PENA ALINDYA

PENA ALINDYA
18. Kesepihan


__ADS_3

Alfa duduk di bagian kursi penumpang. Sementara Papa dan mamanya berada di kursi bagian depan. Papa Alfa-lah yang bertugas mengemudi mobil mereka. Sementara Caca, berada di samping Alfa.


Sebelum memasuki mobilnya itu, Keisha Aurora Kavindra atau sering dipanggil Caca memeluk erat Alindya. Sejak kecil, Caca memang sangat dekat dengan Alindya. Bahkan Alindya sudah menganggap Caca sebagai adik kandungnya sendiri. Caca itu berbeda denga Alfa, ia lebih barbar. Meskipun tidak dipungkiri Caca ini tipe cewek cuek sama seperti kakaknya. Hanya dengan orang dekat saja ia menunjukan sikap hangatnya. Tetapi otaknya, sebelas dua belas dengan Alfa dan Alindya.


Mobil milik keluarga Kavindra akhirnya melaju. Membawa keempat anggota keluarga itu menjauh dan menuju kota baru mereka, Kota Kembang. Meninggalkan kenangan demi kenangan di benak Alindya dan keluarganya.


***


Kesepihan, itulah hal yang selalu Alindya rasakan setelah kepergian sahabatnya, Alfarezi Kavindra. Sudah seminggu sejak Alfa pergi meninggalkannya. Sejak seminggu itu juga, Alindya seperti tidak ada gairah menjalani hari-harinya.


Berputar kembali dalam ingatan, permintaan Alfa sebelum kepergiannya. Alindya ragu untuk mengabulkan permintaan itu. Ditambah lagi Alindya sungguh tidak mengerti tujuan Alfa meminta hal seperti itu padanya.


Sebenarnya sehari setelah Alfa pergi. Alfa memberinya kabar bahwa ia dan keluarga sudah menjalani kehidupan barunya di sana. Kesempatan itu Alindya gunakan untuk kembali menanyakan tujuan permintaan Alfa. Tetapi Alfa terus menerus memberinya jawaban teka-teki.


Setelah itu pun, Alfa tidak lagi mengabari Alindya perihal dirinya di sana. Alindya sudah berulang kali mengirimkan pesan, tetapi Alfa sama sekali tidak membalas bahkan membaca pesannya. Mungkin Alfa sibuk dengan pendaftarannya di Universitas barunya disana, begitu fikir Alindya.


Alindya sungguh kesepihan, meskipun ada kelima temannya yang selalu berada di sampingnya setiap saat. Tapi tetap saja, Alindya merasa ada sesuatu yang kosong dalam hidupnya.


Ia kembali melihat layar gadgetnya, berharap Alfa membalas pesan-pesan yang ia kirim padanya. Tetapi, tidak ada satu pun notifikasi dari lelaki itu. Alindya menghembuskan nafasnya dengan asal.


"Elo kenapa sih Al??" ucap Alindya dalam benaknya.


Alindya meletakkan kepalanya di atas meja dengan malas. Matanya ia biarkan tertutup, sejenak melepas penat di kepalnya. Freya, Naomi, Keysha, Kayra dan Julie tengah sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Meskipun mereka dekat dengan radar Alindya. Namun, mereka memilih membiarkan Alindya menenangkan dirinya. Membiarkan Alindya hanyut dalam dunianya.


Teman-teman Alindya sepenuhnya menyadari. Bahwa temannya itu tengah bersedih karena kepergian sahabatnya, Alfarezi Kavindra. Berulang kali teman-temannya menghibur dengan berbagai cara. Tetapi Alindya tetap saja murung dan tidak memiliki gairah.


Untungnya meskipun begitu, ini tidak berdampak pada nilai-nilai Alindya dalam berbagai mata pelajaran. Teman-teman Alindya sangat kagum, karena dalam mood seperti itu pun. Nilai Alindya tetap bertahan di posisi tertinggi.


