
Tanpa terasa ujian semester telah tiba. Waktu yang harus digunakan sebaik mungkin. Baik untuk mengejar nilai yang lebih baik dari sebelumnya. Ataupun mengumpulkan nilai untuk masuk Universitas. Itulah yang saat ini dilakukan oleh Alfarezi Kavindra. Intensitas bertemu Alindya juga berkurang karena Alfa semakin fokus pada tujuannya.
Sederhana saja keinginan Alfa untuk kedepannya. Ia tidak berkeinginan untuk membuat orang yang dicintainya menunggu. Bagi Alfa cita-cita dan kebahagiaan orang tua barulah kemudian cintanya.
Orang tua Alfa memang tidak menuntut ia untuk menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mereka hanya mau Alfa benar-benar bertanggung jawab atas semua pilihannya. Perihal cita-cita? Siapa yang tidak tahu cita-cita Alfa. Sedari kecil ia terus menekuni dunia penerbangan.
Meskipun papa Alfa dan seluruh pamannya terjun di dunia bisnis. Entah kenapa berbeda dengan minat dan bakat yang Alfa miliki. Alfa sadar, ia anak laki-laki satu satunya di dalam keluarganya. Secara otomatis seluruh bisnis ayahnya pasti akan diturunkan padanya. Tetapi di sini point yang paling membuat Alfa bangga pada papanya. Beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya pada Alfa.
Meski di awal tahun ajaran, saat Alfa baru memasuki kelas X. Beliau terus menyuruhnya menekuni bisnis dan manajemen. Tapi seiring berjalannya waktu, beliau mulai mendukung cita-cita Alfa. Alfa ingin mengelilingi semesta dari atas sana. Alfa juga ingin suatu saat nanti, ia bisa membawa orang-orang terkasihnya untuk ikut menikmati semesta dari atas cakrawala.
Lamunan Alfa buyar tatkala melihat seseorang yang tidak asing melintas. Siapa lagi jika bukan Reynaldi Pratama. Bagi Alfa Rey sosok yang misterius. Dibalik kepopulerannya di sekolah, sama seperti dirinya. Alfa masih penasaran dengan seluk beluk seorang Rey.
Siapa yang tidak tahu Reynaldi Pratama, mantannya yang berderet tidak terhitung jumlahnya. Anak geng di luar sekolah, lebih tepatnya Rey adalah ketua geng. Alfa tahu hal itu karena pernah mendengar dan melihat secara langsung.
Keunggulan Rey dimata Alfa, hanya fisik dan kekayaannya. Yah, Rey anak salah satu pembisnis hebat di kota ini. Mungkin itu juga yang membuat Rey memiliki banyak kaki tangan di mana-mana. Di sebelah Rey terdapat Javas Athaya dan Syauqi Arjune. Dua manusia yang senantiasa mengekor tanpa henti. Sejauh ini, Alfa belum melihat dan mengetahui alasan Rey mendekati Alindya. Yang pasti jika Rey berniat membuat Alindya menangis. Alfa akan jadi orang pertama yang akan membalas tiap tetesan air mata Alindya yang jatuh.
Netra Rey akhirnya bertemu dengan netra Alfa. Ada bara yang menyala seketika, meskipun keduanya pandai dalam hal menutupi semuanya. Baik Alfa maupun Rey adalah tipikal cowok yang tidak mau bermusuhan, jika alasannya karena seorang wanita.
Bagi mereka itu hal yang sangat kekanak-kanakan. Pria sejati bersaing dengan murni dan bukan dengan kekerasan.
Alfa melempar senyuman dan dibalas dengan hal yang sama oleh Rey. Kedua teman Rey sontak menoleh ke arah Alfa juga. Setelah itu merekapun hilang ditelan tikungan di ujung kelas dekat tangga.
"Hey Boy elo sama Alfa kaya musuhan gitu tatapannya, karena masalah Eneng ?" celetuk Arjune.
"Enggaklah, elo kaya enggak kenal gue aja." Ungkap Rey.
"Terus gimana?" tanya Javas.
"Gimana apanya?" jawab Rey sembari menghentikan langkahnya.
"Elo sama si eneng boy, masa iya sama pak Udin sih." Celetuk Arjune.
"Gue enggak tahu, yang pasti gue bakal bersaing secara sehat buat dapetin dia." Ujar Rey.
"Gue dukung elo boy, jarang-jarang kan ngelihat Reynaldi Pratama. Seorang playboy kelas kakap segitunya Sama cewek." Celetuk Arjune.
"Sialan elo Jun." Ungkap Rey sembari memukul kepala Arjune.
Javas terkekeh dengan tingkah kedua sahabatnya itu.
"Jangan sakitin Alindya Rey. Kalau elo serius, gue pasti dukung." Ungkap Javas penuh arti sembari menepuk bahu Rey.
