
Sejak kejadian beberapa minggu lalu, kini Alindya lebih fokus pada tujuan hidupnya. Kepindahannya ke kota pelajar tidak bisa iadan keluarganya tunda lagi. Lusa adalah jadwal keberangkatannya. Sejujurnya Alindya masih ingin berada di kota ini. Masih ingin menikmati hari-harinya bersama orang tersayang yang berada di sini. Hanya saja Alindya tidak bisa tunduk pada keinginannya semata. Ada banyak hal penting yang harus Alindya fikirkan juga, terutama keluarganya.
Alindya sudah memberitahu keberangkatannya ke Yogyakarta kepada Rey. Respon Rey sama seperti dugaan Alindya sebelumnya. Jadi, Alindya tidak perlu memikirkan perihal Rey. Alindya yakin posisinya mungkin sudah tidak seperti dulu lagi. Mungkin juga sudah terganti dengan seseorang yang baru. Entahlah hanya tuhan dan Rey yang tahu perihal hatinya.
Alindya sadar ia tidak bisa memaksakan seseorang untuk selalu bersamanya. Karena sejatinya, jika seseorang itu benar-benar menyayangi. Ia akan tetap tinggal tanpa kita minta sekalipun. Mungkin Rey belum berani mengakui isi hatinya. Hanya saja perlakuan yang Rey tunjukan kiranya sudah menjawab semua teka-teki dari setiap cela yang ia ciptakan. Dinding antara Alindya dan Reynaldi semakin tinggi. Entah Alindya akan mampu untuk bertahan Atau mungkin hal lain yang akan menjadi epilog kisahnya. Memikirkannya saja sudah cukup membuat sesak di dada.
Rey selalu berkata ia tidak bisa bertahan pada hubungan jarak jauh. Tidak bisa jika harus berteman dengan kerinduan tanpa pertemuan. Tidak bisa jika harus menaruh harap pada bayang-bayang tanpa sebuah kehadiran. Hanya senyuman yang bisa Alindya tunjukan sebagai respon kejujuran dari cowok yang ia kagumi itu.
Cowok itu kini tepat berada di depan kemudi motornya. Alindya memberanikan diri memeluk pinggang cowok itu untuk terakhir kalinya, mungkin.
"Jaga diri baik-baik di sana." Ucap seseorang dari balik helmnya.
"Pasti."
"Jangan telat makan dan jaga kesehatan." Ucapnya lagi.
"Elo juga."
"Tumben berani meluk pas di motor gini?" Ujarnya.
"Gue... Gue kedinginan Rey." Ujar Alindya.
Rey hanya tersenyum dibalik helm hitamnya. Sementara Alindya, ia sekuat tenaga menahan pedih di matanya. Menahan sesuatu agar tidak bergulir keluar dan menghancurkan malamnya. Menahan sesak yang kini menjalar di seluruh tubuhnya.
"Maaf." Lirih Alindya.
"Buat??"
"Karena gue ngebuat jarak diantara kita." Ujar Alindya.
"It's ok."
Alindya kembali menenggelamkan wajahnya di bahu Rey. Membiarkan kenyataan terkubur untuk waktu itu saja.
"Gue sayang elo kini, esok dan selamanya Rey." Ujar Alindya dalam hati.
***
01 November 2019,
Alindya baru saja bangun dari mimpi indahnya. Memulai hari di kota pelajar ini dengan senyuman di wajah manisnya. Kaki mungilnya melangkah menuju ruang makan untuk sarapan bersama bunda dan ayahnya. Kota ini sungguh indah dan tenang. Berbeda dari kota yang ia tempati sebelumnya. Alindya jadi teringat dengan seseorang yang berada di Kota kembang sana. Entah bagaimana kabar dan wajahnya kini.
"Gue kangen elo." Ujar Alindya sembari menatap pemandangan yang terlihat dari jendela kamarnya.
Ia melanjutkan langkahnya dan bertemu dengan kedua orang tuanya yang sudah memulai kegiatan mereka di meja makan. Alindya sungguh bersyukur kedatanganya ke kota ini membuahkan hasil yang sangat memuaskan. Usaha ayahnya kian membaik dan begitu juga butik bundanya yang kini sudah memiliki cabang baru.
Alindya memilih membantu bundanya mengelolah butik itu. Bunda dan ayah Alindya selalu menawari Alindya untuk melanjutkan study nya di kota ini. Tapi Alindya belum ingin dan selalu menolak saran kedua orang tuanya itu. Entahlah Alindya sudah tidak berminat pada pendidikannya lagi. Tidak, lebih tepatnya ia masih bingung perihal langkahnya.
Ayah dan bunda Alindya tidak pernah memaksakan kehendak mereka pada putri kesayangannya itu. Mereka lebih memilih selalu memberikan dukungan apapun keputusan yang putri mereka inginkan. Karena yang menjalani semuanya adalah Alindya bukan mereka. Jadi, apapun yang membuat Alindya nyaman dan bahagia pasti akan mereka dukung sepenuhnya.
Alindya nyaman dengan kegiatannya saat ini. Baginya membantu bunda mengelola butik adalah kebahagian sederhana yang sungguh berharga. Ditambah lagi banyak teman baru di kota ini yang Alindya dapatkan.
"Sayang kamu enggak ada acara bareng Zidan dan yang lainnya?" tanya bunda Lilis.
"Ada bun, tapi nanti sore."
