
Alindya duduk termenung seorang diri di sebuah cafe. Ia tengah memikirkan alur hidup dirinya nanti. Entah keputusan apa yang harus ia ambil untuk kedepannya. Hatinya mulai goyah seiring kehidupan yang tidak lagi berjalan sesuai keinginannya.
Ia percaya Tuhan memang selalu memberi apa yang ia butuhkan bukan apa yang ia inginkan.
Masalah datang bertubi-tubi seakan menghempaskan seluruh harapannya. Alindya tahu betul bagaimana bisnis ayahnya yang tidak berjalan dengan lancar. Ia tahu karena tidak sengaja mendengar percakapan kedua orang tuanya. Itu juga yang menjadi alasan utama Alindya memilih menenangkan pikirannya di tempat ini.
Hubungannya dengan Rey juga tidak berjalan seperti dahulu. Terlalu banyak cela yang membuat Alindya lelah untuk terus menutup matanya. Rey kini berbeda atau mungkin beginilah sosok ia yang sebenarnya. Jangankan untuk bertemu, menghubungi Alindya saja ia jarang sekali melakukannya. Terkecuali jika Alindya sendiri yang memulai semuanya. Seakan tidak ada lagi sosok Rey yang selalu ada dan selalu memprioritaskan Alindya.
Alindya mengerti semua itu, karena bagaimana pun Rey pasti sibuk denga dunia barunya. Sibuk dengan semua tugas-tugas di campusnya. Alindya sadar, terlalu sering meminta pertemuan justru hanya akan menghadirkan sebuah cela baru dalam hubungan mereka. Rey memang dekat dengan Alindya tapi rasanya seperti ada jarak yang tidak bisa Alindya jabarkan dengan kata-kata.
Alindya kembali menutup kedua netranya. Berharap keluh kesahnya sedikit berkurang bersama semilir angin yang menerpanya.
Tapi semua sia-sia belaka, tidak ada yang berubah. Tidak bisa lari ataupun berpura-pura menghiraukan semua fakta yang ada.
Alindya tersenyum melihat sepasang kekasih yang tengah tertawa ria tepat di meja depan tempat Alindya duduk. Ada rasa rindu untuk seseorang yang kehadirannya kini entah di mana.
Alindya memutuskan untuk pulang ke rumahnya. Karena terlalu lama berada di cafe ternyata membuatnya sedikit bosan.
Jujur ia ingin menceritakan semuanya ke Reynaldi. Tetapi sampai sekarang masih belum ada kabar dari cowok itu. Padahal ini hari Sabtu seharusnya Rey tidak ke campus. Tetapi ia tetap menghilang tanpa jejak sedikitpun.
Alindya merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Netranya tertuju lurus ke langit-langit kamarnya. Hingga notif dari gadget membuyarkan Alindya.
________________
( GROUP )
SixPrincess
Freya zemira
Ada yang mau ikut tour Jumat depan enggak ?
^^^Naomi Divya^^^
^^^Kemana Ra?^^^
Kayra Almira
Gue enggak bisa ikut ada acara Ra
^^^Neysha Azkia^^^
^^^Boleh bawa Doi enggak wkwkk?^^^
__ADS_1
Freya Zemira
Intinya bakal seru @Naomi_Divya
Boleh banget @Neysha_Azkia
^^^Julie Valda Angelista^^^
^^^@Freya_Zemira gue ikut^^^
Freya Zemira
@Alindya_Sheila_Putri?
^^^Naomi Divya^^^
^^^Gue ikut ^^^
Neysha Azkia
Gue ikut juga
^^^Freya Zemira^^^
^^^Kumpul di rumah gue jam 8 pagi ya^^^
Gue nanya Rey dulu, kalian tahu gue enggak bakal diijinin kalau enggak bareng dia
^^^Freya Zemira^^^
^^^Okk, gue tunggu kalau elo ikut Lin^^^
Julie Valda Angelista
Harus ikut @Alindya_Sheila_Putri !!
________________
Alindya menutup gadgetnya sejenak untuk berfikir. Kemudian ia memutuskan untuk bertanya pada Rey perihal planning tersebut.
Tapi sayangnya, Rey mengatakan bahwa ia tidak boleh keluar di hari Jumat Sampai Minggu. Dikarenakan mama nya tidak memberinya ijin keluar. Alhasil Alindya hanya bisa menyetujui keputusan Rey. Walaupun dalam hatinya ia ingin sekali berkumpul dan pastinya bertemu dengan cowok itu.
***
__ADS_1
Hari yang di nanti akhirnya tiba. Yah, hari di mana teman-teman Alindya akan melakukan tour bersama. Alindya hanya bisa duduk di depan teras rumahnya. Ia sudah rapi sedari pagi buta, berharap Rey mau merubah keputusannya. Meskipun hasilnya memang nihil. Jumat ini Rey seharusnya sudah memasuki libur semester, tetapi ia tidak kunjung menemui Alindya.
