam milik Alfa. Membelah jalanan yang sedikit lengang di siang hari. Alindya tidak tahu mengapa ia jadi gugup berada di samping Alfa. Alhasil biasanya ketika di motor mereka akan berbincang. Tetapi tidak untuk kali ini, mereka berdua bungkam dan fokus pada jalan pikirannya masing-masing.
Setelah sampai pun, rasa canggung kembali menyelimuti radar keduanya. Alfa sadar akan hal itu, ia mulai merutuki kejadian di bukit waktu itu. Alfa mulai memutar otaknya, berharap bisa menemukan jalan keluar. Agar ia dan Alindya tidak secanggung saat ini lagi.
"Lin maaf ya." Ungkap Alfa.
Sontak Alindya mengalihkan pandangannya ke arah Alfa yang sedang duduk disampingnya. Suasana taman agak ramai hari ini, mungkin karena hari ini termasuk weekend.
"Maaf buat apa Al?" tanya Alindya.
"Gue ngerasa kita jadi canggung Lin." Ungkap Alfa dengan jujur.
"Udah ya, anggap ungkapan gue itu enggak pernah elo denger." Ungkap Alfa mulai serius.
Alindya tersenyum kemudian tertawa membuat Alfa merasa bingung. Apakah ia salah melontarkan kata-kata. Begitu kiranya gumaman Alfa dalam benaknya.
"Gue salah ya Lin? Elo ko malah ketawa gitu?" tanya Alfa.
"Emang kejadian kemaren bisa dihapus dari ingatan elo Al?" tanya Alindya membuat Alfa diam kehabisan kata-kata.
"Gue cuman canggung, nanti juga terbiasa lagi Al. Tapi maaf ya Al, gue belum bisa jawab ungkapan elo. Jujur gue bingung sama hati gue." Ujar Alindya kembali.
"Elo enggak pernah jatuh cinta. Yah, pasti bingung lah Lin." Ungkap Alfa.
"Elo ngeledek gue Al." Celetuk Alindya sembari cemberut.
"Kenyataan kali Lin." Goda Alfa lagi.
"Emang elo sejauh ini pernah jatuh cinta berapa kali Al?" tanya Alindya mulai serius.
"Berkali-kali, enggak kehitung malahan." Ungkap Alfa dengan entengnya.
__ADS_1
"Ha?????" ujar Alindya.
"Kenapa ko kaget gitu Lin?" tanya Alfa.
"Elo serius? Sama siapa aja?" tanya Alindya mulai geram.
"Berkali-kali tapi sama satu orang doank." Ungkap Alfa.
"Dan orang itu elo Lin." Ujar Alfa lagi sembari menatap Alindya.
Alindya tidak bisa menyembunyikan senyum di wajahnya.
"Pinter ngegombal ya sekarang, diajarin siapa??" tanya Alindya.
"GUE SERIUS Lin, jangan ngejauh apalagi berubah karena masalah ini ya Lin. Gue enggak mau kehilangan elo." Ungkap Alfa dengan tulus.
"Gue juga enggak mau kehilangan elo Al." Ujar Alindya yang mampu membuat Alfa senang bukan main.
"Biarin takdir yang meneruskan kehendaknya, ok." Ujar Alfa.
Alindya hanya merespon dengan anggukan sembari tersenyum.
Alfa memang tipikal cowok yang tidak mau menunda masalah terlalu lama. Ia juga sosok dewasa yang selalu punya seribu cara terbaik dalam hal menyelesaikan masalahnya. Sikap dewasa inilah yang membuat Alindya enggan untuk kehilangan seseorang seperti Alfarezi Kavindra.
Mungkin sedikit waktu agar Alindya benar-benar yakin akan hatinya. Terlebih lagi Alindya ingin Alfa fokus pada ujian akhirnya. Agar ia bisa masuk Universitas yang ia idam-idamkan. Alindya akan berusaha untuk memahami semua yang berkaitan dengan Alfa. Sampai ia benar-benar yakin akan rasanya pada cowok itu.
Alindya yakin Alfa akan mengerti semua keputusannya. Masa depan mereka adalah hal yang harus dijadikan fokusnya saat ini. Terlebih lagi akan ada jarak diantara mereka. Alindya tidak ingin menyia-nyiakan waktu ia bersama Alfa.
"Makasih buat semuanya Al." Ungkap Alindya.
"Elo enggak perlu bilang gitu Lin, gue ikhlas ngelakuin semuanya." Ujar Alfa.
"Kejar cita-cita elo Lin. Gue juga akan ngelakuin hal yang sama." Ungkap Alfa.
"Gue tahu Al, semangat buat ujian elo besok." Ujar Alindya.
"Siapppp, makasih ya Lin." Tutur Alfa.
Mereka saling melempar pandang sembari tersenyum. Kemudian mengalihkan netra mereka berdua ke arah langit yang begitu indah di siang hari ini.
"God, I entrust it to you." Ungkap Alfa dalam hatinya.
...'Hanya laki - Laki sejati yang berani bertanggung jawab atas semua pilihannya.'...
__ADS_1
..._Alfarezi Kavindra_...