Bel tanda masuk berdering, ini adalah mata pelajaran terakhir pada hari ini. Rencananya sepulang sekolah, Alindya dan kelima temannya akan berkunjung ke salah satu mall yang letaknya tidak jauh dari SMA nya ini, SMA Pelita Jaya.


Mata pelajaran terakhir kali ini adalah kimia. Tentu saja anak-anak lain malas mengikutinya. Banyak dari mereka yang diam-diam sibuk dengan ponsel di bawah kolong mejanya. Beberapa dari mereka bahkan lebih memilih untuk bergurau dengan teman sebangkunya atau dengan teman yang berada tidak jauh dari radarnya.


Alindya memilih mendengarkan materi dari gurunya itu. Mengingat Alindya juga akan mengikuti Olimpiade mata pelajaran ini. Entahlah, semua mata pelajaran Alindya ikuti. Seakan-akan ia tengah mencari jati dirinya dan sesuatu yang benar-benar ia sukai.


Alindya ingat Alfa pernah berkata padanya. Bahwa jalan manapun yang Alindya pilih. Asalkan Alindya bahagia dalam menjalaninya. Alindya pasti akan sukses di jalan yang ia pilih itu. Alindya yakin ucapan Alfa pasti benar adanya. Tapi yang masih menjadi tanda tanya besar dalam benak Alindya, sebenarnya jalan mana yang membuat ia benar-benar bahagia dalam menjalaninnya.


Lamunan Alindya buyar tatkala Naomi menepuk pundaknya secara tiba-tiba.


"Ya ampun Lin gue panggil enggak nyaut-nyaut." Ungkap Naomi.


"Iya Na maaf, kenapa ?" tanya Alindya.


"Ayo siap-siap katanya mau ke mall." Ujar Keysha yang tengah sibuk merapikan rambutnya.


"Iya ok bentar ya." Jawab Alindya sembari memasukan buku-bukunya ke dalam tas.


Setelah selesai merapikan peralatan sekolahnya. Alindya dan kelima temannya berhambur keluar kelas menuju parkiran. Kali ini mereka akan pergi dengan mobil Freya dan mobil Julie. Karena mereka berdua lah yang sering dijemput sopirnya sepulang sekolah dengan mobil.


Freya, Naomi, dan Kayra berada di mobil milik Freya. Sementara Alindya, Julie dan Neysha berada di mobil milik Julie. Ketika Alindya hendak masuk ke dalam mobil Julie. Suara klakson sepeda motor menghentikan aktivitasnya itu. Yah, klakson itu berasal dari motor Honda CB150 Verza hitam milik Reynaldi. Dengan dua pengawal yang setia berada di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Javas Athaya dan Sauqi Arjune.


"Mau kemana?" tanya Rey yang saat itu berada tepat di depan Alindya.


"Ke mall sama yang lainnya." Jawab Alindya.

__ADS_1


"Ngapain Lin?" tanya Rey.


"Ngilangin Kak Alfa dari otak Alindya Rey." Celetuk Julie dari dalam mobil.


Mendengar ungkapan Julie yang absurd, Alindya hanya membalasnya dengan tatapan tajam.


Rey dibuat tersenyum dengan raut wajah Alindya saat itu.


"Gue sama teman-teman gue boleh ikut?" tanya Rey dengan spontan.


...'Aku masih mengagumimu dalam diam...


...Aku masih menyapamu kala rindu tak terbendung...


...Aku tak pernah memahami...


...Arah mana yang hendak kau tuju...


...Aku tak tahu apa hatimu...


...Telah ada yang memenangkan...


...Kamu masih tetaplah sama di mataku...


...Hanya saja sikapmu yang sedikit berbeda...


...Seakan jarak sengaja kau bangun...


...Apa diaryku tak mampu kau fahami?...


...Ataukah memang sejak awal...