Ada banyak hal yang ingin Alindya ceritakan kepada cowok bernama Reynaldi Pratama itu. Ingin berbagi semua isi hati dan gunda serta mengobati rindunya.
Semalam bunda dan ayah Alindya meminta Alindya untuk ikut bersama mereka ke Yogya. Dikarenakan bisnis ayah Alindya yang semakin terpuruk. Yang mengharuskan ayah Alindya untuk terjun langsung mengurus bisnisnya yang notabenya berada di Yogya.
Secara otomatis Alindya pasti ikut juga. Karena walau bagaimanapun di kota ini ia tidak memiliki satupun sanak saudara. Entah berapa lama ia akan berada di kota itu. Yang jelas Alindya ingin menghabiskan banyak waktu bersama Rey dan teman-temannya.
Dengan berat hati Alindya menghapus keinginannya untuk tour bersama teman-temannya itu. Rey sangat sibuk hari ini dan entah apa penyebabnya.
Anehnya teman-teman Alindya juga membatalkan tour mereka dan memilih menunggu waktu Rey luang. Karena mereka ingin agar Alindya juga bisa ikut serta.
Alindya bahagia mendengar berita satu itu. Hatinya kembali bersemangat, ia kemudian mengirim pesan kepada Rey agar bisa ikut menemaninya tour di hari yang lain. Katanya Rey tidak diijinkan keluar di hari Jumat sampai Minggu. Jadi mereka memutuskan untuk tour di hari Senin.
"Lihat nanti ya Lin." Ungkap Rey.
Hanya itu balasan yang Alindya dapat dari Reynladi. Alindya akhirnya kembali masuk ke kamarnya dengan riang. Berharap hari Senin segera menghampirinya.
***
Hari H itu pun datang, Alindya tengah duduk manis di kursi terasnya. Menunggu kedatangan seseorang yang sangat ia rindukan. Jam menunjukan pukul 08.00 pagi tetapi, sosok yang ia tunggu tidak kunjung datang. Sedangkan teman-teman Alindya sudah berkumpul di rumah Freya.
Semakin lama Alindya mulai gelisah. Ia terus menghubungi Reynladi tetapi tidak ada satupun respon yang ia dapatkan. Detik berikutnya nomor Reynaldi tiba-tiba tidak dapat dihubungi. Karena tidak mau mengecewakan dan membatalkan tour untuk kesekian kalinya. Alindya memutuskan untuk tidak ikut serta. Teman-teman Alindya memaklumi hal itu meskipun sedikit kecewa dengan sosok Reynaldi.
Alindya menutup gadgetnya dan tersenyum masam.
"Elo sibuk??" Monolog Alindya.
***
Malam harinya, Alindya dibuat terkejut dengan pesan yang ia terima. Pesan itu berasal dari Clara, sahabat terbaiknya. Terdapat sebuah foto yang memperlihatkan Reynladi dengan seorang cewek. Sepertinya mereka sedang melakukan tour. Fokus Alindya tertuju pada cewek di samping Rey.
"Siapa dia??" Tutur Alindya.
Bersamaan dengan itu satu pesan masuk berdering. Pesan itu berasal dari Reynaldi. Ia mengucapkan maaf dan berkata bahwa handphonenya kehabisan daya baterai. Alhasil ia tidak dapat membalas ataupun mengangkat panggilan dari Alindya. Alindya memberanikan diri bertanya soal foto yang ia dapatkan dari Clara. Alindya memang tidak suka jika harus berspekulasi sendiri. Ia lebih memilih to the point perihal permasalahanya.
Rey berkata ia memang tengah melakukan tour di hari Senin ini bersama teman-teman campusnya. Lusa mungkin ia baru akan pulang. Alindya tidak habis fikir dengan jalan pikiran cowok satu ini. Bukankah ia bisa menolak jika memang sudah ada acara lain. Ketimbang membuat Alindya berharap dan menunggu seperti tadi pagi. Pesannya tidak dibalas dan panggilannya tidak dijawab. Bagaimana Alindya bisa tahu jika Rey memiliki acara ataupun sejenisnya. Bukankah Alindya memberitahu acara tournya ini sedari Sabtu kemaren??
Alindya hanya tersenyum dan mulai terfikirkan sesuatu. Alindya masih penasaran apa benar ada tour dari campus, padahal ini libur semester. Benar saja dugaan Alindya, tidak ada tour dari campus Reynladi. Alindya bertanya pada teman satu kelas Reynladi, Raysa. Raysa adalah teman SMP Alindya yang saat ini berada satu kelas dengan Reynladi. Yah, meskipun Rey tidak tahu hal demikian.
Alindya juga bertanya perihal cewek di foto. Ternyata dia adalah teman sekelas Reynaldi.
Kebohongan menjadi satu benteng yang Reynaldi bangun terus-menerus. Di saat Alindya ingin memberitahukan perihal keberangkatannya. Justru Rey kembali memasang tirai di antara mereka.
__ADS_1
"Cintaku berada sangat dekat tapi terasa sangat jauh, begitu juga dengan hatimu."
...*...