Rey hanya merespon dengan anggukan ungkapan Javas sembari meneruskan perjalanan mereka menuju kelas.
Di lain sisi, Alindya tengah sibuk dengan setumpuk jawaban Ujian di atas mejanya. Pak Karyono menyuruh Alindya untuk memasukan semua nilai siswa ke buku nilai yang disediakan. Alhasil Alindya merelakan waktu istirahatnya sampai jam pulang ini untuk melaksanan tugas tersebut. Dibantu oleh Kelima teman baiknya. Freya, Naomi, Kayra, Neysha, dan Julie.
__ADS_1
Alindya tidak pernah memikirkan akan nilai ujiannya. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Alindya selalu berada di peringkat pertama. Hanya saat ia berada di Sekolah Menengah Pertama, kelas delapan tepatnya. Ia menduduki peringkat kedua untuk pertama kalinya. Tapi dengan giat ia kembali menduduki peringkat kebanggaannya lagi. Ini yang membuat kedua orang tua Alindya bangga kepadanya. Alindya tipikal gadis yang akan sungguh-sungguh dalam mengejar apapun yang ia mau.
Dering telepon mengalihkan fokus Alindya. Ia dengan segera mengambil gadgetnya dan membuka isi pesan yang tertera.
_____________________________
Alfarezi Kavindra
Makan yu gue laper
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Enggak ada mata pelajaran tambahan Al?^^^
Alfarezi Kavindra
Enggak ada, tinggal ujian terakhir besok Lin
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Tapi gue lagi disuruh pak Kar buat nyalin nilai ke buku nilai^^^
Alfarezi Kavindra
Bukannya udah jam pulang kan?
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
Alfarezi Kavindra
Gue ke situ nanti gue bantu
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Katanya laper Al?^^^
Alfarezi Kavindra
Bisa nanti Lin
^^^Alindya Sheila Puteri^^^
^^^Tapi Al ...^^^
_____________________________
__ADS_1
Belum juga Alindya selesai mengetikan pesan balasan. Alfa sudah berdiri tepat di depan pintu kelasnya.
"Lin ayo!" panggil Alfa.
Alindya menunjuk ke arah tumpukan kertas di depan mejanya. Alfa menghelai nafas kasar kemudian melangkahkan kakinya memasuki kelas Alindya. Alfa membereskan kertas tersebut dan memasukannya ke dalam tas miliknya.
"Ehh Al mau diapain kertas-kertasnya?" tanya Alindya mulai bingung.
"Kita makan dulu nanti gue bantuin." Ungkap Alfa.
Kelima teman Alindya hanya mematung di tempatnya masing-masing. Enggan menganggu teman baiknya ini bersama Alfa.
"Tapi Al ..." Ujar Alindya.
Belum sempat melanjutkan ucapannya, Alfa sudah menggandeng tangan Alindya. Menariknya dan membawa Alindya menuju kantin sekolah. Teman-teman Alindya hanya geleng-geleng melihat dua sejoli dihadapan mereka itu.
"Kak, enggak sekalian ngajak Julie gitu." Celetuk Julie dengan suara keras.
Sontak keempat teman lainnya langsung menghujani kepala Julie dengan kertas yang mereka pegang.
"Udah bangun Jul, kelamaan elo mimpinya." Ujar Kayra.
"Sama temen sendiri gitu ... Ok ... Ok." Ungkap Julie.
"Haruslah!!!" ujar Naomi.
"Setuju !!!" ungkap Neysha.
Julie hanya bisa mengelus dada dan menggelengkan kepalannha beberapa kali. Sementara teman-temannya terkekeh dengan suara yang semakin memenuhi seisi kelas.
"Untung sabar." Ungkap Julie dramatis.
Alfa terus memegang tangan Alindya. Sontak hal tersebut membuat beberapa pasang mata mencuri pandang pada mereka. Alindya tidak suka hal seperti ini. Sungguh, kenapa Alfa selalu menjadi pusat perhatian. Tetapi jika dipikir-pikir lagi, sosok seperti Alfa memang aneh jika tidak menjadi pusat perhatian orang-orang. Terlepas dari pemikiran Alindya itu ia kembali sadar akan kenyataan yang saat ini ada.
"Al lepasin tangan gue." Ungkap Alindya dengan pelan.
"Enggak nyaman ya?" ujar Alfa sembari melepas tangan Alindya dari genggamannya.
Alfa berbalik dan menghadap Alindya. Tubuh Alfa memang lebih tinggi dari Alindya.
"Makannya jangan telat makan. Ingat kata ayah elo waktu di rumah sakit, yang nurut sama gue Lin." Ungkap Alfa.
"Iya ... Iya ... Iya Alfarezi Kavindra." Jawab Alindya dengan muka cemberut.
"Lin ... !!!" Panggil seseorang dari arah pintu kantin.
__ADS_1
Sontak Alindya dan Alfa menoleh ke arah sumber suara.