...Kau tak berniat menggenggam?...


...Luka karena tangan yang kau lepaskan kala itu...


...Masih membekas dan tak akan pernah hilang...


...Tidak bisakah kau kembali?...


...Aku menunggumu ......


...Dan berharap rasa ini akan selamanya begitu.'...


..._Alindya Sheila Puteri_...


Rintik hujan jatuh membasahi bumi yang gersang beberapa waktu lalu. Desir angin yang tidak henti membelai lembut Surai hitam milik seorang gadis. Telapak tangannya ia biarkan menampung tetesan demi tetesan langit. Berharap seseorang merasakan hal yang sama di sana. Hujan mengingatkan gadis itu pada sosok yang begitu familiar di hidupnya. Dingin dan begitu banyak kenangan terlukis di bawah tangisan langit.


Gadis itu bukan lain adalah Alindya Sheila Puteri. Ia berteduh dari rintikan langit yang jatuh ke bumi di sebuah halte. Di sampingnya terdapat pria tinggi dengan badan proposional dan kulit putih. Tidak lupa jaket hitam menghiasi tubuh kekarnya. Ia dengan setia menemani dan tidak pernah sekalipun pandangannya luput dari gadis dihadapannya itu. Siapa lagi kalau bukan Reynaldi Pratama.


Sebenarnya hari ini Alindya pergi bersama kelima temannya ke sebuah mall. Tidak ketinggalan juga ada Rey dan kedua pengawalnya yang turut serta mengekor di belakang mereka, Javas Athaya dan Sauqi Arjune.


Mereka hanya pergi ke sebuah resto ramen. Setelah itu mereka berkeliling dan menonton bioskop bersama. Tetapi saat akan pulang entah karena kelima temannya sudah merencanakan hal demikian. Di sinilah Alindya berada, yah pulang bersama cowok bernamakan Reynaldi Pratama.

__ADS_1


Entah semesta hendak bergurau, hujan juga turun dengan derasnya saat itu. Alhasil Rey yang saat ini membawa motor Honda CB150 Verza hitam miliknya akhirnya memutuskan berteduh di halte terdekat. Alindya yang saat itu menjadi penumpang hanya bisa pasrah dengan keadaan.


Alindya berdiri mematung dengan tatapan yang lurus ke arah depan. Hingga tanda tanya dari suaranya memecah keheningan mereka.


"Kenapa?" tanya Alindya tanpa menoleh sedikitpun.


"Maksudnya?" tanya Rey sedikit kebingungan.


"Kenapa elo suka gue?"


"Elo beda dari cewek-cewek yang pernah gue kenal sebelumnya Lin."


Alindya beralih menatap Rey beberapa detik kemudian kembali fokus bermain dengan rintik hujan di tangannya.


"Elo kangen dia Lin?"


"Maksudnya?"


"Elo kangen Alfa?"


"Bohong kalau gue enggak kangen tapi ..."


"Tapi apa??"


"Enggak papa Rey." Balas Alindya kemudian tersenyum.


"Mau enggak pakai jaket gue?"


"Elo gimana?"


"Mau enggak?"


"Emmm ..."Alindya berfikir sejenak.


"Mau enggak Lin?"


"Enggak ahhh gue enggak mau ngerepotin Rey."


"Kalau jadi pacar gue mau enggak?"


"Ha??"


"Mau jadi pacar gue atau mau pakai jaket gue?" Goda Rey sembari menaikan satu alisnya.


Alindya tidak menjawab dan dengan cepat ia mengambil jaket dari tangan Rey kemudian memakainya.


Reynaldi hanya tertawa melihat wajah Alindya yang seketika memerah.


Dengan spontan tangan Rey membelai lembut kepala Alindya.


"Jangan sedih lagi, ada gue di samping elo sekarang Lin." Ungkap Rey dengan tulus.


"Makasih Rey." Ucap Alindya dengan senyum di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2