"Tapi ingat jangan malam-malam pulangnya." Ujar Pak Hermawan.
__ADS_1
"Siapp ayah."
Zidan adalah teman pertama Alindya di kota ini. Ia anak dari collega bisnis ayah Alindya. Kebetulan rumah mereka bersebelahan. Jadi sejak awal Alindya berada di kota ini Zidan adalah orang yang selalu menemani Alindya.
Bahkan Alindya juga selalu menceritakan tentang Reynaldi kepada Zidan. Zidan selalu mendengarkan semua cerita Alindya. Bahkan ia tidak segan-segan memberikan banyak saran baik kepada Alindya.
Hidup di kota ini sungguh membawa banyak kejutan dalam hidup Alindya. Meskipun ia sangat merindukan kota lamanya. Tidak, lebih tepatnya merindukan seseorang yang berada di kota lamanya itu. Tetapi Alindya yakin seseorang itu mungkin baik-baik saja di sana. Tentu kebahagiaan adalah harapan yang terus ia doakan untuknya. Meskipun rindu itu kerap datang tanpa pemberitahuan. Tapi itulah kehidupan, manis dan pahit selalu berjalan berdampingan.
Dering gadget mengalihkan fokus Alindya.
_________________
(GROUP)
SixPrincess
Naomi Divya
@Alindya_Sheila_Putri elo udah enggak sama si Rey?
^^^Julie Valda Angelista^^^
^^^@Alindya_Sheila_Putri gue juga penasaran ^^^
Freya Zemira
@Alindya_Sheila_Putri jawab donk!!
^^^Alindya Sheila Putri^^^
^^^Kenapa emangnya??^^^
Rey sering upload foto bareng cewek tapi bukan elo Lin
^^^Alindya Sheila Putri^^^
^^^Story'?^^^
Freya Zemira
Yapsss, sering banget malahan.
^^^Alindya Sheila Putri^^^
^^^Mungkin teman kuliahnya ^^^
Naomi Divya
Elo baik-baik aja @Alindya_Sheila_Putri?
^^^Alindya Sheila Putri^^^
^^^@Naomi_Divya pasti donkkk!!^^^
___________________
"Bahkan story-nya aja gue enggak pernah lihat Div." Lirih Alindya dan ia memilih menutup kembali gadgetnya.
__ADS_1
***
16 Mei 2020,
Udara kota ini masih sama seperti dahulu, kala ia masih menetap disini. Tangan gadis itu kembali menarik koper berwarna grey yang ia bawa. Rambutnya yang panjang terurai dengan bebas terbawa desiran angin yang menerpa. Senyuman tidak henti menghiasi wajah mungilnya.
Alindya baru saja sampai beberapa menit yang lalu. Kini ia menuju butik bundanya yang dulu. Sekarang butik itu di kelola sahabat baik bundanya, Tante Karin. Hari ini Alindya mendapat tugas dari bundanya untuk membantu Tante Karin di sini. Mungkin sekitar 2 mingguan. Tidak lupa Alindya juga memberitahu Rey perihal kepulangannya. Meskipun hanya untuk sementara, tetapi alindya harap semuanya bisa berjalan sesuai harapannya.
Ketika Alindya baru merebahkan tubuhnya di ranjang. Rey menghubunginya dan berkata bahwa ia berada di depan gerbang rumah ini. Alhasil Alindya dengan sepontan berlari ke arah halaman depan. Betapa bahagianya Alindya saat ini melihat sosok yang sangat ia rindukan berada tepat di hadapannya. Tidak ada kata yang mampu mengabadikan semua bahagia yang kini Alindya rasakan.
Rey tersenyum dan memeluk Alindya, kehangatan yang sudah sangat lama ia rindukan. Aroma parfum Rey sungguh membuat Alindya candu. Bahkan saat ini Alindya tidak sadar jika mereka berada di rumah orang lain, Tante Karin. Tante Karin hanya tersenyum dari balik jendela melihat putri kesayangan sahabatnya itu bersama sang kekasih.
"Kangen banget ya?" ujar Rey sembari merapikan rambut Alindya.
"Bangetttt." Ucap Alindya manja.
Selang beberapa menit Alindya meminta ijin untuk masuk sebentar mengambil sesuatu. Setelah kembali Alindya memberikan sebuah kotak berwarna biru.
"Happy Anniversary ke-3 tahun." Ucap Alindya.
"Ini apa?"
"Buka aja."
"Sepatu??"
"Itu sepatu gue beli pakai gaji pertama kerja di butik a, semoga Aa suka." Ujar Alindya bersemangat.
"Makasih, tapi maaf gue enggak bawa apa-apa."
"Enggak papa, By the way gue boleh nanya enggak?"
"Tentu, tanya apa?"
"Story Aa kenapa enggak pernah gue lihat lagi ?"
"Story?? Emmm, gue akhir-akhir ini emang jarang bikin story Lin."
"Tapi kata teman-teman ..."
"Elo enggak percaya sama gue??"
"Bukan gitu."
"Gue capek baru pulang kuliah."
"Maaf."
"Gue pulang dulu ya."
"Ok, hati-hati di jalannya." Ucap Alindya sembari tersenyum.
"Emmm."
"Makasih juga udah datang."
"Emmm."
__ADS_1
Alindya melambaikan tangannya ke arah Reynaldi yang sudah hilang ditelan gelapnya malam.
"Happy Anniversary ke-3 tahun juga Lin." Monolog Alindya sembari tersenyum penuh arti.